Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 37: Reş û Rabe 4 of 5 (Part 01)



Suhu udara terasa semakin menurun di tengah hamparan butir putih yang mengisi daerah pegunungan. Salju melayang turun dari langit tidak dengan lebat, menyentuh permukaan kulit pemuda rambut hitam yang berdiri di antara prajurit. Pada daerah Pegunungan Perbatasan di dalam teritorial Rockfield, sebuah perkemahan prajurit kota Mylta mulai didirikan karena cuaca memburuk dan sangat bahaya jika mereka tetap melanjutkan perjalanan.


 


 


Awan berubah gelap bagaikan malam meski sekarang masih sore. Gumpalan awan-awan yang ada di langit seakan bergerak ke satu arah, terlihat sangat tak wajar dan petir sesekali menyambar dengan janggal. Di tengah keramaian orang-orang yang tergesa-gesa mempersiapkan tenda, Odo Luke hanya menatap langit dengan sorot mata kosong.


 


 


Sekilas kornea mata birunya berubah kehijauan, lingkaran sihir berukuran kecil menyala sesaat dan pemuda itu segera memejamkan mata. Menghela napas panjang dan menghembuskannya menjadi uap putih yang menghilang di udara, pemuda berkemeja hitam itu berbalik dan menatap ke arah salah satu tenda yang telah didirikan.


 


 


Layaknya tenda yang pernah dirinya lihat dan menjadi standar bagi orang-orang Felixia, tenda tersebut berukuran cukup besar dan bisa menampung lebih dari tiga sampai empat orang, memiliki kerangka kayu dan terbuat dari kain yang dijahit dengan kulit hewan berbulu untuk mengatur suhu. Dari dalam tenda keluar Lisia, ia membawa daging asap yang diikat dengan tali rotan dan benang serat.


 


 


Segera menemukan Odo yang terdiri di antara para prajurit yang sedang lalu-lalang melakukan persiapan bermalam, perempuan rambut merah itu melambaikan tangan kirinya dan riang menyapa, “Tuan Nigrum! Mau makan dulu?!” Dengan ekspresi senang ia tersenyum dan wajahnya seakan memancarkan rasa hangat, perempuan yang ahli dalam bidan sihir api itu pun berjalan menuju Odo.


 


 


Tidak murung dan terbebani rasa bersalah seperti saat dalam perjalanan, wajah Lisia benar-benar lebih cerah dari sebelumnya. Alasan ia terlihat seperti itu tidaklah Odo pahami dengan jelas, hanya saja bagi pemuda itu Lisia memang tipe perempuan yang kondisi hatinya cepat berubah-ubah dengan cepat.


 


 


“Mau makan?” ucap kembali perempuan itu. Seraya mengangkat daging asap yang dibungkus rotan, perempuan dengan ciri warna merah itu tersenyum manis sembari menawarkannya lagi.


 


 


Menatap perempuan yang mengenakan blus warna cokelat yang sama seperti saat berangkat dan bawahan celana panjang ketat berwarna hitam yang dirangkap rok pendek, Odo sempat berpikir kalau perempuan itu jangan-jangan tidak mengganti pakaiannya selama seminggu lebih. Mendekatkan wajah, pemuda itu mengendus dari dekat.


 


 


Dengan panik Lisia melangkah ke belakang, lalu berkata, “Ke-Kenapa mengendus seperti itu?! Apa saya bau?!”


 


 


“Hmm, Nona belum ganti pakaian sejak pertama kali berangkat, ya?”


 


 


“Eeeh? Kenapa bisa tahu?” Tatapan sedikit jijik terlihat pada raut wajah perempuan itu. Namun kurang dari dua detik, itu menghilang dan raut wajah penasaran nampak padanya. Dengan nada ragu-ragu Lisia bertanya, “A-Apa sebau itu aroma saya sampai bisa tercium oleh Anda?”


 


 


“Tidak juga, aku lumayan suka bau asam hasil kerja keras seperti itu, loh.”


 


 


Perkataan itu membuat Lisia tercengang, menatap rendah dan melangkah menjauh lagi. Mendapat reaksi tersebut Odo hanya tersenyum ringan, memalingkan pandangan ke arah lain dan menghela napas.


 


 


Itu membuat Lisia merasa heran. Memikirkan arti di balik perkataan pemuda itu, Lisia merasa kalau Odo memang mengatakan sesuatu hal seperti itu pasti ada sesuatu alasan yang jelas. Memasang wajah terheran, ia bertanya, “Anda ... tadi saat di kereta kuda bergumam terus sedang apa, sih?”


 


 


Perkataan yang terasa sedikit tak formal itu membuat alis Odo terangkat, menoleh dan menjawab, “Berpikir. Nona sudah tahu dari Fiola, bukan?”


 


 


“Eng ..., bagian itu kurang jelas. Mengapa Anda harus berguam kalau berpikir? Lagi pula, apa benar kalau pikiran Anda bisa bergerak sangat cepat dari kebanyakan orang? Dan juga, saya penasaran apa yang Tuan Nigrum bicarakan dengan Bibi Roro saat di desa.”


 


 


Menghadap perempuan itu, Odo menatap datar dengan mata sedikit disipitkan. Tidak menjawab pertanyaannya, Odo mendekat ke samping perempuan itu dan menepuk pundaknya. Mendekatkan mulut ke telinga, ia berbisik, “Kau tahu, Nona Lisia. Ketidaktahuan bukanlah hal yang buruk, sebaiknya Anda fokus saja dengan masalah di depan Anda dan tak perlu memikirkan hal seperti itu.”


 


 


Setelah mengatakan itu, pemuda tersebut berjalan meninggalkan Lisia dengan perasaan bingung. Berbalik dan melihat punggung pemuda itu, Lisia benar-benar merasa heran dengannya. Pemuda itu sendiri memang bulankah orang jahat, dirinya tahu itu dengan jelas. Namun, dalam benak Lisia tak bisa mengatakan kalau Odo adalah orang baik.


 


 


“Bibi pernah berkata seharusnya aku tidak berada di dekatnya kalau tak ingin tersakiti .... Tapi Bibi paham sifatku? Kalau dilarang diriku pasti malah ....”


 


 


Tersenyum tipis seakan memang tertantang, perempuan itu berjalan menghampiri Odo dan sekali lagi menawarkan daging asap yang dibawanya. “Mau ini?” ucapnya ceria.


 


 


“Eng, aku tidak lapar.”


 


 


“Ayolah, coba makan cicipi dulu. Meski ini daging buruan di musim dingin, rasanya enak tahu. Suku Klist pandai mengolah daging dengan pengasapan.”


 


 


“Makasih, aku tak lapar. Nona makan saja itu, barang kali aroma badan Anda berubah.”


 


 


“Ung, Tuan ini .... Padahal Tuan Nigrum sendiri tidak pernah ganti baju selama rencana ini berlangsung, bukan? Jangan meledek seperti itu, dong.”


 


 


“Hahah.”


 


 


Odo hanya meladeni acuh tak acuh, pemuda itu lebih memilih untuk melihat sekitar dan mengamati orang-orang yang sedang membangun tanda, lalu membantu kalau ada yang bisa dilakukan. Selama Odo membantu para pemburu dan prajurit membangun tenda, Lisia terus mengekor pemuda itu ke manapun.


.


.


.


.


 


 


Hari sudah benar-benar gelap, awan menutupi langit dan menghalangi pemandangan berbintang serta menyingkirkan aurora. Tenda-tenda telah didirikan tepat di atas tanah lapang berbatu daerah pegunungan, menyalakan dua api unggun untuk pengusir hawa dingin dan orang-orang mulai memakai selimut tebal duduk di dekatnya.


 


 


Meski sudah mendung sedari sore, badai salju yang diperkirakan tidak kunjung datang dan membuat orang-orang dari Mylta tersebut terheran di dekat api unggun. Para prajurit bertanya-tanya kepada Pemburu yang ahli dalam cuaca pegunungan dan hutan, sedangkan para penyihir berbicara satu sama lain mencari faktor penyebabnya  dan menjadikan itu bahan diskusi layaknya orang berpendidikan.


 


 


Sekitar tempat perkemahan benar-benar gelap gulita, merupakan pepohonan cemara yang langsung berbatasan langsung dengan tempat para monster. Meski salju berhenti turun dari langit mendung, hawa dingin yang terasa sangat janggal dan membuat bulu kuduk mereka yang duduk di dekat api unggun menggigil.


 


 


Di luar lingkaran mereka yang mengobrol di dekat dua api unggun, Fiola berjalan cemas mencari pemuda yang seharusnya dirinya awasi. Karena ia tadi sempat diminta untuk memeriksa sekitar bersama para prajurit dan memastikan tak ada monster di tempat kemah, Fiola tak sempat mengawasi Odo. Melihat ke kanan dan kiri, di antara para prajurit, penyihir, dan pemburu, dirinya tetap tak bisa menemukan Odo Luke.


 


 


Wanita rambut hitam kecokelatan tersebut menghampiri Kepala Prajurit yang duduk di atas log kayu dekat api unggun. Menepuk bahu dari belakang dan membuatnya menoleh, Fiola bertanya, “Apa Anda melihat Tuan Nigrum?”


 


 


“Ah, ternyata Nona Shieal, toh. Saya kira siapa.” Pria rambut pirang tersebut sedikit terkejut.


 


 


“Apa kau lihat Nigrum?” tanya Fiola kembali.


 


 


“Eng, sepertinya tadi pemuda itu pergi ke hutan bersama Nona Muda. Oh, iya .... Sebaiknya Anda jangan mengganggu mereka.”


 


 


“Kenapa?”


 


 


“Malah tanya kenapa .... Anda tahu, mereka tunangan, loh. Beri waktu untuk mereka bersama. Meski Anda menyukai Tuan Nigrum, tolong jangan egois dan bersainglah dengan sehat. Mendominasi tak baik, loh.”


 


 


Mendengar perkataan dari pria yang tidak tahu identitas asli pemuda bernama Nigrum tersebut, sekilas itu membuat Fiola kesal. Menghela napas ringan, ia fokus memikirkan alasan mengapa Odo pergi dengan Lisia. Berhenti memegang pundak Kepala Prajurit, ia berkata, “Ke arah mana mereka pergi? Ke dalam hutan?”


 


 


“Ya .... Mereka ke tenggara tadi, masuk ke hutan ....”


 


 


Tanpa mendengar penjelasan lebih dari Kepala Prajurit tersebut, Fiola segera berjalan ke arah yang diberitahukannya. Dengan tergesa-gesa, melangkahkan kedua kakinya tanpa memikirkan hal lain lagi.


 


 


Namun sebelum masuk ke dalam kegelapan yang tidak disinari lentera atau cahaya api unggun, Odo dan Lisia kembali. Mereka berjalan berdamping, berbicara satu sama lain dengan akrab. Meski tidak mendengar jelas apa yang mereka katakan, Fiola tahu kalau kedua orang itu pasti sudah berbicara banyak. Ia tahu saat melihat ekspresi Lisia yang terlihat ceria.


 


 


Menghampiri mereka, gadis berkimono cokelat itu bertanya, “Dari mana kalian?”


 


 


“Ah ....” Lisia sedikit terkejut didatangi olah wanita yang memasang wajah kesal itu. Memalingkan pandangan, ia tidak menjawab.


 


 


“Habis main di semak-semak?” jawab Odo dengan santainya.


 


 


“Eh?”


 


 


Lisia dan Fiola terkejut mendengar jawaban absurd tersebut, itu benar-benar mengundang kesalahpahaman. Huli Jing tersebut menatap datar Lisia, ia merasa kalau mereka benar-benar melakukan itu pasti adalah kesalahan perempuan rambut merah tersebut.


 


 


“Nona Lisia ..., kau tahu konsekuensinya, bukan?” tanya Fiola dengan tatapan gelap. Matanya seakan tidak memantulkan cahaya, bagaikan seekor hewan pemburu yang melihat mangsanya dengan dingin.


 


 


“Tu-Tuan! Tolong bicara yang jelas! Nona Fiola jadi salah paham, tuh.” Lisia panik, memegang pundak Odo dan menggoyangnya.


 


 


“Hahah.” Odo hanya tertawa kering melihat reaksi mereka. Setelah sedikit puas, pemuda rambut hitam itu menghela napas dan menjelaskan, “Tadi aku cuma bicara soal biaya rencana ini, kok. Nona Fiola tahu kalau ini hampir selesai, bukan? Makanya aku perlu peninjauan dengan Nona Lisia.”


 


 


“Apa ... perlu pergi ke tempat gelap?” tanya Fiola dengan tatapan tajam dan terasa sangat dingin.


 


 


Odo hanya kalem mendapat itu, balik menatap dan tersenyum kecil. Mendekatkan wajah ke Fiola, pemuda itu berkata, “Apa Nona Fiola cemburu, ya?”


 


 


“Hah?” Alis Fiola terangkat. Saling terkejut, kedua telinga rubah yang disembunyikan dengan sihir transformasi muncul dan bergerak-gerak meriah.


 


 


“Yah, dari kemarin-kemarin Nona selalu dekat denganku dan tidak membiarkanku untuk berasma Nona Lisia. Nona tahu, saya adalah tunangannya.”


 


 


Odo melingkarkan lengan kanannya ke bahu Lisia, membuat wajah perempuan rambut merah itu terkejut dan wajahnya tersipu. Merasa heran dengan tindakkan Odo yang seakan menekankan kebohongan semacam itu, Fiola menoleh ke belakang. Ia baru sadar kalau beberapa prajurit dan pemburu melihat ke arah mereka.


 


 


Saat Fiola kembali menatap Odo, sorot mata datar pemuda itu menatap ke arahnya. Itu membuat Fiola kembali tenang dan segera menyembunyikan kedua telinga rubahnya dengan sihir transformasi, lalu menundukkan kepala dan berkata, “Maaf, saya tidak mengira kalau kalian berdua terganggu.”


 


 


“Tak masalah, saya juga tidak keberatan dengan Nona Fiola, kok.”


 


 


“Eh?”


“Eh?”


 


 


Itu membuat mereka terkejut, mereka tahu arti perkataan tersebut. Mengangkat lengan dari bahu Lisia, pemuda itu tersenyum ringan dan berjalan meninggalkan mereka. Mengangkat tangan kanan dan melambai tanpa menoleh, ia pergi ke salah satu tenda yang telah dipasang pencahayaan lentera minyak.


 


 


Fiola segera menoleh ke arah Lisia saat pemuda itu pergi. Menatap tajam, ia bertanya, “Apa yang Nona bicarakan dengan Tuan Od— Nigrum tadi?”


 


 


“Saya benar-benar hanya bicara soal biaya dan kelanjutan rencana ini, kok. Seperti yang pernah dibilang Tuan Nigrum, tujuan rencana ini seharusnya sudah tercapai saat kita sampai di poin transit. Saya memang tidak tahu alasannya, namun Tuan tadi menawarkan untuk segera kembali saja dan menganggap rencana ini selesai.”


 


 


Mendengar itu Fiola benar-benar merasa heran. Selama rencana berlangsung memang bisa dikatakan hampir semuanya berjalan lancar dan lebih dari puluhan markas bandit yang tersebar di teritorial kota Mylta telah dibasmi. Namun, hal tersebut seharusnya tidak bisa disimpulkan kalau rencana telah berhasil sepenuhnya.


 


 


Selama markas utama para bandit belum dihancurkan mereka, para bandit tersebut bisa kembali membentuk kekuatan dan menjarah rute perdagangan. Fiola benar-benar tidak tahu mengapa bisa pemuda itu menyarankan kembali meski hal seperti itu seharusnya dengan jelas dirinya itu tahu.


 


 


“Jadi, apa Nona menerimanya?” tanya Fiola.


 


 


“Tentu saja tidak. Saya paham kalau Tuan Nigrum hanya mengetes saya saja, ia ingin tahu apakah saya pemimpin kompeten atau tidak. Makanya ia bertanya seperti iu.”


 


 


Fiola merasakan hal yang berbeda dengan apa yang dipikir Lisia tentang tawaran seperti itu. Odo bukanlah orang yang sesederhana itu untuk mengajukan pertanyaan untuk mengetes kepribadian seseorang, nyatanya pemuda itu bisa langsung tahu sikap dan pola pikir seseorang hanya dengan bertemu dan berbicara dengannya.


 


 


“Apa ... benar dia hanya bermaksud seperti itu?” ucap Fiola seraya melihat ke arah Odo yang masuk ke dalam tenda.


 


 


Namun kurang dari sepuluh detik masuk, Odo keluar lagi dengan sebuah pedang berpola bara di tangan kanannya. Itu pedang yang pemuda itu buat sebelum berangkat dan sering digunakan selama rencana pembasmian berlangsung. Menyala dalam kegelapan, senjata itu sangatlah mencolok di tempat gelap.


 


 


“Jangan bilang dia ....”


 


 


Fiola segera menghampiri Odo, lalu mencegatnya sebelum pemuda itu berjalan ke arah hutan di balik tenda dan menghilang. Menatap tajam di hadapannya, Fiola berkata, “Tunggu! Anda mau apa pergi membawa senjata seperti itu?!” suara panik itu terdengar melantang dan membuat semua orang melihat ke arah mereka berdua.


 


 


Lisia sangat merasa heran dengan sikap agresif itu, para prajurit dan pemburu hanya senyam-senyum dan menganggap itu semacam pertengkaran kekasih, sedangkan para penyihir Miquator mengamati tanpa berkomentar atau menunjukkan ekspresi tertarik.


 


 


Odo menyadari ekspresi mereka, namun dirinya merasa tidak perlu menjelaskan dan mulai mengacuhkan. Menghela napas dan menatap ke arah wanita di hadapannya, ia berkata, “Nona bisa membaca pikiranku, bukan? Baca saja ..., Nona akan tahu.”


 


 


Fiola menatap pucat, menggertakkan gigi dengan kesal dan menatap penuh rasa kebencian saat membaca apa yang ada di dalam kepala pemuda itu. Kedua telinga rubahnya keluar, kesembilan ekornya muncul keluar dan aura sihir terpancar sangat kuat sampai salju tempatnya berpijak meleleh dan elektrik berwarna keemasan menjalar di sekitarnya. Menatap tajam penuh rasa benci, ia bertanya, “Apa ... itu benar? Mereka mungkin saja ada di tempat tujuan kita?”


 


 


Kebencian itu benar-benar nyata, semua orang yang merasakan itu merinding dan bergetar kecuali Odo. Apa yang dibaca Fiola dalam pikiran Odo adalah tentang kemungkinan para Aliran Sesat yang Huli Jing tersebut benci itu ada di tujuan akhir dari perjalanan rombongan. Memikirkan musuh bebuyutannya bisa diremukkan dengan tangannya sendiri, Fiola menyeringai gelap layaknya hewan buas.


 


 


“Haha, kali ini pasti akan kubuat mereka membayarnya ...!”


 


 


“Nona, auramu .... Tolong jangan umbar auramu seperti itu.”


 


 


“Ah ....”


 


 


Fiola tersadar, hawa kebencian yang keluar darinya dihilangkan dengan sangat cepat. Menarik napas dalam-dalam, kekuatan sihir luar biasa yang terpancar dari Huli Jing tersebut seketika kembali masuk dalam tubuhnya. Memakai sihir transformasi dan menghilangkan sembilan ekor dan telinga rubahnya,  Fiola sedikit batuk kecil dan berkata, “Maaf membuat heboh.” Ia berbalik ke arah mereka yang terkejut, lalu membungkuk untuk menunjukkan rasa bersalah.


 


 


Memperhitungkan amarah dan kekuatan yang menggelora dari Fiola tadi, Odo sedikit mengerti alasan mengapa Huli Jing tersebut menjadi Shieal dengan posisi tertinggi. Kekuatan yang dimiliknya memang sangatlah luar biasa, hal itu sangat wajar karena memang tinggal beberapa tahap lagi Huli Jing tersebut sampai pada tingkat Dewa.


 


 


“Jadi, Tuan Nigrum mau apa dengan pedang itu?” tanya Fiola seraya kembali menghadap ke arah pemuda itu.


 


 


“Ah, aku pikir ingin pergi sendiri malam-malam. Nona tahu, Lisia tadi tak ingin membawa rombongan ini kembali?” ucap Odo dengan volume pelan.


 


 


“Jangan bohong ....” Fiola menatap datar.


 


 


“Ya, aku bohong. Aku hanya ingin melihat reaksi Nona Fiola dan memasukkannya dalam perhitungan.”


 


 


“Sifat Anda memang sangat buruk.”


 


 


“Nona sudah tahu sifatku dengan jelas, bukan?” Odo menyeringai kecil. Ia berbalik dari Fiola dan masuk ke dalam tenda untuk menyimpan pedang ke dalam gelang sihir tanpa diketahui orang-orang.


 


 


Saat Huli Jing tersebut kembali mengingat kalau dirinya mendapat kesempatan untuk membalaskan apa yang telah para Aliran Sesat lakukan pada Mavis, wanita itu kembali menyeringai dengan ekspresi gelap


 


 


“Tidak kusangka kesempatan semacam ini akan datang .... Mereka ..., para Korwa itu pasti akan punah kali ini di tanganku.”