
The Ritman Library, Perpustakaan Ilahi tempat jutaan Grimoire disimpan dan merupakan menara dimana hampir seluruh pengetahuan dunia diarsipkan. Memiliki seratus lantai dengan puncaknya yang mencapai langit, dibangun oleh salah satu Dewa Tak Bernama pada masa Perang Kuno Dewa dan Iblis. Perpustakaan tersebut dibangun pada masa itu dan juga hancur pada masa itu juga, lalu bangunannya terlempar ke sela dimensi antara Dunia Nyata dan Kayangan — Keberadaan dan kebenarannya pun mulai hilang tertutup waktu, sampai pada ribuan tahun setelah Perang Kuno keberadaannya hanya dianggap sebagai legenda semata.
Udara terasa lebih dingin dan lembab dari sebelumnya, teriknya cahaya matahari tidak menyentuh tempat di dalam ruangan tersebut. Saat kesadarannya kembali, Odo telah berdiri di dalam ruangan dengan ratusan rak buku berjejer dengan susunan seperti labirin. Lantai keramik kotak-kotak hitam putih seperti papan catur sebagai pijakkan, sedangkan langit-langit seakan tidak terlihat karena saking tingginya.
Persepsi di dalam menara langsung dirasakan dirinya saat melihat langit-langit tinggi dengan pancaran cahaya terang. Di pinggir atas sampai puncak tertinggi, terlihat lantai-lantai yang sangat banyak dan tanggap spiral yang menghubungkan tiap-tiap lantai sampai tertinggi menara tempatnya berada. Sekilas Odo memejamkan mata, berusaha memahami apa yang terjadi dan menata pikirannya.
Melihat semua yang ada di sekitar, seketika Odo paham kalau dirinya sedang berada dalam Realm milik Arca. Arsitektur dengan kesan Gotik, tiang-tiang lampu kristal sebagai pencahayaan di persimpangan barisan rak, suasana yang sunyi dan semua buku sihir tertata di tempat tersebut. Mengamati semua hal yang ada di hadapannya, dengan cepat pemuda itu berhenti bingung dan mengerti semua unsur yang membentuk Realm tersebut.
Odo melangkahkan kakinya, menyusuri lorong antara rak-rak buku dan berjalan ke arah tangga di pinggir ruangan. Kembali melihat sekitar dan mencari tahu unsur materi serta konsep pembentuk dimensi tempatnya berada sekarang, ia bergumam, “Apa dia menarik Personal Realitas keluar dari menjadi realitasnya dan membentuk dimensi seperti ini? Tapi ... kenapa seorang individu bisa menciptakan ini? Sangat mustahil Nativ sepertinya bisa menciptakan Realm sesempurna ini .... ”
“Benar!” Suara Arca tiba-tiba menggema di dalam perpustakaan besar tersebut. Odo langsung mendongak dan melihat ke arah sumber suara yang datang dari lantai tertinggi menara. Suara itu pun kembali terdengar, “Ini semua bukanlah milikku! Namun perwujudan dari sebuah dimensi di sela dunia! Kekuatanku adalah sebuah Hak atas The Ritman Library ini! Aku adalah orang terpilih meski terlahir tanpa bisa menggunakan sihir! Menjadi Tuan dari menara agung penuh Grimoire ini!”
Sekilas Odo menyipitkan mata, menghela napas dan merasa kalau kekuatan seperti itu sangat disayangkan jatuh kepada orang seperti Arca Rein yang sama sekali tidak mengerti tentang konsep Otoritas. Pemuda rambut hitam itu merasa kesal dengan memasang ekspresi datarnya, lalu berhenti mendongak dan bertanya, “Arca Rein? Apa kau tahu tempat apa ini?”
“Tentu saja!” jawab langsung suara dari puncak menara. Dengan angkuh Arca melanjutkan, “Ini adalah sebuah menara perpustakaan ilahi! Dibangun oleh salah satu Dewa Tanpa Nama dan sering juga diidentikkan dengan Babel Tower!”
“Begitu, ya?” Odo mendongak dengan kesal, lalu berkata, “Keangkuhanmu sudah keterlaluan. Hmm, kurasan kurang tepat. Kebodohanmu sudah tidak terbatas.”
“Kau sadar situasimu, Odo Luke!” Suara itu murka, lalu mulai menghina, “Apa karena proses kompresi informasi saat membawamu ke dimensi ini membuat otakmu juga mengecil?”
“Jangan cemas ....” Odo melepas kedua raung tangan dan membuang itu ke lantai. Sembari melepas kancing kemejanya yang sudah compang-camping, ia berkata, “Meski otakku mengecil itu tidak sekecil pola pikirmu.”
“Sialan! Ku potong lidahmu itu supaya tidak bisa bicara angkuh lagi!” serapah Arca.
Melepas kemeja yang dikenakan dengan rasa tidak peduli dengan perkataan itu, pemuda rambut hitam tersebut mulai telanjang dada dan segera mengaktifkan Aitisal Almaelumat. Rajah pada bahu kanan mulai aktif, membantunya untuk memanipulasi informasi tubuhnya sendiri dan secara diam-diam mengakses otoritas The Ritman Library.
“Kau yang angkuh!” Odo menunjuk ke puncak atas, lalu dengan lantang berkata, “Sadar posisimu, gumpalan daging! Kalau bisa lakukan saja, anjing kampung! Kau hanya bisa menggonggong. Perpustakaan ini bukan milikmu, karena itu tempat ini takkan mematuhimu! Apa yang kau lakukan sebelumnya juga membutuhkan katalis atau bayaran! Tidak salah lagi kau hanya peminjam!”
Suara dari puncak terdiam sesaat, tidak bisa berargumen dengan perkataan Odo terdiam. Namun seakan tidak ingin harga dirinya dihancurkan, Arca dengan suaranya dari puncak menara berkata, “Memang! Namun .... Kira-kira apa benar semuanya seperti yang kau pikir, pecundang! Meski tempat ini tidak mematahiku, namun sisinya memenuhi panggilanku! Dengan kata lain seperti ini!”
Tiba-tiba puluhan buku sihir terbang keluar dari rak, melayang di udara dan aktif dengan sendirinya. Tanpa bayaran, tanpa dipegang, buku-buku sihir tersebut dengan sendirinya mengaktifkan kekuatan kalimat mereka yang bisa mempengaruhi realitas di dimensi The Ritman Library tersebut.
Salah satu buku aktif dengan cepat, tiba-tiba membuat permukaan keramik tempat Odo berdiri menjadi lembek seperti lumpur dan langsung membuat kedua kakinya terjebak di dalamnya. Saat hendak melepaskan diri, pemukaan kembali keras dan salah satu buku sihir yang melayang kembali aktif.
Belasan pedang tercipta di udara, berwarna keperakan dan ujungnya lurus mengarah ke Odo. Semua pedang tersebut mulai bergetar cepat, membuat suara seperti gergaji mesin dengan karena gesekannya dengan udara. Lingkaran sihir muncul di ujung semua pegangan pedang, lalu menembakkan semua pedang sihir tersebut ke arah Odo.
“Tch—!” Segera mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mengurangi kemampuannya untuk melacak akses otoritas dimensi, Odo segera mengatur kekuatan manipulasi informasinya untuk merebut otoritas buku sihir yang mengeluarkan pedang tersebut dan berteriak, “Reject ....!”
Bouhs!!
Seketika semua pedang menghilang, benar-benar hancur menjadi partikel cahaya dan buku yang memunculkan kekuatan itu langsung terbakar api biru karena efek karma dari dibatalkannya kekuatan secara paksa.
“A-Apa yang kau lakukan?! Kenapa bukunya ....” Suara Arca yang terkejut menggema.
Odo sekilas terdiam, bertujuan mengulur waktu sebanyak mungkin untuk waktu kalkulasi menganalisa dimensi tempatnya berada sekarang. Mengangkat wajah, dengan niat mengulur waktu ia menjawab, “Tempat ini sebuah dimensi dengan susunan informasi Perpustakaan Sihir, The Ritman Library, bukan?”
Menunjuk lurus ke atas, pemuda rambut hitam itu menghela napas dan kembali berkata, “Kalau begitu sederhana saja, aku tinggal menginterpretasinya dan mengacaukan realitas dimensi ini! Seperti katamu tadi, untuk membawamu ke sini butuh sebuah proses kompresi! Berarti! Tentu ada kendala batasan informasi dari dimensi supaya wujudku bisa ada di tempat ini! Kompresi, dari itu aku tahu kalau ini dimensi yang lebih rendah! Kesimpulannya sederhana. Kalau aku mengubah susunan informasiku, dengan mudah hal seperti ini bisa kulakukan tadi bisa kulakukan.”
Kornea mata Odo sekilas berubah hijau, Auto Senses memberitahunya kalau analisa dimensi tempat The Ritman Library tersebut telah selesai. Tersenyum lebar layaknya seorang pemenang sejati, ia dengan lantang berkata, “Aku berterima kasih padamu, wahai manusia angkuh! Tidak kusangka kekuatanmu adalah akses tempat semenajukkan ini!”
Dengan tangan kanan merentang ke depan, Odo menjentikkan jari. Suara menggema dan informasi dari frekuensi gelombang tersebut langsung mempengaruhi dimensi. Susunan informasi ditata ulang, sebagian besar otoritas dari tempat tersebut berpindah ke dalam tubuh Odo dan disimpan pada Rajah pada bahu kanannya.
Saat suara berhenti menggema, seketika semua buku yang melayang di udara terbakar api biru karena kausalitas dari penonaktifan secara paksa. Efek dari kekuatan yang membuat kaki Odo terjebak di lantai keramik menghilang, permukaan kembali seperti semula dan pemuda itu kembali melangkahkan kakinya melewati lorong di antara rak-rak buku.
“A-Apa itu?! Kenapa bisa!? Kenapa buku-bukuku ...!”
“Bukumu? Hah! Betapa angkuhnya! Kau bukan penyihir dan tidak pernah tahu ilmunya! Perwujudan ini adalah salah satu dari konsep dimensi, dan aku cukup ahli memanipulasi dimensi. Hal seperti ini dengan mudah aku tata ulang sistemnya!”
Odo berhenti melangkahkan kakinya. Mendongak ke atas dan membuka telapak tangan kirinya lurus ke puncak, ia dengan lantang berteriak, “Rearranging dimensions!!”
Seketika dimensi yang memuat informasi The Ritman Library tertata ulang. Layaknya sebuah cermin yang dipecahkan paksa, semuanya kepingan informasi yang membentuk tempat tersebut hancur dan pecahannya berhamburan di dalam dan kegelapan pekat yang dalam sekejam memenuhi seisi dimensi tersebut.
Saat segalanya berubah menjadi hitam, dari kehancuran kembali tercipta sebuah ruang tunggal yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Lantai sangat keramik putih yang sangat luas, tumpukan buku-buku yang berserakan, dan kegelapan yang mengelilingi. Satu-satunya sumber cahaya adalah satu titik di Odo berdiri, dan apa yang bisa dilihat hanyalah apa yang dipapar sinarnya.
Lurus menatap ke depan, pemuda rambut hitam itu tersenyum ringan ke arah Arca Rein yang berdiri membatu dengan mulut menganga. Tempat diandalkannya sebagai senjata pamungkas benar-benar ditata ulang dengan instan dalam hitungan detik.
“A-Apa yang kau lakukan .... Kenapa? Kenapa tempat ini ...?”
Arca dengan putus asa segera menciptakan buku kecil dengan sampul putih, persis seperti buku yang dirinya gunakan untuk membawa Odo ke dimensi tempat mereka berdada sekarang. Menyobek buku itu menjadi dua bagian, ia melemparkannya ke lantai. Namun tidak terjadi apa-apa, buku itu hanya menjadi buku biasa yang disobek menjadi dua dan dilemparkan ke lantai.
“Ke-Kenapa?! Kenapa tidak aktif?!”
“Oh, kau berusaha mengeluarkanku dari tempat ini? Hahah!” Odo berjalan mendekat, lalu sembari menyeringai berkata, “Itu percuma! Percuma! Kau tahu, semua buku sihir di sini telah menjadi buku biasa .... Semua unsurnya telah aku tata ulang! Ya, kecuali buku ini, sih!”
Odo berhenti melangkahkan kakinya dan membuka telapak tangan ke depan, lalu memunculkan sebuah buku tebal dengan sampul kulit wajah manusia. Arca Rein langsung tahu kalau buku itu adalah Grimoire Kematian, sebuah buku yang bahkan tidak bisa dirinya gunakan.
“Ke-Kenapa Magdala Mortem ada padamu?! Kenapa bisa buku kematian itu ....”
“Hmm, kau bisa tahu namanya, ya. Hebat, hebat! Kalau begitu, kau pasti juga tahu kekuatan buku terkutuk ini, ‘kan? Akan kuajarkan, supaya orang sepertimu tidak lagi seenaknya menggunakan buku-buku sihir seperti ini, dasar manusia dungu ....”
Aura dari buku sihir tersebut langsung merasuk ke dalam tubuh Odo, menggunakannya sebagai medium dan mewujudkan bentuk asli dari satu-satunya buku sihir yang bisa aktif di tempat tersebut. Dewa kematian dengan jubah hitam dan sabit raksasa muncul di belakang Odo dari aura hitam yang menyelimutinya, melayang di udara dan mata merahnya bersinar di balik tudung yang menutupi kepalanya.
Wujud itu memancarkan aura gelap, aroma busuk dan hanya dengan keberadaannya saja melambangkan konsep dari sebuah kematian itu sendiri. Sosok pencabut nyawa itu melayang ke udara, melebarkan jubah hitam dan menyiapkan sabit raksasanya.
Odo mengangkat buku ke atas dan memerintah, “Atas namaku Agungku yang ditolak di dunia ini, ╤╤╤╤ memerintahkan! Otoritas tertinggi! Berikan siklus kematian dan kehidupan pada makhluk di hadapanku ini!”
Arca seketika gemetar, kedua kakinya lemas dan terjatuh ke belakang. Pemuda sombong itu benar-benar ketakutan setengah mati, sampai mengompol dan mulutnya berbusa. Hanya dengan mendapat tatapan dari sang pencabut nyawa, ia merasakan ketakutan yang belum pernah dirinya rasakan sebelumnya.
“He-Hentikan! Hentikan! Tolong! Tolong jangan bunuh aku! Bukannya ini melanggar peraturannya!? Baiklah! Aku menyerah! Baiklah! Baiklah! A— AaaaaaaaaaKkkhhhhhhhhhhhh!!”
Sabit dalam sekejam diayunkan ke arah Arca, langsung mengarah ke lehernya dan—
Craaat!!!
.
.
.
.
Sensasi dan rasa sakit saat kepalanya terpenggal terukir jelas dalam diri Arca. Meski kesadaran sudah kembali dengan sangat jelas, ia tidak bisa menggerakkan tubuh. Apa yang bisa dilihatnya hanyalah kegelapan pekat, serta sensasi jatuh terus menerus yang membuat kepribadiannya setiap detik seakan terkikis dan perlahan menghilang.
Di tengah ujung kesadarannya yang hampir lenyap, kilas balik dirinya lihat dengan sangat cepat. Momen ketika dirinya masih kecil dan nakal, memanjat sebuah pohon meski telah ditegur dan pada akhirnya terjatuh sampai menangis. Bukan itu saja, momen-momen kebersamaannya dengan keluarga, tingkahnya yang keras kepala dan selalu menyusahkan banyak orang seketika mengisi kepala pemuda Keluarga Rein tersebut.
Ia ingin menangis, dadanya sesak dan dipenuhi rasa sesal luar biasa. Di tengah perasaan seperti itu, muncul cahaya terang di ujung jarak pandangnya. Arca ingin meraih itu, berusaha menggerakkan tubuh dan kedua tangannya terulur ke depan. Suara tidak bisa keluar, ia tak bisa menjerit atau meminta pertolongan. Pada momen itulah ia seakan ingin merengek dalam ketidakberdayaan, meronta-ronta dan benar-benar merasa dalam kondisi paling menyedihkan yang pernah dirinya alami.
Dari cahaya yang terpancar tersebut, sebuah uluran tangan pucat berusaha meraih dirinya. Arca dengan putus asa berusaha menggapainya, menggerakkan tubuh yang terus menerus jauh dan benar-benar berharap keluar dari kegelapan pekat tersebut. Saat berhasil meraih tangan itu, seketika cahaya terang memenuhi tempat dan menghapus seluruh kegelapan yang ada.
Bersama cahaya yang terus melebar terus menerus dan memenuhi penjuru, dengan cepat kesadaran Arca terteran dan ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Dengan segenap hatinya ia pun berharap, diberikan lagi kesempatan untuk bangun dan mengubah dirinya yang bodoh dan angkuh.
Byur!!
Air disiramkan ke wajahnya dan seketika membuat pemuda dari keluarga Rein itu terbangun. Duduk dan segera melihat ke kanan dan kiri, ia sedang berada di tempat sebelumnya di mana dirinya ditebas oleh perwujudan Dewa Kematian dari Magdala Mortem. Melihat sosok Odo yang berdiri membawa buku bersampul biru di hadapannya, Arca hanya bisa bengong dan tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Eng, untung ada buku yang bisa memunculkan air,” ucap pemuda rambut hitam itu seraya melempar buku di tangannya ke belakang. Berjongkok di hadapan Arca sembari tersenyum kecil, ia pun bertanya, “Bagaimana? Apa dengan mati sekali kebodohanmu bisa berkurang sekarang, Arca Rein?”
Mendapat pertanyaan itu Arca hanya bisa terdiam, menundukkan wajah dan mengerti betapa dungunya pola pikir yang selama ini dirinya percayai. Pemuda keluarga Rein itu menundukkan wajah dengan ekspresi kacau, penuh rasa sesal dan dalam benaknya diisi emosi negatif.
Odo menghela napas ringan melihat ekspresi sombong tidak muncul dari Arca, merasa kalau memang benar kematian yang didapat pemuda rambut cokelat itu telah sedikit mengubah kepribadiannya. Memegang pundak Arca, Odo pun berkata, “Waktu sudah berlalu sekitar 48 jam di dimensi The Ritman Library ini, apa ada perbedaan waktu dengan dunia nyata?”
“Ah ...?” Arca hanya menatap dengan ekspresi bingung.
“Tenang saja, ini bukan mimpi. Kau aku hidupkan kembali .... Lagi pula, aku menggunakan Magdala Mortem dengan metode hanya memisahkan jiwamu sementara dari jasadmu.”
“Eh?” Arca sedikit menganga dan memiringkan kepalanya.
Plak!
Odo menampar pipi kanannya, lalu sekali lagi berkata, “Oi! Jangan malah bengong terus, sialan! Sekarang seharusnya tidak ada masalah padamu!”
Arca gemetar, merasakan sakit dengan jelas pada pipi dan berkata, “Menghidupkanku kembali?”
“Ya, semacam itulah. Sudah! Jawab saja pertanyaanku ....”
Tubuh pemuda dari keluarga Rein itu tidak henti-hentinya gemetar, menatap Odo dengan takut dan menjawab, “Du-Dunia ini hanya berjalan empat kali lebih cepat ....”
Odo sekilas terdiam, memalingkan pandangannya dan sekilas kornea mata pemuda rambut hitam itu berubah kehijauan. Menghela napas ringan, ia menggaruk bagian belakang kepala dan sedikit terlihat resah.
“Kenapa? Kenapa kau membiarkanku hidup?” tanya Arca dengan gemetar
“Hah?” Odo menatap tajam ke arah pemuda rambut cokelat itu, lalu dengan kesal menjawab, “Kenapa juga aku harus membunuhmu? Kalau kau mati, aku kalah! Jangan konyol, dasar sialan!”
Odo mengangkat tangannya dari pundak Arca, kembali bangun dan berbalik darinya untuk berjalan ke arah tumpukan buku yang ada di tempat tersebut. Berbalik melihat Arca dan duduk di atas tumpukan buku, pemuda rambut hitam itu menyilangkan kakinya dan bertanya, “Sebelum keluar dari sini, mari kita bicara! Aku sudah menang dalam duel ini, bukan?”
Arca menatap dengan kacau, matanya terbuka lebar namun ekspresinya begitu hampa. Mengangguk ringan ia pun menjawab, “Ya .... Ini benar-benar kekalahanku. Aku mengaku kalah.”
Odo sedikit merasa kesal karena Arca malah terlihat seperti mayat dan sama sekali tidak memiliki semangat hidup, ia merasa kalau pemuda dari keluarga Rein itu memang sebaiknya seperti sebelumnya dan tetap sombong daripada sekarang. Mengaktifkan kalkulasi dan mencari kalimat yang sesuai untuk menarik Arca Rein dari situasi semacam itu, kornea mata Odo sekilas berubah hijau.
Selesai dan mendapat kesimpulan, Odo menatap ringan dan bertanya, “Apa kau ingin tahu siapa yang meniduri Ibumu, Arca?”
Odo hanya menatap datar mendapat reaksi seperti itu, memalingkan pandangan dan sangat paham kalau Arca benar-benar mencintai Ibunya sendiri. Menatap dengan sedikit rasa resah, ia pun berkata, “Iya, iya, aku paham .... Duduklah, aku akan bicara. Akan kuberitahukan rahasianya ....”
Arca terkejut, mengambil satu langkah mundur dan bertanya, “Aku ... kalah darimu, loh. Kenapa ....?”
“Ini bonus ....” Odo berhenti menyilangkan kakinya, duduk dengan posisi punggung tegap dan mulai berkata, “Kalau kau memang orang yang menepati janjimu, hidupmu itu sekarang adalah milikku. Anggap saja ini sebagai belas kasihku.”
Arca menyipitkan mata, mulai merasa ada yang janggal pada cara bicara Odo sejak pemuda rambut hitam itu masuk ke dimensi The Ritman Library. Dengan ragu ia pun bertanya, “Kau ... seakan berdiri di atas segalanya, ya? Aku tidak pernah melihat orang seangkuh dirimu.”
“Angkuh?” Odo memalingkan pandangannya dan memikirkan perkataan Arca sejenak, merasa ada yang salah dengan itu ia pun menjawab, “Sayang sekali hal seperti itu sudah tidak ada padaku, ini hanyalah sebuah keserakahan ....”
Suasana berubah senyap sesaat, mereka saling menatap dalam keheningan. Menghela napas ringan, Odo berkata, “Sudahlah. Kita lanjutkan pembicaraannya .... Tentang siapa yang meniduri Ibumu dan menjadi ayahmu, itu benar-benar paman Thomas. Ayahmu ya Thomas Rein.”
“Eh?” Arca menganga mendengar itu.
“Paman Thomas, loh! Apa kau tidak dengar?”
“Bu-Bukan itu? Setelah kau berkata dengan percaya diri dan memprovokasi, tapi rahasianya malah ....”
“Apa? Kau tidak puas? Apa kau berharap Ibumu ditiduri pria lain?”
“Tentu saja tidak!!” bentak Arca. Memalingkan pandangan dengan bingung ia berkata, “Tapi ... hebat sekali kau memprovokasi dengan cara seperti itu, ya.”
“Itu hanya gertakkan untuk memancingmu setuju untuk duel, kau seharusnya sadar ....”
“Be-Benar juga ....” Arca enggan menatap Odo, sekilas melirik curiga.
“Ah, ekspresi itu ....” Odo menunjuk Arca dengan kesal, lalu dengan lantang berkata, “Ekspresi tak puas, ya?! Ada yang masih mengganjal?! Kalau ada tanyakan saja sebelum aku beruntun bertanya padamu!” Menurunkan tangannya Odo pun kembali menghela napas.
“I-Itu ...! Kalau memang benar seperti itu, ke-kenapa Ibunda bisa mengandungku sampai 17 bulan? Hal itu sangat tidak wajar!”
“Sihir ....”
“Eh?” Arca sekali lagi menganga bingung.
“Apa kau tahu kalau ibumu, Lady Calista, dekat dengan Ibuku?”
“Hmm .... “ Arca mengangguk dan sedikit mengingat sesuatu dari kilas balik yang dirinya alami sebelumnya, lalu menjawab, “Ibunda sangat mengagumi Penyihir Cahaya .... Bahkan sampai sekarang Ibunda sering membicarakan beliau dengan semangat ....”
“Oh, karena itu kau marah saat aku berkata seperti itu, ya.”
“Kau ..., benar-benar tidak memedulikan keluargamu sendiri?”
“Tentu saja itu hanya provokasi, kalau aku tidak peduli mana mungkin aku meladenimu dan sampai duel seperti ini.”
“Begitu, ya .... Sepertinya aku memang sangat buruk dalam menilai orang.”
“Kau hanya labil.”
“Lalu, yang kau maksud sihir itu apa? Apa ada semacam sihir untuk bisa membuat seorang wanita mengandung sampai satu tahun lebih?” tanya Arca bingung.
“Benar, itu memang sihir ....” Odo menghela napas panjang dan mendongak ke satu-satunya sumber cahaya di atasnya, lalu berkata, “Wanita memang menakutkan, terutama saat mereka menjadi Ibu. Kau tahu, Arca Rein .... Ibumu itu telah menyiapkan semuanya sejak dirimu masih dalam kandungan, meski harus mengorbankan kondisi wilayah Luke.”
“Hah?” Arca terbelalak.
“Kau tidak sadar?” Odo menatap pemuda rambut hitam di hadapannya, lalu kembali menunjuknya dan berkata, “Kau lahir di keluarga bangsawan dengan Kepala Keluarga punya empat orang Istri, seharusnya kau samar-samar sadar persaingan yang terjadi selama tinggal di sana, bukan?”
“Te-Tentu saja aku tahu! Tapi ....”
“Saat itu paman Thomas baru memiliki satu istri, yaitu Lady Calista?”
“Iya! Terus apa yang kau maksud mengorbankan wilayah Luke?”
“Saat dia mengandungmu, paman Thomas terlalu sering pergi ke wilayah Luke. Lady merasa cemburu karena suaminya malah sering membicarakan Kepala Keluarga Luke, Dart Luke. Karena hal tersebut, wanita itu malah terbawa emosi dan menekan paman Thomas untuk segera melepaskan wilayah Luke dan mengembalikan wewenangnya.”
“I-Ibunda bukan orang seperti itu ....”
“Apa kau dapat menjelaskan kenapa orang seperti Thomas Rein bisa dengan mudah melepas wewenang wilayah yang telah diurusnya? Paling tidak seharusnya dia akan memberikan tuntutan atas nama keluarga .... Tapi, dia tidak melakukannya.”
“Terus, apa ... hubungannya dengan sihir yang kau maksud?”
Odo berhenti menunjuk, sekilas memalingkan pandangan dan menjawab, “Paman Thomas menjadi sering berada di Mansion setelah wewenang dikembalikan. Tapi ... itu malah membuat Lady merasa bersalah karena itu pasti kelak akan membuat orang yang dikaguminya mendapat banyak masalah. Karena itu, pada suatu hari ia ikut melakukan perjalanan dinas dengan paman Thomas dan datang di Mansion Keluarga Luke ....”
“Ke-Kenapa kau bisa mengetahuinya?! Seharusnya kau belum lahir saat itu! Aku bahkan masih di kandungan Ibunda!”
Odo langsung menatap tajam Arca Rein dengan kornea mata bersinar hijau, mengintimidasi layaknya seorang predator mengintai mangsanya. Memejamkan mata dan menghilangkan sorot mata seperti itu, Odo menjawab, “Ah, itu? Emm, samar-samar kau sadar kekuatanku yang sebenarnya, bukan? Jangan pura-pura dungu dan bicara hal yang tidak berguna.”
“Odo Luke, kau ... benar-benar memiliki kekuatan untuk melihat masa depan dan masa lalu? Apa kau seorang Orakel?!”
Kening Odo mengerut saat mendengar itu, menatap kesal dan berkata, “Aku bukan Orakel .... Aku juga tidak melihat masa depan atau masa lalu, hanya memperhitungkan dan memperkirakan. Yah, kurasa apa yang kau sebut itu juga tidak ada salahnya.”
“Ja-Jangan bilang kalau duel ini ...!”
“Ya, aku sudah memprediksi semua hasilnya.”
“A—!! Be-Begitu, ya .... Aku benar-benar termakan rencanamu.”
Arca kembali gemetar, ia berlutut pasrah dan benar-benar ketakutan saat membayangkan semuanya telah diprediksi oleh Odo Luke. Mendongak dan menatap pemuda yang duduk di atas tumpukan buku itu, rasa kagum mulai tumbuh dalam benak Arca.
“Kita lanjutkan pembicaraannya,” Odo menghela napas, lalu kembali menjelaskan, “Setelah Ibumu datang ke kediaman Luke, kurang lebih ia mengungkapkan semuanya pada Ibuku. Apa yang telah dirinya lakukan, apa yang mungkin terjadi, semuanya .... Lalu, Ibuku yang saat itu iri pada ibumu dengan enteng mengatakan kalau ibumu harus mengandung selama 17 bulan dan menanggung rumor buruk.”
“Eh? Iri? Penyihir Cahaya? Pada Ibunda?” Arca menatap penuh rasa heran.
Odo sedikit kesal melihat reaksi seperti itu. Pada dasarnya alasan Mavis terdorong ingin memiliki anak meski dengan cara yang salah adalah karena kedatangan Lady Calista di Mansion kediaman Luke. Karena hal itu jugalah Odo, tepatnya jiwa yang sekarang menjadi Odo Luke bisa terlahir kembali ke dunia.
“Ya, tentu” Odo menatap kesal, lalu menjelaskan, “Memangnya siapa yang tidak iri kalau ditempatkan dalam kondisi seperti itu .... Ibumu sedang mengandung, itu adalah momen paling membahagiakan bagi wanita yang telah berkeluarga. Berbanding terbalik dengannya, Ibuku ditetapkan tidak akan bisa mengandung .... Tentu saja itu membuat iri, dengki dan benci .... Karena itu Ibuku dengan ringannya berkata seperti itu, namun dengan cara seakan itu sebuah saran dan Lady Calista malah menerimanya. Mungkin ia berkata seperti itu dan berkata supaya nyawamu tidak diincar saat baru lahir. Karena itu, Lady mau diberikan sihir oleh Ibuku dan mengandungmu selama 17 bulan ....”
“Rasa iri seperti itu .... Ke-Kenapa Penyihir Cahaya begitu? Bukannya beliau bisa mengandung sesudahnya? Buktinya kau lahir, Odo Luke ....”
“Kelahiranku ireguler ....” Odo bangun dari tumpukan buku, lalu berjalan ke arah Arca Rein dan berkata, “Kau tak perlu mempermasalahkan itu, tanya saja yang berkaitan denganmu. Apa ada lagi? Kalau kau tidak percaya apa yang menjadi jawabanku, coba tanyakan saja pada ibumu itu tentang kebenarannya.”
“Mana mungkin aku melakukannya?!”
“Kenapa?”
“Itu ... pasti melukai perasaan Ibunda. Kalau anaknya sendiri bahkan meragukannya, itu pasti melukai Ibunda.”
Odo semakin tidak menyukai Arca saat mendengar perkataan tersebut. Pemuda dari Keluarga Rein itu sangat bertolak belakang dengan Odo menyangkut masalah itu. Arca memang tubuh menjadi pemuda yang sombong dan angkuh, namun tetap saja ia anak yang baik dan sangat menghormati kedua orang tuanya.
Di sisi lain, Odo memang bertingkah baik dan sopan namun tidak pernah benar-benar mengindahkan ucapan kedua orang tuanya. Odo sering melanggar larangan Ibunya, membuat Ayahnya cemas dan bahkan melakukan hal yang dilarang kedua sosok yang menjadi orang tuanya tersebut. Iri memang dengan jelas tumbuh dalam benak Odo.
Dengan senyuman tipis yang dingin Odo berkata, “Kau sangat peduli dengan Ibumu, ya .... Kalau begitu, pakai saja kalimat ini ....” Odo mengangkat telunjuknya, lalu berkata, “Aku diberitahukan anaknya Penyihir Cahaya saat main ke sana, apa benar begitu Ibunda?”
“Eh?” Arca bingung mendengar susunan kata tersebut.
“Kau tanyakan saja apa yang ingin kau tahu, lalu gunakan kalimat itu di akhir. Pasti itu tidak akan melukai ibumu ....”
“Kenapa ... begitu?”
“Dia pasti akan mengira kalau Ibuku telah memaafkannya ....”
“Oooh.” Arca baru menangkap maksud Odo.
“Apa sudah cukup pertanyaanmu?”
“Eng ....” Arca mengangguk dan menjawab, “Akan ... kulakukan itu setelah kembali nanti.”
“Kurasa tak perlu kembali, Lady akan datang bersama paman Thomas ke Mansion keluargaku pada pertengahan musim semi nanti.”
“Eh?” Arca menganga bingung lagi.
“Ada banyak urusan di sana sepertinya dan Ibumu itu akan ikut.” Odo menunjuk Arca, memasang wajah kesal dan membentak, “Saat itu kau tanyakan saja! Aku tidak akan memperbolehkanmu pulang ke wilayahmu! Dasar sialan, enak saja malah mau pulang padahal sudah kupencundangi seperti ini!”
“Me-Memangnya kau ingin aku melakukan apa?”
Odo berhenti menunjuk dan meletakkan telapak tangan kanan ke wajah, menghela napas panjang dan menjawab, “Aku sedang membangun sebuah Perusahaan di kota Mylta .... Arca Rein, bersumpahlah selamanya loyal padaku sekarang juga dan jadilah manajer perusahaan itu, kumohon.”
Arca semakin bingung saat Odo menggunakan kata mohon dan bukan perintah. Namun sebelum sempat bertanya, pemuda rambut hitam itu langsung menjelaskan susunan rencananya dan rincian situasinya kepada Arca dengan mulutnya sendiri.
\===============================
Catatan:
Odo Luke : Akhirnya SDM berkualitas didapat!!
See You!!