Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 62 : Aswad 9 of 15 “Yang menyedihkan dari masa lalu” (Part 05)



««»»


Pada salah satu kamar di rumah bordil Alms Lilac, semerbak wewangian aroma dari asap dupa cendana memenuhi. Gorden berenda di pasang pada jendela dan pintu, taplak dengan sulaman bunga berwarna ungu digelar pada meja, serta tempat tidur mewah ditutupi kelambu dan ditaburi kelopak bunga merah di atasnya. Pada ruangan yang telah disiapkan untuk memberikan pelayanan terbaik itu, Odo duduk di kursi depan tempat tidur dan terlihat fokus pada kertas-kertas perkamen yang diserahkan pada mejanya.


Duduk pada meja yang sama, sang Madam, Theodora Mascal menghisap pipa cerutunya dan menghembuskan asap ke udara yang dengan cepat bercampur dengan asap dupa. Tubuh elok seorang wanita yang sudah matang, lekuk indah tubuhnya terekspos jelas dengan gaun hitam yang melekat kencang ke tubuhnya. Sebuah aroma wewangian unik sekilas tersebar saat ia melepas tusuk konde, lalu membuat rambut hitamnya terurai ke depan sampai pangkuan.


Meletakkan konde dengan hiasan pernik berbentuk bunga ke atas meja, sang Madam sekilas melipat tangan kirinya ke perut dan mengangkat kedua buah dadanya untuk menggoda. Setelah menghisap asap tembakau untuk sekian kalinya, ia meletakkan cerutu ke meja tempat di sebelah konde. Senyum dari bibir merahnya mulai melebar, pada ujung cerutu yang telah dihisapnya juga tertinggal sebuah bekas lipstik.


“Kau tahu, Madan ....” Odo menurunkan perkamen ke atas meja, menatap datar wanita rambut hitam di hadapannya dan menegur, “Tak perlu menyiapkan pelayanan semacam ini kalau aku datang. Lagi pula, aku ke sini hanya untuk melakukan pemantauan dana yang sudah kutanamkan saja.”


“Anda tak perlu cemas, diriku hanya membuat ini semacam kamuflase.” Wanita berbalut gaun hitam ketat tersebut menyadarkan punggungnya ke kursi dan berhenti menggoda dengan buah dadanya. Sembari kembali mengambil pipa cerutu, wanita rambut hitam itu berkata, “Kalau saya tidak melakukan hal seperti ini, bisa-bisa pelacur lain mengira Anda benar-benar datang untuk urusan politik atau semacamnya.”


“Politik cukup erat dengan pelacuran. Apa pelacur di sini jarang digunakan untuk hal semacam itu?” tanya pemuda itu sembari kembali mengambil perkamen lain di atas meja.


Madam sedikit tertawa kecil mendengar hal tersebut. Namun, sesudahnya ia sekilas memasang ekspresi muram dan berkata, “Anda mengatakan hal yang menarik, ya. Memang benar kalau politik dekat dengan pelacuran. Ketika seseorang yang bergelut di dunia politik kesusahan mengajak orang bergabung ke fraksinya, salah satu metode yang digunakan untuk membujuk adalah menawarkan gadis-gadis mereka.”


Odo merasa aneh saat Theodora mengatakan hal tersebut, itu seakan sang Madam berbicara tentang dirinya sendiri. Menarik napas dalam-dalam dan dengan samar tahu bawah sang Madam sudah hidup dekat dengan hal semacam itu, Odo kembali meletakkan perkamen ke atas meja dan berkata, “Rencana yang aku ajukan berjalan cukup lancar .... Kalau begitu, boleh aku tanya hal sensitif padamu?”


“Hmm, apa itu?”


“Madam pernah hamil dan keguguran, ‘kan? Apa yang menghamili Madam itu orang dari pemerintahan?” tanya Odo dengan ekspresi datar.


Sesaat Theodora terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut dan sekilas memalingkan pandangannya. “Ah, soal hamil dan keguguran itu? Bukannya saya sudah cerita kalau itu kejadian yang menimpa salah satu wanita yang bekerja di tempat ini, ‘kan? Bukan saya,” elaknya sembari memasang senyum kaku.


Odo hanya terdiam mendengar kebohongan itu, tetap menatap datar dan menunggu jawaban sesungguhnya dari wanita mantan gundik dari Moloia tersebut. Paham kalau pemuda dari keluarga Luke itu tidak bisa dibohongi, Theodora menghela napas kecil dan sekilas memalingkan pandangannya dengan murung.


“Memangnya setelah tahu, Tuan ingin apa?”


Pertanyaan tersebut terlalu luas untuk dijawab Odo langsung. Menggaruk bagian belakang kepala dan sekilas menundukkan wajah, putra tunggal keluarga Luke tersebut menjawab, “Hanya ingin memastikan saja. Orang yang pernah menghamili Madam itu Wakil Walikota sekarang, ‘kan? Aku hanya penasaran apa yang sebenarnya terjadi di antara Madam dan Wiskel Porka ....”


Theodora tersenyum pasrah saat nama tersebut muncul dalam pembicaraan. Menatap sendu Odo, wanita rambut hitam itu menyangga kepala menggunakan punggung tangan kanan dan berkata, “Kalau Tuan sudah tahu, kenapa bertanya kepada saya? Tepat seperti yang Anda katakan, orangnya adalah Wiskel dari keluarga Porka itu.”


“Berarti Madam hamil bukan waktu masih menjadi gundik, ya?”


“Hmm, memang bukan ....” Sekilas kedua mata Theodora berkaca-kaca seakan mengingat penyesalannya, lalu sembari menatap ke arah Odo ia menjawab, “Kalau hamil saat masih menjadi gundik, mana mungkin saya menggugurkan kandungan saya sendiri.”


Jawaban tersebut memberitahu Odo bahwa memang ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua. Berhenti menggaruk bagian belakang kepala dan meletakkan tangan kanan ke dagu, pemuda itu menatap dingin dan kembali bertanya, “Boleh aku tahu apa yang sebenarnya terjadi? Itu ada kaitannya dengan hierarki pemerintahan kota ini, ‘kan? Ada juga kaitannya mengapa kompleks ini tidak digusur meski Pihak Religi terus mendesak setiap tahunya, bukan?”


Madam Theodora sejenak terdiam, memegang cerutunya dengan jari telunjuk dan tengah. Menyipitkan tatapannya dengan cepat, dengan ekspresi tak suka ia balik bertanya, “Apa itu penting untuk pembicaraan malam ini, Tuan Niggrum?”


“Tentu saja penting.” Odo menurunkan tangan kanannya ke atas meja, lalu dengan senyum tipis berkata, “Itu menyangkut kenapa tempat ini bisa ada sampai sekarang ini. Kalau bisa ... aku ingin mendengarnya.”


Theodora menghela napas panjang, penuh rasa resah dan merasa tak ingin mengingat kembali apa yang terjadi saat tahun-tahun pertama ia datang ke kota Mylta. Memikirkan hal-hal lainnya untuk masa depan tempatnya berada dan berusaha percaya pada Odo, wanita itu menarik napas dalam-dalam dan menatap lurus pemuda rambut hitam tersebut.


“Baiklah, saya akan menceritakannya .... Ini akan panjang, apa tidak masalah?”


Odo mengangguk satu kali sebagai jawaban. Setelah itu, sang Madam mulai menceritakan hubungannya dengan sang Wakil Walikota dan cerita masa remajanya. Di dalam itu, terdapat juga alasan mengapa bisa dirinya bisa berakhir menjadi pelacur di pojokkan kota Mylta.


.


.


.


.


Semuanya berawal sekitar 15 tahun yang lalu, ketika Theodora masih remaja dan masih berusia sekitar 17 tahunan. Tepat sekitar setahun setelah Perang Sipil di kerajaan Moloia berakhir, sebuah reformasi pada susunan keluarga bangsawan di negeri tersebut mengalami perubahan signifikan dan membuat ombak besar dalam kehidupan sang Madam.


Theodora dulunya merupakan anak seorang bangsawan dari keluarga Mascal, tergabung dalam negara bagian Krila di kerajaan Moloia. Ia memiliki banyak saudara dari rahim wanita yang berbeda-beda, karena memang nilai wanita bangsawan di negeri tersebut adalah untuk pernikahan politik dan membuat koalisi-koalisi menggunakan ikatan darah.


Bernasib sama seperti ibu dan para saudara perempuannya, Theodora pun sejak kecil dididik untuk menjadi seorang istri dengan tingkah laku santun dan patuh pada suaminya. Pada usianya yang baru menginjak 15 tahun, ia dinikahkan dengan seorang bangsawan besar dari Marlte dan menjadi salah satu gundik bangsawan tersebut.


Pada saat itu jugalah Theodora kehilangan kehormatannya di malam pertama, dijamah oleh pria yang usianya terpaut dua dekade darinya. Bagi Theodora sendiri hal tersebut tidaklah aneh karena memang itulah kewajibannya, sebuah tugas yang diemban oleh perempuan yang lahir di keluarga bangsawan. Dari kecil dirinya telah dididik untuk menjadi seperti itu dan sama sekali tidak mengeluh.


Mascal dan Marlte sendiri merupakan fraksi yang tergabung dengan tujuan menuntut negeri untuk memulai Perang Besar, lalu mengembalikan kejayaan mereka dengan peperangan tersebut. Karena merekalah yang berperan besar sebagai pemegang pabrik-pabrik senjata dalam jumlah massal di wilayah mereka.


Di hadapkan antara harus memilih keluarga atau suaminya, Theodora lebih memilih kembali ke keluarganya dan mengajukan surat pemutusan kontrak pernikahan dengan bangsawan besar dari Marlte tersebut. Tetapi saat ia kembali, perang benar-benar berakhir dan sebuah putusan eksekusi jatuh pada seluruh keluarga inti Mascal.


Tak ingin mati bersama mereka, Theodora kembali ke kediaman mantan suaminya untuk meminta pertolongan. Namun tentu saja ia tidak diterima, ditendang mentah-mentah dan bahkan hampir ditangkap karena masih menyandang nama Mascal.


Ia kabur ke pojokkan kerajaan Moloia, lalu bertemu dengan seorang pedagang dan akhirnya menikah dengannya untuk mendapat perlindungan. Itu terjadi pada usianya baru menginjak 16 tahun, belum genap setahun setelah ia cerah dengan mantan suaminya.


Theodora hidup cukup bahagia dengan suaminya, sering berlayar ke berbagai tempat dan mengenal dunia di luar kerajaan Moloia. Saat bersama suami barunya tersebut, ia mengenal lautan, mendapat pengetahuan berdagang dan cara menggunakan uang dengan benar. Sebagai seorang wanita, Theodora diperlakukan sangat baik oleh pedagang yang usianya hanya terpaut satu dekade dengannya itu.


Tetapi sekali lagi kehidupan bahteranya tidak berjalan lancar. Belum genap satu tahun ia menikah, pedagang yang menjadi suaminya bangkrut karena sebuah keputusan dari Konferensi Keempat Negeri. Perdagangan Bebas dan Pembukaan Jalur Laut, hal tersebut membuat jalur laut yang dimonopoli usaha dagang suaminya tersebut kalah saing dengan jalur resmi. Tak butuh waktu lama, usaha dagang tersebut benar-benar lenyap dan hanya meninggalkan arsip utang dalam jumlah yang tak sedikit.


Dengan sepucuk surat, suaminya tersebut menceraikan Theodora dengan alasan tak mampu lagi membahagiakannya, tak ingin menyeretnya ke dalam tumpukan hutang, lalu meninggalkan wanita muda tersebut di kota Mytla. Pada senja di hari ketika Theodora ditinggalkan, ia bertemu dengan pria paruh baya dari keluarga Porka di pelabuhan.


Itulah ombak besar kehidupan yang mengubah dirinya pada usia 17 tahun. Membuatnya menyesal karena tidak bisa menjaga hubungannya dengan dua pria yang pernah menjadi suaminya, lalu menuntunnya kepada penyesalan-penyesalan tak berujung. Satu-satunya yang memberinya alasan untuk tetap hidup adalah penebusan rasa bersalahnya yang tumbuh seiring waktu berjalan.


“Selamat sore, Nona Kecil. Apa yang anda lakukan di tempat seperti ini?”


Sebuah penyesalan yang akan datang diawali dengan sebuah kata sederhana tersebut. Terlontar dari mulut pria tua, di bawah sinar matahari kemerahan di ujung cakrawala. Saat Wiskel tahu wanita muda itu tidak memiliki tempat tinggal dan sebatang kara, dengan alasan menjadikannya pelayan pria itu membawa Theodora ke kediamannya.


Tahun pertama dan kedua, ia tinggal di kediaman Porka layaknya pelayan pada umumnya. Membersihkan rumah, mengurus kebun, belanja ke pasar dan menyiapkan makanan untuk Tuan dan Nyonya rumah. Keluarga Porka saat itu juga baru memiliki seorang putri yang masih berusia 1 tahun. Theodora benar-benar hidup layaknya pelayan keluarga aristokrat pada umumnya.


Theodora yang mulai menginjak usia 20 tahun benar-benar tumbuh menjadi seorang wanita yang amat cantik, bahkan melebihi sang Nyonya yang dirinya layani. Meski begitu, istri dari keluarga Porka tersebut tidak memendam rasa iri dan tetap menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan putri di keluarga tersebut yang mulai tumbuh menganggap Theodora sebagai kakak perempuannya.


Namun kehidupan damai tersebut berubah ketika Tuan yang dirinya layani mulai menatapnya dengan cara yang berbeda. Entah itu karena stres setelah kekuasaan wilayah dikembalikan dari Rein kepada keluarga Luke atau memang dari awal Wiskel Porka memendam rasa pada wanita muda tersebut, namun hari-harinya benar-benar berubah setelah kejadian itu.


Pada sebuah malam di musim dingin, Wiskel Porka pulang dari kantornya sangat larut dan entah apa yang merasukinya ia langsung mendatangi kamar Theodora. Lalu —


Bangsawan tersebut memerkosa wanita muda tersebut, selama semalaman dan benar-benar menyetubuhinya sampai lemas. Awalnya Theodora melawan dengan sekuat tenaga dan sampai lari ke pintu kamar. Namun ketika dirinya paham tak ada tempat lagi untuknya selain di rumah itu, ia pada akhirnya pasrah.


Hubungan terlarang itu berlanjut selama beberapa bulan sampai tahun berganti. Namun ketika pertengahan musim semi, Theodora menyadari ada yang aneh dalam tubuhnya. Ia sering mual, pusing dan cepat lemas. Lalu atas saran dari Nyonya Rumah, ia segera mendatangi tabib untuk memeriksanya. Saat itulah ia tahu bahwa telah hamil tiga bulan, tentu ia hanya bilang ke Nyonya Rumah kalau dirinya sakit.


Sang Tuan Rumah, Wiskel tahu hal tersebut tak lama kemudian pada penghujung musim semi saat kandungan mulai menyentuh usia 4 bulan dan perut Theodora terlihat sedikit membesar.


“Gugurkan anak itu!” Perkataan tersebut dilontarkan sang Wakil Walikota itu tanpa ragu ketika dirinya mengetahui hal tersebut.


Ia melemparkan obat untuk menggugurkan kandungan ke wanita muda tersebut. Tentu Theodora tak mengharapkan itu, ia telah bertekad ingin melahirkan anak di kandungannya meski harus keluar dari kediaman. Di tengah perdebatan tersebut yang terjadi tengah malam itu, sang Nyonya Rumah mendengarnya dan pada akhirnya mengetahui kalau Theodora hamil karena suaminya.


Rasa kecewa, murka, putus asa, semuanya bercampur aduk dalam benak sang Nyonya yang dirinya layani selama beberapa tahun terakhir itu. Wanita yang telah dikhianati itu dengan histeris meminta penjelasan pada suaminya sampai lemas, lalu di akhir ia terduduk pasrah di lantai kamar dan menangis tersedu.


“Kenapa kau melakukan ini padaku? Padahal diriku sangat percaya .... Kenapa kau mengkhianatiku seperti ini ..., Theodora ....”


Perkataan tersebut membuat keputusan Theodora untuk mempertahankan anak di kandungannya sirna. Dada terasa dihujam dengan tombak, membuatnya sesak napas dan pada akhirnya menyerah. Demi melindungi nama baik keluarga Porka, wanita itu setuju menggugurkan anak dalam kandungannya.


Namun nasib buruk kembali menghampirinya lagi. Tabib tempatnya memeriksa kehamilan menyebarkan rumor kalau pelayan dari kediaman Porka telah hamil, membuat nama Wakil Walikota semakin merosot. Sampai-sampai ada rapat untuk menurunkan Wiskel Porka dari jabatannya terjadi, banyak orang-orang yang menginginkan jabatannya mendorong sang Walikota untuk menurunkan wakilnya tersebut.


Sekali lagi Theodora dipaksa berkorban, ia dilabeli pelacur dan dikirim ke distrik rumah bordil dengan hanya diberikan pesangon dan diberikan tempat kecil di kompleks buangan tersebut. Martabatnya yang tersisa benar-benar dilucuti, dianggap sebagai pelacur rendah yang hanya menebar aib di keluarga Wakil Walikota tersebut. Dengan hal begitu, nama keluarga Porka kembali membaik karena tuduhan menghamili pelayannya sendiri menjadi bisa dibantah dengan dalih dijebak oleh seorang pelacur.


Tetapi, tetap saja rumor seorang wanita yang dibuang dalam kondisi hamil dari kediaman bangsawan terus tersebar. Theodora yang menunda-nunda untuk menggugurkan kandungannya kembali didesak setiap harinya dengan surat-surat yang terus berdatangan. Tidak bisa menahan tekanan tersebut, ia meminum obat aborsi dan keguguran pada usia kandungan mencapai 24 pekan dibantu tabib yang dulu memeriksa kehamilannya.


Mayat janin yang keluar dari tubuhnya masih teringat dengan jelas sampai beberapa tahun ke depan, menghantuinya dengan rasa bersalah. Sebagai pelarian, ia mulai mengonsumsi candu dan benar-benar terjun ke dunia pelacuran.


Sejak saat itulah ia menjadi seorang pelacur secara utuh, jatuh dalam rasa bersalah karena telah membunuh anaknya sendiri dan mulai tidur dengan banyak pria. Mengonsumsi obat pencegah kehamilan terus menerus, menggunakan pengetahuannya yang lebih banyak daripada para pelacur lain, lalu membangun sebuah rumah bordil untuk dirinya sendiri dan menjadi seorang Madam di tempat tersebut.


Karena Theodora masih hidup di tempat itu, Wiskel Porka selaku Wakil Walikota akan selalu berusaha untuk mencegah kompleks pelacuran tersebut digusur karena takut rahasianya dibongkar oleh sang Madam. Itulah hubungan yang ada di antara mereka, apa yang terjadi dalam masa lalu dua orang hina tersebut.


.


.


.


.