
Terdiam dalam sebuah koridor, melihat dan mendengar orang-orang yang membicarakan kebohongan dalam bayangan mereka masing-masing. Begitu melekat dan saling berbisik satu sama lain, memaparkan kebenaran di antara omong kosong yang keluar dari mulut.
Itu merupakan sebuah koridor pada sebuah bangunan pendidikan. Lantai keramik putih dan dinding berwarna monokron. Beberapa kamera tampak di sudut, bentuk pengawasan untuk semua orang yang ada di dalam lingkup pendidikan tersebut. Di antara para pembohong yang mengaku diri mereka pekerja keras, seorang pemuda yang sama sekali tidak menunjukkan kerja kerasnya berdiri di dekat sebuah jendela.
Kemeja abu-abu dan celana bahan hitam, lalu sebuah dasi merah polos serta sepatu pantofel. Dengan penampilan layaknya orang terpelajar dan berkelas pada masa itu, ia memberikan tatapan datar ke arah orang-orang di bawah yang duduk-duduk pada taman. Pada lantai tiga, ia melihat keluar dari jendela tanpa berkata apa-apa dan hanya menatap rendah semua orang.
“Sebuah kebohongan yang dipaksakan, kenyataan yang semakin menjauh. Tanpa sadar menyusup ke dalam hati dan mengoyak tanpa belas kasih …. Dunia penuh manipulasi yang terasa sempurna. Drama, tragedi, roman, serta berbagai macam lainnya⸻ Para Dewa-Dewi memandang perjuangan manusia hanya sebatas cerita untuk kepentingan mereka.”
Setelah mengatakan hal semacam itu dengan maksud yang dalam, pemuda rambut hitam tersebut berhenti menatap keluar. Ia memasukkan tangan kanannya ke saku celana, lalu berjalan mengikuti alur lalu-lalang orang-orang di tempat tersebut. Sampai pada sebuah ruangan tempat pembelajaran, ia terhenti dan melihat ke dalam.
Di dalam ruang tersebut terlihat orang-orang seusia dirinya duduk rapi, mendengarkan ucapan seorang dosen tua yang sedang memberikan materi pembelajaran. Melihat pemuda itu membuka pintu dan melihat ke dalam dengan ekspresi muram, hampir semua orang menatap ke arahnya dan tampak bertanya-tanya mengapa ia hanya berdiri di sana dan tidak segera masuk.
Dosen yang sedang mengajar berjalan ke arahnya dan menanyakan sesuatu, tampak cemas melihat ekspresi salah satu anak didiknya tersebut. Namun sebelum ia bisa menghampiri dan menepuk pundaknya, pemuda itu menghadap ke arah sang dosen dan mengambil pistol rakitan dari saku. Itu ditodongkan lurus ke arah pria tua tersebut.
Semua orang tersentak dan panik. Namun beberapa detik kemudian, beberapa orang ada yang tertawa kecil karena menganggap itu hanyalah pistol mainan. Sekali lagi sang dosen meminta pemuda itu untuk tenang, sembari berjalan mendekat dan memintanya sejenak duduk untuk menjelaskan kenapa ia terlihat begitu muram.
“Pak, menurut Bapak manusia itu apa? Mengapa takdir selalu dipaksakan kepada kita? Mengapa kita ada di dunia ini dan harus mematuhi naskah yang dibuat oleh Tuhan? Kalau Tuhan maha pengasih, mengapa ia menciptakan sebuah neraka? Jika memang ia menciptakan dunia untuk ditinggali manusia, mengapa Ia memberikan penderitaan kepada para manusia dengan menyebutnya sebuah cobaan?”
Pertanyaan beruntun tersebut terdengar tak masuk akal untuk diajukan saat itu, lalu tentu saja dosen tak mendengarkannya dan terus membujuk pemuda itu untuk tenang. Tetapi ketika pelatuk ditarik dan proyektil melesat menyerempet pundak dosen, suasana tegang pun pecah menjadi tegang.
Beberapa orang ada yang berlari ke arahnya dan berusaha menahan pemuda itu. Namun dengan tanpa keraguan, ia langsung menodongkan senjatanya dan menembak semua orang yang berlari ke arahnya. Pada bagian vital, dengan sangat akurat dan membuat mereka ambruk seketika.
Menutup pintu dan menguncinya dari dalam, pemuda itu kembali menodongkan senjatanya ke arah sang Dosen dan bertanya, “Pemberontakan atas takdir merupakan esensi sebuah perjuangan seorang manusia, sedangkan kematian adalah bentuk pemerkosaan yang paling tinggi atas itu. Aku berdiri di sini dan melakukan ini untuk melawan takdir. Dari dasar tersebut, jika aku membunuh Bapak sekarang … kira-kira lebih condong ke arah mana?”
Pemuda itu berhenti menodong sang Dosen, mengarahkan senjata ke kepalanya sendiri dan kembali bertanya, “Kalau seperti ini, arahnya juga akan cenderung ke mana? Tolong jawab pertanyaan ini, Pak Dosen ….”
Dosen tersebut tampak pucat, ragu untuk menjawab seperti apa karena yang dirinya ketahui pasti akan meningkatkan persentase pemuda itu menarik pelatuknya. Meski begitu, setelah ditekan ia harus tetap memberikan jawaban.
Pria tua itu berkata bahwa tidak ada dari keduanya yang merupakan bentuk perlawanan terhadap takdir. Entah itu menembak kepalanya sendiri, dosen tersebut, atau bahkan semua orang di dalam ruangan, hal tersebut hanyalah sebuah pelarian terhadap takdir.
Jawaban tersebut membuat sang pemuda puas, tampak tersenyum tipis dan mulai menurunkan pistol dari kepala. Tetapi karena hal tersebut, ia merasa harus melakukannya dan menodongkan senjata apinya ke depan. Tanpa peringatan sama sekali ataupun rasa ragu, ia menarik pelatuk. Kepala dosen tersebut seketika berlubang, proyektil tembus sampai otak dan tubuhnya seketika ambruk ke belakang.
Semua orang di dalam ruangan berteriak, langsung panik dalam ketakutan. Ada yang langsung meringkuk, ada yang berlari dan berusaha menahan pemuda itu, dan ada yang hanya menggigil ketakutan. Sekali lagi dengan tanpa keraguan, pemuda itu menodongkan pistol ke arah mereka dan menarik pelatuk.
Pertama ia membunuh orang-orang yang berusaha menyerangnya sampai amunisi habis. Menjatuhkan senjata api, ia mengambil pistol lainnya dari saku kiri celana dan kembali menembak yang masih ada di ruangan. Tepat 15 tembakan untuk menghabisi 13 orang termasuk dosen di dalam ruangan tersebut.
Suara pintu didobrak-dobrak mulai terdengar, keramaian di luar membuat pemuda itu menoleh dengan sorot mata datar. Berjalan di antara mayat dan genangan darah di lantai keramik putih, ia memasang senyum datar dan berhenti tepat di depan pintu.
Dengan sisa satu peluru yang ada di senjatanya, pemuda itu mengarahkannya ke kening. Sembari tersenyum ringan ia pun berkata, “Bagaimana, wahai diriku. Apa pesan ini tersampaikan kepadamu dengan jelas? Inilah engkau, seorang pembunuh dan pemberontak dunia. Ingatlah perkataanku ini baik-baik, diriku di masa depan …. Tak perlu merasa bersalah, kau bukanlah orang yang pantas untuk merasakan hal seperti itu.
Ia memejamkan mata, berhenti tersenyum dan tampak sedih. Sembari perlahan menarik pelatuknya ia kembali berkata, “Memberontaklah sampai akhir! Ambillah jalan yang kau inginkan meski harus membunuh para Dewa sekalipun! Lalu pahamilah ini, dosa takkan pernah hilang meski dunia ini berakhir! Dosa hanya bisa ditebus dengan dosa lainnya, bukan pengampunan. Meski dunia mengampuni, orang-orang yang mengutuk dirimu takkan pernah ….”
Dengan peluru terakhir, ia menembak kepalanya sendiri dan ⸻
۞۞۞
Suara ramai obrolan orang-orang membangunkannya. Perlahan membuka mata dan menatap ke depan, apa yang pertama kali Odo lihat adalah para bangsawan dan konglomerat. Mereka tambak berkelompok dalam pesta penyambutan, membicarakan bisnis atau masalah sepele untuk membuat relasi satu sama lain.
Ia melihat sekeliling, mengamati pemandangan megah di ruangan tersebut yang membuat dirinya sekilas merasa asing di kediamannya sendiri. Dekorasi mewah yang tak biasa, tata letak yang berbeda, dan juga orang-orang asing yang hampir semuanya baru pertama kali dirinya temui.
Setelan kemeja abu-abu dan celana bahan hitam, dasi cravat merah dan sepatu kulit. Dengan pakaian formal yang tak biasa ia kenakan, Odo Luke berada di tempat tersebut dengan suasana hati jenuh tanpa tahu harus menghabiskan waktunya untuk apa.
Sejenak kembali memejamkan mata, ia mengingat beberapa belas menit lalu saat sesi awal acara berlangsung dan para tamu di ruangan menghampirinya dengan senyuman palsu melekat pada wajah mereka. Tampak jelas hanya ingin membuat relasi, cari muka, dan menganggap Odo hanya sebatas anak kecil yang bisa dimanfaatkan.
Mengingat kembali hal tersebut membuatnya sesaat merasa kesal, membuka mata dan menatap datar ke arah para bangsawan yang sesekali melirik ke arahnya. Kebanyakan yang berada di dalam Aula Utama hanyalah para perwakilan resmi serta pasangan yang mereka bawa, sedangkan untuk penjaga hanya menunggu di luar karena tak diperbolehkan masuk.
Pada meja-meja yang ada, semua camilan seperti roti, manisan, serta makanan yang disajikan lainnya hampir tak disentuh seakan tak menarik bagi para tamu. Selain karena telah mendapat makan setelah sampai di Kediaman Luke, mereka tampak sibuk berbicara satu sama lain sembari hanya membawa gelas anggur merah yang telah diminum sedikit.
Kedua Tuan Rumah tampak sibuk meladeni para tamu, melakukan percakapan yang bisa dikatakan tidak biasa mereka lakukan. Wajah Mavis terlihat sedikit kesal mengikuti topik pembicaraan para tamu, sedangkan Dart hanya tersenyum kecil dan hanya menjawab dengan kalimat singkat karena tak terlalu paham apa yang para bangsawan lain bicarakan.
Dalam pesta penyambutan tersebut, Odo tak banyak berbicara seperti saat berdiskusi dengan sang Raja. Ia hanya mengikuti protokol yang telah ditentukan untuk calon tunangan pria, lalu hanya berbicara seperlunya saja dan tampak menghindari kontrak berlebihan dengan para tamu.
Setelah sesi awal, pemuda itu hanya perlu berada di ruangan pesta sampai acara selesai. Karena hal tersebutlah, ia berada di salah satu sudut ruang dan tampak seakan memancarkan atmosfer yang sulit untuk didekati.
Sekilas menatap gelas anggur penuh yang dirinya pegang, pemuda itu melihat cerminan dirinya di dalam air merah gelap tersebut. Sebuah tatapan datar dengan ekspresi muram, begitu lelah dan jenuh karena sesuatu.
“Aku memang tak cocok dengan acara seperti ini,” gumam pemuda itu.
Mendengar keluhannya, Arca Rein menghampiri pemuda rambut hitam tersebut dan bertanya, “Kenapa malah di sini, bukannya seharusnya kamu bersama Tuan Putri Arteria?”
Menoleh ke arah pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut, sekilas Odo menatap heran dan dalam benak bertanya-tanya mengapa Arca harus menghampiri dirinya sekarang.
Setelan yang Putra Sulung Keluarga Rein tersebut kenakan untuk pasta dipinjam dari Kediaman Luke, sehingga ia mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda dengan apa yang Odo kenakan. Namun pada bagian dasi, ia memakai warna biru tua.
“Kau sendiri bagaimana? Bukannya lebih baik sekarang kau bersama Nyonya Calista? Beliau jarang berada di luar dan mengikuti acara seperti ini, bukan?”
Mendengar itu Arca segera menoleh ke arah Calista yang terlihat sedang bersama suaminya, Thomas Rein. Setelah menghela napas ringan ia pun berkata, “Ibunda sudah ditemani Ayahanda. Tidak enak kalau diriku mengganggu.”
“Apa benar begitu?” Odo melirik kecil, lalu dengan senyum tipis berkata, “Tak disangka-sangka bisa jadi Paman Thomas dan Nyonya Calista berharap kau bergabung bersama mereka, loh.”
“Serius kamu mau bicara tentang diriku terus?” Arca sedikit meminum wine dalam gelas anggur yang dibawanya, lalu menoleh ke arah Odo dan kembali bertanya, “Waktu diriku baru sampai, itu sangat mengejutkan …. Kata Ayahanda, engkau melakukan pembicaraan penting dengan Raja Gaiel dan para Kepala Keluarga, ‘kan? Pembicaraan apa memangnya?”
Odo menoleh ke arahnya dan balik bertanya, “Kau tidak diberitahu ayahmu?”
“Eng ….”Arca hanya menggelengkan kepala, merasa kalau pembicaraan tersebut terlalu penting sampai dirinya tak boleh tahu. Namun karena rasa penasaran, Putra Sulung dari Keluarga Rein tersebut tetap bertanya, “Bisa kamu beritahu itu kepadaku, Odo?”
Odo sesaat terdiam, memikirkan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi jika dirinya memberitahukannya kepada Arca. Merasa berhutang banyak hal dan telah merepotkan Putra Keluarga Rein tersebut, Odo kembali menatap datar ke depan dan dalam benak memutuskan.
“Hanya soal pertunangan. Mereka tahu tentang aura iblis ku dan sempat ingin membatalkannya, kurang lebih seperti itu.”
“Ap⸻‼?”
Jawaban sederhana Odo membuat alis Arca berkedut, menghadap ke arahnya dan menatap dengan mimik wajah sangat terkejut. Paham dengan tempat dan situasi, ia hanya mengarik napas dalam-dalam dan memperlihatkan ekspresi heran karena pemuda rambut hitam tersebut masih bisa santai seperti itu.
“Kau tak perlu cemas, itu berjalan lancar … Pertunangannya tidak batal.”
“Kau tahu, Odo …. Bukan itu yang membuat diriku terkejut.” Arca sejenak mendongak lurus ke atas, tampak cemas dan kembali bertanya, “Kenapa kamu tidak menyembunyikannya? Waktu di kota Mylta aku memang sesekali merasakan hawa iblis darimu dan tak mempermasalahkan hal itu, tapi kalau bangsawan di sini tahu⸻”
“Itu juga tak masalah ….” Odo menoleh dan menatap lurus Arca, memasang senyum tipis dan berkata, “Raja Gaiel dan Archbishop yang kemungkinan paling menolak sudah mengetahui itu, dan mereka tak mempermasalahkannya.”
“Kalau bangsawan lain? Tuan Garados dan Tuan Jakall? Mereka juga ikut pembicaraan, bukan?”
“Hmm, mereka juga sudah tahu ….”
Odo menoleh ke arah para tamu, melihat sang Tuan Putri Arteria dan Pangeran Ryan yang tampak lengket dengan Raja. Meski beberapa tamu penting menghampiri sang Raja untuk membicarakan sesuatu, mereka berdua sejak pesta dimulai tak kunjung menjauh dari sang Raja.
Dasar adiknya sedang ditatap oleh Odo, Pangeran Ryan melirik tajam dan memperlihatkan ekspresi permusuhan. Odo hanya bisa memasang senyum tipis, merasa kakak dari Tuan Putri tersebut terlalu protektif.
Sembari kembali menatap ke arah Arca, Odo Luke memasang senyum tipis dan berkata, “Masalahnya sekarang hanya dua, si Pangeran dan Tuan Putri Arteria.”
“Hmm, memangnya kenapa dengan mereka?” Arca ikut menatap ke arah dua orang yang disebutkan Odo, mulai merasakan hal yang sama saat melihat mereka berdua terlalu lekat dengan sang Raja.
“Pangeran sepertinya tak suka denganku, lalu Putri Arteria juga entah mengapa acuh tak acuh dengan pertunangan ini.”
“Huh, hanya itu toh.” Arca menghela napas ringan, memasang senyum kecil dan menepuk pundak Odo dengan tangan kiri. Dengan mimik wajah yang dengan cepat berubah serius, Arca menyipitkan tatapannya dan berkata, “Meskipun tak suka, mau tak mau Putri dan Pangeran harus mematuhi perintah ayah mereka ….. Pernikahan di kalangan bangsawan memang kebanyakan semacam itu, Odo.”
Perkataan tersebut kembali mengingatkan Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bahwa memang seperti itulah bentuk kehidupan para bangsawan. Merasa sedikit tak suka akan hal itu, pemuda rambut hitam tersebut memalingkan pandangan dan bertanya, “Kalau Paman Thomas menikahkan kau dengan perempuan yang tak kau sukai, apa⸻?”
“Diriku tetap akan mematuhinya,” jawab Arca sebelum Odo menyelesaikan pertanyaan. Meminum wine dalam gelas sampai habis, pemuda dengan warna mata hijau cerah tersebut kembali berkata, “Ayahanda dan Ibunda telah rela mengorbankan rumah tangga mereka demi kerajaan. Diriku tak bisa terus egois ….”
“Hmm, kurasa kau bisa berkata seperti itu karena tak pernah benar-benar jatuh cinta pada orang lain.” Odo berjalan ke arah salah satu pelayan yang bertugas di sudut, meletakkan gelas anggur yang masih penuh bersama rentetan gelas kosong di atas meja tempat pelayan tersebut berjaga. Kembali menatap ke arah Arca, pemuda rambut hitam itu berkata, “Tak masalah kau egois, selama ini bukannya kau hidup dengan cara seperti itu?”
Arca tampak kesal mendengar sindiran tersebut, lalu sembari berjalan ke arah Odo ia bertanya, “Makanya mulai sekarang aku mau berubah! Kenapa kamu malah bicara seperti itu, Odo? Lagi pula, memangnya kau pernah jatuh cinta sampai-sampai bicara begitu?”
“Pernah ….”
Jawaban tersebut membuat Arca terkejut, gurau perlahan menjadi hal yang serius. Melihat ekspresi yang tampak pada wajah Odo, dirinya tahu kalau pemuda rambut hitam tersebut sama sekali tidak sedang bercanda.
“Hmm ….” Arca berusaha menganggap perkataanya sebagai canda belaka, lalu dengan nada ringan bertanya, “Memangnya siapa itu? Di mana dia sekarang? Aku penasaran siapa yang bisa membuat orang sepertimu jatuh cinta.”
“Dia sudah tidak ada di dunia ini,” jawab pemuda itu seraya berjalan ke arah pintu utama aula.
Mendengar apa yang dikatakannya, Arca sempat terkejut dan terdiam. Pelayan yang berjaga di maja bagian gelas-gelas kosong pun ikut terkejut mendengarnya. Arca ingin mengejarnya dan bertanya lebih lanjut. Namun saat melihat wajah muram Odo sebelum membuka pintu aula, langkah kaki terhenti dan Arca hanya terdiam di tempat.
Pemuda rambut hitam tersebut pun pergi dari ruangan acara, meninggalkan tugasnya untuk tetap berada di tempat sampai acara selesai.
\===============================
Dilarang promo di cerita ini!
Oke?
Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.
Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.
Di Facebook sudah ada tempat khusus.
Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.
Yah, sekarang juga udah gak boleh sih.
Btw, jadwal update akan kembali berubah. Akan terus paralel sampai tamat. Sebab season II dari seri ini sudah memasuki tahap pembuatannya.
Dengan kata lain, saya usahakan akan update tiap hari. Meski nanti kayaknya bakal ada yang bolong.