Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 44 : Mutual-Evîn 4 of 10 “Fate” (Part 03)



 


 


Di dalam hutan pepohonan cemara, Regu Khusus kerajaan Moloia mengintai pemukiman suku Klista yang berada di dataran tinggi. Udara berkabut pekat, sinar matahari terhalau mendung, dan embun yang membeku pada dedaunan masih belum benar-benar mencair sepenuhnya karena rata-rata suhu udara di tempat tersebut masih cukup rendah sampai hampir mencapai titik nol.


 


 


Menggunakan teropong jari, salah seorang tentara Moloia mengintai beberapa penduduk suku pedalaman tersebut. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari kalau pemukiman telah dikepung, orang-orang Klista tersebut terlihat masih melakukan rutinitas seperti menenun kain atau memahat kerajinan kayu.


 


 


Sedikit memindai dengan teropong jari, terlihat ada beberapa pria yang membawa busur beserta panah di punggung dan belati di pinggang. Mereka menggotong hasil buruan berupa babi hutan dan rusa. Menyadari tidak ada penjagaan ketat dan memperkirakan betapa lemahnya suku yang selalu hidup menjauh dari konflik tersebut, tentara yang meneropong segera melapor ke pemimpin regu di sebelahnya.


 


 


“Letnan, sepertinya memang benar suku itu tidak memiliki penjagaan. Mungkin para bandit itu juga sudah cukup untuk menghancurkan pemukiman. Orang-orang Klista itu .... Apa kepala mereka penuh kebun bunga? Bisa-bisanya membangun pemukiman tanpa penjagaan teratur seperti itu.”


 


 


Sang Letnan yang juga tiarap bersama bawahannya itu sedikit menyipitkan mata, memikirkan hal lain dan sedikit menghela napas. Segera bangun dan berlutut untuk memperluas jarak pandangan, ia memberikan sinyal gerak tangan kepada para bawahannya untuk memulai rencana.


 


 


Para tentara yang jumlahnya kurang dari 20 orang segera bangun, mengaktifkan jubah kamuflase mereka untuk berbaur dengan lingkungan dan menyembunyikan sosok di dalam pepohonan yang masih daunnya masih jarang. Menyiapkan senjata dan menyalakan sumbu, pasukan dengan senapan lontak segera maju bersama dengan pasukan yang membara pistol Red9.


 


 


“Ya, itu tidak bisa disebut penjagaan. Untuk desa yang ada di dalam hutan penuh monster seperti ini, mereka bahkan tidak mendirikan menara pengawas yang memadai. Mungkin karena Medan Pembatas yang dibuat tetua suku, mereka tidak takut serangan monster dan meremahkan serangan dari makhluk selain monster,” ucap Letnan Dua bernama lengkap Cornelisa Di’in tersebut.


 


 


Ia menyiapkan senapan laras panjang Springfield, mengatur bidikkan dan menarik napas dalam-dalam menenangkan diri sebelum memberikan aba-aba untuk memulai penyerangan.


 


 


Bawahan sekaligus juniornya bangun dan berlutut di sebelah. Menatap jengkel ke arah pemukiman Klista, perempuan rambut pirang panjang sebahu itu menyerapah, “Tch! Dasar orang-orang bodoh yang terlena perdamaian! Mereka bahkan tidak memanfaatkan kelebihan dalam sihir! Mereka seharusnya mati saja ....”


 


 


“Tak usah teriak, Ra’an. Pria yang bertugas berburu biasanya punya pendengaran yang tajam, tak usah membawa masalah pribadi dalam misi.”


 


 


“Maaf ....”


 


 


“Berikan teropongnya.”


 


 


“Siap!”


 


 


Letnan tersebut menerima teropong jari tersebut dari Marnali Ra’an, lalu memakainya untuk mengamati rekannya sendiri yang mulai bergerak di antara pepohonan cemara untuk menyergap pemukiman tersebut. Memastikan para bandit digiring menuju pemukiman untuk dijadikan kambing hitam, Letnan tersebut mengembalikan teropong jari kepada bawahannya yang sekarang berpangkat Bintara Tinggi—Pembantu Letnan Satu.


 


 


“Aktifkan penglihatan inframerahmu dan cari letak Tetua Suku, seharusnya suhu Demi- Einhorn itu bersuhu lebih rendah dari orang-orang lain.”


 


 


“Siap!”


 


 


Ra’an segera memakai penglihatan inframerah, kornea matanya berubah dari violet menjadi merah menyala. Menyabung struktur sihir miliknya dengan teropong jari, ia meningkatkan beberapa kemampuan alat sihir itu. Dengan kombinasi tersebut, selain penglihatan inframerah dirinya juga mendapat informasi tekanan udara, kelembaban, suhu, serta kekuatan arah angin. Ia mencari memindai setiap rumah, penglihatannya seakan-akan memang bisa melihat setiap orang yang ada di dalam bangunan meski hanya dalam bentuk pancaran suhu tubuh.


 


 


Tujuan Regu Khusus kerajaan Moloia tersebut bukanlah untuk membantai semua penduduk pemukiman Kliasta namun hanya membunuh Tetua mereka. Menurut hasil kalkulasi yang dikeluarkan keempat Fraksi, para A.I dari kerajaan Moloia memutuskan bahwa seorang ‘Perantara’ dianggap lebih menyusahkan daripada ratusan ksatria.


 


 


Para perantara atau juga di beberapa tempat disebut Pendeta Wanita kebanyakan bisa melihat masa depan atau memiliki kekuatan khusus yang bahkan lebih kuat dari Native Overhoul.  Memang kebanyakan dari mereka tidak ada yang diikut sertakan dalam peperangan terutama untuk negeri seperti Felixa, namun tetap saja potensi prediksi masa depan membuat orang-orang Moloia yang cenderung mengandalkan strategi menjadi was-was.


 


 


“Apa kau menemukannya?” tanya Di’in.


 


 


“Belum. Suhu mereka semua terlihat sama. Apa karena suhu belum benar-benar naik makanya ....”


 


 


“Cari terus! Kita harus membunuhnya. Kekuatan prediksi di pihak musuh bisa berdampak sangat buruk pada kita yang mengandalkan strategi. Meski secara teknis militer kita lebih maju, itu percuma kalau semua rencana kita terborkan oleh penglihatan masa depan.”


 


 


“Siap, Mam!”


 


 


Marnali Ra’an terus memeriksa satu persatu rumah pemukiman Klista tersebut. Menemukan satu tanda kehidupan dengan suhu lebih rendah dan berwarna merah lebih pudar dari yang lain, dengan segera ia melapor, “Letnan, bangunan itu! Yang paling besar di tengah pemukiman ....”


 


 


“Hah? Mereka ... benar-benar tidak memindahkannya?” Di’in sedikit menatap curiga, ia menarik tuas senjatanya dan memasukkan peluru ke dalam selongsong. Sedikit menghela napas dan benar-benar masuk dalam konsentrasi penuh, ia menjernihkan pikiran.”


 


 


Menurunkan senjata dan mengurungkan niat untuk melakukan serangan pembuka dengan senapan laras panjangnya, Letnan tersebut berkata, “Ini aneh, seharusnya Tetua pemukiman Klista itu diberkahi kekuatan meramal. Apa kalkulasi Tuanku salah? Atau ... ada sesuatu yang membuatnya tidak melakukan pencegahan atau semacamnya. Seharusnya ada satu atau dua bentuk pencegahan seperti memindahkan lokasi dirinya menetap atau semacamnya ....”


 


 


“Apa kita hentikan dulu rencananya, Letnan?” tanya Ra’an.


 


 


“Tak usah, kita selalu dituntut berhasil. Karena kebodohan fraksi militer soal rencana pembunuhan anak Marquess, Fraksi kita juga mendapat imbasnya. Kali ini kita tidak boleh mengacau lagi ....”


 


 


“Siap!”


 


 


“Ganti rencana, Ra’an. Kita maju dengan Plan B .... Meski ini akan sangat kejam, tapi kurasa ini lebih aman bagi kita daripada menerobos langsung.”


 


 


Mereka berdua bergerak maju meninggalkan posisi awal untuk Plan A, serangan frontal. Mengikuti pimpinannya, keempat anggota yang langsung berada dalam pimpinan Di’in menyebarkan informasi ke kelompok-kelompok fraksi lain dalam Regu Khusus untuk mengganti pola serangan.


 


 


 


 


««»»


 


 


Bangunan utama pemukiman Klista. Di dalam ruang luas dengan dinding dan lantai kayu tersebut, suasana senyap begitu terasa. Sumbu menyala yang diletakkan pada piring cawan berisi cairan lilin menjadi penerang di beberapa sudut.


 


 


Para perempuan dengan pakaian adat suku duduk di depan gorden yang memisahkan ruangan tersebut menjadi dua bagian, mereka dengan hening hanya terdiam menunggu perkataan sang Tetua dan siap melayani kapan saja.


 


 


Tetua suku yang merupakan ras Demi-Einhorn tersebut duduk di atas bantal di balik gorden merah tersebut. Rambut keperakan mengkilat terurai liar di lantai kayu, pakaiannya tidak dikenakan dengan rapi dan bahunya sedikit terbuka.


 


 


Memasang tatapan datar, Roro Nia’an menundukkan kepala dengan ekspresi murung penuh rasa sedih. Dirinya yang merupakan seorang perantara tahu apa yang akan terjadi pada pemukiman Klista, dirinya telah melihat gambaran nasib akhir orang-orang yang dianggapnya keluarga.


 


 


“Sungguh menyedihkan sekali takdir seperti ini .... Namun diriku tidak bisa mengubahnya. Ini sebuah akhir yang ditentukan untuk diriku dan mereka yang mengikuti makhluk menyedihkan ini.”


 


 


Air matanya mengalir membasahi pipi, lalu menetes ke lantai. Tanpa diketahui oleh para pelayannya di sisi lain gorden, ia menangis tersedu dan suaranya mengisi ruangan. Itu membuat orang-orang yang ada di tempat tersebut heran, bertanya-tanya apa yang terjadi pada Tetua di balik gorden.


 


 


“Paling tidak .... Untuk perlawanan terakhir pada takdir, diriku ....”


 


 


Roro Nia’an menggigit pergelengannya sendiri, meneteskan darah ke lantai kayu dan mulai menggambar lingkaran sihir. Itu merupakan simbol empat arah, dengan tulisan kuno kekaisaran dan dikombinasikan dengan struktur sihir kerajaan Felixia.


.


.


.


.


 


 


Pagi hari berkabut sudah menjadi hal biasa di pemukiman Klista. Entah itu musim dingin atau tidak, hari-hari dengan kabut dan suhu rendah adalah hal wajar bagi mereka. Hanya di musim panas cahaya matahari bisa memapar pemukiman mereka dengan hangat tanpa kendala.


 


 


Seakan memang hawa dingin tidak menjadi hambatan, para perempuan suku Klista menenun kain di teras-teras rumah sembari mengasuh anak kecil mereka. Para pemuda mengukir kerajinan kayu di bawah rumah panggung, sedangkan beberapa pria dewasa mengolah daging buruan dengan menguliti dan membersihkan jeroannya.


 


 


“Ouh, apa bayinya sudah sehat? Kemarin katanya demam,” sapa tetangga kepada ibu dari salah satu rumah di pemukiman tersebut.


 


 


“Ya, berkat obat dari Tetua putraku sembuh. Beliau memang sangat hebat meracik ramuan.”


 


 


“Obat itu, ya? Hmm, hmm. Tetua memang hebat, tidak salah leluhur kita memberikan titah untuk melayaninya.”


 


 


“Iya. Semoga dirinya selalu diberkahi.”


 


 


“Semoga beliau diberkahi.”


 


 


Percakapan semacam itu sangatlah wajar terjadi di pemukiman suku Klista. Bagi mereka yang menganggap bahwa ‘Perantara’ adalah orang Suci dan merupakan utusan dari langit, melayani dan mencurahkan hidup untuk Tetua mereka adalah hal yang membanggakan.


 


 


Para Klista memang ada di dunia dan hidup untuk alasan itu. Mereka memang cenderung hidup nomaden. Namun setelah menemukan sosok Setengah Peri, mereka cenderung akan hidup mengikuti sosok yang mereka agungkan tersebut tinggal dan cenderung jauh dari peradaban atau konflik duniawi.


 


 


Salah seorang pria yang selesai mengolah daging buruan berjalan membawa pisau dan hendak menyucinya di satu-satunya sumur di tempat tersebut. Berjalan membawa beberapa pisau penuh darah dengan kain, ia sempat disapa oleh berapa orang.


 


 


“Habis mengolah daging?”


 


 


“Iya, Bibi.”


 


 


“Nanti mampir ke rumah kita, ya! Kami baru buat bumbu rempah.”


 


 


“Hahah, jangan minta tambah jatah ya, paman.”


 


 


“Ketahuan, deh.”


 


 


“Jangan memaksakan diri, jaga kesehatan, loh.”


 


 


“Oh, tentu saja, Nek.”


 


 


Saling sapa seperti itu adalah salah satu budaya wajar suku tersebut. Meski dikenal cenderung tertutup, namun pada sesama penduduk mereka saling akrab seakan memang semua dari mereka adalah keluarga dekat dengan ikatan darah yang erat.


 


 


Sampai di sumur dengan sumber mata air dari Kristal Sihir Atribut Air di dasarnya, pria tersebut menurunkan pisau-pisau yang dibungkus kain ke pinggiran sumur dengan rapi. Ia menurunkan timba, lalu mengambil air jernih dari sumur. Sumur tersebut ada di pinggiran pemukiman, di luar lingkup perumahan.


 


 


Dengan rasa ikhlas dan dalam kesederhanaan, pria tersebut membersihkan pisau-pisau. Tanpa mengeluh dan malah sembari bersenandung ceria. Namun, dirinya tidak sadar bahwa kedamaian dan rasa bahagia dalam benaknya tersebut akan segera berakhir.


 


 


Selesai membersihkan pisau-pisau beserta kain wadah dari noda darah, pria itu hendak menjemur kain setelah mengeringkan pisau supaya tidak berkarat. Namun saat dirinya berbalik, sebuah tombak menembus dadanya dan tepat mengenai paru-paru kanan.


 


 


“Eh?”


 


 


Rasa hangat terasa, diikut sakit luar biasa yang langsung membuat kesadarannya seakan melayang ke udara. Rasa bingung dan takut bercampur kacau. Menoleh ke belakang, dirinya melihat seorang pria berjenggot yang menusuknya dengan tombak.


 


 


“Apa ... yan—?”


 


 


Pria berjenggot yang menusuknya itu langsung melepaskan tombak yang menancap dan mengambil pisau yang tergelatak. Tanpa membiarkan pria itu berteriak, ia langsung menggorok lehernya dan menghabisi pria itu.


 


 


“Kyaa!!” teriak seorang perempuan yang melihat hal tersebut. Ia segera berlari ke arah pemukiman untuk meminta bantuan.


 


 


Dengan cekatan pria berjenggot tersebut menarik tombak dari mayat pria yang tergelatak, lalu melemparkannya ke arah perempuan Klista tersebut.


 


 


Jebt! Kratak!


 


 


Itu menancap dan benar-benar menusuk dadanya, suara tulang rusuk yang hancur terdengar cukup nyaring. Tubuh perempuan itu ambruk ke depan, darah merahnya melumuri tongkat tombak. Diikuti serangan yang dibuka pria berjenggot tersebut, para bandit keluar dari semak-semak dan langsung menyerang pemukiman Klista.


 


 


Pembantaian pun terjadi, seperti hanya  hal yang sering terjadi saat sekelompok bandit menyerang desa. Mereka sudah terbiasa untuk menjarah dan membantai orang-orang tak berdaya, namun berbeda kondisinya kali ini. Saat membantai, orang-orang Moloia membidik dengan senapan mereka dan siap menghabisi para bandit jika ada yang berani kabur.


 


 


Para pria yang mendengar jeritan salah satu gadis mereka segera berlari membawa kapak dan busur, memeriksa apa yang terjadi. Menemukan ada dua mayat kerabat mereka tergeletak, para pria Klista tersebut segera menarik busur dan memanah para bandit.


 


 


“Apa yang kau lakukan pada putriku!!?”


 


 


Panah melesat dengan sangat akurat, namun tidak berguna jika yang mereka incar membawa perisai ringan. Para bandit yang biasa menghadapi senjata seperti itu segera memasang formasi bertahan dengan tameng kayu mereka. Dalam hitungan kurang dari satu menit, pria-pria Klista tersebut kehabisan anak panah. Kelompok bandit yang telah menunggu itu langsung menyerang.


 


 


Pedang dilemparkan sekencang mungkin oleh salah satu bandit, mengenai seorang pria Klista dan memutuskan lengannya.


 


 


“Akhhh!!” Pria itu menjatuhkan busurnya.


 


 


Maju sampai ke hadapan pria yang tangannya putus tersebut, salah satu bandit menghajar wajah dan membuat tubuhnya terpental. Memungut senjata yang dilempar, ia segera mundur. Itu sebuah bentuk provokasi, membuat pria-pria Klista lainnya melepas formasi dan langsung maju dengan kacau.


 


 


Lalu ....


 


 


Itu benar-benar pembantaian satu arah. Meski ada beberapa pria yang ahli menggunakan senjata seperti kapak dan belati, namun tidak ada di antara mereka yang benar-benar pernah membunuh orang lain. Itu salah satu pantangan bagi mereka, suku Klista.


 


 


 


 


Namun, dua menit kemudian terjadi hal di luar rencana yang Regu Khusus perintahkan pada para bandit. Api mulai membara di rumah-rumah pemukiman Klista tersebut, membuat asap yang semakin pekat di tengah hawa dingin dan kabut. Para bandit tersebut membakar rumah-rumah kayu dengan minyak tanah yang mereka temukan di gudang penyimpanan suku Klista.


 


 


Di tengah kobaran api, Kolt Luis menyeringai seakan dirinya berhasil mengelabui orang-orang Moloia tersebut. Mengacungkan jari tengahnya ke arah semak-semak, ia berkata, “Bangsat kalian.


 


 


Salah satu tentara terhasut, menarik pelatuknya dan menembakkan timah panas. Jarak yang ada sangat tidak efektif dan tembakkan meleset, hanya mengenai bahu salah satu pemimpin bandit tersebut. Kolt Luis berbalik dan masuk ke dalam tabir asap yang mulai memenuhi pemukiman.


 


 


Melihat itu dari balik semak-semak bersama bawahannya, Di’in berkata, “Sudah ku duga dia pasti berkhianat kalau kita menggunakan Plan B ini. Kalau begitu, kita lanjutkan ke tahap selanjutnya. Gelindingkan bahan peledak!”


 


 


Pasukan Moloia membuka kain penutup barel-barel mesiu yang sebelumnya mereka sembunyikan cukup jauh dari markas sementara supaya para bandit tidak tahu. Tanpa ragu, pasukan Moloia yang telah tersebar mengelilingi pemukiman langsung menggelindingkan barel-barel mesiu tersebut menuju kobaran api.


 


 


Duark!! Duark!!


Duark!!


Duark!! Duark!!


 


 


Barel-barel tersebut meletak saat masuk ke dalam kobaran api. Mayat-mayat beterbangan terkenal ledakan, para bandit yang berada di tengah lalapan jago merah juga ikut terkena dampak ledakan dan beberapa ada yang terpanggang hidup-hidup. Menyadari suara ledakkan nyaring tersebut itu apa, Kolt Luis menoleh panik. Dirinya tidak mengira kalau pasukan Moloia akan melakukan sejauh itu hanya demi sebuah desa kecil di pedalaman.


 


 


“Mereka ... benar-benar ingin membinasakan seisi desa ini? Tch! Dasar ***, kalau kena tulah baru tahu rasa!” ucap Kolt Luis.


 


 


Dor!!


 


 


Suara tembakan terdengar di tengah jeritan dan rintihan kesakitan. Sebelum pemimpin bandit tersebut menyadarinya, salah satu rekannya tumbang dengan kepala hancur.


 


 


“Eh?”


 


 


Dor!!


 


 


Suara tembakkan terdengar kembali dan rekan lainnya tumbang. Memastikan suara tersebut, ia paham kalau senjata api yang bisa menembak dalam jarak sejauh itu hanya satu di kalangan Regu Khusus kerajaan Moloia.


 


 


“Dia ... bisa menembak sangat akurat di tengah asap tebal ini?”


 


 


Di’in dari balik pepohonan menarik tuas, mengeluarkan selongsong kosong dan memasukan peluru baru. Mengangkat senjata dan membidik, ia berkata, “Selanjutnya.”


 


 


“Koreksi, lima klik ke kanan.”


 


 


“Lima klik ke kanan.”


 


 


“Tembak.”


 


 


Dor!!


 


 


Timah panas tepat mengenai kepala salah satu bandit dan melubangi kepalanya. Arahan dari Marnali Ra’an benar-benar sangat akurat meski asap tebal mengalangi pandangan. Memang penglihatan inframerah tidak cocok untuk melihat di tempat penuh kobaran api, namun itu akan berbeda jika dikombinasikan dengan alat sihir yang digunakannya.


 


 


Ia menurunkan kemampuan penglihatan inframerahnya, lalu meningkatkan analisa perubahan arah udara yang mudah terlihat di tengah asap yang memenuhi tempat dengan kobaran api tersebut.


 


 


“Letnan, dua bandit kabur di arah jam dua. Di luar jangkauan.”


 


 


“Hmm, kalian dengar? Maju dan bunuh mereka!”


 


 


“Siap, Mam!” jawaban para bawahannya yang termasuk dalam Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian. Dengan senjata senapan mesin ringan Beretta 38a, ketiga bawahan Di’in yang mengenakan jubah kamuflase langsung berlari menerjang kobaran api untuk mengejar bandit yang kabur.


 


 


Kembali menarik tuas dan memasukkan peluru selongsong baru, Letnan Dua terebut membidik dan berkata, “Cari bajingan itu.”


 


 


“Siap .... Dia, dua klik ke kanan atas. Di sekitar bangunan ke empat dari arah jam 3 yang terbakar itu.”


 


 


“Koreksi, dua klik ke kanan atas.”


 


 


“Tembak.”


 


 


Dor!!


 


 


Peluru melesat dengan sangat cepat, melewati asap, lalu tepat mengenai Kolt Luis dan membuat kaki kanannya hancur. Pria itu tersungkur dan wajahnya jatuh ke bara api, namun itu tidak membunuhnya. Itu sengaja dilakukan Di’in karena dirinya merasa tidak akan puas kalau langsung membunuh pemimpin bandit tersebut dengan mudah.


 


 


“Baiklah, kita mulai tahap selanjutnya.”


 


 


“Siap!”


 


 


Setelah itu, hanya tinggal menunggu waktu untuk para bandit dibinasakan. Suara tempakan terdengar beruntun dengan nyaring, kobaran api yang dinyalakan dengan minyak tak kunjung padam dan semakin besar di tengah kekacauan yang ada.


 


 


Jeritan, isak tangis, rintihan samar-samar terdengar. Permintaan tolong mereka seakan tidak ada yang mendengarkan, mengilang di dalam kobaran api yang menyala merah di tengah hutan cemara.


 


 


Melangkahkan kaki di jalan yang kedua sisinya rumah-rumah kayu terbakar, Di’in bersama Ra’an menuju ke satu-satunya tempat yang tidak dijangkau kobaran api. Perempuan rambut cokelat ikat kucir tersebut tidak memedulikan mayat-mayat yang ada. Entah itu perempuan atau anak-anak, itu sama sekali tidak menyentuh hati perempuan dengan tatapan hampa tersebut.


 


 


Sampai di hadapan bangunan tempat tetua suku Klista berada, sebuah dinding tak terlihat menghalanginya masuk. Itu adalah Penghalang yang dibuat khusus yang dibuat oleh para pengguna kekuatan mistis di suku Klista.


 


 


Menarik napas dengan resah, ia memerintah, “Ra’an, hancurkan.”


 


 


“Siap!”


 


 


Pembantu Letnan Satu di belakangnya segera membidik dengan Beretta 38a, lalu langsung memberondong Penghalang transparan tersebut. Suara senapan mesin terdengar brutal, selongsong-selongsong berjatuhan dan dinding tak kasatmata tersebut rusak dan pada akhirnya pecah seperti kaca.


 


 


“Ayo selesaikan ini .... Kita bunuh Tetua suku Klista itu dan lanjut ke tahap selanjutnya.”


 


 


Pintu depan bangunan utama didobrak sampai lepas. Pintu melayang dan jatuh ke tengah aula tempat Tetua Suku berada. Melangkah masuk, Di’in langsung menodongkan senjatanya ke dalam.


 


 


“Hah ....?” Tubuh Letnan tersebut sesaat gentar, melihat anak-anak dan perempuan yang berlindung di tempat tersebut.


 


 


Kenangan masa lalu terlindas dalam kepalanya, sebuah ingatan saat dirinya berada di kamp pengungsian penuh isak tangis di penghujung masa Perang Besar. Dirinya tidaklah terlahir dari kalangan atas, bahkan keluarga Di’in semuanya meninggal karena peperangan.


 


 


Ia masuk militer karena keharusan untuk hidup dan berhutang nyawa kepada sosok yang dirinya panggil Tuan. Namun melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut, ia mulai ragu untuk menarik pelatuknya. Anak-anak yang merengek, para perempuan yang meringkuk gemetar dalam ketidakberdayaan. Semua hal semacam itu benar-benar membuat Letnan tersebut melangkah mundur.


 


 


“Letnan?” ucap Ra’an.


 


 


Itu membuat Di’in tersentak dan berhenti melangkah ke belakang. Menarik napas dan menenangkan diri untuk menghapus gambaran masa lalu menyedihkan, ia menegakkan senjata dan berkata, “Begitu, ya .... Perantara itu menggunakan kekuatannya untuk memandu mereka.”


 


 


Mereka berdua melihat memindai aura dengan dinding dan lantai kayu tersebut. Memang hampir dari setengah perempuan dan anak-anak yang berhasil selamat berkumpul di tempat tersebut. Memahami hal itu, mereka berdua sedikit ragu untuk membunuh mereka yang tidak berdaya.


 


 


“Letnan, ini ....”


 


 


“Kita bunuh Tetuanya saja. Biarkan mereka.”


 


 


“Siap!”


 


 


Di’in melangkah masuk, tanpa memedulikan tatapan kebencian orang-orang Klista tersebut. Ada dua Pelayan Tetua yang menghadang, merentangkan kedua tangan di hadapan Di’in dan Ra’an dengan ekspresi penuh kebencian.


 


 


“Kalian tidak boleh maju lebih dari ini! Pergi sana!”


 


 


“Jangan mendekat! Saya tidak akan membiarkan kalian menyentuh Tetua!”


 


 


Itu sesaat menghentikan langkah kedua orang Moloia tersebut. Tanpa diperintahkan oleh atasannya, Ra’an segera mengangkat senjatanya dan menarik pelatuk dengan enteng. Dua kali suara tembakkan menggema di dalam ruang tertutup, timah panas menembus dada mereka dengan sangat akurat dan mengenai jantung. Darah berceceran dan tubuh mereka ambruk ke lantai kayu.


 


 


Suara penuh ketakutan terdengar, tangisan anak-anak mulai menjadi-jadi. Para Klista hanya bisa gemetar dalam ketakutan dan benar-benar tidak berani berdiri untuk berdiri atau bahkan melawan.


 


 


Melangkahi mayat dan langsung menuju gorden pembatas di ruangan tersebut, ia menariknya sampai lepas dan menemukan sosok yang menjadi target misi mereka. Perempuan dengan tanduk di kening itu duduk di depan lingkaran sihir yang terbuat dari darah pada lantai.


 


 


Menodongkan senapan Springfield pada Tetua Klista tersebut, Di’in bertanya, “Kau Perantara di suku ini ‘kan, Half-Einhorn?”


 


 


Perempuan dengan rambut perak itu mengangkat wajahnya, menatap dengan ekspresi kosong dan berkata, “Sungguh menyedihkan, engkau juga menderita karena takdir.”


 


 


“Tch! Jadi benar memang kau orangnya. Jawab! Meski kau memiliki kekuatan seperti itu mengapa tidak berusaha melawan?! Apa kau menganggap penduduk pemukiman ini tidak lebih dari komponen dan bidak?!”


 


 


Roro Nia’an tersenyum tipis seakan dirinya menghina, lalu menjawab, “Hahah, itu orang-orang di negerimu. Diriku menganggap seluruh anak-anak di tempat ini adalah keluargaku sendiri.”


 


 


“Lalu kenapa kau tidak berusaha melawan?” Di’in menodong sampai moncong senjatanya menyentuh tanduk perempuan rambut keperakan tersebut.


 


 


“Takdir bukanlah sesuatu yang bisa dilawan. Anak muda, apa engkau pikir bisa mengangkat gunung sendirian? Apa kau bisa menguras air danau? Tentu tidak, bukan? Meski gunung bisa diangkat dan danau bisa dikuras, itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh makhluk lemah seperti kita.”


 


 


“Oh, begitu.” Di’in menatap tak peduli, dirinya tahu cara pandang semacam itu karena pernah mendengar seseorang yang mengatakan hal serupa. Namun, Di’in merasa dirinya berbeda. Ia merasa bisa melawan takdir dan bisa hidup sampai sekarang.


 


 


“Apa kau punya kata-kata terakhir?”


 


 


“Tidak ada. Namun ..., diriku mohon engkau tidak membunuh anak-anak dan perempuan di tempat ini.”


 


 


“Tch! Sialan .... Salahkan takdirmu karena terlahir sebagai Perantar—”


 


 


Tak ....!


 


 


Seorang anak kecil melemparkan kerajinan kayu ke arah Di’in, itu mengenai kepala dan membuatnya terdiam sesaat. Ra’an segera menodongkan senapannya, lalu hendak menembak anak kecil tersebut. Namun ....


 


 


“Hentikan! Lebih dari ini tidak diperlukan. Kita para bandit hanya perlu melakukan secukupnya dan membawa harta jarahan.”


 


 


Ucapan itu adalah kebohongan, Ra’an paham hal tersebut hanyalah konspirasi untuk menjadikan para bandit kambing hitam dan memperkeruh keadaan politik Felixia. Kembali menatap Tetua Suku Klista, Letnan Dua tersebut menodongkan senjatanya.


 


 


“Selamat tinggi, Perantar—”


 


 


Duark!!


 


 


Suara ledakan tiba-tiba terdengari. Itu sangat janggal karena seharusnya Di’in tidak memerintahkan bawahannya untuk menggelindingkan barel mesiu ke dalam kobaran api lagi. Menoleh dengan panik dan melihat keluar pintu yang terbuka, sosok hitam dengan mata yang menyala biru di dalam kobaran api berdiri menatap ke arahnya.


 


 


Itu bagaikan menandakan kematian, siluet dalam kobaran merah tersebut berjalan mendekat dengan tubuh gentayangan. Di’in dan Ra’an gemetar seakan memang insting mereka memperingatkan ancaman, sosok tersebut bagaikan pertanda buruk hidup yang berjalan mendekat.


 


 


Terlihat beberapa anak buahnya menyerang siluet dalam kobaran api tersebut. Namun seakan api menjadi tangan dan kakinya, kobaran yang membakar pemukiman bergerak-gerak dan menyerang orang-orang Moloia. Senapan dan pistol tidak berguna, timah panas yang melesat langsung meleleh sebelum mengenai tubuh siluet tersebut.


 


 


Tersenyum dalam kobaran api, sosok tersebut dengan lantang berkata, “Berapa banyak yang akan kalian bayar untuk ini? Apa kalian siap dengan konsekuensinya karena melanggar perjanjian itu? Hah?!”


 


\==========================


See You!