Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 65 : Aswad 12 of 15 “Glaub mir” (Part 05)



 


 


 


Kota Mylta. Matahari mulai meninggi dan sinarnya mengusir awan mendung yang tadinya memenuhi langit. Pada hari yang dipenuhi kehangatan tersebut, tahap awal sakramen pembaptisan berlangsung. Jalanan dipenuhi orang, keramaian memenuhi setiap sudut kota pesisir, baik oleh orang yang ingin melihat atau mengikuti upacara keagamaan tersebut atau hanya sekadar ingin menikmati keramaian yang ada.


 


 


Bendera warna-warni digantung pada sepanjang jalan, lalu suara lantunan alat musik tradisional terdengar di penjuru kota. Pusat dari keramaian tersebut adalah bukit kota, tempat berdirinya Gereja Utama. Di depan bangunan peribadatan tersebut anak-anak yang akan dibaptis berkumpul, berbaris dan didoakan satu persatu sebelum berangkat ke dermaga khusus pada kompleks bangsawan.


 


 


Lebih banyak dari tahun sebelumnya, anak yang mengikuti pembaptisan mencapai sekitar 30 dan 21 lainnya ikut untuk Upacara Kedewasaan. Mereka semua mengenakan Alba putih sebagai simbol kesucian, lalu pada kepala memakai hiasan rambut dari kain berbentuk bunga.


 


 


Di antara anak-anak tersebut, Nanra ikut barus bersama Kirsi yang terus terlihat gelisah. Ekornya bergerak ke sana kemari tak bisa diam, menundukkan wajah dan merasa takut dengan sekeliling. Karena sangat jarang melihat seorang Demi-human mengikuti sakramen, hampir semua orang di tempat tersebut menatap rendah ke arahnya seakan-akan keberadaan anak itu mengganggu.


 


 


Nanra menggandeng tangan anak kecil yang mengenakan Alba sedikit kedodoran tersebut. Sembari menatapnya ia pun tersenyum ringan dan dengan penuh percaya diri berkata, “Hiraukan saja mereka. Orang-orang itu tidak memberikan apa-apa kepadamu, lantas apa yang membuatmu menyenangkan mereka dengan menunduk seperti itu?”


 


 


“Ta-Tapi …. Aku bukan manusia. Aku ⸻”


 


 


“Tak masalah,” ucap Nanra sembari semakin erat menggenggam tangan Kirsi. Mengangkat wajah dan menatap ke arah bangunan Gereja Utama, gadis itu dengan penuh bangga mengungkapkan, “Odo tidak mempermasalahkan hal itu …. Buktinya dia menerimamu di toko dengan mudah, ‘kan? Jangan pedulikan orang yang berbuat buruk padamu, pikirkan saja cara untuk membalas kebaikan orang yang menolongmu.”


 


 


Mendengar apa yang dikatakannya, sekilas Kirsi terdiam dan perlahan mengangkat wajahnya. Suara ramai yang memenuhi tempat, orang-orang yang sesekali menatapnya dengan sorot mata tak suka, serta para puritan dan anak-anak yang terlihat penasaran dengan kehadiran Demi-human sepertinya. Melihat semua itu, sejenak Kirsi meletakkan telapak tangan kirinya ke dada dan berusaha untuk tidak terlalu memedulikan mereka.


 


 


Dalam ekspresi bingung Demi-human tersebut bergumam, “Membalas kebaikan orang yang menolongku …?”


 


 


“Itu benar, membalas kebaikan. Kau tak perlu memikirkan mereka yang tak menyukaimu.” Menarik napas dalam-dalam, Nanra menatap langsung ke mata anak kecil tersebut dan kembali berkata, “Odo pernah berkata seperti ini …. Di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar jahat, mereka berbuat kejahatan hanya karena situasi yang membuat mereka melakukannya .... Karena itu, kau tak perlu memikirkan mereka dan hiduplah untuk orang-orang yang kau pedulikan saja.”


 


 


“Tapi …, aku tak punya orang seperti itu. Ibuku … sudah …”


 


 


“Kalau begitu, tinggal cari saja mulai sekarang. Kata Mbak Siska, salah satu hak yang dimiliki makhluk hidup adalah menggunakan waktu yang terbatas. Kau bisa memikirkannya mulai sekarang.”


 


 


Kirsi hanya menatap Nanra dengan ekspresi bingung. Dalam benak ia merasa apa yang dikatakan anak yang usianya terpaut beberapa tahun darinya itu memang tepat. Namun pada saat yang sama, rasa ragu memang masih tertinggal jelas dalam benak.


 


 


Selama hidup Kirsi tidak pernah tahu cara hidup yang benar. Sejak ia pertama kali bisa mengingat, apa yang dirinya lihat adalah pekerjaan orang tuanya sebagai *******. Untuk mereka yang tidak bekerja tidak akan mendapat makan, lalu hanya kematian yang menunggu. Pelajaran tersebut benar-benar membekas di dalam benaknya, karena itulah setelah ditolong Odo ia langsung segera meminta Siska diantar ke tempat orang yang telah menolongnya tersebut untuk bekerja.


 


 


Kirsi tak terbiasa menerima kebaikan orang lain, namun dirinya terlalu terbiasa diperlakukan kasar dan hanya diperas tenaganya. Cara hidup diperalat yang sudah lama dirinya jalani membuat anak perempuan itu tak paham harus bersikap seperti apa saat menerima kebaikan. Mulutnya sekilas hanya menganga dan terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun itu tidak mengeluarkan kalimat dan ia pun kembali menundukkan wajah.


 


 


Di tengah suasana canggung di antara mereka berdua, giliran Nanra untuk didoakan datang. Seorang perempuan rambut pirang dengan pakaian Vestimentum menghampiri dan berdiri di belakang Nanra. Sembari meletakkan telapak tangan ke belakang kepala gadis tersebut, ia dengan lembut berkata, “Kakak harap engkau juga bersikap dewasa saat berada di panti asuhan.”


 


 


Mendengar suara tersebut, Nanra tersentak dan seketika tahu kalau pendeta yang berdiri di belakangnya adalah Siska Inkara. Tanpa membalas perkataan tersebut, gadis itu segera menjalin jemari-jemarinya dan bersiap berdoa. Ia memejamkan mata, dengan cepat terlihat teduh untuk didoakan.


 


 


Siska sekilas menarik napas lega anak itu mau datang dan tidak membuat masalah seperti saat pembatisan pertamanya. Meski dirinya sempat terkejut Nanra datang bersama dengan anak Demi-human di sebelahnya, namun itu tidak membuat Siska keberatan dan malah senang bisa melihat anak asuhnya semakin dewasa berkat kedatangan anggota keluarga baru.


 


 


Membuka kitab di tangan kanannya, Siska mulai mengajukan pertanyaan, “Nanra Tara, apakah engkau bersumpah atas nama Dewi Agung … Asmali Oraș Mondial bahkan akan percaya dan patuh kepada perintahnya?”


 


 


“Hamba percaya dan bersumpah akan patuh ….”


 


 


“Apakah engkau berjanji akan menunaikan kewajiban sebagai seorang hambanya?”


 


 


“Hamba berjanji.”


 


 


 


 


“Sebagai seorang hamba yang lemah diriku akan berusaha menyanggupinya.”


 


 


Sejenak Siska terdiam, ia mengangkat tangan kirinya dari belakang kepala Nanra dan membalik halaman kitab. Sejenak memejamkan mata dan menarik napas, Pendeta tersebut memulai salah satu tahapan dalam sakramen. Dengan penuh hikmat ia membacakan salah satu isi perjanjian sang Dewi dengan leluhur penduduk Felixia.


 


 


“Masa lalu, masa depan, dan sekarang ⸻ Tiga bagian dari waktu. Dahulu kala dunia ini adalah satu, sebuah surgaloka penuh kenikmatan. Namun … dunia yang memenuhi harapan orang-orang itu hanyalah memenuhi nafsu dan hasrat mereka, lambat laun membuat semua orang lupa mengucapkan terima kasih. Dunia murka, langit dibalik dan daratan ditarik ke atas. Pengubah Karma …. Sekarang adalah masa dimana semuanya ada dalam keterbatasan, penuh rasa sukar dan tak semua orang bisa tersenyum. Namun orang-orang paham arti di balik penderitaan tersebut, mereka mengerti bahwa apa yang diterima merupakan sebuah pemberian. Sebuah syukur lahir, untuk memuja dan saling menghormati. Di masa depan, kelak hari penghakiman akan datang …. Kami yang hidup di masa kini hanya bisa menunggu, mempersiapkan diri sebelum penuntun datang membawa dunia ke era baru. Engkau, salah satu anak yang lahir di dunia, tumbuhlah kuat dan carilah jalanmu dalam kehidupan ini. Pengetahuan sebagai obor, kecerdikan sebagai tombak, lalu hati sebagai timbangan untuk menentukan apa yang engkau pilih. Dewi memberkati, Dewa mengawasi. Semoga engkau tumbuh menjadi anak yang mulia.”


 


 


Setelah mendoakan Nanra, Siska menutup kitabnya dan lanjut mendoakan Kirsi. Pemberian doa pembuka kepada anak-anak yang akan dibaptis bukan hanya perempuan tersebut, namun para orang puritan yang menjadi pendata pun ikut mendoakan mereka semua secara bergiliran.


 


 


Pada saat semua anak selesai didoakan oleh para Pendeta, sebuah orkes yang telah disiapkan di tempat tersebut mulai memainkan musik tradisonal. Biola alto, harpa dan harmonika mengawali lantunan alat musik dengan lembut. Lalu saat semua orang menaburkan bunga kepada anak-anak yang mulai berjalan menuju dermaga khusus untuk dibaptis, lantunan violin terdengar bersama dengan Bagpipe dan para pembawa lonceng tangan.


 


 


Anak-anak tersebut diiring-iringi oleh lantunan alat musik, wali, dan para pendeta sampai ke tempat pembaptisan. Namun saat berada di dermaga, para wali yang mengantar tidak diperbolehkan ikut turun dan hanya bisa melihat di sepanjang jalan.


 


 


Anak-anak tersebut turun melalui anak tangga batu ke dalam pinggiran teluk, lalu membasahi tubuh beserta pakaian mereka di dalam air laut. Ditaburi bunga, diberikan wangian dan satu persatu didoakan oleh para pendeta. Kegiatan pembatisan tersebut berlangsung cukup lama, baru selesai saat matahari hampir mencapai puncak tertingginya.


 


 


Tak ada perbedaan signifikan pembaptisan awal dan Upacara Kedewasaan. Mereka melakukan urutan kegiatan yang sama, dari awal sampai turun ke teluk. Namun pada teluk tempat mereka dibaptis, para anak yang mengikuti Upacara Kedewasaan akan diajukan pertanyaan-pertanyaan sensitif. Anak perempuan ditanyai oleh pendeta perempuan, lalu anak laki-laki ditanyai oleh pendeta laki-laki.


 


 


Isi pertanyaan yang diajukan antara lain seperti :


 


 


Sudahkah engkau mimpi basah dan memiliki dambaan hati?


 


 


Sudahkah engkau menemukan jalan hidupmu?


 


 


Sudahkah engkau menemukan hasratmu di dunia?


 


 


Sudahkah engkau berpikir untuk berbakti kepada orang tuamu dan menguasai hasratmu ?


 


 


Sudahkah engkau siap beriman sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa?


 


 


Siapkah engkau menjadi bagian dari masyarakat dan berbuat baik di dalamnya?


 


 


Sanggupkah engkau memenuhi kewajibanmu sebagai anggota masyarakat secara utuh?”


 


 


Tak ada jawaban pasti dari semua pertanyaan tersebut, anak-anak diberikan kebebasan untuk menjawab dan jika menjawab “Tidak” pun mereka akan tetap melanjutkan Upacara Kedewasaan sampai selesai. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya digunakan untuk tolak ukur para Pendeta kepada perkembangan mental mereka, karena itulah Pendeta yang mengajukan pertanyaan dalam Upacara Kedewasaan kebanyakan sama dengan saat pembaptisan awal.


 


 


Setelah semuanya selesai, anak-anak bisa langsung diperbolehkan pulang atau mampir dulu ke Gereja Utama untuk mendapat makan siang yang disediakan oleh pihak panitia pembaptisan sebagai tahap akhir acara. Anak-anak dari kalangan atas kebanyakan langsung dibawa oleh orang tuannya kembali ke kediaman untuk mengadakan pesta selamat mereka sendiri, sedangkan anak-anak dari kalangan menengah bawah kebanyakan memilih untuk kembali ke Gereja Utama dan mengikuti makan bersama.


 


 


Panitia yang tak ikut ke tempat pembatisan telah menyiapkan meja-meja di depan Gereja Utama, tentu saja beserta seluruh makanan dan minuman yang siap disantap bersama. Dalam kepercayaan yang dianut masyarakat Felixia sebenarnya selama sakramen tidak ada perbedaan kasta, namun di antara makanan yang disajikan tampak perbedaan tersebut karena tuntun orang-orang pemerintah yang terlalu memanjakan anak mereka.


 


 


Di antara orang-orang dari kalangan pemerintahan yang mengikuti pembatisan kali ini, keluarga Wiskel Porka terlihat begitu bahagia setelah putri kedua mereka baru selesai melakukan Upacara Kedewasaan. Meski sama-sama harus makan berdiri karena tidak disediakan tempat duduk, namun di meja mereka terlihat lebih banyak makanan mewah yang mereka minta kepada panitia.


 


 


Tidak hanya keluarga Porka saja yang menunjukkan status mereka dan menonjolkan perbedaan, beberapa orang pemerintahan yang terlalu mencintai anak mereka juga melakukan hal serupa. Demi untuk menjaga relasi dengan Pihak Religi, meski mereka dari kalangan atas orang-orang tersebut diharuskan ikut makan bersama para kalangan menengah bawah. Karena hal itulah perbedaan yang tidak boleh ada malah terlihat jelas.


 


 


Tak ada yang terlalu memedulikan hal tersebut seakan memang hal yang tak diperbolehkan itu wajar.