
“Apa engkau diusir dari kayangan?”
Pertanyaan itu terucap dari Odo dengan mudahnya. Tetapi, hal tersebut sangat tidak terduga oleh wanita berambut pirang itu. Memasang wajah terkejut sekilas, Ia tersenyum senang saat mendengar ada orang yang dengan mudah membongkar identitasnya.
“Sungguh ..., dikau memang sangat berdosa. Tidak diriku sangka ada manusia yang bisa membongkar identitas diriku ini hanya dengan beberapa tukar kata saja, bahkan kekasihku tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya sampai berpulang ....”
Odo terkejut wanita itu tidak membantah dugaannya. Kembali mengamatinya, Odo sama sekali tidak menemukan perbedaan wanita itu secara fisik dengan manusia perempuan pada umumnya, dia tidak terlihat seperti Dewa atau Dewi yang dalam persepsinya. Sedikit menyipitkan mata, anak itu sedikit mendongak dan mengangkat dagu.
“Makhluk kayangan ya .... Kalau begitu, apa kau juga salah satu Dewi yang tahu kalau dunia ini adalah pengulangan dari dunia yang telah hancur di masa depan?”
“Kurang lebih .... Sebelum diriku diusir dari tempat bagaikan Utopia itu, kabar semacam itu sempat tersebar di seluruh langit setelah Dewa-Dewi berkuasa di dunia ini. Tetapi ... aku tidak peduli akan hal tersebut, mungkin para dewa-dewi lain juga demikian. Meski sudah tahu dunia akan hancur, fakta kalau ketetapan tidak bisa berubah membuat mereka semua pasrah mencari perubahan yang tercatat di Catatan Kuno itu.”
“Mereka semua ya .... Kalau kau, dari mana bisa Witch sepertimu tahu kalau ada faktor bias sudah dimasukkan?” Odo menurunkan kepala dan menatap lurus ke arah wanita di hadapannya, sorot mata anak itu menipis dan bertambah tajam.
“Tajam, entah itu pikiran, mulut, atau mata itu, wahai anak muda. Dikau sama sekali tidak menahan kalau bicara ya. Tapi ..., diriku tidak membencinya. Dikau benar, diriku mengetahui sesuatu yang bahkan tidak diketahui mereka yang ada di atas, karena itulah diriku membawamu kemari, anak muda.”
“Untuk apa?”
“Untuk mengubah takdir dan bertahan hidup.”
Jawaban itu terdengar sangat aneh dari seorang makhluk yang telah hidup ribuan tahun dan sudah kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya. Odo memang bisa memahami perkataan wanita itu tentang bertahan hidup adalah untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran yang telah ditentukan, tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa dicerna melihat dalih dan latar belakang sosok Witch tersebut.
Membiarkan Odo terlihat kebingungan, wanita berambut pirang itu bangun dari tempat duduk dan berjalan ke salah satu meja di sudut ruang. Mengambil sebuah buku yang terlihat sangat tebal di atasnya, Ia berbalik dan kembali ke tempat duduk. Memangku buku tersebut, wanita itu memberikan tatapan datar dengan wajah sedikit tersenyum tipis.
“Buku apa itu?” tanya Odo langsung.
“Ini hanya buku tentang tanaman herbal, engkau tidak perlu terlalu tertarik seperti itu. Hmm, kalau begitu ..., mari kita bicara sedikit lebih lama lagi.”
Wanita itu membuka halaman buku di pangkuannya dengan cepat sampai halaman terakhir dan kembali menutupnya. Melihat ke arah Odo, wanita itu bertanya, “Menurut dirimu, cara paling efektif dan efisien apa yang bisa dipakai untuk bisa mempelajari dan memahami keseluruhan buku setebal 576 halaman ini? Tentu saja ..., supaya waktu yang diperlukan seminimal mungkin tetapi hasil pemahaman semaksimal mungkin.”
Odo memikirkan jawaban pertanyaan itu dengan matang-matang. Dengan menggunakan dasar caranya belajar, anak itu menjawab, “Aku akan membacanya setiap hari minimal seratus halaman, lalu setiap harinya membuat resume tiap bab yang ada secara bertahap .... Kalau pakai cara itu ..., kurasa kurang dari empat hari aku sudah bisa memahami isi inti bukunya. Kalau lebih lama, aku bisa keseluruhan menguasainya.”
Wanita berambut pirang yang duduk di hadapannya terdiam mendengar jawaban tersebut. Sekilas memalingkan pandangan, Ia terlihat kecewa akan sesuatu dan menghela napas. Odo sedikit tersinggung dengan reaksi seperti itu.
“Memang kau punya cara yang lebih tepat?” Anak itu menatapnya dengan tajam.
“Lebih tepat ya? Kurasa tidak juga. Tapi ..., diriku punya cara yang lebih efektif dan efisien, dan bahkan lebih mencerminkan karakteristik manusia ..., lebih dari dirimu.”
Itu terdengar seperti sindiran, tetapi Odo sama sekali tidak memedulikan hal tersebut. Menunggu perkataan lain wanita itu, Odo hanya terdiam dengan ekspresi wajah sangat tenang dan sorot matanya penuh rasa ingin tahu.
“Huh ..., baiklah. Mata dikau itu terlihat aneh, apa benar sifat yang dikau miliki itu adalah sifat manusia?” Wanita itu mengangkat buku di atas pangkuan, lalu memindahkannya ke atas meja.
Memberikan tatapan santai, wanita itu berkata, “Pemilihan dan penggunaan metode yang tepat dapat mempercepat pekerjaan. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, engkau tahu itu bukan? Dari pakaian, makanan, tempat bernaung, bahkan sampai alas kaki, semuanya tidak lepas dari peranan orang lain, sebab itulah manusia disebut makhluk sosial .... Jadi, kenapa dikau berpikir bisa mempelajari buku ini sendirian?” Wanita itu meletakkan telapak tangan kanannya ke atas buku, lalu memasang tatapan seakan menyindir.
“Hah, maksudmu aku harus bekerja sama dalam melakukan sesuatu?”
Wanita itu memindah tangannya kembali ke atas pangkuan, lalu menghela napas dan terlihat seakan tidak senang akan sesuatu yang sedang dipikirkan Odo yang bisa terlihat jelas dari raut wajahnya.
“Ya ..., kerja sama. Contohnya ..., kalau dikau punya dua rekan, masing-masing bisa membaca 192 halaman dalam waktu yang lebih singkat, dan mengadakan belajar bersama untuk membagi pemahaman yang telah dipelajari masing-masing. Kalau menggunakan cara itu, bukannya lebih efektif dan efisien?”
Odo terdiam mendengar itu, raut wajah penasarannya berganti cepat dengan ekspresi tidak puas. “Itu hanya cara pandang ideal, kenyataannya tidak akan semudah itu kalau bekerja sama dengan orang lain,” pikir Odo. Menarik napas ringan, anak itu mengesampingkan apa yang dirasakan dan langsung dengan cepat memahami apa yang hendak ingin disampaikan wanita di hadapannya.
“Apa kau ingin bekerja sama denganku?”
“Ya, benar. Lebih tepatnya ..., menyambung kerja sama yang diriku buat dengan Doll di Dunia Astral itu.”
“Doll? Kenapa Reyah kau panggil seperti itu?” Odo sedikit menatap bingung.
“Dia merupakan bentuk fisik dari sistem penyimpanan informasi dunia, meski punya kepribadian dan kehendak sendiri, Dryad itu memang seorang Doll dari pohon yang tumbuh ke berbagai dimensi ....”
Merasa akan memakan waktu kalau mendebat cara Witch menyebut Reyah, Odo sedikit memalingkan pandangan dengan rasa kesal dalam benak yang terlihat jelas pada raut wajah.
“Terserah .... Jadi, memangnya untuk apa kau membawaku ke tempat ini dan ingin mengajak bekerja sama? Terlebih ..., untuk apa? Memangnya kerja sama apa yang kau buat dengan Reyah?” tanya Odo dengan beruntun.
Tatapan wanita itu berubah tajam dengan cepat, senyum lebar yang menghapus ekspresi datarnya nampak jelas. Sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan dan mendekatkan wajah, wanita itu bertanya, “Mau mendengar cerita sebentar? Tentang seorang Dewi yang digulingkan dan jatuh ke dunia dengan menyedihkan.”
“Cerita tentangmu?”
“Ya ....” Wanita itu menjauhkan wajah dan kembali duduk tegak. Meski hendak menceritakan kenangan buruk, wanita itu tersenyum dengan ekspresi bahagia, seakan memang dalam lubuk hati wanita itu mencari seseorang untuk mendengarkan ceritanya.
“Ya ..., kurasa tidak masalah.”
“Bagaimana ya kita memulainya ....? Oh, kurasa dari awal saja. Itu ... saat awal kekuasaan langit atas dunia ..., sebuah masa di mana surga masih tidak jauh berbeda dengan dunia ini ....”
Setelah itu, wanita itu menceritakan masa lalu saat dirinya masih tinggal di kayangan dan bagaimana dirinya terusir, jatuh ke dunia dengan menyedihkan dan begitu memalukan hanya karena sebuah masalah yang kalau ditinjau kembali sangatlah sepele.
Wanita itu bercerita bahwa dunia para Dewa pada masa itu hampir seperti dunia makhluk mortal sekarang, terbagi menjadi beberapa kekuasaan dan memiliki hierarki dalam tatanan peraturannya.
Kayangan pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan Dunia Nyata, memiliki pulau-pulau dan daratan. Tetapi pulau yang ada di dimensi tersebut bukanlah sebuah pulang yang dikelilingi laut, melainkan sebuah pulau yang mengapung di langit dan dikelilingi awan yang dapat dipijak dengan kaki para penghuninya.
Tatanan tempat tersebut memiliki tingkatan tersendiri, semakin tinggi tempat tinggal seorang Dewa atau Dewi, maka itu juga mencerminkan tingkat kekuasaannya. Hal tersebut mirip dengan sistem kebangsawanan yang berlaku di Dunia Nyata sekarang. Tidak aneh kalau makhluk-makhluk mortal dibilang meniru sistem para dewa pada masa itu.
Pada sudut Kayangan yang indah bagaikan sebuah Utopia, tinggal seorang Dewi nan anggun pada salah satu pulau yang berada di tingkat pertengahan dari susunan hierarki yang ada. Dewi itu merupakan putri ke 87 dari 100 anak yang lahir dari hubungan Dewi Angin Iratia dan salah satu Dewi Petir bernama Baraq.
Meski tidak seteladan atau sepandai Dewa atau Dewi lain, Dewi yang lahir dari pasangan yang sering disebut dengan Dewa Badai dalam kesatuan itu sangatlah energik jika dibandingkan dengan saudara dan saudarinya. Begitu polos, riang, menawan, dan juga dungu.
Dewi itu pada sore hari selalu berjalan-jalan di pinggiran pulau melayang tempatnya tinggal, melihat betapa menariknya dunia bawah yang masih primitif setelah peperangan Besar Dewa dan Iblis. Pada suatu saat ketika dirinya berjalan di pinggiran pulau melayang kekuasaannya, sebuah burung rajawali yang sangat menawan melintas di daerah langitnya.
Burung itu begitu indah dan menawan, lebih dari apapun yang pernah sang Dewi penuh energik itu lihat. Memiliki bulu berwarna jingga keemasan dengan corak merah. Dengan girang Dewi yang sedang berjalan-jalan itu melangkah di atas awan dan mengejar-ngejar burung tersebut. Tetapi, sayangnya sang burung rajawali tidak membiarkan dirinya tertangkap dan terbang semakin jauh.
Kesal tidak bisa mendapatkan burung indah tersebut, sang Dewi menciptakan sebuah busur petir dan panah petir menggunakan kekuatannya, lalu memanah jatuh sang burung rajawali. Itu sebuah kesalahan fatal yang tidak dikiranya.
Saat sang Dewi hendak mengambil burung yang terpanah tersebut, tiba-tiba langit terbuka dan awan menyingkir, sinar terang benderang terpancar dari tempat yang lebih tinggi menyorotnya. Mengikuti tubuh burung rajawali yang terangkat ke atas, sang Dewi penuh rasa ceria itu berhenti memasang wajah ceria saat melihat salah satu Dewa Tertinggi menatap dengan penuh amarah.
Di atas sana berdiri sang Dewa Matahari sekaligus penguasa cahaya, merupakan sosok yang memiliki kekuasaan tinggi sampai tingkat Surga. Dengan burung rajawali yang dipegang dengan kedua tangannya, Dewa Matahari itu membuat ribuan tombak api di udara yang siap dihujankan kepada sang Dewi untuk menghukum tindakannya.
Alasannya murkanya Dewa Matahari itu sangat sederhana, burung rajawali yang dipanah sang Dewi tersebut adalah peliharaan kesayangannya. Hanya dengan alasan itu sudah cukup untuk Sang Dewa Matahari membunuh Dewi itu.
Gemetar ketakutan melihat ribuan tombak api membara, sang Dewi berlari kocar-kacir ke pulau kekuasaannya. Seperti halnya sang Dewi menunjuk burung rajawali dan memanahnya, Sang Dewa Matahari menunjuk ke arah Dewi itu dan melesatkan tombak-tombak api.
Ribuan tombak api itu menghancurkan segalanya, meski bersembunyi di alam kuil atau di dalam gua, Dewi itu tidak bisa kabur dampak kehancuran yang dibawa tombak. Terus dihujani selama lima puluh hari lebih, pulau tempat Dewi itu tinggal mulai jatuh ke dimensi yang lebih rendah dan terus menerus jatuh sampai ke Dunia Nyata, dan hancur menjadi berkeping-keping di daratan dan menjadi sebuah gunung.
Tersadar dengan raut wajah gelap dan penuh penyesalan, sang Dewi nan bodoh itu terduduk meratapi apa yang telah dilakukannya, melihat ke arah langit dimana tempatnya tinggal dulu. Di tengah puing-puing pulau yang hancur dan hutan yang porak-poranda, sang Dewi menangis selama berbulan-bulan lebih dan merengek meminta tolong seraya menyebut nama kedua sosok yang melahirkannya.
Suaranya tidak tersampaikan kepada langit, hanya melayang-layang di udara dan menghilang tak bernilai. Pada bulan ke sembilan dirinya jatuh ke dunia, Dewi itu berhenti menangis dan mulai melangkakan kaki untuk menyusuri tempatnya jatuh.
Itu merupakan kesalahan lain sang Dewi, Ia mencoba belajar tentang Dunia para makhluk mortal, karena itulah dirinya mulai paham mengapa para Dewa dan Dewi memilih untuk tinggal di Kayangan. Karena hal tersebutlah Ia mulai jatuh cinta pada dunia.
Dunia yang dulu selalu dirinya lihat dari atas tidaklah seindah yang dirinya kira, tempat itu penuh kesengsaraan dan penderitaan, bahkan rasa lapar yang tidak pernah dirasakan mulai menyiksa sang Dewi.
Pada saat itulah Dewi tersebut mulai belajar tentang kebaikan yang tidak pernah dirinya kenal. Lambat laun tinggal bersama sang penebang dan keluarganya, sang Dewi mulai dianggap oleh mereka sebagai keluarga. Meski tanpa memberitahukan identitasnya, sang Dewi itu pun mulai menikmati tinggal bersama keluarga penebang bambu tersebut meski dalam berbagai kekurangan.
Ia belajar menenun benang, merajut kain, membuat pakaian, memasak, mencuci, dan hal-hal lain yang biasanya dilakukan oleh para makhluk pelayan yang diciptakan di pulau kekuasaannya dulu saat masih di Kayangan.
Dewi itu benar-benar belajar banyak hal dari kekeluargaan yang bahkan tidak pernah didapatnya dari kedua sosok yang melahirkannya, sampai rasa kepuasan setelah mendapat sesuatu melalui kerja keras.
Tetapi, apa yang dipelajari sang Dewi tidak seluruhnya menyenangkan dan baik, ada beberapa yang membuatnya menderita. Saat batas hidup penebang babu habis karena usianya, sang Dewi belajar betapa sakitnya kehilangan, saat dirinya melihat anak dari sang penebang hutan menikah dengan perempuan lain, sang Dewi belajar betapa sakitnya rasa cemburu, dan saat semua orang yang memperlakukannya dengan baik telah berpulang, sang Dewi belajar apa itu kesepian.
Pergi dari daerah yang telah ditinggali selama ratusan tahun lebih, Dewi itu menjelajahi dunia dan menjadi saksi perubahan dunia yang ada. Terciptanya daratan baru, hilangnya sebuah benua, bencana alam skala dunia, dan bahkan sebuah pemusnahan massal oleh iklim pernah dirinya lihat. Peperangan, diskriminasi, dengki, perselisihan, pengkhianatan, dan berbagai hal lainnya yang membuat hati sang Dewi semakin hancur. Meski begitu, rasa cintanya pada dunia tidak hilang.
Pada suatu masa, sang Dewi benar-benar membuang namanya dan memutuskan untuk menolong orang-orang yang ditemuinya di sepanjang penjelajahannya, tentu saja itu demi dirinya sendiri yang merasa tersakiti melihat para makhluk-makhluk di sekitarnya dalam kesengsaraan.
Dewi mengajarkan pengetahuan pengobatan untuk menyembuhkan yang sakit, memberitahukan cara menumbuhkan tanaman untuk menghindari kekurangan pangan, dan memberikan pengetahuan tentang beberapa sistem peraturan untuk menghindari perselisihan.
Tetapi dari semua itu, yang paling terkenal darinya adalah sihir, sebuah pengetahuan yang dapat membawa keajaiban. Tanpa disadari, sosok Dewi dikenal dengan sebutan Witch, yang lalu pada akhirnya cerita tentangnya yang masih tersebar sampai sekarang adalah sebuah kisah cinta tragis dari sang Witch tersebut.
“Seperti itulah kisahnya,” ucap wanita itu setelah bercerita tentang masa lalunya yang kelam, tetapi dengan ekspresi wajah penuh keceriaan seakan memang menikmati bercerita seperti itu.
Mendengar kisah tersebut dengan seksama, Odo tidak terkejut dan hanya terdiam. Ia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi tersentuh atau empati, pikirannya malah berfokus menganalisa bagaimana dunia para dewa yang diceritakan wanita yang duduk di hadapannya.
Menarik napas ringan, Odo mengalihkan pikiran dan berusaha memikirkan hal lain, berusaha fokus pada pertanyaan utama yang belum terjawab.
Menarik napas dalam-dalam, Odo melontarkan pertanyaan secara terang, “Jadi kerja sama apa yang kau buat dengan Reyah? Asal kau tahu, Drayd itu sama sekali tidak memberitahuku tentangmu.”
“Dikau sama sekali tidak tersentuh setelah mendengar cerita seperti itu ya .... Kejamnya, hati kecil dirimu itu terbuat dari apa?” tanya wanita berambut pirang itu. Raut wajahnya yang tadinya mulai ceria berubah muram lagi, dan tatapannya menjadi datar.
“Tentu saja tersentuh .... Memang Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi rasanya sangat menyakitkan terus hidup seperti itu. Tapi ..., kau sama sekali tidak menyesal, bukan?”
Wanita itu terkejut mendapat pertanyaan balik seperti itu. Kembali tersenyum dan benar-benar terarik pada Odo, wanita berambut pirang itu menjawab, “Tentu saja tidak! Untuk apa aku menyesal? Meski banyak hal yang menyakitkan dan diri ini kehilangan banyak hal, tetapi ... banyak yang tersimpan dalam hati dan membuat hidup lebih berarti.”
“Kau ... lebih manusiawi dari manusia itu sendiri ya,” ucap Odo.
“Kalau dikau malah tak terlihat seperti manusia.”
Mereka terdiam sesaat setelah bertukar sindir seperti itu. Menghela napas dan memalingkan wajah satu sama lain, mereka langsung sadar perbedaan signifikan dalam pola pikir dan sifat masing-masing.
“Tadi dikau ingin tahu perjanjian apa yang diriku buat dengan Doll itu, bukan? Perjanjian itu bukanlah diriku yang mengajaknya, dia yang memaksa diriku untuk membuat perjanjian itu,” ucap wanita berambut pirang tersebut.
Ia mengulurkan tangan kanan ke arah Odo, lalu berkata, “Dunia akan hancur, bantu diriku ini atau dunia yang engkau cintai ini akan benar-benar lenyap dalam beberapa tahun ke depan, itu yang Doll tersebut katakan saat diriku jalan-jalan di Dunia Astral. Koyol sekali, bukan?”
“Perjanjian apa yang kau buat memangnya?”
“Tentu saja tentang cara menyelamatkan dunia. Dikau tahu ..., meski dia memiliki banyak informasi, tapi dia sangat payah dalam menganalisa dan berpikir. Hah! Kenapa Doll sepertinya bisa lahir dari Pohon penuh informasi itu ....”
“Ah ....”
Odo memasang wajah setuju dengan perkataan wanita berambut pirang tersebut. Reyah memang pada dasarnya memiliki pola pikir sederhana, meski berpengetahuan luas dan banyak memiliki keahlian yang hanya bisa dilakukan olehnya.
“Memangnya rencana apa yang kau sarankan padanya?” tanya Odo.
“Eng ..., sebenarnya diriku malu karena rencana yang dibuat gagal dan kacau.”
Wanita itu memalingkan pandangannya, wajahnya terlihat sedih bercampur kesal akan sesuatu. Kembali melihat ke arah Odo, wanita itu bertanya, “Apa dikau tahu tentang Perang Besar yang baru berakhir beberapa puluh tahun lalu sebelum dirimu lahir?”
“A ..., jangan bilang maksudmu gagal itu ....”
“Ya, diriku gagal mencegah perang tersebut .... Yang bisa diriku lakukan ... hanya menyelamatkan satu kota yang telah ditakdirkan hancur. Tidak lebih dari itu ....”
“Satu kota ....?” Odo punya perkiraan tentang hal tersebut. Kota, berhubungan dengan sihir yang menjadi ciri wanita di hadapannya. “Apa kota yang kau maksud itu ... Miquator?” tanya Odo.
“Ya, kota yang menjadi tempat konferensi Keempat Negara untuk mencapai perdamaian. Yah, meski perang berakhir, tapi korban yang ada selama peperangan itu sangat melebihi ... perkiraan yang ada. Kota itu dapat diselamatkan pun ... karena memang takdir kota itu untuk selamat, tentu saja bukan karena diriku sepenuhnya.”
Wanita itu memasang wajah sedih, seakan memang peperangan yang terjadi itu adalah kesalahannya. Mengetahui kalau sesuatu yang buruk akan terjadi tetapi gagal mencegahnya itu hampir sama dengan rasa bersalah saat melakukan hal buruk tersebut, itulah yang dirasakan wanita berambut pirang tersebut.
“Kalau kau berusaha sekeras itu ..., kenapa Reyah sama sekali tidak memberitahuku tentangmu? Dia juga ingin mencegah kehancuran, loh ....” Odo menatap dengan rasa curiga.
“Ah ..., itu karena perjanjian kami.”
“Perjanjian?”
“Sebagai ganti informasi tentang apa yang akan terjadi, dirinya tidak akan memberitahu tentang faktor bias yang akan mengubah ketetapan dunia. Yah, meski diriku mencari cerah dari makhluk dungu itu dan bisa tahu kalau orang dengan unsur hitam itu adalah dikau.”
Alis Odo berkedut mendengar itu, wanita di hadapannya tersebut benar-benar menganggap Reyah sangat bodoh. “Maaf, Reyah .... Aku tidak bisa menghajar orang ini menggantikanmu. Jujur entah mengapa aku juga ingin menghajarnya sekarang,” pikir Odo.
“Jadi meski bekerja sama, kau tidak pernah benar-benar melakukan kerja sama dengannya ya?” tanya Odo.
Wanita itu terusik, wajahnya terangkat dan bibirnya sedikit moncong ke depan karena rasa kesal menguat. “Tentu saja pernah ..., saat membimbing para Pahlawan, dirinya benar-benar membantu,” ucapnya.
“Eh? Membimbing?” Odo terkejut.
“Ya ..., membimbing. Menggunakan kekuatan Drayd itu, diriku mencari orang-orang yang berpotensi menjadi pahlawan dan membimbingnya, memberi saran, dan memberikan pengetahuan tentang sihir dan Battle Art ..... Salah satunya ... adalah Keluarga Luke tempat dirimu lahir, anak muda.”
Odo benar-benar terkejut mendengar itu. “Apa ..., tunggu! Akal sehatku mulai kacau lagi .... Kau ... membuat keluarga Luke?” tanya Odo.
“Diriku tidak membuat Keluarga Bangsawan itu, hanya memberi kekuatan saja .... Manipulasi Mana untuk seni bela diri pedang dan beberapa seni bela diri lain, itu adalah pemberianku. Langkah Dewa, salah satu teknik paling kuat yang diriku berikan ..., dikau tidak asing dengan teknik itu, bukan?”
“Serius ..., ah ... ini rasanya mulai tidak masuk akal lagi ....” Odo menundukkan kepala dan mulai berpikir dengan keras, rasa yang ada dalam benaknya sekarang mulai kacau seperti saat Reyah memberitahukannya tentang fakta dunia.
“Kenapa tidak masuk akal? Bukannya malah tambah wajar?” tanya wanita itu.
“Aaaah, sudahlah, terserah saja .... Aku tidak peduli lagi, yang penting tujuanku tercapai.”
“Tujuan? Apa itu?”
Mengangkat kepala, anak berambut hitam itu menatap seraya berkata, “Sama sepertimu, menyelamatkan dunia dari takdir kehancuran mutlak. Memangnya apa lagi? Karena alasan itu aku hidup kembali.”
“Eh? Hidup kembali!? Engkau seorang jiwa yang direinkarnasikan!?” tanya wanita itu dengan penuh rasa terkejut.
“Ya ..., kurang lebih.”
“Dari zaman apa? Masa Awal Kiamat? Peperangan Besar?”
“Salah semua.”
“Terus dari masa apa?”
“Jauh sebelum faktor kemungkinan yang dapat menghasilkan dunia paralel hilang.”