
Catatan: Bagian kali ini sedikit tidak cocok untuk anak umur kurang 18 tahun. Bijaklah dalam membaca
Setelah kejar-kejaran dengan dua Shieal yang memiliki wewenang paling tinggi di Mansion, Odo memutuskan mampir ke Perpustakaan Luke Scientia untuk menemui Vil. Anak itu memasukkan kubus hitam ke dalam Gelang Dimensi, lalu melangkah masuk ke dalam perpustakaan bersama Julia yang masih menemaninya.
Melangkahkan kaki di atas lantai dengan struktur sihir, anak rambut hitam itu melihat ke kanan dan kiri mencari sosok Roh Agung mantan Penguasa Laut Utara Dunia Astral itu. Tidak butuh waktu lama, Vil yang sedang melayang-layang di sekitar lantai tiga perpustakaan mulai melayang turun.
“Ada apa datang ke sini, Odo? Cari buku sihir lagi?” tanya Vil dengan ceria.
Melihat senyum yang nampak dari balik cadar Roh Agung tersebut, Julia sempat terkejut. Biasanya Vil selalu terlihat murung dan sedih, tetapi sekarang senyumannya dengan jelas nampak meski tertutup cadar transparan.
“Hmm, bisa tolong bawakan buku tentang Alkimia Dasar, Teknik Menempa Logam, dan Pengetahuan Dasar Tentang Herbal?” pinta Odo.
“Bukannya kamu sudah mengusai Alkimia sampai tingkat lanjutan, kenapa perlu buku dasarnya?” tanya Vil seraya melayang memutari anak itu dan Julia.
“Ah, aku mau membawanya ke Kota Pesisir. Boleh dibawa keluar ‘kan bukunya?”
“Yah, kalau hanya buku seperti itu boleh. Tapi ..., untuk apa?”
“Untuk menjadi guru.”
“Hah?!”
“Hah ...?”
Julia dan Vil sama-sama terkejut mendengar perkataan anak itu. Menatap majikannya dengan heran, Julia bertanya, “Apa Anda berniat mengajari anak-anak di panti asuhan itu?”
“Ya, begitulah.”
“Anda memang aneh .... Kenapa juga bangsawan mengajari rakyat jelata? Apa untungnya? Bukannya mereka baru saja mengkhianati harapan Tuan dengan membiarkan salah satu anak asuhnya terlibat dalam insiden itu?”
Odo sesaat menatap datar gadis kucing tersebut saat mendengar apa yang diucapkannya, itu membuat Julia takut karena ia hanya memberikan tatapan tanpa berkata apa-apa. “Ke-Kenapa? Apa ada yang salah dengan perkataan saya?” ucap Julia gentar.
“Tak apa ..., hanya saja aku baru sadar kalau pola pikir seperti itu memang ada. Mereka yang memiliki darah bangsawan atau status sosial lebih tinggi cenderung memandang rendah rakyat biasa.”
Odo berjalan ke arah kursi di dekat tangga, lalu duduk seraya menyilangkan kakinya. Menatap Julia yang masih berdiri pada tempatnya, anak itu tegas berkata, “Sebaiknya Mbak Julia ubah cara pandang itu. Status tidak mencerminkan kemampuan seseorang, bisa saja mereka menjadi lebih baik dari Mbak Julia.”
Perkataan anak itu terasa sangat berat, baik itu bagi Julia atau Vil. Itu tak terasa seperti pandangan naif semata, melainkan sebuah pandangan ideologi yang anak itu percayai. Sedikit memalingkan pandangan, Odo menghela napas ringan.
“Di dunia ini memang tak ada namanya keadilan atau kebebasan, bahkan sejak lahir kita tidak bisa menentukan mau menjadi laki-laki atau perempuan, mau lahir di mana atau dari keturunan siapa. Meski begitu, setiap orang mengejar kesetaraan dan terus berkoar-koar soal keadilan. Mereka menuntut kebebasan,” ucap Odo dengan nada datar, ia sedikit menyipitkan matanya dan terlihat muram.
“Apa Anda ingin bilang kalau pembelotan itu terjadi karena kurangnya pendidikan?” tanya Julia.
“Itu juga penyebabnya. Tetapi, ada hal yang lebih mendasar lagi yang menjadi pemicu itu .... Ketidaktahuan, itu penyebab utamanya.”
“Ketidaktahuan?”
“Ya, ketidaktahuan membuat mereka bertindak bodoh. Meski mereka diberikan pendidikan, yang mereka dapat terbatas dan masih banyak yang tidak dipahami. Mereka mengira kalau nasib naas mereka itu kesalahan pemimpin, mereka menyalahkan orang yang lebih tinggi statusnya. Mereka tak tahu kalau para bangsawan juga berusaha untuk mengatasi masalah, tidak semua bangsawan itu egois.”
“Tentu saja!” Vil menyela, lalu melayang mendekati Odo dan berdiri di hadapan anak itu. “Rakyat memang seperti itu. Rakyat paling cocok tidak terlalu pintar supaya mudah dikendalikan. Kalau seorang pemimpin mengajari mereka banyak hal dan terlalu dekat, pasti suatu saat pemimpin itu akan ditusuk dari belakang,” ucapnya seraya mendekatkan wajah.
Berputar dengan kaki kiri sebagai tumpuan, ia meloncat dan kembali melayang ke udara. Ia pergi menuju ke lantai atas untuk mencari buku-buku yang diminta Odo. Melihatnya pergi setelah berkata seperti itu, anak rambut hitam tersebut mengingat kembali latar belakang Vil.
Sosok perempuan rambut biru yang bisa dengan bebas menggunakan sihir melayang itu pada dasarnya seorang mantan penguasa sebelum kehilangan haknya sebagai Penguasa Laut Utara setelah penyerangan Iblis di Dunia Astral. Memimpin para roh selama ribuan tahun tanpa masalah bukanlah hal yang mudah, sosok Roh Agung tersebut memang memiliki kepantasan yang sesuai sebagai pemimpin jika tidak melihat sifat kekanak-kanakannya.
“Tuan Odo ...,” panggil Julia.
“Hmm, ada apa?”
“Ditusuk, uhu~hu~” Gadis Nekomata itu memasang wajah sedikit meledek majikannya.
“Ah, aku benar-benar ditusuk dari belakang, ya.”
“Jadi, mau berhenti? Bisa-bisa ditusuk lagi dari belakang, loh.”
“Hmm, ogah.”
“Kenapa sering sekali anda jawab seperti itu, sih? Ngeselin ....”
Tidak terlalu memikirkan perkataan gadis rambut putih keperakan tersebut, Odo bangun dari kursi dan duduk di lantai dekat tangga. Ia bersila, lalu mulai menarik napas dalam-dalam dan mengatur sirkulasi energi dalam tubuhnya.
“Mbak Julia, aku mau meditasi dulu. Kalau Vil sudah mengumpulkan bukunya, bisa tolong beritahu dia letakkan saja di atas meja.”
“Eh? Meditasi di sini? Sekarang?”
“Memangnya kenapa?” tanya Odo seakan tidak ada yang aneh tentang itu.
“Tidak apa .... Hanya saja, kenapa tiba-tiba?”
Tidak menjawab pertanyaan Julia, Odo sudah masuk ke dalam mode meditasi dan melakukan kultivasi. Aura energi yang ada di dalam perpustakaan mulai berubah alurnya, terarah menuju tempat Odo duduk dan mulai meresap masuk melalui pori-pori anak itu. Rambutnya sedikit terangkat dan berkibar, tubuhnya pun memancarkan cahaya biru tipis di sekitar kulit.
Merasakan adanya perubahan alur energi dalam perpustakaan, Vil yang sedang mencari buku di atas melongok ke bawah. “Ah, dia mulai lagi! Julia, sebaiknya jangan ganggu dia, nanti bisa-bisa meledak,” ucapnya Roh Agung itu dengan suara ditinggikan.
“Eh? Itu asli kalau sedang meditasi bisa meledak?!” tanya panik Julia seraya menoleh ke arah Vil.
“Hmm.” Perempuan rambut buru itu melayang turun seraya membawa beberapa buku, lalu memijakkan kakinya di permukaan lantai keramik. Berjalan ke arah meja, ia meletakkan buku-buku yang dibawanya.
“Meditasi yang digunakan Odo adalah Jalur Ilahi dan Surgawi yang sama dengan teknik meditasi Mavis. Itu memang teknik meditasi paling stabil untuk meningkatkan ketahanan stamina dan vitalitas. Tapi, belakangan ini dia juga menggabungnya dengan Teknik Jalur Alam. Campuran antara meditasi internal dan eksternal memang sangat efektif, tapi sebagai gantinya keseimbangan akan sangat rapuh.”
Mendengar apa yang dikatakan Roh Agung tersebut, Julia benar-benar tidak memahaminya. Julia tidak menggunakan meditasi untuk meningkatkan kekuatan sihir, ia cenderung dari awal sudah memiliki kekuatan sihir yang dahsyat dan hampir tidak pernah melatih untuk meningkatkannya. Apa yang dilatihnya hanya soal pengendalian, bukan meditasi untuk meningkatkan kekuatan.
“Ah, kamu tipe yang sudah punya kekuatan dari awal, ya. Diriku lupa, engkau adalah Nekomata .... Engkau tak perlu meditasi atau semacamnya, ya.”
“Hmm, begitulah. Tapi ..., tunggu .... Tuan Odo ..., apa dia tidak memiliki kekuatan semacam itu dari awal?! Dia sangat kuat di umurnya itu, loh! Jangan bilang kalau semua itu hasil latihan dan bukan bakatnya?” tanya Julia dengan wajah terkejut.
“Berbakat? Ya, kalau kerja keras dan sifat pantang menyerah adalah bakat, mungkin anak itu sangat berbakat.”
Vil melihat ke arah Odo dengan perasaan damai, layaknya seorang kakak yang mengawasi perkembangan adiknya. Sedikit tersenyum kecil, ia berkata, “Asal engkau tahu, anak itu awalnya sama sekali tidak cocok menjadi pengguna sihir. Yah, awalnya diriku pikir itu wajar karena masih anak-anak dan bakatnya masih belum tumbuh. Tapi ... seakan tidak terima itu, dia terus-terusan membaca buku sejak awal mengenal sihir. Ia terus belajar tentang sihir saat pertama kali dikenalkan dengan itu. Hasilnya seperti sekarang, secara teori dia bahkan mungkin setara dengan Mavis.”
“Dia ... tidak berbakat soal sihir? Terus ..., kekuatan Tuan Odo itu apa?”
“Diriku bilang, itu usaha. Dia belajar, mencari, berkembang dan mengembangkan kemampuan. Engkau pasti tahu mengapa Odo berkata seperti tadi, bukan?”
“Ah ....”
Julia mulai tahu apa yang dirasakan Odo dan apa yang hendak disampaikan Vil. Sedikit memalingkan pandangan, Julia tetap tak bisa merasa simpati dengan usaha seperti itu. Dirinya yang dilahirkan dengan tingkat kekuatan sihir yang tinggi tak bisa mengeri sepenuhnya apa yang dirasakan mereka yang berusaha dari bawah untuk mendapatkan kekuatan.
««»»
Di dalam Alam Jiwanya sendiri, Odo terkapar dengan mata terbuka. Terasa ada yang sedikit aneh jika dibandingkan saat terakhir kali dirinya datang ke alam kesadarannya tersebut. Langit yang ada lebih berawan dari biasanya dan dirinya tidak lagi tidur di atas lantai putih, tetapi permukaan rumput dengan akar besar yang keluar dari tanah di sebelah kanan dan kirinya.
Duduk dan memandang satu-satunya pohon yang ada di tempat tersebut, wajah anak rambut hitam itu langsung terbelalak. Pohon yang tadinya sudah tubuh besar sekarang semakin membesar. Pohon yang tubuh di alam jiwanya karena Buah Pohon Suci sudah benar-benar menjadi pohon raksasa, bahkan diameternya mencapai hampir dua meter lebih.
Tinggi pohon tersebut hampir mencapai seratus meter dan dedaunannya benar-benar lebat sampai membuat payung teduh yang rimbun. Menelan ludah dengan berat, Odo segera berdiri dan mengusap mata seakan dirinya tidak percaya dengan apa yang terlihat.
Di bawah pohon raksasa tersebut, duduk seorang gadis kecil berambut perak terurai ke atas rerumputan. Ia mengenakan gaun one piece putih, pada kedua tangannya terdapat sarung tangan hitam panjang sapai siku, sedangkan ia tidak mengenakan apa-apa pada kakinya.
Sedikit menyipitkan mata, Odo baru sadar kalau tempatnya berdiri lebih jauh dari biasanya dengan pohon saat datang. Menarik napas, ia berjalan ke arah gadis yang duduk di antara akar raksasa pohon. Saat sampai pada jarak beberapa belas meter, anak itu baru menyadari ada yang janggal dari jelmaan jiwa Naga Hitam tersebut.
Seliari terlihat sedang membaca buku dengan serius. Itu terasa janggal bagi Odo mengingat dari mana Dragonoid itu bisa mendapat buku tersebut. Kembali mendekat sampai tepat berdiri di hadapannya, Odo bertanya, “Seliari, dari mana kau dapat buku itu?”
“Hmm? Ah, ada engkau rupanya .... Maaf-maaf, diriku terlalu asyik membaca. Jadi, kenapa datang ke sini?” tanya Seliari seakan memang Alam Jiwa tersebut adalah tempatnya sendiri.
“Kau ini ya ..., ini tempatku.”
“Tempat kita,” koreksi gadis itu seraya tersenyum lebar.
“Ah, biarlah .... Ngomong-omong, dari mana buku itu? Kenapa ada di sini?” ucap Odo seraya menunjuk buku yang dipangku Seliari. Buku tersebut hanya memiliki sampul polos berwarna cokelat, cukup terlihat kecil dan tidak terlalu tebal.
“Ini? Bukannya dirimu yang membuatkannya untukku? Itu loh, suara-suara yang sering terdengar di tempat ini dari sihirmu, bukan? Kalau tidak salah namanya .... Auto Senses?”
“Hmm?”
Odo sejak bingung, ia merasa tidak pernah memerintah sihir pertahanan terakhir itu untuk membuatkan buku atau semacamnya. Sejenak memejamkan mata, anak itu meminta kepastian dari Auto Senses.
“Diriku memang yang membuatkannya buku. Habisnya dia terlihat kesepian di sini, jadi paling tidak aku berikan saja bahan bacaan,” suara tersebut menggema dalam kepala Odo.
Memahami tersebut, Odo juga mulai paham dari mana sumber bahan baku untuk membuat buku tersebut. Melihat ke arah pohon yang beberapa ranting besarnya dipotong, sejenak Odo menghela napas.
“Kalian seenaknya menggunakan Alam Jiwa orang lain, ya ....”
Odo mengulurkan tangannya dan minta buku di pangkuan Seliari. Gadis itu mengacuhkannya dan memalingkan wajah, ia sama sekali tidak berniat menyerahkan buku tersebut.
“Berikan!”
Odo mengambilnya paksa, lalu memeriksa isi yang ada dalam buku kecil tersebut. Wajahnya langsung terbelalak, mulutnya menganga dan ia terlihat seperti baru saja tersetrum saat tahu buku seperti apa itu.
“Do-Do-Do-Doujinshi ...?”
Menatap datar Seliari yang masih duduk bersila dengan santai, Odo sedikit memalingkan pandangan. “Auto Senses! Kenapa kau memberinya buku seperti ini!? Kenapa juga harus Doujin? Yang R-18 lagi! Lagi pula, dari mana kau tahu yang seperti ini! Genrenya parah begini lagi!” benak Odo dengan keringat dingin bercucuran.
“Itu kudapat dari ingatanmu. Kebanyakan buku yang ada dalam kepalamu itu seperti itu, bukan? Buku tidak senonoh,” suara Auto Senses dalam kepala Odo.
“Enggak! Ada juga ‘kan yang lain? Aku banyak baca buku yang lain, kok!”
“Ada apa, Odo? Kok teriak-teriak?” tanya Seliari heran.
“E-Enggak ....”
Dengan sedikit canggung, anak itu memalingkan wajahnya. Duduk bersila di depan gadis naga itu, Odo mulai menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri.
“Seliari, kau tahu buku apa ini?” tanya Odo canggung.
“Itu buku tentang cara reproduksi, bukan? Jujur diriku baru tahu cara reproduksi ada bermacam-macam. Baik yang secara kasar atau lembut, bersama banyak orang atau cuma berdua, semuanya menarik,” ucap Seliari dengan tatapan serius. Gadis itu benar-benar menganggap bahan bacaan tersebut adalah ilmu pengetahuan dan bukan yang lainnya.
“Tunggu? Apa ada lagi buku macam ini?”
“Hmm, masih banyak.”
Gadis naga itu mengayunkan tangannya ke belakang dan memukul pohon besar di belakangnya. Saat bergetar, puluhan buku dengan sampul polos berjatuhan dari dedaunan rimbun pohon tersebut. Beberapa ada yang mengenai kepala Odo, dan lainnya berserakan di atas rerumputan.
“Hujan tidak senonoh apa ini ....”
Odo menutup wajahnya, malu pada dirinya sendiri dan masa lalu gelapnya. Melihat jumlah buku yang ada, itu sama dengan jumlah buku tidak senonoh yang dirinya sering baca di kehidupan sebelumnya.
“Hmm, tidak senonoh? Buku seperti ini?” ucap Seliari seraya mengambil salah satu buku dengan ekor, lalu kembali membacanya.
Odo paham kalau cara pandangan seekor Naga Agung memang berbeda dengan manusia. Tetapi saat sadar kalau buku-buku tersebut bersumber dari ingatannya sendiri, anak rambut hitam itu kembali merasa malu pada diri sendiri sebagai seorang manusia.
“Odo\, kalau dikeroyok seperti ini namanya G*m*b*ng\, ya?” tanya gadis naga itu dengan wajah polos.
“Haaaaa ....” Napas Odo seraya sesak saat mendengar itu, wajahnya memutih seakan jiwanya keluar.
Mendapat pertanyaan itu dari gadis yang benar-benar tidak memiliki pikiran mesum, rasa bersalah benar-benar mengisi bendak Odo sampai membuat wajahnya mengerut. Memalingkan wajah, anak itu enggan menjawab.
Seliari kembali membaca buku di tangannya\, lalu bertanya\, “Kalau seperti ini\, apa benar namanya N*t*r*re? Neh\, Odo? Jawab\, dong? Cuma memastikan saja!” Gadis naga itu membuka bukunya ke arah Odo\, lalu mendekat sampai mendorong anak rambut hitam itu jatuh ke atas rerumputan.
Menaiki tubuhnya, Seliari menjatuhkan buku di tangan ke samping dan mulai menatap rendah anak itu. Memeluk tubuhnya yang terbaring, Seliari bertanya, “Odo, mau mencobanya? Kalau situasinya seperti ini ..., apa mungkin namanya Violance?”
Sejenak Odo terdiam. Saat hendak menyingkirkan tubuh Seliari dari atasnya, gadis naga itu gemetar takut akan sesuatu. Itu terasa aneh dalam benak Odo, membuatnya mengurungkan niat dan mengaparkan tubuh kembali dengan kedua tangan terlantang.
“Bisa kau bangun, Seliari?”
“Tak mau ....”
“Kenapa ....”
“Itu .... rasanya sepi. Di dada rasanya sesak. Saat membaca buku semacam itu, entah mengapa dalam benak rasanya sepi .... Odo, kenapa bisa seperti itu?”
Odo tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia kurang lebih paham hal seperti itu bisa muncul setelah membaca atau melihat hal-hal semacam itu. Menarik napas dalam-dalam, Odo kembali berkata, “Bisa kau bangun?”
“Tak mau! Tolong ... biarkan diriku seperti ini sebentar. Tak masalah kalau dirimu tidak mau melakukan itu denganku, tapi paling tidak ... biarkan aku seperti ini sebentar.”
Gadis itu tambah memeluk erat tubuh Odo, tidak membiarkannya bangun atau pergi dari dekapannya. Tubuhnya gemetar, bukan kedinginan tetapi karena hal lain. Itu membuat Odo tidak bisa menolaknya secara tegas.
“Kalau begitu, dalam posisi ingin bertanya. Apa boleh?”
“Hmm, tentu saja. Dirimu datang untuk itu, bukan?” ucap gadis naga itu dengan lirih.
“Seliari, apa kau ingin menyelamatkan adik-adikmu?”
Sesaat gadis naga tersebut terdiam. Sedikit menggerakkan kepalanya di atas tubuh Odo, ia berkata, “Maksudmu ... soal Leviathan? Apa engkau berniat melawan dan menyerapnya ke dalam Alam Jiwa ini?”
“Iya .... Dengan begitu mungkin kau tak akan kesepian di sini.”
“Bohong ...”
“Eh?”
“Dasar pembohong. Lagi pula, kau juga pernah membahas itu sebelumnya.”
“Masa? Kapan?”
“Tuh ‘kan tidak ingat. Kenapa tidak jujur saja, engkau ingin menggunakannya untuk melawan pasukan dari Moloia, bukan?”
“Kau tahu, ya.”
“Hmm, diriku tahu. Diriku melihat semuanya dari sini. Beban yang kamu pikul lebih besar dari tubuh kecilmu ini. Engkau bahkan tak diberi waktu untuk ragu atau berpikir kembali.”
Sedikit menatap gadis yang berbaring di atasnya, Odo bertanya, “Apa kau mau membantuku?”
“Tentu saja .... Kita sudah berbagi takdir, diriku akan selalu membantumu dan menjadi rekanmu sampai takdir itu berakhir.”
Berhenti memeluk Odo, Seliari menahan kedua tangan anak rambut hitam itu. Mendekatkan wajah ke mukanya, gadis naga tersebut berkata, “Kalau kau mau melakukan itu dengan diriku, dengan senang hati kubantu engkau melawan adikku.”
“Eh? Melakukan apa? Ngomong-omong, bisa kau lepaskan tanganku?”
“Eng~gak ma~u!”
Berusaha melepaskan diri dengan paksa, tangan Odo benar-benar ditahan kencang. Badannya dikunci oleh berat gadis naga itu, dan kedua kakinya diikat dengan ekor dengan erat. Sadar kalau dirinya benar-benar tertangkap, keringat dingin kembali membasahi wajah Odo.
“Eng ..., serius?”
“Serius. Asal engkau tahu, diriku belum pernah melakukannya. Diriku hanya pernah mendengar kalau hasrat reproduksi muncul saat nyawa terancam. Tetapi setelah membaca buku semacam itu, diriku tahu kalau itu ada nilai seninya juga dan cukup menarik. Diriku ingin mencobanya.”
Menatap datar gadis di atas tubuhnya, Odo memalingkan wajah dan menghela napas. Kembali menatap dengan tajam, ia berkata, “Baiklah, aku mau. Tapi ..., bisa kau bangun dulu? Posisi seperti ini tidak enak.”
“Enggak mau!”
“Eh?! Kenapa, sih?!”
“Kamu pasti akan kabur saat kulepaskan, bukan?”
“Sebegitu tidak percayanya ‘kah kau padaku?!”
“Kalau bohong mana mungkin aku percaya.”
“Eh, tunggu! Ke mana ekormu pergi? Jangan masukkan ke dalam celanaku! Oi! Jangan itunya! Itunya kena!!”
“Hmm, ukuranmu ternyata tidak terlalu besar, ya. Eh? Ini membesar? Kamu juga niat, kok.”
“Aaaaaaaa, hentikan! Lepaskan aku! Tidak! Aku akan diperkosa!”
“Kamu menjiwai peranmu, ya. Mau main genre Force?”
“Hentikan! Bukan i—Aaaaah ~!”
Setelah itu, apa yang terjadi hanyalah pemaksaan satu arah yang dilakukan oleh Seliari kepada Odo. Anak rambut hitam itu sama sekali tidak bisa melawan balik dan benar-benar menjadi korban sampai semuanya selesai.
Meski itu tidak secara fisik dan hanya bentuk jiwa saat melakukannya, tetapi dengan jelas Odo direngut kesuciannya oleh gadis naga tersebut. Dengan paksaan dan benar-benar dipermalukan.
.
.
.
Perlahan membuka matanya, Odo keluar dari mode meditasi. Ia langsung berkaca-kaca mengingat apa yang telah terjadi di Alam Jiwanya. Vil dan Julia yang duduk di dekatnya terkejut melihat wajah memerah dan seakan-akan ingin menangis itu.
“Tuan Odo, apa yang terjadi? Kenapa ... anda ....”
Odo tidak menjawab itu, ia langsung membaringkan tubuh dan meringkuk seperti bola. Dengan wajah muram, ia mulai bergumam tidak jelas dan membuat seisi ruang perpustakaan diisi dengan hawa negatif.
“Kenapa dia?” tanya Vil heran.
“Entahlah ....”
\==============================
Catatan Penulis:
Jika ada yang membuat bingung atau semacamnya, sekali lagi saya sarankan untuk membaca Great War Record. Oh, iya. Sekalian promosi, saya juga buat cerita lain yang judulnya”Incest” .... Kurasa gak perlu dijelaskan isi ceritanya kayak apa, ya .... haha.
See You Next Time!
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!