Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 66 : Aswad 13 of 15 “Eagerness” (Part 03)



 


 


۞۞۞


 


 


Hembusan angin menerpa tubuh, panasnya paparan sinar matahari siang terasa begitu menyengat. Perlahan membuka kedua kelopak mata, pemuda yang duduk sila di atas atap toko Ordoxi Nigrum itu lekas memasang wajah murung. Kembali mengingat apa yang dirinya bicarakan dengan Mahia di Dunia Kabut, Odo merasa kalau memang ada begitu banyak hal yang tidak bisa sesuai harapannya.


 


 


Bangun dan berdiri tegak, pemuda itu sekilas menatap ke bawah. Di depan toko miliknya terlihat banyak orang-orang yang mengantre, suara ramai pun lekat dengan keramaian itu. Merasa usaha kecilnya berjalan lancar sesuai harapan, senyum sekilas tampak pada wajah pucatnya.


 


 


Namun itu dengan cepat hilang, lalu ia pun segera melihat ke arah Gerbang Utama. Meski terhalau oleh  beberapa bangunan tinggi lain, Odo dengan jelas tahu saat sebuah kereta Drake memasuki kota. Koneksi menggunakan struktur pada bangunan toko membuatnya samar-samar bisa mendeteksi hampir seluruh bagian kota, karena itu merasakan hawa keberadaan kuat milik salah seorang Shieal yang datang bukanlah hal sulit.


 


 


“Sepertinya diskusi dengan Lisia memang harus ditunda.” Odo sekilas menggaruk bagian belakang kepala, memalingkan pandangan dan dengan resah bergumam, “Aku sedikit tidak enak pada Arca setelah memintanya ke sana, tapi biarlah. Lagi pula dia juga bakal dijemput juga ….”


 


 


Odo menonaktifkan sihir penguatan pada sarung tangan dan melepasnya. Melihat angka pada telapak tangan kanan, sekilas sorot mata pemuda itu berubah datar karena angka yang ada bertambah dengan kecepatan persis seperti yang dirinya perkirakan.


 


 


“Bertambah satu setiap kurang lebih 2 jam, berarti dalam satu hari aku benar-benar bisa mendapat 12 nyawa, ya? Bahkan kucing katanya dalam seumur hidup hanya punya 9 nyawa, loh. Ini keterlaluan ….”


 


 


Kening Odo mengerut. Paham mengeluh terus tidak mengubah apa-apa, ia kembali fokus memikirkan masalah lain yang harus diselesaikan. Memejamkan mata dan mengaktifkan Aitisal Almaelumat, ia membatasi semua informasi suara yang bisa dirinya terima.


 


 


Keheningan sesaat, untuk bisa fokus memikirkan hal yang harus dirinya lakukan sekarang. Mendapat satu kesimpulan dalam benak, ia menghentikan manipulasi dan kembali membuka mata.


 


 


Mengenakan kembali sarung tangan dan mengaktifkan sihir penguatan pasif, pemuda itu segera menggunakan Puddle. Membuka telapak tangan kiri, cairan biru bercahaya mulai keluar dari pori-pori dan menetes di atap. Itu dengan cepat menggenang pada tempatnya berdiri, lalu sosok Odo pun hilang dalam hitungan detik dan berpindah ke tempat lain.


.


.


.


.


 


 


Hutan pepohonan oak.  Hijau dedaunan tertiup angin, membuat suara ketenangan di antara pepohonan. Tupai mengumpulkan biji-bijian bersama keluarganya, memanjat dan masuk ke dalam lubang pada pohon. Para berang-berang berkumpul membangun sarang baru mereka di tengah sungai, karena air bah beberapa hari lalu menghancurkan sarang mereka. Membuat bendungan dari ranting serta dedaunan, untuk rumah dan tempat mencari makanan.


 


 


Rerumputan setinggi betis memenuhi pinggiran sungai, bersama bunga Morning Glory dan alang-alang. Tak jauh dari tempat tersebut, terlihat rerumputan yang menunduk tanda baru saja diinjak oleh seseorang. Terus masuk ke dalam hutan pepohonan oak dan cemara, terlihat dua orang perempuan yang menutupi tubuh mereka dengan kain jubah.


 


 


Dalam bayang-bayang remang dedaunan, kedua perempuan yang mengenakan seragam pelayan tersebut memperlihatkan ekspresi tidak puas akan sesuatu. Di’in dan Ra’an, dua orang Moloia yang beberapa hari lalu diperintahkan untuk ke pergi ke Hutan Pando untuk menyampaikan pesan kepada Witch. Dua perwira militer dari Fraksi Pengembangan dan Teknologi.


 


 


Menatap ke arah pemuda yang beberapa menit lalu tiba-tiba muncul di hadapan mereka, kedua perempuan itu merasa kalau kondisi yang ada sekarang memang melenceng dari rencana awal yang mereka dengar. Di hadapan mereka Odo hanya berdiri tanpa menjelaskan lebih lanjut situasi yang ada, hanya terdiam di antara alang-alang tinggi dan pepohonan hutan yang letaknya puluhan kilometer dari kota pesisir.


 


 


Kesabaran Di’in habis dan ia pun dengan kesal mengambil senapan Springfield di punggung. Menarik tuas dan memasukkan peluru sihir, ia mengaktifkan sirkuit sihir merah pada senjata sihirnya dan siap melancarkan serangan.


 


 


Sembari menatap tajam Odo, Letnan Dua tersebut dengan tegas berkata, “Kami telah menyampaikan informasi yang kau berikan kepada Penyihir di Hutan Pando itu …, sesuai perintahmu.”


 


 


Odo hanya menatap ringan, memasang senyum tipis dan berkata, “Kerja bagus. Orang-orang Moloia memang memiliki jiwa profesionalitas yang tinggi.”


 


 


“Tch!” Merasa kesal mendengar ucapan ringan tersebut, Di’in menodongkan senapannya dan dengan lantang membentak, “Lalu kenapa kau malah datang ke rombongan Keluarga Kerajaan?! Bukannya kau sudah memerintahkan kami untuk mengintai mereka! Kau sendiri yang bilang harus percaya, namun kau malah yang tidak mempercayai kami!”


 


 


“Sudah aku jelaskan tadi, itu diluar kehendakku …. Aku ⸻”


 


 


“Mana mungkin kami percaya kalau kau hampir dibawa langsung oleh pemimpin Kekaisaran! Di perbatasan utara mereka sedang dalam masa pra-peperangan! Mana mungkin ia meninggalkan Magetsu dan malah pergi ke di garis belakang wilayah Luke seperti Mylta!”


 


 


Mendengar itu, Odo mulai merasa dirinya juga tidak akan percaya jika berada di posisi yang sama dengan Di’in dan Ra’an. Bagi mereka berdua yang posisinya paling tidak aman di wilayah Luke, mencurigai adalah hal yang paling penting untuk bisa selamat.


 


 


“Turunkan senjatamu, Cornelisa Di’in.” Odo menghela napas ringan, terlihat bingung harus berkata apa karena sedang tidak bisa mengaktifkan Spekulasi Persepsi. Sembari melangkah ke arah mereka berdua, ia mengerutkan keningnya dan kembali berkata, “Kalau apa yang aku jelaskan tadi itu kebohongan, keuntungan apa yang aku peroleh? Kebohongan itu sendiri tidak penting, bukan? Yang penting adalah alasan di balik seseorang berbohong.”


 


 


Di’in terdiam dan mulai menurunkan senapannya, memikirkan keuntungan yang Odo dapat dengan melanggar perintahnya sendiri dan malah datang ke rombongan Keluarga Kerajaan. “Awalnya Odo memerintahkan kami untuk menyusup ke dalam rombongan setelah menyampaikan informasi kepada The Witch of Orgin, namun dia malah datang sendiri dan ditangkap dengan mudah. Rasanya memang tidak ada keuntungan yang bisa diperolehnya,” benaknya seraya kembali menggendong senapan yang sebelumnya ditodongkan.


 


 


Melihat Letda tersebut tidak mengeluarkan peluru sihir dari selongsong, Odo merasa kalau mereka memang masih curiga. Pindah menatap ke arah Ra’an, pemuda itu memilih untuk meyakinkannya dan berkata, “Bisakah kalian percaya? Ini benar-benar tidak masuk dalam rencana, kita tidak boleh berdebat seperti ini. Waktunya terbatas ….”


 


 


Berbeda dengan atasannya, Ra’an memang dari tadi sudah sedikit percaya dengan penjelasan Odo. Perempuan rambut pirang panjang sebahu itu melihat langsung dari jauh kejadian di jalan tebing batu ⸻ Momen saat pemuda tersebut melawan ayahnya sendiri, Ahli Pedang, dan mati beberapa kali.


 


 


Dari kejauhan Ra’an mengawasi kejadian tersebut dengan teropong jari. Meski tidak mendengar apa yang dibicarakan orang-orang saat kejadian, namun dirinya dengan jelas paham itu sama sekali tidak menguntungkan Odo.


 


 


“Letnan, kurasa tak ada gunanya menekannya terus.” Ra’an mulai ambil bicara. Perempuan yang juga menggendong senapan dan membawa alat-alat tempur militer di balik jubahnya itu berjalan ke samping Di’in, lalu dengan sedikit cemas memberi saran, “Meskipun dia mendapat keuntungan dari kejadian itu, kita tidak dirugikan. Tujuan awal kita ke sana karena perintahnya, pemuda itu mengacaukan rencananya sendiri.”


 


 


Mendengar itu, Odo merasa tersinggung karena perkataan Ra’an begitu tepat. Tersenyum kecut dan menghela napas, sembari menggaruk bagian belakang kepala ia dengan nada resah berkata, “Itu benar, aku mengacaukannya sendiri … berkat para sialan dari Kekaisaran itu. Tak kusangka mereka bisa-bisanya datang sampai ke kota Mylta.”


 


 


Di’in masih terlihat curiga, merasa Odo tidak menyampaikan hal penting lainnya seperti alasan balik Kaisar mendatanginya. Menatap ke arah Odo, perempuan rambut cokelat ikan kucir tersebut bertanya, “Memangnya apa yang kamu lakukan sampai-sampai diincar langsung oleh orang penting Kekaisaran? Katamu tadi, Pendekar Hitam dari Utara juga datang, ‘kan? Kenapa salah satu ujung tombak mereka malah meninggalkan garis depan peperangan dan datang  mencarimu?”


 


 


Odo sekilas merasa heran Di’in karena cenderung penasaran dengan Fai Fengying, bukan kepada Kaisar Naraka. Dari sorot matanya seperti ada alasan pribadi di balik pertanyaan tersebut.


 


 


Tidak mengusik lebih dalam, Odo sekilas mengangkat kedua pundak dan dengan ekspresi bingung menjawab, “Entahlah, aku tak ingat pernah melakukan sesuatu sampai-sampai harus diincar mereka. Kalaupun ada, mungkin kabar Pembunuh Naga dan Raja Iblis Kuno itu …. Sama seperti alasan orang-orang dari negeri kalian menaruh perhatian lebih pada wilayah Luke.”


 


 


Jawaban tersebut terdengar begitu masuk akal. Bagi negeri lain, kedua Wujud Malapetaka yang mengancam dunia berhasil dikalahkan di dalam otoritas wilayah Luke memang tidak bisa diabaikan. Meski dalam benak dirinya merasa heran kenapa Odo berhasil lolos setelah ditangkap oleh salah satu Jenderal Empat Arah, Di’in bisa menerima alasan pemuda itu bisa diincar.


 


 


“Baiklah, aku akan percaya kalau memang situasi saat ini memang di luar kehendakmu.” Di’in sekilas menatap ke arah Ra’an, mereka saling mengangguk dan sepakat meski rasa ragu masih tertinggal dalam benak mereka. Kembali melihat ke arah Odo, Letda tersebut berkata, “Tetapi, ada dua hal yang ingin kami pastikan.”


 


 


“Apa itu?”


 


 


Di’in menunjuk ke arah Odo dan dengan tegas mengajukan pertanyaan, “Tujuan yang kamu miliki masih sama seperti kami, ‘kan? Mencegah peperangan besar yang akan terjadi dalam waktu dekat ….”


 


 


Odo sedikit memiringkan kepalanya, lalu dengan tatapan heran berkata, “Tentu saja! Memangnya apa yang membuat kalian berpikir aku menyerah?”


 


 


Baik Di’in dan Ra’an, mereka sekilas terdiam dalam rasa tidak tenang mendapat jawaban yang terdengar seperti kebohongan tersebut. Angin berhembus halus saat matahari mulai turun dari puncak tertingginya, membuat rambut kedua perempuan itu sekilas tertiup dan bergelombang. Sebenarnya bukan hanya itu yang ingin mereka pastikan dari Odo Luke, melainkan juga alasan jelas mengapa pemuda itu ingin menghentikan peperangan.


 


 


Menatap Odo dan merasa pemuda itu tidak akan menjawab dengan jujur, Di’in mengajukan langsung mengajukan pertanyaan kedua, “Setelah ini, kau ingin melakukan apa? Dalam rencana awal, kamu memerintahkan kami untuk menyusup ke rombongan dan mencari informasi para bangsawan yang akan menghadiri pertunangan kamu dengan Putri Arteria, ‘kan? Untuk mencegah situasi buruk yang mungkin terjadi nantinya ….”


 


 


Perempuan rambut cokelat tersebut berjalan mendekat, berdiri tepat di hadapan Odo dan mendekatkan wajah dengan tatapan serius. “Sekarang kesempatan itu hilang dan kamu harus berhadapan dengan para bangsawan itu tanpa persiapan,” ucapnya tegas.


 


 


“Aku punya alternatif,” jawab Odo sembari memasang senyum tipis. Berganti memasang ekspresi datar dan meletakan jari telunjuk ke depan mulut, ia dengan penuh rasa percaya diri menawarkan, “Kalian mau ikut rencana cadangan ini?”


 


 


Di’in dan Ra’an saling menatap. Kedua perempuan yang berpakaian seragam pelayan tersebut sekilas merasa ragu untuk kembali mengikuti perintah Odo yang begitu tidak pasti. Namun saat dalam benak kembali paham tidak punya pilihan lain, mereka secara serempak mengangguk.


 


 


“Mari kita dengar dulu,” ucap Di’in sembari mengambil langkah mundur dan memalingkan pandangan.


 


 


Dengan ekspresi sedikit ketus Ra’an ikut bicara, “Itu benar, kita tak bisa mematuhi rencana tanpa mendengar rinciannya. Tentu kami harap kali ini tidak berakhir kacau lagi.”


 


 


 


 


““Eh?””


 


 


Perkataan itu membuat mereka bingung sekaligus terkejut. Mengerutkan kening dan merasa itu terdengar sangat konyol. Memasukkan orang Moloia di dalam ranah militer resmi Felixia adalah hal mustahil, Di’in merasa Odo seharusnya juga tahu hal tersebut. Letda itu dengan kesal membunyikan lidah dan bertanya, “Untuk apa? Apa itu mungkin? Kamu hanya anak Marquess, ‘kan? Tanpa gelar atau jabatan.”


 


 


“Mungkin atau tidaknya …, itu tergantung pertunangan nanti.”


 


 


Odo sekilas memalingkan pandangan dengan senyum sedikit gelap, membuat kedua perempuan di hadapannya memikirkan kembali alasan Dart Luke menyerang anaknya sendiri. Saat menyadari sesuatu, kedua perempuan Moloia itu sedikit terlihat terkejut dan saling menatap. Mereka paham kalau ada beberapa orang dari Kediaman Luke yang tidak mengenali Odo karena wujudnya sekarang. Di’in memegang dagunya sendiri dan sejenak menundukkan kepala untuk berpikir.


 


 


Sebelum Letda tersebut mendapat kesimpulan, Odo kembali berkata, “Alasan ku membuat Unit Militer sederhana, untuk mempermudah mendapat hak menggerakan personel bersenjata. Aku butuh mobilitas orang-orang, untuk  itu aku perlu wewenang dan jabatan.”


 


 


Ra’na sedikit merasa bingung mendengar itu. Menggantikan atasannya yang sedang memikirkan perkataan Odo sebelumnya, perempuan rambut pirang tersebut bertanya, “Ini sedikit membingungkan. Waktu di toko kamu pernah bilang tidak bisa kembali ke wujud anak-anak, ‘kan? Lantas bagaimana caranya meyakinkan mereka bahwa kamu ini adalah Odo Luke? Apa kamu akan meminta Ibumu ⸻ Penyihir Cahaya untuk meyakinkan mereka?”


 


 


Odo bertepuk tangan satu kali, lalu dengan tegas berkata, “Tentu! Orang-orang Mansion yang tahu kalau aku Odo Luke hanya Ibunda dan orang-orang yang tidak pergi ke Ibukota. Hanya mereka yang bisa aku andalkan sekarang!”


 


 


“Mungkin Ayahmu bisa percaya, namun bagaimana dengan yang lain?” tanya Di’in kembali masuk dalam pembicaraan.


 


 


“Yang lain?” Odo menatap ke arah Letda tersebut, lalu dengan senyum heran malah baik bertanya, “Maksudmu para bangsawan itu?”


 


 


“Ya! Memang siapa lagi!” ucap Di’in kesal.


 


 


Odo hanya menghela napas kecil. Sembari membuka telapak tangan kirinya ke arah mereka, pemuda itu sekilas memasang wajah malas dan mulai terlihat muak dengan pembicaraan. Sembari menatap datar ia pun menjawab, “Memangnya siapa dari mereka yang tahu Odo Luke itu orang seperti apa? Mereka bahkan tidak pernah melihat atau mendengar suaraku. Orang-orang itu hanya tahu tentang diriku dari rumor ….”


 


 


Di’in terdiam dan merasa ada sebuah omong kosong di dalam perkataan tersebut. Tidak menekan atau mencari tahu lebih dalam, Di’in memilih untuk tidak membuang waktu dan berkata, “Baiklah, kami serahkan masalah itu kepadamu. Hal-hal seperti itu memang bukan keahlian kami …. Itu urusanmu sebagai kalangan atas, kami hanya akan membantu.”


 


 


Odo tertegun mendengar perkataan bagaikan sindiran tersebut, terdiam sesaat dan menyipitkan sorot mata. Sebelum kembali berkata, Di’in kembali bertanya, “Namun dari penjelasan kamu itu …, aku tak melihat ada sesuatu yang bisa kami lakukan. Kamu tidak akan meminta hal gila seperti meminta kami menyusup di tengah pertunangan dan mengintai mereka, ‘kan?”


 


 


“Tentu tidak!” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya.  Membuka telapak tangan ke depan dan perlahan mengaktifkan Puddle, pemuda itu memasang senyum tipis dan berkata, “Apa yang harus kalian lakukan sekarang hanya satu, kembali ke tempat Witch dan sampaikan pesanku. Bilang kepadanya untuk segera mengirim beberapa anaknya ke tempatku, dipercepat ….”


 


 


“Batas waktunya kapan?”


 


 


“Besok. Bilang juga suruh mereka mendatangi penyihir berambut putih di Atelier Hulla …. Seorang pria dengan mata Heterochromia akan menjemput mereka besok, siapkan hal-hal yang diperlukan segera.”


 


 


Baik Ra’an ataupun Di’in, mereka merasa perkataan Odo kembali tidak masuk akal. Saling menatap dan menghela napas, mereka berdua menggelengkan kepala dan merasa kalau memang standar akal sehat pemuda itu sedikit cacat.


 


 


“Kamu tahu, Odo …. Kami berdua bukan Prajurit Peri yang bisa terbang puluhan kilometer hanya dalam hitungan jam,” ucap Di’in ketus.


 


 


Sembari memberikan tatapan heran Ra’an ikut berkata, “Diriku sedikit paham alasan kamu ingin bantuan The Witch of Orgin, tapi secepat itu mustahil. Kecuali kami bisa teleportasi atau terbang seperti yang dikatakan Letnan ….”


 


 


“Kalian memang tidak, tapi aku bisa.” Odo menyeringai kecil, lalu sembari sedikit memiringkan kepala ia berkata, “Kalian pikir aku datang dengan apa?”


 


 


Telapak tangan kiri Odo yang dibuka ke depan mulai mengeluarkan cairan biru bercahaya dari pori-pori, menetes ke atas rerumputan dan mulai menggenang di tempatnya berpijak. Cairan itu bergerak cepat ke kedua perempuan di depannya, lalu mulai merendam kaki mereka sampai mata kaki.


 


 


“Hawa ini …, kamu seorang Nativ?” tanya Ra’an bingung.


 


 


Mendengar itu Di’in dengan terkejut meragukan, “Hah? Nativ? Dia bisa menggunakan sihir, loh.”


 


 


Sembari tersenyum ringan Odo berkata, “Kau tak sepenuhnya salah, sekarang aku bisa dikatakan Pseudo Native Overhoul. Karena beberapa alasan struktur sihirku malah cenderung bisa menyimpan struktur sihir orang-orang seperti mereka ….”


 


 


Kedua mata Ra’an terbuka lebar, benar-benar tak menyangka akan melihat seseorang mengalami proses perubahan Inti Sihir dengan matanya sendiri. Dengan penuh rasa penasaran ia berkata, “Jangan bilang, kamu mengalami mutasi Inti Sihir? Ah! Benar juga! Kau masih anak-anak! Jadi kemungkinan kasus itu terjadi masih ada! Jadi teori itu memang benar! Kasus seperti itu cenderung lebih tinggi persentasenya pada anak-anak!”


 


 


Tak seperti biasanya, Ra’an terlihat begitu bersemangat dan tatapannya dipenuhi rasa ingin tahu. Perempuan rambut pirang itu hendak melangkah ke arah Odo, namun kedua kakinya yang telah tergenang cairan bercahaya tidak bisa melangkah karena cairan tersebut terasa bagaikan lumpur hidup.


 


 


Melihat bawahannya terlihat begitu antusias, Di’in tidak berkata apa-apa dan memakluminya. Berbeda dengan dirinya yang hanya fokus pada kewajibannya sebagai seorang tentara di Fraksi Penelitian dan Pengembangan, Ra’an sedikit lebih cenderung suka pada penelitian para pengidap Mutasi Inti Sihir, Native Overhoul.


 


 


“Bisa kamu lepaskan kami dulu? Aku ingin bertanya banyak hal padamu! Apa yang membuatmu menjadi seperti itu? Mimpi? Demam? Pelatihan? Atau itu sudah ada dari awal namun kamu tidak menyadarinya? Bagaimana prosedur kebangkitannya? Apa kamu tahu penyebabnya? Kamu pasti tahu! Diriku punya kenalan seorang yang menjadi Nativ! Bukan terlahir sebagai Nativ! Katanya dia melihat mimpi sebelum kekuatannya bangkit! Namun saat bangun ia lupa mimpi itu! Apa kamu juga melihat mimpi yang sama, Odo?” ucap Ra’an dengan penuh gairah pengetahuan.


 


 


“Eng, ah …. Entahlah ….”


 


 


Odo merasa sedikit takut melihat perempuan yang cenderung pendiam itu mengajukan banyak pertanyaan sekaligus. Mengambil satu langkah ke belakang, ia merasa Ra’an bisa saja membedahnya untuk bisa mengetahui hal-hal yang ditanyakan tersebut.


 


 


“Jelas saja waktu di toko dia rasanya sering sekali melirik ke arah Matius dan Elulu. Begitu, ya …. Di Moloia ada juga orang gila pengetahuan sepertinya,” benak Odo sembari memalingkan pandangan. Sekilas ia merasa Ra’an sedikit mirip dengan Canna saat berbicara tentang hal-hal yang menjadi Passion hidupnya.


 


 


Merasa akan sangat lama jika membicarakan hal tersebut, Odo perlahan menutup telapak tangannya yang terulur ke depan. Sembari memasang senyum kecut ia dengan nada enggan berkata, “Jika kau penasaran dengan kondisi tubuhku, tanya-tanya saja ke Witch. Sosok Tertinggal itu pandai menyusun informasi dan mengambil kesimpulan.”


 


 


“Tunggu! Masih ada yang ingin aku tahu⸻”


“Sebentar! Aku juga belum terlalu paham rencana cadangan⸻”


 


 


Tidak mendengar perkataan mereka, Odo langsung menutup telapak tangan dan memindahkan kedua perempuan tersebut dengan Puddle. Dalam luas sekitar dua meter kubik di tempat mereka berdiri, rerumputan ikut lenyap dan ikut dipindahkan ke Hutan Pando dekat kediaman sang Witch.


 


 


Menurunkan tangannya dan memasang ekspresi datar, Odo menghela napas dan bergumam, “Ini lebih baik daripada membiarkan mereka menggonggong nantinya. Sepertinya menyuruh dua orang itu ikut adalah pilihan salah …. Kurasa tidak, rencananya rusak karena Kaisar itu datang dan membawaku. Eng, kurasa bukan itu juga penyebabnya.”


 


 


Terdiam sesaat, pada akhirnya Odo merasa kalau sumber utama kesalahan yang membuat rencananya rusak adalah dirinya sendiri. Karena ia tidak memperkirakan Mahia pernah melakukan kotak terlebih dulu dengan dunia dan memberikan Kode Khusus kepada gadis yang menjadi Kaisar Kekaisaran Urzia, situasi sekarang tercipta.


 


 


“Menyalahkan tidak ada gunanya. Untuk sekarang, yang harus dipikirkan adalah bagaimana caranya menyelesaikan ini.”


 


 


Odo berjalan ke salah satu pohon, bersandar dan kembali memasang mimik wajah muram. Meletakkan telapak tangan ke depan mulut, ia mulai menyusun informasi dan bergumam, “Kuharap salah satu Sosok Tertinggal yang bersemayam di tubuh Putri Arteria bisa menjelaskan kesalahpahaman itu. Kalau pun bisa, para bangsawan lain yang melihatku pasti masih berpikir aku ini utusan iblis atau semacamnya ….”


 


 


Odo menonaktifkan sihir penguatan pasif dan melepaskan sarung tangan. Melihat jumlah nyawa cadangan yang dimiliki, sekilas pemuda itu ragu untuk menggunakannya nanti saat kembali ke kediaman. Memang ada beberapa alternatif pilihan untuk meluruskan kesalahpahaman, namun tidak ada satu pun pilihan di mana dirinya tidak akan terbunuh.


 


 


Di tambah kondisi saat ini di mana Odo tidak bisa menggunakan Spekulasi Persepsi, ia tidak bisa mencoba satu persatu pilihan tersebut dan melihat mana yang paling tepat. Menyentuh permukaan raja di telapak tangan, pemuda itu sekilas menyipitkan mata dan menghela napas resah.


 


 


“Cara menggunakan nyawa-nyawa ini tak terbatas pada satu pilihan. Selain mati, aku bisa melakukan tipe sihir pengorbanan untuk mengubah energi kehidupan menjadi Mana Murni dan meningkatkan berbagai aspek kemampuan. Tapi, kalau aku mati semua itu percuma karena status tubuhku akan reset …. Supaya bisa mengatasinya, sebuah penyimpanan eksternal diperlukan untuk menampung ekstrak energi kehidupan supaya tak ikut tertimpa informasi dasar dari yang dikirim dari Dimensi Kabut.”


 


 


Melihat sarung tangannya sendiri yang dipegang dengan tangan kiri, Odo memikirkan beberapa ide dan sekilas memasang seringai lebar saat mendapat cara lain untuk menggunakan nyawa cadangan. “Aku benar-benar lupa, dimensi penyimpan juga bisa menyimpan hasil reaksi seperti api yang juga termasuk energi,” ucapnya sembari berhenti bersandar.