
Dengan mulut menganga-nganga, perempuan rambut ungu itu mulai berdiri dan melangkah ke arah Odo. Ia membuka kedua tangannya ke depan, seperti ingin memeluk dan melepaskan rasa rindu. Jiwa Or’iama yang mengambil raga tersebut juga tak mengerti, mengapa bisa dirinya merasa sangat bahagia saat bertemu dengan sosok tersebut.
Namun tanpa bisa memeluk, kilatan petir di sekitar pemuda itu langsung menyambarnya dan membuat Tuan Putri tersebut mati rasa di sekujur tubuh. Ia berhenti melangkah, mulai membungkuk dan tetap melangkahkan kakinya. Tak memedulikan perjuangan perempuan itu untuk menyentuhnya, Odo berkata, “Kau ini menjijikkan sekali .... Masih mending anak-anak Korwa ....”
Pemuda itu menarik semua petirnya masuk ke dalam raganya, mengumpulkan tekanan udara di belakang siku tangan kanannya. Mengepalkan tinju dan memasang kuda-kuda, tanpa ragu ia langsung menghajar perempuan itu dengan sangat keras. Saat kepalan tangan mendarat di perutnya, tekanan udara di belakang siku memberikan daya dengan sangat kencang dan menambah tenaga pukulan.
Tubuh rapuh perempuan itu langsung terpental, berputar beberapa kali di udara dan jatuh dalam posisi yang salah sampai tangan kanannya patah. Perempuan itu memuntahkan darah, napasnya terengah-engah dan matanya mulai memerah karena aliran darah yang naik ke otak. Gemetar dalam kesakitan, meringkuk dan berkali-kali batuk darah. Meski begitu, ia tidak langsung mati karena memang pukulan yang dilancarkan Odo bukanlah untuk membunuhnya.
Pemuda itu berjalan mendekat, berjongkok di depan perempuan itu dan membalik tubuhnya supaya terbaring menghadap ke atas. Mengulurkan tangannya ke perut yang sebelumnya ia pukul, Odo menggunakan sihir pemulihan untuk memperbaiki organ-organ perempuan itu yang rusak. Itu pulih dengan sangat cepat, membuat perempuan rambut ungu tersebut kebingungan.
“Kenapa ... engkau menyembuhkan—? Ugh!”
Odo mengangkat tangannya ke atas, mengepalkan dan langsung memukul perut perempuan itu tanpa mendengarkan perkataannya. Pemuda itu menyembuhkan hanya supaya bisa menyiksanya, mengulangi tindakan itu berkali-kali sampai dirinya puas.
Menyembuhkan, memukul perut sampai organ dalamnya rusak, lalu disembuhkan kembali, dipukul lagi, disembuhkan, dan terus sampai berkali-kali. Waktu berlalu dan perempuan rambut ungu tersebut mulai terbiasa dengan rasa sakit. Tak melihat ekspresi yang memuaskan dari perempuan itu, Odo berhenti mengepalkan tangannya dan mendongak ke atas.
Langit sudah benar-benar gelap dan ia tidak menyangka akan sampai malam menyiksa perempuan yang terbaring di tanah becek tersebut. Sekilas tersenyum ringan, ia menarik rambut perempuan itu dan menyeretnya di tanah. Tubuh lemas yang tak bisa melawan, kesadaran pudar yang dibiarkan tanpa bisa pingsan. Tanpa memberi belas kasihan sedikit pun, Odo membawa perempuan itu masuk ke dalam semak-semak dan pergi ke dalam hutan.
Sampai pada tempat dengan pepohonan di sekitarnya, Odo berhenti menjambak rambut perempuan itu. Ia berbalik, lalu langsung menendang keras perutnya sampai perempuan tersebut terpental dan membentur pohon. Tubuh rapuh perempuan itu sampai pada batasnya, membuat kesadarannya melayang dan pingsan.
Tak membiarkan begitu saja, pemuda itu berjalan mendekat dan membuka paksa mulut sang perempuan. Menyatukan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya, Odo memasukkannya ke dalam mulut perempuan itu dan menggunakan Aitisal Almaelumat untuk memanipulasi langsung informasinya.
Seketika kedua mata Putri Ulla terbuka lebar, dengan sensasi rasa sakit luar biasa yang dengan cepat berubah menjadi kenikmatan yang membuatnya gila. Ia jatuh terbaring, meringkuk kejang-kejang dengan cairan kental berwarna kuning bening keluar dari mulutnya. Kondisi dimana kesakitan berbanding lurus dengan kenikmatan, membuat kesadaran perempuan itu seakan melayang-layang dan semakin kuat dalam kegilaan.
Dengan sorot mata kosong dan tubuh gemetar tak karuan, perempuan itu mengulurkan tangan kirinya dan memegang kaki Odo. Mengangkat wajah yang berlinang air mata, dalam kegilaan ia mengelis, “Lagi .... Tolong ... hajar diriku lagi! Tolong siksa aku lagi! Hajar aku di perut! Kumohon! Lanjutkan! Kenapa diam saja?! Kumohon ....”
Odo menyeringai lebar mendengar itu, begitu menikmatinya dan merasa terpuaskan dari dalam. Tak memedulikannya, ia berdiri dan mulai mengangkat kaki untuk menginjak kepala perempuan itu. Tetapi, tiba-tiba dalam kepalanya suara menggema, “Sudah cukup, Odo!” Kakinya terhenti tepat sebelum meremukkan kepala perempuan itu.
Menurunkannya kaki ke tanah, pemuda rambut hitam tersebut menghela napas ringan dan mulai memejamkan mata. Dengan cepat ia mengerti kalau emosi yang telah dirinya terima kembali dari Seliari membuatnya seperti itu, sebuah rasa bangga pada diri sendiri dan memandang rendah kehidupan orang lain.
“Akh, sialan .... Ini terjadi lagi.”
Odo melangkah mundur, menutup wajah dengan kedua tangan. Sekilas tubuhnya gemetar, merasa takut pada dirinya sendiri. Itu bagaikan sesuatu yang berbisik dari dalam jiwa, mengatakan kepada Odo kalau memang itulah wujudnya yang sebenarnya. Kejam tanpa ampun, menikmati kegilaan dan penuh dengan hal menyimpang.
Berhenti menutup wajah dan melihat ke arah perempuan yang terlihat seperti kelebihan dosis candu, Odo kembali menarik napas dalam-dalam. “Terima kasih, Seliari .... Kau menyelamatkanku. Kalau tidak, bisa-bisa aku mengacaukannya,” gumamnya pelan.
Sekilas pemuda itu terdiam dalam keheningan. Udara hutan yang lembab setelah hujan, tanah becek yang dirinya injak terasa basah, dan tiupan angin dingin mulai mengusiknya. Sekali menarik napas panjang, pemuda itu berkata, “Bisa tolong kau ambil alih ini sebentar? Pulihkan dia dan tanyakan beberapa hal kalau sudah bangun, aku ingin menyelaraskan sesuatu dulu sebentar ....”
“Eh?! Tu— Odo?”
Pemuda rambut hitam itu langsung menyerahkan kontrol tubuhnya kepada sang Putri Naga di dalam dirinya. Kornea mata pemuda itu berubah memerah, pupilnya menjadi seperti reptil dan auranya berubah seketika. Tiba-tiba kesadarannya dinaikkan ke permukaan, Seliari yang mengambil alih tubuh Odo sekilas memasang ekspresi resah.
“Huh, kamu memang seenaknya ....”
Dengan sedikit tidak suka dengan tindakan Odo, Seliari pada akhirnya mematuhi permintaan tersebut. Menyentuh tubuh perempuan rambut ungu yang mental dan tubuhnya rusak, ia mulai menggunakan Aitisal Almaelumat dan memperbaiki informasi dalam tubuhnya supaya pulih. Layaknya Odo dengan bebas menggunakan kekuatan Seliari, ia juga bisa dengan mudah menggunakan sihir dan kekuatan khusus pemuda itu selama mendapat izin.
.
.
.
.
Waktu berlalu cukup lama, antara setengah sampai satu jam. Dalam waktu tersebut, Seliari yang mengendalikan tubuh Odo selesai menyembuhkan perempuan rambut ungu tersebut. Tangan yang patah telah dipulihkan, luka memar sembuh, dan dosis cairan yang memiliki sifat candu telah sepenuhnya disingkirkan.
Ia menyandarkan perempuan itu ke salah satu pohon oak yang ada, menatap datar ke arahnya dan meresa heran. Meski Seliari bisa menggunakan Aitisal Almaelumat, namun bukan berarti dirinya bisa menguasainya dengan sempurna layaknya saat Odo menggunakannya.
Merasa cemas karena perempuan itu tidak bangun-bangun meski tubuhnya telah dipulihkan sepenuhnya dan efek pembalik kenikmatan dihilangkan, Seliari berkata, “Odo? Kamu sudah selesai? Kok manusia ini tak bangun-bangun? Diriku rasa dia sudah rusak sepenuhnya ....”
“Sebentar lagi,” suara Odo menggema di dalam kepalanya.
“Kamu sedang apa memangnya?”
“Berpikir sebentar. Aku ingin menyusun beberapa rencana dulu.”
“Hmm ....”
Menunggu Odo menyelesaikan urusannya di Alam Jiwa, Seliari berjalan ke arah perempuan rambut ungu yang bersandar pada pohon tersebut. Dari wajahnya, perempuan yang tak sadarkan diri itu sangat mirip dengan para anak-anak Korwa. Mengingat esensi apa sebenarnya makhluk-makhluk seperti itu, ia bergumam, “Begitu, ya. Jadi ini yang dimaksud salinan. Tapi, rasanya ada yang sedikit berbeda.”
Tiba-tiba suara Odo terdengar, “Oke, aku sudah selesai .... Bisa ganti sekarang?”
Kornea mata raga Odo kembali membiru, auranya berubah lagi dan kontrol sepenuhnya kembali kepadanya. Segera menatap ke arah perempuan rambut ungu di hadapannya, ia memasang tatapan datar dan memastikan kalau Seliari memang tidak bisa menggunakan Aitisal Almaelumat dengan benar.
“Dia malah main hapus informasi. Paling tidak buat informasi cadangannya dulu sebelum mengubahnya ....”
Odo meletakkan telapak tangan kanannya ke kening perempuan itu, memanipulasi informasi dan memulihkan kondisi tubuhnya ke beberapa jam lalu. Selesai melakukan proses tersebut, kedua mata Putri Ulla langsung terbuka lebar dan segera menjauh saat tahu Odo berada di hadapannya. Ketakutan sengaja ditinggalkan dalam raga perempuan itu, untuk membuat Odo lebih mudah saat mengajukan pertanyaan.
“Yo, bagaimana kondisimu?”
Odo menjentikkan jari, menciptakan bola cahaya yang melayang di sekitarnya dengan sihir untuk penerang di malam hari. Melihat wajah pemuda itu dengan jelas, perempuan rambut ungu tersebut kembali merasakan emosi aneh dalam benaknya. Bagi Or’iama yang sedang menguasai tubuh Putri Ulla, perasaan semacam itu sangatlah asing. Namun, bukan berarti ia tidak memahaminya.
“Ini ... rasa cinta pada pandangan pertama? Diriku ini ...? Merasakan perasaan manusiawi seperti itu?” benak perempuan dengan sorot mata merah tersebut. Wajahnya sekilas memerah, terlihat enggan untuk menatap langsung pemuda di hadapannya.
Melihat ekspresi tersebut, Odo langsung memahaminya. Semua makhluk yang menggunakan Korwa sebagai basisnya pasti akan mengemban perasaan seperti itu, layaknya seorang anak kecil berbakti yang merasa sangat bahagia saat bertemu orang tuanya yang terpisah dalam waktu lama.
Berdiri di hadapan perempuan itu dan mengulurkan tangan, dengan senyum Odo bertanya, “Apa kau tahu Korwa?”
Perempuan itu terdiam tanpa menjawab, menunjukkan ekspresi tak tahu-menahu soal hal tersebut. Dari hal itu, Odo menyimpulkan kalau memang perempuan di hadapannya itu sedikit berbeda dengan para Korwa lain. Sekilas memalingkan pandangan, ia kembali menatap dan berkata, “Rambutmu indah, ya .... Apa itu bawaan? Ibumu juga memiliki warna rambut seperti itu?”
Seakan tenggelam dalam pengaruh karisma Odo, sorot mata perempuan itu sekilas terlihat kosong dan menjawab, “Iya .... Sejak awal rambutku memang berwarna seperti ini. Meski sebelum diriku mengambil tubuh putriku, diriku juga memiliki rambut ungu. Rhea pernah berkata kalau diriku lahir dari seseorang yang sangat penting sekitar 500 tahun yang lalu.”
Dari jawaban tersebut, Odo segera mengerti kalau perempuan di hadapannya memang Korwa namun memiliki keunikan dari yang lainnya. Ia hampir sama dengan Canna Miteres yang bergerak independen dan memiliki kehendak sendiri. Namun ada perbedaan besar di dalam hal itu, perempuan di hadapan Odo tersebut sama sekali tidak mengetahui apa itu Korwa atau tujuan yang didambakan makhluk-makhluk dengan basis tersebut.
Odo merasa sedikit muak dengan urusan yang menyangkut makhluk-makhluk seperti mereka. Saat tangannya diraih oleh perempuan itu dan membantunya berdiri, Odo menatap datar dan berkata, “Aku akan langsung ke intinya. Kalau tujuanmu menyerang kota hanya untuk menelitiku dan mencari kebenaran yang kau harapkan ..., layanilah aku.”
“Eh?” Perempuan itu terkejut, terlihat bingung dan mulai kembali takut karena Odo bisa dengan mudah menebak keinginannya.
Melepaskan tangan perempuan itu, Odo menatap tajam dan kembali menegaskan, “Jadilah budakku, jangan bantah perkataanku dan lakukan semua perintahku tanpa banyak tanya.”
“A-Apa yang dirimu katakan?!” Perempuan rambut ungu itu gemetar, tatapan Odo sama sekali tidak menunjukkan belas kasihan. Mutlak, tak bisa dibantah layaknya seorang penguasa tunggal. Dalam karisma tatapan tersebut, perempuan itu dengan gemetar berkata, “Engkau bergurau, ‘kan? Apa-apaan ... syarat itu?”
“Kau pikir aku bercanda?” Odo memegang pundak perempuan itu, mendekatkan mulutnya ke telinga dan berbisik, “Setelah menyerang kota tempatku berada dan memerintah para Elf itu menggunakan sihir nuklir, kau pikir aku akan memaafkanmu?”
Odo menjauh, melangkah mundur dan mulai memasang senyum gelap. Dalam detik itu juga, sang perempuan menyadarinya. Sebuah entitas yang dapat mengubah dunia memang seperti itu, begitu mutlak tanpa pandang bulu dan selalu memandang dari tempat tinggi. Saat menatap mata pemuda tersebut, Putri Ulla merasa ubun-ubunnya seperti ditekan telapak tangan yang amat besar sampai tak bisa mengangkat wajah.
Menggertakkan gigi dan berusaha melawan tekanan tersebut, ia dengan lantang membantah, “Tetap saja permintaanmu itu tak masuk akal! Menjadi budak ... terlalu berlebihan. Kalau memenuhi beberapa permintaanmu diriku ini tak keberatan, diriku memang telah melakukan kesalahan besar karena mencari masalah denganmu.”
“Beberapa ...?” Odo menyeringai, mengangkat tangannya dari pundak perempuan itu dan mulai merendahkan, “Huh! Kau sadar posisimu? Memangnya kau berhak memilih? Dengar ini, jalang ....” Odo mencekik leher perempuan itu dan menahannya ke batang pohon. Mengangkat tubuhnya ke atas sampai ia meronta-ronta sesak napas, pemuda itu berkata, “Nyawamu, nyawa putrimu yang sedang dalam masa pemulihan itu, semua yang kau miliki sekarang berada di tanganku. Kalau aku mau, bisa saja sekarang juga memanipulasi kepribadianmu dan menjadikanmu budakku sepenuhnya. Satu-satunya alasanku tidak melakukan itu karena diriku masih memiliki secuil belas kasih pada makhluk imitasi sepertimu! Paham?”
“Ba-Baiklah .... Diriku paham .... Ugh!”
Odo menurunkan perempuan itu dan melepaskannya. Ia langsung lemas dan batuk-batuk, bersandar pada pohon dan menatap pemuda rambut hitam itu dengan wajah pucat pasi. Anehnya, Jiwa Or’iama dalam raga Putri Ulla sama sekali tak merasa tidak keberatan soal permintaan semacam itu. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa kalau memang dirinya hidup selama ini hanya untuk bertemu dengan Odo Luke dan melayaninya.
Meski tidak seperti para Korwa pada umumnya, dengan jelas faktor tersebut dimiliki Or’iama. Sebuah hasrat ingin dekat dengan sosok yang sebangsanya sebut Ayahanda.
“Aku tak punya banyak waktu, ayo kita pergi ke kapal milikmu!”
“Tak punya ... banyak waktu?” Perempuan itu bangun dengan tubuh lemas.
“Ya!” Odo berbalik, sedikit mendongak ke atas untuk memastikan arah dan berkata, “Alasanku masih bisa menggunakan sihir sekarang adalah karena distorsi masih tercipta di langit. Kalau itu menghilang, kekuatanku akan berkurang drastis dan tak bisa lagi menggunakan sihir untuk beberapa hari .... Kalau itu terjadi, para Elf itu bisa-bisa terjebak lebih lama lagi di Realm itu.”
“Para Elf ...?” Kedua mata perempuan rambut ungu itu segera terbuka lebar, mendekat dan dengan berharap bertanya, “Mereka masih hidup?!”
“Ya, tentu saja.” Odo melirik kecil ke arahnya, lalu dengan nada tak peduli menjawab, “Aku hanya mengirim mereka ke dimensi lain. Mereka masih hidup .... Aku tidak menjamin mental mereka masih utuh, sih.”
\==================================================
Catatan :
Gak banyak yang bisa disampaikan, jadi ....
See you next time!
Jangan lupa vote, komen, dan share!