Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 60 : Aswad 7 of 15 “Un/To See” (Part 03)



««»»


Malam yang mendatangi kota pesisir kali ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Meski awan gelap telah menghilang dari langit dan bintang-bintang bersinar terang dalam bentang tirai hitam, kecemasan orang-orang yang telah melihatnya membuat kota tersebut tetap ramai meski waktu hampir menunjuk tengah malam.


Tengkorak raksasa dengan wujud mirip dengan Raja Iblis Kuno — Rumor tersebut tersebar dalam hitungan jam, dari mulut Fiola ke para prajurit dan penjaga kota, bahkan hingga sampai ke telinga penduduk kecil dan para pelacur di distrik dekat pelabuhan.


Obor-obor menyala di sepanjang jalan utama, perapian tidak dimatikan dan cerobong-cerobong mengepulkan asap sebagai tanda para penghuninya masih belum tidur meski telah memasuki waktu sepertiga malam kedua. Para orang dewasa berjaga di luar bersama para prajurit dan penjaga, dari daerah pelabuhan sampai gerbang utama terlihat titik-titik cahaya obor serta lentera yang dibawa mereka.


Beberapa jam setelah kejadian tadi sore, Lisiathus Mylta — Pengganti Walikota tersebut kembali ke kota Mylta bersama rombongannya sesudah menyelesaikan urusannya tentang pemindahan pemukiman Klista dan perjanjian politik dengan Walikota Rockfield, Baron Oma Stein. Mendengar kabar akan kemunculan sosok yang mirip dengan Raja Iblis Kuno, putri tunggal Baron Argo Mylta tersebut memerintahkan para prajurit untuk bersiaga sampai mendapat informasi pasti.


Pada distrik perniagaan, beberapa orang penting kota berkumpul di depan toko Ordoxi Nigrum. Dari pihak Serikat Dagang Lorian, Aprilo Nimpio dan Wicead Richard sebagai perwakilan datang untuk mendapat penjelasan dari kejadian tadi sore. Sedangkan dari pihak Religius Kota, Pendeta Siska Inkara dan Imam Andreass Rein datang sendiri sebagai perwakilan pihak mereka. Tidak hanya itu, dari Distrik Rumah Bordil, sang Madam Theodora Mascal juga datang ditemani beberapa pelacur terbaik dari tempatnya dengan alasan sama seperti orang-orang penting yang ada di tempat tersebut.


Sebagai perwakilan pihak yang dipanggil langsung oleh Lady Mavis, Lisiathus Mylta berdiri gemetar di depan bangunan toko tiga lantai tersebut. Ia datang bersama dengan Wakil Walikota, Wiskel Porka. Namun karena beberapa alasan, yang berdiri tepat di depan bangunan hanyalah perempuan rambut merah yang sebenarnya tidak terlalu paham apa yang sebenarnya telah terjadi di kota.


Orang-orang yang membawa lentera dan obor berkumpul di sekitarnya, menjaga jarak beberapa meter dan saling bergumam satu sama lain dalam kepentingan mereka masing-masing. Dalam kerumunan, samar-samar terdengar suara yang mencemooh Walikota Pengganti tersebut.


“Berakhir sudah .... Padahal kota hampir dihancurkan, tapi sebagai pemimpin dia malah tidak ada di tempat.”


“Tuan Argo terlalu memanjakannya. Meski dia putri tunggal, bagaimana mungkin posisi pemimpin kota diserahkan kepada gadis setengah matang seperti itu.”


“Kau lihat tadi Lady sangat marah, ‘kan? Aku pertama kalinya melihat Lady semarah itu.”


“Hmm, katanya putranya menghilang saat tengkorak raksasa muncul di langit.”


“Apa kita selamat karena Pembunuh Naga itu?”


“Entahlah .... Tapi, melihat ekspresi Lady, kemungkinan besar hal buruk telah terjadi pada Tuan Muda. Kalau keluarga Luke kehilangan pewaris sahnya, kemungkinan besar semua asetnya akan dialihkan ke keluarga Rein lagi.”


“Aku lihat-lihat tadi di dalam juga ada putra sulung keluarga Rein itu. Dia pernah duel dengan Tuan Odo di barak, ada juga yang bilang kalau mereka masih bermusuhan dan saling menusuk satu sama lain dari belakang.”


“Jadi, Tuan Muda kita hilang karena ulah putra sulung keluarga Rein itu?”


“Entahlah ....”


“Kalau benar Tuan Muda telah tiada, itu sungguh sangat sungguh disayangkan. Padahal jujur aku sendiri sedikit berharap pada Tuan Muda. Saat melihatnya duel di barak, sosoknya sangat mirip dengan Ayahnya, Lord Dart.”


Di tengah suara ramai mereka, pintu toko terbuka dan orang yang memanggil Lisiathus Mylta melangkah keluar bersama pelayan setianya, Fiola Shieal. Mavis terlihat anggun dengan gaun putih yang dirangkap rompi panjang hijau toska yang dikencangkan tali singel. Dengan sepasang sepatu kayu di kakinya, ia melangkah keluar dan langsung menatap tajam ke arah Lisiathus.


Beberapa orang dari perusahaan Ordoxi Nigrum di dalam bangunan toko melongok keluar, sedikit cemas mengingat beberapa waktu lalu Mavis terlihat begitu marah dan terus menangis setelah tahu Odo tidak bisa ditemukan di mana-mana. Elulu yang juga berada di dalam toko sekilas memalingkan pandangan, ingin memberitahu kepada Penyihir Cahaya bawa putranya baik-baik saja. Namun karena larangan yang Odo sampaikan kepada dirinya beberapa waktu lalu, perempuan yang mengenakan seragam pelayan itu hanya bisa terdiam di dekat pintu.


Elulu melirik ke arah Arca yang juga berada di dalam toko, perempuan rambut cokelat kepang tunggal tersebut ingin kembali memastikan apa yang sebelumnya telah disampaikan. Melihat pemuda dari keluarga Rein tersebut memegang buku catatan kecil dengan sampul putih, benak Elulu langsung terasa plong.


Fiola—Huli Jing yang memakai gaun cokelat sederhana di belakang Mavis mendekatkan mulut ke telinganya. Lalu sembari melirik ke arah Lisia di depan, perempuan rambut cokelat kehitaman itu berbisik, “Nyonya, perempuan di depan sana itu adalah Walikota Penggantinya. Putri tunggal Tuan Argo, Lisiathus Mylta.”


Tidak memedulikan perkataan Fiola, wanita rambut pirang itu terus berjalan ke arah Lisiathus dan berdiri di hadapannya. Sosok dengan kecantikan yang tak luntur oleh waktu, perwujudan dari sebuah mahakarya keindahan — Wanita yang menyandang gelar bangsawan Marchioness tersebut bagaikan sosok yang begitu mulia di mata setiap orang yang melihatnya, membuat semua orang yang berkumpul di tempat tersebut secara insting menunduk hormat karena keagungannya. Karisma itu mempengaruhi semua orang tanpa terkecuali, dari para pelacur sampai imam sekaligus.


Hal tersebut juga berlaku bagi Lisiathus, perempuan rambut merah yang mengenakan pakaian formal berupa seragam militer hitam tersebut segera berlutut di hadapan sang Marchioness. Menundukkan wajah dengan gemetar, keringat dingin mulai bercucuran saat mendengar suara Mavis.


“Meski hanya sementara, engkau paham tanggung jawab dan kewajibanmu sebagai pemimpin kota ini, bukan?”


Lisia gemetar, tak berani bangun ataupun mengangkat wajahnya. Di bawah langit malam yang terang dipenuhi bintang, perempuan rambut merah itu hanya bisa pasrah tanpa bisa mengungkapkan alasannya. Ia sempat mengangkat wajah dan membuka mulut untuk memberi penjelasan. Namun saat melihat wajah Mavis yang terlihat begitu menyangkak hati, seketika Lisia gemetar dan kembali menutup mulutnya dengan wajah tertunduk.


“Engkau tahu, ini memang terdengar seperti diriku hanya menyalahkanmu. Namun ketahuilah, karena putraku terus berurusan dengan kota ini, ia sepenuhnya lenyap dari dunia ini dan pergi ke ranah itu ....”


Lisia terperangah dan langsung mengangkat wajahnya yang memucat. Ia telah mendengar kalau hal buruk menimpa Odo Luke, namun dirinya sama sekali tidak tahu apa itu. Segera berdiri dan berjalan mendekat, dengan gemetar perempuan rambut merah tersebut bertanya, “Tuanku, Marchioness Mavis .... Memangnya apa yang telah terjadi pada Tuan Odo?”


“Ia lenyap ....” Mavis menyipitkan tatapannya, menggertakkan gigi dan dengan murka berkata, “Odo—Putraku menggunakan tingkat lanjutan dari manifestasi malaikat dan sepenuhnya berubah menjadi makhluk dimensi tingkat tinggi! Sekarang ... ia tidak ada di dunia ini, bahkan diriku ragu putraku masih hidup ....”


Melangkah mundur, Lisia menutup mulutnya dan semakin memucat. Menatap dengan mata berkaca-kaca, perempuan rambut merah tersebut membuka telapak tangan ke depan dan bertanya, “Ka-Kalau begitu, berarti masih ada kemungkinan Tuan Odo masih hidup, ‘kan?


“Susunan kepribadian rapuh yang dijadikan fondasi kekuatan sebesar itu, engkau pikir ada lidi yang kuat dijadikan fondasi bangunan dari batu bata dan semen kapur?”


Itu bukanlah hanya penyesalan karena tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai Walikota Pengganti, namun karena rasa sedih atas kehilangan salah satu orang yang memberikan pengaruh besar pada hidupnya. “Tidak mungkin .... Kenapa hal seperti ini ...? Padahal aku ingin menunjukkan sesuatu yang pantas dibanggakan padanya? Tapi kenapa ... dia malah,” benak Lisia dalam tangis senyapnya.


Sebagai seorang ibu, perasaan Mavis mulai bercampur aduk antara amarah dan bingung melihat perempuan di hadapannya itu menangis. Wanita rambut pirang tersebut melangkah mundur sampai terhenti saat menabrak Fiola di belakang. Untuk seorang Saint yang bisa menilai ketulusan seseorang, Mavis dengan jelas tahu kalau air mata Lisia itu bukanlah kebohongan.


Fiola memegang kedua sisi pundak majikannya tersebut, lalu dengan lirih berbisik, “Ada apa Nyonya?”


“Apa-apaan ini? Kenapa semuanya selalu seenaknya saja ...? Kenapa selalu saja diriku terus menerus mengambil keputusan yang salah ...?”


Dari mata yang sudah memerah karena telau lama menangis, air mata kembali mengalir. Mavis menutup wajah dengan telapak tangan kanan, menahan suara tangisnya di depan umum dan berusaha membendung air mata. Namun tetap saja, rasa sedih yang kembali naik tidak bisa dihentikan.


Sebelumnya dalam benak Mavis hanya ingin melampiaskan amarahnya pada perempuan rambut merah tersebut. Ingin mencaci maki, mengumpat, dan menyerapah untuk menghapuskan kesedihannya. Tetapi saat tahu Lisia bukanlah orang yang hanya memanfaatkan Odo untuk kepentingannya sendiri, Mavis merasa sangat hina.


Berbanding terbalik dengan ketulusan perempuan itu, orang-orang yang berkumpul di sekitar mereka malah bergumam dan mulai mencemooh. Mementingkan diri sendiri, terus menjatuhkan, tidak ada harga diri dan hanya bisa bicara, sebagian besar orang-orang yang berkumpul  tidak ada yang berkabung meski telah mendengar apa yang terjadi pada Odo.


Fiola mengangkat tangannya dari kedua sisi pundak Mavis. Berjalan ke samping majikannya tersebut, Huli Jing itu berkata, “Nyonya .... Untuk putusan hukumannya, sebaiknya anda serahkan saja kepada Shieal atau pejabat di sini. Sekarang anda masih berduka ....”


Lisia yang mendengar itu segera mengusap air matanya, kembali bangun dan dengan menggeligis bertanya, “Huku ... man?”


Fiola menatap tajam perempuan rambut merah itu. Berjalan mendekat ke arahnya mewakili sang majikan, Huli Jing rambut cokelat kehitaman itu berkata, “Karena keteledoranmu sebagai pemimpin kota Mylta, keluarga Luke kehilangan satu-satunya ahli warisnya.” Fiola mengerutkan keningnya, memancarkan aura sihirnya dan mengintimidasi sampai Lisia tak bisa mengatakan apa-apa. “Meski tahu keberadaan Tuan Odo sangat penting, engkau sama sekali tidak mencoba menjauh atau memberikan keamanan untuknya! Bukan hanya itu, engkau malah sering memanfaatkannya untuk kepentinganmu sendiri!” lanjutnya dengan tegas.


Lisia benar-benar tidak bisa melawan balik perkataan tersebut, hanya gemetar dan menundukkan kepalanya. Suara ramai orang-orang yang berkumpul semakin keras, sama sekali tidak ada yang membela dan terang-terangan terus mencemooh perempuan itu. Kebanyakan yang bicara adalah dari Pihak Pemerintah, yang memang beberapa dari mereka ada yang tidak suka Lisia menjabat menjadi pemimpin sementara karena Argo Mylta sedang sakit parah.


Salah satu dari dua orang dari Serikat Dagang Lorian menyeringai gelap dan merasa bisa mendapat keuntungan dari hal tersebut. Aprilo Nimpio dan Wicead Richard tidak ikut mencela di antara keramaian, mereka hanya diam dan memikirkan bisnis setelah nantinya pemerintah kota mengalami pergantian kepemimpinan. Mereka memang sempat kecewa karena Odo Luke telah tiada, namun bagi pembisnis hal tersebut tidaklah terlalu penting lagi.


Wicead menepuk pundak rekannya, lalu mendekatkan dan berbisik, “Bagaimana menurutmu, Tuan Aprilo? Kita memang kehilangan kesempatan untuk membuat koneksi dengan keluarga Luke, tapi setelah keluarga Mylta lengser kemungkinan besar kota akan diserahkan ke Rein sebagai pengurus utama aset-aset negeri, ‘kan?”


“Hmm ....” Sorot Aprilo terlihat sedikit kosong, seakan tidak ada hasrat untuk mengambil keuntungan yang ada. Setelah menghela napas ringan ia menjawab, “Kita lakukan dengan cara kita. Kalau Rein memimpin, suap tidak lagi masuk dalam opsi kita. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah menanamkan pasak lebih dalam lagi selama termin perpindahan itu.”


Berdiri tak jauh dari kedua orang dari Serikat Dagang itu, Siska dan Andreass mendengar hal tersebut dengan cukup jelas. Karena mereka berdua mengenakan pakaian biasa dan berbaur dengan orang-orang, entah itu Aprilo ataupun Wicead, keduanya tidak ada yang sadar akan keberadaan mereka.


“Para pedagang dari dulu memang tak pernah berubah,” gumam Andreass dengan kesal.


Berbeda dengan iman tersebut, Siska masih terlihat tidak percaya kalau Odo Luke telah tiada. Rasa sakit menghujam dalam benaknya, namun air mata tak bisa keluar dan hatinya terasa begitu kosong. Sembari meletakkan telapak tangan ke depan dada Siska berkata, “Tidak mungkin. Ini pasti sebuah kesalahan .... Tak mungkin Tuan Odo telah tiada.”


Andreass yang melihat ekspresinya sempat terkejut, lalu ia dengan lirih berkata, “Siska, kau ....”


Pada sudut lain di mana orang-orang berkumpul, para pelacur terlihat paling cemas saat mendengar kabar tersebut. Satu-satunya secerah harapan untuk mereka bisa keluar dari kehidupan orang-orang terbuang adalah Odo Luke. Madam Theodora Mascal menggertakkan giginya dengan kesal, merasa cemas pada masa depan orang-orangnya saat nanti sistem pemerintahan berubah.


“Padahal dia satu-satunya orang dari kelas atas yang peduli pada kami,” gumam Madam distrik pelacur tersebut. Melirik tajam ke arah Wakil Walikota, Wiskel Porka, perempuan rambut hitam sanggul tersebut sekilas dipenuhi kebencian. “Lagi-lagi pasti diriku akan berurusan dengan bajingan itu,” ucapnya lirih.


“Madam, bagaimana nasib kita ke depannya? Kalau sistem pemerintahan kota diatur oleh Rein ..., pasti mereka tidak akan membiarkan keberadaan distrik tempat tinggal kita,” ucap salah satu pelacur pada Theodora.


“Entahlah, kita hanya bisa berharap keajaiban terjadi. Di tengah zaman tidak pasti seperti ini, badai memang datang silih berganti.”


Semua orang memiliki pemikiran masing-masing untuk perubahan yang akan datang setelah pergantian kekuasaan nanti. Mavis yang samar-samar mendengar ucapan mereka merasa kesal, seakan mereka semua hanya menggunakan Odo untuk kepentingan mereka saja. Menarik napas dalam-dalam, dengan cepat wanita rambut pirang tersebut paham kalau seperti itulah cara kalangan atas dipandang. Mereka yang berada di kasta atas tidak ada yang memberikan belas kasih, tidak akan mendapat belasungkawa dari kalangan bawah.


Padahal dasarnya, seorang pemimpin hanyalah kacung dari orang-orang dengan kepentingan yang ada di bawahnya.


Saat orang-orang di depan toko menyimpulkan bahwa Odo telah tiada dan mulai memilih langkah yang harus mereka ambil ke depannya, Arca dan Elulu yang tahu kalau Odo masih hidup hanya bisa melongok dari pintu dengan ekspresi cemas. Mereka benar-benar kehilangan pilihan untuk mengungkapkan fakta tersebut, saling menatap satu sama lain dan merasa bersalah pada orang-orang di luar.


“Tuan Arca, anda sudah mengaktifkan The Ritman Library, ‘kan?” Elulu dengan cemas bertanya.


Melirik ke arah perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut, dengan sedikit menaikkan volume Arca berkata, “Dari tadi aku mengaktifkannya! Kau yakin Odo akan segera datang, ‘kan?” Putra sulung keluarga Rein tersebut menatap cemas ke arah Mavis dan Fiola, ingin segera memberitahukan mereka kalau Odo masih hidup.


Elulu mulai meragukan apa yang dirinya tahu, ia melirik cemas ke dalam bangunan toko lalu melihat keluarga Matius dan Demi-human yang duduk tegang pada meja dekat pintu. Mereka juga tidak tahu kalau sebenarnya Odo masih hidup, membuat orang-orang yang hidupnya secara penuh bergantung pada putra tunggal keluarga Luke tersebut dipenuhi kecemasan.


Elulu kembali menatap ke arah Arca, lalu dengan gelisah berkata, “Ta-Tadi ia bilang akan segera kembali ..., yang pasti Tuan Odo sekarang masih hidup. Kita hanya bisa menunggunya di sini dan berharap segera datang sebelum semakin kacau.”