
۞۞۞
Rombongan Keluarga Kerajaan Felixia dan para bangsawan melanjutkan perjalanan. Rute yang mereka ambil dari Ibukota menuju wilayah Luke sedikit berbeda dengan jalur perdagangan yang baru saja dibuka. Rute tersebut melewati jalan yang pada salah satu sisinya terdapat tebing, lalu di sisi lain adalah jurang yang terjal.
Itu berbatasan langsung dengan Hutan Pando yang ada terletak di bawah jurang. Meski pada musim semi, daun pepohonan di hutan tersebut berwarna kekuningan seperti pada saat musim gugur. Terpapar sinar matahari pagi, pepohonan tersebut berubah menjadi keemasan dan terlihat terang di antara pegunungan.
Nanti setelah rombongan dari Ibukota Millia tersebut melewati rute pintas, mereka barulah akan masuk ke dalam jalur yang biasa digunakan dalam perdagangan. Rute tersebut mengemat waktu sampai dua hari.
Dari tempat transit sebelumnya, jika tidak ada kendala mereka bisa sampai ke Mansion kediaman Luke besok pada siang harinya. Melewati jalur tebing dengan permukaan jalan bebatuan karst yang keras, rombongan tersebut memacu alat transportasi mereka dengan kecepatan sedang.
Pada barisan paling depan diisi oleh kereta-kereta kuda prajurit elite dan para bangsawan, sedangkan barisan paling belakang ditempati oleh gerobak-gerobak besar berisi barang-barang untuk keperluan pertunangan. Di antara kedua itu, kereta keluarga kerajaan melaju ditarik oleh dua ekor Naga Bumi ⸻ Drake.
Di dalam kereta Drake, Arteria duduk berhadapan dengan Raja Gaiel dan berada di sebelah sang Pangeran. Bagian dalam kereta didominasi warna biru tua dan pernik keemasan yang mengkilap pada bagian pintu, sedangkan pada tempat duduk memiliki ukiran-ukiran lambang kerajaan Felixia. Pada langit-langitnya, sebuah simbol dari negeri Matrilineal tersebut terukir paling mencolok.
Ukiran seorang wanita yang matanya ditutup oleh kain, tangan kanan membawa timbangan dan tangan kiri memegang sebilah pedang. Itu bukanlah lambang pengadilan atau semacamnya, melainkan sebuah gambaran jelas tentang sejarah Tiga Keluarga Utama yang dikenal sebagai pendiri kerajaan Felixia. Perwujudan dari Dewi yang diyakini oleh para penduduk negeri yang sumber kekuasaannya dari seorang wanita.
Di antara ketiga anggota keluarga kerajaan Felixia, pria yang bukan bagian dari mereka terlihat terpaksa duduk di sebelah sang Raja. Dart Luke ⸻ Pria tua dengan putih uban dan diikat kuncir tersebut sedikit terganggu dengan permintaan sang Raja. Sekilas ia membunyikan lidah, terlihat kesal karena dipaksa duduk di tempat yang terkesan tak cocok untuknya yang bukan merupakan anggota Keluarga Kerajaan.
“Kenapa aku juga harus di sini, kalau ada apa-apa di depan bagaimana?” Dart melirik dingin, kembali membunyikan lidah dan mengeluh, “Kau tak membiarkanku pulang dulu untuk penjagaan, bukan?”
Pria tua itu segera menatap keluar kereta meski apa yang terlihat hanya dinding tebing. Meletakkan siku ke atas kosen jendela yang terbuka menyangga kepala dan kembali membunyikan lidah.
“Cobalah percaya sedikit dengan kemampuan prajurit kita. Meski mereka didikan setelah masa Perang Besar, diriku bisa jamin mereka tak kalah kuat dengan generasi sebelumnya.” Raja Gaiel melirik kecil. Sembari bersandar pada tempat duduk empuk dari bahan wol, penguasa tua itu kembali berkata, “Lagi pula, bukannya engkau juga sudah pensiun? Kemampuanmu sudah mulai berkarat, ‘kan?”
“Huh, bisa juga kau menyindir?” Dart sedikit terusik saat kemampuannya disinggung. Menoleh dan menyangga kepala dengan punggung tangan, pria tua itu menatap tajam sembari berkata, “Padahal yang membuatku pensiun dan berkarat itu kau sendiri.”
Melihat kedua pria tua tersebut berbincang seakan tak akur, Ryan sekilas merasa heran mereka itu sebenarnya akrab atau saling tak suka. Pangeran menghela napas kecil dan kembali menatap ke arah adiknya.
Arteria sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada mereka yang sedang berdebat. Perempuan rambut biru yang duduk di depan sang Raja itu menghadapkan wajahnya keluar kereta, lalu memasang senyum kecil dan mulai bersenandung kecil.
Kuning keemasan Hutan Pando membentang luas sampai sisi lain Pegunungan Perbatasan. Pada beberapa titik terdapat danau dan sungai, ada juga bukit-bukit batu yang masih sedikit tertutup kabut. Meski tak bisa melihat semua itu dengan normal, Arteria bisa dengan jelas melihat pancaran-pancaran kehidupan dari semua makhluk di bawah sana.
Sejenak menarik napas dalam-dalam, Tuan Putri menghembuskan napas lega karena bisa keluar dari istana dan bepergian seperti sekarang. “Indah sekali …. Arteria tak tahu kalau di luar istana banyak sekali hal indah seperti ini. Hijau murni, biru berkilau dan abu-abu polos. Semuanya terlihat indah,” gumamnya seraya tersenyum lepas.
Perkataan tersebut membuat sang Raja dan Dart berhenti berdebat. Kedua pria itu sekilas memasang wajah cemas bercampur sedih, paham kalau pandangan semacam itu pasti akan hancur kelak di masa depan saat melihat hal-hal buruk dan menjijikkan dunia.
Hal serupa juga dirasakan oleh Pangeran Ryan. Alisnya turun, wajah sedih tampak dan ia sekilas merapatkan mulut dengan kesal. Bagi anak yang telah dididik dan diberi pelatihan ilmu politik sejak dini, Pangeran sangat paham kalau hal seperti keindahan dunia hanyalah bisa dilihat oleh orang-orang yang tak tahu-menahu soal keburukan dunia ⸻ Keindahan hanyalah untuk mereka yang belum mengenal kekejaman dunia.
Samar-samar Arteria sadar akan atmosfer yang ada di dalam kereta. Ia sesekali menoleh ke arah ayahnya yang mulai diam, ingin menyampaikan sesuatu namun terlihat bingung harus berkata apa. Saat merasa ditatap balik oleh sang Raja, Tuan Putri Arteria perlahan kembali memalingkan pandangan dan pura-pura sedang mengamati hutan.
Melihat betapa polosnya putrinya tersebut, sekali lagi Raja Gaiel diserang rasa bersalah. Sebagai seorang Ayah, menggunakan putrinya sebagai alat politik sangatlah membuatnya sakit. Setiap kali melihat senyuman Arteria, dadanya seakan-akan ditusuk dengan padang.
Pangeran Ryan merasa kalau ayahnya tersebut memang sangat canggung pada putrinya sendiri. Ingin mencairkan suasana, pemuda rambut merah tersebut menepuk bahu Arteria dan berkata, “Adinda, memangnya kamu sedang mengamati apa di luar? Apa seindah itu warna para Roh yang engkau lihat di hutan?”
Tuan Putri menoleh, sedikit memasang wajah cemberut dan mengoreksi, “Yang punya jiwa bukan hanya para Roh, tumbuhan dan binatang juga punya.” Arteria mengubah posisi duduk dan menghadap kakaknya tersebut. Mengacungkan jari telunjuknya ke depan, ia dengan semangat menjelaskan, “Kakanda tahu, bahkan jiwa pun sebenarnya ada di dalam tanah dan aliran sungai. Itu beriringan dengan para Roh. Semua itu bergerak mengikuti Aliran Kehidupan dengan hilir Siklus Reinkarnasi.”
Pangeran Ryan hanya memasang wajah bingung harus membalas apa. Bagi dirinya yang cenderung lebih mendalami sihir dari kerajaan Ungea, ia memang sukar paham tentang hal semacam Roh atau Jiwa yang dimaksud Arteria. Tak ingin membiarkan pembicaraan dengan adiknya kering, Ryan kembali bertanya, “Apa warna jiwa mereka lebih menarik daripada yang sering kau temui di istana?”
“Eng ….”
Arteria kembali menoleh keluar jendela. Membuka mata yang telah kehilangan cahaya, Tuan Putri berambut biru tersebut bisa dengan jelas melihat dunia yang berbeda dengan apa yang orang-orang lihat. Di tengah lautan kegelapan pekat, titik-titik pancaran cahaya dari para jiwa menjadi hal yang bisa dirinya lihat.
Melihat adiknya terdiam tanpa menjawab dengan jelas, Pangeran Ryan mendekatkan posisi duduk dan kembali bertanya, “Ada apa?”
“Mereka … membuat Arteria iri. Berbeda dengan para Roh di istana, mereka semua terlihat bebas dan sangat ceria. Di danau sebelumnya pun begitu, mereka semua tak terikat sesuatu dan benar-benar bebas. Arteria sungguh iri pada mereka.”
“Terikat? Terikat apa memangnya?”
“Terikat kewajiban dan tugas.”
Jawaban itu terdengar begitu berat, layaknya menyinggung semua orang yang ada di dalam tempat tersebut. Kewajiban dan Tugas, kedua hal tersebut memang juga mengikat mereka dengan erat dan selalu menghantui sampai akhir hayat nanti. Bahkan untuk Ryan sendiri yang masih muda, ia telah dibebani ekspektasi orang-orang di sekitarnya untuk melaksanakan tugas dan kewajiban yang harus diembannya.
Di tengah suasana yang semakin canggung, Arteria menunjuk keluar dan dengan lantang berteriak, “I-Itu apa?! Kakanda! Kakanda! Itu terlihat seperti apa? Apa ada raksasa terbang?!” Arteria menarik-narik Ryan, meminta kakaknya itu melihat apa yang ada di langit.
“Eh? Apa para burung bisa tumbuh sebesar itu, ya? Apa ekosistem dunia ini sudah rusak sampai-sampai ada burung sebesar itu?” ucapnya penuh rasa ragu.
Sang Raja yang duduk berhadapan dengan Arteria juga ikut tertarik, melihat burung yang ditunjuk putrinya tersebut. Dalam sekali lihat, Raja Gaiel seketika tahu kalau burung tersebut merupakan salah satu jenis Shikigami yang sering dimiliki oleh para petinggi militer kekaisaran.
“Kenapa Elang Putih terbang di wilayah ini?”
Mendengar apa yang digumamkan sang Raja, dengan cepat Dart melirik dan instingnya memperingatkan sesuatu kepadanya. Telapak tangan pria tua tersebut mulai berkeringat, sedikit gemetar dan bulu kuduknya mulai berdiri. Menarik napas dan segera memperluas persepsi dengan salah satu teknik pedang keluarga Luke, ia menutup mata birunya dan mendeteksi semua hawa kehidupan dalam jangkauan lebih dari lima kilometer.
“Yang Mulia, tolong jangan keluar dari kereta⸻‼”
Diikuti suara benturan sangat keras dari arah depan rombongan, kereta Drake tiba-tiba berhenti. Ryan sempat terdorong ke depan sampai keningnya membentuk lutut Dart dengan cukup keras, sedangkan Arteria yang jatuh ke depan ditangkap sang Raja.
Setelah mengangkat Pangeran Ryan dengan sangat mudah mengembalikannya ke tempat duduk, Dart segera membuka pintu kereta dan berkata, “Aku akan memeriksanya. Kau siapkan sihirmu untuk jaga-jaga …”
“Hati-hati Dart, kemungkinan itu dari kekaisaran. Tadi aku lihat ada Elang Putih melintas, itu salah satu Shikigami yang biasa digunakan orang-orang mereka.”
“Aku paham.”
Dart mengangguk setelah mendengar peringatan sang Raja. Tanpa membawa satu pun senjata, pria tua tersebut segera kembali menutup pintu dan pergi ke depan. Melihat sosok yang dikaguminya kemungkinan besar akan bertarung, Ryan sekilas ingin ikut untuk melihatnya.
Namun saat hendak membuka pintu, Raja Gaiel memegang pundak putranya tersebut dan berkata, “Jangan kejar dia, Ryan. Kau hanya akan menjadi penggangu, Dart bukan orang yang bisa melindungi orang lain saat sedang bertarung.”
Perkataan ayahnya tersebut bukanlah sebuah peringatan belaka, dalam persepsi sang Raja memang pria dari keluarga Luke tersebut bukanlah orang yang bisa melindungi seseorang saat sedang bertarung. Pada masa Perang Besar dan sebelum dirinya menjadi seorang Raja, Gaie telah membuktikan hal itu berkali-kali saat memerintahkan Dart dalam tugas pengawalan.
.
.
.
.
Sampai di bagian depan rombongan, Dart melihat beberapa prajurit elite yang telah berbaris dan bersiap di sana untuk melindungi para bangsawan di kereta. Mereka mengenakan zirah lamina berwarna keperakan, membawa perisai dan tombak. Ada juga yang membawa tongkat sihir dan pedang sebagai variasi para prajurit elite tersebut.
Bersama beberapa prajurit yang ikut bersamanya dari belakang, Dart Luke segera mengaktifkan Inti Sihirnya dan melakukan teknik pemadatan Mana untuk menciptakan pedang di tangan kanannya.
“Jelaskan situasi!” perintah Dart.
Para prajurit berlapis zirah segera membuka barisan untuk Dart. Salah satu dari mereka menurunkan senjata dan menghampiri Kepala Keluarga Luke tersebut, lalu memberi hormat dan berkata, “Lapor, Tuanku! Sepertinya ini bukan penyergapan negeri lain atau para bandit!”
“Lalu apa?”
“Itu …. Dia .…”
Prajurit tersebut bingung harus menjelaskan apa. Menatap datar ke depan dan tak menunggu penjelasan, sang Ahli Pedang segera berjalan melewati barisan prajurit dan memastikan langsung siapa yang berani menghadang rombongan para bangsawan kerajaan Felixia.
Dart seketika terdiam membisu, apa yang ada di depan sana adalah orang yang sudah tidak berbentuk lagi dan terlihat seperti gumpalan daging dengan tulang-tulang yang remuk. Darahnya terpencar ke mana-mana, organ dalamnya benar-benar hancur dan kepalanya pecah. Dari bekas pada dinding tebing di salah satu sisi jalan, pria tua itu tahu kalau orang tersebut jatuh dari arah sebaliknya dan membentur dengan sangat keras sebelum tergeletak ke tengah jalan.
Orang naas tersebut terlihat seperti tomat matang yang jatuh ke lantai, pecah merah dan muncrat ke mana-mana. Namun saat Dart melihat orang tersebut bergerak dan masih hidup meski dalam kondisi seperti itu, seketika tubuhnya merinding.
Seakan waktu diputar kembali, darah dan daging yang terpencar ke mana-mana kembali ke satu titik dan membentuk ulang tubuhnya. Tangan, kaki, perut, dada, kepala, dan bahkan sampai rambut terbentuk kembali. Saat semuanya terkumpul, wujud seorang pemuda rambut hitam berdiri di sana. Pakaiannya sedikit compang-camping karena bukan merupakan anggota tubuhnya yang beregenerasi.
Berjongkok dan mengambil sarung tangannya yang tergeletak di jalan, pemuda rambut hitam itu bergumam, “Waduh, sebagai ganti kemampuan kalkulasi … jadi regenerasi meningkat pesat sampai seperti ini toh.” Pemuda itu berdiri tegak, menatap datar ke depan dan sembari mengenakan sarung tangan kanan ia kembali berkata, “Bukannya ini sudah sama saja abadi?”
“Huh!” Menatap ke depan dan sadar kalau dirinya jatuh di depan rombongan keluarga kerajaan Felixia, sorot mata pemuda itu seketika berubah datar dan mengeluh, “Tadi aku seharusnya aku sudah memperkirakan akan jatuh ke danau, tapi kenapa malah jatuh ke masalah ….”
Mata biru pemuda itu sekilas berubah hijau, memancarkan aura aneh yang membuat Dart semakin siaga. Meningkatkan tekanan sihir, Ahli Pedang langsung memancarkan aura membunuh yang sangat kuat ke arah pemuda itu. Sekilas tubuh pemuda tersebut goyah sampai mengambil satu langkah ke belakang, namun tidak tumbang dan malah terlihat santai.
Menghela napas bersama ekspresi malas dan paham kalau pria tua yang di depannya adalah Dart Luke, pemuda rambut hitam itu bertepuk tangan satu kali untuk membuat suasana tegang sedikit memudar. Pemuda tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Odo Luke, setelah dirinya terjun dari Elang Putih tanpa sengaja jatuh ke depan rombongan Keluarga Kerajaan Felixia dan mendapat kesalahpahaman seperti sekarang.
Mendapat tatapan waspada dari ayahnya sendiri, sekilas kening Odo mengerut dan dalam benak merasa sedikit heran. “Uwah, ayahku sendiri tak mengenaliku. Mau bagaimana lagi sih, dia juga tak mungkin mengira kalau putranya bisa tumbuh secepat ini dan terlihat seperti remaja dalam beberapa bulan saja,” benak pemuda itu sembari mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.