
Di antara pepohonan cemara, Odo memacu kereta kudanya secepat mungkin sampai Vil, Nanra, dan Canna yang naik di gerbong terguncang-guncang. Hasil kalkulasi yang pemuda itu dapat hampir semuanya adalah hal buruk, membuatnya semakin cemas dan benar-benar kacau benaknya. Keringat bercucuran, napas terengah-engah dan darah mengalir keluar dari hidungnya.
“Sialan! Sialan! Aku terlalu meremahkan masalah ini ...!”
Melewati jalan tak rata dan menanjak, Odo memaksa kedua ekor kuda yang menarik kereta kayu terus berlari. Tanpa memedulikan adaptasi ketinggian, tanpa memedulikan mereka yang naik di atas kereta, pemuda rambut hitam tersebut benar-benar terus memacu kendaraannya sampai benar-benar berada di dataran tinggi teritorial Rockfield.
“Tuan Odo ...!! Lihat di arah utara!” ucap Canna melongok keluar dari jendela kereta kuda.
“Hah?!”
Asap keluar dari arah yang ditunjuk ahli sihir tersebut. Menoleh dan sesaat terbelalak karena hal tersebut, seketika kalkulasi internal oleh Auto Senses memberitahu Odo kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada pemukiman Klista yang dirinya cemaskan. Menggertakkan gigi, Odo langsung menarik tali kemudi dan menghentikan kedua ekor kudanya setelah melewati tanjakan.
Canna kepalanya membentur dinding dalam kereta dengan cukup keras, langsung meringkuk kesakitan dengan kening memerah. Vil juga kena imbasnya, ia terlempar ke samping dan sampai menindihi Nanra di lantai kereta karena Odo tiba-tiba berhenti.
“Ke-Kenapa berhenti, Odo?” Vil segera bangun dan keluar dengan panik, begitu pula Nanra yang juga bingung dengan rasa cemas pemuda itu.
Tidak menjawab pertanyaannya, Odo segera turun dari tempat kusir dan mengambil pedang dengan pola bara merah dari Gelang Dimensi. Menaik napas dalam-dalam, pemuda itu memaksa struktur sihir yang belum matang untuk mengaktifkan Mana dari Inti Sihir. Darah mengalir dari pembuluh darahnya yang pecah, mengalir dari mata serta hidungnya, dan otot-otot mengencang kacau dengan paksa.
Melihat itu Vil dan Canna langsung turun dan hendak menghentikan Odo. “Apa yang kamu lakukan! Struktur sihirmu belum puli—!” Perkataan Vil terhenti saat melihat wajah murka Odo, tubuhnya gemetar melihat ekspresi mengerikan seperti itu nampak pada wajah pemuda yang selalu terlihat ramah tersebut.
“Vil!” bentak Odo. Melirik tajam, ia berkata. “Berapa lama kau bisa mempertahankan keberadaanmu kalau tak berada di dekatku!?”
“Eh? Itu ....”
“Berapa lama?!”
“Li-Lima menit ....”
“Tch!”
Odo segera menancapkan pedang ke tanah, segera melepas kedua sarung tangannya dan membuang itu ke tanah. Menarik napas dalam-dalam dan memanipulasi beberapa indranya untuk mengurangi rasa sakit, pemuda rambut hitam itu langsung *** telapak tangan kanannya sendiri sampai bunyi retak beberapa tulang terdengar. Memperkecil ujung tangannya secara paksa seperti itu, ia segera melepas Gelang Dimensi dan berbalik menghadap Roh Agung yang gemetaran.
“Kenakan ini! Jangan sampai benda ini jauh darimu! Gelang ini seharusnya bisa memperpanjang durasimu sampai setengah hari saat jauh dariku!”
“Eh? Ap—?”
“Aku harus pergi dulu! Jaga Nanra untukku! Dan juga, Canna! Jaga mereka berdua!”
Odo memegang pundak ahli sihir dari Miquator. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Odo segera berbalik dan langsung berancang-ancang. Otot kaki dipaksa, tubuh membungkuk dan ia langsung meloncat tinggi menggunakan sihir pelontar. Saat berada di udara, Odo membuat lima lapis lingkaran sihir pelontar, lalu langsung melesat ke sumber asap yang mengepul di dataran tinggi yang masih sedikit bersalju.
Darah bercecer dari tubuh pemuda itu saat pergi. menetes ke pipi Vil dan membuatnya gemetar ketakutan. Rasa cemas luar biasa seakan menusuk dadanya, ia merasa Odo akan benar-benar menghilang kalau ia pergi sendirian seperti itu.
Perempuan rambut hitam itu melangkah dan hendak mengejarnya. Namun saat gelang yang dirinya terima dari Odo memancarkan cahaya keunguan, dirinya sadar kalau benda itu benar-benar mempunyai sebagian kekuatan pemuda itu. Gelang Dimensi itu juga menyimpan struktur untuk mempertahankan bentuk fisik Vil di Dunia Nyata.
“Odo ..., apa yang sebarnya kamu lihat? Kenapa bisa kamu secemas itu hanya karena melihat asa—?”
Perkataan Vil terhenti, informasi tentang alasan Odo pergi tiba-tiba mengalir dalam kepalanya. Itu bersumber dari gelang yang dipegang Vil, membuat Roh Agung tersebut paham dan mengerti apa yang harus dilakukan.
Canna yang melihat pemuda itu pergi hanya memasang ekspresi datar, melirik kecil Roh Agung dan sedikit kesal karena sesuatu hal.
“A-Apa yang terjadi? Kenapa Odo pergi sendiri? Kepulan asap apa itu?” tanya Nanra bingung.
Vil tidak menjawab, begitu pula Canna. Mereka berdua paham apa yang Odo lakukan itu demi menyelamatkan sesuatu lagi, mereka mengerti itu meski tidak diberitahu secara langsung. Mengerti apa yang harus mereka lakukan, Vil dan Canna memilih untuk melakukan sesuatu daripada hanya diam diri.
“Ayo bantu Tuan Odo, Roh Agung!”
“Ya!”
Vil mengusap noda darah di pipi. Mereka berdua segera berbalik dengan tujuan pasti. Vil mengangkat tubuh Nanra tanpa menjelaskan apa-apa padanya, lalu membawa gadis kecil itu masuk ke dalam kereta kuda.
“A-Apa yang kau lakukan? Kenapa Odo pergi?” tanya Nanra.
Tidak memedulikan itu, Vil menatap Canna dan berkata, “Ayo!”
“Ya!”
Canna segera naik ke tempat kusir. Meski dirinya masih gemetar dan merasa tidak percaya diri bisa mengendarai kereta kuda, ia memaksakan diri dan tetap memacunya menuju ke tempat yang berbeda dari rute yang ada.
««»»
Odo melesat di udara dengan cepat menggunakan sihir pelontar secara beruntun. Tubuh yang semakin bobrok tidak dipedulikan, struktur yang masih belum terbentuk sempurna satu persatu mulai rusak dan aliran Mana membebani tubuhnya secara langsung. Darah berceceran, mengalir dari tubuh dan jatuh seperti hujan gerimis.
“Yang benar saja! Kenapa mereka melakukannya?! Bukannya A.I sialan itu sudah memerintah mereka untuk menunda perangnya sampai tahun depan!!!? Kena—!?”
Suara Odo terhenti dalam tenggorokkan dan takkan keluar menjadi pertanyaan, apa yang ia pertanyakan sudah terjawab jelas saat dirinya melihat kondisi pemukiman Klista tersebut.
Dari udara Odo melihatnya— Desa yang terakhir kali lihat penuh kedamaian itu menjadi lautan api. Mayat bergelimpangan, darah berceceran, dan rumah-rumah yang pernah dirinya lihat terbakar oleh kobaran merah terang. Dalam benaknya seketika muncul sebuah perasaan gelap, murka yang ada berubah menjadi kebencian kental.
“Kubunuh ... kalian semua ....”
Odo langsung turun dan mendarat dengan paksa. Kedua tulang kakinya retak, namun pemuda itu sama sekali tidak memedulikan itu dan langsung memaksa tubuh bangun. Auto Senses digunakan secara paksa mengakses Inti Sihir untuk memulihkan tubuh, namun pada saat yang sama itu juga merusak tubuhnya dengan pasti.
Darah mengalir dari pembuluh darah yang pecah, lalu struktur sihir cacat digunakan untuk menutup luka tersebut dengan cepat. Sebuah perputaran semacam itu terus dipaksa Odo dan membuatnya secara bertahap mengalami kerusakan yang tidak bisa diperbaiki.
Memungut sebuah belati di dekat sumur dengan tangan kiri, Odo membasahi senjata itu dengan darahnya sendiri. Menodongkan belati ke depan, ia lantang berkata, “Hariq Iliah : Auget Ignis!
Seakan mematuhi panggilan, kobaran api yang membakar rumah di hadapannya langsung melayang ke arah Odo dan menyelimuti belati beserta tangan kiri Odo. Udara di sekitar api tersebut mulai mengalami kristalisasi, lalu berubah menjadi Gauntlet bersisik merah yang menyatu dengan belati.
Menarik napas dalam-dalam dan mengurangi sirkulasi Mana Internal untuk menurunkan dampak pada tubuh, Odo berusaha menangkan diri dan tidak terbawa suasana. Memejamkan matanya sekilas, ia bergumam, “De ... lete!” Rasa ragu dan tak sudi menghapus amarah sekilas terasa, lalu hilang dengan cepat saat struktur penghapus aktif.
Hatinya sangat tenang di hadapan kobaran api yang membakar pemukiman Klista. Mayat pria yang ada di dekat sumur atau perempuan yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berada tidak membuat Odo murka lagi. Kehampaan, sebuah keheningan yang amat sunyi mengisi benak dan kepalanya.
“Ini ... memang keteledoranku. Aku terlalu mempercayai pihak luar .... Benar, mereka pihak luar. Para sistem itu ... pihak luar yang hanya patuh pada sistem dengan otoritas yang lebih tinggi.”
Pemuda dengan belati api dan pedang berpola bara itu berjalan menuju kobaran. Semua api yang ada takkan bisa membakar tubuhnya, pakaiannya, atau bahkan rambutnya. Sosok berambut hitam tersebut adalah penguasa dari api, perwujudan dari inkarnasi sang Naga Hitam.
Di tengah langkah kakinya, suara-suara yang membuat hatinya gemetar terdengar — Seakan sebuah jarum yang menusuk balon, itu mengeruk masuk ke dalam kesunyian milik pemuda itu.
“To ... long ...!”
“Ak ..., siapa saja ....! Tolong anakku ...”
“Mama ....”
“Kakak ....”
Itu benar-benar membuat langkah kaki Odo terhenti dan amarah mulai melonjak. Memang para penduduk Klista tidak memiliki ikatan kuat dengannya. Namun bagi Odo yang sering menggunakan Spekulasi Persepsi, dirinya cukup mengenal mereka semua, sampai-sampai ia ingat hampir setengah nama penduduk Klista tersebut.
Odo terus berusaha menghapus emosi yang membuat pikirannya kacau. Namun setiap kali dihapus, itu kembali membara dan membara bagaikan api yang berkobar di atas lautan minyak. Menatap ke depan dan melihat salah satu orang yang menjadi biang keladi kekacauan, emosi tersebut langsung berkobar besar dalam benaknya.
Dia adalah salah satu bandit yang Odo cari-cari, Kolt Luis. Meski baru pertama kali bertemu salah satu pemimpi bandit tersebut, dirinya sangat tahu itu dengan jelas kalau pria yang merangkak di atas tanah tersebut adalah Kolt. Melihat kaki kanannya yang putus dengan luka yang bukan karena benda tajam atau bakar, Odo memastikan apa yang sedang terjadi dan siapa dalang yang membuat pemukiman Klista menjadi korban.
Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu lantang berteriak, “Kolt Luis ada di sini! Keluar kalian!!”
Pimpinan bandit berhenti merangkak, menoleh dengan panik dan matanya bertatapan dengan Odo. Tubuh pria berambut cepak tersebut seketika menggigil ketakutan melihat pemuda yang berdiri di tengah kobaran api itu. Kata makian yang hendak dikeluarkannya pun terbelenggu dalam tenggorokkan.
“Oi! Orangnya benar ada di sini!” ucap salah seorang tentara kerajaan Moloia.
Mendengar itu, Odo menoleh dingin dan menatap sinis. Kolt Luis kembali merangkak dan berusaha kabur. Menyadari itu, Odo melemparkan pedang miliknya ke arah kaki kiri Kolt dan memasaknya ke tanah.
“AKHH!!!”
Panas pedang dengan pola bara api itu membakar luka, membuat nyeri yang ada menjalar sampai ke seluruh tulang Kolt. Membuat salah satu pemimpin bandit itu tidak bisa bergerak karena kakinya terpasak rapi ke tanah.
“Siapa kau?! Kau bukan orang Klista sepertinya!”
Mendengar pertanyaan orang Moloia yang dilontarkan kepadanya, Odo hanya menatap datar dengan sorot mata dingin. Beberapa tentara Moloia telah mengepung, mereka mengenakan jubah kamuflase yang diubah fungsinya untuk anti api. Melihat memindah, Odo menyadari beberapa hal. Mereka berjumlah lima orang, dua di antara mereka membawa Red9 dan lainnya senapan lontak.
“Kalian, apa siap membayar konsekuensinya?” tanya Odo.
“Di sini kami yang bertanya!! Siapa kau! Kenapa kau ada di tempat ini?!”
Enam orang Moloia lainnya datang. Sebelum Odo siap, mereka telah mengepung dan menodongkan senjata yang pelatuknya siap ditarik kapan saja. Pemuda rambut hitam tersebut hanya menghela napas ringan, seakan tidak memedulikan pertanyaan mereka.
“Kalian bodoh sekali .... Membawa senjata seperti itu di tempat seperti ini,” gumam Odo.
Api amarah dalam benak seakan berubah menggelap. Odo berhenti menghapus emosi yang terus membara di dalam hatinya, membiarkan itu berkobar dan membakarnya dari dalam. Menatap dengan emosi kosong yang rusak, ia berkata, “Ah, sudahlah. Hancur saja kalian semua.”
Odo mengacungkan belatinya ke depan dan mulai menggunakan Hariq Iliah untuk memanipulasi api secara langsung. Itu bukanlah sihir murni dan tidak terlalu membebani struktur sihir, karena itu dirinya bisa langsung menyerap kobaran api di sekitar tempatnya dan mengusai itu dengan bebas.
Api melayang dan terserap masuk ke dalam tubuh pemuda itu, terlihat seperti benang-benang merah yang hidup dan masuk ke dalam dirinya. Menyadari keanehan itu, orang-orang Moloia langsung menarik pelatuk mereka dan—
Duarrk!!
Tiba-tiba senjata mereka meledak saat pelatuk ditarik. Jemari hancur, senjata terjatuh dan mereka meringkuk kesakitan. Ledakkan itu berasal dari mesiu yang ada pada senjata api mereka. Dengan memanipulasi suhu dan membuat percikkan, Odo mengutak-atik mekanisme pembakaran pada senjata api dan membuat senjata mereka meledak.
Para tentara yang membawa senapan lontak terluka parah, jemari mereka semuanya hancur karena daya letak dari jumlah mesiu pada selongsong cukup banyak.
“A-Apa yang terjadi .... Sialan! Kenapa senjatanya meledak?!”
“Nama kutahu! Itu pasti ulahnya!”
Menatap ke arah Odo, mereka langsung sadar apa yang sedang dilawan. Mereka yang berlutut dan kehilangan jemari menyadarinya, apa yang berdiri di hadapan mereka itu bukanlah manusia seutuhnya.
“Kalian, apa siap membayar konsekuensinya?” tanya Odo kembali.
Tidak mendengarkan perkataan Odo, salah seorang tentara Moloia yang sebelumnya membawa pistol Red9 segera mengambil belati dari kantong senjata di dadanya. Ia memegang belati dengan tangan kiri karena beberapa jemari tangan kanannya rusak.
“Memangnya kau siapa bicara seperti itu, ***!!”
Pria Moloia itu langsung menerjang ke arah Odo, lalu menusukkan senjatanya. Namun tanpa bisa melukai pemuda itu, mata belati meleleh karena panas dan hanya menjadi cairan kental saat menyentuh dadanya. Menyentuh tubuh Odo, seketika tangan pria itu terbakar dan api putih langsung menjalar ke seluruh tubuh.
“AKHHH!! APA IN—!!”
Tak butuh waktu lima detik, pria itu mati hangus. Api terus berkobar, dan saat ambruk tubuhnya menjadi abu sepenuhnya. Melihat apa yang terjadi, orang-orang Moloia lainnya gemetar dan menjaga jarak dari Odo.
“Kalian ... , apa siap membayar konsekuensin— Ugh!”
Odo muntah darah, konsentrasi kekuatan Hariq Iliah berkurang. Dinding panas tipis yang ada di sekitar tubuhnya mulai pudar. Pemuda itu mencapai batas, beberapa urat dan pembuluh darah yang rusak membuatnya tidak bisa berdiri tegak. Ambruk dan berlutut, pandangannya mulai pudar.
“Li-Lihat! Dia sedang terluka!”
“Pasti itu bayaran untuk sihir sekuat it— AKhh!!!”
Tubuh orang Moloia itu langsung terbakar, hangus dengan cepat dan hancur menjadi abu. Rasa percaya diri yang sekilas muncul langsung sirna saat mereka sadar pemuda itu bisa membakar tanpa kontak fisik.
“Apa .. apaan orang ini?! Padahal jubah ini bisa menahan panas sampai 1.500 fahrenheit! Kena—AAAAAKHh!!”
Satu lagi dari mereka terbakar hangus sampai menjadi abu. Odo bangun dengan tubuh sempoyongan, terlihat sangat rapuh dan sorot matanya begitu kosong. Ia seakan tidak hidup dan hanya seperti mayat yang bergerak.
Seorang perwira dengan senapan mesin ringan datang. Melihat rekan-rekannya gemetar ketakutan menghadapi satu orang pemuda, ia berkata, “A-Apa yang terjadi?! Kenapa kalian tidak membunuhnya!?”
“Tembak! Bunuh dia!” teriak rekan lainnya yang gemetar.
“Tch!”
Pria dengan senapan mesin ringan itu langsung mengangkat senjata, membidik dan memberondong Odo dengan Barreta 38a. “Memangnya apa yang terjadi, dasar tidak berguna!” ucap pria itu seraya menembakkan 30 peluru secara beruntun ke arah pemuda itu. Setelah tembakkan berhenti, semua orang yang melihatnya terbelalak.
Hampir semua tembakkan memang mengenai tubuh pemuda itu dan seharusnya melubanginya. Namun apa yang terjadi berbeda, seluruh peluru meleleh menjadi cairan kental berwarna merah karena suhu tinggi di sekitar tubuhnya. Itu menempel pada kemeja, lalu mengalir dan menetes jatuh ke tanah.
Menatap ke arah mereka, Odo tersenyum tipis dan berkata, “Berarti kalian siap dengan konsekuensinya, ‘kan?”
Itu membuat mereka menggigil, menyadari sesuatu yang mengerikan akan terjadi.
“Tembak! Tembak! Tembak!! Jangan biarkan dia mendekatimu!!”
Mereka yang masih memiliki senapan api langsung menghabiskan peluru, memberondong Odo dengan timah panas dan seraya melangkah mundur dengan gemetar. Itu semua tidak berguna, hanya akan meleleh karena suhu tinggi dan takkan bisa melukai Odo.
Salah satu di antara mereka melemparkan tabung kecil berisi bubuk mesiu. Duark!! Itu meledak cukup besar, membuat beberapa dari mereka terpelanting. Saat asap hasil ledakkan menghilang, Odo berdiri dengan tangan kanan terluka setelah menahan serangan tersebut.
“Dia terluka! Guna—!”
Sreeret! Duark!!!
Kilatan petir merah menyambar tabung mesiu milik salah seorang tentara Moloia dan langsung meledak, itu menghancurkan tubuhnya menjadi serpihan-serpihan daging. Ledakkan juga mementalkan orang-orang di dekatnya. Sebelum mereka sempat bangun, Odo langsung berlari ke salah satu tentara itu dan langsung menendang kepalanya.
Kretak!
Tulang leher langsung hancur, panas tinggi yang menjadi pelindung tipis di sekitar Odo langsung membakar kepala pria yang ditendangnya itu. Duark ...! Kepala meledak karena otaknya mendidih.
Seorang tentara menyerang Odo dari belakang dengan pisau tempur, tepat mengincar lehernya karena mengira bagian sendi tidak memiliki pelindung. Namun saat mata pisau menyentuh pemuda itu, logam langsung meleleh karena suhu tinggi.
Odo langsung menyikut wajah tentara itu. Suhu tinggi langsung terkirim ke dalam kepala tentara itu dan — Duark!! Kepalanya meledak dari dalam dan tubuhnya ambruk. Daging berceceran dan sebagian menempel ke pakaian Odo. Dengan cepat daging yang menempel itu berubah menjadi abu.