Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 66 : Aswad 13 of 15 “Eagerness” (Part 04)



۞۞۞


Angin yang menerbangkan rerumputan dan kelopak bunga musim semi di taman kediaman Luke. Mentari telah naik ke puncak tertinggi dan mulai turun, bersinar terang di langit biru cerah dengan taburan awan putih. Suasana tegang sedikit terasa bersama semua orang yang tinggal dan bekerja di tempat tersebut, mereka berkumpul di halaman depan untuk menyambut para tamu penting dari Ibukota.


Ketika kereta para bangsawan, kargo, dan gerobak masuk satu persatu melewati gerbang utama, hampir semua pelayan dan Shieal yang berdiri di sepanjang jalan taman menundukkan kepala mereka kepada kereta Drake milik Keluarga Kerajaan. Rombongan yang telah melakukan perjalanan panjang tersebut berhenti di depan Mansion ⸻ Pada jalan susunan batu di tengah taman bunga dan kebun herbal. Beberapa turun, lalu sebagian lainnya tetap berada di dalam alat transportasi mereka masing-masing.


Nyonya Rumah berdiri di teras depan ditemani pelayannya yang paling setia. Ia mengenakan gaun biru tua tanpa lengan dengan bagian pinggang ketat, serta pada kedua lengannya mengenakan sarung tangan panjang sampai melebihi siku dan sepatu hak tinggi pada kedua kaki. Seakan menunjukkan statusnya sebagai seorang penyihir, Mavis memakai topi kerucut hitam dan membawa tongkat sihir dengan ujung susunan kristal-kristal berbentuk Ortorombik.


Berdiri di sampingnya, Fiola tak seperti biasanya mengenakan gaun khas orang-orang Felixia dan tidak mengenakan kimono. Midi Dress cokelat dengan ikat pinggang kulit, pada bagian dada atas dan lengan panjang sampai bahu sedikit transparan. Pada ujung gaunnya terdapat tambahan renda, serta pada kedua kaki perempuan itu tak seperti biasanya pun ia mengenakan sepatu hak tinggi. Tentu saja kali ini ia juga menyembunyikan kesembilan ekornya dengan sihir transformasi.


Kedua perempuan itu berdiri menatap ke arah kereta Drake yang tepat terparkir di depan Mansion, menunggu para tamu yang ada di dalamnya keluar untuk disambut. Mavis berdiri tegak dan melihat para bangsawan lain yang telah turun, mengamati para utusan wilayah lain serta keluarga bangsawan penting di Kerajaan Felixia.


Melihat ada beberapa pemimpin wilayah ikut langsung dan tidak mengirim perwakilan, sekilas Mavis menarik napas ringan dan merasa sedikit resah. Mengingat putranya belum juga kembali meski telah mengirim tiga Shieal untuk menjemputnya beberapa jam lalu, Mavis sekilas merasa nantinya akan mendapat sindiran dari para bangsawan lain.


Namun sebenarnya bukan hal itu yang dirinya cemaskan, melainkan cara bagaimana menjelaskan situasi putranya kepada suaminya. Sebagai seorang ibu, Mavis sangat mengerti kalau Odo sekarang sangatlah berbeda dengan apa yang suaminya ketahui beberapa bulan lalu. Mengingat sifat Dart yang cenderung brutal saat berhadapan dengan para Iblis atau antek-anteknya, ia merasa menjelaskan itu lebih sulit daripada meladeni para bangsawan lain dalam hal politik.


Dari kereta Drake, sang Raja Turun dan menginjakkan kakinya di jalan. Tak lekas menghampiri Mavis yang menunggu di teras, pria tua itu mengulurkan kedua tangannya ke dalam kereta untuk membantu putrinya turun. Pada sisi lain kereta, Dart pun ikut turun bersama Pangeran Ryan.


Pada momen di mana mereka turun hampir bersamaan, Mavis bukannya fokus melihat ke arah Dart namun ia malah terkejut saat melihat sosok Tuan Putri Arteria yang turun bersama sang Raja. Sekilas dalam benak dirinya teringat dengan kondisi Odo, perubahan wujud fisik yang tak sesuai dengan usianya.


Meski dirinya tahu kabar tentang kondisi Tuan Putri Arteria dari surat yang dikirim Dart, namun tetap saja itu membuatnya terkejut. Fiola yang berdiri di sebelah Mavis juga merasakan hal yang sama, sekilas menajamkan tatapan dan berusaha melacak struktur sihir pada tubuh gadis remaja rambut biru tersebut.


“Sihir Roh dan Sihir Ilahi?” benak Fiola saat merasakan struktur tersebut pada tubuh Putri Arteria.


Merasa ada yang mengintip ke dalam dirinya, Tuan Putri Arteria lekas menatap datar ke arah Fiola. Tuan Putri memberikan senyum ramah kepada Huli Jing tersebut, lalu Fiola pun membalas dengan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.


“Ada apa, Putriku?” tanya sang Raja. Menghadap ke arah Arteria dan sedikit membungkuk untuk menyesuaikan tingg, pria tua yang rambutnya telah menguban itu menyeka remah kue yang tertinggal di bibir putrinya sembari berkata, “Apa kamu sedang tidak enak badan? Tadi juga tak biasanya kamu makan camilan …. Apa sudah lapar?”


Perempuan rambut biru panjang sepunggung itu menggelengkan kepala. “Arteria belum lapar kok, tadi hanya ingin mencoba camilan. Sayang sekali kalau sudah dibawa namun tidak dimakan,” ucapnya dengan ekspresi sedikit lelah.


Tidak terlalu memperhatikan sikap atau memikirkan status formalitas, Dart berjalan ke arah Mansion dan berkata, “Ayo, Gaiel! Kalau Tuan Putri memang lapar, kita bisa makan dulu di dalam. Lagi pula, kalau kita terus di sini mereka yang ada di belakang tak bisa masuk untuk istirahat.”


Mendengar suaminya sama sekali tidak menunjukkan rasa sopan, sekilas Mavis merasa semua formalitas yang telah disiapkan percuma. Menghela napas ringan, ia pun memberikan tatapan datar ke arah sang Ahli Pedang.


Saat Dart melihat ke depan, langkah kakinya terhenti saat tahu kalau istrinya sedikit kesal karena tingkahnya yang santai kepada sang Raja. Sekilas memalingkan pandangan dan menarik napas ringan dengan rasa sedikit takut dalam benak, pria tua yang tak bisa menang argumen dengan istrinya itu kembali berjalan ke arahnya.


“Tentu, diriku juga ingin segera mandi!” Raja Gaiel lekas menoleh ke arah Pangeran Ryan, lalu dengan senyuman hangat bertanya, “Apa engkau juga lapar, Putraku?”


“Tidak terlalu, Ayahanda. Saya tadi juga makan camilan yang dibawa Arteria,” jawab remaja rambut merah gelap tersebut.


Ryan sekilas menatap penasaran ke arah Mavis, terlihat heran karena wanita rambut pirang tersebut sama sekali tidak bertambah tua sejak terakhir kali bertemu dengannya beberapa tahun lalu. Bukan hanya itu, Mavis malah terlihat sedikit lebih muda ⸻ Wajah wanita tersebut bertambah cerah dan tidak pucat lagi karena penyakit.


Arteria menghampiri kakaknya, lalu dengan senyum tipis dan penasaran ia pun bertanya, “Ada apa, Kakanda? Kenapa malah menatap Tante Mavis seperti itu?”


“Tidak apa ….”


Tidak terlalu memedulikan tatapan Pangeran Ryan atau bagaimana cara Putri Arteria memanggilnya, Mavis terdiam menatap Dart di hadapannya. Ia terlihat bingung dalam benak harus menjelaskan apa, namun pada saat yang sama ia juga merasa sedikit kesal karena tingkah suaminya sendiri.


“Ke-Kenapa kau menatap seperti itu, sayangku.”


Melihat wajah cemas Dart, Mavis hanya menarik napas dan memalingkan pandangan. “Tak ada apa-apa,” ucapnya dengan nada kesal.


Dart malah semakin cemas, saat berkata seperti itu pasti telah terjadi sesuatu dan hal tersebut pasti karena kesalahannya. Naik ke teras dan memegang kedua sisi bahu Mavis, pria tua tersebut kembali bertanya, “Ayolah, sayangku …. Tak apa, katakan saja. Apa kau marah karena tadi aku berkata tak sopan kepada si Gaiel? Padahal sudah menyuruh untuk mempersiapkan acara formal namun diriku malah seperti tadi?”


“Tch!” Mavis membunyikan lidah karena Dart bisa menebaknya dengan tepat. Memalingkan wajah dan menyingkirkan tangan suaminya dengan kasar, wanita itu dengan ketus berkata, “Entahlah ….”


Dart seketika paham kalau memang itu yang telah membuat Mavis kesal. Tinggal dengan lama dengan Mavis membuat pria tua itu paham hal semacam itu, lalu dirinya juga mengerti kalau sudah seperti itu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu suasana hati istrinya membaik.


Di tengah pembicaraan suami-istri tersebut, Arteria berjalan mendekat dan tanpa naik ke teras ia berdiri menatap sang Penyihir Cahaya. Sekilas semua orang di tempat itu mengira Arteria akan bertanya soal rasa penasaran Pangeran Ryan yang sedari tadi menatapi Mavis.


Namun saat gadis remaja itu naik dan meraih tangan kiri Mavis, ia menatap langsung mata Penyihir Cahaya dan malah bertanya, “Apa Tuan Odo juga sudah sampai di sini, Tante Mavis?”


Itu benar-benar membuat setiap orang yang mendengarnya heran, terutama terhadap susunan pertanyaan yang diajukan tersebut. Itu seakan-akan Tuan Putri Arteria telah mengenal Odo dan telah bertemu dengannya. Mavis paham ekspresi perempuan rambut biru itu terlihat tidak sedang mengada-ada ataupun bercanda, benar-benar murni bertanya ingin tahu di mana Odo sekarang.


Dart yang selama setengah hari terakhir perjalanan mendengarkan obrolan Putri Arteria dan keluarganya samar-samar paham apa yang dimaksudnya. Wajah Dart seketika pucat pasi, memikirkan kemungkinan yang dirinya dapat dari obrolan Arteria sebelum sampai ke kediaman Luke dan pertanyaan yang diajukannya tersebut.


“Tuan Putri, engkau masih membawa gurauan seperti itu?” Dart menghadap ke arah Arteria, berusaha menatap ringan namun berkeringat dingin mulai bercucuran. Seakan tak ingin menerima apa yang telah dirinya sadari, pria tua itu meragukan, “Mana mungkin putraku punya aura iblis seperti orang itu. Lagi pula, dia masih berusia 8 tahun dan baru akan 9 akhir pekan ini. Rupanya sangat berbeda ….”


“Iblis?” tanya Mavis heran. Ia lekas menoleh ke arah Dart, menatap tajam seakan meminta penjelasan lebih.


Raja Gaiel dan Pangeran Ryan berjalan ke arah Mansion, naik ke atas teras depan dan merasa kalau Dart juga punya masalah keluarga sama sepertinya. Pada waktu yang hampir bersamaan, kereta Drake mulai dipacu kembali ke halaman samping untuk diparkir ke gudang bersama alat transportasi lain yang digunakan para tamu.


Bangsawan, perwakilan, pendamping, serta Tetua mulai didatangi para pelayan kediaman Luke untuk diantar menuju kamar mereka selama berkunjung di kediaman Luke. Mereka tidak masuk melewati pintu utama, melainkan lorong di samping bangunan dan menuju ke bagian kamar-kamar tamu di dekat Aula.


Di antara para bangsawan tersebut, Thomas dan Calista tidak beranjak dari tempat dan berdiri menatap ke arah Raja dan lainnya yang berdiri di teras. Meski tidak bisa dengan jelas mendengar apa yang mereka bicarakan, namun dirinya paham apa yang sedang terjadi.


Saat salah satu pelayan keluarga Luke menawarkan pelayanan untuk mengantar mereka ke kamar yang telah disiapkan, mereka berdua menolak dan malah berjalan ke arah Dart dan yang lainnya.


Itu membuat semua orang yang mendengarnya menoleh ke arah Thomas, menatap terkejut karena itu terdengar seperti memang pemuda yang sempat mereka tangkap dalam perjalanan memang adalah Odo Luke. Sang Raja berbalik ke arah Thomas Rein, menatap tak percaya dan segera menghampirinya.


“Mengapa engkau yakin kalau dia Odo Luke, Tuan Thomas? Engkau tidak pernah bicara dengan pemuda itu, ‘kan?” tanya sang Raja.


Thomas tersentak dan memalingkan pandangan, dirinya kembali ingat apa yang Odo minta untuk tidak memberitahukan identitasnya. “Ti-Tidak, Yang Mulia …. Itu hanya lanturan saya, Anda tidak perlu memikirkannya,” ucap Thomas seraya menggandeng istrinya dan hendak turun dari teras untuk bergabung bersama para tamu bangsawan lain.


Namun, Lady Calista tidak mau bergerak dari tempatnya meski telah diajak pergi suaminya yang terlihat panik. Sang Viscountess tersebut menatap lurus ke arah Penyihir Cahaya, diam membisu dan gemetar dalam rasa takut. Tepat setelah Thomas mengajukan pertanyaannya kepada Tuan Putri, Mavis langsung memberikan tekanan kuat kepadanya.


“Jelaskan kepadaku, Calista ….”


Satu perintah Mavis itu membuat wanita rambut hitam panjang sepunggung tersebut menundukkan kepala, lalu dengan patuh berkata, “Ka-Kata suamiku, pemuda yang memiliki aura iblis itu adalah Putra Nyonya, Tuan Odo Luke …. Saya tidak tahu mengapa bisa ia terlihat seperti itu dan bisa berada di sana. Maafkan saya Guru Besar, hanya itu yang saya tahu.”


“Jangan tatap, Calista ….”


Melihat Calista masih begitu patuh kepada Penyihir Cahaya, dengan segera Thomas menutup kedua mata istrinya dan menghalau kontak mata mereka. Kepala Keluarga Rein tersebut benar-benar memucat, merasa telah mengambil tindakan salah dengan mengajukan pertanyaan tersebut tepat di depan mereka.


“Dart, jelaskan apa maksudnya?” Mavis dengan segera menatap ke arah suaminya. Dengan sorot mata penuh amarah ia mengerutkan kening dan tegas bertanya, “Menangkap seorang pemuda dengan aura iblis sebelum ke sini? Siapa yang kau tangkap! Jelaskan padaku sekarang juga!”


“Kenapa kau marah seperti itu, sayangku? Dia hanya salah satu antek-antek iblis. Mungkin setelah Raja Iblis Kuno binasa, para makhluk sepertinya keluar dari persembunyian dan ingin mengacau lagi⸻”


Perkataan Dart terhenti, benar-benar membisu dan terlihat bingung melihat ekspresi istrinya. Tatapan Mavis benar-benar berubah datar, mimik wajahnya dipenuhi amarah gelap. Mavis membunyikan lidah dengan rasa kecewa, lalu menggertakkan gigi dan menarik napas geram.


Lekas melirik ke arah sang Raja, tanpa memikirkan status atau formalitas wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Dia terlihat seperti apa, Raja Gaiel? Pemuda itu terlihat seperti apa? Apa yang terjadi sampai-sampai kalian harus menangkapnya?”


Raja Gaiel sekilas gemetar mendapat tatapan tersebut. Meski aura sihir tidak terpancar sang Penyihir Cahaya, namun intimidasi yang terasa seperti dari tingkat dimensi lain dan membuat bulu kuduknya berdiri.


Mengambil langkah ke belakang sembari menggandeng Arteria supaya menjauh dan melepaskan tangan Mavis, lalu juga meraih tangan Ryan supaya bisa melindunginya. Secara insting, Raja Gaiel merasa kalau Mavis bisa saja murka dan melukai semua orang di sekitarnya tanpa memikirkan konsekuensi.


Putri Arteria sama sekali tidak terlihat takut dan melepaskan gandengan ayahnya. Ia lekas melangkah ke depan dan berkata, “Tante, Arteria lihat ia pemuda rambut hitam dengan mata biru. Memakai kemeja putih, lalu mengenakan satu sarung tangan hitam pada salah satu tangannya ….”


Mendengar itu Mavis hanya terdiam, merasa sedikit heran karena seharusnya Tuan Putri Arteria itu tidak bisa melihat menurut kabar yang beredar. Menatap mata Tuan Putri yang sedikit berbeda, Mavis paham kalau penglihatannya sedikit berbeda dari kebanyakan orang.


Dalam benak Mavis memastikan kalau pemuda yang disebut memang adalah Odo. Dari semua orang yang dirinya kenal, hanya putranya yang suka berpenampilan seperti itu. Fiola yang sekilas bisa membaca pikiran sempat terkejut dengan apa yang sedang dipikirkan Mavis. Huli Jing tersebut dengan segera memegang tangan kiri majikannya tersebut sebelum sempat diangkat.


“Nyonya, saya mohon tenanglah …. Kita dengar dulu penjelasan Tuan Dart,” ucap Fiola sembari lekas memegang tongkat sihir Mavis dan menahannya.


Merasakan nafsu membunuh yang melonjak tinggi dan dengan jelas diarahkan kepadanya, Dart terlihat bingung. Ia tak berani melangkah mendekat ataupun mundur, penuh rasa bimbang harus melakukan apa untuk situasi yang ada sekarang.


“Dart, apa yang kau lakukan pada pemuda itu?”


Mavis dengan paksa melepaskan tangan kiri dan tongkatnya dari genggaman Fiola. Wanita rambut pirang tersebut membuka telapaknya ke depan, mengaktifkan sihirnya dan benar-benar berniat menyerang.


Rune mengitari pergelangannya, mengumpulkan Mana dari dalam dan mengubah Ether dari luar menjadi energi. “Kau menangkapnya, ‘kan? Apa kau menyiksanya? Kau melukainya?” tanya sang Penyihir Cahaya dengan tatapan gelap.


“Ta-Tante tak perlu cemas!” Arteria terlihat tak menyangka Mavis akan marah sampai seperti itu, aura wanita tersebut dengan jelas memberitahukannya hal tersebut. Ia melangkah ke arah Mavis, namun Ryan segera meraih tangannya dan menariknya ke belakang. Sembari tetap memaksa mendekat, Putri menyampaikan, “Tuan Odo baik-baik saja! Meski ia ditebas Paman Dart, ia bisa pulih dengan cepat! Arteria yakin dia di sehat-sehat saja di luar sana ⸻”


“Tutup dulu mulutmu, Deity!” bentak Fiola.


“Ditebas?” Kedua mata Mavis terbuka lebar, melotot tajam ke arah Dart.


Sesuatu yang menahan pemikiran rasional Mavis benar-benar putus saat mendengar hal tersebut. Tanpa memikirkan konsekuensi yang ada nantinya, Penyihir Cahaya langsung menyerang Dart dengan sihir cahaya tingkat tinggi dari jarak dekat.


Pada momen sebelum energi bersuhu tinggi mengenai tubuhnya, Dart menciptakan perisai pemadatan Mana pada pergelangan tangan kanan dan menahan serangan tersebut. Tubuhnya terdorong keras ke belakang karena menerima serangan tanpa memasang kuda-kuda. Namun secara refleks, ia mengupah posisi perisai dan membuat energi padat yang ditembakkan berbelok ke atas dan menembus langit-langit teras dan berlubang.


Dart terpental sampai membentur salah satu pilar Mansion, terjatuh di lantai dan seketika sesak napas karena punggung terbentur keras tanpa perlindungan sama sekali. Pria tua itu tak bisa segera bangun, perisai yang dirinya ciptakan pun hancur dan tulang tangan kanannya retak karena menahan serangan tadi langsung tanpa persiapan.


Sebagian tamu yang belum masuk ke Mansion terhenti saat mendengar suara keras dan melihat kilatan cahaya melesat cepat ke udara. Mereka mulai menatap ke arah Raja dan orang-orang di teras depan, bertanya-tanya apa yang sedeng terjadi di sana.


“Kau menebas putramu sendiri, Dart?”


“Putra? Bicara apa kau, Mavis?”


Dart bangun sembari menahan sakit pada punggung. Pria tua itu tidak bisa memasang kuda-kuda, ia juga tak ingin menggunakan kekuatannya untuk menyerang orang yang dirinya cintai. “Odo, putra kita masih anak-anak! Bukan makhluk dengan aura iblis seperti pemuda yang dibicarakan mereka!” ucapnya dengan kukuh.


“Kau masih bicara seperti itu?”


Mavis melepas batasan sihirnya, menyalurkan Mana ke tongkat dan menggunakan kristal pada ujungnya untuk katalis. Dengan sorot mata penuh amarah, wanita itu menatap tajam suaminya. Sekilas Dart teringat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Mavis di medan perang, ketika itu ia juga memasang wajah yang sama. Penuh amarah karena orang-orang yang disayanginya dibunuh oleh anggota keluarga Luke.


Fiola lekas memegang tongkat Mavis, menyalurkan Mana dan menghalau sirkulasi energi pada sirkuit sihir yang diaktifkan. Dengan penuh rasa cemas Huli Jing tersebut meminta, “Nyonya, saya mohon …. Jangan di tempat seperti ini.”


“Fiola ….”


Hanya dengan lirikan tajam, Fiola langsung tersentak dan melepaskan tongkatnya.