
Melangkahkan kaki di dalam bangunan Kantor Pusat Pemerintahan Kota Mylta, Odo langsung dapat melihat beberapa pegawai yang masih bekerja di awal tahun. Dalam konsep pelayanan masyarakat, kantor seperti itu memang akan selalu diisi oleh pegawai meski tidak dalam kondisi membuka pelayanan dan harus dalam kondisi aktif menerima tamu sepanjang masa operasional harian.
Melihat memindai ruangan, terdapat beberapa dekorasi hiasan seperti tameng, pedang, zirah, dan beberapa hiasan lain yang menempel di dinding kayu ruang lobi bangunan tersebut. Terlihat juga ada beberapa baris bangku untuk menunggu, bagian resepsionis di dekat pintu masuk, serta dua buah tangga menuju lantai dua yang langsung dapat dilihat selekas masuk melalui pintu utama yang terbuat dari kayu mahoni dan dihiasi kaca hias berwarna utama biru.
Saat Odo mengamati bangunan tersebut, orang-orang yang berada di ruangan itu balik mengamatinya seakan melihat sesuatu yang aneh. Keberadaannya di tempat itu seakan sebuah fenomena langka, hampir semua orang yang berada di lobi melihat ke arahnya dan bahkan orang yang berada di lantai dua.
“Padahal awal tahun tapi ramai, ya .... Apa mereka tidak libur?” tanya Odo.
“Sistem kerja di tempat ini memakai Shift, Tuan Odo .... Karena kantor pusat tidak boleh kosong, maka harus ada pergantian jam kerja sehingga walau masa libur seperti ini juga masih ada yang masuk.”
Lisia berbalik melihat Odo, tersenyum ringan dan kembali berkata, “Tuan pasti pernah dengan Sistem Jam Kerja seperti itu, bukan?”
“Ya, itu salah satu sistem yang baru diterapkan Raja Gaiel beberapa tahun terakhir ini, bukan? Kalau memakai sistem itu, berarti pegawai di sini banyak, ya?”
Mendapat pertanyaan itu, Lisia tersentak dan langsung memalingkan pandangan. Menyadari ekspresi pada wajahnya, Odo langsung tahu kalau kantor tempatnya berdiri sekarang mengalami kendala pada masalah tenaga kerja.
Tidak membahas lebih lanjut soal itu, Odo berjalan mendekati Lisia seraya berkata, “Ngomong-omong, ruangan Nona di mana? Bukannya kita mau bicara empat mata?”
“Ya ... Hmm, lewat sini, Tuan Odo.”
Perempuan berambut merah itu berbalik, lalu berjalan ke salah satu tangga menuju lantai dua. Melihat sosoknya dari belakang, Odo sedikit menyipitkan matanya. Sekilas menggerakkan bola mata ke kanan dan kiri, anak itu melihat tajam ke beberapa pegawai yang dari tadi menatapi dirinya.
“Hmm, ternyata tidak hanya manusia yang bekerja di sini .... Apa Demi-human memang tidak masalah masuk ke ranah pemerintahan? Yah, di Mansion juga banyak,” benak anak itu. Ia melangkahkan kaki dan mengikuti Lisia ke lantai dua.
Tidak lama berjalan, mereka sampai di depan pintu ruangan Walikota yang sekarang dipakai oleh Lisia untuk sementara karena menggantikan ayahnya yang sakit. Membuka pintu jati dengan ukiran indah itu, Lisia berkata, “Silahkan masuk, Tuan Odo.”
Di dalam ruangan, Odo sempat terkejut karena apa yang ada di dalam tidak seperti yang diperkirakannya. Ruangan walikota itu memang terlihat mewah dengan dekorasi megah seperti lampu hias, lukisan, dan beberapa lemari kayu tua berharga tinggi, tetapi dalam hal kerapian itu sangat jauh dari kata sempurna untuk sebuah ruang kantor.
Beberapa kertas perkamen yang menumpuk diletakkan secara tidak teratur di lantai dekat meja, botol tinta kosong dibiarkan tergelatak di atas meja, dan beberapa hal lainnya yang tidak tertata rapi dapat terlihat dengan sangat jelas.
“Silahkan duduk, Tuan.”
Mendengar itu, alis Odo sedikit terangkat. “Sebelum itu, boleh aku bersihkan ruangan ini dulu? Paling tidak sampai ruang ini pantas disebut kantor,” ucapnya seraya menatap datar Lisia yang hendak duduk di sofa.
“Me-Memangnya separah itu?”
“Ya .... Apa nona tidak pernah melihat kondisi kantor lain?”
“Bukannya kebanyakan kantor kepala bagian seperti ini ..., banyak kertas-kertas dan sebagainya.”
“Banyak kertas memang, tapi tidak seperti ini .... Biarkan aku membereskannya.”
Odo berjalan ke depan meja tamu di tengah ruangan, lalu mengambil kertas perkamen yang tergelatak di atasnya. Membaca isinya, alis anak itu kembali berkedut. “Kenapa juga Surat Titah digeletakkan seperti ini? Memangnya lembaga ini ....” Sebelum selesai mengkritik dalam benak, anak itu menemukan beberapa surat penting lainnya yang memang tergelatak tidak beraturan.
“Nona ..., berikan saya waktu dua jam .... Boleh saya pinjam ruangan ini? Kalau anda tidak percaya dengan saya atau ada beberapa yang tidak boleh saya sentuh di ruang ini, anda bisa mengawasi saya ....”
Odo mulai bergerak cepat mengambil surat-surat penting yang bergelatakan, lalu menatanya berdasarkan sumber dan waktu pembuatan. Melihat itu, Lisia sempat bingung melihat Odo bergerak cepat dengan ekspresi serius.
“Apa tidak apa-apa, Tuan Odo ...? Ini bukan pekerjaan anda .... Bukannya anda datan—“
“Tak masalah! Lagi pula ini hanya surat-surat periode tahun kemarin yang tidak sempat dibukukan, bukan?”
“Eh ..., kenapa anda tahu ....”
“Dilihat juga langsung tahu ....”
Lisia benar-benar tidak paham dengan anak laki-laki itu. Setahu dirinya kabar tantang Odo sama persis dengan ayahnya, Dart Luke, yang terkenal tidak terlalu pandai dalam urusan pemerintahan dan menyerahkannya pada keluarga Rein. Tetapi saat melihat kemampuan Odo menyusun surat-surat dengan sangat cepat, Lisia hanya bisa terdiam di atas sofa tanpa bisa membantu.
Kurang dari dua jam, surat-surat yang tadinya berserakan telah tertata rapi dan dikelompokkan dalam beberapa tumpukkan di atas meja depan sofa tempat Lisia duduk. Memeriksa surat-surat tersebut, perempuan rambut merah itu lekas terkesima karena penataannya sangat rapi dan surat dikelompokkan menjadi beberapa bagian dengan sangat detail.
“Apa Nona tahu letak Folder di mana?” tanya Odo seraya mencari di atas lemari pada pojok ruangan. Anak itu masih belum puas sampai semuanya benar-benar selesai.
“Di dalam lemari nomor dua ke kanan, pintu sebelah kiri,” ucap Lisia.
“Oh, ada ....” Anak itu membawa lebih dari enam folder dengan tangan kecilnya, bahkan ada yang dirinya bawa dengan digigit. Meletakkan semua kotak folder dari kayu itu ke atas meja, Odo mulai menata surat-surat yang telah dikelompokkan ke dalamnya.
Saat semua itu rapi, anak itu menulis struktur sihir dan Rune di atas kotak folder dengan jari untuk menghindari kerusakan arsip. Saat Odo menerapkan sihir khusus untuk mengusir rayap secara permanen pada kotak folder, Lisia terkejut.
“Tu-Tuan Odo, sihir itu ... bukannya struktur sihir insektisida khusus untuk mengusir rayap? Kenapa anda ....”
“Apa tidak boleh, ya?”
“Bukannya tidak boleh ..., tapi sihir itu bukannya menjadi rahasia pengarsipan pemimpin wilayah? Apa anda diajari Master Mavis?”
“Hmm, tidak. Aku menyalin struktur sihirnya dari Arsip Utama di rumahku.”
Anak itu selesai memberikan struktur sihir anti rayap pada semua kotak folder. Meletakkan kotak-kotak itu di atas sofa di seberang Lisia, anak itu baru duduk berhadapan dengan perempuan itu di seberang. Mengangkat tangan dari kotak folder yang dirinya letakkan, anak itu sedikit menghela napas ringan dengan wajah puas.
“Jadi, kita mulai pembicaranya .... Jujur saya tidak bisa berbelit kalau soal seperti ini, jadi langsung ke intinya saja, ya.”
Odo duduk tegak, memasang tatapan tajam dan terlihat serius. Dengan tanpa ragu anak itu berkata, “Tolong setujui proposalku soal pembangunan usaha swasta di kota ini, saya ingin membangun perusahaan dagang.”
Lisia terdiam bingung mendengar itu. Dirinya tahu apa yang diinginkan Odo, tetapi dirinya tidak paham mengapa anak itu tiba-tiba mengajukan hal tersebut. Mengambil kertas perkamen kosong dari kolong meja kayu, Lisia meletakkan ke atas meja.
“Memangnya apa saja keuntungan kami ... pihak pemerintahan kalau menerima tawaran anda? Dan juga, sebelumnya Tuan Odo bilang ingin membangun perusahaan swasta, bukan? Kalau begitu berarti proposal itu bukan dari pemerintah pusat, bukan? Kami tidak bisa menerima langsung tawaran anda ....”
Mendengar apa yang dikatakan Lisia dengan nada menegaskan, Odo memasang senyuman yang menyembunyikan rasa kesalnya. Anak itu tahu kalau sebuah instansi memiliki prosedur resmi dan peraturan-peraturan ketat, tetapi dirinya dalam benak berharap bisa mencari celah dari itu, karena itulah Ia mendatangi Siska terlebih dahulu. Mendapati reaksi Lisia sekarang sebagai perwakilan pemimpin kota, Odo hanya bisa menarik napas pasrah.
“Maaf, saya paham kalau saya tidak mengikuti prosedur yang sesuai. Tapi ..., selain permintaanku tadi, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”
Odo menekan Rune pada Gelang Dimensi, lalu mengeluarkan sebongkah kristal sihir Kualitas Terbaik dari dimensi penyimpanan. Kristal itu menyala merah, berukuran sebesar telapak tangannya. Meletakkan itu ke atas meja, Odo berkata, “Kalau say—“
“Maaf, Tuan Odo. Kami tidak menerima suap,” potong Lisia.
Sorot mata Odo berubah langsung datar. Ia menatap lurus perempuan itu, lalu berkata, “Siapa juga yang mau menyuap, saya hanya ingin menjual kristal ini langsung pada pemerintahan kota. Nona Lisia tahu kalau kristal semacam ini sangat langka, bukan?”
Lisia hanya menatap datar, dirinya sama sekali tidak terkejut dari awal Odo mengeluarkan kristal dan mengajukan tawaran tersebut. Menyentuh kristal sihir di atas meja dengan ujung jari telunjuk, Lisia langsung mengecek keasliannya. Tingkat kepekaan sihir perempuan itu sangatlah tinggi, hanya dengan jari saja dirinya sudah bisa melakukan penilaian.
“Tidak diragukan ini Kristal Kualitas Terbaik .... Dari mana anda mendapatkannya?” tanya Lisia dengan tatapan curiga. “Apa anda mengambilnya dari Tuan Dart?” lanjutnya dengan nada menekan.
“Untuk apa saya mengambil kristal dari ayah sendiri? Itu asli milikku ....”
“Hmm, begitu. Tapi, kalau tidak salah usia anda baru delapan tahun, bukan? Sepertinya bukan hanya tubuh anda yang bongsor dan memiliki kekuatan hebat, anda juga lebih cerdas dari yang saya kira .... Dari mana anda tahu kalau sekarang kami sedang kesulitan dana?”
Odo hanya tersenyum ringan mendapat pertanyaan itu. Lisia tambah menatap tajam anak itu, rasa gentar dan takut pada Odo yang sebelumnya ada pada dirinya seakan lenyap dengan mudahnya karena rasa tanggung jawab pada dirinya.
Perempuan itu duduk tegak, memegang dagunya dan berpikir. Ia benar-benar membutuhkan waktu untuk memutuskan, sekali memalingkan pandangan dan seakan mencari jawaban yang sesuai dari kesempatan yang ada.
“Baiklah, saya akan menerima proposal yang akan anda ajukan nanti. Kalau itu hanya mempermudahkan pembentukan usaha datang, kurasa itu tidak terlalu berisiko,” ucap Lisia.
“Eh?” Odo benar-benar terkejut. Dirinya memang tahu kalau ada sedikit masalah pada keuangan kota, tetapi itu bukan berarti bisa menjadi alasan Lisia untuk menerima tawaran. Sedikit mencermati apa yang diputuskan perempuan itu, Odo menyadari sesuatu.
“Apa anda ingin menggunakan kristal itu untuk alasan pribadi?”
Lisia hanya terdiam mendapat pertanyaan tersebut. Mengangkat jari dari kristal, ia duduk menyandarkan tubuhnya pada sofa dan sedikit menghela napas. “Tuan ..., mulai dari ini bisa kita hilangkan dulu formalitas .... Saya berjanji akan menyetujui proposal anda, tapi sebagai gantinya anda jangan memberitahukan pembicaraan ini pada siapa pun ....”
Odo lekas tersenyum lebar, dirinya mendapat rute pintas cepat dengan cara yang tak terkira. Sekilas mengangkat kedua pundaknya, anak itu berkata, “Tentu saja, itu yang dari tadi saya incar dari pembicaraan ini .... Jadi, apa itu? Sepertinya bukan soal keuangan saja, ya?”
“Padahal sudah paham, tapi anda tetap bertanya. Sifat anda buruk sekali .... Anda datang karena tahu masalah itu, ‘kan?”
“Tidak juga, saya tidak tahu.” Anak itu mengangkat kedua pundaknya seakan tahu sesuatu dan menyembunyikannya. Tetapi pada kenyataannya, ia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Lisia.
Lisia meletakkan tangannya ke kening dan memasang wajah penuh beban pikiran. Bagi dirinya yang dekat dengan urusan pemerintahan sejak kecil masalah seperti itu cukup membuatnya stres, terutama sekarang saat ayahnya sedang jatuh sakit.
Tanpa dijelaskan lebih detail, Odo langsung paham apa yang hendak diinginkan perempuan di hadapannya. Sebagai pemimpin kota sementara menggantikan ayahnya, Lisia ingin menyelesaikan masalah itu dengan uang yang didapat dari kristal sihir yang Odo tawarkan.
“Hmm, apa dia ingin membeli perlengkapan atau senjata untuk membasi para bandit? Kalau iya, berarti tawarannya itu ....”
Odo membuka matanya lebar-lebar dan melakukan kalkulasi internal menggunakan Auto Senses. Di dalam kepalanya dengan cepat dilakukan perhitungan dari data-data yang dimilikinya dalam memori internal dan mengolahnya menjadi beberapa kesimpulan. Dari perhitungan tersebut Odo mendapat satu kesimpulan.
“Apa anda berencana menggunakan pasukan gabungan antara prajurit kota dan tentara bayaran untuk membasmi para bandit itu?”
Lisia terkejut mendengar tebakan anak itu, ia langsung menatap Odo dengan mata terbuka lebar. Sedikit menarik napas dengan berat, ia menjawab, “Ya, seperti yang anda katakan ....” Ia terlihat lemas dan pasrah, rasa takut dan cemas terlihat jelas pada sorot mata perempuan berambut merah itu.
Odo ikut merasa bersalah atas apa yang membebani Lisia. Pada dasarnya itu adalah kesalahan Dart karena terlalu memaksa untuk melakukan ekspedisi dengan membebani rakyatnya sendiri tanpa persiapan yang matang. Ikut memikirkan pemecahan masalah tersebut, Odo kembali menggunakan kalkulasi dari Auto Senses untuk mencari cara penyelesaian menggunakan komponen-komponen yang ada di tangannya sekarang.
Menarik napas dalam-dalam setelah mendapat kesimpulan, anak itu berkata, “Bagaimana kalau saya bantu anda menangani masalah bandit itu?”
Lisia tidak terlihat senang mendengar itu. Menatap datar Odo, ia berkata, “Tidak usah, anda hanya akan memperkeruh masalahnya ....”
“Memperkeruh?”
“Apa anda tidak sadar, Tuan Odo .... Anda itu lebih dilindungi dari yang anda kira .... Memangnya untuk apa para Shieal–Keluarga Cabang itu mendapat wewenang lebih tinggi dari para pejabat negeri? Tentu saja itu karena tugas mereka lebih penting ....”
Lisia kembali menghela napas. Duduk menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia berkata dengan nada lelah, “Negeri kita ..., kerajaan ini sangat mementingkan garis keturunan Tiga Bangsawan Besar sebagai pendiri Kerajaan Felixia .... Sekarang keluarga Luke juga mengalami krisis keturunan, kalau sesuatu terjadi pada anda ... bisa-bisa kota ini masuk daftar hitam pemerintahan pusat dan pajak dinaikkan sebagai bentuk penalti.”
“Apa Nona meragukan kemampuanku?”
“Bukan masalah itu, Tuan Odo .... Ini politik, kalau bangsawan lain tahu ..., konspirasi bisa tercipta. Mengingat kondisi kota saat ini, saya ragu bisa menekannya.”
Odo menyilangkan kaki kirinya ke atas kaki kanan, lalu sedikit memasang wajah sombong. Dengan tanpa keraguan ia berkata, “Kalau begitu, biar aku saja yang urus semua bandit itu. Nona diam saja di sini, tanpa terlibat dan nanti akan aku bereskan semuanya.”
Tatapan anak itu terlihat seperti bukan sedang membual, ia benar-benar mampu melakukan apa yang dikatakan. Lisia sendiri paham akan hal tersebut, reputasi Odo sebagai Pembunuh Naga tidak perlu diragukan karena dirinya sendiri sudah merasakan hawa mengerikan yang ada pada anak itu.
Bangun dari tempat duduk, perempuan itu menatap Odo dengan tajam dan berkata, “Apa anda pernah membunuh orang?”
Perkataan itu sangat jelas, dengan sedikit ragu Odo menjawab, “Pernah ....” Mendapat jawaban seperti itu darinya, Lisia tersenyum ringan seraya mengulurkan tangannya ke Odo.
“Kalau begitu, saya setuju. Tetapi ..., saya tambahkan satu syarat?”
“Apa itu?”
“Saya akan ikut dengan anda .... Bukan dengan pasukan, tetapi saya sendiri.”
Odo paham maksud perkataannya itu. Dengan ikutnya Lisia sendiri dalam membantai para bandit nantinya, itu akan menghilangkan isu tentang pemerintahan kota yang tidak bisa diandalkan dan juga mencegah adanya konspirasi yang menjatuhkan nama baik keluarga Mylta.
Dengan menggunakan cara itu dan tidak menggunakan pasukan yang memasukkan Odo dalam pasukkan tersebut, kemungkinan besar reputasi Keluarga Mylta akan meningkat karena rumor kedekatannya dengan pewaris Keluarga Luke akan tersebar.
Meski Odo dan Lisia sendiri sadar kalau risiko membantai bandit tanpa pasukan sangatlah berbahaya, tetapi mereka sama sekali tidak ragu memutuskan hal tersebut karena rasa percaya diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki mereka masing-masing.
Setelah itu, mereka berdua memutuskan beberapa hal lain dalam kerja sama yang dijalin. Selain masalah menyangkut keamanan yang terancam karena bandit, Odo dan Lisia juga membahas persoalan ekonomi kota yang mengalami penurun dalam kurun dekade terakhir. Dari itu mereka memutuskan akan menggunakan perusahaan swasta yang akan Odo sebagai pihak ketiga untuk menyokong revolusi perekonomian kota.
Penyebab masalah perekonomian yang ada itu Odo ketahui karena persialan diputusnya jalur perdagangan oleh jalur lainnya. Tetapi, pada fakta masalah putusnya jalur laut bukanlah satu-satu alasan yang membuat kota pesisir terpuruk. Masalah pertama yang mereka bahas kembali mencuat sebagai persoalan utama, para pengangguran setelah perang berakhir yang menjadi bandit adalah pokok permasalahan utama.
Memang sudah ada Guild untuk menampung para pengangguran dengan menyediakan pelayanan bagi pencari kerja dan pemberi kerja, tetapi penerapannya tidak semaksimal seperti apa yang ada di Kekaisaran. Guild di Kerajaan Felixia cenderung menjadi semacam serikat pedagang yang ada di setiap kota, hanya mencangkup orang-orang yang mau bergerak dalam bidang perekonomian perdagangan.
Hal seperti pelindungan, pembasmian monster, pelindungan desa dari serangan monster, atau semacamnya tidak terlalu sering terlihat dalam Guild karena pada dasarnya Keluarga Luke menetapkan kalau pembasmian monster ada di tangan mereka demi menjaga reputasi sebagai Pedang Kerajaan.
Masalah tersebut kembali pada Keluarga Luke dan membuat Odo semakin merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. Tradisi yang sudah menjadi peraturan resmi tidak sesuai dengan kondisi aktual yang ada. Hal itu mengakibatkan sebuah goyahnya sistem sosial dan mengakibatkan tingkat kejahatan yang meningkat. Dari hal itu, Odo dan Lisia memutuskan untuk melakukan pembenaran atas kesalahan yang ada.
««»»
Di dalam Panti Asuhan Inkara, suasana yang ada di antara Siska dan Julia masih saja terasa tegang dan senyap. Angin yang masuk melalui sela-sela tembok terdengar dengan jelas, dan hawa dingin mengisi tempat tersebut. Pekerjaan yang dipercayakan Odo pada mereka masih belum selesai, tumpukan surat di atas meja masih belum seluruhnya dimasukkan ke dalam amplop dan diberi stempel segel lilin tanpa lambang.
Dengan hanya menggerakkan tangan dan tanpa komunikasi, mereka hanya menggerakkan tangan dengan ditemani suasana dingin. Anak-anak panti asuhan sudah bangun beberapa saat lalu, mereka mulai melakukan rutinitas harian seperti menambahkan kayu bakar di perapian untuk penghangat ruangan dan memasak, menyiapkan gandum untuk membuat roti, dan merapikan tempat tidur yang mereka gunakan semalam. Karena sekarang meja utama yang biasanya digunakan untuk sarapan digunakan oleh Julia dan Siska, anak-anak itu sarapan di dapur.
Merasakan udara hangat dari arah dapur yang semakin kuat, Julia menghentikan tangannya dan menoleh ke arah anak-anak itu yang terlihat ramai melakukan sesuatu di belakang. Dalam benak gadis kucing itu terasa sesuatu yang seakan menyengatnya dadanya, berdenyut dan membuatnya sedikit berkaca-kaca. Ia merasa bersalah pada majikan sendiri saat melihat mereka, Julia menyalahkan diri sendiri karena Odo tidak memiliki kesempatan untuk berkumpul layaknya anak-anak normal dan mendapat momen kebersamaan seperti mereka.
“Kenapa kau menatap mereka seperti itu? Iba?” tanya Siska seraya menatap tajam. Perempuan yang tak sempat mengganti piyamanya itu kembali menunjukkan rasa tidak suka pada Julia.
“Bukan iba, kurasa ... hanya rasa bersalah. Andai saja Tuan Odo seperti anak pada umumnya, apa dia akan mendapat kebersamaan seperti itu .... Saya ... tidak bisa memberikan hal semacam itu padanya.”
Julia berhenti menatap anak-anak yang mandiri di dapur, kembali melihat ke arah tumpukan kertas perkamen di atas meja kayu dan menggerakkan tangannya untuk melakukan pekerjaan. Melihat apa yang ada pada raut wajah Julia, Siska merasa memang ada juga masalah yang tidak dirinya tahu soal gadis kucing di hadapannya sebagai seorang Shieal.
“Tuan Odo dari keluarga bangsawan, terlebih lagi dari Tiga Keluarga Besar. Masa kanak-kanak ... mungkin mustahil dirinya dapat. Saat dia pertama kali ke sini juga ..., jujur aku sempat bertanya-tanya ... apa dia benar-benar masih anak-anak? Kau tahu ..., auranya itu ....”
Julia hanya terdiam. Dirinya tahu saat Odo sudah tidak menahan sifat abnormalnya pada hari itu, menunjukkan sifat menyimpangnya dengan sangat jelas di depan Mavis dan Dart. Julia sudah sadar hal itu sebelum Odo terang-terangan menunjukkan kalau dirinya berbeda di depan kedua orang tuanya, karena Julia sendiri adalah orang yang paling dekat dengan Odo dan sadar akan hal tersebut meski tidak secara penuh.
“Saya tahu .... Tuan Odo, dia bukan anak biasa. Pola pikirnya sungguh aneh, dia seakan melihat ke tempat yang tidak diketahui siapa pun .... Tapi, kurasa dia tetap saja anak-anak. Entah sekuat apapun dirinya, Tuan Odo memang masih anak-anak. Dia ingin dimanja, disayang, dan diperhatikan, karena itulah dia melakukan semua itu ....”
Siska terdiam mendengar pendapat Julia, ia tetap menggerakkan tangannya dan memasukkan surat ke dalam amplop, lalu menuangkan lilin yang telah dicairkan dalam cawan kecil ke atas surat dan menekannya dengan cap plat lingkaran.
Selesai mengerjakan semua itu dan semua suat yang ada telah selesai dimasukkan ke dalam amplop yang disegel lilin, ia beranjak dari tempat duduk dan berjalan ke arah dapur untuk memeriksa anak-anak yang sedang sarapan di sana.
Saat sampai, anak-anak itu duduk di lantai dan menyantap roti dengan lauk daging asap. Entah itu si kembar Mila dan Erial, atau pun Nesta, Daniel, dan Firkaf, mereka terlihat lahap menikmati sarapan yang ada meski dalam keterbatasan. Rambut mereka masih berantakan, tidak ada satu pun di antara mereka yang sudah mandi atau sekadar membasuh wajah.
“Hmm, untuk kakak mana? Kok kalian makan sendiri?” ucap Siska seraya tersenyum.
Mereka semua tersentak dan baru sadar tidak membuatkan sosok yang mereka anggap ibu itu sarapan. Si kembar Mila dan Erial bangun dari lantai, lalu menyerahkan sepotong roti yang sebagian sudah disantap pada Siska dengan wajah sedikit enggan. Kedua anak itu masih lapar, ekspresi wajah mereka dengan jelas memberitahukan hal tersebut.
“Bercanda, kok. Kakak sudah makan tadi sebelum kalian bangun,” ucap Siska seraya mengelus kepala kedua anak tersebut.
Mendengar perkataan itu, Nesta dan Daniel bereaksi. Mereka tahu kalau itu bohong, mereka yang menyiapkan api untuk memanggang roti tahu kalau dapur belum digunakan sebelum digunakan mereka tadi. Tidak mengungkapkan apa yang terasa dalam benak, kedua anak itu teridam dan kembali memakan sarapan sederhana di tangan.
Berbeda dengan Nesta dan Daniel, Firkaf sudah menyantap sarapannya lebih cepat dari yang lain dan sibuk membaca sebuah buku yang dirinya dapat dari perpustakaan kota. Anak rambut cokelat yang tatapannya terlihat lemas itu membaca buku tentang jenis-jenis bijih besi dan cara peleburannya.
Melihat anak itu serius mengejar impiannya untuk menjadi pandai besi, Siska tersenyum lega karena sekarang dirinya memiliki anggaran tidak seperti sebelum Odo datang ke tempat mereka. Saat kembali melihat semua anak yang tinggal di panti asuhan, dirinya baru menyadari ada seseorang yang kurang.
“Nanra di mana? Apa dia masih tidur?”
“Dia sudah bangun dari tadi, Kak Siska. Mungkin dia kabur lagi atau cari jamur di hutan. Yah, itu kebiasaannya,” ucap Nesta.
“Sepertinya sih Nanra memang pergi ke hutan lagi,” ucap Daniel.
“Bukan, Nanra pergi ke tempat orang-orang itu lagi,” ucap Firkaf tanpa sedikit pun melirik ke arah mereka.
Mendengar itu, jawaban anak itu yang paling mengusik Siska. “Maksudmu orang-orang yang sebelum akhir tahun itu berlabuh di dermaga?” tanya biarawati muda tersebut.
“Hmm, dia membawa sebuah kertas atau apalah itu. Tadi malam juga dia sepertinya sempat mampir ke tempat mereka,” jawab Firkaf.
Siska mulai merasa cemas. Orang-orang yang dimaksud berlabuh di dermaga adalah kapal yang secara resmi singgah sebagai pedagang dari Kerajaan Moloia. Kota Mylta yang sudah tidak lagi dilalui jalur perdagangan laut yang efektif seharusnya tidak akan dipilih oleh pedagang dan kaum konglomerat, berlabuhnya orang-orang Kerajaan Moloia itu memang sangat mencurigakan dan banyak penduduk kota yang sadar akan hal tersebut.
Tetapi karena terbukanya sistem perdagangan bebas, pemerintah kota tidak bisa menolak kapal-kapal dari negeri lain masuk dan berlabuh selama mereka membayar cukai dan visa yang sesuai. Hasil dari itu adalah mulainya menyebar orang-orang dari Kerajaan Moloia tersebut dalam masyarakat kota dengan membawa hal-hal lain selain barang dagangan.
“Kalau tidak salah orang-orang itu tidak hanya menjual barang pangan saja, ada juga rumor mereka penyebarkan paham lain yang bertentangan dengan sistem pemerintah. Padahal belum sampai sebulan mereka datang, tapi kabar sudah ....”
Siska semakin cemas mengingat salah satu anak yang diasuhnya dekat dengan orang-orang seperti mereka. Paham yang dibawa oleh orang-orang Kerajaan Moloia adalah sistem meritokrasi yang mengutamakan penetakan pemimpin berdasarkan kepantasan dan kelayakan, dengan kata lain sistem tersebut bertentangan dengan Kerajaan Felixia yang cenderung mengedepankan keturunan.
Saat Siska mengingat kondisi kota yang memang sedang kurang kondusif karena perekonomian semakin turun, potensi paham tersebut menyebar akan semakin besar sebab hanya dengan satu kalimat seperti “Pemimpin tidak pantas” saja, banyak orang akan terhasut dan menjadi radikal dengan cepat.
Dengan segera perempuan rambut pirang itu mendatangi Julia yang masih duduk di ruang tamu, lalu menjelaskan situasi terburuk yang mungkin terjadi. Instingnya sebagai sosok orang tua wali tidak bisa tenang dan pikiran buruk terus mengisinya sesaat setelah tahu kalau Nanra sudah tidak di panti asuhan.