Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 38: Reş û Rabe 5 of 5 (Part 03)



 


 


Salju berwarna murni berhenti turun bersama dengan aura dahsyat yang terpancar ke langit. Berjalan di menuju ujung tebing, Fiola dalam Mode Pelayan Ilahi menatap murka ke arah Tengkorak Raksasa yang berjarak belasan kilometer dari tempatnya. Salju yang dilewati Huli Jing berekor sembilan itu meleleh dalam radius beberapa meter, warna putih rambutnya seakan menyatu dengan kilatan putih petir yang menyambar-nyambar darinya.


 


 


Halo putih murni yang melayang di atas kepalanya mulai berputar cepat pada porosnya, lalu berubah bentuk menjadi sebuah tombak dengan ujung runcing. Tombak tersebut sepenuhnya berwarna putih terang layaknya rambut Fiola, memancarkan kekuatan suci yang dimiliki para dewa dan membuat Odrania Dies Orion di kejauhan menoleh ke arahnya.


 


 


Tombak cahaya sepanjang tiga meter tersebut melayang di depan Fiola. Menggenggamnya dengan tangan kanan pada bagian tengah, Huli Jing tersebut langsung berancang-ancang melempar. Memasang kuda-kuda dan merendahkan posisi berdiri dengan melebarkan kaki kiri ke depan, Fiola memeras seluruh kekuatan ototnya dan langsung melemparkan tombak tersebut ke arah Raja Iblis tersebut.


 


 


“Kembalikan ... dia ... PADAKU!!!!”


 


 


Tombak berselimut petir melesat dengan kecepatan cahaya, jejak udara yang ditinggalkan bersuhu tinggi dan membuat salju pada hutan di bawahnya meleleh seketika meninggalkan pepohonan kering tak berdaun. Tombak menusuk tepat pada kepala Odrania, menembusnya pada bagian kening dan melesat terus sampai tombak tersebut habis terbakar karena energinya sendiri.


 


 


Meski tengkorak raksasa tersebut telah tertembus tepat pada bagian kelapa, itu sama sekali tidak membuatnya roboh dan tetap berdiri seakan serangan tersebut tak berarti. Lobang besar pada kening tengkorak itu perlahan tertutup, daging-daging di sekitar kaki, tangan, dan leher bergerak ke atas dan berubah menjadi tulang penutup lubang.


 


 


Dari kejauhan Fiola melihatnya dengan sangat jelas, penuh amarah dan benar-benar murka karena serangannya dianggap tak berarti. Mengumpulkan kekuatan dan mengubahnya menjadi petir, Huli Jing itu memusatkannya untuk membentuk halo di atas kepalanya lagi. Namun sebelum kembali membentuk tombak petir berkecepatan cahaya, Odrania mulai bergerak agresif.


 


 


Raksasa tengkorak itu meletakkan kedua tangannya ke permukaan, lalu mulai merangkak dengan cepat menuju Fiola layaknya hewan berkaki empat. Raksasa belulang itu benar-benar merangkak dengan cepat, menggunakan postur tubuh raksasa yang sulit berdiri tegak karena daging otot yang berfungsi menggerakkan tubuh berkurang. Hutan diinjak dan diporak-porandakan saat lewat, menghisap vitalitas pepohonan dalam radius ratusan meter dengan kabut hitam yang keluar lagi dari tubuhnya.


 


 


Menyadari kelemahan jelas dari Raja Iblis tersebut, Fiola menyeringai. Ia segera mempercepat pembentukan tombak dan berkata, “Begitu, ya! Jadi itu alasanmu menghisap kehidupan di sekitarmu! Kalau dagingmu habis, kira-kira apa yang akan terjadi, dasar belulang busuk!!” Fiola menyeringai gelap, membuat lingkaran sihir di belakang punggung dengan ukuran besar dan mempercepat pengumpulan Ether.


 


 


Selesai menyiapkan tombak petir putih, Fiola segera bersiap dan membidik kepala Odrania lagi. Dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, tombak dilemparkan. Namun seakan melihat datangnya tombak berkecepatan cahaya tersebut, Odrania langsung tiarap dan menghindari serangan tersebut. Tombak melesat dan hanya menggores bagian atas tengkorak raksasa itu.


 


 


“A—!!? Beraninya menghindar!!”


 


 


Fiola segera membuat tombak-tombak petir putih, berukuran lebih kecil dan lebih lemah tetapi dalam jumlah yang banyak— lebih dari delapan buah. Mengendalikan tombak-tombak yang melayang di sekitarnya tersebut, Huli Jing itu langsung melesatkan serangannya ke arah Odrania.


 


 


Raksasa belulang itu membuka mulutnya, lalu memusatkan partikel hitam dan menelan semua tombak petir versi lemah yang dilesatkan ke arahnya. Menutup mulut kembali, energi yang telah dihisap diolah menjadi daging dan membentuk kembali struktur otot kakinya.


 


 


Raksasa belulang itu kembali berdiri, setinggi  530 dan benar-benar memulihkan dirinya dengan tombak petir yang dimakan. Menarik napas dalam-dalam dan mengumpulkan udara pada rongga mulut yang terbentuk hanya berupa otot-otot busuk, raksasa itu meraung kencang.


 


 


“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!”


 


 


Pepohonan tanpa daun beterbangan, salju yang masih tersisa berserakan bersama tanah yang terangkat ke udara. Gelombang perusak yang keluar bersama raungan itu benar-benar memporak-porandakan hutan, membunuh para hewan yang berlarian dan sedang hibernasi di bawah tanah.


 


 


Sampai pada tempat Fiola gelombang itu membuat tebing berguncang, namun tak sampai runtuh dan hanya berupa angin kencang yang sampai. Tak gentar dan malah murka, Huli Jing itu kembali menyerap Ether menggunakan lingkaran sihir di belakang punggungnya. Struktur sihir bertambah luas, muncul empat lingkaran sihir lagi dan empat buah huruf kuno kekaisaran muncul sebagai persimbolan empat mata angin.


 


 


“Kami memohon, kami merengek, namun yang engkau datangkan bukanlah keselamatan. Dalam daratan kering  di tengah musim paceklik, engkau dari langit mendatangkan hujan yang tak kunjung henti .... Bersama halilintar yang menari-nari, itulah wujud keagunganmu sekaligus amarah serta kesedihanmu pada dunia!!”


 


 


Petir yang menyelimuti tubuhnya menyambar ke langit dalam satu kilatan besar. Suhu dalam radius dua kilometer seketika naik, membuat salju menguap seketika. Langit yang tadinya cerah berubah mendung kembali penuh awan hitam hasil dari uap salju, lalu hujan pun turun gerimis dengan cepat. Itu bukan salju, melainkan hujan air dan benar-benar merusak kondisi iklim yang ada di tempat tersebut.


 


 


Awan bergerak sampai memapar Ordiana dengan hujan. Seakan dirinya sadar ada pertanda buruk dari hujan air hangat yang turun di musim dingin, raksasa itu berhenti merangkak. Mendongak ke atas, raksasa itu seakan melihat kilatan petir putih yang menari-nari di balik awan yang semakin luas dan pekat.


 


 


“Invoke! Magical Beast! Thunderbird!!”


 


 


Bersamaan saat Fiola meneriakkan nama itu, sebuah altar muncul pada tempatnya berdiri. Petir menjalar di atas permukaan tanah berbatu, membentuk lingkaran-lingkaran sihir berstruktur dan pada keempat ujung lingkaran mulai terbentuk pilar petir yang berdiri tegak. Di langit sosok perwujudan amarah dan kesedihan para Dewa muncul, hewan suci penguasa badai petir, Thunderbird.


 


 


Dari balik awan wujudnya mulai terlihat, seakan-akan awan di atas sana hidup dan bergerak-gerak. Ia adalah burung raksasa dengan bentuk mirip elang, namun panjangnya mencapai 500 meter lebih sampai ekor dan tingginya sekitar 100 meter. Saat mengembangkan sayap dan mengepak, lebarnya membuat langit seakan tertutup.


 


 


Burung yang tubuhnya penuh dengan awan petir itu berkicau kencang, membuat langit bergemuruh dan daratan bergetar. Wujud dari badai sesuai dengan sebutanya, menguasai awan petir.


 


 


Alasan Fiola bisa memanggilnya karena Huli Jing berkaitan erat dengan Kitsune yang merupakan perwujudan dari Dewi Inari. Dewi itu sendiri merupakan salah satu penguasa pertanian dan padi, berhubungan cukup erat dengan cuaca yang merupakan salah satu sumber air di daratan.


 


 


Merentangkan kedua tangan ke arah makhluk dari dimensi yang lebih tinggi itu, dengan lantang Fiola berkata, “Wahai langit pembawa badai! Engkau yang selalu membawa kerusakan pada kami! Menggagalkan panen dan menghancurkan rumah-rumah dengan petir serta angin itu! Sekarang bayarlah perbuatanmu dengan tindakkan dan penuhi janjimu, pinjamkanlah kekuatan pada salah satu Inkarnasi ini dan basmilah wajah wabah di hadapanku!”


 


 


Kalimat serapah itu bagaikan sebuah perintah nyata bagi Thunderbird. Mengepakkan sayap dengan kencang, burung awan raksasa itu menyambarkan petir dahsyat ke arah Odrania. Gemuruh terdengar setelah kilatan cahaya terang, membakar tubuh tengkorak raksasa itu dan menghanguskan sebagian besar daging yang menyangga tubuh belulangnya.


 


 


Odrania tak bisa berdiri kembali, berlutut dan mengeluarkan asap gosong dari seluruh tubuh karena sambaran tersebut. Namun apa yang dilakukan Fiola adalah kesalahan fatal, Odrania bukanlah sebuah wabah dan unsurnya sangat berbeda dengan itu. Partikel yang keluar dari tubuh tengkorak raksasa itu bukanlah pondemik yang merebut kehidupan, melainkan sebuah Anti Materi berwarna hitam karena berlawanan dengan cahaya. Komponennya terdiri dari—antipartikel dari partikel yang menyusun materi biasa, lalu saling menghancurkan jika bersentuhan antara partikel dan antipartikelnya.


 


 


Fakta nyata bahwa warna hitam partikel itu bukan karena memang warnanya hitam, melainkan karena partikel cahaya bersentuhan dengan antipartikelnya dan membuat Anti-Materi tersebut layaknya titik-titik kegelapan yang melayang-layang, itulah Dark-Matter.


 


 


Mendapat sambaran petir sedahsyat itu dan masih belum binasa, sang Raja Iblis tersebut mengubah komponen Dark-Matter yang menyelimuti dan menyesuaikannya dengan halilintar yang disambarkan Thunderbird. Saat burung awan petir itu kembali menyerang dengan petir. Layaknya memiliki ketahanan mutlak, petir tersebut malah terurai dan hanya menjadi energi yang dapat diserap Odrania untuk regenerasi dagingnya yang hangus terbakar.


 


 


Pertemuan antara partikel dan antipartikel saling menghancurkan satu sama lain, lalu dari itu terciptalah energi yang sangat dahsyat dan menjadi makanan utama sang Raja Iblis untuk pemulihan.


 


 


Fiola benar-benar terbelalak melihat itu. Meski raksasa tengkorak tersebut disambar berkali-kali dengan halilintar yang bahkan bisa menggetarkan daratan, Odrania malah semakin cepat meregenerasi ototnya dan bahkan mulai membentuk daging serta kulit tipis.


 


 


Berdiri tegak di dalam badai petir yang terus menyambarnya, raksasa itu memusatkan pembuatan daging pada lengan kanan dan membentuk tangan utuh dengan daging dan kulit layaknya tangan manusia. Tangan raksasa itu mengulur cepat ke arah Thunderbird, lalu mencekik leher burung awan badai yang tidak bisa bergerak dari tempatnya tersebut.


 


 


Kulit dan daging tangan kanan Odrania terbakar karena petir, namun cekikkan kuat dengan otot-otot lengannya benar-benar mencengkeram leher Thunderberd. Petir menyambar kacau ke segala arah, kicauan kesakitan burung terdengar bergemuruh dan menggema di langit. Petir yang menjadi sumber pembentuk Magical Beast itu mulai dimusnahkan oleh Dark-Matter, lalu diubah menjadi energi yang diserap mudah oleh Odrania.


 


 


Membuat daging dan kulit pada tangan kiri, Raja Iblis itu mencekik dengan dua tangan dan menyeret burung badai tersebut ke bawah, terlepas dari awan yang menjadi sumber pembentuknya. Tak lebih dari dua menit, suara burung mengilang dan awan gelap di langit mulai lenyap digantikan dengan cahaya matahari berwarna kemerahan senja.


 


 


Itu menjadi akhir sang burung badai, tubuhnya yang terkapar mulai benar-benar menjadi gumpalan awan yang melayang ke udara dan hilang terurai. Melihat Raja Iblis malah semakin kuat dan tubuhnya memiliki daging lebih banyak dari sebelumnya, Fiola gemetar.


 


 


Odrania tidak lagi berbentuk tengkorak dan terdiri dari belulang yang diselimuti sedikit daging busuk saja, ia menjelma menjadi raksasa dengan kulit dan daging kompleks—terlihat seperti manusia raksasa dengan sepasang sayap daging berlubang-lubang pada punggungnya. Rambut hitam tubuh panjang sampai bahu, memiliki kulit pucat dan sedikit garis-garis merah menyala pada sekitar wajah. Meski tubuh terbentuk rapi, namun mata tidak terbentuk dan lobang matanya masih berongga gelap.


 


 


Fiola tertegun, benar-benar kehabisan cara untuk mengalahkan Raja Iblis tersebut atau merebut Odo kembali. Sihir Invoked yang digunakannya merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki Huli Jing tersebut sekarang. Jika dirinya menggunakan lebih dari itu, maka kepribadiannya akan runtuh dan berhenti menjadi makhluk Mortal sepenuhnya.


 


 


Odrania melangkahkan kaki ke arah Fiola, partikel-partikel gelap yang menyelimutinya muai tersebar semakin pekat, dalam radius yang lebih jauh dan menyerap semua energi yang tercipta dari reaksi benturan antara anti partikel dan partikelnya.


 


 


Tubuh Fiola tiba-tiba lemas, mode Pelayan Ilahi terlepas dan rambutnya berubah kembali menjadi cokelat kehitaman. Tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan, otot-ototnya kaku karena terlalu membebani sirkuit sihir dengan kekuatan yang tidak biasa dirinya gunakan.  Namun meski dalam kondisi seperti itu, Fiola berusaha bangun dan masih berniat melawan.


 


 


Ia menatap tajam dan menyerapah, “Sialan! Kalian para Iblis selalu saja seperti itu!! Kau sebaiknya di dunia bawah terus dan tak usah ke tempat kami! Dasar bajingan! Tengik! Biadab! Kembalikan dia padaku!!” Suaranya perlahan terdengar lemas, air mata penuh rasa ketidakberdayaan mengalir membasahi pipi.


 


 


Tubuh Huli Jing tersebut sama sekali tidak bisa berdiri, hanya berlutut lemas dan napasnya mulai terengah-engah. Namun saat Dart-Matter milik Odrania akan menjangkau tempatnya berada, tiba-tiba kepala raksasa itu meledak dan dagingnya berceceran kacau. Asap putih keluar dari leher tanpa kepala raksasa itu, lalu tubuhnya ambruk ke depan dan daging serta kulitnya mulai meleleh seperti mentega yang dipanaskan.


 


 


Itu benar-benar terjadi sangat tiba-tiba, sampai Fiola tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ia hanya terbelalak tanpa kata, gemetar dalam bingung dan tidak paham mengapa hal tersebut bisa terjadi. Melihat ke arah leher tanpa kepala raksasa tersebut, kilatan petir merah menyambar-nyambar sekilas, sedikit memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


 


 


“Tuan ... Odo?”


 


 


««»»


 


 


Pada daerah hutan yang cukup jauh dari tempat Odrania berada, rombongan kota Mylta benar-benar kebingungan dengan apa yang sedang terjadi. Cuaca yang berubah-ubah dengan cepat membuat mereka gemetar, rasa takut karena suara-suara gemuruh dari sisi lain pegunungan membuat semua orang terdiam dalam tekanan.


 


 


Turun dari kereta kuda, Lisia segera berjalan menuju ke arah mereka datang sebelumnya, pergi ke arah sumber suara gemuruh terdengar. Namun sebelum meninggalkan rombongan yang berhenti di depan pintu masuk hutan daerah pegunungan, tangannya digenggam Iitla Lots dan dihentikan oleh Kepala Prajurit tersebut.


 


 


“Tunggu, Nona! Kau mau ke mana?!” tanya pria rambut pirang itu dengan penuh rasa cemas.


 


 


“Kenapa paman mencegah saya?! Kalau dia mati, semuanya berakhir dan usaha kita akan sia-sia! Lepaskan saya, paman!”


 


 


Kepala Prajurit itu tetap memegang erat tangan Lisia, tak melepaskan perempuan rambut merah tersebut. Menatap dengan penuh rasa gentar, pria rambut pirang itu berkata, “Nona ..., sebelumnya Anda tadi juga menyebut Pemuda itu Odo .... Mungkin ini hanya perasaanku saja, apa ... jangan-jangan dia itu sebenarnya Odo Luke?”


 


 


“Dia memang Odo Luke! Anak dari Tuan yang kalian layani!”


 


 


Perkataan itu benar-benar membuat Iitla Lots gemetar, mengonfirmasi keraguan dalam benaknya. Dari awal dirinya memang sudah curiga kalau ada seorang pemuda dengan kemampuan sehebatnya tidak dikenal di wilayah Luke. Melihat gelagat Lisisa, rasa curiga itu semakin menguat dan dikonfirmasi dengan sangat jelas.


 


 


Beberapa prajurit terbelalak mendengar itu, sebagian ada yang hanya terdiam karena sudah tahu fakta tersebut. Para pemburu hanya memasang wajah bingung bersama para penyihir saat mendengar fakta tersebut. Menarik napas dan bersikeras tak percaya, Iitla membentak, “Tak mungkin itu Tuan Muda! Dia itu masih anak-anak! Bahkan umurnya belum sampai sepuluh tahun!”


 


 


“Itu memang dia! Untuk apa saya bohong?!!”


 


 


“Itu pasti hanya alasan Nona untuk menyelamatkannya! Dia tunangan Nona, itu pasti alasannya!!”


 


 


“Kau selalu keras kepala sekali, paman! Kenapa kau selalu seperti itu!!”


 


 


Pertengkaran benar-benar pecah, saling berargumen dan tidak menemukan titik lerai. Lisia memaksa untuk pergi, sedangkan Iitla menahannya karena rasa kewajiban dan tidak ingin membiarkan Nona Mudanya itu mati sia-sia karena iblis.


 


 


 


 


Iitla terbelalak, melepaskan genggamannya pada Lisia. Menoleh dengan wajah penuh rasa terkejut, ia memegang kedua sisi pundak bawahannya itu dan tegas bertanya, “Kau juga! Jangan berbohong demi Nona!”


 


 


“Aku tidak bohong ..., Shieal itu sendirinya yang mengatakannya. Katanya rupa Tuan Odo selama rencana berlangsung itu terbentuk karena sihir transformasi.”


 


 


Iitla Lots benar-benar tak punya pilihan selain percaya pada fakta tersebut. Memikirkan pemuda yang ditinggalkannya adalah anak dari Tuan yang seharusnya dilindungi, Kepala Prajurit tersebut benar-benar jatuh dalam rasa bersalah yang mengikatnya kencang. Tubuh gemetar dan tanpa sadar meremas keras bahu bahannya itu.


 


 


Tidak memedulikan ekspresi Kepala Prajurit, Lisia segera berbalik dan melangkah pergi menuju sumber suara gemuruh yang sudah tidak terdengar lagi. Iitla melepaskan bawahannya dan hendak menghentikan Lisia, namun fakta yang diketahuinya membuat langkah kaki terhenti.


 


 


“Nona! Meski Anda datang ke sana itu percuma! Nona akan mati sia-sia! Nona sendiri tahu Iblis macam apa itu, bukan?!”


 


 


Lisia menoleh dengan tatapan tajam saat mendengar itu. Rasa gentar tidak terlihat pada sorot matanya, hanya ada amarah karena mendengar perkataan pengecut seperti itu keluar dari seorang Kepala Prajurit. “Kalau paman merasakan hal semacam itu, berhentilah jadi Kepala Prajurit! Dia adalah orang yang seharusnya kita lindungi! Tapi kita malah dilindunginya dan kabur seperti ini!” ujar Lisia.


 


 


Kembali melihat ke depan, perempuan rambut merah itu berjalan meninggalkan mereka yang harga dirinya yang ternodai. Perkataan calon Kepala Keluarga Mylta itu sangatlah tepat, mereka berlatih keras setiap hari bukan untuk kabur dengan mengorbankan seorang pemuda. Melawan rasa gentar, beberapa prajurit berjalan mengikuti Fiola untuk pergi membantu Odo yang mereka tinggalkan.


 


 


Iitla Lots hanya berdiri membatu, tak berani melangkah dan rasa takut masih menguasainya. Sebagian besar anak buahnya melangkah pergi bersama Lisia, beberapa pemburu juga ada yang ikut dan dua orang penyihir juga mengikuti. Untuk mereka yang hanya berdiam diri di tempat, semuanya menundukkan kepala dengan rasa penuh sesal dan merasa seperti pengecut yang memalukan.


 


 


“Sialan! Kenapa tubuh ini gemetar! Sialan!”


 


 


“Tch!”


 


 


“Mau bagaimana lagi .... Monster itu Raja Iblis yang bahkan tak bisa dikalahkan oleh Tuan dan Nyonya!”


 


 


Mereka bergumam dengan alasan masing-masing, tetap berada di tempat dan benar-benar menjadi pengecut di mata mereka yang melangkah pergi bersama Lisia.


 


 


««»»


 


 


Setelah tubuhnya bisa bergerak, Fiola segera bangun dan berlari turun dari tebing, memasuki hutan yang telah porak-poranda. Sekuat tenaga yang tersisa ia berlari, secepat langkah kakinya bisa digerakkan menuju ke tempat kilatan merah yang sekilas terlihat keluar dari mayat Odrania Dies Orion yang dengan cepat membusuk menjadi bangkai. Partikel hitam yang tersebar menghilang cepat dari daratan saat terpapar cahaya matahari, membuat Huli Jing dengan kimono compang-camping itu berlari mendekat dengan mudah.


 


 


Sampai pada tempat mayat raksasa itu membusuk, ia mencari Odo dengan penuh rasa frustrasi. Wajahnya seakan ingin menangis, penuh rasa tak berdaya dan dari lubuk hati berharap Odo Luke masih hidup.


 


 


“Tuan ....! Kumohon! Tuan Odo! Hiduplah! Jangan mati seperti ini! Di mana kau!” benak Fiola seraya terus mencari Odo di sekitar bangkai Odrania. Namun meski telah mencari dari leher tanpa kepala sampai ujung kaki raksasa itu, tuan yang diacarinya tidak terlihat di manapun.


 


 


Bangkai mulai memuai dengan cepat, meleleh dan hanya meninggalkan belulang raksasa dengan daging busuk yang baunya menusuk hidung. Fiola tidak memedulikan itu, terus mencari dan mencari di dalam bangkai. Saat berjalan di sekitar tempat yang seharusnya terdapat dada Odrania, terlihat seseorang berdiri dengan pakaian rusak dan hanya bagian sekitar pinggangnya saja tertutup kain hitam dari celana rusak.


 


 


Dari belakang Fiola sempat tidak mengenalinya. Namun saat mendekat, dirinya jelas tahu kalau pemuda itu adalah Odo Luke. Rasa lega mengisi benak, wajah berseri dan air mata penuh rasa lega memenuhinya. Ia segera berlari ke arah Odo dan hendak memuluknya.


 


 


“Sialan!”


 


 


Suara bentak itu membuat Fiola terhenti, gemetar takut mendengar kata penuh murka tersebut. Sebelum sempat memanggil, pemuda itu kembali berkata, “Selalu saja seperti itu .... Entah itu sebelum aku terseret masalah ini atau tidak, aku selalu saja dipaksa mengikuti alur seperti ini .... Apa kalian tidak bisa membiarkanku istirahat?”


 


 


Tak ada orang yang diajak pemuda itu bicara, ia hanya bergumam sendiri dan mengutarakan kalimat aneh yang tidak Fiola pahami. Menelan ludah dengan berat, Huli Jing itu memanggil, “Tuan ... Odo?”


 


 


Pemuda itu segera menoleh, melihat dengan sorot mata lemas. Ekspresi yang nampak padanya terlihat seperti orang tua yang penuh beban pikiran, meski wajahnya terlihat sangat muda. Kantung mata mengerut gelap, sorot mata seakan tak terdapat cahaya di dalamnya, dan pipinya sedikit kempot serta terlihat sangat kurus.


 


 


Melihat tubuh hanya ditutupi sehelai kain itu di hadapannya, Fiola terkejut pada Rajah berwarna putih gading yang muncul pada bahu kanan Odo. Simbol tersebut memiliki bentuk simbol Khanda (Sword) — terdiri dari simbol tiga pedang, satu pedang lurus bermata tua dan dua pedang melengkung bermata satu yang saling membelakangi di kedua sisi pedang lurus, serta memiliki lingkaran di dalamnya. Simbol kecil itu terkurung oleh sebuah Rajah berbentuk api putih.


 


 


Fiola dengan jelas tahu simbol apa itu. Dalam buku tua yang pernah dirinya baca selama hidup panjangnya, pemilik simbol itu salah satunya adalah kaisar pertama Kekaisaran Urzia dan dikenal dengan Inkarnasi Dewa. Selain itu, pendiri Kerajaan Ungea juga dikatakan memiliki simbol semacam itu dan mulai disebut Inkarnasi Dewa. Melihat simbol semacam itu jelas-jelas nampak pada tubuh Odo, Fiola hanya bisa tertegun dengan rasa sedih.


 


 


“Tuan ....”


 


 


Air mata Huli Jing itu mulai mengalir, membasahi pipi dan membuat wajahnya bertambah kacau. Fakta munculnya Rajah seperti itu juga berarti adanya kewajiban besar yang harus dipenuhinya. Simbol seorang Utusan, simbol seorang Penguasa, simbol seorang Pemimpin, simbol seorang Penyelamat, dan berbagai makna lainnya terkandung dalam Simbol yang menganggap penguasa dunia hanyalah satu dan maha kuasa itu tunggal.


 


 


“Ada apa? Kenapa Mbak Fiola menangis seperti itu?”


 


 


“Tuan ..., apa yang Anda ingin lakukan sekarang?”


 


 


Odo langsung paham pertanyaan itu dengan jelas. Dirinya juga paham arti dari simbol yang muncul pada bahu kanan tersebut dan kewajiban yang ada di dalamnya. Dirinya telah mendapat beberapa ingatan yang hilang, telah paham tujuan sebenarnya dirinya kembali terbangun di dunia dan mendapat peran sebagai Odo Luke.


 


 


Memasang senyum ringan, pemuda itu berkata, “Aku ingin mencapai sebuah tempat. Untuk itu, sebuah perdamaian harus dicapai oleh benua Michigan ini segera.”


 


 


Air mata Fiola benar-benar mengalir tak terbendung, ia mulai tersedu dalam rasa lega yang bercampur dengan kecemasan. Menghampiri pemuda itu, Fiola langsung memeluknya dengan erat dan menangis lepas.


 


 


“Tuan ...! Hiks ... Hiks ... Tuan Odo ....”


 


 


“Mbak Fiola, aku sangat lega yang ikut kali ini adalah Mbak Fiola .... Kalau Mbak Julia yang ikut dan melihat simbol ini, mungkin dia akan memintaku untuk tidak mengejar tempat yang ingin kutuju itu ....”


 


 


“Saya ... juga ingin Anda tidak melakukannya! Kumohon ..., tetaplah menjadi Odo Luke yang kami kenal. Kumohon ..., jangan pergi jauh ke tempat yang tak bisa kami gapai ....”


 


 


Fiola berlutut, memeluk tubuh Odo dan benar-benar merengek layaknya anak kecil yang tak berdaya. Suara tangis itu terasa sedikit hening di tengah belulang yang mulai rapuh dengan cepat dan ambruk. Odo hanya memasang wajah datar, tidak membalas perkataan Fiola.


 


 


Huli Jing berekor sembilan itu mendongak, melihat wajah tuannya dan memelas, “Tuan  ..., kumohon .... Saya tahu kalau Anda sangatlah cerdas dan mungkin memiliki kapabilitas sebagai seorang Penguasa Besar .... Tapi ..., itu ....”


 


 


Suara sendu itu hanya masuk ke telinga Odo dan tidak benar-benar menyentuh hatinya. Tersenyum ringan, ia membalas, “Mbak Fiola pasti sudah tahu arti dari munculnya pemilik simbol seperti ini, Mbak Fiola yang seorang keturunan Pelayan Dewa pasti tahu .... Mbak Fiola juga tahu seharusnya, makna dari munculnya pemimpin baru pasti diikuti dengan konflik dan peperangan ....”


 


 


“Tapi ...!”  Huli Jing itu berhenti memeluk dan bangun, menatap penuh rasa cemas.


 


 


“Fiola, apakah engkau akan selalu berada di pihakku? Meski dunia memusuhiku kelak, apakah engkau akan berada di sampingku dan terus melayani jiwa ini?”


 


 


Pertanyaan itu diberikan dengan serius, membuat Fiola tertegun dalam rasa bingung dan tak bisa menjawab. Ia gemetar melihat ekspresi Odo yang sama sekali tidak terlihat ragu, bahkan mata pemuda itu seakan memancarkan semangat berbeda yang belum pernah ditunjukkan padanya.


 


 


“Anda ..., benar-benar menginginkan hal itu? Bisa saja jutaan nyawa melayang! Tidak, kurasa perang besar akan terjadi lagi kalau Tuan melakukannya dan segalanya akan kembali ke masa itu ....”


 


 


“Apa ... Mbak Fiola tipe orang yang peduli dengan hal semacam itu? Setahuku, Mbak Fiola hanya peduli pada Ibu .... Jadi kenapa?”


 


 


“Tapi ..., bukan berarti And—!”


 


 


“Aku takkan menyulut perang .... Perang itu akan datang sendirinya, tugasku adalah menjaga peperangan itu supaya tidak menuju ke arah kehancuran.”


 


 


\================================


 


 


Catatan Penulis:


 


 


Akhirnya sampai juga di sekitar pertengahan Arc 02 ini!


Btw, mulai Next cerita akan semakin berat .... Bukan rumit, tapi semakin berat.


 


 


Terima kasih para penikmat. Silakan dukung dengan Komentar, Vote, Share, dan bila bisa donasi koin.


Jika ingin tahu info-info lain seri Resaif, silakan kunjungi juga medsos:


 


 


IG @Kenikmatan7


 


 


FB Dirjen Magang


atau


Halaman FB Re:Start/if


 


 


Atau juga bisa mampir ke Blog https://darkfantasia7.blogspot.com/


 


 


Di sana ada juga seri yang mungkin menarik untuk dibaca.


Juga ada ilustrasi yang saya dan rekan buat;v


 


 


See You!!