Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 71 : Regalia III (Part 02)



Odo untuk sesaat memasang senyum tipis. Mendengar Arteria memanggil Mavis dengan sebutan Ibunda membuatnya sedikit ingin tertawa. Namun, apa yang diucapkan gadis itu selanjutnya membuat Odo tidak bisa menggodanya.


“Putri Arteria …. Mungkin ini terdengar aneh, tapi dengarkan aku baik-baik.” Odo melepaskan tangannya dari genggaman gadis tersebut. Memegang kedua sisi pundak Tuan Putri Arteria, seraya memasang wajah sedikit muram pemuda itu pun menyampaikan, “Kepercayaan yang dianut ku itu berbeda dengan kepercayaan yang dianut masyarakat Felixia. Kalau Ibuku bilang hal tersebut, berarti ia juga menyampaikan kalau aku juga tidak dibaptis, ‘kan?”


Arteria sedikit tersentak mendengar hal tersebut. Tepat seperti yang tunangannya sampaikan, Mavis dan Dart juga menyampaikannya. Bukan hanya hal itu saja, sang Pontiff pun menyampaikan hal yang tidak jauh berbeda. Mengatakan bahwa pandangan Odo Luke tentang para Dewa dan Keyakinan yang dibawa mereka ke dunia sangatlah berbeda dengan apa yang orang-orang pahami.


“Apa … Tuan Odo tidak percaya dengan keberadaan para Dewa?” tanya Arteria. Dalam lubuk hati, kepercayaan yang telah diajarkan oleh mendiang Ibunya mulai goyah.


“Tentu saja aku percaya mereka ada, salah satu sihir yang aku kuasai berkaitan dengan mereka. Namun ….” Odo menurunkan tangannya dari pundak Arteria, lalu sembari memasang mimik wajah lelah ia pun lanjut berkata, “Aku tidak percaya kalau para Dewa itu mahakuasa.”


Kalimat tersebut seakan menjadi eksekusi bagi Arteria, membuat Tuan Putri tersebut sepenuhnya meragukan kepercayaan yang ada dalam masyarakat Felixia. Bagi dirinya yang menjadi wadah sang Dewi dan berbincang dengan makhluk dari dimensi tingkat tinggi tersebut adalah hal wajar, samar-samar ia paham bahwa Dewa-Dewi tidaklah mahakuasa.


Ia mulai merasa kepercayaan yang dianut oleh mayoritas masyarakat Felixia dengan memuja Dewa-Dewi tidaklah mutlak untuk diikuti. Karena itu adalah hal yang percuma, doa yang mereka panjatkan tidak sepenuhnya didengar oleh mereka yang diatas. Meskipun didengar, Dewa-Dewi tidak mengambulkan semua harapan karena mereka cenderung pilih kasih.


“Apa … kepercayaan yang Arteria dan semua orang percayai ini salah ⸻?”


“Aku tidak berhak mengadili itu salah atau tidak.” Odo menepuk ringan kepala Arteria, lalu sembari tersenyum lepas berkata, “Percayalah apa yang ingin kau percayai! Kau tak perlu risau seperti itu …. Untuk ulang tahun ku, aku akan senang kalau kau tidak perlu melakukan apa-apa untuk merayakannya. Jujur saja, saat hari ulang tahun aku entah mengapa rasanya sensitif.”


“Sensitif?” Arteria menatap dengan heran.


“Agak temperamental. Kau pasti pernah dengar kalau Ayahku agak temperamental, ‘kan? Sepertinya aku mewarisi sifat seperti itu ….”


“Hmm …. “ Arteria mengangguk, lalu dengan tatapan masih tampak ragu dan gelisah berkata, “Ayahanda juga pernah bicara seperti itu dulu …. Mendiang Ibunda juga. Keturunan Luke cenderung memiliki kondisi mental yang kurang stabil saat masih remaja.”


Tatapan Arteria masih tampak memikirkan perkataan Odo sebelumnya. Menggelengkan kepala untuk menyingkirkan hal tersebut dari pikiran, ia mengisi kepalanya dengan memikirkan hal-hal lain.


Saat Arteria kembali menatap tunangannya, wajahnya seketika memerah dan lekas memalingkan pandangan. Ia merasa terlalu sering ditatap oleh Odo, membuatnya sedikit salah tingkat dan perlahan melihat tunangannya di hadapannya tersebut sebagai seorang pria secara utuh.


Odo sedikit memalingkan pandangannya ke arah Vil, memberikan tatapan kosong untuk memberitahu sesuatu. Roh Agung tidak menangkap maksud yang ingin disampaikannya, hanya bingung dan melangkah ke belakang karena perlahan ketakutan mengisi hatinya.


“Ka-Kalau begitu, diriku naik ke atas dulu. Rasanya kalau di sini terus diriku bisa mengganggu kalian berdua.”


Vil segera menggunakan sihir melayang, pergi ke lantai dua meninggalkan mereka berdua. Untuk sesaat Arteria tidak menyadarinya, bahwa Roh Agung tersebut pergi dengan gemetar dan ketakutan. Namun saat Odo menoleh dan kembali menatap ke arahnya, Putri Arteria pun perlahan mulai merasakan hal yang serupa.


“Bicara soal Ayahku, apa dia mengatakan sesuatu? Kalian harus pulang ke Ibukota sore ini, ‘kan?” Pemuda itu kembali menatap Arteria dengan sorot mata yang begitu, lalu kembali menegaskan pertanyaan, “Berarti dia akan ikut sebagai pengawal khusus?”


Tatapan tenang yang begitu dalam, tidak gelap ataupun dipenuhi cahaya. Meski terlihat biasa, sorot mata yang diperlihatkan pemuda itu kepadanya membuat sang Tuan Putri sempat tertegun.


“Eh? Hmm ….” Arteria memalingkan wajahnya dan menghindari kontak mata, lalu dengan sedikit tergagap menjawab, “Paman ⸻ Maksud Arteria, A-Ayah Dart juga akan ikut …. Sayang sekali Tuan Odo juga tidak ikut ke Ibukota ….”


Putri merasa tidak pantas memperlakukan tunangannya seperti orang mengerikan, ia memberanikan diri dan berusaha memperlakukan Odo dengan sewajarnya. Ia meraih tangan Odo dan memegangnya dengan erat, lalu dengan volume dinaikkan ia berkata, “Kalau bisa, Arteria ingin menunjukkan teman-teman Arteria di sana!”


“Kau punya teman toh?” sindir Odo.


“Tentu saja punya! Arteria punya banyak teman di istana! Ada Tuan Roh Api, Tuan Roh Air, Tuan Roh Tamah, dan Tuan Roh Udara! Ada juga Tuan Roh Baja dan Tuan Roh Langit! Di sana Arteria punya banyak teman, tahu!”


Mendengar pembelaan diri yang terdengar menyedihkan tersebut, Odo perlahan memalingkan pandangannya dan merasa sedikit kasihan dengan tunangannya tersebut. “Roh semua temannya,” benak pemuda itu sebelum menghela napas panjang.


ↈↈↈ


Mentari telah sampai pada puncaknya, menyinari daratan dengan begitu bebas tanpa halau awan sedikitpun. Pada halaman Kediaman Luke, sebagian besar kereta kuda telah pergi membawa tamu yang berasal dari Wilayah Luke. Sedangkan para tamu yang datang bersama rombongan Raja Gaiel, mereka tampak sedang mempersiapkan perjalanan pulang.


Mengurus berkas-berkas tentang perjanjian yang mereka buat selama acara, berbincang mengenai bisnis, kembali mempererat relasi yang telah dibentuk, ataupun sekadar hanya menunggu dengan duduk-duduk di dekat barisan kereta dan gerobak. Apapun yang para kalangan itu lakukan, hampir semuanya terlihat lelah karena beberapa alasan.


Berjalan pada teras samping Mansion, Raja Gaiel ditemani sang Pangeran dan beberapa Prajurit Elite yang mengawal mereka. Kepala Pelayan, Julia Shieal, juga mengikuti di belakang sebagai pemandu dan pengawal tambahan dari Keluarga Luke selama mereka masih berada di lingkungan Kediaman Luke.


“Apa benar Arteria pergi lagi ke perpustakaan sihir itu untuk menemui Odo?” tanya Raja kepada putranya, Pangeran Ryan.


Pemuda yang memiliki warna rambut merah gelap yang khas tersebut mengangguk. Ia menghela napas resah, lalu dengan nada sedikit angkuh dan meremehkan berkata, “Ayahanda, jujur saya tidak mengerti kenapa Arteria bisa sangat suka dengannya. Memangnya apa yang menarik dari Pembunuh Naga itu! Huh, sikapnya buruk, perilakunya juga tidak sopan. Yang lebih parah, dia katanya juga menolak untuk dibaptis bukan! Saya cemas kalau tunangan Adinda adalah orang kafir dan penganut ajaran sesat ….”


Mendengar itu, sembari tetap melangkahkan kakinya Raja Gaiel melirik kecil dan berpikir kalau putranya tersebut memiliki rasa persaingan yang tinggi dengan Odo. Namun merasa apa yang dikatakannya tadi terlalu berlebihan, dengan maksud mendorong perkembangan putranya ia pun berkata, “Meski begitu, Odo berhasil mendapat pencapai yang patut dibanggakan …. Ayah juga memiliki kecemasan yang sama denganmu, putraku. Namun …, itu sebuah fakta bahwa Odo Luke memiliki kemampuan yang tidak dimiliki kebanyakan orang.”


Mendengar ayahnya cukup membela Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, Pangeran Ryan cukup sakit hati dan menundukkan kepalanya. Sebagai seorang anak ia tak suka saat sang Raja memuji orang lain secara langsung selain dirinya dan Putri Arteria.


Di tengah langkah kaki menuju Luke Scientia, mereka kebetulan berpapasan dengan Odo dan Arteria yang berniat menuju halaman depan. Tepat pada jalan susunan batu yang menghubungkan kedua bangunan mereka berhenti.


Odo dan sang Raja saling menatap, memperlihatkan ekspresi yang sama-sama datar dan menyembunyikan perasaan serta niat terselubung. Menunggu salah satu pihak memulai pembicaraan terlebih dahulu, ketegangan pun yang tercipta. Bahkan sampai membuat keempat Prajurit Elite yang mendampingi ikut tertekan dan memperlihatkan ekspresi tak nyaman.


“Begitu ya, dia tidak mau?” Raja Gaiel mengelus lembut kepala putrinya dan memasang senyum bahagia. Namun itu hanya beberapa detik saja, ia langsung melirik tajam ke arah Odo dan dengan nada sedikit menekan bertanya, “Jadi …, kenapa Odo tidak mau? Bukannya anak-anak kebanyakan suka acara seperti itu?”


Pemuda rambut hitam itu hanya memasang ekspresi datar, merasa kalau Raja Gaiel terlalu menekankan bahwa Odo masih harus bertingkah layaknya anak-anak pada umumnya. Menarik napas dalam-dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mengacungkan jari telunjuk.


“Kalau Yang Mulia Raja tetap ingin merayakan ulang tahun ku, berikan saja hadiahnya padaku sekarang juga,” ucap Odo dengan nada datar. Tentu saja dengan maksud tersirat.


Arteria terkejut, segera berbalik dan dengan lantang bertanya, “Katanya tadi Tuan Odo tidak suka kalau ulang tahun Anda dirayakan?! Kok kenapa malah sekarang minta hadiah?”


Odo menurunkan tangan dan segera memalingkan pandangan, lalu dengan nada sedikit malas menjawab, “Aku memang tidak suka pesta, tapi aku tidak pernah bilang kalau tidak suka hadiah.”


“Eeeh~?” Arteria tampak heran, lalu sembari memalingkan wajahnya dengan bingung ia bergumam, “Tidak suka pesta, namun Tuan Odo mau kalau diberi hadiah saat ulang tahun. Tuan Odo memang aneh ….”


“Aku tidak mau mendengar itu dari orang yang cuma punya teman para Roh.”


Arteria tersentak mendengar itu, wajahnya berkaca-kaca dengan rasa kesal yang meluap-luap. Sembari memasang wajah cemberut seakan-akan ingin menangis, ia menunjuk lurus ke arah Odo dan membantah, “Arteria punya teman lain kok! Ayahanda adalah teman Arteria!”


“Raja itu Ayahmu.”


“Kalau begitu, Kakanda⸻!”


“Pangeran kakakmu.”


“Kakek Wolnir⸻!”


“Dia gurumu, bukan?”


“Ibu Sarawati⸻!”


“Dia ibu tirimu.”


Tidak memiliki orang lain yang bisa disebutkan, Arteria menoleh ke arah Raja dengan wajah seperti anak kucing yang ditelantarkan. Melihat hal tersebut, Raja Gaiel malah tersenyum kecil dan mengelus kepalanya.


“Tenang saja, Ayah mau menjadi teman kamu kok. Jangan bersedih hanya karena digoda olehnya. Sebagai calon Ratu, kamu harus bisa tegas kepadanya,” ucap sang Raja.


Arteria mengangguk. Ingin mengungkapkan rasa tidak puasnya karena benar-benar dipermainkan Odo, sang Tuan Putri kembali menghadap ke pemuda itu. Seraya menunjuk lurus ia pun membalas, “Tuan Odo sendiri memangnya punya teman!? Dari sifat Tuan Odo yang seperti itu, Arteria rasa tidak ada satu pun orang yang mau berteman dengan Anda!”


“Ada kok, malah banyak ….”


“Eh?” Arteria tampak terkejut.


Sembari menghitung jarinya sendiri, Odo menyebutkan orang-orang yang dianggapnya teman, “Vil, Mbak Julia, Mbak Fiola, Mbak Xua Lin, Mbak Imania, Kak Gariadin, Kak Linkaron, Arca, Mbak Siska, Nanra, dan masih banyak lagi. Mau aku sebutkan semuanya?”


“A …, itu …. Itu ….” Arteria benar-benar merasa telah dikalahkan dengan telak dalam persaingan sepele. Mengembungkan pipinya yang memerah, ia memalingkan pandangan dan berkata, “Arteria tidak akan memberikan hadiah untuk Tuan Odo! Rasanya menyebalkan!!”


“He-hem ….” Odo hanya memasang senyum kecil setelah selesai menggodanya.


Melihat hal tersebut, baik Raja, Pangeran Ryan, ataupun keempat Prajurit Elite yang mengawal, mereka sempat terkejut saat melihat senyuman hangat pada wajah pemuda itu. Mimik wajah Odo segera tampak kembali datar, lalu segera menatap ke arah Raja.


Mengingat ada sesuatu yang harus dibicarakan sebelum kembali ke Ibukota, Raja Gaiel memutuskan untuk membuka topik pembicaraan lain. “Viscount Odo, ada hal penting yang ingin diriku tanyakan. Apakah tidak masalah jika kita berbicara di sini?” tanya Raja Gaiel.


\===========


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.