
Hari sudah siang, matahari sudah naik melebihi puncaknya dan mulai perlahan turun meski sosoknya masih tertutup sedikit mendung. Burung-burung mulai mengepakkan sayapnya dengan gagah di langit yang mulai hangat, beraneka ragam jenis Roh Tingkat Rendah melayang-layang di taman kediaman Luke— dengan muatan mereka dan membuat kerlap-kerlip tujuh warna di atas bunga yang masih kuncup.
Menyusuri teras samping dan berjalan di atas susunan jalan batu menuju perpustakaan, Odo sekilas menoleh ke arah para Roh Tingkat Rendah tersebut dan melemparkan senyum tipis. Kembali melihat ke depan, ia segera menuju Luke Scientia dan membuka pintu perpustakaan sihir dengan 12 lantai tersebut.
Sampai di dalam, pemuda dengan kemeja putih dan celana hitam itu segera menutup pintu dan berjalan masuk mencari Roh Agung yang menghuni tempat tersebut. Ia melihat ke kanan, melihat ke kiri, melihat ke antara lemari-lemari buku sampai mendongak ke lantai atas dan langit-langit berkubah tempat tersebut.
Namun, Vil tidak terlihat di manapun. Menghela napas dengan resah karena sedang tak bisa mendeteksi Roh Agung tersebut dengan sihir, Odo menarik napas dalam dan berteriak, “VIIIL?! Kamu ada di mana?!”
“Kyaa~!”
Bruak ...!
Suara jatuh terdengar dari arah lemari-lemari buku di lantai dua. Menyipitkan mata, Odo bisa membayangkan apa yang sedang terjadi. Ia berjalan menaiki anak tangga, mendatangi Vil di lantai dua. Melongok ke sumber suara di antara lemari-lemari yang ada, Roh Agung tersebut terjatuh dengan posisi tengkurap dan tertindih buku-buku.
“Sedang apa ...?” tanya Odo heran.
“Habis baca buku, memangnya apa lagi? .... Tadi teriak-teriak buat apa, Odo? Aku kaget gara-gara kamu, tahu ....”
Vil segera bangun dari tumpukan buku, menata pakaiannya dan segera berdiri. Menggunakan sihir melayang —gelembung-gelembung air muncul di sekitarnya, ia segera membuat buku-buku yang berserakan ikut melayang bersamanya ke udara dan memasukkannya ke dalam rak-rak lemari yang kosong.
Buku-buku terbang cepat, berputar mengelilingi tubuhnya dan ada beberapa yang melayang melewati Odo untuk pergi ke tempat buku itu berasal pada rak masing-masing. Selesai menata semunya, Roh Agung yang mengenakan pakaian Ghagra Choli biru dengan pusar terbuka itu menatap datar. Mengamati Odo dan masih belum terbiasa dengan penampilan pemuda itu.
“Ada apa ... menatapku begitu?”
“Enggak .... Kamu, apa selamanya akan seperti itu? Terus penampilannya seperti itu ...?”
“Aneh, ya? Gak suka?”
“Hmm, suka .... Lumayan suka, malah pas dengan sikap dan sifatmu.”
“Begitu?”
“Ya .... Omong-omong, mau apa datang kali ini? Kurasa kamu sudah membaca hampir semua buku sihir perpustakaan ini? Apa mau cari cara mengembalikan wujud kamu?”
Vil melayang turun dan berpijak ke permukaan keramik, dengan kedua kakinya yang tanpa alas. Pakaiannya yang sedikit berjumbai-jumbai ikut turun, tudungnya yang dikenakannya ikut berhenti melayang. Senyum tipis sekilas terlihat dari balik cadar hitam perempuan rambut biru laut tersebut, terlihat senang karena beberapa alasan.
“Bukan,” jawab Odo setelah sekilas terpesona. Balik menatap mata perempuan itu, ia berkata, “Aku hanya ingin menawarkan sesuatu padamu .... Mau tidak kau—?”
“Baiklah, aku setuju ....”
“Eh?”
Odo sedikit terkejut karena Vil benar-benar menjawab dengan sangat cepat. Dirinya memang telah memprediksi hal tersebut, namun mendengar itu langsung memang cukup membuat pemuda itu tak percaya.
“Gak dengar dulu ..., tawarannya apa gitu?”
“Tak perlu .... Odo, aku sudah memutuskannya. Kurasa itu tak apa, kalau itu engkau. Lagi pula kamu sudah janji akan selalu bersamaku ..., membawaku keluar dari tempat ini, karena itu —”
Vil menatap lurus dengan sorot mata penuh misteri, senyuman dari balik cadarnya samar-samar terlihat dan benar-benar membuat Odo terkejut. Memejamkan mata sekilas dan melakukan perhitungan internal, pemuda itu mengambil kesimpulan dan memahami tindakkan apa yang tepat.
Menatap dengan kornea mata bersinar redup kehijauan, pemuda itu berkata, “Baiklah, kalau begitu ....” Odo melepas sarung tangan kanannya, mengajak Vil berjabat tangan dan berkata, “Saat kau menjabat tangan ini, tiket satu arah akan diambil— Eh?”
Vil langsung menjabat tangan Odo tanpa ragu, bahkan sebelum pemuda itu selesai menjelaskan sampai akhir. Dalam hitungan detik, sebuah paket informasi yang telah disiapkan langsung terkirim ke kepala Vil dan kesadaran Roh Agung tersebut langsung memahami apa yang sebenarnya ingin pemuda itu lakukan.
“Begitu, ya .... Apa itu kemampuan baru kamu? Hmm, rencana ini juga menarik sekali. Bukan berarti diriku benar-benar peduli, namun kurasa kalau kamu mengharapkannya .... Aku tak keberatan membantumu.”
Odo sejenak menatap heran, merasa kalau Roh Agung Laut Utara Dunia Astral tersebut benar-benar agresif kali ini. Dengan rasa ragu, ia bertanya, “Apa kau tidak masalah soal ini? Bisa saja ini kesalahan lagi ..., seperti saat kau berharap naik ke daratan dan kejadian seperti itu terjadi di pada teman-temanmu.”
“Hmm, apa aku pernah menceritakan itu pada kamu? Yah, jujur saja aku memang tak yakin .... Odo, tapi kalau itu kamu kurasa tak masalah ....”
Menggenggam erat tangan kurus dan dingin pemuda itu, ia menatap dengan senyuman tipis bercampur rasa sedih. Melepas cadarnya dengan tangan kiri, ia menunjukkan senyum itu langsung kepada Odo.
“Aku sudah lelah berkabung .... Mereka tidak akan suka kalau aku terus seperti ini. Mereka berdua, sahabat-sahabatku itu ..., mereka pasti juga mengharapkanku untuk terus maju dan berhenti bersedih .... Jadi, Odo .... bisakah kau menepati janjimu dalam kontrak yang kamu beri ini?”
Odo memejamkan mata, menghentikan kalkulasi dan saat membuka mata kedua korneanya kembali berwarna biru. Tersenyum lega, ia menjawab, “Ya ..., tentu saja.”
“Terima kasih, Master ....”
“Kalau begitu, sebagai ganti bonus kontrak ini akan kuberi sesuatu, Vil ....”
Odo berhenti berjabat tangan dengan Roh Agung tersebut. Membuka tangan kanan, pemuda itu menggigit telapak tangannya sendiri sampai mengeluarkan sedikit darah. Darah pada telapak itu bergerak, membentuk sebuah pola simbol lingkaran dan persegi-persegi dengan acak.
“Cuih!”
Ia meludahi telapak tangannya sendiri, membuat perubahan pola darah pada telapak tangan terhenti dan membentuk sebuah simbol Vegvísir dari darah yang mengering—itu sebuah simbol untuk menunjukkan delapan arah dengan tiap garis simbol terdapat Rune kuno.
“O-Odo? Mau apa kau? Sihir apa itu?” tanya Vil sedikit takut. Rasa jijik nampak pada wajahnya.
“Ini hanya untuk membantu koordinasi arah aliran Mana .... Kau tahu, strukturku sedang rusak.”
“Yang kutanya Mau apa dengan itu? Ka-Kamu jorok ....”
Odo sedikit mengangkat alis dan berkata, “Oooh, itu yang kau cemaskan, toh. Sudahlah, jangan menatap jijik seperti itu ....”
“Tunggu ...! Kenapa mendekat? Kenapa kau mengangkat telapak tanganmu seperti itu?! Tadi itu kamu ludahi, ‘kan? Bersihkan dulu!”
“Sudah ....”
“Ti-Tidak! Jangan mendekat!!”
Meski melangkah mundur dan berusaha melawan, pada akhirnya Vil diraupi wajahnya dengan simbol yang ada pada telapak tangan Odo. Simbol darah kering itu tidak membekas pada Roh Agung tersebut, langsung hilang saat menyentuh wajahnya secara keseluruhan.
Terduduk dengan lemas di atas lantai setelah dipaksa oleh Odo, mata Roh Agung tersebut berkaca-kaca. Menatap seakan ingin menangis keras, lalu kesal berkata, “Untuk apa, sih! Jorok!”
“Jangan bilang begitu, itu hanya sebuah cara menstabilkan keberadaanmu.”
“Menstabilkan apanya? Tangan kotor bekas liur bisa apa memangnya?!” gerutu Vil. Ia benar-benar tak suka dipaksa seperti tadi. Dirinya yang cenderung suka bersih memang tidak suka hal-hal semacam itu.
Menunjuk ke arah Vil yang terduduk, pemuda itu berkata, “Hmm, dengan itu seharusnya kau bisa jalan keluar selama masih berada dalam jarak sepuluh meter dariku.”
“Eh?” Kedua mata Roh Agung terbuka lebar, segera bangun dan bertanya, “Ini Kontrak Jiwa?”
“Bukan,” jawab Odo datar. “Hanya semacam menindih informasimu dengan informasiku, membuat koneksi dan menjadikanku sebagai penstabil keberadaanmu.”
“Hmm ...?” Vil tidak paham dengan hal tersebut, memiringkan wajah dan tidak bisa menangkap maksud meski tahu kekuatan seperti apa yang dimiliki pemuda itu.
“Sudahlah, coba keluar ....”
Seperti apa yang dikatakan Odo, mereka pun berjalan sampai pintu perpustakaan untuk mengetes hasilnya. Namun Vil masih ragu, ia berhenti melangkah dan tidak berani keluar dari perpustakaan. Mengingat terakhir kali dirinya mencoba pergi beberapa tahun lalu, ia menjadi gentar untuk melangkah keluar. Saat itu dirinya hampir terurai dan lenyap dari dunia.
“Ya-Yakin gak masalah? Aku bisa cepat hilang kalau keluar, loh.”
“Coba saja ....” Odo membuka pintu lebar-lebar, tersenyum dan kembali berkata, “Kalau kau akan lenyap, akan aku tarik nanti.”
Berusaha mempercayai perkataan Odo, Roh Agung tersebut melangkahkan keki melewati pintu dan terus sampai menuruni anak tangga teras perpustakaan. Tanda-tanda tubuhnya akan menghilang tak nampak, ia benar-benar bisa berjalan keluar dari perpustakaan tanpa Kontrak Jiwa atau harus lenyap tubuhnya.
“Ini .... Ini! Odo, aku bisa keluar! Bisa keluar dari perpustakaan!”
Vil langsung meloncat-loncat riang, berputar-putar dengan riang dengan kaki tanpa alas di atas permukaan jalan susunan batu. Saking bahagiannya, ia tanpa sengaja melewati batas jarak dengan Odo dan tubuhnya perlahan menghilang.
“Eh—?! Kyaaa!! Lenyap! Lenyap! Tubuhku lenyap ....” Ia panik, segera berlari kembali menuju perpustakaan.
Menghela napas ringan, Odo mendekat dan Roh Agung itu dan menghentikannya— Memegang kedua sisi bahu Vil, lalu tersenyum ringan. Proses pelenyapan berhenti, bahkan partikel yang melayang pergi dari tubuh Roh Agung tersebut kembali dan menyusun tubuhnya.
“Ini ... sebenarnya apa yang kamu lakukan?” Roh Agung itu menatap lurus pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya, dengan penuh rasa heran dan penasaran.
“Manipulasi informasi. Awalnya aku ingin membuat tubuhku bisa menampungmu, namun kurasa itu mustahil karena aku semakin melemah. Jadi aku berpikir seperti ini, ‘kalau aku tak bisa, bagaimana kalau aku mengubah Vil saja?’ dan ternyata berhasil,” jenas Odo.
“Manipulasi? Apa yang kamu manipulasi memangnya? Jelaskan, tolong jelaskan! Aku penasaran!”
Vil benar-benar penasaran, dirinya bertanya dengan semangat dan benar-benar ingin tahu karena selama ini dirinya meneliti tentang berbagai cara dan tidak pernah berhasil. Mendekatkan wajah ke pemuda itu, ia dengan semangat meminta, “Beritahu aku! Master Odo!”
“Eh? Master?” benak Odo. Ia mulai terusik dengan cara Vil memanggilnya. Sedikit memalingkan wajah dan menghela napas, ia mengacuhkan rasa heran itu dan memiliki untuk menjelaskan.
“Akh, itu ... semacam ....”
Setelah itu pemuda itu menjelaskan semuanya, tentang kekuatan Aitisal Almaelumat dan cara penggunanya secara dasar. Memang Vil sudah tahu kekuatan macam apa itu dari paket informasi yang diterimanya bersama daftar rencana Odo, namun mendapat penjelasan lebih detail ia benar-benar terkesima.
“Berarti ... itu punya potensi manipulasi informasi mutlak?! Hebat sekali! Kamu sudah bisa menggunakan kekuatan seperti itu! Kamu memang berbeda, Master Odo!” ucap Vil dengan penuh energi. Kesan tenang darinya seakan hilang, berganti dengan gadis energik yang selalu ceria wajahnya.
Mengambil dua langkah mundur, Vil berbalik dari Odo dan berkata, “Aku paham fungsi yang kamu pakai itu ....” Ia tersenyum tipis, mengangguk satu kali dan berkata, “Pada dasarnya Roh di Dunia Nyata itu sifatnya mirip dengan gas, karena itu sebuah wadah seperti Altar atau Kuil diperlukan. Untuk Menampung informasi Roh Agung diperlukan ukuran kompleks, lalu untuk bisa menampung susunan informasinya diperlukan sebuah Media kompleks, atau juga bisa digunakan tubuh orang untuk tampungan— Itulah Kontrak Jiwa, membutuhkan semacam tumbal .... Namun!”
Vil berputar dan menghadap Odo, menunjuk ke arahnya dan berkata, “Kamu mengutak-atik itu! Benar begitu? Dengan kekuatan Aitisal Almaelumat milikmu!”
Odo terdiam sesaat mendengar perkataan Roh Agung yang seakan bertingkah dirinya seorang detektif terkenal. Menghela napas ringan, Odo menjawab, “Benar, tapi tak lengkap.”
“Eh? Tak lengkap? Apa lagi yang kurang?” Vil menyipitkan mata dengan rasa penasaran.
“Kalau sifat Roh seperti gas di dunia ini, lalu apa yang membuat keberadaanmu terikat denganku dan tetap ada meski di luar seperti ini? Aku tidak memanipulasi informasimu sampai pada tingkat kau bisa bebas bergerak di Dunia Nyata.”
“Eh?” Vil terdiam, memiringkan wajah dan terlihat bingung. Beberapa detik kemudian, Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa sebelumnya mengucapkan hal aneh dan berlagak sok tahu.
Odo menatap datar, dalam benak merasa, “Ah, efek dari paket informasi, ya? Itu memang cukup memengaruhi kepribadian, sih .....”
Sejenak menarik napas, pemuda itu menjelaskan, “Hariq Iliah .... Kamu tahu Sihir Khusus tersebut, bukan ?”
“Sihir api, memang .... Tapi pada tingkat tertentu, itu bisa dengan mudah memanipulasi suhu dan pada tingkat lanjutan bahkan bisa mengendalikan gas dengan suhu tersebut. Pada tingkat akhir, sihir api itu bisa digunakan untuk sebuah pengkristalan sebuah gas .... Menggunakan konsep tiga bentuk zat ....”
“Tiga ... bentuk zat?” Vil semakin bingung. Meski dirinya bisa sedikit mengikuti penjelasan, namun ia harus fokus sampai keningnya mengerut.
“Cair, Padat, Gas .... Kau tahu itu, bukan? Dasar Alkimia, loh ....” Odo menatap datar, merasa malah untuk menjelaskan.
“Hmm, tapi apa hubungannya?” tanya Vil antusias.
“Tadi bukannya sudah bilang sendiri, Roh itu sifatnya seperti Gas di Dunia Nyata. Kalau tidak berada dalam media dengan susunan kompleks, maka akan segera lenyap. Karena itu ..., aku melakukan penyelarasan .... Aku timpa susunanmu menjadi sangat mirip dengan gas, lalu mengkristalkannya— Bukan secara fisik, namun keberadaan. Itu juga yang menjadi alasan untuk batas jarak ....”
Wajah Vil seketika terkesima, semua keraguannya paham. Memang dengan cara tersebut sebuah penstabilan keberadaan bisa dilakukan, layaknya seperti mengkristalkan sebuah keberadaan dalam sebuah objek dan menjaga kondisinya supaya tak berubah. Namun saat paham bisa melakukan manipulasi informasi sampai tingkat tersebut, sebuah pertanyaan muncul dalam benak Vil.
“Hmm, kenapa tidak langsung saja ubah tubuh atau keberadaanku supaya bisa paten di Dunia Nyata ini? Kamu punya kekuatan untuk itu, bukan?”
“Aku ... tidak sepraktis tongkat Veränderung,” ucap Odo dengan tatapan malas.
“A ....!” Vil sedikit tersentak, segera menundukkan wajah dan sadar diri kalau dirinya meminta terlalu banyak. Ia tahu mengubah informasi bukanlah sesuatu hal yang mudah, dirinya pernah melakukan itu dan melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa dimaafkan.
“Maaf ..., Odo,” ucap Vil dengan sesal. Sedikit mengangkat wajah, ia menatap pemuda itu.
“Tak masalah ..., asal kau paham.”
Menarik napas lega, Vil sedikit memalingkan pandangan dan berbalik ke arah kebun dengan bunga-bunga yang belum mekar. Ia tersebut kecil, mengingat kembali rencana Odo yang tertanam dalam kepalanya.
Menoleh ke arah pemuda itu, Roh Agung tersebut berkata, “Kalau kamu sudah bisa melakukan hal ini untukku, bukannya sudah tak perlu lagi melawan Leviat—”
“Aku akan tetap melawannya,” sela Odo dengan tegas.
Vil terdiam melihat ekspresi serius pada wajah pemuda itu. Dengan nada gemetar, Roh Agung tersebut bertanya, “Eh? Untuk apa?”
“Aku butuh Serpent itu .... Tepatnya, Sihir Khusus yang dimilikinya. Untuk itu, aku perlu bantuan untuk mengalahkannya.”
Kobaran api ambisi berkobar pada sorot mata pemuda itu, membuat Vil sampai merasakan hangatnya semangat. Tersenyum kecil dan mengangguk ringan, Roh Agung tersebut kembali berputar-putar dengan riang. Rambutnya berkibar, bersama tudung serta pakaiannya yang berjumbai.
Berhenti berputar, ia menghadap pemuda itu dan berkata, “Begitu, ya .... Baiklah, aku akan ikut membantu kamu, Odo.”
“Terima kasih ..., Vil.”
Jawaban terdengar samar, begitu dingin seakan tidak benar-benar berharap Roh Agung tersebut akan setuju. Namun sebenarnya bukan itu alasannya, ada alasan yang berbeda dalam diri Odo sendiri.
“Tak masalah,” ucap Vil seraya berputar ke belakang, merentangkan kedua tangannya ke samping dan menari-nari tanpa alas di atas jalan. Ia begitu ceria, bergerak bebas di bawah sinar matahari. Meskipun kenyataannya ia belum benar-benar memiliki kebebasan di Dunia Nyata, namun ia jelas-jelas menikmatinya momen tersebut.
Seraya berputar-putar seperti sedang menari, ia bertanya, “Ngomong-omong, Odo .... Kamu memberiku hadiah seperti ini, berarti aku harus ikut dengan kamu ke Mylta?”
“Hmm, sudah tahu rencanaku, ‘kan? Tolong lakukan saja itu, Vil ....”
Roh Agung itu berhenti berputar-putar, menghadap Odo dan dengan bingung bertanya, “Bukannya lebih sempurna kalau kamu saja yang melakukannya? Kalau aku nanti bisa rusuh, loh.”
“Tak masalah .... Tak perlu sempurna, hanya harus ada yang melakukannya. Kondisiku sedang tak bisa ..., jadi kumohon kau saja.”
“Hmm, baiklah .... Kalau begitu, ayo pergi!” ucap Roh Agung itu dengan semangat.
“Eh? Tunggu .... Besok saja mulainya ....”
“Sudahlah, Ayo! Sekalian aku mencoba hadiah kamu ini .... Kita lihat apa ada yang kurang atau tidak dari cara kamu mempertahankan bentukku.”
Roh Agung tersebut menggandeng Odo, mengajaknya berlari menyusuri jalan di taman dengan ceria dan pergi menuju ke arah gerbang utama. Namun saat baru sampai di tengah taman, Minda yang baru saja kembali dari kota setelah urusannya selesai memergoki mereka di depan gerbang.
“Vil ...? Tuan Odo ....”
Wajah perempuan rambut hitam itu benar-benar terbelalak, tak percaya Roh Agung di hadapannya bisa keluar dari perpustakaan sihir tanpa mengalami pemuaian tubuh. Seketika pikiran bergerak cepat karena situasi mencengangkan itu, menuntun Shieal itu pada sebuah kesimpulan, yaitu Kontrak Jiwa.
Itu membuat Minda menarik napas dalam-dalam dan berteriak, “Nyoooonya!! Tuan Odo membawa Vil keluar!! Dia membuat Kontrak dengan Vil!! Nyonyaaa!!!”
“A ..., sudah kuduga.”
Itulah kesalahpahaman dan tindakan wajar dilakukan oleh seorang Shieal yang memprioritaskan tuannya. Perempuan berseragam pelayan itu segera berlari ke arah Mansion tanpa menunggu penjelasan Odo, benar-benar terlihat panik karena paham Kontrak Jiwa adalah satu-satunya sebuah cara untuk mempertahankan Roh Agung di Dunia Nyata secara setara.
.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, Mavis ditemani Fiola dan Julia pun datang dengan tergesa-gesa setelah mendengar Minda melapor. Mereka semua datang bersama perempuan bergaun pelayan panjang sampai mata kaki tersebut, ia benar-benar melaporkan Odo dan Vil dengan cara yang pasti membuat Mavis dan kedua orang di belakangnya salah paham.
“Putraku! Kenapa kamu berulah lagi ...? Padahal kondisimu baru saja membaik, putraku .... Kamu ini ....”
“Tuan ..., kenapa Anda selalu saja membuat semua orang cemas?! Anda ini ....”
“Tuan Odo, Anda ....”
Mavis, Julia, dan Fiola menatap penuh rasa cemas seakan-akan hidup Odo tidak akan lama lagi. Reaksi mereka tidak berlebihan, pada dasarnya memang Kontrak Jiwa hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu saja dan itu pun harus dibayar dengan sesuatu yang setimpal dengan kekuatan yang didapat. Jika dilakukan oleh orang biasa, bisa dipastikan jangka hidupnya akan terkikis banyak dan bisa saja langsung mati.
Memalingkan pandangan, Odo menghela napas dengan ekspresi malas menjelaskan situasi yang sebenarnya. Menatap Mavis, pemuda itu berjalan ke arah ibunya tersebut dan segera meraih tangannya dan menggenggam dengan erat. Dalam hitungan detik, paket informasi yang khusus berisi penjelasan situasi terkirim pada Mavis.
“Ah ...? Tadi itu ...?”
Mavis sekilas bingung, bukan karena tidak paham namun malah sebaliknya. Ia paham apa yang terjadi secara penuh, alasan serta kronologinya secara ringkas pun wanita rambut pirang itu langsung tahu.
“Tuan Odo? Apa ... yang Anda lakukan pada Nyonya?” tanya Fiola sedikit cemas. Huli Jing itu memegang pundak Odo dan pada saat itulah informasi ikut terkirim kepadanya, ia pun langsung paham situasinya.
Hal serupa pun terjadi pada Julia dan Minda yang berusaha memisahkan Odo dari Mavis. Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan alasan mengapa Vil bisa berada di luar meski tanpa Kontrak Jiwa, sebuah pertanyaan muncul dalam benak mereka.
“Putraku ..., yang kau lakukan ini ....”
Memalingkan pandangan dengan malas dari ibunya, Odo lebih memilih mengalirkan informasi lagi daripada menjelaskan dengan mulut. Itu menjalar seperti listrik, mengirimkan informasi tentang kekuatan Odo kepada mereka.
Berhenti memegang tangan ibunya, Odo memalingkan pandangan dan sedikit melangkah mundur. Semuanya tak perlu dijelaskan lagi, informasi tersebut dengan jelas Mavis pahami. Keempat orang tersebut kecuali Fiola benar-benar terkejut, mengetahui fakta kalau kemampuan menghantarkan informasi seperti itu pemuda itu dapat dari sang Raja Iblis Kuno.
“Maaf .., aku menyembunyikannya ....”
Apa yang diucapkan pemuda itu membuat setiap orang yang mendengarnya tertegun. Mereka berempat paham, beberapa hal yang Odo telah dan akan lakukan untuk apa. Meski itu seharusnya membuat mereka ingin memarahinya, namun cara penyampaian itu membuat Mavis dan yang lainnya tidak merasa marah. Hanya rasa tenang yang ada saat mengetahui beberapa rencana dan fakta tentang Odo.
“Bunda ..., boleh aku pergi lagi? Ke kota itu ....”
“Odo ..., sungguh untuk apa kau melakukan itu? Kalau memang kau peduli pada Bunda, tolong jangan membuat Bunda cemas lagi .... Bunda mohon, putraku ....”
“Maaf ..., tapi memang harus. Mungkin di mata Bunda ini hanya hal sepele karena sekarang aku akan menjadi calon raja negeri ini. Namun ..., kurasa ini juga akan sangat berarti nantinya, itulah yang kurasa.”
“Kalau begitu tolong kembali tanpa terluka! Bunda tak ingin melihatmu kembali dengan kondisi seperti itu lagi .... Tak bisa bergerak, rapuh .... Bisa kau berjanji pada bunda? Engkau tahu, anakku .... Rasanya ..., di dada sakit saat melihatmu seperti itu.”
“Hmm ..., Maaf. Karena itu ... begitu boleh aku meminta sesuatu juga?”
“Apa ... lagi itu?”
Mavis menatap cemas. Dalam benak ia sebenarnya ingin memeluk Odo dan melarang anaknya itu bagaimanapun caranya. Namun sadar kalau hak seperti itu tidak dimilikinya, Mavis lebih memilih mengubur hasrat itu. Ia merasa tidak pantas sebagai seorang ibu dari anak seperti Odo.
“Vil, Mbak Julia dan Mbak Minda harus ikut denganku .... Aku butuh bantuan mereka, aku ingin mereka menjagaku selama pergi.”
“Eh?”
Permintaan itu terdengar bukan seperti Odo yang biasanya dan membuat Mavis terkejut. Sedikit memikirkannya secara rasional, Mavis paham kalau anaknya tersebut juga mengerti kalau kondisinya sedang lemah dan butuh bantuan orang lain.
Setelah itu Odo menjelaskannya dengan mulut, alasan dari permintaan itu kepada mereka. Tak ada yang mengerti kenapa Odo lebih memilih mengucapkannya dengan mulut dan tidak melakukan hal seperti tadi, namun anehnya itu malah membuat mereka tidak bisa berargumen dengan hal tersebut.
Tanpa ada argumen yang berarti, permintaan itu disetujui layaknya mereka memang benar-benar dipandu oleh pemuda itu.
««»»
Setelah mengantar Odo dan yang lainnya sampai gerbang, Mavis dan Fiola berjalan ke arah Mansion. Namun saat di tengah taman, Huli Jing di belakang Mavis bertanya, “Apa ... tak masalah membiarkan Odo pergi seperti itu? Nyonya tahu kondisinya masih belum pulih, ‘kan? Dia sangat rapuh ..., sampai-sampai tak bisa menggunakan sihir dan bahkan sihir sendiri merusak tubuhnya.”
Langkah kaki Mavis terhenti, kembali merasa ragu atas keputusannya tadi. Ia berbalik dan hendak mengutarakan keraguannya tersebut. Namun setangkai bunga Lantana Cemara yang jatuh di atas kepalanya membuat wanita itu sejenak mengurungkan niatnya.
Mavis mengambil bunga yang seharusnya berasal dari daerah tropis di pulau Kritasil Bascal namun bisa tumbuh di daerah subtropis tersebut. Ia langsung merasa ada yang janggal karena bunga kelopak bunga-bunga pada tangkai tersebut mekar merah. Mencium aromanya, Mavis semakin terheran.
Lantana Cemara seharusnya bunga yang beraroma seperti kotoran heran, namun apa yang di tangannya itu tercium wangi seperti melati. Saat itu Mavis teringat dengan kemampuan Odo untuk memanipulasi informasi, langsung mengerti ulah siapa bunga itu bisa di tangannya sekarang.
“Odo ....” Menatap keluar gerbang, wanita itu terlihat cemas.
Tanpa semua orang sadari, pemuda yang telah pergi bersama para Shieal itu sudah merencanakannya dari awal. Semenjak dirinya melakukan pembalikan kausalitas pada bunga di tangan Mavis.