Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 42: Mutual-Evîn 2 of 10 “Amaranth Globe” (Part 03)



Suara langkah kaki menggema saat menuruni anak tangga. Cawan kecil berisi cairan lilin dan sumbu yang dinyalakan menjadi penerang langkah kaki. Sampai pada anak tangga terakhir, Luna membuka pintu kayu dan masuk bersama Canna.


 


 


Sampai di ruang bawah tanah Lokakarya tersebut, Odo dan Vil sedikit terkejut dengan keberadaan tempat itu. Meski disebut Luna sebuah basement, namun tempat itu lebih cenderung disebut sebuah altar untuk ritual sihir.


 


 


Lingkaran sihir utama terlihat di tengah ruangan bawah tanah, memiliki struktur yang saling berhubungan dengan lingkaran-lingkaran sihir lain. Itu melambangkan sebuah susunan berbagai zat yang antara lainnya seperti : Emas yang diidentikkan dengan Rune matahari, timah yang diidentikkan dengan Rune yupiter, perak yang diidentikkan dengan Rune bulan, Rune omega menandakan kematian, dan Alpa sebagai kehidupan.


 


 


Kelima simbol tersebut tersusun rapi di dalam struktur bintang berekor lima, membuat sebuah perwujudan dari beberapa zat dan eksistensi simbol kehidupan. Mengamati simbol lingkaran sihir yang terletak di tempat dengan pencahayaan minim tersebut, Odo tidak bisa langsung menebak fungsinya.


 


 


Prok! Prok!


 


 


Luna bertepuk tangan dua kali, membuat lilin-lilin yang digantung pada dinding ruang bawah tanah menyala. Melihat jelas lingkaran sihir, Odo langsung paham fungsinya dan segera berbalik menghadap Luna.


 


 


“Lingkaran ini ... untuk transmutasi?”


 


 


Meletakkan cawan lilin ke atas meja, perempuan rambut cokelat kemerahan itu menjawab, “Tepat sekali, itu lingkaran sihir.” Menatap pemuda itu dan berjalan ke arahnya untuk melihat lingkaran sihir, ia menjelaskan, “Dengan menggunakan bahan bakar utama berupa bubuk batu kurasa, transmutasi sederhana bisa dilakukan dengan mudah menggunakan altar ini.”


 


 


“Hmm, kira-kira apa bisa membuat ligamen buatan, ya?” gumam Odo mengamati altar.


 


 


“Eh? Ligamen?”


 


 


“Ah, lupakan ....” Odo menarik napas dalam-dalam, menatap perempuan di sebelahnya dan bertanya, “Jadi, kenapa mengajakku ke sini? Bukan untuk pamer struktur ini, ‘kan?”


 


 


“Tentu saja bukan,” ucap Luna.


 


 


Melihat ke arah Canna yang mengambil dua tongkat sihir, ia menerima tongkatnya. Luna membawa tongkat pendek sepanjang satu meter dengan ujung sebuah kristal sihir berbentuk Heksagonal, pegangan terbuat dari kayu tunggal berwarna hitam yang telah dipoles. Untuk Canna, ia juga memegang tongkat yang hampir sama namun lebih pendek lagi.


 


 


Menodongkan ujung tongkat ke arah altar, Luna bertanya, “Odo, setelah melihat ini bagaimana menurutmu?”


 


 


Odo kembali mengamati altar transmutasi tersebut. Dirinya mulai benar-benar paham fungsinya dan menganalisis struktur dasarnya. Menatap Luna dan Canna di sebelahnya, ia menjawab, “Hmm, lingkaran ini melambangkan kehidupan. Siklus, pembentuk, kausalitas, dan ... kurasa ada juga persimbolan sebuah bentuk kehidupan tunggal? Apa ... kau sedang meneliti tentang Awal Permulaan?”


 


 


“Eh? Kenapa ... bisa tahu Awal Permulaan?” ucap Canna heran.


 


 


Kening Luna sedikit mengerut, lalu berkata. “Odo ... pasti mendengar hal semacam itu dari Master Mavis. Benar bukan, Odo?” Ahli sihir tersebut menatap sedikit kesal karena tujuan penelitiannya mudah ditebak seperti itu.


 


 


Tidak menatap ke arah mereka dan fokus pada altar, Odo remeh menjawab, “Hmm, mungkin ....”


 


 


“Mungkin?”


 


 


“Kenapa malah jawabnya mungkin?”


 


 


Odo tidak memedulikan mereka, berjalan memutari altar dan sedikit menatap tajam. Vil tidak mengikuti pemuda itu, tetap berdiri di sebelah kedua ahli sihir yang juga merasa heran dengannya.


 


 


Berhenti berjalan dan memahami untuk apa tujuan penelitian Luna di Lokakarya miliknya tersebut, Odo dengan terang berkata, “Meneliti sumber awal kehidupan untuk sampai pada kebenaran.”


 


 


Perkataan itu membuat ketiga orang itu sedikit tercengang. Tanpa memedulikan mereka, Odo kembali berkata, “Jika tahu dari mana sumber kehidupan, maka sumber dari permulaan juga akan semakin dekat. Fakta itu memang nyata dan secara teori bisa dilakukan. Namun ... meneliti perkembangkan — Evolusi bentuk kehidupan sangatlah memakan waktu. Awal dari kehidupan dasar dikatakan merupakan prokaroit sederhana. Butuh jutaan evolusi sampai bisa menjadi makhluk hidup sekarang. Meneliti perkembangan itu di setiap tahap pasti akan memakan ratusan tahun. Jika satu tahap terlewat, salah penafsiran malah akan membawa ke fakta yang salah dan menjauh dari Awal Permulaan.”


 


 


Apa yang dikatakan Odo sangat jelas terdengar oleh Luna, Canna, dan Vil. Mereka memang mendengarnya, namun hanya mengerti sebagian dan benar-benar tercengang karena perkataan pemuda itu.


 


 


Menatap Odo dengan penuh rasa heran, Luna mendekat dan bertanya, “Odo ..., kenapa  ... kau berkata seperti itu? Rasanya ... seakan kau memang sudah tahu apa itu Awal Permulaan.”


 


 


“Eh?”


 


 


Odo sedikit terkejut, tatapannya seakan baru kembali dari tempat yang jauh. Sedikit memalingkan pandangan, pemuda itu berkata, “Entahlah .... Aku hanya ....”


 


 


“Kenapa malah entah! Kamu tadi benar-benar menebak tujuan penelitianku! Kalau kau tahu dan bisa menyimpulkan hal seperti itu, kenapa malah jawab entah?!”


 


 


“Tenanglah, jangan teriak-teriak ....” Odo memasang wajah malas, menatap risih.


 


 


“Ini penelitianku! Sudah seharusnya aku berhak tahu! Sudah! Sekarang berikan pendapatmu! Akan aku dengar mes—!”


 


 


Puk! Canna memukul kepala Luna dengan tongkatnya. “Sudah .... Lihat, kau jadi seperti itu lagi. Memangnya kau bocah baru belajar sihir apa?”


 


 


Segera Luna berbalik, menatap Canna dengan penuh hasrat ingin tahu dan bertanya, “Canna dengar sendiri, ‘kan? Odo menebak penelitianku selama belasan tahun ini dengan mudah! Kalau Odo ikut meneliti! Pasti tujuan kita para penyihir Miquator akan tercapai! Rahasia Dunia akan terbongkar!”


 


 


“Dia ... bukan penyihir Miquator.”


 


 


Luna tersentak, langsung gemetar dan paham dirinya telah terbawa gairah haus akan pengetahuan. Memalingkan pandangan, ia berkata, “Maaf .... Aku hanya ....”


 


 


Odo hanya menatap mereka dengan datar. Dirinya kembali melihat ke arah altar, mengamati dan mencari tahu beberapa hal tentang struktur ritual yang ada. Sekilas pemuda itu kembali mengingat ingatan  yang dirinya dapat dari Raja Iblis Kuno, membuatnya memasang wajah muram.


 


 


“Rahasia Dunia, ya ....”


 


 


««»»


 


 


Rembulan bersinar tererang di langit gelap, didampingi para bintang yang masih tertutup oleh awan-awan renggang. Keluar dari Lokakarya Hulla, Odo dan Vil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan dengan berat. Mereka berdua tidak membayangkan akan diajak berbincang sangat lama oleh Luna dan Canna, bahkan sampai enam jam lebih.


 


 


“Apa semua penyihir Miquator seperti itu? Aku rasa Nyonya Mavis tak separah itu,” keluh Vil. Meski secara fisik dirinya tidak merasa lelah, namun secara pikiran ia sangat kelelahan.


 


 


Odo menghela napas, memalingkan pandangan dan langsung melangkahkan kaki. Sedikit melirik, ia berkata, “Hmm, memang. Tapi ... hari ini kita masih ada kegiatan lain, loh. Ayo! Ke tempat selanjutnya ....”


 


 


“Eeeh?” Vil menatap enggan, memalingkan wajah dan mengeluh, “Capek tahu. Ndak usah, ya. Nanti besok saja, ya! Entah mengapa aku lelah banget .... Kamu juga lelah ‘kan, Odo?”


 


 


“Enggak ....” Odo berhenti melangkah, menoleh ke arah Vil dan berkata, “Tubuhku sudah membaik dari kemarin, vitalitasku juga sudah mulai naik. Kegiatan seperti ini kurasa tidak terlalu membebaniku.”


 


 


Vil menatap enggan, menggelengkan kepala dua kali dan berkata, “Enggak! Enggak! Tempat selanjutnya itu .... Bukannya bahaya kalau pergi malam-malam?”


 


 


“Bahaya?” Alis Odo sedikit terangkat, lalu berkata, “Meski aku sekarang lemah, kurasa lawan satu atau dua preman tak masalah.”


 


 


“Bukan itu maksudnya....”


 


 


“Hmm?”


 


 


Odo memasang wajah polos seakan tidak menangkap maksud Odo. Menghela napas karena tak bisa mengatakan lebih jelas dari itu, pada akhirnya Vil pasrah dan mengikuti pemuda itu untuk pergi ke tempat selanjutnya yang telah terjadwal.


.


.


.


.


 


 


Bangunan-bangunan dengan dinding kayu berjejer, terlihat kumuh dengan gang-gang sempit yang menjadi tempat tinggal para imigran gelap yang menjadi gelandangan. Tidak seperti tempat lain di Mylta, daerah kumuh tersebut cenderung gelap dengan pencahayaan lentera minyak yang sangat minim.


 


 


Berjalan di tempat tersebut, Odo dan Vil mendapat tatapan sinis dari para gelandangan yang ada di gang-gang. Mereka lebih kumuh daripada gelandangan di Distrik Niaga, sangat kacau dan urakan.


 


 


Desahan, erangan, jeritan lirih, dan berbagai macam suara kebejatan lainnya terdengar jelas di tengah kesunyian tempat tersebut. Odo hanya memasang ekspresi datar, berusaha untuk tidak melirik kanan atau kiri untuk memeriksa suara. Menggandeng Vil dengan erat, pemuda itu merasa sedikit muak dengan tempat tersebut.


 


 


“Tempat seperti ini memang selalu ada,” gumam Odo.


 


 


Vil mendengar itu. Namun sebelum bertanya, perempuan rambut biru tersebut segera diajak Odo untuk berjalan lebih cepat dan segera masuk lebih dalam ke Distrik Rumah Bordil tersebut.


 


 


Meski tanpa menolehkan wajah, Odo cukup jelas melihat kondisi tempat itu. Hampir semua bangunan di sepanjang jalan gelap adalah rumah bordil, tempat para perempuan menjual tubuh mereka untuk menyambung hidup. Para pelanggan yang datang kebanyakan adalah para nelayan, pedagang, dan ada juga beberapa pejabat yang pernah Odo lihat di kantor instansi pemerintahan.


 


 


Pemuda itu berusaha untuk tidak menatap mereka, hanya melirik dan memahami sisi gelap kota yang sesungguhnya. Odo  tidak memandang rendah hal semacam itu meski dirinya tidak menyukainya. Ia tahu kalau para perempuan yang menjual tubuh mereka tidak semuanya melakukan itu karena ingin, sebagian dari mereka pasti hanya karena untuk bertahan hidup atau semacamnya. Paling tidak itulah yang Odo yakini.


 


 


Sampai di bangunan yang dituju pada ujung Distrik Rumah Bordil, pemuda itu berhenti. Bangunan dua lantai, sebagian besar terbuat dari kayu dan cukup ramai jika dibandingkan dengan bangunan lainnya di sepanjang jalan tempat tersebut. Di depan bangunan dengan pencahayaan remang-remang dari lentera minyak itu terlihat tiga pria kekar sebagai penjaga, ada juga para perempuan yang mengumbar tubuh mereka dengan pakaian untuk menggugah hasrat kaum pria.


 


 


Itu seperti pakaian yang sering digunakan Vil, namun lebih minim kain dan sangat transparan. Lebih mirip seperti pakaian para penari malam yang sering dipakai oleh orang-orang Ungea di distrik hiburan pada negeri mereka.


 


 


Salah seorang loki mendekati Odo, berjalan memutarinya dan merayu, “Tuan .... Apa Anda ingin bersenang-senang denganku malam ini? Tuan datang ke sini untuk itu, ‘kan?” Pelacur itu melingkarkan kedua tangannya ke leher Odo dari depan, menempelkan buah dadanya dan menggoda, “Bagaimana? Mau semalam?”


 


 


Vil hanya menatap datar, merasa kesal pelacur rambut hitam panjang sepunggung itu menggoda Odo. Kulit pelacur itu yang sedikit gelap menandakan kalau ia berasal dari Ungea, yang juga bisa berarti seorang imigran gelap di Mylta.


 


 


“Maaf .... Aku datang bukan untuk itu. Eng ..., apa Madam Theodora ada?” tanya Odo sembari memegang kedua pundak pelacur tersebut, lalu mendorongnya mundur dengan halus.


 


 


“Madam? Oh, Anda sudah ada janji dengan Madam, ya? Fu~fu~ Kalau Anda sampai bisa memesan Courtesan, berarti Anda cukup kaya, ya?” goda pelacur tersebut.


 


 


Odo hanya tersenyum kaku, tak biasa mendapat godaan semacam itu. Sedikit memalingkan matanya, pemuda itu berkata, “Hmm, tidak juga. Saya hanya ingin bertemu dengannya, apa dia sedang ada waktu?”


 


 


“Madam sedang senggang. Yah, ini masih awal-awal musim semi, jadi kurasa sangat jarang ada pelanggan dari kalangan atas. Lagi pula tempat ini sangat terpinggir, kurasa sudah jarang sekali ada orang yang berani memesan Madam.”


 


 


Pelacur itu segera melangkah mundur dan berbalik, lalu berkata, “Aku beritahu Madam dulu!” Ia pergi masuk ke bangunan pusat Distrik Rumah Bordil, sekilas Odo mendengar pelacur itu bergosip dengan rekan-rekannya tentang beberapa hal.


 


 


Saat menunggu, ketiga pria kekar yang menjaga tempat tersebut menatap Odo dan Vil dengan tidak ramah. Tidak memedulikan itu, Odo menggandeng perempuan rambut biru di sebelahnya dan menggenggamnya erat.


 


 


Tidak sampai sepuluh menit, sang Madam keluar dari bangunan dan berkata, “Sekiranya ... diriku sudah tak punya pelanggan lagi sejak kota ini keluar dari jalur perdagangan. Hmm, jadi engkau gerangan yang memesanku?”


 


 


Meski dirinya dipanggil Madan, Theodora masih terlihat sangat muda di usianya yang menginjak kepala tiga. Kulit putih pucat yang terlihat jelas dari pakaian minim dan transparan, rambut hitam yang disanggul dan sorot mata hitam yang memikat. Gerakkan langkah anggun yang seakan memamerkan elok tubuhnya, melihat itu Odo paham mengapa wanita itu disebut pelacur kelas atas (Courtesan).


 


 


Meski dirinya mengenakan pakaian yang tak jauh berbeda dari pelacur lain di tempat tersebut, hawa yang terasa sangat berbeda. Memikat, menggoda, menggiurkan untuk dijamah, hal-hal yang mengundang hasrat pria ada pada dirinya.


 


 


Odo sekilas terpana. Namun memejamkan mata sekilas, dirinya bergumam, “Delete.”


 


 


Madam mengulurkan tangannya dengan gemulai ke arah Odo, lalu berkata, “Engkau siapa, pemuda? Theodora ini tak pernah mendengar atau melihatmu di tempat ini? Pendatang baru?” Ia mendekat, berjalan dengan ritme menggunakan sepatu dengan hak tinggi.


 


 


Dengan refleks, Odo meraih tangan Theodora yang terulur. Sebelum pemuda itu sadar, sang pelacur langsung bergerak cepat dan melingkarkan lengan kanan ke lehernya. Menatap tajam, penuh daya pikat pelacur kelas atas itu ingin menjatuhkan Odo dalam genggamannya.


 


 


Berusaha tetap tenang, Odo dengan jelas berkaat, “Aku .... Odo Luke, putra Marquess. Apa kau Madam Theodora?”


 


 


Pengakuan Odo sontak membuat setiap orang yang mendengarnya terkejut, kecuali Vil. Madam melepaskan dekapan dan melangkah mundur, ketiga pria yang berjaga langsung was-was dan bersiap melindungi Nyonya mereka.


 


 


Mendapat reaksi seperti itu, Odo memastikan kabar yang beredar tentang Distrik Rumah Bordil dan Madam Theodora. Dalam kabar tersebut, Odo mendengar kalau pihak pemerintah sempat ingin sungguh-sungguh menutup bisnis suram di pinggiran kota tersebut meski berakhir gagal.


 


 


Pada saat itu sampai ada kericuhan dan korban jiwa. Meski hanya satu atau dua orang yang meninggal, namun dengan jelas orang-orang yang menjalankan bisnis di Distrik Rumah Bordil membenci pemerintahan dan orang yang terkait dengan itu.


 


 


“Odo ... Luke? Hmmm, engkau pikir Theodora ini bodoh? Anak Marquess itu masih bocah, jangan bergurau seperti itu, pemuda ...!”


 


 


Courtesan itu sedikit menyipitkan matanya, menatap tajam seakan ekspresi yang dirinya tampakkan tadi memang hanyalah sebuah akting untuk memikat pria.


 


 


Odo hanya memasang senyum tipis, lalu berkata, “Madam tahu kalau keluargaku ahli dalam sihir, bukan? Wujud ini salah satu sihir. Lagi pula, mana mungkin aku datang dengan bentuk anak-anak. Kalau ada yang tahu, reputasi keluargaku bisa turun.”


 


 


Bualan itu terdengar seperti fakta bagi Theodora. Menatap dingin, ia berkata, “Untuk apa bocah sepertimu datang ke lahanku?”


 


 


“Hahah, kejamnya. Padahal kau sudah banyak merepotkanku.”


 


 


“Hah? Ap—!”


 


 


“Kau pikir aku tidak tahu!” potong Odo. Melangkah mendekat, pemuda itu mulai menekan, “Sepertinya aku diremehkan  .... Yang menghasut para nelayan dan gelandangan untuk ikut orang-orang Moloia itu kau, bukan? Karena itu aku hampir terbunuh .... Jangan bilang kau pura-pura tidak tahu kasus itu, Madam.”


 


 


Theodora tetap memasang ekspresi datarnya, balik menatap dan sama sekali tidak gentar. Menarik kerah Odo dengan kasar, ia tegas berkata, “Hmm, sepertinya pemuda ini berlagak seperti sang penguasa. Memangnya punya bukti apa kau, bocah!”


 


 


Aura lemah lembut dari pelacur kelas atas itu hilang, berganti dengan wanita tegas dan penuh dengan tatapan gelap. Odo sedikit menyipitkan mata, sedikit mengingat-ingat informasi yang dirinya pernah baca di ruang arsip salah satu instansi pemerintahan.


 


 


Memegang erat tangan yang menarik kerahnya dengan kasar, Odo berkata, “Theodora Mascal, asal kerajaan Moloia .... Mantan bangsawan dan pernah menjadi Gundik dari salah satu putra mahkota di sana.”


 


 


“!!!”


 


 


Courtesan tersebut langsung terbelalak, benar-benar gentar pada pemuda di hadapannya. Mengesampingkan benar atau tidak pemuda itu anak Marquess, Theodora paham kalau pemuda rambut hitam tersebut tahu masa lalunya. Revisi


 


 


Odo segera memegang pergelengan satunya perempuan itu. Menahan kedua tangan Theodora, pemuda itu sedikit tersenyum tipis dan berkata, “Meski tanpa bukti kuat, fakta itu sudah cukup untuk menyetmu ke persidangan.”


 


 


“Kau .... Apa orang pemerintah memang suka seperti itu? Mengancam dan menyudutkan orang lemah seperti kami ....”


 


 


“Jangan cemas, aku datang bukan untuk menangkapmu. Mari kita bicara, Madam.”


 


 


Theodora benar-benar heran melihat senyuman polos tersebut. Itu terlihat begitu aneh namun hangat, dirinya tidak merasakan pertanda bahaya dari pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


\==================


Catatan:


-Gundik; istri tak sah/ perempuan piaraan/bini gelap