
Dalam tangis lepas, sang Ibu berusaha mengumpulkan pecahan daging putrinya. Dengan histeris, layaknya orang gila yang masih berharap putrinya bisa selamat meski sudah tidak berbentuk lagi.
Segera kembali membuka mata, sang Pemuda menarik galah hitam yang menembus lehernya. Perlahan luka yang dideritanya sembuh seakan waktu diputar kembali, sama sekali tidak meninggalkan bekas yang berarti untuknya.
Bangun dan melihat darah berceceran di trotoar serta Adiknya menangis penuh histeris, sang Pemuda langsung tahu apa yang telah terjadi pada keponakannya. Sesaat amarah naik dan membuat mimik murka tampak padanya. Namun dengan cepat, itu hilang layaknya noda debu pada lantai yang dibasuh dengan air.
Menatap ke arah perempuan rambut putih itu, sang Pemuda dengan pikiran sangat jernih bertanya, “Kau, kau itu apa? Kenapa kau selalu membuatku menderita? Apa yang kau inginkan dariku?”
Pemuda itu benar-benar sama sekali tidak menunjukkan amarah ataupun kesedihan, hanya menatap kosong dalam kehampaan. Meski melihat Adiknya menangis seperti itu dan telah kehilangan keponakan, hati sama sekali tidak terguncang. Memang benar untuk sesaat dalam dadanya terasa sakit, namun itu dengan cepat hilang dan berubah menjadi ketenangan yang busuk tanpa dirinya sendiri sadari.
“Diriku adalah salah satu Tuhan dunia ini. Yah, kurasa kata Tuhan kurang cocok karena merujuk pada hal tunggal. Lagi pula, kepribadian yang diriku miliki adalah perempuan. Mungkin engkau bisa menyebut diriku Dewi, lebih tepatnya lagi salah satu dari 101 Pengamat Dunia dan Peradaban Umat Manusia.”
Jawaban yang seakan seenaknya dan tidak serius itu kembali memancing amarah sang Pemuda, membuat orang yang selalu terlihat tenang tersebut sampai mengerutkan kening dan menatap tajam.
Pemuda itu mengangkat tangannya dan menunjuk, lalu dalam kemurkaan berkata, “Dewi? Pengamat manusia?! Yang benar saja!! Memangnya hal seperti ini pantas dilakukan seorang Dewi!! Meledakkan anak kecil tak berdosa!! Kau hanya Iblis!!”
“Yah, Dewi atau Iblis terserah engkau saja. Pada dasarnya itu hanya masalah cara pandang orang-orang dengan pengetahuan rendah seperti kalian. Jadi terserah saja, yang pasti sebuah kenyataan bahwa kami adalah pengamat peradaban kalian sejak dahulu kala.”
Ucapan yang selalu terdengar seakan tak peduli itu membuat amarah sang Pemuda benar-benar tumbuh. Perasaan pertama yang kembali diingat dengan jelas olehnya setelah sekian lama adalah sebuah murka besar, membakar hatinya dengan kobaran amarah. Melotot, mengepalkan tangan dengan kencang sampai berdarah dan menggertakkan gigi dengan erat. Pemuda itu benar-benar dibakar api amarah.
“Untuk … apa?” tanyanya dengan kontrol diri yang masih sedikit tersisa. Ia hampir saja berlari ke arah perempuan itu dan menghajarnya. Namun saat melihat sang Adik yang menangis histeris, ia lebih memilih untuk memikirkan cara mengamankannya lebih dulu.
Seakan bisa membaca isi kepala sang Pemuda, perempuan rambut putih itu mengangkat telunjuk ke bawah bibir dan memasang ekspresi menghina untuk memprovokasi. Hal tersebut benar-benar efektif, isi kepala Pemuda itu kembali diisi amarah dan berfokus kepadanya.
Sembari tersenyum lebar dan memalingkan pandangan, dengan nada remeh perempuan itu menjawab, “Tentu saja untuk menilai apakah semesta versi ini layak atau tidak untuk dijadikan tempat kami menetap. Kami membimbing umat kalian dengan pengetahuan yang berlimpah, lalu memberikan kebebasan dan mengamati. Jika kalian lulus dari hari pengujian, maka kalian akan selamat.”
Perempuan itu menurunkan jarinya, menghela napas ringan seakan meremehkan pembicaraan. Dalam tatapan penuh gairah ia kembali berkata, “Engkau tahu, tujuan kami adalah menguak kebenaran demi keberlangsungan seluruh dunia yang tersisa. Melakukan seleksi, menilai individu-individu bernilai tinggi saja supaya dipertahankan untuk menghemat sumber daya. Seperti yang kami lakukan di dunia pusat dulu, memilih 101 Individu saja dengan tingkat pengetahuan tertinggi dan mengorbankan miliaran lainnya!! Lalu pada akhirnya, akan ada satu Individu yang mengetahui segalanya!! Ialah yang terpilih, lalu ialah yang jalan akan membawa umat manusia menuju kebenaran sejati ⸻!”
“Bukan itu yang aku tanya!!” potong sang Pemuda. Ia kembali benar-benar dikuasai marah saat mendengar hal tersebut, lalu dalam kuasa kemurkaan memaki, “Dasar ******! Aku tanya untuk apa kau melakukan ini kepadaku! Persetan dengan orang lain!! Peduli apa aku dengan dunia!! Aku tak peduli dengan apa yang kalian tuju!! Lakukan itu di tempat lain dasar sialan!! Jangan libatkan kami! Aku hanya ingin hidup dengan keluargaku!! Bajingan kau!!”
Makian itu terdengar bagaikan melodi musik bagi perempuan itu, membuatnya tersenyum puas dan merentangkan kedua tangannya ke samping. Pada detik itu dirinya merasakan kebahagiaan karena telah memilih orang yang tepat.
Sembari bertepuk tangan ia pun berkata, “Sungguh orang yang egois, tamak dan malas! Meski diberkahi dengan banyak hal, sikap seperti itu masih tidak kunjung hilang! Layaknya seorang anak kecil! Luar biasa, karena itulah diriku suka! Engkau terpilih karena sifat dan kemampuanmu itu. Karena alasan tersebut juga, diriku memberikan keabadian yang telah melekat dengan jiwa engkau itu!”
Sang Pemuda merinding dan amarahnya seketika padam, ia baru pertama kalinya melihat ada orang yang kegirangan saat dimaki. Merasa aneh, tak paham dan begitu gelisah. Dengan amarah yang mulai goyah ia pun bertanya, “Apa … yang kau bicarakan. Terpilih apa?”
Perempuan itu berhenti merentangkan tangan. Dengan mata terbuka dan seringai lebar seakan merobek mulutnya, ia dengan tegas menyampaikan, “Asal kau tahu, wahai pemuda! Meski kami mengaku Tuhan atau Dewa-Dewi, kami dulunya manusia dari dunia dengan tingkat peradaban jutaan kali lebih maju dari dunia ini!!”
“A-Apa yang kau⸻?”
Perempuan rambut putih tersebut menghentakkan kakinya, membuat permukaan tanah bergoncang dan membuat mulut sang Pemuda bungkam ketakutan. Kembali menghentakkan kakinya sampai membuat gempa, tiang lampu jalan di dekat mereka tiba-tiba meledak dan kaca-kaca dari bangunan retak.
Meski tersenyum lebar, ia dengan nada dan suara membentak berkata, “Engkau tahu, konsep seperti Tuhan atau semacamnya adalah hal yang asal dibuat oleh orang-orang di dunia ini!! Untuk menyebut kami yang memberikan pengetahuan kepada mereka! Ada kalanya kami juga disebut alien, iblis, atau bahkan malaikat!! Lalu, seluruh dari kami yang berjumlah 101 dan bijak telah memutuskan untuk menjadikan engkau cadangan!! Engkau paham apa artinya itu, wahai pemuda?!”
“Apa … yang kau bicarakan? Cadangan? 101?”
“Engkau akan tahu itu kelak! Yang terpenting sekarang adalah kabar yang harus diriku sampaikan ini!”
Seakan ruang tidak berarti untuknya, perempuan itu mengambil satu langkah dan langsung berdiri di depan sang Pemuda. Secara refleks pemuda itu mengayunkan tangannya untuk memukul perempuan tersebut. Tetapi, seketika tubuhnya berhenti bergerak tepat sebelum kepalan tangan menghantam wajah sang perempuan.
“Ak⸻!?”
Mendekatkan mulut ke telinga, perempuan rambut putih itu pun berbisik, “Waktu penghakiman telah tiba. Wahai pemuda, salah satu dari kami memutuskan untuk hancur dengan sendirinya bersama salah satu dunia di luar sana. Saat ini satu-satunya kursi yang memegang Kemahatahuan telah kosong …. Karena itu, penilaian terhadap engkau akan dimulai bersama akhir dari dunia penghujung ini. Memutuskan apakah manusia di dunia ini pantas atau tidak untuk bertahan.”
Perempuan itu menjauh satu langkah ke belakang, lalu seketika ia telah berdiri di tempat yang berjarak lima empat meter dari tempatnya tadi. Kembali menjentikkan jarinya untuk kedua kalinya, ia membuat pemuda itu bisa bergerak lagi. Pada saat yang sama, perempuan itu juga menghidupkan kembali anak kecil yang sebelumnya meledak seperti sedia kala tanpa cacat sedikitpun.
Adik sang Pemuda langsung terbelalak, segera memeluk putrinya yang kembali utuh dalam dekapan. Namun saat sadar bahwa perempuan yang sebelumnya telah meledakkan putrinya masih ada, ia kembali gemetar dan menatap penuh rasa takut.
“Wahai pemuda, inilah kekuatanku. Mahakuasa! Sebagai hadiah kecil dari pertemuan kita kali ini, akan diriku beritahu engkau. Masing-masing dari kami memiliki kekuatan yang kalian ketahui sebagai 99 Nama Tuhan, lalu tiga diantara kami adalah penyokong keberadaan kami. Karena satu diantara kami telah tiada, maka engkau bisa mencari tiga individu tersebut dari 100 yang tersisa. Bukankah ini peraturan yang mudah?”
“Apa … yang kau bicarakan?”
Meski menangkap apa yang perempuan itu maksud, akal sehat sang Pemuda tidak bisa mencerna pembicaraan. Apa yang terjadi kepada keponakannya, hal terkait kekuatan yang perempuan itu bicarakan, kepalanya seakan tidak bisa menerima semua hal tersebut.
Perempuan rambut putih itu kembali bertepuk tangan satu kali, lalu dengan nada penuh keceriaan berkata, “Jika disebut dengan bahasa yang kalian sukai, Perang Suci akan segera dimulai! Atau … lebih tepat harus diriku sebut Ragnarok!? Kiamat? Hari Akhir? Yah, apapun itu terserahlah.”
“Kiamat? Apa yang kau bicarakan⸻?”
“Kau memilih kata Kiamat, ya?” potong perempuan itu sembari bertepuk tangan. Mengangkat tangan kanannya lurus ke depan, ia dengan senyuman lebar berkata, “Baiklah! Akan ditetapkan penghakiman akhir akan bernama Kiamat! Oh, wahai pemuda! Wahai umat manusia!! Kiamat telah di depan mata kalian, bersiaplah!!”
“Yang benar saja! Dari tadi apa yang kau bicarakan!!?” bentak sang Pemuda.
Perempuan itu malah menyeringai lebar. Perlahan mengangkat tangannya ke atas dan menunjuk ke arah langit, ia dengan lantang berkata, “Lihatlah, sosok lawan kalian! Salah satu dari algojo kami telah turun! Pertama akan kami kirimkan lima di antara mereka! Sebelum Hakim Terakhir turun untuk membinasakan kalian semua!!”
Kita adalah puncak dari peradaban dunia, itulah yang awalnya diyakini oleh umat manusia sebelum hari itu datang. Namun ketika peringatan datang kepada mereka, orang-orang disadarkan bahwa telah hidup layaknya seekor katak dalam sumur. Seakan menertawakan segalanya, salah satu Hakim menampakkan dirinya kepada sang Pemuda.
Makhluk itu melayang dengan ukurannya yang begitu masif, tinggi mencapai 600 meter lebih dan memiliki dua pasang sayap cahaya yang lebarnya mencapai dua kilometer. Kulitnya tampak keras bagaikan cangkang putih, memiliki dua tangan dan kaki yang sama panjang dan kepalanya berbentuk seperti tengkorak manusia yang tidak memiliki daun telinga ataupun hidung.
Melayang dengan posisi tengkurap ke bawah, mata raksasa tanpa kelopak tersebut menatap tajam ke permukaan seakan-akan menilai semua makhluk hidup yang ada di dalam kota yang dilewatinya. Mulut dengan gigi bawah mencuat ke atas layaknya ganding mulai terbuka, lalu mengeluarkan suara bising yang sangat keras seakan sedang marah pada sesuatu.
Melihat makhluk tersebut dan merasa seperti seekor semut karena ukurannya, sang Pemuda gemetar dalam ketakutan dan melupakan amarahnya. Ia segera berlutut di dekat sang Adik, lalu mendekapnya dan meringkuk dalam teror mutlak tersebut.
Ilmu pengetahuan, usaha, sejarah, peradaban, serta kehidupan manusia seakan tidak berarti.
“A …A⸻! Apa … itu? Apa-apaan itu? Kenapa bisa … ada makhluk seperti itu di dunia?”
Sang perempuan yang masih berdiri tegak menurunkan tangannya, lalu dengan senyum menertawakan ia dengan lantang menyampaikan, “Ksatria Tuhan! Kalian bisa menyebutnya malaikat yang sesungguhnya! Salah satu hakim yang akan menilai kepantasan kalian!”
“Ke-Kepantasan?”
“Benar! Kalian satu umat akan dinilai olehnya! Ini adalah keringanan yang bisa kami berikan!” Perempuan rambut putih itu menunjuk sang Ksatria Tuhan, lalu hanya dengan satu kata memerintah, “Hancurkan!”
Raksasa yang melayang tengkurap perlahan mendarat, menginjakkan kakinya di tempat yang cukup jauh dari tempat mereka dan membuat tanah berguncang. Kaca-kaca gedung pecah dan suara bising kembali terdengar. Saat sosok masif tersebut berdiri, tingginya melebihi gedung-gedung pencakar langit yang ada di sekitarnya.
Keempat sayapnya mengincup, lalu hancur menjadi partikel cahaya padat dan dengan cepat membungkus tangan kanannya. Perlahan terangkat ke arah barat laut, tangan berselimut cahaya yang padat tersebut langsung menembakkan sinar radiasi bersuhu tinggi.
Bangunan-bangunan yang dilewati sinar meleleh seketika layaknya mentega yang dipanaskan, lalu pada jarak ratusan kilometer cahaya tersebut mengenai sasarannya dan membuat ledakan dahsyat. Melebihi nuklir mana pun yang pernah diciptakan umat manusia pada zaman tersebut. Gelombang yang dihasilkan dari pusat ledakan bahkan sampai ke tempat mereka, layaknya terpaan angin badai penuh debu.
Selang beberapa menit setelah ledakan dan badai elektromagnetik mulai pudar, Device yang terpasang pada telinga sang Pemuda langsung menerima puluhan pemberitahuan kepadanya. Dari semua kabar yang didapat, dua hal yang membuat wajahnya memucat. Kota Uji Coba telah hancur 60% dan Ibukota negara tempatnya tinggal benar-benar telah lenyap dari pengamatan satelit di orbit.
Meski itu hanyalah kalkulasi cepat setelah gangguan elektromagnetik, namun sebuah fakta bahwa tembakkan cahaya tadi diarahkan tidak ke sembarang tempat memang nyata.
Sang pemuda melepas Device dan menjatuhkannya, menatap dengan sorot mata pasrah dan berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi. Di antara pandangannya yang terbatas karena badai debu, dengan jelas sang Pemuda melihatnya, senyuman yang seakan menertawakan dari perempuan rambut putih tersebut.
Ketika sang Pemuda berhenti memeluk Adiknya dan hendak berdiri, perempuan rambut putih itu menjentikkan jarinya. Pada saat yang sama, seketika tubuh sang Adik beserta putrinya meledak. Mereka berdua hancur menjadi kepingan-kepingan daging yang terpencar berantakan.
Itu sangat tiba-tiba, tidak memberikan kesempatan untuk sang Pemuda itu bereaksi melindungi Adiknya.
“A⸻Apa …Ap … A⸻!! AKKKKKKKHHHHHHH!!!!!!!!!”
Dadanya terasa sesak. Bukan karena debu penuh radiasi yang melayang bersama angin kencang, namun emosi yang meluap-luap membuat fungsi tubuhnya tidak bisa beroperasi dengan baik. Hati yang terlalu lama menghiraukan perasaan benar-benar diingatkan, dengan kekejaman dunia yang sesungguhnya.
Perempuan itu menurunkan tangannya dengan mimik wajah menertawakan. Layaknya sebuah lelucon tak penting, ia dengan suara lantang berkata, “Engkau tadi sempat berpikir ingin selama sendiri bersama Adikmu itu, bukan?! Uhahah! Konyol sekali! Itu tidak bisa, kami tidak akan membiarkan engkau melakukan hal egois seperti itu! Wahai Pemuda, ini tugas yang diberikan kepada engkau. Kewajiban! Satukan umat manusia dan lawanlah kami! Benci kami! Murkalah kepada kami! Manfaatkan segala yang ada di tangan engkau dan cobalah turunkan kami dari singgasana!!”
“Ha ha … Hahahahhahahahaha!!!!!!!!”
Pikiran sang Pemuda mulai gila karena tak bisa menerima kenyataan, ia tertawa terbahak dan menangis dalam waktu yang bersamaan.
Berhenti tertawa, sang Pemuda segera memungut device yang sebelum dijatuhkan. Ia kembali memasangnya ke telinga kanan, lalu sembari menyeringai lebar memerintah, “Sistem Keamanan Publik, potong semua pemberitahuan dan hiraukan! Aku berikan perintah kepada semua A.I yang masih tersisa! Rantas hulu ledak nuklir dari semua negara dan siapkan peluncuran! Koordinat sasaran adalah … tempat perintah ini terkirim!”
Perempuan rambut putih itu ikut tertawa terbahak mendengar itu, seakan menikmati perlawanan yang diberikan sang Pemuda. Ia bertepuk tangan dengan rasa menghina, lalu sembari tersenyum kecil menunjuk ke atas.
Melihat ke arah perempuan itu menunjuk, seketika tubuh sang Pemuda kembali gemetar dan dibuat ketakutan. Raksasa yang sebelumnya menembakkan cahaya dan menghancurkan Ibukota serta Kota Uji Coba telah berdiri beberapa puluh meter di belakang perempuan tersebut.
Suaranya saat melangkah sama sekali tidak terdengar, keberadaannya tidak bisa sang Pemuda rasakan sebelum perempuan itu memberitahukannya. Perlahan berjongkok, tubuh sosok yang disebut Malaikat Sesungguhnya tersebut menembus bangunan-bangunan seakan tidak memiliki wujud fisik dan menatap lurus ke arah sang Pemuda.
“Wahai Pemuda! Penentuan mu dan dunia telah dimulai! Satukanlah bangsa mu dan lawan! Bencilah kami! Murkalah! Dendam!! Buktikan bahwa kalian lebih baik dari kami dan pantas menentukan masa depan kalian sendiri!! Kami semua akan menunggu dan melihat dari singgasana! Kepantasan kalian akan diuji!”
Perempuan itu menjentikkan jarinya untuk kesekian kali, membuat raksasa berukuran masif yang berjongkok di belakangnya perlahan menggelembung karena menampung energi dalam jumlah yang sangat banyak. Seakan bom raksasa telah siap dan ukurannya membesar sampai dua kali lipat, perempuan rambut putih itu memasang senyum lebar dan bertepuk tangan.
Tubuh sosok Malaikat Sesungguhnya itu pun meledak dengan kekuatan di luar akan sehat manusia, langsung membakar hangus tubuh mereka berdua tanpa pandang bulu dan menjadikan semua objek dalam jarak ratusan kilometer menjadi abu.
Di masa beberapa tahun ke depan, ledakan itu disampaikan telah melenyapkan Negara Kepulauan di Asia Tenggara itu dari peta dunia. Mengubah iklim permukaan bumi menjadi tidak layak lagi untuk dihuni oleh manusia, lalu jauh di masa depan dikenang sebagai Awal Kemunduran Umat Manusia.
---- Arc 02 Selesai ----
\======================================
Yang Author rasakan setelah menulis ini :
“Ini seharusnya Epilog, ‘kan?”
Yah, begitulah.
Dengan begitu cerita terhubung lagi dengan CH paling awal seri ini.
See You Next Time!
Sekalian pemberitahuan, dua minggu ke depan libur dulu. Author mau belajar menggambar lagi, skill satunya udah lapuk sih karena jarang diasah. Sekalian buat cover untuk musim kedua sekaligus Arc 03 nanti.