
Perlahan membuka mata dengan berat, Odo melihat sebuah kelambu transparan dari kain berwarna ungu gelap menutupi sekitar tempatnya berada. Pandangan pudarnya sedikit demi sedikit membaik, di balik kelambu mulai terlihat langit-langit ruangan berdekorasikan lampu gantung antik yang di dalamnya terdapat kristal cahaya bersinar biru keputihan. Menarik napas dan berusaha memahami situasi, anak itu bangun dan duduk dengan posisi selonjor di atas ranjang.
Ranjang yang anak berambut hitam itu duduki sekarang terlihat sangat megah dan mewah dengan seprei berwarna merah gelap yang mengeluarkan aroma wangi bunga mawar. Menoleh ke kanan dan kiri, di luar kelambu yang menutupi ranjang terlihat beberapa perabotan seperti meja dan kursi dari kayu yang mengkilat.
Saat melihat memindai kembali, anak itu menemukan satu pintu keluar dan sebuah jendela besar yang tertutup gorden berwarna merah yang bagian bawahnya memiliki renda hitam bermotif bunga mawar.
Odo sama sekali tidak ingat mengapa bisa berada di tempat seperti itu. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi, dengan cepat ingatan saat sebelum dirinya kehilangan kesadaran terlintas. Wanita berambut pirang dengan sorot mata merah datang menghampiri dan melakukan sesuatu padanya ketika dirinya akan pingsan.
Sambil terus berpikir, anak itu membuka kelambu dan turun dari ranjang. Memijakkan kaki tanpa alas di lantai keramik bersuhu rendah, Odo langsung terkejut karena dirinya tidak mengenakan sepatu dan pada saat yang sama dirinya juga baru menyadari kalau pakaian yang dikenakan sekarang sangat berbeda dari sebelumnya. Anak berambut hitam itu lekas berjalan ke arah meja rias di sudut kamar tersebut, lalu berkaca pada cermin yang ada.
“Eh? Apa ini ...?”
Sosoknya terpantul jelas pada cermin, tetapi dengan penampilan yang sangat tidak disangka. Sekarang Odo mengenakan tunik, sebuah pakaian atasan longgar yang menutupi dada, bahu, dan punggung, serta memiliki lengan panjang longgar.
Sadar hanya mengenakan baju atasan saja, wajah anak berambut hitam itu langsung terlihat panik dan langsung lekas mencari sesuatu untuk menutupi bagian bawahnya. Mengambil selimut di atas ranjang, Odo lekas memakainya seperti sarung untuk bagian bawah.
Pikiran negatif mulai mengisi kepalanya karena terbangun di tempat asing tanpa bawahan dan pakaiannya telah berganti. Melihat ke kanan dan kiri, segera Ia berjalan ke arah jendela kaca besar. Tergesa-gesa membuka gorden dan melihat keluar jendela tersebut, apa yang ada di luar tempatnya berada membuat anak itu membuka mata lebar-lebar dengan terkejut.
Di luar kamar tempatnya berdiri, terlihat tumbuh bunga-bunga musim semi yang mekar dengan indah, berwarna-warni dan di atasnya terbang beberapa kupu-kupu yang sedang mencari sari bunga. Itu pemandangan sebuah taman yang seharusnya tidak ada di musim dingin, paling tidak Odo tidak pernah melihat kebun bunga yang mekar dengan indah di tengah suhu rendah.
“Ah ..., aku pingsan sangat lama lagi? Serius ..., ini ... kenapa kalau aku pingsan ....”
Dengan wajah sangat terkejut dan pikirannya mencari jawaban akan situasi dengan cepat, anak berambut hitam itu melangkah mundur dan kembali terduduk di atas ranjang. Wajahnya pucat memikirkan kemungkinan yang ada, cemas akan keadaan Julia dan yang lainnya.
Sadar berpikir saja tidak cukup karena memang dirinya kekurangan informasi, anak itu segera bangun dari ranjang dan berjalan ke arah satu-satunya pintu di tempat tersebut. Saat hendak membuka pintu kayu yang dipoles mengkilat dan memiliki ukiran bunga tersebut, itu dengan sendirinya terbuka sebelum Odo menyentuh gagang pintunya yang terbuat dari logam.
Melangkah beberapa kali ke belakang, mata anak berambut hitam itu langsung terbuka lebar saat melihat wanita yang sebelumnya dirinya temui sebelum pingsan beberapa waktu lalu masuk ke dalam kamar.
Rambut pirang pudar mengkilat seperti tembaga yang dipoles, kulit pucat yang memancarkan aura dingin, serta mata merah tajam yang memancarkan aura memikat dan menawan. Wanita itu mengenakan Ruffle berwarna merah, sebuah gaun bertumpuk yang memiliki aksen berlipat-lipat sampai mata kaki ala Victorian yang terlihat klasik di mata Odo. Pada sekitar perut wanita itu terdapat korset berenda yang dikenakan di luar gaun, mengencangkan pakaian yang dikenakannya dan memperlihatkan lekuk indah tubuhnya.
Mereka saling menatap satu sama lain, antara sorot mata biru dan merah. Keheningan di antara mereka membuat suasana aneh yang membuat Odo merasa nostalgia, anak berambut hitam itu merasa pernah sesuatu seperti yang terjadi sekarang pernah terjadi dalam hidupnya. Ingatan yang tidak jelas mendorongnya bertanya, “Apa kita pernah bertemu?” Wanita itu terkejut anak berambut hitam itu mengajukan pertanyaan seperti itu. Tersenyum tipis, meletakkan kedua tangan yang berselimut sarung tangan transparan ke depan perut bagian bawah, wanita itu menjawab dengan suara anggun, “Kita bertemu di hutan, wahai anak muda.”
Jawaban itu tidak sepenuhnya menjawab rasa penasaran Odo, tetapi memang itu jawaban wajar yang keluar dari wanita tersebut. Mengamati wanita itu kembali, anak berambut hitam itu benar-benar merasa tidak asing akan wanita yang berdiri di hadapannya itu. Sorot mata, cara bicara, ekspresi, serta kewibawaan wanita itu terasa mirip dengan seseorang yang Odo kenal.
“Siapa kau?” tanya Odo seraya sedikit mendongak dan menatap lurus mata wanita tersebut.
“Sebelum diriku menjawab pertanyaan dikau, lebih baik kita pilih tempat yang sesuai dulu. Melihatmu berpakaian aneh dengan selimut seperti itu, diriku rasa itu tidak sedap dipandang.”
“Eh?”
Odo baru teringat kembali kalau apa yang dikenakannya memang tidak pantas untuk berbicara dengan sosok seanggun wanita tersebut. Mata anak itu berkedut, lalu Ia segera berbalik dan bersembunyi di balik ranjang dengan perasaan aneh dalam benak. Odo tidak memperlihatkan ekspresi malu atau semacamnya, hanya sebuah perasaan tidak pantas pada diri sendiri yang membuatnya bersembunyi.
“Dikau tahu, sebenarnya diriku tidak menyangka diri dikau sudah bangun setelah terluka dan Inti Sihir dikau kering.” Wanita itu berjalan masuk dan berhenti di depan lemari pakaian yang berbuat dari kayu mengkilat dengan ukiran bunga di pintunya. Membuka lemari tersebut, Ia mengambil beberapa pakaian dari dalam.
“Tolong kemeja dan celana panjang hitam saja!” ucap Odo sambil meloncat masuk ke dalam ranjang yang tertutup kelambu.
Mendengar itu, wanita berambut pirang itu menoleh dan memberikan tatapan heran dengan mata merahnya. “Ya ..., memang ada pakaian seperti itu .... Tapi ..., kenapa harus itu?” tanya wanita itu dengan suara anggun.
“Itu paling nyaman ....”
Mendapat jawaban tersebut, wanita itu kembali melihat ke arah lemari yang terbuka dan mengambil pakaian yang diminta Odo. Membawa kemeja dan celana hitam dengan kedua tangannya, wanita itu berbalik dan berjalan ke arah ranjang. Membuka kelambu dan duduk di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi Odo yang duduk di tengah, wanita itu meletakkan pakaian yang diminta anak berambut hitam tersebut ke atas tempat tidur di sisi kanannya. Odo lekas mendekat untuk mengambil pakaian itu, lalu membawanya menjauh ke bagian tengah ranjang untuk segera memakainya.
“Punyamu besar ya,” ucap wanita itu.
“Eh!?”
Odo terbelalak mendengar ucapan seperti itu saat dirinya baru melepas selimut dan hendak memakai celana hitam. Secara otomatis pikirannya langsung mengarah pada hal tidak senonoh mengingat kondisinya yang telanjang bagian bawahnya. “A-Apanya?” tanya anak itu dengan sedikit gemetar untuk memastikan. Sesegera itu mempercepat geraknya untuk mengenakan celana hitam dan kembali duduk di atas ranjang.
“Inti Sihirmu, Alam Jiwamu,” jawab wanita itu tanpa menoleh ke belakang.
Odo sedikit mengangkat dagunya dengan ekspresi datar, anak itu sadar kalau dirinya telah salah paham akan perkataan ambigu wanita itu. Pengaruh dari hobi di kehidupan sebelumnya benar-benar masih meracuni pola pikir anak itu dalam berspekulasi. Menarik napas dan menenangkan diri, Ia segera melepaskan tunik dan mengenakan kemeja putih yang ada.
Kembali duduk bersila di atas ranjang, anak berambut hitam itu menatap wanita berambut pirang itu seraya berkata, “Sudah selesai.” Wanita itu menoleh ke arahnya, memberi tatapan tajam dan hanya diam tanpa satu patah kata pun terucap dari mulut berbibir merahnya yang menawan. Mereka berdua saling menatap kembali dalam keheningan semu yang tersingkir cepat oleh sebuah pertanyaan.
“Siapa kau?”
Mendapat pertanyaan seperti itu kembali dari Odo, wanita itu tersenyum tipis dengan ekspresi datarnya. Memalingkan pandangan darinya dan bangun dari sudut tempat tidur, wanita itu berjalan ke arah jendela besar yang tertutup gorden.
“Pertanyaan dikau itu terlalu luas. Siapa diriku ini? Jujur diriku sendiri bingung harus menjawab seperti apa.” Wanita itu berbalik dan melihat Odo yang masih terduduk di atas ranjang tertutup kelambu. “Kalau disebut dalam pengetahuan yang dikau miliki, mungkin diriku ini adalah Sang Witch, nenek moyang pengembang sihir dalam cerita dongeng di daerah ini,” lanjutnya seraya kembali tersenyum tipis.
Odo tidak terkejut mendengar itu, dalam pikiran anak itu sudah muncul beberapa kemungkinan kalau wanita di hadapannya tersebut adalah Witch dalam cerita dongeng yang pernah didengarnya. Sedikit menyipitkan mata, anak itu kembali memikirkan hal lain dan menyusun spekulasi untuk memecahkan pertanyaan dalam benak.
“Ini di mana? Berapa lama aku pingsan? Apa tahun sudah berganti?” Ketiga pertanyaan itu mewakili hampir seluruh rasa penasaran Odo akan situasinya sekarang.
“Tempat ini adalah kastel di Inti Hutan Pando, kediaman sekaligus tempat penelitianku .... Kalau soal beberapa lama dikau pingsan, kenapa dikau kira tahun sudah berganti?”
Odo menunjuk ke arah jendela yang tertutup gorden transparan seraya berkata, “Di luar sudah semi, bunga mekar dan banyak kupu-kupu.” Mendapati perkataan tersebut, wanita itu sedikit tersenyum tipis seakan telah mendengar hal yang menarik.
Berbalik dan membuka gorden, lalu mendorong jendela supaya terbuka lebar, angin hangat masuk ke dalam ruangan bersama beberapa kelopak bunga. Gorden dan kelambu berkibar tertiup angin, membuat jarak pandang keluar anak itu terbuka dengan jelas tanpa penghalang.
“Apa ini yang dirimu maksud?” tanya Witch seraya menoleh ke arah Odo.
“Ya ... habisnya ... sudah semi ... di luar sana.”
“He hem, diriku rasa tidak. Coba lihat baik-baik di sudut halaman kastel ..., hutan di luar sana.”
Witch kembali melihat keluar kamar melalui jendela, begitu pula Odo. Tepat di pojok taman yang ada, tumbuh beberapa pohon pando yang ranting dan cabangnya masih tertutup salju. Odo kebingungan melihat itu, memiringkan kepala dan sedikit menarik napas dengan berat. Di luar taman kastel, pepohonan hutan masih benar-benar tertutup salju tebal yang menumpuk.
“Sekarang ini masih musim dingin, tahun belum berganti .... Dikau tahu, dirimu hanya pingsan satu malam saja. Sungguh sangat mengejutkan dikau bisa bangun secepat ini mengingat kondisi dikau saat diriku bawa kemari.”
Odo tidak merisaukan apa yang dirisaukan Witch tentang kecepatan pemulihan, tetapi pikirannya langsung tertuju dengan hal aneh di luar kamar. Seakan musimnya terbagi oleh garis ilusi yang tidak terlihat, di luar sana memang terbagi menjadi dua musim yang jelas terlihat.
Turun dari ranjang, anak itu berjalan menghampiri wanita yang menyebut dirinya Witch tersebut. Menatap anak berambut hitam yang menghampiri, wanita itu memberikan senyum tipis yang terasa tidak tulus.
“Satu malam ..., apa aku benar aku hanya tidak sadarkan diri satu malam?” tanya Odo dengan tatapan lurus. Melihat sosok anak itu yang seakan bisa langsung memahami apa yang terjadi dan tidak mempermasalahkan pemandangan berbeda musim di luar, Witch sedikit menghela napas ringan dan memalingkan pandangannya ke luar jendela.
“Memang ..., hanya satu malam. Padahal sudah tahu jawabannya, tetapi engkau malah menanyakan hal itu. Sungguh ..., sifat itu sangat tak efektif, anak muda.”
Mendengar perkataan tersebut Odo langsung merasakan déjà vu, Cara bicara wanita itu mengingatkan anak berambut hitam itu dengan Reyah. Kembali melangkah dan berdiri di samping wanita itu, Odo menghadapnya dan memberikan tatapan gelap dengan mata birunya. Wanita itu sempat tersentak mendapat tatapan seperti itu, dari hal itu Odo tahu kalau wanita berambut pirang tersebut berbeda dengan Reyah secara dalam beberapa aspek sifat.
“Kenapa kau membawaku kemari, Witch?” tanya anak itu tanpa membuang waktu.
“Untuk menolong dikau, memangnya apa lagi alasan diriku membawa anak yang terkuka parah ke kastel ini?”
“Hah, menolong ya .... Kalau memang kau seorang Witch, seharusnya kau sendiri tahu kalau aku tidak akan mati hanya karena kondisi seperti itu. Meski pun aku memang benar-benar akan mati, dia tidak akan membiarkannya.”
Witch menatap anak itu dengan hening. Menghadap ke arah anak berambut hitam itu dan menegakkan tubuh dengan berwibawa, wanita berambut pirang tersebut sedikit memasang wajah sedih. Odo tidak paham akan ekspresi yang diperlihatkan wanita itu. Mengambil satu langkah ke belakang dengan tatapan terganggu, anak berambut hitam itu sedikit menggertakkan giginya.
“Dia ... ya. Maksud dikau ... Naga Hitam yang ada di dalam tubuh kecil yang memiliki ruang sangat luas itu?” Wanita berambut pirang tersebut menunjuk ke arah Odo. Meski dirinya melihat lurus ke arah anak berambut hitam tersebut, tetapi matanya seakan tidak melihat anak itu sebagai seorang individu, matanya seakan sedang melihat sebuah benda.
Odo terdiam tidak menjawab, anak itu langsung tahu kalau wanita di depannya itu sangat berbahaya dalam arti lain. Saat Odo memikirkan berbagai macam hal untuk bisa pergi dari tempat tersebut dengan segera, tanpa disadari wanita itu bergerak dengan cepat dan tanpa suara, ia mendekat dan langsung memegang ubun-ubun kepala anak itu dengan kencang.
Wanita itu lebih parah dari Reyah atau Seliari, kekuatannya sangat berbeda secara signifikan dengan makhluk-makhluk superior yang pernah ditemuinya. Sadar akan hal tersebut, Odo langsung mengidentifikasi wanita di hadapannya itu sebagai sosok yang sangat patut diwaspadai.
“Begitu ya .... Ternyata dikau memang bisa memperlihatkan ekspresi seperti itu ... meski belum terbangun sepenuhnya. Ya ..., itu juga tak apa. Biarlah seperti itu .... Kalau kekuatan itu kembali pada wujud yang sesungguhnya, dia juga akan terbangun dari tidur panjangnya.”
Setelah mengatakan sesuatu yang tambah membuat Odo bingung, wanita itu berbalik dan berjalan ke arah pintu kamar. Beberapa langkah pertama, jendela tertutup dengan sendirinya dan gorden ikut menutup rapat, kelambu dengan cepat tertata rapi sendiri bersama seprei dan selimut yang ada di ranjang. Odo terkejut melihat semua itu, tetapi tatapannya tidak sedikit pun teralih dari wanita berambut pirang tersebut.
Saat sampai di depan pintu yang terbuka, wanita itu menoleh ke arah Odo seraya berkata, “Kenapa dikau diam saja di sana? Bukannya engkau ingin tahu ... kenapa diriku membawa anak seperti engkau ke kastel milikku ini?” Sedikit memasang ekspresi tidak puas, Odo memutuskan untuk berjalan mengikutinya. Tersenyum tipis saat melihat wajah terpaksa anak berambu hitam itu, sang Witch kembali berjalan dan meninggalkan ruangan.
Kurang dari dua detik setelah Odo melangkah keluar dari kamar, pintu tertutup sendiri dan suara kunci yang berputar terdengar. Melihat apa yang ada setelah melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut, sebuah lorong megah dengan gaya Victorian menyambutnya. Sepanjang lorong yang ada terlihat lebih megah dan berkilau jika dibandingkan dengan Mansion tempat anak itu tinggal. Lampu-lampu antik digantung sepanjang dinding lorong dan di sisi lainnya terdapat kaca hias yang berjejer sepanjang tempat itu. Saat melangkahkan kaki, sebuah lantai keramik yang terasa sangat mulus terasa jelas oleh telapak kaki anak itu, pada lantai tersebut terdapat pola unik bunga merah dan ungu yang bersilang-silang.
Dengan perasaan yang tidak tenang, Odo tetap berjalan mengikuti wanita bergaun merah tersebut. Sepanjang berjalan tidak ada pembicaraan terjadi, hanya ada keheningan di antara mereka. Tidak terlihat satu pun orang di tempat tersebut, bahkan hewan atau serangga tidak dapat Odo rasakan getarannya di dalam sepanjang lorong. Saat anak itu melihat keluar jendela di sisi kanannya, sebuah pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya memang ada di luar sana.
“Apa-apaan tempat ini? Musimnya .... Apa ada distorsi seperti Dunia Astral?”
Saat Odo fokus dengan pemandangan berbeda musim di luar bangunan, tanpa disadari mereka sampai di depan sebuah pintu ruangan dengan model dua daun, terbuat dari kayu mengkilat yang di atasnya memiliki ukiran bunga dan gangnya terbuat dari logam berwarna keemasan. Membuka pintu tersebut lebar-lebar, wanita berambut pirang itu berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam.
Odo terbelalak sesaat ketika melihat betapa megahnya ruangan yang ada setelah pintu terbuka. Di dalam sana adalah sebuah ruang makan dengan gaya kerajaan barat yang sangat mewah, memiliki langit-langit berkubah yang terdapat lukisan naturalis bunga-bunga berwarna merah di atasnya, serta pada bagian tengahnya menggantung sebuah lampu gantung yang sangat megah penuh kaca yang menjadi aksen indah kemewahan yang terpancar dalam ruang tersebut.
Sedikit melihat ke bawah, terlihat sebuah meja kayu panjang yang mengkilat, dan di atasnya terdapat sebuah taplak meja yang memiliki rajutan rumit bunga-bunga dengan unsur merah gelap. Di atas meja tersebut juga terdapat beberapa stoples kaca yang berisi kue kering, serta beberapa kandelar bercabang empat yang di atasnya terdapat lilin menyala.
Melangkahkan kaki di lantai keramik yang tidak jauh berbeda dengan lorong pola hiasnya, Odo mengikuti wanita yang berjalan di depannya. Anak itu kembali menyusun spekulasi dalam pikiran, tentang apa yang diinginkan wanita itu darinya dan bagaimana caranya pergi dari kastel megah tempatnya berdiri dengan segera.
Sampai di depan meja panjang di tengah ruangan, wanita itu berhenti melangkah dan mulai berbalik menghadap ke arah Odo. Anak berambut hitam itu ikut terhenti, dan mereka saling menatap dalam keheningan. Tidak ada kata yang keluar, tidak ada suara yang keluar kecuali suara pelan sumbu lilin terbakar.
Tanpa mengatakan apa-apa, wanita itu kembali berjalan ke arah Odo. Satu sampai tiga langkah wanita itu masih tertangkap secara visual oleh Odo, tetapi saat langkah keempat wanita tersebut, tiba-tiba Ia berdiri di hadapan anak itu sambil meletakkan tangannya ke atas kepalanya. Kali ini Odo tidak menepak tangan yang terasa dingin itu, Ia membiarkannya dan hanya mengangkat kepala seraya memberikan tatapan datar.
“Sebenarnya engkau siapa?” tanya Odo.
“Diriku adalah Witch, sudah dir―”
“Siapa yang peduli dengan julukan tidak berguna itu, yang ku tanya itu kau .... Siapa kau sebenarnya?”
Wanita itu terdiam dengan wajah terkejut, seakan tidak mengira kalau pertanyaan seperti itu akan terus diajukan anak berambut hitam tersebut. Mengangkat tangan kanan dari kepala Odo, wanita itu berbalik dan berjalan ke arah salah satu kursi di depan salah satu sisi meja persegi panjang.
Menarik kursi yang memiliki bantalan wol yang dibungkus kain merah tersebut, wanita itu duduk dan meletakkan wajahnya ke atas permukaan meja seraya menatap ke arah Odo yang masih berdiri dengan tatapan datar.
“Duduklah dulu, anak muda. Kita bicara ..., mari kita bicara dan saling mengenal dulu. Dikau tak perlu menatap diriku seperti itu, diriku ini bukan musuh ....”
Wanita itu mengangkat wajah dari atas meja, lalu sekilas memejamkan mata dan menarik napas dalam. Mengubah posisi duduk dengan menghadap ke arah Odo, wanita itu berkata, “Anak muda, dikau tak perlu gelisah seperti itu ..., orang-orang yang engkau khawatirkan sekarang baik-baik saja.” Odo langsung terkejut mendengar itu, perkataan wanita di hadapannya tersebut seakan bisa membaca pikirannya. Tetapi dalam beberapa detik, rasa terkejut itu hilang dengan cepat karena memang hal seperti itu tidaklah aneh atau asing bagi anak berambut hitam itu.
Menarik kursi di dekatnya dan duduk berhadapan dengan wanita berambut pirang tersebut , mereka saling menatap satu sama lain pada satu sisi meja panjang yang ada. Sedikit menarik napas dan menarik tajam, Odo beryanya, “Apa maksudmu? Apa Julia dan yang lainnya baik-baik saja?”
“Ya, mereka baik-baik saja. Paling tidak orang-orang yang ikut datang ke Hutan Pando bersama dikau itu baik-baik saja dan masih berkumpul ....”
Odo meragukan perkataan tersebut, tetapi wajah tenang menyembunyikan hal itu dari wanita di hadapannya. Melihat wanita berambut pirang tersebut tidak memberikan reaksi tentang apa yang dipikirkan, Odo menambahkan spekulasi kalau wanita tersebut tidak bisa membaca pikiran seperti Reyah.
“Perkataannya tadi hanya mengira-ngira ya ...,” pikir Odo. Sedikit menegakkan posisi duduk, anak itu menarik napas dalam-dalam dan berusaha memikirkan masalah yang ada di hadapannya.
“Kenapa kau bisa tahu mereka baik-baik saja?” tanya Odo.
“Hutan Pando ini sudah seperti halaman rumah bagi diriku, di seluruh hutan perbatasan ini tersebar beberapa hewan peliharaan yang indra mereka bisa terhubung dengan diriku.”
Odo sedikit terganggu dengan perkataan itu, tetapi dirinya berusaha untuk tidak mempermasalahkannya karena ada hal lain yang perlu dibahas. Memegang dagu dengan tangan kanan dan sedikit memalingkan pandangan, anak itu kembali berpikir.
“Baiklah, aku percaya. Kau tidak punya alasan untuk bohong ..., motif juga tidak ada. Parahnya lagi ..., aku sama sekali tidak tahu kau itu apa.” Perkataan dan nada anak itu sama sekali tidak terdengar seperti orang yang percaya, ditambah dengan tatapan tajam yang terarah menambah hal tersebut semakin jelas.
“Kenapa dikau berbohong seperti itu? Kalau tidak percaya, bilang saja tidak percaya. Diriku tidak akan tersinggung ..., wajar kalau dirimu tidak percaya pada diriku ini, wahai anak muda ....”
“Maaf ..., sepertinya perkataanku kurang jelas. Aku bukan berarti percaya padamu, aku tidak punya pilihan selain percaya padamu. Kau tidak punya motif bohong karena kau tidak perlu berbohong .... Ruang ini ..., bangunan ini ..., semuanya penuh dengan penghalang sihir, ‘kan? Bagaimana aku bisa keluar?”
Wanita itu terdiam sesaat, sorot matanya berubah gelap saat Odo mengatakan itu. Setelah saling paham bahwa saling menipu tidak menyelesaikan masalah, mereka berdua memutuskan untuk tidak menampilkan sifat buatan, dan mulai menampakkan sifat asli masing-masing.
“Kapan dikau sadar?”
“Salju ..., di sini tidak turun, dan juga saat angin hangat masuk di kamar. Sihir penghalang biasanya memancarkan suhu ruang meski di tengah hawa dingin, salah satu Demi-human yang kukenal sering menggunakannya dan aku sendiri kurang lebih punya pengetahuan tentang itu.”
“Begitu ya .... Ternyata pengetahuan tentang sihir yang dikau miliki sudah sampai pada tingkat itu. Kalau tahu akan seperti ini, sebaiknya pembatas fisik diriku hilangkan dulu dan menggantinya dengan pembatas visual.”
Terdiam sesaat, wanita itu meletakkan siku kanannya ke atas meja dan menyangga kepalanya dengan tangan kanan. Menatap Odo yang berada di hadapannya, sorot mata merah wanita tersebut seakan membara akan sesuatu yang menyimpang. Tidak memedulikan apa yang sedang dipikirkan sosok di hadapannya, anak berambut hitam tersebut menurunkan tangan dari dagu ke atas pangkuan.
“Kembali ke pertanyaan awal, kau siapa?” tanya Odo.
“Diriku Witch, suda―”
“Sampai kapan kau akan menjawab layaknya program seperti itu? Jangan mengelak, kalau tidak aku akan bertanya hal sama sampai ribuan kali ....”
Wanita itu terdiam mendapat tatapan murni anak laki-laki di depannya. Dalam sorot mata anak itu memang terlihat sangat polos dan tulus penuh rasa ingin tahu, tetapi karena itu terdapat juga sebuah kekejian yang tidak pandang bulu di dalamnya.
“Dikau tahu, anak muda .... Keingintahuan adalah sesuatu yang mengerikan dan salah satu dosa, karena pada dasarnya keingintahuan adalah salah satu sifat yang menantang kepercayaan dan keyakinan akan para Dewa.”
“Jika keingintahuan adalah dosa, maka mereka yang di atas sana lebih berdosa dariku. Mereka memiliki pengetahuan yang dinginkan banyak orang dengan rasa haus pengetahuan di dunia ini ..., tetapi dengan ego mereka, para dewa malah mengacuhkan orang-orang yang haus pengetahuan itu.”
“Dikau menyetarakan para Dewa dengan makhluk fana?”
“Siapa bilang? Aku menjunjung tinggi mereka, makanya aku bilang mereka yang di atas, memiliki pengetahuan di atas makhluk fana yang kumaksud.”
Wanita itu terdiam saat mendengar perkataan Odo, wajah tidak percaya sampai matanya terbuka lebar terlihat jelas darinya. Menangkan diri dan kembali memasang wajah datar, wanita itu memasang senyum seakan tujuannya telah tercapai.
“Tidak salah diriku membawamu kemari, anak muda. Engkau memang anak berambut hitam yang ditakdirkan, Sang Pembawa.”
Raut wajah Odo sedikit bereaksi mendengar itu, dalam pikirannya puluhan perkiraan terlintas dan langsung tertata rapi untuk diseleksi. Menarik napas dalam-dalam, anak itu menatap malas seraya bertanya, “Apa kau juga seperti Dryad yang menjaga Pohon Suci itu?”
Wanita tersebut bingung mendapat pertanyaan itu. “Sama dengan Dryad? Oh ..., maksudmu Doll yang tinggal di salah satu cabang Shidratul Muntaha itu ya?” tanyanya.
“Hah?” Odo benar-benar terkejut mendengar itu. Ia memang tahu nama pohon yang disebutkan wanita di hadapannya, tetapi dirinya tidak menyangka kalau nama itu akan muncul di kehidupannya kali ini.
“Kenapa dikau terkejut? Ah ..., nama itu terlalu asing? Mungkin kalau diriku sebut Yiggdrasill atau Pohon Genesis dikau akan paham?”
Semua nama itu merujuk pada satu pohon, Odo sangat tahu hal tersebut. Tetapi pada saat yang sama, semua perkiraan yang ada dalam kepalanya runtuh karena hal tersebut masuk dalam faktor spekulasinya.
“Siapa kau sebenarnya? Kenapa bisa .... Kalau kau tahu semua itu ..., jangan bilang kau ini ... Dewa?”
“Dewa, ya .... Kurasa kurang tepat menyebut diriku seperti itu. Sekarang ini diriku hanya seorang Witch menyedihkan yang ditinggal kekasih pergi. Dirimu tahu tentang cerita memilukanku itu, bukan?”
Mengingat kembali cerita Witch yang menjadi legenda lokal Kerajaan Felixia, semua kepingan misteri tentang identitas wanita yang duduk di hadapannya mulai terpecahkan. Witch, sosok yang menjadi nenek moyang sihir di daratan Michigan.
Dalam penjelasan dongeng tersebut, bisa sangat jelas disimpulkan kalau sosok tersebut sudah ada sejak dahulu kala, bahkan bisa saja sejak masa Awal Kiamat yang menjadi dasar penentu arah terbentuknya peradaban dan wujud dunia.