
Dua pasang langkah kaki di atas permukaan tanah menanjak, menginjak rerumputan pendek dan tanah gambut. Begitu pelan, sampai bisa dihitung sesuai irama. Permukaan lembab jalan berbatuan kerikil yang terasa sunyi, dengan rimbunnya pepohonan yang terlihat sepi di kedua sisi. Embun masih menetes dari hijaunya dedaunan, kabut tebal menjadi penghalang jarak pandangan dan suara burung sesekali terdengar di antara ranting dan cabang.
Dalam asrinya hutan yang terletak di antara Mansion Keluarga Luke dan kota pesisir, seorang pemuda rambut hitam berjalan melewati jalan menaiki sebuah perbukitan. Ia mengenakan kemeja putih yang dirangkap dengan kain jubah berwarna hitam pekat, sorot matanya terlihat lemas dan sesekali melihat ke arah perempuan yang berjalan mengikuti di belakang.
Rambut pirang perempuan itu diikat kucir dua ke depan dada, sedikit bergelombang dan poninya ratanya membuat orang asing yang melihatnya pasti tidak mengira kalau perempuan tersebut sudah menjadi seorang ibu. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang panjangnya sampai betis, memiliki lengan panjang dengan ujungnya melebar dan longgar. Di atas gaun tersebut dirangkap rompi hijau toska berjumbai sampai lutut yang diikat dengan sabuk kain berwarna merah pada pinggangnya. Pada telinga wanita muda itu terdapat anting kristal berwarna hijau, serta di lengan kanan ia mengenakan gelang berwarna putih gading dengan ukiran unik.
Dua orang tersebut adalah Mavis dan Odo, mereka berdua berangkat dari Mansion sejak dini hari sebelum matahari terbit. Meski sengaja pergi lebih awal, sampai mentari mulai naik mereka berdua masih belum sampai ke kota karena beberapa alasan.
Melangkahkan kaki dengan hati-hati, wanita dengan paras muda itu terlihat kesulitan melewati jalan menanjak dengan sepatu jenis Mary Janes hitam yang dikenakannya. Ia tertatih-tatih, melangkah dengan pelan dan sampai membuat pemuda yang berjalan di depannya menatap datar dengan sedikit cemas.
“Kenapa Bunda benar-benar ikut? Tadi Mbak Fiola sangat cemas dan sampai ngotot ingin ikut juga, loh.”
“Tentu saja!” Perempuan itu menatap tajam, lalu dengan cemberut berkata, “Tadi kau berniat meninggalkan Bunda, bukan? Sampai berangkat pagi-pagi begini .... Saat para Shieal mengantar sampai gerbang, kau juga menjadikan mereka sebagai alasan supaya bunda tidak ikut! Kau tahu, sifatmu yang seperti itu sangat buruk! Kalau kau laki-laki, jangan tarik ucapanmu!”
Odo hanya memperlihatkan ekspresi datar, enggan meladeni perkataan itu karena merasa waktu akan terbuang percuma lebih banyak lagi. Berjalan menghampiri perempuan tersebut yang berdiri di tanah yang tidak terlalu miring, Odo berlutut membelakangi dan menawarkan punggungnya. Mavis sekilas tertegun, teringat sosok Dart saat muda yang sering menawarkan gendongan seperti itu juga.
“Ada apa?” Odo menoleh ke belakang, menatap ringan dan berkata, “Ayo naik, bisa-bisa kita sampai di sana siang hari, loh. Bunda juga tidak betah kalau lama-lama di hutan seperti ini, ‘kan?”
Mavis langsung membungkuk dan memeluk putranya dari belakang, melingkarkan kedua lengannya ke leher pemuda itu dan berkata, “Salahmu sendiri tidak pakai kuda dan malah jalan kaki.”
Odo langsung melipat kedua tangan ke belakang dan mengangkat ibunya tersebut. Sembari melangkahkan kaki, ia beralasan, “Bunda tahu, kalau aku berangkat sendiri, setengah jam saja sudah sampai.”
“Maksudmu Bunda ini beban?”
Odo sekilas memasang ekspresi datar sembari menatap ke depan, menghela napas ia memilih untuk tidak berdebat dan berkata, “Sudahlah ....”
Suasana menjadi sedikit senyap, hanya suara-suara hewan yang sesekali terdengar dan kabut tebal yang menjadi pengisi perjalanan mereka. Langkah Odo lebih cepat dari sebelumnya karena tidak usah menunggu lagi, berat badan Mavis seakan tidak membebani langkah kaki pemuda itu dan terus menaiki jalan berbukit yang semakin curam. Dari berjalan, pemuda rambut hitam itu mulai berlari dengan langkah lebar meski jalan yang dilalui terjal dan menanjak.
Mavis yang digendong sempat terkejut, apa yang digunakan Odo untuk berlari adalah salah satu teknik langkah keluarga Luke yang disebut Langkah Angin, itu merupakan versi lebih rendah dari Langkah Dewa. Teknik tersebut hanya berupa memusatkan Mana pada kaki dan menguatkan otot-otot betis dan paha, lalu memaksimalkan keseimbangan tubuh sehingga bisa berjalan tanpa hambatan di berbagai medan.
“Hmm?” Mavis merasa ada yang aneh karena setelah mereka menaiki bukit, putranya tidak mengambil jalan utama dan malah masuk ke dalam hutan. Mendekatkan bibirnya pada telinga pemuda yang menggendongnya sambil berlari itu, Mavis bertanya, “Apa benar ini arahnya? Kenapa tidak lewat jalan utama saja, Odo?”
“Aku mau berburu dulu, cari bahan gratisan untuk toko.”
“Eh? Berburu apa?”
“Tentu saja monster ....”
“Begitu, ya.”
Mavis merasa sedikit aneh dalam benak dan pada akhirnya sama sekali tidak melarang putranya tersebut. Wanita rambut pirang tersebut sekilas merasa hal tersebut memang berbahaya. Namun saat paham dirinya juga ikut pemuda itu, ia hanya menghela napas ringan dan terdiam. Pembicaraan sejenak berhenti, angin yang berhembus pelan sedikit membawa kabut pergi dari perbukitan dan membuat jarak pandang semakin lebar. Mavis memeluk erat pemuda yang menggendongnya, sekilas terlihat muram dengan wajah sendu. Selama hampir sembilan tahun menjadi seorang Ibu, wanita itu merasa tidak pernah benar-benar paham soal putranya tersebut.
Sampai pada salah satu puncak daerah perbukitan, Odo berjalan ke arah tebing yang berhadapan langsung dengan hamparan hutan di bawah. Pemandangan berkabut memenuhi pepohonan, bagaikan lautan awal saat dilihat dari tempat yang lebih tinggi. Ikut melihat itu, sekilas Mavis termenung dan merasakan sebuah kehangatan dalam benaknya.
“Odo ....”
“Hmm?”
“Kenapa kau tetap menerimaku sebagai Ibumu? Meski telah tahu soal itu ....”
“Aku balik tanya .... Kenapa Bunda masih menerimaku sebagai putramu? Aku secara tidak langsung adalah makhluk yang membuat kalian— Banyak orang di daratan ini menderita.”
Mavis termenung mendapat pertanyaan seperti itu, ia paham kalau memang seperti itulah yang menjadi pendorong mereka untuk tetap bersama. Saling membutuhkan untuk mengisi hati dan perasaan, hal seperti itulah yang ada dalam benak mereka berdua. Melingkarkan kencang kedua lengannya ke leher putranya, Mavis dengan erat mendekap dan berbisik, “Terima kasih, putraku.”
“Tak perlu berterima kasih, ini sudah sewajarnya. Tidak diragukan lagi aku adalah putramu, pernah dikandung olehmu. Lagi pula ..., ada hal lain yang perlu dicemaskan, bukan?”
“Hmm?” Mavis melonggarkan dekapannya, sedikit menaikkan wajah dan dari belakang meletakkan dagunya ke atas pundak kanan Odo. Dengan nada sedikit heran, wanita itu pun bertanya, “Apakah itu, putraku?”
“Ayah ....” Odo sedikit melirik, lalu dengan nada serius bertanya, “Kalau Ayah sampai tahu tentang rahasia kita, bukannya itu gawat? Itu sama saja Bunda menikung kakak Bunda sendiri, ‘kan?”
“Bahasamu kasar sekali, ya.” Sekilas Mavis melirik datar. Menghela napas dan kembali menatap pemandangan hutan berkabut, dengan lirih perempuan itu berkata, “Ayunda tidak keberatan soal itu .... Kami rela berbagai kasih Dart, karena jiwa kami sudah ada pada satu tubuh. Bagi Homunculus seperti kami memang seperti itu pola pikirnya ..., bersaing dengan cara tidak produktif tidak akan kami lakukan.”
“Meski kalian berdua tidak keberatan, tapi bagaimana dengan Ayah? Bukannya ... Ayah menikahi Mavis yang asli karena dia mencintainya? Mungkin ini terdengar kejam, tapi Bunda tidak dicintainya. Bukan Proten yang dicintai Dart Luke.”
“Sejak awal ... Dart tidak memiliki perasaan seperti itu.”
Mavis memasang wajah sedih, benar-benar merenung soal sifat dan perasaan Dart Luke. Selama berpetualang bersama sebagai Pembasmi Iblis dan memerankan peran sebagai Mavis dalam waktu lebih dari satu dekade, wanita rambut pirang tersebut tidak pernah merasakan cinta dari pria itu. Dart memang memberikan kasih sayang yang amat melimpah pada istrinya sampai itu terlihat seperti cinta yang tulus, namun itu semua hanyalah sebuah alasan bagi Dart Luke untuk tetap hidup dan menjadi dirinya sendiri. Rasa bersalah dan tanggung jawab untuk perempuan bernama Mavis yang membuat pria itu merasa tetap ingin hidup di dunia.
“Ayahmu ..., Dart Luke, menikahi Ayunda karena rasa bersalah. Apa kau pernah dengar kalau sebelum dinikahi Ayahmu, Mavis yang asli itu cacat mental?”
“Kurang lebih .... Di laporan arsip ada beberapa yang tertera soal gangguan kepribadian.”
“Ayahmu merasa berasalah soal itu. Karena sihir Manifestasi Malaikat yang digunakan saat Perang Besar, kepribadian Ayunda rusak dan beberapa emosi miliknya malah masuk ke dalam Dart. Hasilnya ..., pria temperamental itu berubah sedikit lembut dan bisa paham penderitaan yang lemah.”
Odo sekilas terdiam, menatap datar hamparan hutan yang masih berkabut di bawah langit yang sedikit mendung. Pada cakrawala sinar matahari mulai terlihat, sedikit redup namun semakin kuat. Odo paham akan kemungkinan dari perkataan Mavis, sedikit mengerti kenapa Dart Luke cenderung selalu memenuhi permintaan istrinya sesulit apapun itu sampai pada tingkat frustrasi dan rela mengorbankan banyak hal. Bukti nyata dari hal tersebut adalah perpustakaan Luke Scientia yang biaya pembuatannya sangat mahal dan Ekspedisi Dunia Astral.
“Bunga yang indah selalu berduri,” gumam Odo.
“Hmm? Kau mengatakan sesuatu, putraku?”
“Tidak ada ....”
Odo berbalik dari tebing, sekilas memasang ekspresi suram dan kembali berjalan sembari tetap menggendong Ibunya. Langkah kaki pemuda itu lebih lambat dari sebelumnya, Mavis menengok wajah putranya dari samping sekilas merasa heran dengan diamnya pemuda itu.
“Kenapa? Apa tadi mengusikmu?”
“Tidak .... Hanya saja, kalian memang hebat .... Mungkin aku bukanlah tipe yang rela membagi cinta seperti kalian.”
“Ah, soal itu ....” Mavis sekilas tersenyum, lalu dengan sedikit niat menggoda ia berkata, “Katanya tadi kau tidak terlalu peka soal hal seperti ini? Tapi ternyata tertarik juga. Memangnya kalau kau dalam situasi seperti Bunda, apa yang akan kau lakukan, putraku?”
Langkah kaki pemuda itu terhenti, sorot matanya berubah kosong dan itu kembali membuat Mavis cemas. Mengguncang-guncangkan tubuhnya di atas gendongan Odo, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Odo? Kau tidak apa-apa? Kalau lelah Bunda akan turun ....”
“Aku akan membunuhnya.”
“Ah?” Mavis terpaku.
“Kalau aku mencintai seseorang dan punya saingan, aku pasti akan membunuh saingan itu dan dengan segala cara pasti akan mendapatkan seseorang yang kucintai itu.”
“Odo ...?” Mavis tertegun, tubuhnya gemetar mendengar itu dan tidak tahu harus berkata apa dengan jawaban tersebut.
“Katamu tadi ....”
“Apa aku mengatakan sesuatu?”
“Tidak ....”
“Hmmm ....”
Pemuda itu kembali melangkahkan kaki dan Mavis pun terdiam. Dalam gendongan putranya, wanita rambut pirang itu semakin cemas. Hal semacam kerusakan atau gangguan kepribadian adalah hal menakutkan, terutama untuk wanita rambut pirang tersebut yang pernah melihat langsung saudarinya mengalaminya. Itu hampir sama dengan kematian, sebuah susunan jiwa yang rusak dan berubah.
.
.
.
.
Sampai di depan gua di atas daerah perbukitan, mereka berdua berhenti dan Odo menurunkan Mavis dari gendongannya. Tempat itu merupakan salah satu sarang monster yang belum pernah pemuda tersebut jelajahi, dengan pintu masuk gua setinggi lima meter lebih dan cukup lebar. Menatap datar ke dalam tempat gelap dan lembab tersebut, Odo segera melangkahkan kaki ke depan.
“Bunda mau tunggu di sini atau ikut?” tanya Odo sembari sekilas melirik.
Mavis ikut melangkah, lalu dengan tegas menjawab, “Tentu saja ikut! Gua itu sarang monster, bukan? Apa kau ingin mencari kristal mereka?”
Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut. Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam jubah, lalu mengambil sebuah Gladius dari dimensi penyimpanan yang ada pada jubah hitam yang dikenakannya. Menarik napas dalam-dalam dan mengatur informasi tubuh, pemuda itu mengganti kemampuannya dari Magus ke Swordman. Atmosfer di sekitarnya seketika berubah, otot-otot mengencang dan badanya sekilas terlihat berambah sedikit kekar.
“Odo ...?” Langkah kaki Mavis terhenti, tertegun melihat perubahan postur tubuh yang sangat samar tersebut.
“Aku akan melakukannya dengan cepat, Bunda di sini saja.”
Odo memasang kuda-kuda, merendahkan posisi tubuh dengan melebarkan kedua kakinya ke samping dan menekuk lutut. Aura biru tua mulai keluar dari tubuhnya, memancar tipis dan rambutnya mulai berombak karena tekanan energi yang terpancar dari permukaan kulitnya. Memusatkan aura pada satu titik di dada, Odo menarik napas dalam-dalam dan menyalurkan aura ke tenggorokkan. Lalu —
“KHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!”
Raungan ditembakkan ke dalam gua, membuat dinding tempat itu bergetar dan bahkan sampai mematahkan beberapa stalaktit di langit-langit. Itu bagaikan raungan seekor naga, begitu menggelegar dan sampai-sampai para burung di sekitar gua beterbangan mendengar suara tersebut. Raungan itu menggema di dalam gua sampai ke bagian terdalam, benar-benar mengusik para penghuninya yang masih tertidur.
Mavis gemetar, melangkah mundur karena intimidasi dan provokasi yang diberikan pemuda itu kepada para makhluk penghuni gua. Tak lama setelah gema suara menghilang, suara gemuruh dari dalam gua tersebut menggantikan dan para monster mulai terlihat. Itu bukanlah para Goblin, Ogre, atau Orc yang menjadi mayoritas para monster di alam liar, namun sekawanan Minotaurus yang berlari kencang dengan kedua kaki mereka sembari membawa senjata seperti gada dan batu besar.
Minotaurus adalah jenis monster humanoid berkepala banteng, memiliki dua kaki untuk berdiri, badan besar dan otot sangat kekar, serta pada kepala bantengnya terdapat dua tanduk besar yang menandakan keperkasaan mereka. Minotaurus memang makhluk berakal rendah dan buas, namun mereka cukup memiliki kecerdasan untuk berkelompok dan membuat senjata dari batang pohon dan batu. Tidak seperti para Goblin yang sedikit mengenal konsep pakaian atau pelindung tubuh, para Minotaurus tidak memikirkan itu dan hanya mengandalkan tubuh keras serta otot mereka untuk pertahanan.
Odo mengamati, menghitung jumlah mereka secara visual dan memastikan kalau para Minotaurus itu tidak lebih dari dua puluh ekor. Ia melepas kuda-kuda dan mengganti kemampuan tubuhnya dari Swordman kembali ke Magus. Namun saat melihat ada salah satu dari mereka yang bermutasi, seketika pemuda itu mengurungkan keputusannya untuk langsung menyerang.
Monotaurus itu bermutasi sampai pada Tahap Lanjutan, dimana tubuhnya mengalami perubahan secara signifikan dan mendapat kekuatan sihir yang bahkan lebih kuat dari seorang penyihir terlatih. Berbeda dengan kawanannya yang kebanyakan warna bulunya cokelat dan hitam serta memiliki bola mata merah, Minotaurus Mutasi itu memiliki bulu putih salju dan matanya bersinar hijau.
Odo langsung berbalik ke arah Mavis dan memanggulnya untuk kabur. “Eh?” Mavis terkejut saat dipanggul pada pundak kiri seperti barang oleh pemuda itu. Tidak memedulikan hal tersebut, Odo segera menggunakan sihir pelontar dan meloncat tinggi untuk segera naik ke atas pepohonan. Ia menyembunyikan diri di antara dedaunan, lalu segera menjauh dengan meloncat dari cabang pohon ke pohon lain.
Merasa sudah cukup jauh dari gua tempat para Minotaurus murka, Odo berhenti di bawah salah satu pohon oak dan menurunkan Mavis dari pundaknya. Sekilas napas pemuda itu sedikit terengah-engah, ia sebelumnya tidak sempat mengatur pernapasan saat kabur.
Melihat ke arah Mavis yang bersandar pada batang pohon, Odo bertanya, “Apa Bunda baik-baik saja?”
“Ta-Tadi! Bukannya itu The White Bull?! Ke-Kenapa Monster Tingkat Menengah Atas sepertinya ada di daerah seperti ini ...?”
“Entahlah, aku juga tak tahu.”
“Lalu kenapa kau mendatangi gua itu?!”
“Tenanglah, Bunda ....” Odo sedikit menatap datar dan merasa kalau reaksi ibunya tersebut berlebihan. Menghirup udara dan mengatur pernapasan, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Aku menemukan gua itu saat bolak-balik ke kota. Saat pertama kali lihat gua itu yang ada cuma Minotaurus biasa, yang seperti tadi belum pernah kulihat.”
“Apa ... kau ingin mengambil kristal monster Minotaurus?” tanya Mavis cemas.
“Bukan kristal mereka yang kuincar, tapi apa yang ada di dalam gua mereka. Bunda seharusnya juga menyadarinya, pancaran sihir di dalam sana sangat kuat. Kemungkinan besar di dalam gua itu ada kolam nektar sihir atau kristal-kristal sihir.”
Mavis terdiam. Dirinya memang sebelumnya panik dan tidak merasakannya dengan jelas, namun memang sekias ada pancaran sihir yang berbeda dari The White Bull yang datang bersama para Minotaurus. Dengan suara ragu dan sekilas merasa tidak setuju, wanita rambut pirang tersebut betanya, “Bukannya kau sudah punya banyak kristal sihir?”
“Kebanyakan yang kupunya beratribut api.”
Odo mengangkat Gladius tangan kanan, lalu mulai mengukir Rune menggunakan teknik huruf bercahaya pada pemukaan pedang tersebut. Ia menulis lebih dari lima belas huruf kuno, dengan tangan kiri seakan dirinya memang kidal.
Sedikit melirik ke arah Mavis, pemuda itu kembali berkata, “Aku butuh atribut lain seperti air atau semacamnya. Yah, semoga saja tebakanku benar dan di dalam ada kolam nektar sihir.”
Mavis sekilas terpana melihat putranya dengan mudah menanamkan Rune pada sebuah pedang dan menciptakan alat sihir dengan cara seperti itu. Menggelengkan kepala dan paham kalau bukan saatnya merasa seperti itu, wanita rambut pirang tersebut berjalan ke arah Odo dan memegang pundaknya.
“A-Apa kau ingin melawan monster itu sendirian? Kau tahu, Putraku! Monster seperti itu baru bisa dikalahkan setelah mengerahkan lebih dari satu regu ksatria! Kalau kau butuh kristal-kristal di dalam gua itu, sebaiknya kita kembali dulu dan panggil—!”
“Itu tidak ada gunanya.”
“Eh?” Mavis terkejut mendengar perkataan tegas tersebut, ia gemetar melihat ekspresi serius Odo yang sedang fokus menulis Rune pada pedangnya.
“Waktu bisa terbuang percuma. Alasanku ke sini hanya karena mampir, mumpung lewat sekalian ambil kristal. Hanya selingan, Bunda.”
“Odo ....” Mavis mengangkat tangannya dari pemuda itu, melangkah ke belakang dengan gemetar dan menjalin jemari kedua tangannya dengan wajah pucat.
“Jangan cemas ....” Selesai menanamkan Rune, pemuda itu menoleh dengan senyum ripis dan berkata, “Apa Bunda lupa? Aku orang yang sudah pernah mengalahkan Naga Hitam, monster banteng putih atau apalah itu bisa aku kalahkan. Bunda tunggu saja di sini, nanti kalau sudah selesai aku akan kembali .... Lagi pula, bukannya Bunda juga bisa menghadapi monster-monster kuat?”
“Tapi! Tetap saja monster seperti itu—!”
Odo menancapkan pedangnya ke tanah dan sedikit menarik napas ringan. Itu sekilas membuat Mavis tersentak dan tambah gemetar. Segera melepaskan jubah hitam yang dikenakan, pemuda rambut hitam itu berjalan ke arah Mavis dan memakaikan jubah tersebut kepadanya.
“Bunda tunggu di sini saja .... Kalau sudah setengah jam lebih, Bunda bisa ke gua itu. Tapi tetap hati-hati, ya. Bisa saja ada monster selain Minotaurus di sekitar sini.”
Odo berbalik setelah memakaikan jubah. Mengambil Gladius yang tertancap di atas tanah, pemuda itu mengaktifkan inti sihirnya pada tingkat minimum dan menyalurkan Mana pada senjatanya. Pemukaan pedang sekilas bersinar biru, lalu langsung redup dan permukaan mata pedang bergetar dengan kecepatan supersonik. Suara seperti gergaji mesin, bergesekan dengan udara menjadi pedang yang bisa memotong tulang dan daging dengan mudah.
“Aku akan kembali.”
“Hmmm ....”
Odo langsung menggunakan sihir pelontar dan meloncat cepat ke depan, melewati pepohonan dan melesat ke tempat para Minotaurus sebelumnya.
.
.
.
.
.