Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 55 : Aswad 2 of 15 “To Be Hire” (Part 04)



Perkataan itu membuat Notmarina gemetar, merasa takut untuk menarik pelatuknya dan gambaran pemandangan berdarah dari mayat anak-anak sekilas terngiang dalam kepala. Tanpa dirinya sendiri sadari, ia melangkah mundur dan mulai menurunkan moncong senapannya.


Laura yang menyadari rasa bersalah rekannya itu sekilas melirik kecil, kembali memasang ekspresi dingin dan menatap ke arah Di’in. Letnan Dua tersebut memegang laras senapan rekannya sembari berkata, “Aku akan menginterogasinya .... Dia akan mati kalau dibiarkan seperti itu, kau tak berlu menambah rasa bersalah.”


Laura berjalan mendekat, berdiri di depan Di’in dan segera menyepak jauh senapan milik perempuan itu dengan kaki. Situasi tersebut begitu mirip dengan kejadian 17 tahun yang lalu, dimana Laura berdiri di hadapan Di’in yang tidak bisa apa-apa. Merasakan ketidakberdayaan dan kelemahannya yang tidak ada bedanya dengan situasi tersebut, perempuan rambut cokelat itu tambah mengalirkan air mata dengan frustrasi karena merasa dirinya sama sekali tidak berkembang meski waktu telah lama berlalu.


“Kenapa kau membunuh rekanmu sendiri?” tanya Laura.


Di’in mengangkat wajah pucatnya — Berlinang air mata dan menatap dengan sorot mata kosong, ia dengan lemas berkata, “Letda juga ..., kenapa ... saat itu  ... kau ... membunuh rekan-rekanmu ... di kota ... itu ... bersama pasukan musuh?”


Laura menarik napas dalam-dalam, menyipitkan matanya dan dengan nada suram kembali berkata, “Begitu, ya .... Perintah dari atasan. Sungguh ..., para A.I itu memang selalu saja memberikan pilihan yang sulit untuk orang-orang seperti kita. Baiklah ....”


High Elf rambut pirang sebahu itu membuka telapak tangan kanannya ke arah kepala Di’in, mengaktifkan inti sihirnya dan hendak menghabisi perempuan yang dulu pernah dirinya biarkan hidup. Sekilas ia merasa kalau memang manusia tumbuh dengan cepat, layaknya orang-orang yang pernah dirinya layani dulu.


“Selamat tinggal ..., Cornelisa Di’in. Diriku akui engkau adalah tentara yang hebat, jasamu akan jiwa ini kenang sampa—!”


“Laura!”


Notmarina langsung memeluk Laura dengan lengan kanan sebelum rekannya tersebut menyelesaikan perkataan, segera menariknya mundur dengan kasar. Tepat kurang dari dua detik setelah mereka berguling menjauh, sebuah tombak cahaya datang dari langit dan langsung menancap tepat di tempat Laura berdiri sebelumnya. Di’in terhempas ke belakang dan jatuh menindihi Ra’an karena angin dari tombak tersebut, dedaunan bergerak-gerak kacau dan seketika alur udara berubah setelah kemunculan tombak itu.


Selain Notmarina, tidak ada dari mereka yang menyadari kedatangan tombak yang sepenuhnya terbuat dari pemadatan energi itu. Saat Laura dan pasukannya melihat ke arah tombak cahaya dengan ujung mirip seperti vajra itu, tiba-tiba cahaya sangat terang datang seakan memenuhi langit dan membutakan penglihatan mereka sesaat.


Ketika penglihatan kembali, dalam radius lebih dari dua ratus meter dedaunan pohon cemara rontok seluruhnya sampai cahaya bulan dengan jelas bisa memapar permukaan. Setiap orang yang melihat kedatangan sosok tersebut menganga, tak percaya makhluk dari dimensi tingkat tinggi sepertinya akan datang dalam situasi tersebut.


Sayap bulu putih yang seakan bersinar dalam malam, halo cahaya runcing di atas kepala dan kekuatan suci yang terpancar begitu kuat. Laura sangat paham wujud apa tersebut, dengan jelas ia menyebut, “Malaikat ...?”


Sosok pemuda berwujud malaikat itu menatap tajam dengan mata yang seakan menyala biru dalam kegelapan. Menunjuk dengan tangan kanannya, mengumpulkan partikel cahaya dan menciptakan delapan tombak yang bersinar terang di sekitarnya.


“Dia—!!”


Menyadari nafsu membunuh yang terpancar kuat dari manifestasi malaikat tersebut, Laura segera mengaktifkan inti sihirnya secara penuh dan menciptakan sayap partikel cahaya tujuh warna berbentuk kupu-kupu. Semua tombak melesat ke arah mereka, mengarah dengan akurat ke delapan orang yang diincar oleh sosok pemuda bersayap tersebut.


Laura segera memanipulasi sayap partikelnya, mengubahnya menjadi semacam tentakel dan menepis semua tombak yang melesat kencang tersebut. Sayap hancur seketika, sedangkan tombak-tombak melayang ke udara dan hancur menjadi partikel cahaya putih.


Sosok pemuda rambut hitam itu melayang turun, menginjakkan kakinya di tanah dan berdiri di depan Di’in dan Ra’an seakan memang dirinya ingin melindungi mereka berdua. Ia mengambil tombak yang tertancap dan belum menghilang, menyerapnya dan kembali meningkatkan kekuatan sucinya. Notmarina sekilas merasa merinding dengan keberadaan pemuda itu, melangkah mundur dan berkata, “Laura, dia .... Aku sama sekali tidak merasakan kekuatan darinya.”


“Ya, memang tak salah lagi ....” Laura menciptakan lingkaran sihir pada telapak tangan kanan, sedikit melangkah mundur dan berkata, “Dia manifestasi malaikat .... Kekuatannya berada di dimensi yang lebih tinggi, yang kita rasakan hanya hawa keberadaan dan nafsu membunuhnya.”


“Letda, apa dia Penyihir Cahaya,” tanya salah satu Prajurit Peri yang berdiri di belakang Notmarina. Ia adalah Magda Klitea, seorang Elf rambut pirang panjang sebahu, mengenakan seragam militer sama seperti yang lain dan membawa senapan lontak yang telah diasimilasikan dengan sihir.


Sekilas pada kedua kornea mata Magda muncul lingkaran sihir, ia menganalisa aliran energi sosok pemuda bersayap di hadapannya dan seketika tertegun karena benar-benar tidak bisa mengukur kekuatannya. Mengangkat senjata dan membidik, ia kembali berkata, “Sepertinya dia bukan Penyihir Cahya, proporsi tubuhnya murni laki-laki ....”


“Serius ...?” Laura mulai ragu bisa menang, menarik napas dalam-dalam ia berkata, “Kerajaan Felixia punya satu lagi orang yang bisa melakukan manifestasi malaikat?”


“Bagaimana, Laura? Kita mundur?” tanya Notmarina.


“Apa ... kita bisa kabur darinya ...?”


Menatap ke arah pemuda rambut hitam tersebut, seketika mereka paham perbedaan kekuatan yang ada. Metode penggunaan sihir peri dan sihir manifestasi malaikat cenderung hampir mirip, mengambil energi dari dimensi lain dan mengekstraksinya menjadi kekuatan sendiri. Sihir Peri menang secara kuantitas energi karena berasal dari Dunia Astral yang kaya dengan kekuatan sihir, sedangkan manifestasi malaikat lebih unggul secara kualitas karena dasar dimensinya lebih tinggi.


Saat Laura dan bawahannya berbicara satu sama lain untuk menyusun strategi, Odo hanya terdiam pada tempat dan sekilas melirik ke belakang. Melihat Ra’an terkapar tidak sadarkan diri dan Di’in terluka parah sampai sekarat, pemuda rambut hitam itu melepas jubah dimensi yang telah berlubang karena sayapnya sendiri.


Pemuda itu meletakkan jubah ke tanah, tanpa menyentuhnya ia mengaktifkan dimensi penyimpanan dan menarik keluar pisau perak dari dalam jubah. Itu melayang ke atas dan sampai pada genggamannya, lalu pemuda itu mengiris pergelengan tangan kirinya sendiri dengan pisau tersebut dan membiarkan darahnya mengalir ke siku.


Seakan meremehkan orang-orang yang sebelumnya ia serang, sosok manifestasi malaikat tersebut berbalik menghadap Di’in dan Ra’an dan mencipratkan darahnya ke tubuh mereka. Sekilas Di’in terkejut dan dengan kesadaran hampir pudar ia berusaha menyingkirkan darah tersebut, namun itu seakan hidup dan masuk ke dalam luka mereka berdua. Darah segar pemuda itu masuk ke pembuluh darah, mengubah beberapa susunan tubuh dan membuat pendarahan mereka berhenti serta menunjang kehidupan mereka layaknya fungsi nano-machine yang meregenerasi sel-sel dari dalam.


Dor!!


Salah satu bawahan Laura menarik pelatuknya dan menembak pemuda itu. Namun tanpa bisa mengenai tubuh sosok bersayap tersebut, timah panas berhenti di udara dan seketika meleleh karena suhu tinggi dari pelindung tak kasatmata yang ada di sekitarnya. Berbalik dan menghadap ke arah Laura dan para bawahannya, ia kembali menunjuk dan berkata, “Kalian siapa? Sepertinya bukan  pasukan yang waktu itu menyerang suku Klista ....”


Suara itu terdengar ganda, menjadi sedikit tidak jelas namun masih bisa dipahami. Notmarina segera menyiapkan senjatanya, menyalurkan Mana dari telapak tangan ke senapannya dan mengatur susunan sihir serta formula di dalam selongsong senjata. Sekilas saling melirik dengan Laura, Elf rambut hijau pucat tersebut mengangguk dan memutuskan strategi untuk melawan sosok manifestasi malaikat tersebut.


Laura langsung mengambil tabung besi berisi bubuk mesiu dari belakang pinggang, lalu melemparkan itu ke arah pemuda bersayap. Saat masih berputar di udara, Notmarina segera membidik dan menembak tabung berisi mesiu tersebut.


Duark!!


Ledakan tercipta dan sambaran api condong mengarah ke pemuda rambut hitam tersebut. Di tengah ledakan, semua bawahan Laura telah bersiap dengan senjata mereka dan langsung melancarkan tembakan beruntun secara bergantian. Kilatan cahaya hasil pembakaran pada selongsong dan suara dentum terdengar nyaring di dalam hutan.


Namun saat asap dari ledakan menghilang dari sekitar pemuda yang menjadi sasaran, mereka semua terkejut karena ia sama sekali tidak terluka dan semua timah napas berhenti di udara. Sebuah perisai tak kasatmata dari tekanan udara tinggi menghalau semua serangan, entah itu daya ledakan atau timah napas.


Timah-timah panas berjatuhan, sedangkan peluru sihir terurai menjadi Ether. Di tengah rasa tidak percaya mereka, tiba-tiba sepasang sayap yang ada pada punggung pemuda itu menghilang dan kekuatan suci benar-benar lenyap. Namun menggantikan hal tersebut, seketika aura yang terasa bagaikan monster terpancar kuat darinya. Keringat dingin Laura dan bawahannya bercucuran, melangkah mundur dan benar-benar merasa tidak bisa menang.


“Padahal kalian Elf, tapi malah pakai senapan .... Busur dan panah kalian pergi ke mana?” tanya pemuda itu dengan suara yang tidak lagi terdengar ganda. Ia mengusap darah yang keluar dari kedua lubang hidungnya, lalu berjalan ke depan seraya membuka telapak tangan kanannya ke depan.


Notmarina tanpa ragu kembali menarik pelatuknya dan peluru cahaya melesat mengenai tubuh pemuda itu. Namun apa yang Elf tersebut tembak hanyalah sebuah ilusi optik menggunakan pembiasan cahaya bulan yang samar, sosok pemuda itu menghilang dari tempat tersebut tanpa disadari mereka semua.


Sebelum Notmarina menemukan pemuda yang keberadaannya tiba-tiba lenyap itu, laras senapannya telah dipegang dan lehernya langsung dicekik olehnya. Laura sama sekali tidak menyadari pergerakan pemuda itu, ia segera meloncat ke arah mereka untuk menyelamatkan Notmarina. High Elf rambut pirang tersebut mengulurkan tangan kanannya ke depan dan membuat lingkaran sihir gravitasi untuk menyerang.


“Kau tahu ....” Pemuda itu menoleh ringan ke arah Laura, menatap dengan sorot mata biru yang seakan bersinar dalam kegelapan dan berkata, “Aku sedang sibuk mengurus banyak hal.”


Kratak!


Tekanan udara di sekitar pemuda itu mengempit tangan kanan Laura yang terulur ke depan, membuat sikunya lepas dari sendi sampai tulangnya timbul dan lingkaran sihir yang dirinya siapkan hancur. Melemparkan Elf yang dicekiknya ke arah Laura, pemuda itu menendang punggungnya sampai mereka terpental dan jatuh.


Sebelum mereka berdua bangun, pemuda yang telah merebut senapan dari Notmarina itu membidik mereka — Tepat waktu yang hampir bersamaan dengan para semua bawahan Laura membidik ke arahnya. Suasana berubah senyap, tidak ada dari mereka yang berani mengambil tindakan gegabah.


“Sialan, aku tadi telah mengisikan Mana ke dalam selongsong,” benak Notmarina seraya bangun dari atas Laura dan berusaha tidak membuat gerakan mencurigakan.”


Pemuda rambut hitam tersebut menghela napas, menatap datar mereka berdua dan dengan nada malas berkata, “Aku Odo Luke, Putra Marquess Luke .... Kalian dari Moloia, ‘kan? Dari Fraksi apa? Di bawah perintah siapa kalian ada di sini?”


Pernyataan dan pernyataan itu membuat Laura terkejut. Ia segera menyeringai kecil menutupi rasa cemasnya, lalu hendak berdiri dan berkata, “Hmm, kau Pembunuh Naga it—?”


“Tetap seperti itu, jangan bergerak lagi! Lipat tanganmu ke belakang kepala!” tegas Odo.


Laura kembali berlutut bersama Notmarina, menatap datar dan mulai merasa kalau pemuda rambut hitam itu tahu strategi serta taktis dari tentara Moloia. Ia memegang tangan kanannya sendiri, lalu dengan paksa memperbaiki posisi tulangnya yang lepas dan rasa sakit seketika menjalar ke sekujur tubuh. Seraya mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, Laura bertanya, “Kau ... tahu standar dasar militer kami, ya? Apa dua orang di sana yang memberitahumu?”


“Bukan ....” Sekilas Odo melirik ke arah Di’in dan Ra’an yang tidak sadarkan diri. Menghela napas ringan dan kembali menatap Laura dengan sorot mata kosong, pemuda itu memasang ekspresi seakan tanpa jiwa dan berkata, “A.I kalian yang memberitahukanku banyak hal.”


Perkataan itu membuat Laura dan semua bawahannya terkejut, gemetar bingung dan meragukan perkataan tersebut. Melihat ekspresi wajah yang nampak dari Elf rambut pirang di hadapannya, Odo menyeringai kecil dan berkata, “Rhea, Athena, Natraya ..., atau Moska? Menurutmu siapa yang memberitahuku?”


Nama-nama A.I yang disebutkan Odo benar-benar membuat keempat Prajurit Peri yang ada di tempat tersebut terkejut. Di antara bawahan yang diajak Laura dalam misi, beserta dirinya hanya ketiga Elf lainnya yang memiliki status serta pengaruh tinggi untuk mengetahui informasi rahasia tersebut.


“Kenapa orang luar sepertimu bisa tahu itu? Apa ... pada misi pembunuhan saat musim dingin itu — Rhea berkhianat?!” Laura mulai berkeringat dingin, ia tidak menyangka A.I yang paling setia pada kerajaan Moloia dan cinta damai tersebut akan melakukan pengkhianatan. Ia menatap tajam penuh keraguan, lalu dengan suara lantang berkata, “Mana mungkin Master mengkhianati tanah air!!”


Mendengar kalimat tersebut, seketika Spekulasi Persepsi pemuda rambut hitam tersebut aktif dan kornea matanya sekilas berubah menghijau. Berkedip satu kali, Odo paham hubungan High Elf yang dirinya todong tersebut dengan Rhea yang merupakan A.I pemegang wewenang Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian di Moloia.


“Kode 87 – Way K-W-Y  Double A Rute .... B-K-6-9-H-H-G-I-F-H-W-Q Patra Lat.”


Apa yang diucapkan Odo membuat Laura terbelalak, menganga tidak percaya dan mulai gemetar. Sebagai mantan pemimpin dari Unit Khusus Pasukan Peri yang didirikan oleh Rhea — Laura sangat mengerti kode militer tersebut. Itu merupakan sebuah kode putusan pengalihan wewenang jika kondisi yang ada tidak memungkinkan untuk Rhea memberikan perintah secara langsung.


“Tidak mungkin ....” Laura bangun, melangkah mendekati Odo dengan ekspresi benar-benar terkejut sampai tidak memedulikan lagi moncong senapan yang mengarah ke arahnya.


Odo menurunkan senjata dan sampai melangkah mundur. Namun Laura segera memegang kedua pundak pemuda itu, mendekatkan wajah dan bertanya, “Kenapa ... Master Rhea menyerahkan wewenang Prajurit Peri padamu?” Perkataan tersebut sekilas membuat Odo bingung, begitu pula semua anak buah Laura termasuk Prajurit Peri lainnya.


“Rhea hanya bilang itu kode untuk menghentikan pasukan khusus dengan penggunaan metode kekuatan dari Dunia Astral yang unik, lebih dari itu ia tidak menjelaskannya,” jawab Odo seraya sekilas melirik ke arah anak buah Laura yang masih membidik dengan senapan dan siap menembak. Menghela napas ringan dan kembali menatap High Elf di hadapannya, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Elf rambut pirang dan mata hijau zamrud, kau juga tahu kode itu. Berarti ... benar kau Laura?”


“Ya ....! Memangnya siapa lagi ....”


Odo menjatuhkan senapannya ke tanah, langsung menunjuk ke arah para bawahan Laura dan berkata, “Mari kita bicara ... Perintahkan mereka untuk menurunkan senjata dan mari kita bicarakan ini baik-baik ....”