Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 70 : Regalia II (Part 01)



Meski itu pesta untuk dirinya, orang-orang yang berkumpul dan saling bersulang dengan minuman merah pada tempat itu tampak asing di mata Odo. Ia tidak mengetahui nama dari sebagian tamu yang datang, ataupun peduli dengan mereka semua.


Gaun-gaun megah yang dikenakan oleh para wanita, sedangkan pria-pria memakai setelan rapi dengan jubah yang membuat mereka tampak gagah. Begitu elegan dan bermartabat, memperlihatkan kalau memang orang-orang tersebut berasal dari kalangan atas.


Tangan dan leher para wanita berhiaskan permata serta logam mulia, tampak anggun dan menawan saat berdiri di sebelah pasangan mereka masing-masing. Seakan-akan sedang memamerkan sesuatu yang orang-orang seperti itu dapat dari kalangan bawah.


Berbincang seakan diri mereka paling tinggi, berbicara saling menyombongkan dan menganggap rakyat yang dipimpin hanyalah properti yang bisa digunakan untuk beradu kekayaan.


Melihat pemandangan seperti itu dan dengan jelas mendengar mereka membicarakan hal tersebut dengan penuh rasa bangga, Odo Luke sama sekali tidak mengubah mimik wajahnya yang seakan tanpa ekspresi.


Pemuda rambut hitam itu berdiri pada salah satu sudut Aula Utama, dalam benak merasa enggan untuk berbicara dengan orang-orang seperti itu atau sekadar mendekat.


Sekilas Odo melihat ke arah Lisia dan Aprilo yang sudah bisa melebur ke dalam perbincangan para tamu, merasa apa yang dirinya lakukan sebelumnya sedikit membuahkan hasil dan mereka tidak lagi diremehkan. Ia menghela napas kecil, segera memikirkan hal lain.


“Rencana telah dipasang, semoga Arca menangkap maksudku tentang ini,” benak Odo seraya sedikit memalingkan pandangan langit-langit aula.


Pemuda dengan pakaian dominan hitam itu memperlihatkan tatapan kosong, merasa berada dalam panggung sandiwara raksasa. Saat dirinya semakin memahami obrolan para tamu, rasa muak dalam benak semakin bertambah.


Baik para tamu yang baru saja datang atau pun yang sudah sampai dari kemarin, para kalangan atas tersebut mengumbar kebohongan di bawah paparan cahaya lampu kristal yang megah.


“Kalau yang menjadi tunangan Tuan Putri adalah Putra dari Keluarga Luke, kami Keluarga Ilan tidak akan protes. Mereka sempurna, sang Pembunuh Naga dan Putri Roh.”


“Itu benar! Saya juga sependapat dengan Anda, Tuan Ilan. Berbicara tentang itu, saya dengar Putra dari Keluarga Rein juga dekat dengan Putra dari Keluarga Luke tersebut?”


“Ya, saya juga mendengar desas-desus serupa. Mereka belakangan ini sedang melakukan bisnis atau semacamnya di Kota Mylta. Setelah rute perdagangan dibuka di akhir musim dingin lalu, perekonomian Kota itu melesat pesat. Sekretaris dan Bendahara Kota Rockfield sampai dibuat terkejut oleh laporan keuangan mereka …. Bahkan, Tuan Oma Stein sempat bilang kepada saya kalau hutang Kota Mylta sepertinya akan dilunasi akhir tahun ini atau awal tahun depan.”


“Hutang mereka? Secepat itu?”


“Benar! Sangat mengejutkan, bukan? Meski itu juga karena pengaruh Serikat Dagang Lorian, namun perkembangannya terlalu cepat. Untuk wilayah yang terus-menerus mengalami regresif, hanya dengan dibukanya rute perdagangan mereka bisa berkembang pesat dalam waktu yang sangat singkat. Menurut rumor yang saya terima dari para relasi pedagang, kata mereka perubahan terbesar malah dibawah oleh Odo Luke dan Arca Rein ….”


Kedua bangsawan kelas menegah bawah tersebut melirik ke arah Odo yang berdiri pada salah satu sudut Aula Utama, memberikan tatapan heran dan mulai merasa ucapan yang pemuda itu utarakan saat di teras Mansion bukanlah gertakan.


Tidak memedulikan mereka, Odo hanya diam. Pemuda itu berdiri tanpa meneguk sedikitpun minumannya, hanya mengangkat gelas dengan tangan kanan dan berdiam tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut.


Melihat isi gelasnya, warna merah wine membuatnya menyeringai kecil. Gejolak gelap dalam hati mulai naik, membayangkan ruangan yang ditempatinya sekarang ini berubah dipenuhi dengan genangan darah dari orang-orang munafik dan serakah itu.


“Tuan Odo, kenapa Anda senyum-senyum seperti itu?” tanya Arteria sembari melihat wajah pemuda itu dari samping. Mengambil piring berisi manisan buah dari meja, ia pun menawarkannya, “Mungkin pelayan mengira Tuan Odo sudah dewasa dan memberikan wine tersebut kepada Anda …. Ini, makan saja manisan prem. Rasanya enak loh, biar Tuan Odo tidak masam terus.”


Odo melirik datar, menghela napas ringan dan berkata, “Mereka pelayan yang bekerja untuk Keluarga Luke, tentu saja mereka semua tahu kalau aku masih belum cukup umur. Alasan mereka memberikan wine mungkin karena arahan Mbak Fiola, untuk formalitas dan beberapa hal lain.”


“Beberapa hal lain?” Arteria memiringkan kepala dengan bingung.


“Bukan hal penting kok, Tuan Putri tak perlu mencemaskannya.”


Odo tidak menjelaskan hal itu, hanya memberikan tatapan datar dan mengamati pakaian yang dikenakan gadis rambut biru tersebut. Ia tidak mengenakan gaun seperti saat pesta penyambutan, melainkan rok lipat pendek berwarna hitam dengan atasan pakaian perwira militer berwarna hitam. Pada kedua kakinya pun Arteria mengenakan bot hitam panjang sampai betis, bukan sepatu hak tinggi yang indah.


Melihat seorang Tuan Putri mengenakan pakaian formal kalangan perwira Kerajaan seperti itu, Odo sedikit heran dan pada akhirnya bertanya, “Mungkin ini sedikit lancang kalau aku bertanya, tapi kenapa Putri mengenakan seragam militer di acara seperti ini? Lagi pula, kenapa Anda bisa punya itu?”


“Ini Arteria pinjam dari salah satu Prajurit yang mengawal Ayahanda …. Tapi yah, hmmm~” Tuan Putri melirik kecil dan memasang senyum manis, lalu sembari kembali meletakkan piring ke atas meja ia dengan ringan menyindir, “Padahal Tuan Odo sendiri berpakaian seperti itu, tetapi masih berani komentar soal pakaian Arteria, ya?”


Tuan Putri memasang senyum menyindir yang begitu jelas, seakan mengungkit-ungkit kembali pembicaraan sebelumnya saat di perpustakaan sihir. Odo paham alasan Arteria mengenakan pakaian militer yang cenderung serba hitam itu untuk berkabung, namun dalam benaknya ia merasa sang Tuan Putri seharusnya tak perlu meniru.


“Yah, benar juga katamu.”


Odo meletakkan gelas ke atas meja. Menghela napas ringan, ia sempat merasa heran kepada sang Raja karena membiarkan putrinya mengenakan pakaian militer di hari pertunangan. Meskipun itu biasa dikenakan di acara formal, namun tetap saja Odo merasa sedikit tidak nyaman melihat Tuan Putri mengenakan seragam militer.


Pemuda itu segera melihat memindai dan mencari sang Raja, namun tidak menemukannya di dalam Aula Utama. Menarik napas ringan, ia juga merasa sedikit heran karena disuruh masuk ke ruang pesta terlebih dahulu bersama Arteria sedangkan para tokoh penting lainnya masih bersiap di ruangan lain.


“Arteria, omong-omong … yang lain ke mana? Kok kita disuruh masuk ke sini duluan? Acara pertunangan itu bagaimana sih? Jujur aku juga heran Raja memperbolehkan kau pakai pakaian seperti itu …. Mbak Julia juga, aneh sekali dia tidak menegur dan langsung meminta ku menemui kau di sini.”


“Eh?” Arteria terkejut karena sebelumnya mengira Odo sudah tahu alasan mereka berdua masuk terlebih dulu ke dalam Aula.” Sedikit memalingkan pandangan dengan kaku, perempuan rambut biru tersebut balik bertanya, “Tuan Odo tidak tahu prosesi pertunangannya? Apa Tuan Odo tidak mempelajarinya? Itu seharusnya sudah diajarkan kepada seluruh anak dari kalangan atas, apalagi dalam Keluarga Marquess seperti Luke ….”


“Kau belajar hal seperti itu sejak usia berapa?”


“Eng ….” Arteria kembali menatap ke arah Odo, lalu dengan sedikit ragu-ragu menjawab, “Awal usia 10 tahun, Arteria diajari etika bangsawan oleh mendiang Ibunda dan Ibu Sarawati.”


“Ah, jelas saja aku belum diajarkan hal seperti itu.” Odo menarik napas dengan lega, sekilas ia merasa kalau Dart dan Mavis sengaja tidak mengajarkan hal seperti itu kepadanya. Mengangkat jari telunjuk ke depan, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kau tahu, bahkan besok aku baru berusia 9 tahun loh. Kurasa itu wajar kalau aku belum diajarkan hal seperti itu.”


“Ah, benar juga …. Eh?! Besok ulang tahun Tuan Odo?!” Arteria tampak terkejut sampai kehilangan perilaku tenangnya. Segera memalingkan wajah dan menghela napas ringan, Tuan Putri berusaha menyembunyikan mimik wajahnya yang sedang terkejut sampai mulutnya menganga. Ia kembali menatap ke arah Odo, lalu dengan sedikit tergagap bertanya, “La-Lalu, kenapa Tuan Dart dan Nyonya Penyihir Cahaya membiarkan Anda masuk ke Aula tanpa arahan?”


“Eeeeh? Apa begitu cara keluarga Pedang Kerajaan mendidik anak? Arteria tidak percaya mereka membiarkan Tuan Odo masuk ke sini begitu saja tanpa dibekali pengetahuan soal pertunangan.”


Odo memalingkan pandangan, dalam benak ia juga merasakan hal serupa. Namun Odo samar-samar menyadarinya, alasan sesungguhnya dirinya tidak diberitahukan apa saja yang perlu dilakukan selama prosesi pertunangan.


Menghela napas ringan, Odo dengan lirih bergumam, “Entah mengapa aku tak bisa menyukai Raja itu. Apa dia melakukan ini karena membenci ku? Atau hanya karena iseng?”


“Hmm? Tuan Odo, memangnya kenapa dengan Ayahanda?”


“Tak apa ….” Odo menggelengkan kepala, merasa Raja Gaiel hanya ingin mengetes dirinya secara langsung. Menatap Arteria dengan senyum lesu, pemuda rambut hitam itu berkata, “Yah, daripada membicarakan alasannya, lebih baik coba kau beritahu aku tentang apa saja yang perlu dilakukan selama pertunangan ini. Aku akan mengingatnya.”


“Ah, benar juga ….” Arteria menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menghadap ke arah Odo dan sembari mengangkat wajah berkata, “Bisa kacau kalau Tuan Odo membuat hal memalukan saat acara utama dimulai.”


Arteria meletakkan jari telunjuknya ke mulut, memalingkan pandangan sembari mengingat-ingat apa saja yang perlu dilakukan selama acara pertunangan. Kembali menatap ke arah Odo, gadis rambut biru itu pun mulai menjelaskan.


Pertunangan itu sendiri sangatlah sederhana, tidak terlalu kompleks seperti harus ada ikrar suci antara dua insan atau persiapan keramat. Pertama yang perlu dilakukan adalah hal yang sedang Odo dan Arteria lakukan sekarang, memasuki ruangan pesta dan berbicara satu sama lain untuk saling mengenal.


Dalam kalangan bangsawan, tidaklah jarang kedua individu yang bahkan tidak pernah bertemu bertunangan karena keputusan orang tua. Karena itu, untuk membuat mereka saling mengenal, paling tidak pasangan diberikan waktu untuk berbicara satu sama lain tanpa gangguan orang tua.


Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jika membiarkan laki-laki dan perempuan berduaan, hal tersebut dilakukan pada acara pesta dengan beberapa pengawasan dari para tamu. Hal lainnya juga dikatakan oleh Arteria, bahwa tahap tersebut untuk memberikan kesempatan kepada kedua insan yang bertunangan untuk terjun ke dunia kebangsawanan dan mencoba untuk membentuk relasi dengan keluarga lainnya.


Setelah itu, barulah sebuah pertemuan antara kedua wali dari anak yang bertunangan untuk membicarakan soal perjanjian dan hal-hal lain. Tentu saja itu akan ada saksi oleh beberapa pihak, untuk memastikan bahwa pertunangan benar-benar terjalin dan setelah itu baru akan dipublikasikan secara umum dalam sebuah upacara singkat.


Itulah tahapan yang sering dilakukan oleh para bangsawan. Namun berbeda dengan biasanya, pertunangan Odo Luke dan Putri Arteria akan diselingi oleh beberapa acara penting seperti pemberian gelar bangsawan dan ikrar kepada para roh.


Pemberian gelar adalah batas standar untuk bisa menikahi seorang Putri Kerajaan, lalu ikrar sendiri dilakukan karena Arteria sudah menerima Kontrak dari para Roh dan telah memenuhi kapabilitas sebagai seorang Ratu.


Setelah mendengar penjelasan Arteria, Odo meletakkan tangan ke depan dagu dan sejenak merasa ada beberapa hal yang belum jelas.


Merasa tak perlu menahan diri dengan pasangannya sendiri, pemuda itu pun menurunkan tangan dan kembali bertanya, “Kenapa kita harus melakukan ikrar? Lagipula, ikrar itu maksudnya bagaimana? Apa itu semacam sumpah saat pernikahan atau semacamnya? Tapi, bukannya ini hanya pertunangan, ‘kan?”


“Arteria juga tidak tahu ….” Tuan Putri sedikit memalingkan pandangannya, lalu dengan ekspresi sedikit muram kembali berkata, “Hal yang berkaitan dengan ritual Arteria hanya sedikit mendengarnya dari Kakek Wolnir …, selebihnya Arteria tidak tahu.”


“Archbishop itu, ya?” Odo memalingkan wajah ke arah lain dan bertanya, “Apa kau tahu soal Ikrar yang dimaksud, Vil?”


Roh Agung yang sedari tadi menyembunyikan keberadaannya dalam bentuk Astral mulai muncul secara fisik, membuat tamu yang ada di tempat tersebut terkejut karena seorang wanita cantik tiba-tiba muncul di dekat Odo.


Arteria yang sedari tadi bisa melihat Vil menatap sedikit heran, merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hati mengapa Roh Agung sepertinya bisa keluar dari perpustakaan sihir yang menopang keberadaannya.


Melihat Roh Agung tersebut bisa dengan bebas mengatur wujudnya di Dunia Nyata, Arteria segera menarik lengan Odo dan berbisik, “Apa Tuan Odo membuat kontrak dengan Nona Roh Agung itu? Umur Anda bisa terpangkas habis loh ….”


“Ah, tenang saja. Aku sudah mengatasi efeknya.” Odo memasang senyum kecil, lalu dengan tanpa ragu menjelaskan, “Sebelumnya aku pernah bilang akan mencari cara untuk menghilangkan efek samping Kontrak Jiwa yang telah kau buat, ‘kan? Ini salah satu tahapnya, anggap saja salah satu hasil dari penelitian ku.”


“Eh? Secepat ini?” tanya Arteria terkejut.


“Odo sudah lama mencari metodenya.” Vil masuk ke dalam pembicaraan. Menatap langsung sang Tuan Putri, Roh Agung tersebut memperlihatkan ekspresi tak ramah dan kembali berkata, “Jadi bukan berarti Odo melakukannya hanya untuk kamu, wahai Ratu Roh.”


“Ratu Roh?” Odo sedikit tertarik dengan sebutan yang Vil pakai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!


Oke?


Bukannya pelit, hanya saja secara pribadi aku tidak suka orang yang suka melanggar batas-batas kebebasan dalam hal berkarya.


Kalau ingin promo, silahkan ke tempat lain atau ke media sosial lain.


Di Facebook sudah ada tempat khusus.


Jadilah orang yang mencerminkan literasi tinggi, bukan tambah kayak pedagang asongan yang asal masuk ke bus.