
Entah itu Realm milik siapa, tak jelas sejak kapan alam kesadaran yang bahkan bisa menginterpretasi realitas itu ada di sela setiap dimensi. Menjamah sela-sela dunia, membuat sebuah dunia baru miliknya seorang. Tak ada satu pun makhluk tahu koordinat pastinya, namun dengan jelas Realm tersebut ada di situ tanpa bisa diakses dari luar selama dunia tercipta kembali.
Ruangan putih mendominasi, entah itu langit atau lantai semuanya terlihat putih. Roda-roda gerigi raksasa bergeletakan, tak berguna di atas lantai yang tergenang air jernih. Kubus dengan warna putih bergelimpangan, tanpa tersusun dan hanya ada di tempat tersebut tanpa memiliki arti.
Di tempat penuh dengan kesepian tersebut, seorang gadis rambut hitam berdiri tanpa alas kaki di atas genangan air setinggi mata kakinya. Rambutnya hitam terurai sampai pinggang, mengenakan bando merah dan sebuah gaun dengan kesan gothic ringan berwarna hitam.
Ia menatap datar ke tempat kosong, dengan sorot mata gelapnya yang seakan penuh kehancuran. Senyum dingin nan tajam terkandung dalam ekspresi kosongnya. Melangkah ke depan, gadis itu duduk di atas salah satu kubus putih. Menghentakkan kaki sekali, air yang menggenang di tempat tersebut hilang seketika seakan memang dari awal tak ada.
Duduk menatap tempat kosong, ia hanya memasang senyuman yang seakan penuh dengan pikiran jahat. Sebelah kakinya dirantai, membuat gadis tersebut tidak bisa keluar dari Realm miliknya sendiri. Namun itu tidak membuatnya sedih atau semacamnya, perasaan semacam itu telah dirinya lupakan sejak lama.
Hanya ada obsesi pada sesuatu yang terus membuatnya “Ada”.
Gadis tersebutlah penguasa dunia dan sosok yang merealisasikan Rekonstruksi Dunia, makhluk yang disebut-sebut Dewa Tertinggi, Hellena.
Itu bukan namanya, hanya bagaimana makhluk-makhluk yang tahu dirinya memanggilnya begitu. Sebuah namanya yang identik dengan cahaya di tengah kegelapan, sangatlah bertentangan dengan sifat sosok tersebut.
Sembari tersenyum kecil, ia berkata, “Dunia seakan terburu-buru ingin hancur. Mereka telah menyadari keberadaanmu ya, ╤╤╤╤ Ah, namamu bahkan ditolak. Sungguh, menyedihkan sekali. Padahal dunia ini kutata ulang untukmu, namun diriku malah disingkirkan oleh ciptaanku sendiri.”
Gadis itu bangun, melangkahkan kaki tanpa alasnya dan menyusuri tempat tersebut. Meski berjalan sejauh apapun, rantai yang mengikat sebelah kakinya tidak habis-habis seakan panjangnya tak terhingga. Namun, gadis itu terus menerus berjalan pada tempat yang sama dan seakan sama sekali tidak bergerak dari tempat.
Langkah kakinya terhenti, mengulurkan kedua tangan ke langit seakan mendambakan sesuatu dan memohon, “Suatu hari diriku ingin engkau menatapku lagi dengan mata penuh cahaya itu.”
Air mata mengalir, membuat garis retak berwarna merah pada sekitar pipinya dan membuat kedua bola matanya berubah menjadi warna hitam pekat. Sembari terus menetaskan air mata merah, ia kembali berkata.
“Apa yang menjadi kebencianku adalah dirimu. Sejak dulu aku memang selalu membenci sampai ingin mengutuk karena sifatmu. Namun ... rasa benci itu hanya sebuah sisi koin yang berbeda, di sini lainnya jelas ada cinta. Diriku paham itu dengan jelas, Cinta dan Benci adalah dua hal yang hampir sama, itu karena lawan Cinta bukanlah Benci, namun Rasa Acuh.”
Tubuhnya ambruk dengan lemas, terduduk di antara roda-roda gerigi kecil yang berserakan. Suara jarum jam terdengar entah dari mana, membuat melodi sunyi yang seakan terus menggerogoti jiwanya dalam kesepian. Air mata merah pun semakin deras mengalir.
“Diriku selalu saja menyusahkanmu. Berdiri di tempat yang bertentangan denganmu. Meski ku sadar tak bisa hidup tanpa keberadaanmu, namun tetap saja .... Kau selalu saja bersifat apatis pada kebaikanku .... Kelak, suatu hari nanti engkau pasti akan mengharapkan kekuatanmu kembali, demi melindungi apa yang sekarang kau anggap kebahagiaan itu. Meskipun dirimu sadar pada kenyataannya itu akan hilang ..., pasti tetap saja akan. Engkau ... bukanlah berada di tempat mereka, engkau hanya lewat. Kita berbeda, karena itu .... kita —!”
Tubuhnya ambruk ke lantai, terbaring dengan sorot mata kosong seakan jiwanya tak ada pada tubuh Astral tersebut. Benar-benar hilang, hanya seperti sebatang mayat kaku yang terbaring. Tak lama kemudian, genangan air mulai mengisi tempat tersebut dan membuat tubuh perempuan itu mengapung ringan di permukaan.
Ia kembali bangun, tanpa mengingat apa yang dirinya katakan sebelumnya. Menatap ke arah tempat kosong dan terus mengatakan hal serupa seperti apa yang dikatakannya sebelumnya. Itulah nasib sang Penguasa dunia yang direbut kekuasaannya, terus mengalami siklus penyesalan dan akan terulang setiap beberapa jam sekali.
Meski dirinya tidak mengingat itu sepenuhnya, perempuan itu tahu kalau telah melakukan hal serupa selama miliaran kali karena konsep persepsi waktu masih tertinggal dalam jiwanya. Ia tak bisa memberontak, karena dirinya sekarang hanyalah seorang perempuan lemah tanpa otoritas untuk mengatur dunia dan terjebak dalam siklus kausalitas singkat di dalam Realm tersebut.
««»»
Api unggun menyala di tengah kegelapan pekat, dikelilingi pepohonan yang mulai menumbuhkan tunas pada awal musim semi. Tenda kecil berdiri tidak jauh dari sumber cahaya tersebut, sebagai pengusir dingin, peneduh dan tempat istirahat. Dua ekor kuda yang menarik kereta selama seharian penuh sudah tidur setelah memakan rerumputan, tak jauh dari orang-orang yang telah menunggangi.
Duduk di dekat api unggun, Odo menatap datar kobaran api yang menjilat-jilat dari batang kayu yang disusun. Sekilas kornea matanya berubah hijau, menganalisis hal lain dan dilanjutkan dengan hela napas setelah mendapat kesimpulan.
Seekor kadal kecil merayap mendekati pemuda itu. Tapa jijik atau enggan, Odo melepas sarung tangan kiri dan menangkap kadal tersebut langsung tanpa penghalang. Mengamati binatang bersisik tersebut, pemuda itu melepaskannya dan kembali mengenakan sarung tangan.
“Apa ... ini diluar rencanamu?” tanya Canna yang duduk di sisi lain api unggun, ia menekuk kedua lututnya ke depan dan sedikit meringkuk.
Terasa sedikit ketidakpuasan pada tatapan ahli sihir dari Miquator tersebut. Selama dua hari perjalanan dirinya belum melakukan tugas sebagai penyihir yang disewa Odo, ia merasa belum berguna sama sekali meski telah mendapat uang muka yang cukup tinggi.
“Ya, ini tidak masuk rencana.” Odo tidak mengelak, kembali menghela napas dan berkata, “Seharusnya bandit yang kucari ada di sekitar tempat ini ... Kira-kira, dia bersama pasukannya akan lari ke teritorial Mylta daripada tetap berada di Rockfield yang sekarang meningkatkan aktivitas untuk membasmi sisa-sisa bandit.”
“Apa tidak ada kemungkinan bandit itu pergi ke teritorial kota lain? Di sekitar Rockfield tidak hanya ada Mylta. Bisa saja mereka lari ke Izta Maria atau Lignum. Paling parah, mereka pergi ke wilayah Rein.”
Odo sejenak terdiam, menganalisa kemungkinan itu dan menjawab, “Kurasa tidak mungkin. Kedua kota yang kau sebutkan adalah pusat Perdagangan dan Perkotaan Besar. Kalau mereka kabur ke wilayah lain, melewati perbatasan tanpa surat-surat sangat berisiko. Mereka kurasa tidak akan melakukan itu .... Meskipun iya, mereka pasti sudah ditangkap di perbatasan.”
“Bisa saja ada terobosan ....”
“Eng, kalau itu terjadi berarti rencanaku gagal dan aku akan menyerah.”
“Eh?”
Canna tercengang, dirinya tidak mengira Odo akan mengatakan hal seperti itu dan mundur dengan mudah. Mendapat tatapan tajam dari Vil yang duduk di sebelah pemuda rambut hitam tersebut, ahli sihir berambut putih itu segera menundukkan wajah.
Odo mendongak ke atas, melihat langit tanpa bintang di musim semi. Itu terlihat cukup gelap tanpa bulan, membuatnya mengingat sesuatu di masa lalu. Menyipitkan mata dan menarik napas ringan, ia menatap Canna dan berkata, “Yah, bukan berarti aku akan meninggalkan rencana ini. Kalau bandit itu tidak kudapat, aku hanya mencari bandit lain. Tak ada ketetapan harus bandit itu, aku melakukan ini hanya karena masalah keadilan.”
“Adil?” Vil bangun karena terusik, membersihkan roknya dari tanah dan menatap datar Odo. Menyipitkan mata, ia dengan kesal berkata, “Kalau bicara soal keadilan, kamu seharusnya tidak menolong penjahat!”
“Vil, kau masih mau membahas itu?” Odo menoleh dengan risih.
“Ah, maaf. Aku tarik perkataanku.” Odo berhenti menatap Roh Agung tersebut, menundukkan wajah dan berkata, “Ini keegoisanku. Aku ... ingin tetap merasa benar, karena itu aku mencari bandit bernama Kolt Luis. Menurut laporan dan kasus yang ada, dia terkenal sebagai bandit yang kejam dan paling sering membantai. Karena itu, aku ....”
Suasana menjadi senyap saat Odo alasan yang bersifat subyektif itu, membuat Vil terdiam dengan perasaan aneh. Ia tidak bisa membantah apa yang pemuda itu inginkan. Kembali duduk di sebelahnya, dengan lirih ia berkata, “Maaf ....”
“Tak apa ....” Odo segera bangun, berbalik dan berjalan ke arah tenda. “Aku tidur dulu .... Aktivasi tubuhku sudah mau habis,” ucapnya ringan.
Vil hanya terdiam membiarkan pemuda itu melangkah pergi. Suasana menjadi senyap, hanya terdengar suasa gesekan dedaunan yang tertiup angin dan suara kayu patah pada api unggun.
Saat Odo sudah benar-benar masuk ke dalam tenda, Canna dengan penasaran bertanya, “Roh Agung, dia itu kenapa? Kalau sudah beberapa jam apa dia selalu pingsan?”
Vil mengangkat wajahnya dengan ekspresi datar, mengingat kembali Canna yang sangat panik saat pertama kali melihat Odo tiba-tiba ambruk dan. Tersenyum ringan, ia dengan senyum tipis menjelaskan, “Odo memaksimalkan fungsi tubuh. Karena hampir semua sirkuit sihirnya hilang, Odo menjadi lemah dan harus melakukan hal itu untuk mempercepat pemulihannya. Katanya itu semacam terapi, membiarkan seluruh fungsi tubuh turun dengan drastis secara rutin untuk memperlancar sirkulasi energi.”
“Hmmm ....” Canna meletakkan tangan kanan ke depan mulut, menunduk dan berusaha memahami penjelasan tersebut. Menatap ringan, ia berkata, “Jadi semacam memisahkan air keruh dari air jernih, lalu menguras bagian kotornya.”
Vil menatap datar ahli sihir tersebut. Ia merasa kalau memang Canna memiliki hubungan dengan Odo yang sedikit berbeda dengan orang lain. Dengan curiga ia bertanya, “Kamu ... kok tidak menanyakan kenapa bisa Odo seperti itu, ya? Apa kamu dari awal sudah tahu kondisi Odo seperti itu?”
“Hmm!” Canna mengangguk, tersenyum ringan dan berkata, “Saya sudah menyadari kalau ada yang aneh dari Aya— Tuan Odo saat kembali dari rencana pembasmian. Pasti itu efek setelah melawan Raja Iblis.”
“Aya? Aya apa?” Vil tambah curiga.
“Tidak apa, kok. Ehehe ....” Canna tidak memalingkan pandangan dan hanya memasang ekspresi datar, menyembunyikan rasa paniknya karena keceplosan.
“Sungguh?” Vil mengintimidasi.
“Ya ....” Canna tetap memasang ekspresi tanpa gentar meski dalamnya sudah gemetar takut rahasianya terbongkar.
“Huh ....” Vil memalingkan pandangan dan melihat ke kegelapan hutan cemara. Mendapat jawaban seperti itu dirinya sadar kalau memang Canan memiliki hubungan khusus dengan Odo yang tidak dirinya tahu. Melirik datar, ia berkata, “Ya, sudahlah .... Kita juga harus tidur, sepertinya Odo tidak ingin menyerah soal rencana ini.”
Vil bangun dari tempat duduk dan berjalan ke arah kereta kuda untuk mengambil selimut. Karena tenda hanya bisa digunakan oleh dua orang dan telah diisi penuh, ia memutuskan untuk mengalah dan tidur di luar bersama Canna.
“Apa ... Roh Agung juga perlu tidur?”
“Tentu saja .... Diriku juga makhluk hidup, jelas perlu.”
“Hmm, apa yang membuat Roh Agung ada di dunia ini karena Kontrak Jiwa dengan Tuan Odo, atau .....”
Langkah kaki Vil terhenti sebelum mengambil di kain selimut di kereta kuda. Menoleh dengan tatapan sedikit risih, ia menjelaskan, “Ini bukan Kontrak Jiwa, hanya semacam membuat wadah keberadaan dengan kekuatan Odo. Karena itu ... aku tak bisa jauh-jauh dari pemuda itu.”
Angin malam bertiup, mengibarkan rambut biru Roh Agung tersebut. Warna biru itu bukanlah hal alami seperti kebanyakan makhluk mortal lainnya. Itu adalah efek dari kandungan sihir dalam tubuh Vil yang membuat rambut dan matanya berwarna biru
Di dalam kegelapan, di mata Canna warna biru tersebut terlihat begitu indah bagaikan Lapiz Lazuli yang dipoles indah. Membuat salah satu keturunan Korwa tersebut sesaat terpana.
“Tch!” Odo tiba-tiba keluar dari tenda dengan ekspresi kesal. Pipi kanannya sedikit merah dengan bentuk telapak kaki.
“Ke-Kenapa?” tanya Vil.
“Dia ... tidurnya kayak pengulat juga. Tendang kanan, tendang kiri.”
Tanpa disebutkan, Vil dan Canna tahu siapa yang dimaksud Odo. Pada malam sebelumnya mereka berdua juga mendapat giliran tidur di dalam tenda bersama Nanra, lalu mendapat tendangan serta tinju dari gadis kecil yang ikut dalam perjalanan kali ini.
Odo sedikit membuka pintu kain tenda, melihat Nanra yang tidur di dalam dengan posisi merentangkan kedua tangan dan kakinya. Cara tidur itu sama sekali tidak mencerminkan sifat feminin perempuan, malah terlihat barbar dan sedikit membuat Odo menarik napas dengan resah.
“Mau tidur bareng di luar?” tawar VIl.
“Ya, aku tidur di luar saja. Bisa-bisa di dalam aku bonyok. Hebat kalian bisa tidur bareng dia, ya. Huh, perasaan waktu itu dia tidur tidak separah ini.”
“Diriku mengikatnya.”
“Saya mengikatnya.”
“Heh?”
Odo tercengang mendengar jawaban seperti itu. Ia lebih memilih tidak bertanya lebih lanjut saat melihat senyuman cerah Vil dan Canna karena merasa sesuatu yang menyeramkan di dalamnya. Secara tidak langsung, benih permusuhan ternyata telah tersebar di antara Nanra dan kedua perempuan tersebut.