
Setiap orang di permukaan yang melihat kejadian di langit kota hanya bisa menganga. Meski tidak terlalu jelas apa yang sedang dilakukan sang tengkorak raksasa, namun kecepatan tak wajar dari ukuran masif tersebut membawa ketakutan yang amat mutlak.
Mavis dan Fiola yang juga melihat hal tersebut hanya bisa menganga, gemetar dan mulai cemas saat sadar raksasa itu bisa saja memporak-porandakan kota. Mereka berdua memang tahu tentang wujud dari Raja Iblis Kuno dan kekuatannya. Namun, mereka tidak pernah melihat wujud yang ada di langit, apalagi tahu tentang kekuatan dan kecepatan tak wajar tersebut.
Jumlah petir sucinya belasan kali lipat daripada Fiola dalam Mode Ilahi, Mana yang terpancar darinya benar-benar seakan tak terukur, energi yang terpancar ribuan kali lebih banyak dari yang dihasilkan Reaktor Sihir, dan hawa keberadaannya benar-benar berada di tingkat yang berbada. Bahkan untuk Mavis yang bisa mengakses dimensi tingkat tinggi tak bisa sampai pada tingkat tersebut, itu berada lebih jauh tingkatannya dari sosok malaikat atau makhluk ilahi.
Karena hal tersebut, keberadaannya di dimensi Dunia Nyata sangatlah aneh. Melangkah mundur dan kembali memikirkan hakikat keberadaan tengkorak raksasa di langit, Mavis dengan gemar bergumam, “Kenapa ... makhluk seperti itu bisa mempertahankan bentuknya tanpa mengubah struktur dunia ini?”
“Apa yang Nyonya maksud?” tanya Fiola sembari mendekat, membuat segel tangan dan berusaha mengaktifkan Mode Ilahi. Namun setiap kali ia mengakses ranah dimensi yang lebih tinggi, kekuatannya terurai dan masuk ke dalam jalur Nadi Sihir Kota yang melintas di tempatnya berdiri.
Sembari menunjuk ke sosok dari dimensi lebih tinggi tersebut, Mavis menjawab, “Raksasa itu, tidak diragukan lagi seorang Dewa Utama! Keberadaan tak masuk akal tersebut! Penguasa salah satu unsur dunia!” Berhenti menunjuk dan menutup sebelah wajahnya dengan gemetar, wanita itu berlutut lemas di atas tanah berlumpur. “Kalau sosok seperti itu bisa mewujudkan dirinya di dunia ini, seharusnya susunan dunia ini mengalami perubahan ... Lalu kenapa ...?” gumamnya kacau.
Tengkorak raksasa di langit tiba-tiba berhenti bergerak, tanpa membuka kedua telapak tangannya yang menyatu. Mata merahnya mulai padam, meninggalkan rongga gelap yang terlihat amat dalam. Pada hitungan detik, susunan topografi kuno yang aktif di kota Mylta kehilangan konstruksinya. Susunan sihir tersebut berhenti beroperasi, membuat titik-titik Nadi Sihir yang menjadi pusat struktur aktivasinya menurun drastis dan kembali normal.
Kekuatan Fiola kembali saat itu juga, ia segera masuk ke dalam Mode Ilahi. Seluruh rambutnya berubah memutih, pola garis merah muncul pada wajah dan lingkaran sihir dengan Rune Kuno muncul di belakang Huli Jing tersebut. Ia mengulurkan telapak tangan ke depan, menciptakan tombak petir putih dan siap untuk bertarung.
Namun sebelum melesat ke udara dan melawan raksasa tengkorak tersebut, tiba-tiba bentuk fisik makhluk superior tersebut kehilangan bentuknya di Dunia Nyata dan mulai runtuh. Hilangnya penyangga wujudnya membuat makhluk ilahi itu hancur menjadi kepingan cahaya, secara bertahap dari kedua tangannya terus sampai semua tubuhnya mulai retak dan hancur.
Saat itu Mavis baru memahami metode yang membuat wujud Dewa Utama itu bisa berada di Dunia Nyata tanpa membawa efek pada dunia. Kembali bangun dan melangkah ke depan dengan gemetar, wanita rambut pirang itu berkata, “Makhluk itu ..., apa dari tadi telah mengubah kota ini menjadi sebuah surga buatan untuk singgasananya? Tidak mungkin .... Kenapa bisa ada makhluk yang bisa menaikan tingkat dimensi dalam lingkup seluas itu? Siapa yang bisa—”
Instingnya sebagai seorang ibu memberi rasa takut luar biasa. Bukan pada sosok tengkorak yang mulai runtuh, melainkan takut kehilangan putranya. Mavis sadar makhluk tersebut bukanlah dipanggil dari dimensi lebih tinggi, melainkan makhluk yang tercipta ke dunia menggunakan Odo sebagai intinya. Teritorial yang dipersepsikan sebagai surga dan menjadi singgasana ilahi adalah bukti nyata yang membuat sosok tersebut bisa ada di Dunia Nyata tanpa mengubah hukum yang ada di dunia.
“Odo ..., apa yang engkau telah lakukan? Odo ....”
Ketika wujud dari tengkorak itu telah hancur sepenuhnya menjadi partikel cahaya, semua energi yang membentuk wujud fisiknya terhisap ke dalam distorsi pada pusaran awan secara penuh tanpa meninggalkan jejak sihir. Namun, meski wujudnya telah tiada, pusaran awan sama sekali tidak menghilang dan langit masih dipenuhi distorsi ruang tak wajar. Tidak ada juga tanda-tanda Odo keluar dari pusat spiral awan, membuat Mavis dengan cepat menyadarinya.
Penggunaan sihir yang berkaitan dengan dimensi tingkat tinggi selalu memerlukan pengorbanan yang setara, tak mungkin itu dilakukan dengan mudah tanpa bayaran yang sesuai. Meski karakteristik tubuh Odo memungkinkannya bisa dengan mudah mengakses dimensi tingkat tinggi karena terlahir dari wanita yang pernah melakukan Manifestasi Malaikat, namun tetap saja bayaran dari menggunakan kekuatan sebesar itu pasti sangat berat.
“Fiola ..., kenapa Odo belum terlihat juga? Bukannya dia seharusnya ada di pusat pusaran?”
“Eh?” Fiola baru menyadari hal tersebut. Ia paham kalau Odo meningkatkan wujud dimensi, namun dirinya sama sekali tidak menyangka kalau inti dari tengkorak raksasa yang sebelumnya muncul itu adalah putra dari majikannya.
Mavis terlihat sangat pucat, pikirannya dipenuhi hal-hal buruk sampai membuatnya tak bisa berhenti gemetar. Melihat hal tersebut, Fiola juga ikut gemetar dan menatap ke arah pusaran awan dengan pucat.
««»»
Itu merupakan sebuah Realm yang tercipta dari tubrukan energi dalam jumlah sangat besar, begitu tak tertata dan masih cacat. Konsep waktu tak teratur, konsep ruang begitu terbatas dan komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat sebuah dunia masihlah jauh dari kata terpenuhi. Meski begitu, sebuah kenyataan bahwa dunia itu telah terbentuk dan bertempat di antara lapisan dimensi utama Dunia Nyata dan Kayangan tak terelakan.
Sebuah hamparan lantai putih yang luasnya sampai ke ujung mata memandang, memancarkan cahaya di dalam kegelapan pekat yang memenuhi langit. Kabut tersebar luas dan membuat tempat itu terasa dingin, hasil dari tidak bisanya Realm tersebut menjaga hidrogen dalam bentuk cair. Tempat tersebut benar-benar kosong, tanpa bangunan, tumbuhan, hewan, awan, atau bahkan mikroba.
Terbaring di lantai putih bercahaya, keempat Prajurit Peri membuka mata mereka dan sesaat terdiam dalam kebingungan. Mereka masih dengan jelas mengingatnya, momen ketika tubuh ditepak seperti nyamuk dan diremukkan oleh tengkorak raksasa. Dalam kecemasan dalam benak mereka segera duduk, melihat sekeliling mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Laura masih dengan jelas melihat ketiga rekannya dalam kondisi utuh, tanpa luka atau rusak pada pakaian. Namun, senjata yang seharusnya mereka bawa seluruhnya menghilang. Dari senapan, jubah kamuflase sampai bahan peledak dan kantong tas pada sabuk, seluruh perlengkapan hilang entah ke mana dan hanya menyisakan pakaian ketat yang mereka kenakan.
Mereka segera berdiri saling membelakangi, membentuk formasi untuk menutupi titik buta satu sama lain. Apa yang mereka lihat di sekeliling hanyalah hamparan luas lantai putih bercahaya, kabut yang memenuhi tempat seakan membatasi penglihatan dan membuat mereka merasa sedikit pusing untuk sesaat.
Laura sekilas merasakan hawa tak menyenangkan mulai mendekat dari kabut tebal. Memasang kuda-kuda bela diri militer kerajaan Moloia, High Elf rambut pirang tersebut menurunkan postur tubuhnya seperti akan menyeruduk dan menjatuhkan sosok yang perlahan mendekat dari kabut.
“Notmarina?” panggil Laura.
High Elf rambut hijau pucat itu ringan menyaut, “Ya, Letnan?”
“Move up!”
Laura langsung berlari kencang ke arah bayangan di balik kabut, diikuti oleh ketiga rekannya yang siap menyergap sosok di balik kabut itu. Namun saat Lentda meloncat terkam ke arah bayangan di dalam kabut, ia sama sekali tidak menemukan seseorang. Kabut yang ada semakin pekat, membuat jarak pandang semakin terbatas.
Ul’ma sedikit mengerutkan wajahnya, segera memasang kuda-kuda bela diri militer dan berkata, “Eng ..., apa ini semacam sihir ilusi?”
“Itu mustahil,” bantah Magda tegas. “Aku sama sekali tak merasakan adanya aktivitas Mana di tempat ini.”
Bukan hanya Elf rambut pirang panjang sebahu itu yang paham hal tersebut, mereka semua samar-samar memang merasa janggal karena sama sekali tidak merasakan Ether atau Mana. Itu sangatlah tak wajar karena seharusnya semua tempat di dunia memiliki Mana yang tersebar di udara.
“Ini menyebalkan,” celetuk Ul’ma dengan kesal. “Apa ini salah satu kekuatan belulang sialan itu?”
“Tch!” Notmarina ikut terpancing emosi, ia menajamkan tatapannya ke arah kabut dan mencari dalang yang membawa mereka ke tempat tersebut. “Dasar sialan! Kenapa bisa makhluk semacam itu bisa muncul di tengah kota?! Lagi pula, apa-apaan perintah Master! Beliau sama sekali tak mengharapkan kita kembali dari misi ini!” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Melihat kedua rekannya tersebut mulai kehilangan kontrol emosi dan menunjukkan sikap tak biasa, Laura dan Magda merasa kabut yang menyelimuti penjuru tempat bukanlah sebuah kumpulan gas semata. Berusaha menahan napas, Laura mengakses Dunia Astral dan masuk ke Mode Peri. Namun seakan tempat tersebut menolak akses keluar, kesadaran Laura terpental dan tubuhnya mendapat efek balik yang cukup parah.
“Akh!! Sialan—!”
Pembuluh darah pada kedua tangannya tersumbat oleh aliran Mana-nya sendiri, lalu pecah dan meledak. Darah muncrat keluar, berceceran tak karuan dan efek balik tersebut terus menyebar sampai ke punggung sampai pada akhirnya menghancurkan beberapa sumsum tulang punggungnya sendiri. Kesadaran Laura seketika melayang, tubuhnya ambruk dan terbaring tengkurap di atas lantai.
Melihat rekannya terbaring kejang-kejang bersimbah darah, Magda terbelalak dan diam dalam kebingungan. Ia tidak mengerti kenapa bisa Laura mendapat luka seperti itu. Namun setelah melihat jejak Mana sekilas keluar dari darahnya di lantai, ia segera mengerti kalau mengaktifkan sihir akan sangat berbahaya.
Hendak memanggil Notmarina dan Ul’ma untuk meminta tolong, suaranya seketika terhenti saat melihat tingkah aneh kedua rekannya tersebut. Ul’ma malah tiduran di atas lantai putih, mulai menggaruk lengannya sendiri sampai pakaian ketatnya robek dan melukai kulitnya sendiri.
Hal aneh juga diakukan Notmarina, perempuan yang memiliki pikiran paling tenang setelah Laura itu malah bertepuk tangan sembari bersenandung. Tingkahnya seperti anak yang masih belum bisa berbicara, terlihat bagaikan orang cacat mental dan benar-benar tidak menunjukkan sifatnya yang dingin seperti biasanya.
“A-Apa yang kalian lakukan? Letnan, apa yang harus ku perbuat sekarang—?”
Perkataan Magda terhenti, menatap Laura yang sama sekali tidak bergerak. Darah yang mengalir mulai menggenang di lantai, terinjak olehnya yang melangkah mundur setelah melihat tingkah kedua rekannya. Ia berlutut di dekat Laura, membalik tubuhnya dan memastikan keadaan Letda tersebut.
Namun ketika ia melihat kornea mata yang terlihat kosong dan napasnya terhenti, seketika Magda gemetar tak karuan. Dengan suara lirih ia berkata, “Dia mati ...? Letnan ....?”
Di tengah hatinya yang sedang kacau, tiba-tiba Notmarina yang kehilangan akal sehatnya memeluknya dari belakang. Awalnya Magda mengira rekannya tersebut ingin menghiburnya meski akalnya sedang terganggu. Namun saat pelukan tersebut mulai naik ke atas dan sampai pada leher, Notmarina langsung mencekiknya dengan kencang.
“Apa—!! Lepaskan .... Not ... marina ...!”
“Uwahahahaha!!! Hahahaha! Uwahhaha!! Ghuhahaaa!”
Notmarina benar-benar menggila, ia mencekik semakin kencang sampai wajah Magda mulai membiru. Berusaha melepaskan diri, posisi yang ada dan tenaga Magda tak bisa melawannya. Ia mencakar-cakar lengan yang mencekiknya dari belakang, berusaha melepaskan diri dan mulai takut dengan kematian yang seakan menyambutnya dari belakang.
Saat Magda kehabisan napas dan berhenti melawan, cekikan lengan mulai melonggar. Namun itu bukan untuk melepaskannya, melaikkan mengumpulkan momentum dan langsung mematahkan leher gadis rambut pirang panjang sebahu tersebut. Dengan kesadaran yang dengan pasti memudar, ia dalam benak masih mengharapkan kehidupan.
Suara detak jantung terdengar kencang, suara jarum jam yang bergerak sekilas terdengar jelas dan menggema ke penjuru tempat. Semuanya kembali ke awal. Saat kesadaran keempat Prajurit Peri itu kembali, mereka terbangun di atas lantai putih yang memancarkan cahaya. Tempat mereka berada dipenuhi kabut pekat, langit-langit begitu gelap dan kesunyian begitu terasa.
Dalam hitungan detik, rasa takut langsung menyerang Magda. Ia segera berdiri lebih cepat dari rekan-rekannya dan segera menjauh, dalam ketakutan dan wajahnya memucat. Ingatan tentang kematian sebelumnya tertanam jelas pada jiwa Prajurit Peri dengan julukan The Night tersebut. Magda menatap penuh rasa benci ke arah Notmarina, memendam rasa dendam karena telah dibunuhnya.
Hal serupa dirasakan oleh ketiga Prajurit Peri lain, mereka dengan jelas ingat kejadian sebelumnya. Laura dengan jelas mengingat dirinya meninggal karena berusaha mengaktifkan Mode Peri, Ul’ma juga ingat dirinya kehilangan akal dan bertingkah irasional. Notmarina yang mendapat tatapan takut dari rekannya sendiri juga mengingat itu dengan jelas, sensasi dimana dirinya mematahkan leher Magda masih terasa begitu hangat baginya.
Seakan telah biasa melalui kematian, satu-satunya yang terlihat tenang dan menganalisa keadaan hanyalah Laura. Ia mengamati ekspresi ketiga rekannya, segera paham kalau mereka juga masih memiliki ingatan kejadian sebelumnya. Laura berjalan ke arah Notmarina dan menepuk bahunya, lalu dengan tegas berkata, “Tegarkan dirimu! Jangan biarkan kita dipermainkan!”
“Letnan ....” Notmarina tersentak dengan wajah pucat pasi, ia balik menatap penuh rasa putus asa dan bertanya, “A-Apa yang harus kami lakukan? Tadi ..., aku membunuh Magda dengan tanganku ini ....”
“Untuk sekarang tenanglah, pertahankan akal sehatmu dan tetap berpikir rasional.” Laura segera menatap ke arah Magda, lalu mulai berjalan mendekat dan membujuk, “Jangan cemas, pasti tadi sebuah ilusi. Jangan sampai dirimu dipermainkan oleh sialan yang membawa kita ke tempat ini.”
“Ilusi? Tadi ...?”
“Ya, itu pasti ilusi. Kalau tidak, kenapa engkau dan aku masih hidup?”
Magda perlahan melepas ketakutannya, mengulurkan tangan dan berjalan mendekat ke arah Laura. Kabut semakin tebal, membuat tembok yang memisahkan Laura dan Magda dengan kedua rekan mereka. Tetap fokus untuk membujuk rekannya tersebut, Laura kembali berkata, “Jangan cemas, tenangkan dirimu ....”
Tangan Laura terulur ke depan, berusaha meraih tangan rekannya. Namun sebelum tangan Magda bisa meraih uluran tangan tersebut, tiba-tiba ia melihat sosok bayangan dalam kabut membawa sebuah tombak dengan ujung trisula. Bayangan dalam kabut tersebut mengangkat senjatanya, lalu langsung menusukkannya ke arah Laura.
“Letnan! Di belakangmu!” Magda memperingatkan.
Secara refleks, Laura langsung merapatkan jemari tangannya dan membuatnya pipih. Tanpa diperingatkan ia juga telah merasakan hawa membunuh yang amat kuat. Membentuk tangan kanannya menjadi setajam belati, ia langsung berputar dan menebas sosok yang berada di belakangnya.
Sensasi kuku tajamnya mengoyak daging dengan jelas terasa, membuatnya menyeringai karena rasa bangga pada dirinya sendiri setelah menggagalkan rencana orang yang ingin mempermainkan rekan-rekannya. Namun saat kabut mulai pudar dan sosok yang dirinya tegas terlihat, seketika Laura terdiam gemetar.
Orang yang dirinya tebas tidak lain dan tidak bukan adalah Notmarina, rekannya sendiri. Di mata Ul’ma yang melihat kejadian itu, Letnannya tersebut terlihat seperti orang mengamuk yang tiba-tiba berbalik dan menebas leher Notmarina yang berjalan ke arahnya. Meski pada kenyataannya, apa yang dirasakan Laura bukanlah begitu.
Dengan darah yang menetes dari ujung jemarinya, Laura terdiam dan mulai tenggelam dalam rasa bersalah. Itu hilang begitu cepat dalam benaknya, ia segera berbalik ke arah Magda dan berkata, “Bu-Bukan begitu! Kau sendiri lihat kalau dia berusaha menyerangku,’kan?!”
“Menyerammu bagaimana?!” Ul’ma membantah keras, dengan murka ia berkata, “Notmarina hanya berjalan ke arahmu dan kau menyerangnya!! Kau selalu saja begitu! Saat rekanmu tak berguna, dengan mudahnya kau meninggalkan mereka!”
“Aku tak ingin membunuhnya!” Laura menatap ke arah Ul’ma dengan mata berkaca-kaca, ingin rekan-rekannya percaya dan kembali meyakinkan, “Aku kira dia musuh yang ingin mempermainkan kita .... Tadi, aku tak sengaja ....”
Tubuh Ul’ma gemetar dalam amarah, ia menatap tajam dan berkata, “Kau membunuh rekanmu sendiri dan bilang tak sengaja? Apa-apaan itu, dasar sialan ....”
Tanpa mendengar penjelasan Laura lebih lanjut, Ul’ma termakan emosinya dan langsung berlari menyerang. Ia mengepalkan tinjunya dan menyalurkan Mana untuk meningkatkan kekuatan pukulan. Namun, ia tidak tahu kalau Mana yang aktif di Realm tempatnya berada sekarang akan menyerang menggunanya sendiri. Apa yang Ul’ma ingat di kejadian sebelumnya hanyalah sampai dirinya kehilangan akal sehat, ia tak melihat Laura yang jatuh terkapar karena sirkuit sihirnya meledak bersama pembuluh darah.
Sebelum tinju perempuan rambut kepang tersebut mendaratkan tinjunya, pembuluh darah tangan kanannya meledak sampai menghancurkan tangannya. Serpihan tulang yang terpencar menusuk matanya sendiri, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di depan Laura.
Efek balik tersebut tak berhenti sampai di situ. Seakan sirkuit sihirnya terkontaminasi sesuatu yang amat destruktif, pembuluh darahnya pecah dari bahu kanan terus merambat sampai ke tulang belakang dan menghancurkan sumsumnya. Dengan kesadaran yang masih sedikit tersisa, ia mengulurkan tangan kirinya dan memegang kaki Laura sebelum detak jantungnya benar-benar berhenti.
“Sialan .... Apa-apaan ini?” Laura segera menoleh ke arah Magda, lalu dengan lantang berkata, “Sampai kapan kau akan seperti siput?! Sekarang hanya ada kita berada!”
Dalam tempat kosong tersebut suara tiba-tiba bergema, “Percaya diri sekali engkau ....”
Magda gemetar ketakutan, segera mendekat ke Laura dan memeganginya seperti anak kecil. Tanda-tanda akal sehatnya rusak mulai terlihat, ia memasukkan jempolnya ke dalam mulut dan bertingkah seperti anak kecil. Sadar akan hal tersebut, Laura semakin terpojok. Keringat dingin bercucuran meski dirinya berada di tempat berkabut.