Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 50 : Mutual-Evîn 10 of 10 “To ....” (Part 02)



 


 


 


Perkataan Odo membuat Mavis terhenti, menatap gentar dan mengangkat tangannya dari pemuda itu. Melangkah mundur, Penyihir Cahaya hanya bisa menatap dengan kacau dan mulai takut pada hal yang paling dirinya cemaskan pada putranya tersebut. Fiola yang menyadari itu segera mendekat, satu-satunya Shieal yang mengenakan kimono warna hitam itu langsung membentak, “Tuan Odo! Jangan bicara seperti itu pada Nyonya! Kenapa Anda—!”


 


 


Mavis menghentikan pelayan setianya itu, lalu berkata, “Diam, Fiola ....”


 


 


“Tapi ...!”


 


 


“Diamlah ....”


 


 


Suasana berubah senyap, para Shieal terdiam dan tidak ada dari semua orang mengeluarkan suasa di tengah atmosfer berat tersebut. Ibu dan anak itu saling menatap, sama sekali tidak berpaling dan mata mereka bertemu dengan tetap.


 


 


Sedikit memasang senyum yang terkesan sedih, Odo dengan lemas berkata, “Kelak, mulai sekarang dan selanjutnya pasti aku akan membahayakan diriku sendiri. Meski tubuh ini terluka, meski hati ini tersakiti, aku sudah tidak bisa berhenti lagi.”


 


 


Mavis tertegun, kecemasannya benar-benar menjadi kenyataan. Wanita itu memang sadar kalau kelak Odo Luke pasti akan melangkah pergi darinya, itulah apa yang dikatakan oleh seseorang yang memberikan informasi untuk wanita yang seharusnya tidak bisa hamil bisa memiliki anak tersebut. Wanita rambut pirang itu paham bayaran keegoisannya itu, ia sudah mengerti hukuman seperti apa yang akan menimpanya kelak karena terlalu banyak mengorbankan kebahagiaan orang lain.


 


 


Menatap dengan sorot mata berkaca-kaca, Mavis mengambil langkah mendekat dan bertanya, “Memangnya untuk apa kau melakukan semua itu? Kalau memang hanya ingin menolong orang-orang di kota ini, seharusnya semua ini sudah cukup, bukan? Memangnya apa yang mendorongmu terus melakukannya, putraku?”


 


 


“Karena aku sudah terlanjur menjadi calon Raja ....”


 


 


“Apa rencana pertunangan itu membebanimu?”


 


 


Odo hanya menatap datar saat mendengar pertanyaan yang seakan-akan Mavis menghindari inti pembicaraan dan mengelak. Seharusnya Mavis sendiri sudah tahu bahwa jiwa putranya itu memang berbeda, bukan sesuatu seperti kebanyakan anak-anak yang lahir ke dunia dengan cara umum dan jiwanya berasal dari aliran kehidupan. Mavis sendiri juga paham, bahwa kelak putranya itu akan berdiri dengan kakinya sendiri dan mulai berlari untuk memenuhi alasannya terlahir di dunia. Itu adalah sebuah ketentuan, kodrat yang memang dari awal Mavis ketahui dari salah satu Korwa yang memberitahukannya cara untuk mengandung putranya tersebut.


 


 


“Bukan itu ....” Odo menatap datar, benar-benar berhenti pura-pura di depan ibunya dan dengan jelas berkata, “Aku hanya mencari alasan, dari awal aku ingin melakukannya.”


 


 


Mavis tersentak, dalam kepalnya seakan terdengar suara sesuatu yang pecah dan menambah rasa takutnya. Ia memagang kedua sisi pundak putranya, lalu dengan tubuh gemetaran ia berkata, “Ke-Kenapa kau bicara seperti itu? Apa terjadi sesuatu padamu? Apa ada yang membuatmu kesal, Odo? Apa putra dari keluarga Rein itu melakukan sesuatu padamu?”


 


 


Pemuda rambut hitam itu lurus menatap mata ibunya, memberikan ekspresi seakan muak dengan kepura-puraan yang ada dan semua hubungan yang terkesal dipaksakan. Memang kasih dan cinta Mavis sebagai seorang Ibu itu asli, namun dasar yang diberikannya itu salah karena memang wanita di hadapan Odo itu hanyalah seorang perempuan yang menempati posisi dari wanita bernama Mavis.


 


 


Odo menghela napas, lalu dalam benak berkata, “Engkau memang Ibuku, namun bukan Mavis. Kepura-puraan itu sangat memuakkan, membuatku merasa ....” Pemuda itu berhenti melanjutkan pikirannya, sadar kalau Fiola bisa saja melongok isi kepalanya.


 


 


Menatap Mavis dengan ekspresi lelah, Odo dengan erat menggenggam kedua tangan gemetar wanita itu sembari memasang senyum lemas. Pemuda itu menempelkan punggung tangan kanan Mavis ke pipi, menatap dengan sorot mata lega dan berkata, “Aku suka sihir, aku haus akan pengetahuan.”


 


 


“Bunda tahu itu ....”


 


 


“Namun dunia ini memiliki pengetahuan rendah dan tingkat pendidikan terbatas. Banyak pengetahuan salah yang tersebar, dan orang-orang cenderung akan menyembah atau mengucilkan sesuatu yang tidak mereka ketahui.”


 


 


“Memang hal seperti itulah yang wajar.  Wahai putraku, orang-orang cenderung takut pada hal yang tidak mereka ketahui dan bergantung pada yang lebih kuat ....”


 


 


“Bunda ..., alasanku membangun, menolong dan memberi adalah karena untuk diriku sendiri. Kalau aku tetap berada di dalam perpustakaan itu dan menenggelamkan diri di antara buku-buku dan pengetahuan, kelak saat aku dewasa dan keluar dari sana pasti banyak orang yang akan menganggapku berbeda.”


 


 


Mavis tertegun, tangan gemetar wanita rambut pirang itu dengan jelas Odo rasakan dalam genggamannya. Meski tahu apa yang dikatakannya itu benar-benar membuat ibunya menderita dan terbebani, Odo sama sekali tidak menarik ucapan dan  tetap menatap dengan dingin.


 


 


“Kau memang dari awal berbeda, Odo ....” Mavis langsung menarik tangannya dari genggaman Odo, lalu langsung memeluk putranya tersebut dengan erat. Air mata mulai mengalir, membasahi pipinya dan dengan tersedu-sedu ia berkata, “Putraku, engkau memang genius. Sangat cerdas dan berwawasan luas. Tidak hanya memiliki segunung bakat dan pengetahuan tentang sihir, dirimu juga pandai soal urusan pemerintahan dan bahkan setara dengan keturunan Rein. Engkau memang berbeda ..., namun engkau tetap putraku. Anak semata wayang yang tak tergantikan.”


 


 


“Terima kasih, Bunda .... Aku bangga bisa lahir sebagai anak keluarga Luke, sebagai anakmu dan ayah.”


 


 


Melepas pelukan dan memegang kedua sisi pundak putranya, Mavis menggelengkan kepalanya dan berkata, “Dari awal engkau ... berada. Tak ada salahnya untuk dikagumi atau dipandang tinggi, engkau juga lahir dalam keluarga bangsawan—”


 


 


“Itulah masalahnya,” sela Odo.


 


 


Mavis terdiam, benar-benar bingung dengan perkataan tersebut. Sebelum wanita itu bertanya, Odo kembali berkata, “Aku hanyalah manusia biasa yang terseret ke dalam lingkaran di luar biasa ini. Apa yang kuinginkan sebenarnya sangatlah sederhana, Bunda .... Aku hanya ingin akhir bahagia.”


 


 


“Akhir?” Kata itu terdengar begitu menakutkan saat keluar dari mulut Odo, seakan-akan memang pemuda itu tidak menghargai hidupnya sendiri dan menginginkan kematian yang menjadi akhir dari makhluk hidup di Dunia Nyata. Dengan gemetar Mavis bertanya, “Apa ... yang kau maksud, Odo? Apa yang—”


 


 


“Persis seperti yang kukatakan,” sela Odo. Pemuda itu menatap tanpa beban, sedikit memiringkan kepalanya dan berkata, “Aku ingin semua masalah ini berakhir dengan bahagia. Tidak ada yang harus kehilangan lagi, tak harus ada dendam dan tak harus ada kebencian.”


 


 


Mavis sejenak merasa lega karena ‘akhir’ yang dimaksud bukanlah hal yang dirinya pikirkan. Tetapi saat mendapat tatapan tajam dari Odo, wanita itu kembali gemetar dan diisi rasa cemas. Dengan sangat jelas pemuda rambut hitam itu berkata, “Namun ... aku selalu gagal melakukan itu. Kematian tidak bisa dihindari untuk menyelamatkan sesuatu, kehilangan akan muncul saat aku ingin mempertahankan sesuatu.”


 


 


“Apa  yang kau maksud tentang suku Klista itu? Engkau tahu putraku, kematian adalah hal yang wajar di dunia ini. Hal seperti itu ... sudah terlalu sering terjadi. Meski perdamaian hinggap pada masa ini, hal itu ... tidak bisa hilang sepenuhnya. Sejarah dunia sangatlah erat dengan konflik.”


 


 


 


 


Mavis sempat cemas melihat tatapan putranya tersebut, sembari mengangkat tangan dari pundaknya ia bertanya, “Kenapa kau sampai seperti itu memikirkan yang lain? Memangnya apa yang mereka berikan sampai kau susah payah melakukan semua ini?”


 


 


“Banyak yang mereka berikan!” Odo langsung menggenggam kedua tangan Mavis dengan erat, menatap lurus dan dengan tegas berkata, “Memang tindakkan yang aku ambil terkesan memimpin dan menyeret orang lain, tapi sebenarnya akulah yang paling banyak mendapat pelajaran dari orang-orang di sekitarku. Aku juga mendapat banyak hal dari Bunda, sampai aku bingung harus membalas apa .... Namun, aku bukanlah orang yang hidup hanya untuk bertahan hidup, aku hidup untuk berkembang dan terus maju!”


 


 


“Tolong, Odo .... Jangan membahayakan dirimu lagi, jangan melukai dirimu lagi! Hanya itu sudah cukup untuk Bunda ....”


 


 


“Kalau aku melakukan itu dan berhenti, kelak pasti tragedi akan datang menghampiri semuanya! Itu pasti ....” Odo menundukkan wajah, memegang erat kedua tangan Mavis dan memasukkan jemarinya ke sela jemari wanita itu. Menatap seakan penuh rasa frustrasi, pemuda itu dengan keras berkata, “Aku sudah terlanjur mendapat kemudi! Kalau itu kutinggalkan, kapal yang sedang berlayar ini pasti akan menabrak karang dan tenggelam! Karena itu .., sampai semuanya sampai di tujuan tolong biarkan aku terus berlayar, Bunda.”


 


 


“Sampai mana?” Mavis balik menatap putranya, dengan lurus dan tanpa rasa ragu ia bertanya, “Sampai ke tempat apa kau akan pergi?!”


 


 


Odo terdiam dengan mulut menganga tanpa bisa mengeluarkan jawaban. Meski dengan Spekulasi Persepsi dan Kalkulasi, pertanyaan itu memang tidak bisa dijawab olehnya. Menatap dengan penuh rasa ragu ia berkata, “Aku ... kurang tahu soal itu, Bunda. Namun, paling tidak sampai semua penumpang dalam kapal ini bisa memegang kemudi bersama-sama, aku akan terus berdiri dan bangun meski di tengah badai sekalipun.”


 


 


“Putraku, kau ....”


 


 


Odo menatap memelas, menggenggam erat tangan Mavis dan berkata, “Karena itu, Bunda .... Sebentar lagi, tolong biarkan putramu ini membuatmu cemas sebenar lagi saja. Tolong biarkan aku terus merepotkan Bunda sampai ini berkakhir ....”


 


 


“Tidak boleh!”


 


 


Perkataan itu keluar dari mulut Mavis dengan sangat tegas, membuat Odo tersentak dan membatu. Melepaskan tangan dari genggaman putranya, Mavis segera melangkah mundur dan memalingkan pandangan dengan ekspresi penuh rasa cemas. Pertengkaran ibu dan anak itu seakan membuat semua orang yang melihatnya terdiam, merasa sama sekali tidak berhak ikut campur dalam pembicaraan atau meninggalkan tempat mereka.


 


 


Dalam suasana senyap tersebut, pemuda yang tersorot cahaya matahari pagi itu menatap lurus ibunya dan berhenti memasang ekspresi-ekspresi labil. Odo menatap lurus seakan menghapus segala emosi yang dirinya perlihatkan dalam pembicaraan, lalu dengan sangat jelas ia berkata, “Aku ... tahu semua rahasia yang bunda sembunyikan. Karena itulah aku memilih jalan seperti ini.”


 


 


“A—!” Mavis tersentak, menatap gemetar dan benar-benar kacau karena hal tersebut.


 


 


Meletakkan tangan kanan ke depan dada dan menatap lurus, pemuda itu berkata, “Kalau aku tetap menjadi anak baik dan patuh di rumah itu, kelak pasti semua kebahagiaan yang ada akan lenyap. Apa yang Bunda pertahankan selama ini, apa yang bunda impi-impikan akan hancur layaknya menara pasir yang diterjang ombak.”


 


 


“A-Apa yang kau katakan, putraku? Kenapa ... kau bicara seperti itu?” Mavis menatap penuh rasa cemas, terus mengelak dan mempertahankan keputusannya.


 


 


“Bunda ....” Odo menatap dengan rasa lelah, memasang ekspresi seakan muak dengan pembicaraan dan dengan lemas berkata, “Aku punya kekuatan untuk memprediksi masa depan dan memperkirakan masa lalu. Dari sudut pandang kerajaan Felixia itu disebut Orakel atau paling sederhananya mungkin juga disebut Perantara.”


 


 


“Itu tidak mungkin!” Mavis menatap kacau, ia sepenuhnya tak ingin mempercayai itu dan membentak, “Kalau kau punya kekuatan itu, putraku! Kau pasti tak akan—!”


 


 


“Aku tak akan melawan takdir?”


 


 


“A—!”


 


 


“Begitu, ya ....” Melihat ekspresi terkejut ibunya, Odo kembali memastikan sesuatu. Ia menatap datar dan dengan resah berkata, “Saint juga termasuk perantara, ya? Jadi Bunda ternyata juga sering mendapat ramalan .... Jelas saja ada Bunda sering menebak apa yang akan kulakukan dengan akurat dan langsung menanyakan sesuatu saat aku ingin melakukan hal berbahaya.”


 


 


“Bukan .... Bunda tidak bisa melakukan hal seperti itu.”


 


 


“Bukan Bunda, namun dia, ‘kan?”


 


 


Kedua bola mata Mavis terbuka lebar saat mendengar itu, ia sepenuhnya paham kalau Odo mengetahui rahasia yang sangat ingin disembunyikannya itu. Sesuatu yang retak dalam benaknya pecah sepenuhnya, itu begitu menggema di dalam kepala dan membuat Mavis terdiam. Dalam rasa kacau tersebut, wanita berambut pirang itu dengan cepat mengeri dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi.


 


 


Menatap dengan berlinang air mata, sang Penyihir Cahaya memohon, “Odo ..., kumohon. Mari pulang ..., mari kembali ke rumah kita .... Tolong jangan membuat Bunda menangis lepas di tempat seperti ini ....”


 


 


“Hmm ....” Odo hanya menatap dingin, benar-benar merasa sakit dalam benak namun ia tidak memperlihatkannya pada ekspresi. Memagang dada kirinya sendiri dengan erat, pemuda rambut hitam itu menjawab, “Baiklah. Aku tak akan berkata apa-apa lagi. Kalau memang itu yang Bunda pilih, aku akan menurutinya. Kalau memang itu demi Kebahagiaan Bunda, aku akan mengalah.”


 


 


Pada akhirnya, putra dari keluarga Luke dan Roh Agung yang menemainya mau kembali ke kediamannya, pergi meninggalkan barak tersebut bersama orang-orang yang menjemputnya. Arca yang hanya bisa terdiam selama percakapan ibu dan anak itu berlangsung menatap kepulangan mereka dari jauh, tanpa bisa berkata apa-apa pada penyihir cahaya yang dikaguminya.


 


 


Sempat dirinya heran karena Penyihir Cahaya sama sekali tidak menanyakan kemenangan Odo, seakan-akan wanita tersebut memang sudah tahu itu dari awal. Namun dengan cepat pikirannya diisi oleh rasa penasaran lain tentang rahasia yang dikatakan Odo sebelumnya. Berdiri di sudut lapangan, pemuda dari keluarga Rein itu memegang Gelang Dimensi di tangan kanannya dan menatap datar ke arah kereta kayu yang mulai berangkat pergi ditarik seekor Drake.


 


 


“Sialan itu .... Aku memang tak tahu apa yang sebenarnya kau incar di ujung, tapi tugas ini pasti akan kuselesaikan. Sebelum batas waktunya, pasti akan kuselesaikan perusahaan itu dan memenuhi semua jadwal rencanamu, Odo Luke .... Kenapa dia sengaja membuat Ibunya sampai menangis seperti itu, aku ... tak paham. Untuk apa ....”


 


 


Dalam benak Arca sendiri paham alasan Odo itu memang pilihan terbaik. Untuk orang ibu yang terlalu protektif memang hal seperti itu sangat diperlukan, memberontak dan membuat jarak renggang yang sesuai antara ibu dan anak. Namun dalam benak Arca memang terasa ada sesuatu yang janggal dari percakapan ibu dan anak tersebut.