Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 42: Mutual-Evîn 2 of 10 “Amaranth Globe” (Part 02)



Hari yang ada tidak berawan seperti sebelumnya. Matahari telah berada pada puncak tertinggi, sinarnya benar-benar memapar dataran dan membawa rasa hangat yang dirindukan sebagian orang. Di tengah kerumunan di balai kota, Odo dan Vil berjalan dengan suasana sedikit canggung.


 


 


Hanya bersebelahan, tanpa bertukar kata karena masih ada sesuatu dalam benak mereka yang tak bisa menerima satu sama lain. Sedikit melirik perempuan rambut biru di sebelahnya, Odo hanya memasang ekspresi datar dan menutup rapat-rapat mulutnya tanpa mengajak perempuan itu berbincang.


 


 


Melewati pusat kota, mereka pergi menuju distrik pengrajin. Meski sekarang rute perdagangan telah dibuka, seperti biasanya tempat tersebut menjadi yang paling sepi jika dibandingkan dengan distrik lain. Namun ada beberapa peningkatan, tingkat keramaian yang belum pernah Odo lihat di distrik itu.


 


 


Terlihat ada beberapa orang dengan pakaian negeri lain seperti kekaisaran Urzia dan kerajaan Ungea, mereka sibuk di depan toko dan bertanya-tanya untuk membeli sesuatu. Melewati jalan utama distrik pengrajin, Odo sekilas melirik dan tahu kalau orang-orang dari negeri lain itu kebanyakan menghampiri toko yang menjual kerajinan gerabah dan furnitur.


 


 


Berhenti melirik dan melihat ke arah gerobak-gerobak yang terparkir di beberapa sudut jalan, Odo dalam benak merasa, “Kenapa mereka malah mendatangi tempat seperti itu? Apa sedang mencari informasi? Tidak mungkin mereka hanya sekedar belanja, kondisi politik sedang panas dan para pedagang itu seharusnya tahu itu.”


 


 


Vil sadar perubahan ekspresi Odo, ikut melihat ke arah orang-orang berpakaian khas kerajaan Ungea yang terdiri dari jubah panjang dan sorban. Melihat kulit hitam salah satu pedagang yang ada, Roh Agung tersebut berkata, “Mereka dari Ungea ....”


 


 


“Hmm, sepertinya memang begitu.”


 


 


“Apa mereka ingin belanja? Bukannya kondisi politik seharusnya sedang panas .... Apa mereka mata-mata atau semacamnya?”


 


 


“Ah, malah diucapkan.”


 


 


“Eh?”


 


 


Langkah kaki Odo terhenti, begitu juga Vil. Beberapa orang di sekitar menatap mereka saat mendengar perkataan tersebut, penuh rasa tak senang seakan apa yang dikatakan perempuan rambut biru itu benar. Segera menepuk pundak Vil, Odo menghantarkan informasi padanya dan memberitahukan untuk segera berjalan cepat.


 


 


Mengangguk kecil, mereka berdua segera berjalan dan pergi meninggalkan tempat penuh tatapan tajam tersebut. Mendapat reaksi seperti itu, Odo menyimpulkan beberapa hal dengan Spekulasi Persepsi miliknya.


 


 


Saat cukup jauh dari orang-orang tersebut, Odo menyipitkan mata dan bergumam, “Mereka  .... benar-benar melakukan itu. Kalau kondisinya seperti ini, berarti di balik layar situasinya mereka sudah ....”


 


 


“Odo?”


 


 


“Tak apa .... Ayo, jalan terus.”


 


 


Tak butuh waktu sampai lima menit, Odo dan Vil sampai di tempat tujuan. Itu adalah sebuah toko milik seorang penyihir di ujung distrik pengrajin, bisa dikatakan juga sebuah Atelier (lokakarya) mini milik seorang Alkemis sekaligus penyihir yang pernah belajar di Miquator.


 


 


Dulu, awal Odo datang ke tempat tersebut dirinya tak sadar bahwa tempat itu bukanlah sekedar toko alat-alat sihir dan ramuan biasa. Namun setelah mendengar kabar simpang siur dari beberapa orang di penginapan, pemuda itu sedikit tahu kalau pemilik Altelier tersebut lebih terkenal dari yang dirinya kira.


 


 


“Apa ini tempatnya, Odo?”


 


 


Vil menatap sedikit datar bangunan satu lantai tersebut. Dari depan, terdapat sebuah papan toko yang bertulis ‘Toko Sihir Hulla’, yang dalam arti lain kata Hulla merujuk pada sebuah mayat. Raut wajah Roh Agung rambut biru itu langsung mengerut, merasa tak nyaman dengan tempat tersebut.


 


 


“Kenapa? Apa ada yang aneh?” tanya Odo.


 


 


“Tidak ada, sih. Hanya saja namanya ..., kenapa juga harus Hulla?”


 


 


“Entahlah, tanya saja pada pemiliknya.”


 


 


Odo berjalan ke depan pintu, membunyikan lonceng dua kali dan menunggu seseorang membukakan pintunya. Tak perlu menunggu satu menit, seseorang dari dalam merespons, “Sebenatar, saya segera datang!”


 


 


Suara lonceng kecil terdengar bersamaan dengan perempuan itu membukakan pintu untuk pemuda tersebut. Yang datang bukanlah pemilik toko, melainkan seorang penyihir yang pernah Odo lihat ikut dalam rencana pembasmian bandit. Rambut putih uban perempuan itu membuatnya dengan jelas mengingat perempuan itu, kepang tunggal sampai punggung sedikit membuat pemuda itu mengingat seorang wanita rambut ungu yang dirinya kenal.


 


 


Sama terkejutnya dengan Odo, perempuan dengan sorot mata ungu tersebut menatap bingung. Dengan mulut sedikit menganga, ia berkata, “Ayahan—?”


 


 


Odo langsung menutup mulut perempuan itu dengan telapak tangan kanan. Menatap datar, pemuda itu memberikan informasi melalui kotak fisik tersebut. Kedua mata perempuan itu sedikit terbuka lebar, paham dengan informasi yang diterimanya dan segera mengambil satu langkah ke belakang.


 


 


Menurunkan tangannya, Odo berkata, “Hmm, kalau tidak salah ... kau Canna Miteres, bukan? Yang pernah ikut pembasmian dengan yang lain, seorang penyihir dari Miquator ....”


 


 


Mendengar itu, Canna sedikit grogi dan matanya melihat kanan kiri dengan cepat. Segera menatap pemuda di hadapannya, ia menjawab, “I-Iya ..., saya Canna!”


 


 


Vil sekilas curiga mendengar reaksi tidak alami tersebut. Melirik ke arah Odo, ekspresi pemuda itu sama sekali tidak menunjukkan gelagat aneh. Menghela napas ringan, Roh Agung tersebut berkata, “Apa pemilik toko ini ada? Kami ingin bertemu dengannya.”


 


 


Membuka pintu lebar-lebar, perempuan berjubah ungu pudar tersebut berkata, “Silakan masuk, Hulla ada di dalam. Selamat berkunjung di  Atelier kecil kami.”


 


 


Sebelum melangkah masuk, seseorang dari dalam dengan volume lirih berkata, “Canna? Haah~ Ngantuknya .... Siapa yang datang? Apa dia pelanggan?”


 


 


“Iyaaa! Dia—!”


 


 


Perkataan Canna terhenti saat melihat sosok pemilik lokakarya tersebut datang. Penampilan perempuan usia 25 tahunan tersebut sangat urakan, rambut dan jubahnya tak tertata rapi seakan jelas menunjukkan dirinya baru saja bangun tidur.


 


 


Sekilas mengamati perempuan rambut cokelat kemerahan panjang sebahu itu, Odo tahu kalau tingkat penyihir tersebut lebih tinggi dari Canna setelah melihat sulaman pada sekitar kerah jubah ungu pudarnya. Odo baru tahu kalau pemilik toko alat sihir tersebut berpendidikan setinggi itu.


 


 


“Hmm, terakhir kali aku datang ke sini dia tidak menggunakan jubah Miquator itu,” benak Odo.


 


 


Canna terlihat sedikit kesal. Perempuan yang biasanya terlihat tenang dan bersifat dingin itu mengerutkan dahi, berjalan ke arah Luna dan membentak, “Luna! Paling tidak kalau menerima tamu, tata dulu penampilanmu! Huh! Karena itu kau tidak punya banyak pelanggan meski berbakat!”


 


 


Odo sedikit terkejut dengan hubungan mereka, dirinya tidak menyangka sosok seperti Canna akan perhatian seperti itu kepada orang lain. “Dia ... salah satu Korwa, ‘kan? Seharusnya dia Korwa terakhir .... Terus kenapa malah,” benak Odo.


 


 


Luna menoleh ke arah pemuda rambut hitam tersebut. Menatap dengan mata sayunya, ia bertanya, “Kau ... siapa? Rasanya pernah ketemu di mana ....”


 


 


“Aku Odo ....”


 


 


“Eh?” Mata sayu Luna terbuka lebar.


 


 


“Odo Luke, masa tidak ingat? Bukannya kita pernah mengobrol bareng sampai lupa waktu, Mbak Luna,” tegas pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


“Enggak! Enggak! Odo— Maksudku, Tuan Odo itu masih kecil, loh! Jangan mengaku-ngaku jadi anak Marquess itu! Nanti di tangkap, loh!”


 


 


“Ya, mau bagaimana lagi. Aku memang Odo.”


 


 


Setelah itu, Lune mendapat penjelasan tentang wujud Odo tersebut. Tentu saja hanya sebatas penjelasan lisan dan hanya menyangkut sihir transformasi belaka, hal seperti karena sebab Raja Iblis tidak disampaikan.


.


.


.


.


 


 


Di dalam toko alat-alat sihir sekaligus Lokakarya tersebut, mereka duduk di ruang tunggu khusus untuk pelanggan. Itu berada di bagian depan, dekat meja resepsionis dan bisa dikatakan lebih mirip seperti tempat khusus tamu jika disandingkan dengan kantor pemerintahan.


 


 


Suasana Toko Hulla terasa sepi, sebelum Odo dan Vil datang hanya ada Canna dan Luna. Di dinding dipajang beberapa ukiran struktur pada papan kayu, itu adalah sebuah contoh struktur sihir yang dijual pada tempat toko sihir tersebut. Ada juga tanaman-tanaman herbal pada pot yang digantung di langit-langit, bersama dengan kristal-kristal sihir yang digunakan sebagai hiasan.


 


 


Pada meja di dekat keempat orang itu duduk, terdapat beberapa alat untuk eksperimen dan kertas-kertas berisi hasil penelitian. Tabung reaksi yang diletakkan pada rak-raknya, berisi larutan dengan warna hitam dan putih murni. Labu Erlenmeyer berisi Elixir, serta beberapa alat lainnya terlihat memenuhi meja tersebut.


 


 


Itu bukanlah hal yang langka bagi Odo, dirinya juga sering menggunakan alat-alat seperti itu saat membuat ramuan di kediamannya sendiri. Yang membutanya tertarik adalah cairan-cairan yang belum pernah dirinya lihat atau buat.


 


 


Menatap Canna dan Luna yang duduk di hadapan, pemuda itu bertanya, “Sekarang Mbak Luna sedang senggang? Atau sibuk?”


 


 


Lune menatap enggan, masih merasa tak percaya kalau pemuda di depannya adalah Odo Luke. Tatapan sayu perempuan rambut cokelat kemerahan itu terlihat tak suka, lalu menjawab, “Saya baru saja selesai istirahat siang, jangan cemas .... Yang lebih penting, kenapa Tuan memakai sihir transformasi terus? Cepat kembali saja ke bentuk semula! Melihat Anda seperti itu rasanya tak nyaman.”


 


 


Odo hanya bisa tersenyum bingung mendengar hal tersebut. Sedikit memalingkan pandangan, pemuda itu berkata, “Tadi sudah dibilang, Aku terjebak dalam bentuk ini karena beberapa alasan. Mbak Luna juga merasakannya, ‘kan? Kekuatan sihirku ....”


 


 


“Ah, jadi itu bukan karena Anda sengaja, ya. Saya kira ... Anda sengaja menekannya.” Luna menyipitkan mata, memasang wajah malas dan kembali berkata, “Kalau bisa, bisa tolong tak perlu memanggilku dengan tambahan seperti itu. Panggil saja Luna .... Dipanggil Mbak oleh anak berpenampilan pemuda seperti Anda rasanya aneh.”


 


 


“Ah ....” Odo sekilas menggerakkan kedua alis ke atas, lalu berkata, “Kalau begitu panggil aku Odo saja. Aku tak keberatan.”


 


 


“Hmm, akan kulakukan.”


 


 


Sikap formal Luna langsung dilepas. Perempuan rambut cokelat kemerahan itu bersandar pada sandaran kursi kayu, sedikit mengulat dan membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas karena sedang mengenakan pakaian jubah yang menutupi tubuhnya dari bawah leher sampai ujung kaki.


 


 


Menatap datar pemuda itu, Luna langsung bertanya, “Kali ini Odo ingin membeli apa? Botol untuk ramuan? Resep, atau ....” Sekilas penyihir yang ahli dalam bidang Alkimia itu melirik ke arah Vil, seakan penasaran dengan keberadaan Roh Agung tersebut.


 


 


“Apa penasaran dengannya?” tanya Odo sembari melempar senyum.


 


 


“Tentu saj— Uwaah~ Hmm, daripada bentuk Odo yang sekarang, jujur malah perempuan itu yang membuatku penasaran. Dia ... Roh Agung, ‘kan?”


 


 


“Ya, dia Roh Agung. Mungkin kalian pernah dengar tentang Roh Agung yang dikontrak oleh ibuku, ‘kan? Vil adalah Roh Agung tersebut.”


 


 


Luna dan Canna terdiam, penjelasan itu tidak menjawab rasa penasaran mereka. Sedikit menghela napas dengan penuh rasa resah, kedua ahli sihir tersebut saling menatap satu sama lain dan mengangguk satu kali seakan telah memutuskan sesuatu.


 


 


“Baiklah, kalau Odo tak ingin menjelaskannya .... Jadi, Odo kali ini datang untuk apa?”


 


 


“Eh?” Odo sedikit terkejut mendapat reaksi seperti itu. Memiringkan kepalanya, pemuda itu bertanya, “Luna tak tanya rincinya, ya .... Hmm, biasanya kalau orang dengan identitas Vil pasti akan tanya semacam Kontrak Jiwa atau semacamnya.”


 


 


“Kami para penyihir terdidik paham bahwa hal paling berharga adalah informasi dan kami menghormati itu. Aku sendiri sangat menjunjung hal tersebut, karena itu aku tidak akan bertanya lebih lanjut, Odo.”


 


 


Pemuda itu menatap datar, kembali mengingat-ingat saat dirinya pertama kali bertemu Luna. Menyipitkan tatapan dan memasang wajah malas, ia berkata, “Padahal ... waktu pertama kali aku datang langsung dihujani pertanyaan, loh.”


 


 


“Eh?” Canna langsung melirik tajam ke arah rekannya tersebut.


 


 


“Uhem! Jadi untuk apa Odo datang?” Luna mengacuhkan itu dan memaksa untuk tetap melanjutkan pembicaraan. Suasana pun berubah sunyi seketika.


 


 


Canna memegang pundak rekannya tersebut, memegang kuat dan berkata, “Luna, kamu jadi orang banyak tanya lagi dan melanggar kode etik penyihir? Padahal sudah tingkatnya lebih tinggi dariku, kamu malah ....”


 


 


“ ....”


 


 


Luna hanya terdiam, merasa bersalah karena memang seorang penyihir Miquator diajarkan untuk tidak mudah bertanya secara rinci. Mereka diajarkan untuk mengejar fakta dan pengetahuan menggunakan kerja keras dan usaha mereka sendiri, hanya dalam sebuah kelompok dekat atau kelas saja para penyihir Miquator boleh saling bertanya.


 


 


 


 


“Sakit ..., Canna.”


 


 


“Ah ..., ma-maaf ....”


 


 


Perempuan rambut putih itu segera mengangkat tangannya, memalingkan pandangan dengan rasa bersalah. Melihat sifat rekannya tersebut yang terkadang seperti itu, Luna paham dan memakluminya.


 


 


Kembali menatap ke arah Odo, perempuan pemilik toko tersebut bertanya, “Odo, sebutkan saja keperluanmu. Seperti yang Odo lihat, sekarang aku sedang ada tamu. Sebentar lagi yang lain juga kembali ....”


 


 


“Yang lain?”


 


 


“Hmm, para penyihir Miquator yang ikut rencana Nona Lisathus tinggal di lokakarya ini. Yah, pada dasarnya mereka secara tidak langsung adalah muridku juga, aku pernah menjadi instruktur mereka. Yang pertama kali mengajari mereka sihir adalah mendiang ibuku, lalu beliau mempercayakan tempat ini dan juga mereka.”


 


 


Odo sedikit menganga mendengar itu, dirinya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut atau memperkirakannya. Memasukkan informasi tersebut ke dalam pengaturan informasi di kepala, ia melakukan beberapa kalkulasi.


 


 


“Baiklah kalau memang sedang sibuk.”


 


 


Odo sedikit menyingsingkan lengan kemejanya, lalu menekan permukaan Gelang Dimensi di lengan kanan. Lingkaran sihir terbentuk kecil, lalu perlahan melebar dan mengeluarkan sebuah kubus hitam sebesar telapak tangan.


 


 


“Odo ... benar-benar mengalami penurunan kapasitas dan kualitas sihir, ya. Tidak kusangka,” ucap Luna setelah mengamati tingkat pengaktifan Mana milik pemuda itu.


 


 


Menghela napas ringan, Odo berkata, “Itu sudah kubilang tadi.”


 


 


“Jadi, benda apa itu?”


 


 


Odo menurunkan kubus hitam tersebut ke atas meja, lalu berkata, “Aku tak tahu .... Aku ingin kalian menganalisis benda ini.”


 


 


Luna mengambil kotak kayu kecil dari lengan jubahnya, lalu membukanya dan memakai kacamata yang ada di dalamnya. Kacamata itu memiliki lensa sihir, dengan frame dari logam campuran khusus bersifat katalis untuk mempercepat proses struktur,


 


 


Mengangkat kotak kubus hitam tersebut, Luna mengamatinya dengan kacamata analisis tersebut. Tidak menemukan tanda-tanda Mana, ahli sihir itu berkata, “Hmm, sepertinya ini bukan kristal sihir atau semacamnya.” Menunjukkannya kepada Canna, ia bertanya, “Apa kau tahu bahannya, Canna?”


 


 


Canna mendekatkan wajah, mengamati dari dekat dan berkata, “Aku tak tahu .... Apa ini logam? Atau mineral?”


 


 


Mereka menyentuh, meraba, dan melihat setiap sudut kubus hitam tersebut.


 


 


“Tidak ada rongga, benar-benar kerapatan tinggi. Tapi ... tidak terlalu berat. Tidak terpancar kekuatan sihir atau tanda-tanda kehidupan, ini benar-benar benda mati .... Namun, anehnya terasa sedikit hangat dari dalam,” ucap Canna setelah mengamati kubus tersebut.


 


 


Menatap ke arah pemuda rambut hitam, Luna bertanya, “Odo mendapat ini dari mana?”


 


 


“Hmm, itu aku rampas dari orang-orang Moloia yang pernah mencoba membunuhku.”


 


 


“Eh?”


“Eh?”


 


 


Mereka terkejut, benar-benar merasa bingung dan tercengang. Mereka tahu kejadian semacam itu pernah terjadi, namun tetap saja sangat mengejutkan mendengar kalau benda tersebut dulunya milik orang-orang Moloia.


 


 


Menghela napas ringan, dengan tatapan lesu Luna berkata, “Begini, ya .... Odo tahu kalau Moloia itu cenderung tidak pakai sihir, ‘kan? Kami para penyihir sangat bertentangan dengan benda-benda seperti itu dan membencinya.”


 


 


“Hmm, aku tahu.”


 


 


“Terus kenapa malah menyerahkan benda seperti ini pada kami? Odo tahu kalau tempat ini Altelier sihir, ‘kan? Khusus untuk sihir Alkimia ....”


 


 


“Aku tahu,” jawab Odo. Sedikit tersenyum tipis, ia berkata, “Makanya aku minta itu ke kalian. Yang aku harapkan hanya analisa kandungan bahan dan kegunaan. Tak perlu cara gunanya atau struktur pembangunnya, hanya dua itu saja.”


 


 


Alis Luna mengerut, merasa kalau hal seperti itu tidak terlalu mustahil dan berkaat, “Eng, kalau bahan pembangun memang bisa kami lakukan .... Alkimia cenderung dekat dengan zat-zat semacam mineral atau semacamnya. Tapi kalau kegunaan ... kami tak bisa.”


 


 


“Ah, tunggu ....”


 


 


Odo mengambil kubus itu dari mereka, lalu meletakkannya ke meja. Saat menekan permukaan kubus tersebut, bentuknya berubah seperti puluhan Puzzle kubus yang runtuh dan kembali terbentuk menjadi sebuah medali bulat kecil dengan pola aneh di kedua sisi.


 


 


Luna, Canna, dan Vil terkejut melihat mekanisme seperti itu. Mereka salah mengira, benda itu bukanlah objek tunggal, melainkan sebuah ratusan kubus mini yang disatukan menggunakan struktur mekanisme yang mereka tidak ketahui.


 


 


“Coba analisa fungsi ini, seharusnya itu juga tak jauh berbeda dari struktur sihir.”


 


 


“Hmm, mekanismenya sedikit mirip dengan gerigi-gerigi jam. Menggunakan tenaga gravitasi atau tekanan sebagai penggerak,” ucap Canna. Segera menoleh ke arah rekannya, ahli sihir rambut putih tersebut mengangguk satu kali seakan berharap ingin mengotak-atik benda tersebut.


 


 


Sedikit menghela napas dengan wajah malas, Luna mengangguk ringan karena rekannya itu dan berkata, “Baiklah, aku terima.”


 


 


“Hmm, terima kasih ....”


 


 


“Ah, kalau begitu aku simpan benda ini, ya.”


 


 


“Ya.”


 


 


Setelah Luna memasukkan medali hitam itu ke lengan jubah, Odo langsung bertanya, “Apa boleh aku meminta sesuatu lagi?”


 


 


“Masih ada lagi?” Luna memasang wajah sedikit enggan.


 


 


“Ya ..., tentu.”


 


 


“Huh, memangnya apa lagi sekarang?”


 


 


Odo sedikit tersenyum tipis, mengacungkan jari telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Tadi kau bilang para penyihir Miquator yang ikut rencana Nona Lisia tinggal di sini, ‘kan?”


 


 


“Iya, mereka memang sementara tinggal di sini.”


 


 


Odo menyeringai kecil mendapat konfirmasi, menurunkan jarinya dan berkata, “Kalau begitu, bisa kenalkan aku dengan penyihir yang bisa menggunakan sihir pendeteksi? Terutama pendeteksi dalam jangkauan luas. Sihir pelacak juga tidak masalah.”


 


 


Alis Luna sedikit terangkat, dengan rasa penasaran ia bertanya, “Memangnya untuk apa? Mencari benda? Orang? Atau hewan?”


 


 


“Aku ingin mencari seseorang.”


 


 


“Apa Odo punya rambut atau darah orangnya?”


 


 


“Gak ada.”


 


 


“Kalau pakaian atau benda pribadi?”


 


 


“Itu juga gak ada ....”


 


 


Suasana berubah hening seketika, Luna dan Canna menatap datar mendapat jawaban-jawaban seperti itu. “Huh .... Terus bagaimana mencarinya kalau semua itu tidak ada? Odo tahu syarat-syarat mencari objek dengan sihir, ‘kan?” tanya Luna.


 


 


“Tentu saja aku tahu .... Hmm, sepertinya kau salah sangka, aku tak ingin mencari orang dengan sihir penerawang. Sudah kubilang tadi, kenalkan saja aku dengan orang yang bisa menggunakan sihir pendeteksi.”


 


 


“Ooooh .... “ Kedua mata Lune terbuka lebar sekilas, paham dengan maksud Odo dan berkata, “Semacam sihir peluas indra atau persepsi?”


 


 


“Iya. Apa ada?”


 


 


“Saya bisa menggunakannya,” ucap Canna masuk dalam pembicaraan.


 


 


Odo segera menatap ke arahnya, lalu berkata, “Kalau begitu ..., apa mau sekalian? Mengerjakan analisis itu dan ikut aku?”


 


 


“Ikut? Ikut ke mana?” tanya Canna bingung.


 


 


“Aku ingin mencari Kolt Luis di daerah pegunungan.”


 


 


“Eh?” Canna terkejut, nama yang disebutkan pemuda itu adalah salah satu bandit yang selama rencana pembasian masuk ke daftar utama yang harus ditangkap atau dibunuh.


 


 


“Ada apa, Canna?” tanya Luna sedikit heran melihat ekspresi terkejut rekannya tersebut.


 


 


“Ka-Kalau tidak salah ... orang itu bandit, ‘kan? Untuk apa Anda mencarinya?” tanya Canna dengan gugup kepada Odo.


 


 


Bersandar pada sandaran kursi, pemuda itu menjawab, “Yah, ada beberapa urusan. Anggap saja itu masih ada kaitannya dengan keperluan Nona Lisia. Kau tahu, bandit itu belum dipastikan mati atau hidup sampai sekarang.”


 


 


“Begitu, ya ....” Canna sedikit menundukkan wajah, memikirkan beberapa hal dan kembali menatap Odo. “Hmm, baiklah. Aku setuju, kalau memang Nona Lisia yang menyarankan,” jawab perempuan rambut putih tersebut.


 


 


“Yah, kalau Canna setuju ya aku juga tidak masalah,” ucap Luna. Menatap Odo dengan serius, ia kembali berkata, “Ngomong-omong, apa Odo sedang ada waktu?”


 


 


“Hmm, lumayan. Memangnya ada apa?” Odo sedikit merasa heran mendapat tatapan seperti itu.


 


 


“Bisa ikut aku sebentar?”


 


 


“Hmm?”


 


 


“Aku ingin menunjukkan sesuatu di basement.”


 


 


“Basement?”