Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 55 : Aswad 2 of 15 “To Be Hire” (Part 02)



 


 


Kobaran api menjilat-jilat tinggi pada salah satu kota yang telah menjadi panggung medan perang sipil tersebut. Bau hangus yang begitu menyengat, darah yang menguap dan daging yang hancur terbakar dalam puing-puing. Suara tembakan terdengar setiap detik, nyawa-nyawa melayang seakan tidak berarti dalam perang yang mengatasnamakan kebenaran masing-masing untuk saling membunuh antara saudara


 


 


Bangunan kayu dan batu bata yang terbakar di sepanjang jalan, gedung-gedung yang ambruk terkena ledakan, warga sipil yang ikut tertembak bersama dengan para tentara yang berlarian di antara mereka. Pada momen itu, esensi perang telah hilang dan secara harfiah berubah menjadi pembantaian yang dilakukan oleh saudara mereka sendiri.


 


 


Pada panti asuhan yang terletak di pinggiran kota, masih berdiri utuh sebuah panti asuhan tempat tinggal para yatim piatu yang kehilangan orang tua mereka karena perang. Bangunan tersebut terlihat begitu kusam, tidak terawat namun menjadi salah satu tempat yang tidak menjadi sasaran kebrutalan perang saudara yang sedang berkecamuk dengan dahsyat.


 


 


Di dalam aula gelap bangunan dengan desain arsitektur klasik tersebut, seorang biarawati melongok keluar dari pintu utama dan melihat betapa gilanya perang terjadi. Seorang pastor yang baru saja berlari ke luar langsung ditembak, yang berusaha melawan dihabisi dengan brutal dan yang menyerah ditangkap dengan tidak manusiawi. Suara erangan kematian terdengar jelas, begitu membekas dan mengiris hati.


 


 


Tepat dekat biarawati tersebut, anak-anak panti asuhan meringkuk ketakutan menutup telinga dan memejamkan mata rapat-rapat di atas lantai. Salah satu panti asuhan yang ada di kota tersebut memiliki lebih dari 21 anak asuh, meski tempat yang ada tidaklah terlalu besar dan biaya untuk mengasuh mereka tidaklah terlalu memadai karena pecahnya perang.


 


 


Suster yang mengenakan seragam yang terdiri dari gaun hitam dan kerudung hitam itu sekilas gemetar, melihat ke arah anak-anak asuhnya dengan penuh rasa takut dan cemas. Di dalam aula yang biasa digunakan untuk misa pada akhir pekan itu, mereka berkumpul saling berdekatan dan menahan suara mati-matian. Ada yang meringkuk di dekat bangku, ada yang berusaha menenangkan anak yang masih bayi dalam pangkuan, ada yang menangis tersedu-sedu, dan ada yang terlihat putus asa.


 


 


Mengunci rapat-rapat pintu utama, biarawati tersebut berusaha membuang apa yang dirinya lihat tadi dari pikiran dan segera berjalan ke arah mereka. Berlutut dan memeluk beberapa anak sekaligus, ia dengan gemetar berkata, “Tenang saja .... Kakak ada di sini, semuanya akan baik-baik saja ....” Ucapan yang keluar itu membuat setiap anak mendekat, ikut memeluk sosok perempuan yang sudah mereka anggap ibu tersebut.


 


 


Di antara mereka, Di’in yang pada saat itu masih berusia 6 tahun ikut mendekat dan masuk dalam kehangatan yang seakan menghapus rasa takutnya. Nama Cornelisa yang dimiliki gadis berambut cokelat tersebut bukanlah nama marga, melainkan nama yang diberikan untuk anak-anak yang diasuh oleh panti asuhan Cornelisa tersebut.


 


 


Di tengah-tengah rasa cemas dan takut yang melanda sang biarawati, hal yang paling ditakutinya benar-benar terjadi dan pintu panti asuhan didobrak oleh sekelompok tentara dengan senapan api mereka yang sumbunya masih menyala. Mereka adalah pasukan dari fraksi militer, langsung memberikan tembakan peringatan secara acak ke langit-langit dan membuat anak-anak ketakutan sampai menangis.


 


 


“Kalian semua!! Diam! Kami akan menggunakan tempat ini untuk serangan dadakan!”


 


 


Tentara dengan tanda Kopral pada seragamnya itu maju ke depan, mengambil pistol revolver dari sabuknya dan menodongkan senjata ke arah biarawati di tempat tersebut. Setelah menutup pintu utama rapat-rapat, para bawahannya yang berjumlah lima orang segera bersiap dengan senapan mereka masing-masing.


 


 


“Apa kau penanggung jawab tempat ini?” tanya Kopral dengan wajah sangar penuh bekas luka sayatan tersebut.


 


 


Biarawati yang memeluk salah satu anak-anak asuhnya menoleh dengan gemetar, menatap tajam dengan niat murni ingin melindungi dan menjawab, “I-Iman tempat ini telah kalian bunuh! Orang ... yang berlari ke-keluar tadi adalah penanggung jawab tempat ini!!”


 


 


Perkataan itu membuat Kopral tersebut berhenti menodong, berbalik darinya dan berkata, “Kami melakukan hal yang kejam. Tidak kusangka ada orang berlari seperti itu di tengah medan perang ....”


 


 


Air mata mulai membahasi pipi biarawati tersebut. Dengan tubuh gemetar dan tetap terduduk lemas sembari memeluk anak-anak asuhnya, ia dengan histeris bertanya, “Kenapa kalian menjadikan tempat ini medan perang?! Bukannya kalian para tentara bertugas melindungi warga sipil?! Kewajiban kalian membawa perdamaian! Kenapa malah melakukan perang keji sesama bangsa Moloia seperti ini?!”


 


 


Salah satu tentara yang pangkatnya lebih rendah dari Kopral tersebut membentak, “Tahu apa kau yang tak ikut perang!?”


 


 


“Saya memang tak tahu apa-apa! Namun, kalian juga tahu apa tentang kami orang-orang lemah yang dipaksa ikut wajib militer! Apa kalian mengerti rasa sakit ini?! Melepas anak-anak pergi ke medan perang! Apa kalian memahaminya?! Perasaan kehilangan yang selalu kami rasakan?!”


 


 


Perkataan biarawati tersebut benar-benar membuat para tentara tertegun, sekilas kehilangan fokus karena rasa bersalah. Karena wajib militer yang berlaku, para pemuda yang telah masuk masa dewasa diharuskan untuk ikut serta dalam pelatihan militer selama beberapa bulan dan pada akhirnya harus terjun ke medan perang. Untuk anak-anak yatim piatu yang tidak memiliki pelindung di belakang seperti mereka, hal tersebut sangat tidak terelakkan.


 


 


“Sir! Musuh datang! Empat orang di arah 12 ....”


 


 


Mendengar laporan dari salah satu bawahannya yang mengintip dari sela pintu utama, Kopral segera memberikan aba-aba dengan kode tangan untuk bersiaga. Ikut mengintip keluar, seketika Kopral tersebut terkejut karena orang-orang yang ada di luar adalah empat orang Prajurit Peri yang baru saja mendarat.


 


 


“Ke-Kenapa dari semua orang harus mereka ...? Sialan ....”


 


 


Kopral dan para anak buahnya saling menatap satu sama lain, mengangguk dan memantapkan keputusan mempertaruhkan nyawa untuk melawan para Prajurit Peri tersebut. Menarik napas dalam-dalam dan menenangkan benak, seketika pikiran para tentara tersebut menjadi datar dan napas mereka yang tak teratur menjadi tenang dengan cepat.


 


 


Namun saat Kopral kembali mengintip keluar dari pintu untuk melihat situasi, ia langsung terkejut karena salah satu dari Prajurit Peri di luar sedang menyiapkan sihir pada senapan mereka. Lingkaran sihir berlapis muncul pada ujung senapan yang diarahkan oleh salah satu High Elf di luar, Mana mulai berkumpul masuk ke dalam selongsong dan membentuk energi padat yang siap ditembakkan.


 


 


Melihat hal tersebut, Kopral segera membuka pintu utama panti asuhan dan berlari keluar dengan panik. Merentangkan kedua tangannya dengan cepat, ia berteriak, “Tunggu!! Kami menyerah!! Di dalam ada anak-anak tak bersala—!!!”


 


 


Dor!!


 


 


Itu terlambat, pelatuk terlanjur ditarik dan gumpalan Mana dengan kepadatan tinggi sebesar bola kasti melesat cepat melubangi perut Kopral tersebut. Terus melesat dan masuk ke dalam aula panti asuhan, sihir tersebut aktif dan bola Mana itu meledak layaknya sebuah granat serpihan dalam sekala luas.


 


 


Pecahan-pecahan tajam dari Mana tajam itu langsung tersebar dan melubangi orang-orang di dalam aula tanpa pandang bulu, entah itu para tentara atau anak-anak dan biarawati. Dada tertusuk sampai tembus ke punggung, mata tertusuk sampai masuk ke otak, tubuh terpotong-potong, belasan pecahan tajam menancap di bagian-bagian vital.


 


 


Tumbuh rapuh anak-anak sampai tak bentuk lagi terkena serpihan-serpihan tajam tersebut. Saat Mana tersebut hancur menjadi partikel cahaya, yang tersisa adalah pemandangan mengerikan dari mayat-mayat yang tercincang-cincang. Para tentara yang ada di dalam sana tak luput dari serangan, serpihan yang mengenai titik vital seperti jantung dan kepala membuat mereka terkapar sekarat di atas lantai.


 


 


Dalam satu serangan dalam jangkauan sedang tersebut, hampir semua orang yang ada di dalam aula benar-benar binasa.


 


 


Kopral yang tergeletak di depan bangunan, segera duduk sembari mempertahankan kesadarannya meski perutnya berlubang. Ia perlahan menoleh ke belakang, menganga tidak percaya melihat mayat anak-anak dan bawahannya di dalam aura tersebut. Darah berceceran ke lantai dan bangku, mayat bergelimpangan dalam pelukan sang biarawati, bagian tubuh yang termutilasi. Menggertakkan giginya dengan penuh amarah, pria itu langsung menodongkan pistol revolver ke arah Prajurit Peri.


 


 


Namun, tanpa bisa menarik pelatuk, timah panas dari senapan salah satu Prajurit Peri meledakkan kepala sang Kopral. Darah dan daging berceceran, menciprat ke pintu dan tubuh tanpa kepala tersebut jatuh ke belakang karena momentum tertembak.


 


 


Saat tahu alasan Kopral tersebut terlihat menodongkan senjatanya dengan amat murka, para keempat Prajurit Peri tersebut tertegun menatap ke dalam aula panti asuhan yang terbuka lebar tersebut. Mayat anak-anak yang terkapar dengan mata terbuka lebar, darah yang mengalir membasahi lantai sampai pintu, dan daging berceceran dengan potongan rapi.


 


 


“A— Di-Di dalam sana ....”


 


 


Salah satu Prajurit Peri menganga ketakutan saat melihat ke dalam aula. Ia yang telah melancarkan serangan sihirnya ke dalam aura tersebut langsung muntah, gemetar penuh rasa bersalah dan berlutut lemas. Ia menjatuhkan senjatanya, gambaran mengerikan atas tindakannya tersebut dengan jelas terukir dalam benaknya.


 


 


“Jangan lihat! Tenangkan dirimu!!” ucap salah satu rekan Prajurit Peri tersebut. Ia segera berlutut di depan rekannya itu, meletakkan tangan kenan ke atas keningnya dan menggunakan sihir pengganggu kesadaran untuk membuat rekannya tersebut pingsan.


 


 


 


 


“Tunggu, Sersan! Bisa saja masih ada—!”


 


 


Perkataan salah satu Prajurit Peri itu terhenti, ia tahu kalau atasannya tersebut berlari bukan untuk mencari lawan yang masih hidup namun untuk menolong orang di dalam aula yang mungkin ada yang selamat. Kedua Prajurit Peri yang masih berdiri itu menatap satu sama lain, mengangguk dan setuju membagi tugas.


 


 


Meninggalkan rekannya untuk menjaga anggota yang tidak sadarkan diri, Elf berambut pirang tersebut segera berlari menyusul atasannya ke dalam bangunan panti asuhan berarsitektur gothic itu. Sesampainya di pintu masuk dan melihat apa yang ada di dalam, seketika kedua perempuan dari ras Elf tersebut merasa mual dan dikuasai rasa bersalah atas apa yang telah mereka lakukan.


 


 


“Ini ... sangat kejam. Hampir semuanya ... anak-anak ....”


 


 


“Sersan, kalau Ul’ma tahu apa yang telah dilakukannya ini, dia ....”


 


 


“Ya, kemungkinan besar dia tidak akan berani lagi mengangkat senjatanya atau bahkan terjun ke medan perang. Sialan! Kenapa hal seperti ini ....” Meletakkan tangan kanan ke kening dan memasang ekspresi frustrasi, Sersan berambut hijau pucat tersebut sekilas marah pada dirinya sendiri dan bergumam, “Ini lebih buruk daripada perang melawan kekaisaran. Kenapa mereka tidak paham kalau perang ini sudah tidak produktif lagi? Memangnya untuk apa mereka terus melawan ....”


 


 


Di tengah rasa frustrasi yang melandanya, sersan tersebut melihat gerakan dari balik tumpukan mayat anak-anak yang dipeluk oleh seorang biarawati yang beberapa bagian tubuhnya terpotong-potong. Dalam benak rasa takut mulai menguasai, gemetar tidak karuan dan keringat dingin mengalir deras dari kulit pucatnya.


 


 


Memegang mayat dan mulai menyingkirkannya satu persatu, Sersan tersebut menemukan seorang anak gadis berambut cokelat yang meringkuk dengan kacau. Darah dari mayat-mayat membasahi tubuh dan wajah anak gadis itu, beberapa luka gores terlihat pada bahu dan tangan kanannya. Sadar akan tatapan penuh kebencian dari anak tersebut, sang Sersan dengan gemetar melangkah mundur.


 


 


Itu benar-benar kebencian yang amat dalam, jelas-jelas anak itu memendam dendam kesumat yang amat besar. Dengan penuh rasa bersalah sang Sersan mengulurkan tangan dan ingin menjelaskan, ingin mengucapkan permintaan maaf dari lubuk hatinya yang paling dalam.


 


 


Namun tanpa bisa mengatakannya, salah satu rekannya yang berada di luar dengan kencang berteriak, “Ma’am!! Parva Nuclear akan datang!!”


 


 


“A—?! Apa Letnan ingin meluluhlantakkan kota ini?!”


 


 


“Dari arah jam 09 energi sihir sangat tinggi terdeteksi!! Ini benar-benar milik Letnan!”


 


 


Mengesampingkan perasaan dalam benak, Sersan tersebut segera membopong anak gadis tersebut meski ia meronta-ronta dan menolak. Sikutan mendarat ke wajahnya, membuat hidung Elf tersebut berdarah. Meski begitu, ia tetap membawa anak gadis rambut cokelat tersebut bersamanya dan pergi keluar dari bangunan panti asuhan.


 


 


Berada di luar dan melihat cahaya terang yang melayang tinggi di atas kota, mereka terbelalak karena sihir yang aktif di langit tersebut benar-benar sihir peledak jangkauan luas yang bisa menghancurkan permukaan kota. Sembari membawa rekannya yang tidak sadarkan diri dan anak gadis yang masih selamat, ketiga Prajurit Peri tersebut mengaktifkan sayap mereka.


 


 


Partikel Ether berkumpul, membentuk pemadatan Mana dan menciptakan sayap anti gravitasi yang membuat mereka melayang. Dengan segera mereka segera terbang menuju ke arah Letnan mereka yang merupakan titik aman dari jangkauan ledakan sihir yang akan diaktifkan.


 


 


Melihat para Prajurit Peri yang telah berkumpul di sekitar Letnan Laura, salah satu dari Prajurit Peri yang baru saja datang bertanya, “Kenapa Letnan mengaktifkan sihir khususnya?! Bukannya rekan-rekan kita masih banyak di bawah sana?”


 


 


“Titah Raja telah turun .... Kota ini ... akan dihapus dari peta .... Mereka sedang dalam proses mundur.”


 


 


Setiap Prajurit Peri yang mendengar itu mengerti, bahwa Titah yang turun dari Raja adalah hal mutlak yang merupakan keputusan dari para senat yang bertanggung jawab di bawah sang penguasa. Seraya memanggul anak gadis yang dirinya bawa, Elf berambut hijau pucat tersebut sekilas melihat cemas orang-orang yang masih berlarian di dalam kota yang terbakar itu.


 


 


“Le-Lepaskan! Lepaskan ...!”


 


 


Anak gadis yang dibawanya meronta-ronta, begitu murka dan memukul-mukul Elf rambut hijau tersebut. Namun saat aura sihir tiba-tiba terpancar semakin kuat dari Letnan Prajurit Peri yang melayang pada ketinggian lebih dari 3.000 meter, seketika anak gadis tersebut kehilangan kesadarannya karena tekanan udara yang berubah drastis dan oksigen semakin menipis.


 


 


Pernapasan setiap Prajurit Peri terganggu, mereka segera menaikkan ketinggian untuk terbang lebih tinggi dari Letnan mereka. Saat mereka menoleh ke arah sosok pengguna sihir peledak terkuat di kerajaan Moloia itu, sihir pada senapan High Elf tersebut telah siap untuk ditembakkan.


 


 


Gas dari kota yang terbakar benar-benar bergerak memusat pada satu titik di ujung senapan yang diarahkan Laura, mulai menggumpal dan memadat menjadi bola hitam yang tak lebih besar dari kepalan tangan.  Manipulasi gravitasi yang digunakan untuk mengumpulkan gas mulai membuat distorsi ruang di sekitar Letnan tersebut, panas mulai tercipta dan gas padat itu seketika menyala menjadi matahari dalam ukuran kecil.


 


 


Gas yang masih tertarik ikut menyala merah, terbakar dalam kobaran merah penuh pancaran radiasi. Mengambil peluru sihir dengan kaliber .30-60 dari saku dadanya, Laura memasukannya ke senapan dan menarik tuas untuk mengisi selongsong dengan peluru berlapis susunan sihir.


 


 


Menarik napas dalam-dalam dan mengosongkan benaknya, ia menarik pelatuk dan peluru pada selongsong langsung menghantam matahari kecil di ujung senapannya. Itu tidak mengeluarkan suara, gumpalan energi menyala tersebut seketika jatuh ke bawah dan saat menyentuh permukaan—


 


 


Dezzt!!!!


 


 


Suara desis terdengar kencang saat bola energi radiasi yang menyala merah mulai meledak. Pancaran  energi menyebar secara horizontal, layaknya ombak api yang keluar dari gas padat terbakar dan langsung menerjang orang-orang yang ada di dalam kota. Itu menyebar ke seluruh pelosok kota dan benar-benar dalam jangkauan sangat luas, lalu dengan cepat menghilang dalam hitungan detik.


 


 


Orang-orang yang terkena terpaan api layaknya angin itu terdiam bingung sesaat karena tidak terjadi apa-apa. Namun kurang dari sepuluh detik setelah hembusan api merah pudar itu mengenai mereka, seketika kulit dan daging mereka melepuh, lalu pada akhirnya terbakar oleh radiasi yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Orang-orang, bangunan, tumbuhan, hewan, semuanya terbakar habis sampai menjadi abu karena paparan radiasi kuat yang tersebar secara horizontal di permukaan.


 


 


Dalam hitungan kurang dari satu menit, semua bangunan dan orang-orang di kota tersebut hancur menjadi abu yang dengan mudah hilang tertiup angin. Unsur zat cair benar-benar menguap dari permukaan, apa yang masih berdiri hanyalah beberapa puing-puing dan pepohonan mati yang bagian luarnya menghitam.


 


 


Menyaksikan apa yang terjadi pada kota dari udara, para Prajurit Peri tertegun dengan kekuatan sihir tersebut. Itu merupakan senjata pemusnah massal, manipulasi radiasi dengan akurat untuk merebut semua unsur kehidupan dari sebuah tempat.


 


 


“Akh ....”


 


 


Laura menjatuhkan senjatanya yang perlahan hancur menjadi debu karena efek radiasi dan panas. Sarung tangan yang dikenakan perempuan kulit pucat itu tidak bisa menahan radiasi sepenuhnya, ia segera menggigit kedua ujungnya untuk melepaskan dan membuang sarung tangan yang mengeluarkan asap tersebut. Kulit kedua telapak tangannya melepuh, mengeluarkan asap dan pada jemari tangan kiri luka bakar sampai membuat sedikit tulangnya terlihat.


 


 


Itu efek yang cukup para dari penggunaan sihir ledakan radiasi terkendali. Namun saat menatap apa yang ada di bawah, hal tersebut terasa tidak setara. Hanya dengan satu tarikan pelatuk, semua bentuk kehidupan dalam jangkauan lebih dari 500 kilometer di bawah sana binasa oleh tangannya.


.


.


.


.