Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 43: Mutual-Evîn 3 of 10 “Rondo” (Part 01)



Pada salah satu ruang khusus tamu di rumah bordil milik Theodora, Odo dan Vil duduk bersebelahan. Di seberang meja yang ada di hadapan mereka, sang Owner tempat pelacuran tersebut menatap tak ramah bersama dengan dua pria bengis yang terlihat seperti algojo.


 


 


Rumah bordil milik sang Courtesan itu sendiri bernama Alms Lilac. Sebuah nama yang bisa dikatakan cukup bertentangan dengan fungsi tempat tersebut, namun dari sudut pandang lain juga sangat tepat. Berdiri sejak masa awal-awal Perjanjian Keempat Negeri dimulai, Theodora telah menjadi Madonna selama lebih dari sepuluh tahun di daerah pelacuran Mylta.


 


 


Odo menatap datar wanita rambut hitam tersebut. Di dalam ruangan dengan lantai dan dinding kayu yang terkesan lebih mirip dengan desain arsitektur kekaisaran, suasana menjadi berat karena tak ada satu pun dari mereka memulai pembicaraan. Theodora menyodorkan pipa cerutunya ke belakang, salah satu algojo langsung menyalakan cerutu itu dengan sihir api kecil.


 


 


Menghisap cerutu dengan isi dedaunan candu tersebut, sang Madam menghembuskannya ke udara dan membuat asap tersebar di ruangan. Odo segera menutup hidung, menatap datar dan berkata, “Lebih baik kau tidak memakai itu, hidupmu semakin singkat, loh.”


 


 


“Diriku tak mau mendengar itu darimu. Sekiaranya, hal ini salah satu yang bisa menurunkan rasa stresku. Bocah, urus urusanmu sendiri ....”


 


 


Tanggapan itu sedikit membuat Odo memalingkan pandangan ke arah Vil. Memastikan kalau Roh Agung tersebut memang tidak terpengaruh dengan asap candu tersebut, Odo membunyikan lidah. Pemuda itu mengetuk ujung hidungnya sendiri dengan ujung jari telunjuk sebanyak tiga kali, membatasi pernapasan dan memasang struktur informasi untuk menghalau kandungan candu pada udara masuk ke dalam tubuh.


 


 


“Terserahlah ..., padahal aku hanya cemas kau mati lebih cepat.”


 


 


“Tak perlu memedulikanku.” Madam sedikit mengangkat dagu, menatap rendah dan berkata, “Jadi, gerangan apa yang membuatmu datang dan ingin bicara dengan Theodora ini?”


 


 


Odo terdiam sesaat. Meski pernapasannya sudah dibatasi dan asap candu tidak terhirup, namun aroma wewangian masih tercium jelas. Aroma tersebut semacam dupa untuk mengusir bau-bau tak sedar dari bekas bersanggama, aroma wewangian herbal tercium bercampur dengan bau tak sedap.


 


 


 


 


“Hmm ....” Berusaha mengesampingkan ketidaknyamanan yang ada, Odo menatap sang Madam dan berkata, “Boleh aku langsung ke intinya?”


 


 


Madam kembali mengisap cerutunya, menghembuskan asap ke udara lalu ketus berkata, “Silakan saja, itu menghemat waktuku juga.”


 


 


“Hentikan bisnismu ini ....!”


 


 


Itu membuat Theodora tercengang, memasang wajah kesal dan merasa seperti telah dipermainkan. Menjatuhkan candu yang terbakar pada ujung cerutunya ke atas asbak, sang Madam tegas berkata, “Bocah, apa kau ingin membuatku marah? Datang dan bilang mau bicara, tapi malah langsung seperti itu? Huh, sudah-sudah! Tak ada yang perlu dibicarakan lagi! Pergi dari tempatku!”


 


 


“Tunggu, aku belum selesai bicara ....”


 


 


“Apa lagi? Kau hanya bocah congkak, tak tahu cara dunia ini bekerja.”


 


 


Odo sedikit menyeringai, menatap tajam dan berkata, “Madam pasti pernah mendengar desas-desus kalau perang akan segera terjadi, bukan?”


 


 


“Itu ....” Theodora terdiam, meletakkan cerutunya ke atas meja dan memalingkan tatapannya. Selesai berpikir, ia kembali menatap Odo dan bertanya, “Jadi benar perang akan terjadi, ya? Hmm, apa karena masalah percobaan pembunuhan itu?”


 


 


“Kurasa bukan,” ucap Odo. “Sejak awal, orang-orang Moloia itu memang ingin berperang. Percobaan pembunuhan itu hanya akan menjadi alasan. Mereka kemungkinan besar akan menyerang wilayah Luke ini dulu sebelum memulai invasi ke kerajaan Felixia.”


 


 


Perkataan pemuda itu membuat Theodora heran, begitu pula dua algojo yang berdiri di belakangnya. Menarik napas dalam-dalam, sang Madam memutuskan untuk bertanya, “Lantas apa yang membuatmu mengatakan hal sepenting itu pada pelacur seperti diriku ini? Bukannya lebih pantas kau bilang itu kepada para pejabat?”


 


 


Meletakkan kedua tangan ke atas meja dan tersenyum kecil, Odo berkata, “Para pejabat yang menjadi pelanggan para pelacurmu?”


 


 


“Kau ... menyindir?” Theodora menatap kesal, sorot matanya seperti ular yang diganggu saat sedang tidur di sarang. Memalingkan pandangan, ia berkata, “Mereka memang seperti itu fungsi tempat ini .... Para pejabat juga sebagian pria, mereka terlalu sibuk bekerja dan tak sempat untuk membuat hubungan keluarga. Ladang bunga seperti ini sangat cocok untuk mereka. Bukan berarti diriku memeras mereka, kami di sini menerima dan memberi.”


 


 


“Aku paham itu,” ucap Odo sembari kembali menurunkan tangannya ke atas pangkuan, lalu bersandar pada sandaran kursi. Menatap ringan, ia menegaskan, “Aku sama sekali tidak ada maksud menyindir, Madam Theodora ..... Hanya saja, dari pada pemerintah aku rasa lebih cepat kalau meminta kalian melakukannya.”


 


 


“Meminta kami?”


 


 


Berhenti bersandar, Odo menunjuk ke arah Theodora  dan berkata, “Madam seharusnya tahu, akses awal dari kerajaan Moloia untuk sampai ke negeri ini adalah laut .... Wilayah Luke berada paling depan kalau perang terjadi—Moloia hanya  perlu menyeberangi laut tengah  dan mereka sudah sampai ke tempat ini. Dan ....”


 


 


“Daerah pelabuhan yang pasti pertama diserang,” ucap Theodora.


 


 


Sang Madam mulai berkeringat, ia sudah memperkirakan hal seperti itu sejak gagalnya orang-orang Moloia melakukan pembunuhan. Jika perang benar-benar terjadi, bisa dipastikan ratusan kapal laut dengan meriam-meriam besar yang kekuatannya sangat melebihi armada kerajaan Felixia akan menghancurkan pelabuhan. Secara letak, distrik rumah bordil akan terkena dampaknya lebih cepat dari tempat lain di kota Mylta.


 


 


“Lihat, Madam sudah tahu itu sendiri.” Odo tersenyum, memberikan tekanan dengan ekspresi santainya.


 


 


“Apa ... kau berniat membantu kami? Atau hanya ....”


 


 


“Anggap saja ini memberi dan menerima, seperti cara pikir kalian. Aku tahu Madam menghasut sebagian nelayan dan membantu orang-orang Moloia itu pasti karena mereka menjamin beberapa hal untuk Anda, benar begitu?”


 


 


“ .....” Madam bungkam, perkataan Odo sangat tepat bawah dirinya mendapat jaminan seperti itu.


 


 


Membaca reaksi wajah Madam Theodora  yang semakin berkeringat, Odo kembali berkata, “Karena itu, mari lakukan hal yang sama. Kerja samalah denganku, akan aku jamin tempat ini tetap ada meski perang pecah lagi di benua ini.”


 


 


Meletakkan kedua siku ke atas meja dan menyangga kepala dengan punggung tangan, Madam berkata, “Kau dari orang pemerintahan, diriku tak percaya itu. Kalau mereka didorong oleh pihak Religi yang menganggap bisnis seperti ini sesat, pasti mereka akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu dan berniat menggusur kami.”


 


 


“Aku bukan orang pemerintahan,” bantah Odo.


 


 


“Kau anak Marquess, bocah. Itu sudah cukup untuk diriku ragu denganmu.”


 


 


“Ah, benar juga ....” Odo memalingkan pandangan, pura-pura berpikir meski dirinya sudah menyiapkan solusi yang tepat. Menatap sang Madam, ia bertanya, “Kalau begitu, apa yang harus kulakukan untuk membuat Madam percaya kalau aku ingin benar-benar membantu kalian?”


 


 


“Hmm .... “ Madam berhenti menyangga kepala, duduk tegak dan menarik napas dalam-dalam. Memikirkan syarat yang setara, ia berkata, “Uang .... Ya! Uang! Kalau engkau bisa memberikan uang yang setara dengan risiko yang ada, sekiranya akan diriku pertimbangkan.”


 


 


“Uang, ya? Hmm, apa orang-orang Moloia itu juga memberi uang?”


 


 


“Iya— A!” Madam tak sengaja kelepasan mengakuinya. Memalingkan pandangan dengan cemas, ia hanya berkata, “Itu .... Mereka tidak ....”


 


 


“Baiklah ..., berapa jumlahnya?” Odo tidak memedulikan kesalahan itu, santai menatap dan benar-benar mengincar apa yang ditujunya dengan datang ke tempat pelacuran.


 


 


Madam sesaat merasa heran dengan sikap pemuda itu. Menarik napas dalam-dalam, ia mengatakan jumlahnya, “Bagaimana kalau 1.000.000 Rupl? Sekiaranya uang itu akan membuat kami percaya kau akan membantu.”


 


 


“Baiklah .... 1.000.000 Rupl,” ucap Odo langsung.


 


 


“Serius?! Bocah, kau ingin mengeluarkan dana sebanyak itu?!” Theodora terkejut sampai dirinya bangun dari tempat duduk. Kedua algojo di belakangnya juga tak kalah terkejut sampai-sampai mereka menarik napas dalam-dalam.


 


 


“Ya .... Tentu saja,” ucap Odo santai. Mengangkat lengan kanan setinggi dada dan sedikit menyingsingkan kemeja, ia menekan permukaan Gelang Dimensi dan berkata, “Tapi ... aku tidak akan membayar semuanya langsung, bagaimana dengan uang muka 50% dan kurangnya dicicil?”


 


 


“Engkau ... sungguh-sungguh ingin memberikannya? Setengahnya .... itu sudah 500.000 Rupl, loh. Itu ... setara 500 koin emas.”


 


 


Tidak memedulikan ekspresi cemas sang Madam, Odo mengeluarkan kantung kain kecil dari dimensi penyimpanan ke atas meja. Itu berisi kurang lebih sekitar 10 Kristal Sihir Kualitas Atas, Kelas A. Yang kalau dijual bisa mencapai lebih dari 500.000 Rupl.


 


 


“Ya, tentu saja .... Aku punya dananya. Meski bukan dalam bentuk uang, kurasa itu tidak masalah, bukan?”


 


 


Madam hendak mengambil kantung tersebut, namun karena terlalu berat ia hanya bisa menariknya sampai di depannya. Menarik tali pengikat dan membuka isi kantung tersebut, ia terbelalak bersama kedua algojo di belakangnya. Itu benar-benar sebuah Kristal Sihir Kualitas Atas, Kelas A. Berat masing-masing kristal sekitar satu kilogram.


 


 


“Ini ... kau ... sungguh-sungguh?” tanya Theodora pucat.


 


 


“Tentu saja, untuk apa aku bercanda.” Odo tersenyum tipis, menyembunyikan ekspresinya yang sesungguhnya dan bertanya, “Jadi, apa kalian percaya?”


 


 


“Baiklah ....” Madam Theodora menelan liur dengan berat, menatap penuh rasa cemas dan berkata, “Kami akan percaya. Tapi ... ingat ini, kami tidak sepenuhnya akan percaya padamu, Anak Marquess. Kami akan percaya selama itu menguntungkan bagi kami.”


 


 


“Tentu saja ....” Odo duduk tegak, memasang senyum buatan yang terlihat sangat alami.


 


 


 


 


“Hmm, pertama-tama ....” Odo menunjuk lurus dan tegas berkata, “Jadilah penguasa distrik ini!”


 


 


“Eh?” Itu membuat Theodora terkejut bersama dua algojonya.


 


 


Tidak membiarkan mereka bertanya, Odo menurunkan tangannya dan kembali berkata, “Singkirkan semua pesaingmu dan jadilah penguasa tempat pelacuran ini. Ular hanya butuh satu kepala, hancurkan kepala lain dan jadilah penguasa tunggal para pelacur di kota ini ....”


 


 


“A-Apa yang kau katakan?! Engkau pikir di tempat ini berapa banyak yang membuka u—!”


 


 


“Tenang saja,” potong Odo. Tersenyum kecil, ia menjelaskan, “Aku punya rencananya. Kalau Madam mengikutnya dengan hati-hati, pasti semuanya berjalan lancar.”


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut kembali mengambil sesuatu dari Gelang Dimensi. Itu adalah setumpuk kertas perkamen, berupa dokumen tentang rencana yang akan diberikan kepada Madam Theodora.


 


 


Meletakkan semua kertas itu ke atas meja, Odo berkata, “Semua rencananya ada di sini. Ikuti saja prosedurnya, aku jamin Madam bisa menjadi pemimpin tempat pelacuran ini dalam waktu setengah tahun.” Mengambil kertas paling atas, Odo menyerahkannya ke Theodora dan berkata, “Ini rincian dasarnya.”


 


 


Menerima dan membaca daftar rencana secara garis besar, Theodora terbelalak. Kedua algojo di belakangnya tidak bisa membaca, karena itu mereka hanya menatap bingung kertas yang dipegang Madam mereka.


 


 


“I-Ini sungguh ingin engkau lakukan, bocah?”


 


 


“Ya, tentu. Pertama Madam harus menyingkirkan para kepala lain, lalu menyerap anggotanya ke kelompok Madam. Menggunakan dana yang kuberikan, bangunlah rumah bordil ini menjadi yang paling besar dan satu-satunya ....”


 


 


Theodora gemetar. Apa yang dikatakan pemuda rambut hitam itu bukanlah sebuah bualan belaka atau pandangan naif. Membaca inti dari rencana yang hendak dilakukannya untuk distrik rumah bordil, Theodora tahu kalau ide-ide yang dikeluarkan Odo sangatlah pantas untuk dipertaruhkan.


 


 


Dalam rencana tersebut, Odo ingin menjadikan distrik rumah bordil sebagai tempat hiburan yang lebih berkelas. Menurunkan unsur pelacuran, lebih ke semacam sebuah tempat para kabaret bekerja. Untuk itu diperlukan sebuah penguasa tunggal, pendidikan para pelacur untuk meningkatkan daya jual, lalu terakhir adalah renovasi tempat.


 


 


Pada dasarnya daerah hiburan bukanlah hanya soal hubungan seksual atau semacam itu, hiburan seperti menemani pria minum, mengajaknya mengobrol, ataupun bermain permainan papan juga menjadi salah satu daya tarik aspek dunia hiburan. Theodora tahu hal tersebut karena dirinya punya kenalan di kekaisaran yang juga membuka usaha prostitusi, di sana ada golongan para perempuan yang lebih menjual keahlian mereka untuk menghibur para pria daripada tubuh.


 


 


“Luke—”


 


 


“Panggil saja Nigrum. Gawat kalau ada yang dengar aku ada di sini, itu nama samaranku.”


 


 


“Hmm, baiklah. Tuan Nigrum, aku setuju dengan usulanmu .... Tapi, mengubah semuanya dalam waktu setengah tahun diriku rasa mustahil. Sekiaranya rencana seperti ini butuh jangka waktu empat sampai lima tahun.”


 


 


“Tenang saja, itu mungkin untuk dilakukan.” Odo menyodorkan dokumen ke hadapan Theodora. Tersenyum ringan, ia berkata, “Silakan baca dulu .... Malam ini Madam sedang tak ada kegiatan, bukan?”


 


 


“Ya ....”


 


 


Setelah itu, Madam membaca tiap lembar dokumen rencana yang Odo berikan. Itu berisi 57 lembar, dibagi menjadi 3 tahapan rencana. Pada tahap pertama, apa yang perlu dilakukan adalah menyingkirkan para pemimpin pelacur lain. Menyingkirkan ada dua cara dan bukan secara fisik menyingkirkan. Cara pertama dengan menyerapnya tempat bordil lain menjadi milik Theodora, dan kedua adalah menghancurkannya jika cara pertama tidak bisa.


 


 


Setelah tahapan kedua selesai, akan diberlakukan sebuah pendidikan untuk melatih seni menghibur para pelacur. Itu dilakukan secara bertahap antara dua sampai empat bulan, lalu akan dilihat hasilnya dengan melakukan pelayanan berbeda kepada para pelanggan dan mengecek reaksi yang ada untuk melihat minat. Jika minat para pelanggan diketahui, pendidikan para pelacur akan dipusatkan pada hal tersebut.


 


 


Tahapan terakhir adalah pembangunan. Menggunakan anggaran yang diberikan Odo dan kalkulasi progresif profit dari tahap pendidikan seni menghibur, renovasi besar-besaran akan dilakukan untuk mengubah daerah kumuh distrik rumah bordil menjadi tempat hiburan yang layak di daerah pelabuhan.


 


 


Bukan hanya itu saja, pada lembar-lembar terakhir ada yang membuat Theodora kaget. Apa yang Odo rencanakan bukan hanya untuk distrik rumah bordil, namun secara menyeluruh untuk kota dan progresif perekonomiannya.


 


 


“Ini .... Apa engkau ingin menghidupkan kota ini lagi seperti dulu?” tanya Madam yang rambutnya disanggul tersebut.


 


 


“Ya, memang itu tujuanku. Untuk melawan dan mempertahankan kota, uang dan kepercayaan sangat diperlukan. Pertama aku ingin membuat kota ini terlihat meyakinkan, lalu mengajak bangsawan lain untuk investasi atau membantu persenjataan jika perang sampai pada titik terburuk ....”


 


 


“Titik terburuk ...?” tanya Madam dengan bingung. Meski ia paham dengan dunia hiburan dan seluk beluknya, ia masih sangatlah awam pada hal politik.


 


 


Memasang wajah resah, Odo menjawab, “Perang gerilya.”


 


 


“Maaf, diriku tak tahu tentang hal semacam itu.”


 


 


“Itu jenis perang yang jarang terjadi di benua ini.” Odo menutup mulur dengan tangan kanan, sedikit menundukkan wajah dan menjelaskan, “Anggap saja itu semacam perang kecil yang terjadi terus menerus .... Sembunyi-sembunyi, sabotase, bergerak dengan kecepatan penuh, menyamar menjadi penduduk sipil, dan melakukan cara-cara yang bisa dikatakan melanggar hak asasi dan moral .... Jujur perang gerilya adalah jenis perang yang ingin aku hindari.”


 


 


“Apa ... orang Moloia selicik itu?”


 


 


“Moloia?” Odo berhenti menutup mulut dan mengangkat wajah. Menatap datar, ia berkata, “Bukan mereka, tapi kerajaan kitalah yang kemungkinan besar akan melakukan itu.”


 


 


“Kita?” Madam merasa sedikit ragu, menatap datar dan berkata, “Kerajaan Felixia sangat menghormati peraturan-peraturan perang .... Setahuku sifat angkuh— Maksud diriku, harga diri para prajurit serta ksatria itu ....”


 


 


Odo memahami hal tersebut. Para prajurit dan ksatria Felixia cenderung menjunjung tinggi etika dan peraturan perang, mereka kemungkinan besar tidak akan melakukan hal tersebut. Namun itu hanya berlaku saat kondisi kekuatan setara atau tidak ada perbedaan jauh dengan pihak lawan.


 


 


Menarik napas dalam-dalam, Odo menjelaskan, “Madam tahu, taktik gerilya hanya dilakukan oleh mereka yang kekuatannya lebih lemah namun jumlahnya banyak.”


 


 


“Engkau ingin bilang kalau Moloia lebih kuat? Meski dirimu seorang anak Marquess?”


 


 


“Ya ....” Odo menatap tajam, keningnya mengerut dan mulai berkata, “Aku hanya bicara tentang fakta. Jika dibandingkan dengan Moloia, kita tidak ada apa-apanya sekarang .... Karena itu, paling tidak aku ingin membuat medan perang yang lebih menguntungkan. Tujuanku bukan perang untuk menang, namun untuk bertahan.”


 


 


Madam sesaat terdiam. Meski ia tak tahu masalah seperti itu, namun dirinya paham kalau situasi akan sangat berbahaya baginya dan anak para pelacurnya jika perang berkelanjutan terjadi. Menarik napas dalam-dalam, ia berkata, “Tuan Nigrum, apa Anda yakin lebih memilih kami para pelacur daripada pemerintahan?”


 


 


“Aku tak memilih kalian, yang aku pilih kota ini,” tegas Odo.


 


 


“Begitu, ya ....” Menyandarkan punggung ke sandaran kursi, Theodora sedikit menarik napas lega setelah memahami sesuatu. Menatap Odo dengan tatapannya mata violetnya, ia bertanya, “Apa Anda mengajukan hal serupa pada pihak Religi dan pihak Pemerintah? Diriku belakangan ini mendengar rumor kalau kedua kubu itu mulai menemukan kondisi stabil, apa Anda yang melakukan itu?”


 


 


Odo tersenyum ringan, lalu menjawab, “Entahlah .... Aku hanya memberikan kesempatan, mereka yang ingin lerai sendiri.”


 


 


Theodora sesaat terdiam. Kembali memikirkan tawaran serta rencana yang ada, ia membulatkan keputusan dan berkata, “Hmm, baiklah ... Kami akan melakukan rencana yang Anda berikan ini. Anda telah memberikan dananya, kami ingin bertahan, kurasa tujuan kita untuk sekarang satu arah. Namun ...”


 


 


“Namun?”


 


 


“Boleh diriku tanya satu hal?”


 


 


“Silakan.”


 


 


“Apa ... Anda melakukan ini karena Anda anak Marquess? Atau ....”


 


 


“Anggap saja memang karena aku anak seorang Marquess.”


 


 


“Alasan aslinya?”


 


 


“Madam akan tahu itu beberapa bulan lagi.”


 


 


Theodora sekilas terkejut dan sedikit menyesal Odo tak mau memberitahukan alasan utamanya. Mengangguk satu kali, ia berkata, “Begitu, ya .... Hmm, biarlah. Kami secara tidak langsung pernah memusuhi Anda, wajar kalau Anda tidak percaya langsung dan memberitahukan semuanya.”


 


 


“Terima kasih, Madam.”


 


 


Setelah itu, mereka pun melanjutkan pembicaraan membahas rencana tersebut sampai tengah malam. Tiap lembar mereka bahas, dari tahap pertama sampai terakhir. Madam Theodora bertanya, Odo menjawab. Siklus seperti itu terus berlanjut sampai lembar ke 57 selesai dibahas.