
Luke Scientia, sebuah perpustakaan sihir yang berdiri di kediaman Marquess Luke. Perpustakaan berbentuk menara tersebut memiliki 12 lantai, berdesain arsitektur klasik dan dari lantai dasar bisa melihat langsung langit-langit berkubah karena bagian tengah menara tersebut berongga. Tiap lantai dihubungkan oleh anak tangga di setiap sudut lantai, memiliki puluhan rak buku yang berjejer dan tertata rapi. Pencahayaan tempat tersebut bersumber dari kristal sihir yang dipasang pada beberapa sudut. Lantai terbuat dari keramik, sedangkan dinding memiliki struktur dan formula sihir untuk mempertahankan keberadaan Roh Agung yang menghuni tempat tersebut.
Pada lantai dasar perpustakaan, seorang wanita berambut pirang duduk pada kursi di dekat anak tangga menuju lantai dua. Ialah sang Penyihir Cahaya, Mavis Luke. Wanita itu meletakkan siku kanannya ke atas meja bunda berwarna putih, menyangga kepala dan terlihat sedang membaca sebuah buku tebal bersampul biru tua. Ekspresi wanita bergaun hijau toska itu terlihat mendung, matanya menatap sayu buku yang ada di atas mejanya.
Di belakang Mavis berdiri sang Huli Jing, menemani tanpa bisa melakukan apa-apa pada suasana hati Tuannya tersebut. Perempuan berambut hitam kecokelatan itu hanya memasang ekspresi muram, menundukkan kepala dan sesekali merapikan kimononya sendiri untuk mengalihkan rasa gelisah. Suasana di dalam tempat itu terasa senyap, atmosfer yang ada terasa berat dan seakan kembali seperti saat pertama kali perpustakakan tersebut dibangun sekitar 14 tahun yang lalu.
Dari lantai dua, Vil mengamati mereka dengan sorot mata gelap. Roh Agung berambut biru itu merasa tak suka dengan keputusan Mavis yang seakan memaksa Odo kembali ke Mansion tanpa memikirkan kehendak pemuda tersebut. Duduk di pembatas lantai dua dan menguncang-uncangkan kedua kakinya ke bawah, Roh Agung itu berkata, “Mavis, apa kamu ingin mengacuhkan kehendak Odo? Menjadikannya tahanan rumah seperti ini ....”
Tangan Penyihir Cahaya yang hendak membalik halaman buku terhenti, melihat ke arah Vil di lantai dua dan menjawab, “Tidak biasanya kau ikut campur, Vil.” Mavis memberikan ekspresi terusik, menatap datar dan keningnya sedikit mengerut.
Gelembung-gelembung air muncul di sekitar Vil, lalu Roh Agung itu meloncat turun dan melayang ke bawah menggunakan sihir melayang. Berpijak dengan kaki kanan terlebih dulu menyentuh permukaan lantai marmer, Roh Agung itu berdiri di depan meja Penyihir Cahaya berada dan dengan nada menekan berkata, “Memang tak biasa, jujur sekarang diriku juga merasa heran. Kenapa bisa makhluk seperti diriku ini mau terlihat masalah seperti ini ....”
Mavis dan Fiola sedikit terkejut mendengar perkataan itu keluar dari Roh Agung pendiam tersebut. Rok kotak-kotak pendek dengan aksen biru dan hitam, kaos kaki hitam panjang selutut, kemeja putih polos dengan tambahan dasi merah, penampilan seperti itu juga menjadi hal yang membuat Roh Agung tersebut berbeda dari apa yang Mavis dan Fiola tahu.
“Bukan hanya keberadaan, apa Odo juga mempengaruhi cara pikirmu, Vil?” tanya Mavis.
Roh agung berambut biru itu hanya tersenyum tipis, berbalik dari Mavis dan mengambil beberapa langkah menjauh. Menoleh dengan tatapan datar, Vil berkata, “Kurasa itu bukan kalimat yang sesuai untuk seorang Ibu, sebaiknya kamu belajar lebih banyak tentang cara menjadi Ibu yang baik.” Berputar dan kembali menghadap ke arah Mavis, Roh Agung itu berjalan mendekat dan menarik kursi dari kolom meja untuk duduk. Sembari tersenyum kecil, Roh Agung itu kembali berkata, “Benar juga, kenapa tidak contoh istri pertama Kepala Keluarga Rein itu? Kalau tidak salah namanya Calista, bukan? Dia sungguh ibu yang baik, sampai membuat diriku merinding.”
Mavis hanya memperlihatkan ekspresi acuh, matanya kembali menatap ke arah buku yang dibuka dan mengacuhkan ucapan Vil seakan dirinya ingin lari ke zona nyamannya sendiri. Vil paham betul sifat Mavis yang seperti itu, mengalirkan pembicaraan dan bertingkah seakan pembicaraan tidak pernah terjadi.
“Dia memang selalu seperti ini .... Waktu kutanya untuk apa menggunakan Tongkat Veränderung, Mavis juga acuh dan tidak menjawab,” benak Vil seraya menghela napas. Menatap resah dan mulai memalingkan pandangan dari wanita rambut pirang tersebut.
Mavis menutup bukunya dengan keras. Berhenti menyangga kepala dan duduk tegak, wanita rambut pirang itu menatap tajam Roh Agung di hadapannya dan berkata, “Yang menantang Odo duel ..., itu Putra Sulung Keluarga Rein, ‘kan? Anak dari wanita yang kau sebut tadi, Vil ....”
“Hmm ....” Vil mengangguk dengan ekspresi sedikit tidak percaya Mavis mau masuk ke dalam pembicaraan, lalu sedikit mengoreksi, “Bukan ditantang, tapi Odo yang menantang.”
“Begitu, ya? Apapun itu, paling itu karena ulah wanita itu. Dia ... pasti ingin melakukan rencana bodoh seperti Tiga Arah Perlindungan itu.”
Rasa bingung sedikit tumbuh dalam benak Vil saat mendengar itu. Duduk tegak di atas kursinya, Roh Agung tersebut dengan sedikit heran bertanya, “Nama yang aneh ..., tapi cukup jelas. Jadi perkiraan Odo soal itu benar.”
“Perkiraan?”
“Kamu ada hubungannya dengan Istri Utama Keluarga Rein itu, terutama soal kelahiran putranya yang lama mengandungnya tak wajar.”
Mavis terkejut mendengar itu, kedua matanya terbuka lebar dan hendak bertanya dengan tegas. Menahan napas dan menelan pertanyaan dalam-dalam, wanita rambut pirang itu berusaha untuk tidak terbawa emosi. “Odo ... tahu sampai mana?” tanya Mavis dengan ekspresi dingin.
“Itu hanya perkiraannya yang terdengar sangat tepat bagi diriku.” Vil sekilas mengangkat kedua pundaknya, lalu menggelengkan kepala dan berkata, “Kata Odo, kamu menggunakan sihir untuk membuat Calista mengandung sampai 17 bulan dan melakukan beberapa perjanjian. Itu soal wilayah, permintaan maaf, atau semacamnya. Jujur diriku juga tidak terlalu paham, Odo tidak memberitahukan semua.”
Mavis tertegun, wajahnya pusat pasi dan tidak berkata apa-apa setelah mendengar semua itu adalah apa yang putranya tebak. Seakan dirinya takut pada sesuatu, sang Penyihir Cahaya gemetar dalam tempat duduknya dan mulai menundukkan wajah. Vil terheran melihat itu, begitu pula Fiola yang melihat tuannya menundukkan wajah dengan gemetar.
“Nyonya ..., apa Anda baik-baik saja?”
“Emm ....” Mavis mengangkat wajah, menatap datar Roh Agung di hadapannya dan berkata, “Kurasa Ini memang sudah batasnya. Sebaik apa menyimpan bangkai, pasti kelak akan tercium aroma busuknya, ya? Padahal ... diriku tak ingin membahas ini lagi.”
Vil sedikit heran melihat ekspresi pasrah Mavis. Meletakkan kedua tangannya ke atas meja dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, dengan suara ringan Roh Agung itu berkata, “Akhirnya kamu mau bicara juga, wahai manusia yang membuat kontrak denganku.”
“Ya ....” Mavis mengangguk ringan, lalu mengacungkan dari telunjuk kanannya ke depan mulut dan berkata, “Tapi sebelum itu, boleh kutahu sejauh mata Odo membongkar rahasiaku?” Mavis menurunkan jarinya dengan wajah yang terlihat sedih.
“Odo tidak memberitahukan apa-apa soal rahasiamu ....” Vil menatap ke arah Fiola, lalu dengan nada menekan ia berkata, “Namun, dia bilang banyak hal pada pelayan yang selalu mendampingimu itu.”
“Fiola?” Mavis menggeser tempat duduk dan menoleh ke belakang.
Huli Jing itu seketika gemetar, semua bulu pada kesembilan ekornya langsung berdiri tegak dan membuat ekor-ekornya seakan mekar. Itu lebih menggentarkan dari apapun yang pernah dirinya hadapi, sebuah situasi dimana dirinya harus membongkar fakta yang membuat tuannya itu tertekan dengan mulutnya sendiri. Fiola menatap pucat Vil seakan meminta kemurahan hati, tetapi Roh Agung tersebut hanya mengangkat kedua pundaknya dan menggelengkan kepala.
“Fiola, memangnya Odo bilang apa padamu?” tanya Mavis.
“Itu ... Nyonya .... Saya .... Tidak .... Sebenarnya .... I-Itu ....”
Kalimat Huli Jing tersebut tidak bisa tertata rapi, suaranya kacau dan tubuhnya tidak berhenti gemetar. Wajahnya pucat pasi dan keringat dingin tidak bisa berhenti keluar. Melihat gelagat tersebut, Mavis kembali bertanya, “Kenapa kau gemetar? Memangnya Odo bilang apa?”
“Tuan Odo .... Beliau .... Sudah tahu rahasia terbesar Anda.”
Itu langsung membuat Mavis tersentak, namun ia tidak marah atau sedih. Wajah wanita rambut pirang itu hanya terlihat sangat amat pasrah, begitu muram dan mulai menundukkan wajahnya. “Begitu, ya .... Putraku ... sudah tahu soal itu, bahwa diriku sebenarnya bukanlah Ma—”
“Anda tetap Mavis!” ucap Fiola lantang. “Meski Tuan Odo tahu hal itu, dia tetap menerima Anda sebagai Ibunya dan tidak bilang soal itu pada siapa pun!”
“Oh ....” Vil menatap tajam, ia baru mengetahui fakta tersebut langsung dari mulut mereka. Dengan nada heran Roh Agung itu bertanya, “Kalau kamu bukan Mavis Luke, berarti siapa? Itu bukan berarti kamu berganti posisi sesudah membuat kontrak dengan diriku, bukan? Berarti, apa kamu menggantikan posisi Mavis sebelum menikah dengan Dart? Atau saat melakukan perjalanan ke penjuru negeri sebagai Pembasmi Iblis? Sebelum dikenal sebagai Pahlawan? Sebelum melahirkan Odo? Atau sesudahnya?”
Mavis seketika menoleh tajam saat mendapat pertanyaan beruntun seperti itu, merasa Roh Agung tersebut sudah kelewatan sikapnya dan dengan kasar membentak, “Ini bukan urusanmu, makhluk Astral!”
“Kamu tak perlu marah seperti itu, Mavis .... Diriku mengatakan ini demi kalian.” Vil memalingkan pandangannya dengan sayu, lalu dengan suara lirih berkata, “Rasanya menyedihkan kalau membiarkan kalian seperti ini.”
“Apanya?” tanya Mavis,
“Soal apa yang ingin diriku tanyakan.” Vil kembali menatap wanita rambut pirang yang terlihat marah itu, lalu dengan senyuman dingin Roh Agung tersebut berkata, “Mavis, sebenarnya itu tidak terlalu ada kaitannya denganmu .... Kalau engkau ingin mempertahankan peran tersebut, diriku akan diam seperti apa yang Odo lakukan.”
“Memangnya ....” Mavis sedikit terkejut mendengar keputusan seperti itu karena sifat Vil pada dasarnya cenderung menolak sesuatu yang salah. Menatap dengan sorot mata tidak percaya, Penyihir Cahaya bertanya, “Apa yang ingin kau tahu? Memangnya apa yang membuatmu bertindak seperti ini?”
“Ini tentang Odo ....”
“Ya, putramu.” Vil memperlihatkan ekspresi sayu, menatap begitu lemas dan dengan suara tidak bersemangat ia berkata, “Kamu tahu, Mavis .... Dia sungguh sangat luar biasa. Meski banyak kekurangan, namun ia adalah makhluk dengan kepribadian paling sempurna yang pernah kutemui, Tidak naif, pintar, cepat belajar, dan memiliki pengetahuan luas. Meski terlihat baik dan sering bergurau, saat dihadapkan pada pilihan berat ia bisa memilih dengan tepat dan cepat. Dia sampat sempurna namun tak sempurna, rapuh namun sangat tajam ....”
“Apa kau tergila-gila pada putraku?”
“Tergila-gila?” Vil tersenyum tipis, sedikit menutup mulut dengan telapak tangan kanan dan berkata, “Mana mungkin, diriku rasa itu mustahil.” Berhenti menutup mulut dengan tangan dan menghela ringan, ia kembali berkata, “Diriku hanya menghargainya, sejak dulu para Roh menyukai sosok seperti itu. Engkau sendiri pernah mendengarnya, bukan? Tentang dongeng para peri hutan yang mengundang anak-anak bermain ke tempat mereka saat senja. Apa yang kurasa hampir sama dengan itu.”
Mavis tidak bisa menangkap maksud Roh Agung tersebut. Menatap tajam dengan mata birunya, wanita rambut pirang itu bertanya, “Lalu, apa yang ingin kau tanyakan tentang putraku itu? Jangan bilang kau ingin bertanya apakah boleh atau tidak untuk membawanya untuk dijadikan milikmu, bukan?”
“Mana mungkin diriku melakukan itu.” Vil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu mendongak ke langit-langit perpustakaan dan berkata, “Apa yang ingin diriku tahu hanya satu .... Jiwa yang membentuk individu bernama Odo, jiwa itu sebenarnya milik siapa?”
““—!!”” Mavis dan Fiola terkejut mendengar itu.
Kembali menatap lawan bicaranya, Roh Agung itu kembali menanyakan, “Odo itu sebenarnya siapa?”
“A-Apa yang kau tanyakan? Odo ya Odo, memangnya siapa lagi?” ucap Mavis dengan gentar. Fiola sempat terheran mendengar jawaban penuh rasa ragu tersebut, mulai bingung dan memikirkan hal yang tidak-tidak soal pertanyaan yang diajukan Vil.
“Kau tak usah berbohong ....” Vil memasang wajah cemberut, lalu dengan nada menekan berkata, “Dari awal itu memang aneh. Meski tongkat Veränderung bisa membuat rahim untukmu dan membuatmu bisa mengandung, itu tetap tidak mungkin kamu bisa hamil, Mavis.”
“Eh?” Fiola terkejut mendengar itu. Meski dirinya tahu soal penggunaan tongkat sihir milik Roh Agung tersebut, namun dirinya tidak tahu kalau tongkat itu tetap tidak bisa membuat seorang wanita tanpa rahim bisa mengandung anak.
Menegakkan posisi duduknya, Vil menunjuk lurus ke arah Mavis dan dengan tegas kembali berkata, “Dari awal ... kamu sudah tidak bisa memiliki anak, karena dari awal jiwamu sudah terputus dari aliran kehidupan dan tidak akan pernah mendapat kehidupan lain dari sana.” Berhenti menunjuk dan memasang tatapan sedih, Roh Agung tersebut memalingkan pandangan dan bertanya, “Apa lebih tepat diriku sebut itu kutukan? Sesuatu yang membuat jiwamu seakan tertutup lumpur itu ....”
Mavis hanya terdiam, tidak melakukan pembelaan pada ucapan itu atau menjelaskan sesuatu. Fiola yang mendengar itu pun hanya terdiam, dalam benak berharap apa yang dikatakan Roh Agung tersebut adalah kebohongan belaka. Namun, sayangnya itu memang adalah fakta yang tidak terbantahkan. Karena itulah Mavis tidak membantahnya.
Membuka telapak tangannya sendiri dan menatapnya, Vil sekilas memasang ekspresi ragu dan dalam benaknya mulai muncul rasa takut untuk mengetahui fakta tersebut. Menarik napas dan menangkan diri, pada akhirnya ia kembali bertanya, “Lalu, meski ada hal seperti itu padamu, kenapa bisa Odo bisa lahir?” Ia menatap wanita rambut pirang yang duduk dengan ekspresi muram itu, sekali lagi menanyakan, “Kenapa dari jiwa ireguler sepertimu bisa lahir Odo?”
“Itu ....” Mavis sekilas memutar bola matanya ke kanan dan enggan menatap, lalu dengan gemetar menjawab, “Karena Odo sendiri dari awal sudah ada padaku.”
“Dari awal?” Vil terlihat bingung mendengar itu, sedikit menyipitkan mata dan mulai memikirkan jawaban itu dalam-dalam.
Mavis menundukkan wajah, meletakkan telapak tangan kanannya ke atas sampul buku dan bertanya, “Apa kau tahu insiden Monster Iblis di Kota Gahon?”
“Gahon?” Vil langsung mengingatnya, itu adalah sebuah kejadian besar yang membuat satu kota kehilangan fungsinya dan tidak bisa lagi dihuni karena radiasi sihir cahaya yang digunakan untuk mengalahkan sang Monster Iblis yang disebut Mavis. Menatap tajam, Roh Agung tersebut bertanya, “Tragedi di kekaisaran itu?”
“Hmm ....” Mavis mengangguk ringan, memindah buku dari atas meja ke atas pangkuan untuk menenangkan diri. Dengan nada gemetar, wanita itu berkata, “Saat itulah Odo masuk. Lebih tepatnya, kami menjadi inang untuk jiwanya.”
“Jiwanya? Kami?” Baik Vil atau Fiola, keduanya terlihat bingung dan gemetar mendengar itu. Dengan rasa cemas menguasai benak, Roh Agung berambut biru itu tetap bertanya, “Jiwa ... siapa?”
“Diriku juga tidak tahu itu ....” Mavis menggelengkan kepala, sedikit menunjukkan wajah muram dan berkata, “Tapi, seharusnya kalian para Roh Agung juga pernah mendengarnya. Dalam sudut pandang kalian, dia adalah sang Raja. Dari sudut pandang kami penghuni Dunia Nyata, dia adalah Unsur Hitam, dan menurut bangsa iblis dia adala—!
Kreekeeek~!
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka dan seorang pemuda rambut hitam masuk, di belakangnya ikut seorang pelayan berambut hitam panjang. Mereka berdua Odo dan Minda. Perhatian Mavis, Vil, dan Fiola langsung terarah pada dua orang yang datang tersebut dan pembicaraan mereka terhenti.
Sekilas Odo melihat ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lagi selain mereka yang ada di dekat tangga. Bersama Minda, pemuda itu berjalan cepat ke arah mereka dan berdiri dengan ekspresi sedikit muram. Mengamati wajah ketiga perempuan itu yang terlihat serius dan atmosfer yang ada terasa berat, dengan cepat Odo paham pembicaraan apa yang telah mereka lakukan.
“Sudah kuduga pasti ujung-ujungnya seperti ini,” benak Odo.
Minda menyiapkan kursi dari kolom meja bundar di antara Mavis dan Vil untuk Odo, lalu pemuda itu segera duduk dan sesaat menghela napas. Menatap ke arah Vil, ia bertanya, “Apa kau menanyakan itu, Vil?”
“A—! Hmm ....” Vil mengangguk ringan.
Odo sesaat terdiam, merasa enggan untuk menatap wajah ibunya sendiri. Menarik napas dalam-dalam dan menghapus rasa seperti itu dalam benak, pemuda tersebut memasang ekspresi dingin dan segera menoleh ke arah Mavis. Dengan nada serius pemuda itu berkata, “Bunda, boleh aku tidak menahannya lagi? Waktu di barak ... aku tidak sempat mengatakannya dengan jelas karena banyak orang.”
Mavis tersentak, ia menatap ke arah Minda seakan memintanya angkat kaki dari tempat pembicaraan. Perempuan itu jelas menangkap maksud itu tuannya tersebut, sesaat membungkukkan tubuh dan segera beranjak dari tempat. Namun saat baru mengambil satu langkah untuk pergi, Odo mengulurkan tangan dan memegang pakaian perempuan itu.
“Mbak Minda tak perlu pergi, Bunda. Ia punya hak mendengar ini ....”
“Odo ....” Mavis menatap pucat pasi.
“Bunda tahu, saat sebuah rahasia bocor itu pasti akan terus melebar bocornya.” Odo menatap tajam wanita rambut pirang tersebut, lalu dengan tegas berkata, “Layaknya sebuah kendi penyimpanan air, itu akan terus melebar dan akhirnya membuat kendi pecah. Cara membuat kebohongan supaya tidak dianggap kebohongan adalah dengan membongkarnya sendiri, menjadikan itu hanya sebatas sebuah fakta yang sulit diungkap saja.”
Mavis menundukkan wajah, lalu dengan pelan berkata, “Baiklah ....”
Odo melepaskan Minda, membiarkan perempuan rambut hitam itu kembali berdiri di belakang tempat duduknya. Menghela napas ringan dan menutup wajah dengan kedua telapak tangan, Odo sekilas terlihat gemetar dan segera membuka wajahnya. Meletakkan kedua tangan ke pangkuan, dengan nada dingin pemuda itu bertanya, “ Bunda bukan Mavis, ‘kan?”
“Eh?” Minda terkejut mendengar pertanyaan seperti itu. Vil dan Fiola hanya terdiam, saat mendapat tatapan dari Minda mereka malah memalingkan pandangan dan enggan menjelaskan.
“Ya ....” Mavis menatap lurus mata putranya, lalu dengan pasrah menjawab, “Meski tubuh ini sangat identik dengan Mavis, diriku bukanlah Mavis.”
“A— Apa yang Anda bicarakan, Nyonya?” Minda terlihat bingung dan panik mendengar itu, tubuhnya gemetar dan ia meragukan, “Anda Nyonya Mavis, bukan? Nyonya yang selalu saya layani .... selama ini ....”
“Minda ....” Mavis menatap perempuan rambut hitam itu, lalu dengan senyuman sayu menjelaskan, “Diriku memang Tuan yang engkau layani selama ini. Namun, sebelum itu diriku bukanlah Mavis. Sebelum bertemu kalian ..., dari awal diriku bukanlah Mavis. Mavis yang asli adalah Kakakku, yang secara waktu penciptaan tubuh ia dulu yang dibuat.”
“Pen ... cip ... taan?”
Minda gemetar, sama sekali tidak tahu apa-apa soal itu dan tanpa sadar melangkah mundur dengan tatapan tidak percaya. Itu seakan perkataan Odo saat di dapur adalah kenyataan, soal swampman yang menggantikan tempat orang lain karena keidentikan sifat dan rupa.