Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 44 : Mutual-Evîn 4 of 10 “Fate” (Part 02)



 


 


Dataran tinggi hutan pepohonan cemara di teritorial Rockfield. Pada pagi buta sebelum matahari benar-benar terbit, sekelompok orang dengan jubah kain kamuflase berkumpul pada lahan luas dan mendirikan sebuah markas dengan tenda-tenda.


 


Di antara mereka ada kelompok bandit yang tersisa setelah rencana pembasmian pemerintah kota Mylta dan berhasil kabur dari pembersihan sisa-sisa bandit pemerintah kota Rockfield.


 


 


Mereka berhasil bertahan dan kabur sampai perbatasan dataran tinggi Rockfield bukan karena kekuatan sendiri, melainkan dibantu oleh sebuah Regu Khusus kerajaan Moloia yang bertugas memata-matai dari dalam negeri tetangganya, Felixia.  Bandit yang selamat berjumlah sekitar 20 orang, sedangkan Regu Khusus Moloia berjumlah tidak lebih dari  20 orang yang terdiri lengkap dari teknisi sampai ahli medis.


 


 


Beberapa bandit terlihat penuh perban dan luka, tanda mereka kabur mati-matian dari kejaran pasukan Rockfield. Regu Khusus yang menampung para bandit tersebut merupakan dinas rahasia dari campuran keempat Fraksi kerajaan Moloia. Memiliki misi utama yang sama, namun tujuan akhir yang berbeda-beda.


 


 


Regu Khusus yang baru menyusup ke Felixia pada awal tahun tersebut dipimpin oleh seorang Letnan Dua dari Unit Khusus Pengembangan Teknologi dan Penelitian, Cornelisa Di’in. Seorang perempuan rambut cokelat ikat kuda panjang sepunggung. Perempuan dengan kornea violet itu adalah perwira yang pernah menembak kepala Odo di dermaga, seorang penembak jitu yang kemampuannya terkenal di kalangan militer Moloia.


 


 


Di’in duduk di dekat salah satu api unggun yang baru saja dinyalakan kembali di markas sementara regunya. Menggelar kain di permukaan tanah, perempuan itu menyingsingkan lengan blusnya dan mulai mempersiapkan senapan laras panjang model Springfield dengan bidikan tipe M84. Perawatan senjata dirinya lakukan dengan telaten, membersihkan debu-debu dan kerikil kecil dengan kapas pada tiap komponen senapan tersebut. Menyiapkan amunisi, menghitung dan mengingat jumlahnya dengan baik.


 


 


Hampir sama dengan apa yang dilakukan Letnan Dua tersebut, para bawahannya yang berasal dari Fraksi yang sama melakukan hal serupa dan melakukan perawatan para senjata mereka. Anggota Regu Khusus yang berasal dari Fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian hanya ada lima, selebihnya berasal dari tiga Fraksi lain.


 


 


Memiliki kegiatan masing-masing, anggota dari regu yang berasal dari fraksi lain juga terlihat sibuk mempersiapkan senjata mereka. Dengan jelas perbedaan terlihat, senjata yang digunakan Di’in bisa dikatakan lebih modern. Anggota dari fraksi lain hanya menggunakan senjata paling canggih berupa pistol Red9 dengan amunisi 9mm dan dikombinasikan dengan stock untuk meningkatkan akurasi, selebihnya hanya senapan lontak yang telah sedikit mengalami modifikasi untuk mempercepat pengisian ulang dan daya rusak.


 


 


Berbeda dengan semua anggota Regu Khusus tersebut, para bandit yang sebagian besar terluka hanya duduk-duduk di pojokkan markas sementara tersebut. Mereka tidak mengerti pola pikir orang-orang Moloia. Namun dalam perjanjian yang dibentuk sebagai hasil timbal baik karena telah diselamatkan, para bandit itu dituntut ikut dalam rencana sabotase. Jika ada yang menolak, eksekusi langsung di tempat menjadi pilihan lainnya.


 


 


Tentu saja para bandit awalnya menolak itu karena sifat angkuh mereka yang tak ingin ikut campur dengan masalah politik. Namun setelah lebih dari 30 rekan mereka dibantai dengan kombinasi senapan Regu Khusus tersebut, mereka yang tersisa menjadi patuh dan tidak bisa memberontak.


 


 


Salah satu bawahan Di’in melapor, “Letnan, persiapan selesai. Kita bisa memulai Misi Khusus 784-01 ini!”


 


 


“Hmm, kita akan memulainya. Perintahkan yang lain untuk membereskan perlengkapan dan tenda kita.


 


 


“Siap!”


 


 


Misi 784 merupakan sekumpulan misi yang diberikan kepada regu campuran tersebut untuk melakukan mata-mata dan sabotase pada Felixia. Sabotase yang dilakukan ada dua jenis, yaitu pengurangan kekuatan militer dan mengganggu kegiatan politik Felixia yang sedang rapuh.


 


 


Segera mempercepat persiapan, Di’in merakit kembali senjatanya dan memasukkan masukan megazen penuh amunisi. Menarik pengaman dan memasukan peluru ke dalam selongsong, ia mencangking senapan Springfield dan berjalan ke arah para bandit. Di belakang Letnan perempuan tersebut, para bawahan yang berasal dari fraksi yang sama mengikuti sembari membawa senapan mesin ringan Beretta 38a dengan amunisi 9mm.


 


 


Menatap rendah para bandit, Di’in  lantang memerintah, “Berikan perwakilan kalian! Aku ingin bicara!”


 


 


Para bandit melihat satu sama lain. Sebagian ada yang terlihat gentar dan sebagian lagi memasang wajah tak peduli, namun tidak ada satu pun yang maju ke depan sebagai perwakilan. Di’in membunyikan lidah, merasa kesal dan mengangkat tangan kenan sebagai tanda untuk bawahannya.


 


 


Dua Sersan di belakang Di’in langsung menodongkan senapan mesin ringan, benar-benar berniat menembak. Para bandit sadar, mereka serius dan tidak sedang menggeretak atau semacamnya. Mengingat rekan-rekan mereka yang berusaha melawan dan binasa dihujani timah panas, para bandit saling menyalahkan dan mendorong.


 


 


“Sialan, kau maju sana ...!”


 


 


“Kau saja! Kenapa aku ...?!”


 


 


“Bangsat ..., maju sana ....!”


 


 


“Tch! Kau s—!”


 


 


Dor!!


 


 


Suara tembakan melenting di tengah hutan pagi-pagi buta, membuat burung-burung beterbangan. Itu bukan tembakan peringatan, tepat mengarah pada kepala salah satu bandit dan membunuhnya. Bandit yang ditembak acak tersebut ambruk, darah dari lubang di keningnya membuat para rekannya gemetar. Jumlah bandit menjadi 19 orang dari awal saat mereka diselamatkan 67 orang lebih.


 


 


Para bandit itu memang punya pilihan langsung kabur daripada menunggu ditembak. Namun ada beberapa rekan mereka yang melakukan itu dan juga berakhir diberondong timah panas, pengawasan Regu Khusus itu benar-benar memperlakukan para bandit tersebut sebagai tawanan yang sama sekali tidak masalah untuk dibunuh.


 


 


Salah satu bandit maju ke depan dengan gemetar, lalu berkata, “Aku  ... Kolt Luis, pemimpin sisa-sisa bandit ini. Apa yang ingin kau bicarakan?”


 


 


Kolt Luis adalah seorang pria usia 41 tahunan, memiliki rambut cepak berwarna cokelat dan kornea mata kebiruan. Ia memiliki postur tubuh tinggi dan tidak terlalu kekar, seorang ahli senjata belati dan sihir air.


 


 


Di’in tanpa basa-basi, menodongkan senapannya dan memerintah, “Mulai sekarang kau dan anak buahmu harus ikut rencana sesuai perjanjian. Kita akan menyerang pemukiman suku Klista siang ini!”


 


 


“Ke-Klista?” Bandit itu panik, melangkah maju dan gentar bertanya, “Kenapa kalian menyerang suku itu? Bukannya mereka juga dianggap suci di Moloia?”


 


 


“Diamlah!” bentak Letnan. Itu membuat Kolt gentar dan melangkah mundur. Menodongkan moncong senjata, sekali lagi Letnan Dua itu menegaskan, “Ingat ini bandit, kau bisa hidup karena kami! Kami bersedia menampung para penjahat seperti kalian dengan satu syarat, patuhi kami! Lalu kami akan memberikan tanda penduduk Moloia pada yang kalian selamat!”


 


 


“Itu tidak sepadan! Kau membunuh banyak—!!”


 


 


Dor!


 


 


Di’in menarik pelatuknya. Peluru yang melesat menyerempet pipi pemimpin bandit tersebut, lalu mengenai rekan yang ada di belakangnya. Kepala bandit yang terkena tembakkan hancur, tulang tengkorak pecah bersama isi otak yang terpencar mengenai rekan-rekannya. Tubuh dengan kepala hancur tersebut pun ambruk ke tanah, diikuti keheningan para bandit yang gemetar dan mulai merasa hidup mereka seperti ternak.


 


 


Menarik tuas, Di’in mengeluarkan selongsong peluru yang kosong dan mengisinya kembali. Menodongkan senapannya ke arah pemimpin bandit tersebut, ia memperingatkan, “Kalau begitu, mau mati di sini sekarang juga? Kau tahu, bandit .... Kalian sudah tidak punya pilihan. Salahkan saja takdir kalian, dasar sampah!”


 


 


“Ini ... terlalu. Apa kalian tidak punya rasa kasihan?!”


 


 


“Huh?! Bandit menuntut belas kasih? Konyol sekali!” Di’in menatap rendah dan menurunkan senjatanya, segera berbalik dan memberikan tanda para bawahan lainnya untuk bersiap menggiring para bandit tersebut. Sedikit menoleh, ia menegaskan, “Terserah mau ikut atau tidak. Tapi ... kalau kalian tak  ikut, akan kami pastikan kalian kutinggal di sini dalam bentuk mayat. Mengerti?”


 


 


Mereka hanya bisa gemetar. Pria-pria yang tadinya selalu hidup dengan angkuh dan menindas orang lain merasakan posisinya berubah. Kali ini mereka sadar apa yang dirasakan para penduduk desa yang pernah mereka bantai, dalam ketidakberdayaan dan penuh ketakutan yang bersampur dengan kebencian.


 


 


Tanpa bisa melawan sama sekali, para bandit tersebut hanya bisa patuh berjalan mengikuti rencana dengan todongan senjata di belakang yang siap menembak mereka kapan saja.


 


 


««»»


 


 


Matahari mulai terbit, sinarnya masuk melalui sela-sela dedaunan pohon cemara dan memapar wajah pemuda rambut hitam tersebut. Membuka matanya dari tidurnya di atas kain dekat kayu api unggun yang telah menjadi arang, ia segera bangun dan duduk dengan tatapan datar. Sekilas kornea matanya berubah hijau, mengalasis dan memuat ulang beberapa fungsi tubuh yang dimatikan.


 


 


Menarik napas dalam-dalam dan mengembalikan kesadaran secara penuh, Odo melirik ke arah Vil dan Canna yang tidur di sebelahnya. Kedua perempuan itu masih lelap, belum ada tanda-tanda akan bangun. Mengamati cara tidur mereka yang sangat rapi, sekilas pemuda itu membandingkan Nanra dengan mereka berdua.


 


 


“Huh, kurasa memang tak perlu dibandingkan sama si gadis barbar itu. Orang yang sok berpendidikan dan orang berpendidikan asli memang berbeda.”


 


 


“Hmm, kira-kira siapa yang kamu maksud?”


 


 


Odo tidak terkejut mendengar suara itu. Menoleh, dirinya melihat Nanra yang telah bangun dan terlihat rapi. Rambut putih gadis tersebut sedikit basah, mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin-kemarin. Odo sudah tahu kalau gadis rambut putih tersebut sudah bangun dan sengaja mengatakan hal tersebut untuk menyindirnya.


 


 


“Habis mandi? Apa ada sungai di dekat sini?”


 


 


“Tidak ada, aku tidak mandi. Ini ... hanya menggunakan embun pada dedaunan untuk membasahi wajah dan mulut.”


 


 


“Ho’oh, begitu, toh. Kau ternyata tahu cara mandi tanpa harus mencari sungai atau mata air, ya.”


 


 


“Hmm, aku tahu dari informasi yang kamu berikan padaku, loh.”


 


 


Odo bangun, merentangkan kedua tangan dan meloncat-loncat kecil untuk meregangkan tubuh yang kaku. Selesai sedikit memanaskan tubuh, pemuda itu menatap datar Nanra dan berkata, “Ngomong-omong, apa kau baik-baik saja? Kondisimu prima? Mungkin, hari ini akan ada pertumpahan darah.”


 


 


“Per—?! Maksudmu, kamu akan membunuh orang, Odo?”


 


 


Nanra menatap datar. Gadis itu paham kalau ikut rencana pemuda itu memang akan seperti ini, tidak semua yang akan dilakukannya benar. Namun, dalam benak dirinya merasa ada sesuatu yang bisa dibenarkan dan membuatnya tetap berdiri di dekat Odo.


 


 


“Kasarnya, paling tidak tata perkataanmu. Itu terdengar seperti aku suka membunuh. Asal kau tahu, selama ini aku tak pernah membunuh karena ingin, tapi harus.”


 


 


“Itu ... tidak ada bedanya, bukan?” Nanra memalingkan pandangannya dari Odo, menatap ke arah pepohonan dengan remang cahaya masuk melalui dedaunan. Suasana hening terasa, angin berhembus ringan dan masuk melalu sela pakaian mereka berdua. Kembali menatap pemuda itu, Nanra berkata, “Apapun dalihnya, kita tetap akan membunuh dan berbuat jahat.”


 


 


 


 


“Tidak juga. Hanya saja ... ini terasa aneh. Kenapa tubuhku tidak bisa berhenti gemetar? Kenapa tubuhku panas dari dalam? Aku  ....”


 


 


“Entahlah, mungkin kau tak sabar?”


 


 


“Tak sabar? Wajarnya kamu berkata takut atau cemas, bukan? Kenapa malah kata it—?”


 


 


“Yang menumpahkan darah aku,” potong Odo.


 


 


Nanra sesaat terdiam mendapat tatapan tajam darinya. Ia mengerti maksudnya. Sebelum Nanra sempat membantah atau beralasan, Odo kembali berkata, “Yang melakukannya bukan kau. Lagi pula, apa kau bisa membunuh orang? Melawan monster saja tidak bisa apa-apa. Asal kau tahu, membunuh monster puluhan monster itu lebih mudah daripada membunuh satu orang petani.”


 


 


“Hah? Tidak logis .... Kenapa bisa sepetri itu?”


 


 


“Membunuh sesama itu lebih berat. Manusia, makhluk berakal dan berperasaan memang selalu seperti itu. Saat menyembelih ternak dan memakan dagingnya mereka tidak akan merasa bersalah dan menganggap itu wajar. Namun saat membunuh sesama dan melakukan hal seperti itu, mereka akan bilang kanibal atau tidak manusiawi.”


 


 


“Tentu saja  .... Itu ....”


 


 


“Itu apa?”


 


 


“Tidak .... Kamu benar, Odo.”


 


 


“Hah, sudahlah. Ayo kita turunkan tendanya dulu, biar kalau mereka bangun kita tinggal berangkat.”


 


 


“Odo! ngomong-omong ... kenapa kamu tidur di luar?”


 


 


“Eng, ini salahmu.”


 


 


“Eh?”


 


 


Vil telah terbangun sejak pembicaraan mereka dimulai. Mendengar langkah kaki kedua orang itu menjauh, perlahan Roh Agung tersebut membuka matanya dengan sorot mata datar. Apa yang dikatakan Odo memang sangatlah tepat, makhluk berakal memang selalu seperti itu. Mereka cenderung akan lebih dekat dengan sesama dan menganggap ras selain mereka itu berbeda.


 


 


Itu wajar menurutnya sendiri. Seperti halnya dirinya menganggap para manusia tidak lebih dari makhluk berjangka hidup pendek. Selain Mavis, Vil tidak pernah memikirkan makhluk lain di Dunia Nyata, namun itu hanya sebelum dirinya semakin dekat dengan pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Vil dengan lirih berkata, “Apa ... kamu juga menganggapku tidak lebih dari binatang atau tumbuhan? Karena ras kita berbeda dan diriku seorang Roh Agung ....”


.


.


.


.


 


 


Selesai membereskan tenda serta merapikan barang-barang, Odo memasukkan semua itu ke dalam Gelang Dimensi. Beberapa alat masak seperti panci berisi masakan sisa tadi malam dirinya tidak masukkan, itu akan menjadi sarapan mereka sebelum berangkat.


 


 


Duduk di dekat api unggun yang dinyalakan kembali, Odo menata batu dan kayu untuk meletakkan panci dan memanaskan masakan sisa tersebut. Vil duduk di sisi lain bersama Canna, menatap datar pemuda rambut hitam tersebut yang duduk bersebelahan dengan Nanra.


 


 


Merasakan tatapan cemburu, Odo hanya memasang ekspresi datar sembari mengaduk sup dan mempersiapkan roti yang diambil dari Dimensi Penyimpanan. Suasana yang terasa berat membuat keheningan, hembusan angin pagi dan paparan sinar mentari seakan tidak mencairkan suasana tersebut.


 


 


Menatap datar Vil, Odo bertanya, “Kenapa menatap sinis begitu? Kau juga Canna, kenapa ikut-ikutan?”


 


 


Vil ketus menjawab, “Enggak ada apa-apa, kok.”


 


 


“Hmm, enggak ada apa-apa ,” sambung Canna.


 


 


Bukan hanya Odo yang sadar sikap aneh mereka berdua, Nanra yang biasanya tidak memedulikan hal semacam itu sampai peka dan bertanya, “Apa ... kalian cemburu?”


 


 


Pertanyaan itu bagaikan menyiram api dengan minyak tanah, membuat rasa benci kedua orang itu semakin membara. Beralih cepat memberi tatapan permusuhan kepada Nanra, mereka berdua tidak menjawab. Bulu kuduk gadis rambut putih itu langsung berdiri, merinding takut dan segera mendekat ke Odo untuk bersembunyi di belakangnya.


 


 


“O-Odo .... Mereka ....”


 


 


“Kenapa sih kalian berdua?” tanya Odo heran.


 


 


““Enggak apa-apa!”” Vil dan Canna berkata dengan kompak.


 


 


Odo hanya bisa tersenyum kaku tanpa bisa melakukan apa-apa pada atmosfer yang ada di antara mereka. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut berhenti mengaduk sup dan sedikit memalingkan pandangannya ke dalam hutan.


 


 


Kornea matanya sekilas berubah hijau, menganalisis informasi yang ada dan melakukan kalkulasi secara cepat. Memejamkan mata dan kembali membukanya, Odo mendapat kesimpulan bersama dengan kornea matanya yang kembali menjadi biru.


 


 


“Mereka juga ada di sekitar tempat ini, ya.”


 


 


Nanra, Vil, dan Canna yang mendengar itu merasa heran. Kalimat tersebut keluar pada momen yang sangat tidak tepat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menanyakan tentang hal tersebut, rasa penasaran tetap menjadi rasa penasaran sampai menghilang dari benak.


 


 


Odo segera bangun, menatap ke langit untuk mengecek sesuatu. Wajahnya langsung terkejut seakan menyadari sesuatu, membuat mereka bertiga ikut panik melihat ekspresinya. Nanra bangun, memegang lengan kemeja Odo dan bertanya, “Ada apa? Kenapa memasang wajah seperti itu?”


 


 


“Kenapa ..., Odo? Apa ada sesuatu?” tanya Vil.


 


 


Canna segera mengambil tongkat sihirnya dan bangun, mengaktifkan Inti Sihir dan memukulkan ringan ujung tongkat ke permukaan tanah untuk menyebarkan sihir pendeteksi kehidupan dalam jangkauan lebih dari dua kilometer. Gelombang seperti sonar terpancar dalam bentuk getaran tongkat, menyebar dan memberikannya informasi tentang jumlah makhluk hidup yang terdeteksi. Tidak merasakan apa-apa kecuali kehidupan para binatang, tumbuhan, dan beberapa monster, itu malah menambah rasa cemas Canna.


 


 


“Tidak ada yang aneh .... Memangnya ada apa, Tuan Odo?” Canna bertanya.


 


 


Odo berhenti mendongak, menyeringai lebar dengan ekspresi bagaikan seekor iblis yang baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Itu membuat mereka bertiga gemetar, sedikit takut pada pemuda yang mereka andalkan tersebut.


 


 


“Ah, maaf ....”


 


 


Odo sadar telah menakuti mereka. Segera membuang ekspresi tersebut, ia memasang wajah ramah dan berkata, “Aku hanya mendapat info menarik. Ini, getaran dan aroma ini, tidak salah lagi punya mereka. Di hutan seperti ini tidak ada yang membawa bubuk mesiu sebanyak ini selain mereka.”


 


 


“Odo, apa yang kau katakan? Aroma? Mesiu? Aku tidak mencium aroma seperti itu,” ucap Nanra.


 


 


“Ah, tentu saja kau tidak menciumnya. Aku juga tidak menciumnya langsung.”


 


 


Mereka bertiga terkejut, perkataan tersebut sangat bertentangan. Vil semakin merasa ada yang aneh dengan kemampuan khusus Odo tersebut, Canna mulai paham kalau kekuatan yang pemuda rambut hitam itu gunakan memang benar-benar milik sang Raja Iblis.


 


 


Tidak seperti Canna dan Vil, Nanra menggenggam kerat tangan kanan Odo. Meski sarung tangan menghalangi, pemuda rambut hitam tersebut bisa merasakan Nanra gemetar. Menatap ringan dirinya, Odo menjelaskan, “Tak perlu cemas, ini salah satu kekuatanku. Aku bisa meminjam persepsi binatang yang bisa pernah kupasang kekuatanku.”


 


 


Menatap ke arah Vil dan Canna, Odo kembali berkata, “Kalian pasti pernah melihatku menyentuh hewan dan melepaskannya, ‘kan? Itu salah satu prosedur pengaktifan kekuatanku.”


 


 


“Terus apa maksudmu menarik? Kenapa ... sampai-sampai menyerangi seperti itu?” tanya Vil


 


 


“Ah, itu. Hmm, sepertinya orang-orang Moloia ada di hutan ini. Aku punya alternatif lain kalau bandit yang kita cari tidak ketemu-ketemu.”


 


 


Perkataan itu sentak membuat Nanra, Canna, dan Vil terbelalak. Mereka gemetar dan tidak mengerti kenapa bisa Odo dengan yakin mengatakan hal seperti itu. Mereka tahu pemuda itu bukanlah tipe orang yang suka membuat kebohongan tak berguna atau bergurau semacam itu. Menelan air liur dalam mulut dengan berat, dengan enggan mereka harus mempercayai perkataannya.


 


 


Tersenyum ringan seakan tidak ada masalah, Odo mengacungkan jari telunjuknya ke depan mulut  dan berkata, “Tenang saja, ini mungkin akan menjadi lebih mudah daripada cari sana sini gak jelas. Yah, meski pertumpahan darah tidak bisa dicegah, namun kurasa ini pilihan paling baik.”


 


 


Setelah itu, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan apa yang dirinya telah ketahui melalui salah satu indra binatang yang dirinya tanami kekuatannya. Mereka bertiga hanya bisa terdiam, tanpa bisa menyangga tiap-tiap kalimat yang keluar dari mulut Odo yang terdengar sangat meyakinkan.


 


 


Memang Odo sering menggunakan kata ‘mungkin’ saat berbicara, namun rencana tersebut tidak terdengar meragukan sama sekali dan malah hal yang disebutkannya tersebut adalah hal yang paling masuk akal dan paling mungkin terjadi.


 


 


\==============


Catatan:


Tambahan nanti nyusul sepertinya