
Ordoxi Nigrum. Di dapur toko baru yang terletak pada distrik perniagaan tersebut, Odo berkumpul bersama Elulu dan Isla untuk membalas soal alat-alat masak yang akan mereka gunakan nanti. Kedua perempuan itu sudah pernah memasak di dapur tersebut kemarin untuk makan malam semua orang yang menginap, namun alat yang digunakan hanyalah kompor dan wajan saja untuk memasak daging dengan kaldu susu.
Ruangan dapur sendiri tidak terlalu luas, hanya mencangkup sepertiga keseluruhan lantai satu toko. Pada sebelah kanan meja Counter untuk menerima pesanan, terdapat pintu untuk menuju dapur. Pada tempat tersebut terdapat meja masak berbentuk huruf L di sudut dengan dua kompor yang menyatu dengan meja, lemari untuk menyimpan bumbu menempel pada dinding di atas meja dapur, sebuah corong logam di atas kedua kompor untuk mengarahkan asap, dan beberapa alat-alat masak lainnya. Desain tersebut cukup mirip dengan dapur di Mansion keluarga Luke, namun terkesan lebih minimalis mengingat tempat yang digunakan cukup sempit.
Berdiri di depan Elulu dan Isla, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Apa kalian sudah tahu cara menyalakan kompornya?”
Elulu membungkuk ke arah meja kompor, lalu menyentuh salah satu kenop yang ada pada bagian depan meja dapur sembari berkata, “Putar ini, ‘kan?” Perempuan yang mengenakan gaun hijau dengan rangkap celemek putih itu memutarnya, lalu menyalakan api kompor.
“Tepat ....” Odo mendekat, lalu menunjuk salah satu kenop kuning keemasan tersebut sembari berkata, “Tapi ingat, jangan menyalakannya terlalu besar. Kau lihat ada garis dan nomornya, bukan? Nyalakan sampai dua atau tiga saja.”
“Hmm?” Elulu memutar kenop dan mematikan kompor. Menatap sedikit heran, perempuan rambut cokelat kepirangan itu bertanya, “Memangnya kenapa? Kompor ini mirip dengan alat pemanas air yang sering digunakan penyihir Miquator, ‘kan?”
“Kau tahu alat itu, ya?”
“Hmm, saya pernah bertamu sekali ke Lokakarya penyihir di distrik pengrajin.”
Sekilas Odo terdiam, menatap datar perempuan di sebelahnya tersebut karena tahu kalau dirinya pergi ke tempat seperti itu untuk membuntuti. Merasa kalau hal tersebut sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi, pemuda rambut hitam itu kembali menjelaskan, “Alasannya karena kompor ini fungsinya berbeda ....”
Odo berjongkok di depan meja kompor, lalu membuka pintu meja yang ada di bawah kenop untuk menyalakan kompor. Itu memang terbuat dari kayu yang dipoles mengkilat, namun pada sisi lainnya terdapat lempengan besi kekuningan dan di bagian dalamnya bukanlah tempat untuk penyimpanan. Itu memang seperti lemari kecil dengan semua sisinya terbuat dari besi, tetapi ada sebuah struktur sihir unik pada permukaannya dan belasan bola kaca kecil menggantung kedua sisi lemari meja tersebut.
“I-Ini ... apa, Tuan?” tanya Elulu heran.
“Alat untuk memanipulasi suhu menggunakan sihir api, air, dan udara .... Singkatnya, tepat pemanggangan atau bisa disebut juga oven.”
Perempuan itu terlihat bingung mendengar jawaban seperti itu. Ikut berjongkok di sebelah Odo, ia mengamati dan memang merasa kalau itu mirip dengan tempat pemanggangan. Menunjuk bola-bola kristal yang ada di dalamnya, Elulu bertanya, “Sebenarnya kaca itu apa? Di kamar mandi juga ada, kalau kolamnya hampir habis itu mengeluarkan air dengan sendirinya. Apa itu alat sihir juga?”
“Memang alat sihir ....” Odo bangun, menunjuk kenop di atas pintu oven yang berjumlah tiga dan berkata, “Dua yang berwarna kekuningan ini untuk mengatur api kompor, lalu yang terpisah warna metalik ini untuk mengatur suhu ovennya. Sebenarnya aku ingin membuat pintunya dengan kaca supaya bagian dalamnya bisa diperiksa, tapi kaca yang tahan perubahan suhu ekstrem katanya tidak bisa para Dwarf itu buat.”
Elulu ikut berdiri, menatap heran dan menunggu Odo menjelaskan tentang alat sihir tersebut. Sadar dengan tatapan penasaran tersebut, Odo menghela napas dan berkata, “Alat sihir itu berfungsi untuk memanipulasi suhu, gas, tekanan, dan energi. Kondisi sinkron semua itu memaksimalkan semua alat di dapur ini.”
Meski telah diberitahukan, Elulu masih terlihat bingung dan tidak mengerti. Lebih parah dari perempuan tersebut, wanita Demi-human, Isla, hanya memasang wajah bengong dengan sedikit mengantuk. Sadar kalau mereka berdua memang tidak tahu menahu soal sihir atau alat-alat semacam itu, Odo memutuskan untuk tidak menjelaskan lebih lanjut soal itu dan fokus.
Pemuda rambut hitam tersebut menghadap ke lemari meja di sebelah oven, lalu berjongkok di depannya dan membuka itu. Saat gagang besi ditarik dan pintu lemari kecil itu dibuka ke samping, hawa dingin seketika terpancar keluar dan membuat Elulu menggigil.
“I-Ini .... Dinginnya, di dalam sana ....”
Perempuan itu terlihat penasaran, melongok ke dalam lemari yang ukurannya tidak lebih dari 1 x 1 meter tersebut. Saat tahu ada salju dan es di dalamnya, kedua mata Elulu terbuka lebar dan dengan semangat bertanya, “Ini juga sihir?”
“Hmm ....” Odo mengangguk, menoleh ke arah Elulu dan menjawab, “Hampir semua alat sihir di tempat ini terhubung sih lebih tepatnya.”
“Eng?”
Elulu terlihat tidak paham dengan itu. Memalingkan pandangan dan mengingat-ingat perkataan salah satu Dwarf yang pernah datang ke toko, perempuan itu berkata, “Kalau tidak salah, orang dari Serikat Kurcaci Merah pernah bilang kalau tempat ini penuh dengan kombinasi formula sihir atau semacamnya.”
“Yah, kurang lebih semacam itu.” Odo bangun, menunjuk kenop berwarna metalik yang terletak cukup jauh kenop lain dan berkata, “Ini untuk mengatur suhu lemari pendingin ini. Kau tahu untuk apa fungsinya, ‘kan?”
“Pendingin ...?” Elulu memalingkan pandangan dan berpikir. Memasang wajah terkejut saat menyadari sesuatu, ia dengan jelas berkata, “Ah! Untuk menyimpan bahan makanan? Seperti nelayan yang sering menyewa penyihir untuk membuatkan balok es saat berlayar!”
“Tepat ....” Sekilas menoleh ke arah Isla yang terlihat semakin mengantuk karena hawa dingin yang keluar dari kulkas, Odo menyipitkan mata dan menegur, “Jangan hibernasi, loh ....”
“Eh? Ma-Maaf ....”
Demi-human tipe kurang itu tersentak, segera mengusap kotoran matanya dengan lengan gaun cokelat yang dikenakan. Wanita rambut cokelat keemasan panjang sepunggung itu memang seperti itu karakteristiknya, bawahan dari unsur kukang membuatnya tidak bisa terlalu lama terus bangun.
Berusaha untuk tidak memedulikan hal tersebut untuk sekarang, Odo berjalan ke arah lemari di sebelah kulkas dan membukanya. Saat itu dibuka, hawa dingin terpancar dan pemuda itu berkata, “Ini juga lemari es, tapi fungsinya berbeda karena pengatur suhunya tidak ada. Khusus untuk menyimpan daging supaya tetap segar.”
Berbeda dengan oven dan kulkas, lemari pembeku itu berukuran lebih panjang sampai ke ujung meja dapur. Pada bagian dalamnya terdapat juga bola-bola kaca yang tersusun dalam formula sihir, berfungsi untuk menyerap suhu tinggi dan membuat suhu lemari turun sampai titik minus. Suhu yang diserap tersebut masuk ke dalam sirkuit yang ada di bagian belakang meja, lalu bisa digunakan kembali ke dalam Reaktor Sihir atau bisa juga untuk sumber panas dari oven.
Itulah yang disebut dengan sinkron dari alat-alat sihir, karena pada dasarnya semua alat sihir yang ada di toko tersebut dihubungkan oleh struktur sihir dengan sumber energi utama Reaktor Sihir yang terletak di basement. Pada dinding di balik alat-alat sihir semuanya terdapat sebuah benang dari batu kuarsa, berfungsi sebagai penghantar energi dan informasi bagi semua alat sihir.
Odo berdiri dan sedikit meregangkan tubuhnya. Melihat ke arah papan kayu yang menyatu dengan lantai, pemuda itu menyipitkan mata dan sejenak berpikir tentang Reaktor Sihir yang ada di ruang bawah tanah. Itu memang terlihat begitu praktis, namun dari semua susunan formula yang dibuatnya ada sebuah kekurangan fatal karena pergantian komponennya harus cukup sering dilakukan.
Menyadari ada sesuatu yang kurang dari dapur, Elulu bertanya, “Terus untuk bumbu taruhnya di mana?”
“Di atas,” ucap Odo seraya menunjuk ke arah lemari yang menggantung di atas meja dapur.
Di antara lemari, tepat di atas kompor terdapat corong untuk menyalurkan asap yang keluar saat memasak ke cerobong asap di luar. Baru paham kalau itu adalah lemari penyimpanan bumbu dan bukan untuk alat-alat dapur, Elulu mengangguk dan kembali bertanya, “Terus pisau dan semacamnya di taruh di mana?”
Odo memegang gagang kayu di ujung lain meja dapur berbentuk L itu, lalu menariknya keluar dari barisan dan menunjukkan rak dapur yang bisa digunakan untuk menyimpan alat-alat dapur dari pisau sampai piring. Rak dengan bahan utama kayu dan logam tersebut terdiri dari empat tingkat, memiliki bagian untuk menggantung alat masak di kedua sisi dan juga menyimpan piring pada raknya.
“Hmm, ternyata di situ ....” Elulu mengangguk ringan, berdiri dan menatap Odo dengan sedikit heran. Sekilas memalingkan pandangannya untuk melihat-lihat seisi dapur, perempuan itu bertanya, “Tapi, bukannya terlalu sempit? Ini sebuah toko, bukan? Kalau di penginapan Porzan dapurnya lebih besar dan piring lebih banyak.”
“Memang terlalu sempit, ya? Eng, aku juga merasa seperti itu. Nanti akan kupertimbangkan supaya piringnya ditaruh di tempat lain ....”
Odo memilih untuk tidak menjelaskannya lebih lanjut, bahwa sebenarnya piring adalah sebuah alat yang tidak terlalu dibutuhkan dalam tokonya karena sistem penjualannya sedikit berbeda dengan kebanyakan toko di kota Mytla. Berjalan ke arah sisi lain dari meja dapur berbentuk huruf L tersebut, Odo berkata, “Kalau ini, kau tahu cara kerja wastafelnya?”
“Oooh! Benar, itu!” Elulu terlihat sangat girang, segera mendekat dan menunjuk wastafel sembari berkata, “Saya sempat kaget kalau itu bisa mengeluarkan air dengan mudah! Rasanya enak dan segar lagi!”
“Eh?”
Odo terkejut dan langsung tahu kalau semua orang yang menginap di toko pasti menggunakan air keran mentah tersebut untuk minum. Memalingkan pandangan dan merasa kalau itu tidak masalah karena berasal dari perubahan Ether yang diperoses menjadi Mana lalu diubah menjadi air, pemuda rambut hitam itu sekilas terdiam.
“Kenapa diam, Tuan?” tanya Elulu.
“I-Iya .... Ini juga tempat untuk cuci piring.”
“Eng?”
Menghela napas dan mengacuhkan hal tersebut, pemuda rambut hitam itu kembali menjelaskan alat-alat dapur. Ia mengambil beberapa alat dari dimensi penyimpanan pada jubah, lalu meletakkan semua itu ke atas meja pada bagian untuk mengolah masakan di sebelah kompor. Melihat itu Elulu dan Isla mendekat karena penasaran, sebagian alat tersebut belum pernah mereka lihat sebelumnya.
“Pertama, ini alat penggiling daging manual,” ucap Odo sembari mengangkat alat penggiling dengan tuas putar tersebut. “Masukan daging pada corong ini, lalu putar supaya dagingnya bisa digiling,” jelasnya sembari memutar tuas.
“Hmm, saya paham cara kerjanya ....” Elulu menatap dekat alat tersebut, mengangguk dan kembali menjauh dengan ekspresi masih penasaran untuk melihat alat itu digunakan secara langsung nanti.
“Sungguh?”
“Sungguh ....” Perempuan itu langsung menatap alat-alat yang dikeluarkan Odo di atas meja, lalu dengan penasaran bertanya, “Kalau semua itu untuk apa?”
Melihat hasrat ingin tahu Elulu yang cukup tinggi, Odo merasa kalau perempuan itu punya potensi cukup tinggi untuk menjadi seorang penyihir. Memalingkan pandangan ke arah alat-alat yang ditunjuk perempuan itu, Odo kembali menjelaskan semuanya.
Alat-alat tersebut antara lain seperti penghalus bijih kopi, cetakan dadu es praktis, parutan dengan berbagai jenis lubang parut, alat kocok telur, berbagai macam bentuk spatula dan penjepit makanan, teko berukuran besar untuk menjaga suhu tetap tinggi, dan beberapa alat unik yang belum pernah Elulu atau Isla lihat sebelumnya.
Salah satu alat unik yang tidak pernah mereka temui di dapur adalah cobek dan ulekan batu yang biasanya ada di tempat penelitian seorang alkemis. Selain itu, ada juga blender manual yang secara mekanisme hampir sama dengan penggiling daging. Semua alat-alat tersebut tidak dibuat oleh Odo sendiri, namun para tukang di distrik pengrajin dengan dasar cetak biru yang dirinya berikan.
Setelah menjelaskan semua alat yang dikeluarkan Odo tersebut, sesaat suasana terasa senyap dan mereka terdiam membisu dengan bingung harus berkata apa. Alat-alat tersebut memang sangat sederhana jika dilihat kembali, namun mereka sama sekali tidak pernah membayangkan akan ada alat-alat praktis seperti itu di dalam dapur.
Mendapat tatapan dari pemuda itu, Elulu segera memalingkan wajahnya yang seketika memerah . Perempuan itu lekas mengalihkan pikiran dengan melihat sebuah alat yang menyatu pada meja tepat di sebelah bagian kompor dan oven. Sembari menunjuk alat tersebut, ia menatap Odo dan bertanya, “Tuan, kalau itu fungsinya untuk apa?”
Odo menatap ke arah alat berbentuk persegi yang terbuat dari logam tersebut. Itu menyatu dengan meja seperti kompor, namun sampai bagian bawah dan di pada bagian atas memiliki lubang persegi sampai 2/3 alat sedalam beberapa lebih dari 50 sentimeter. Sembari menggaruk bagian belakang kepala, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Itu Deep Fryer .... Alat untuk menggoreng, mekanismenya hampir sama dengan oven. Memanfaatkan panas untuk memasak. Kau bisa mengisinya dengan minyak goreng untuk menggoreng ....”
“Alat untuk menggoreng?”
Elulu mendekat ke alat tersebut, melihat ke dalamnya dan merasa kalau itu terlalu bayak volumenya nanti jika diisi dengan minyak goreng. Menoleh ke arah Odo, perempuan itu dengan penasaran bertanya, “Bukannya nanti boros kalau ukurannya sebesar ini?”
Odo kembali menghela napas, lalu pada akhirnya menjelaskan alat tersebut dan memberitahukan untuk apa itu digunakan nantinya. Butuh waktu lama untuk menjelaskan hal tersebut karena itu bisa dikatakan benar-benar baru. Selesai menjelaskan alat tersebut, sekilas Elulu dan Isla termenung dengan wajah tidak percaya kalau mereka akan menjadi yang pertama kali memakai alat-alat unik yang ada di dapur nanti setelah Odo sendiri. Isla memang tidak terlalu tahu betapa hebatnya itu, namun Elulu dengan jelas paham kalau alat-alat tersebut pasti menjadi perkembangan pesat pada bagi ranah dapur kelak.
“Pak Porzan yang sudah puluhan tahun di dapur saja tidak pernah bisa membuat alat masak baru,” benak Elulu dengan tatapan bengong. Membuat inovasi alat masak adalah sebuah hal yang lebih luar biasa daripada membuat masakan baru, karena munculnya alat masak baru sama saja dengan membuat potensi luas dari lahirnya berbagai macam jenis masakan baru.
Odo berbalik dari kedua perempuan itu, lalu menginjak papan penutup kayu yang ada di tengah dapur dan berkata, “Kalau begitu, aku turun ke basement dulu. Ada sesuatu yang perlu aku cek di bawah.”
Suara gerigi-gerigi yang bergeser terdengar nyaring. Papan terdorong beberapa sentimeter ke bawah, mengaktifkan mekanisme yang ada pada pintu bawah tanah itu. Saat pemuda rambut hitam tersebut mengangkat kaki kanannya, seketika kunci yang menahan pintu pada lantai tersebut terbuka dan dengan sendirinya papan pintu tersebut terangkat ke atas. Di bawah dengan jelas terlihat anak tangga kayu yang mengarah ke dalam basement.
“Eh? Ah .., iya.” Elulu menggelengkan kepalanya, berusaha berhenti bengong setelah mendapat penjelasan-penjelasan Odo secara lisan.
Menoleh ke arah perempuan rambut cokelat keemasan terseut, Odo dengan ringan berkata, “Meski kalian punya wewenang di dapur, tapi aku sarankan kalian tak perlu masuk ke ruang bawah tanah ini.”
“Eh?” Elulu terlihat bingung, lalu dengan penasaran bertanya, “Bukannya gudang di bawah? Kalau nanti butuh bahan masakan, kita harus bagaimana?”
“Ini bukan gudang. Gudangnya ada di loteng .... Bilang saja ke Matius atau Totto nanti untuk membawakannya.”
Setelah melontarkan perkataan tersebut, pemuda itu melangkahkan kaki menuruni anak tangga dan turun ke basement. Meninggalkan Elulu dan Isla yang masih terlihat bingung, dengan sendirinya mekanisme pintu ruang bawah tanah itu aktif dan tertutup kembali.