Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 30: Apa yang selalu ia lakukan .... (Part 02)



 


 


 


Perlahan membuka matanya, Odo merakan pegal pada leher karena jatuh dalam posisi yang salah. Bangun dari atas lantai dan membaringkan tubuh di ranjang, anak rambut hitam itu kembali memikirkan pembicaraannya dengan Seliari. Hilangnya rasa angkuh membuat Odo merasa benar kalau sihir Spekulasi Persepsi adalah sebuah kecurangan besar dalam kehidupan.


 


 


“Sehebat apapun seseorang, mereka hanya diberi kesempatan satu kali. Ia tidak akan tahu kalau dirinya benar dan akan berhasil sebelum mencoba, tetapi ... dengan struktur sihir ini aku bisa dengan bebas melihat apa yang akan aku lakukan sesuai harapan atau tidak .... Itu ....”


 


 


Itu sama saja seperti mendapat kesempatan lebih dari satu kali, itulah apa yang dirasakan Odo. Duduk di pinggir ranjang, anak itu mengingat kembali kejadian dan momen saat dirinya ditusuk dari belakang oleh Nanra. Itu diluar harapannya, sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak masuk dalam penerangannya. Kekurangan dari sihir tersebut adalah tidak bisanya memprediksi sesuatu yang belum Odo pahami atau ketahui.


 


 


Hal seperti fraksi yang ingin memberontak dan orang-orang dari Kerajaan Moloia bukanlah sesuatu yang Odo ketahui, karena itulah Spekulasi Persepsi tidak aktif sebagai bentuk pertahanan dan kejadian itu terjadi. Memang itu bisa diaktifkan secara manual, tetapi tetap saja Odo harus melakukan pembicaraan dengan seseorang yang berkaitan dengan kalkulasi untuk dapat menerawang pilihan yang ada.


 


 


“Apa sihir seperti ini benar-benar membuatku angkuh?” gumam Odo dengan ragu.


 


 


Mengganti kemejanya dengan pakaian tunik yang disediakan Fiola, anak itu kembali duduk sila di atas ranjang. Menarik napas dan berusaha menenangkan diri, ia mengaktifkan Spekulasi Persepsi secara manual dan melakukan kalkulasi. Dengan cepat pikirannya bergerak dan melakukan apa yang hendak dilakukannya.


 


 


Dalam pikirannya, ia berjalan keluar dan berpapasan dengan Nanra di lorong. Hendak berbicara dengan gadis itu dengan niat ramah, sebuah pertengkaran besar malah terjadi dan itu berakhir dengan Nanra satu arah memukuli Odo. Siska dan Fiola datang dua menit kemudian, memisahkan mereka dan pada akhirnya Fiola menjadi sangat benci pada gadis berambut putih tersebut karena menganggap sifatnya tidak tahu diri.


 


 


Odo kembali dari pikiran setelah merasakan kejadian dalam kepalanya tersebut. Amarah Nanra benar-benar masih terasa, pukulan yang dihantamkan sekuat tenaga masih terasa jelas oleh anak lelaki itu. Memegang dada yang berdenyut sakit, ia tersenyum miris dan paham betapa angkuh dirinya dulu saat tidak memahami apa yang dianggapnya remeh itu.


 


 


“Ah, benar juga. Kalau aku menganggap ini hal sepele, memang aku sangat angkuh dan tidak tahu diri .... Rasanya sakit ..., ini sakit sekali.”


 


 


Ia terdiam sesaat, memasang wajah muram dan tatapan kosong. “Auto Senses! Apa kau mendengarku?” ucap Odo tiba-tiba.


 


 


“Hmm, dari tadi diriku selalu mendengarmu ...,” suara menggema dalam kepala anak rambut hitam itu. “Apa kau marah atas tindakanku?” lanjut suara itu dengan volume rendah.


 


 


“Marah? Hah, sayangnya aku sudah tidak cukup angkuh untuk memarahimu. Tapi ... paling tidak beritahu padaku  alasanmu .... Kenapa kau melakukan itu?”


 


 


“Itu prioritas .... Alasan keberadaanku adalah untuk melindungimu apapun caranya, meski itu harus menentang kehendakmu sekalipun. Karena itu ... diriku menghasut Putri Naga itu dan membujuknya untuk mengubah strukturnya.”


 


 


Mendengar alasan dari suara dalam kepalanya tersebut, Odo sekilas tersenyum miris. Membaringkan tubuh ke atas ranjang, anak itu berkata, “Jadi benar bukan kamu yang mengaksesnya, ya. Dia asli bisa merombak strukturku dari dalam ..., seramnya.”


 


 


“Struktur itu ada di atas pembangun keberadaanku. Sama halnya seperti kebanyakan orang tidak bisa melihat punggung mereka sendiri, aku juga tak bisa mengubah sesuatu yang tidak bisa dengan jelas kulihat,” jelas Auto Senses.


 


 


“Ha ha.” Odo tertawa kering. Tersenyum tipis, ia berkata, “Aku juga tidak bisa melihat punggungku sendiri tanpa cermin atau alat. Jadi ..., karena itu kau menggunakan Putri Naga sebagai cermin, ya?”


 


 


Auto Senses tidak menjawab, perkataan Odo sangat tepat. Mengetahui kalau sihir tersebut bisa melakukan hal seperti menghasut dan membujuk, anak itu semakin merasa ada yang aneh pada salah satu sihir ciptaannya itu. Memejamkan mata, ia berkata, “Jangan-jangan kau itu Mother yang disebut-sebut A.I dari Moloia itu? Ha ha, mana mungkin, sih!”


 


 


Sihir pertahanan terakhir itu tidak menjawab, sama sekali tidak terdengar suara dalam kepala Odo. Tetapi saat Odo hendak bertanya kembali, dalam kepalanya kembali terdengar suara, “Jangan-jangan kau menganggapku mirip seperti A.I itu?”


 


 


“Hmm, sedikit.”


 


 


“BUKAN!” suara berdengung keras dalam kepal Odo.


 


 


“Berisik.”


 


 


“Aku adalah dirimu, sudah kubilang saat pertama kali, bukan?” ucap Auto Senses dalam kepala Odo.


 


 


“Maaf, aku tidak percaya. Aku tidak pernah memiliki sifat sepertimu. Terlebih lagi, kau ini seperti perempuan. Mana mungkin kau adalah aku ....”


 


 


“Sepertinya diriku salah menjelaskan .... Aku adalah dirimu, tetapi bukan dirimu .... Kita adalah satu, tetapi bukan tunggal. Kira-kira seperti itu kondisi kita ...,” jelas Auto Senses.


 


 


“Hmm, bagai pinang dibelah dua?” canda Odo.


 


 


“Perumpamaan itu kurang tepat .... Kita itu ... mirip seperti koral, tidak secara fisik tapi semacam jiwa dan kepribadian,” balas Auto Senses dalam kepala Odo dengan nada rendah.


 


 


“Koral? Apa maksudnya?”


 


 


“Reproduksi aseksual. Tercipta dari salinan kepribadianmu, tetapi bukan dirimu. Semacam itu,” jelas Auto Senses.


 


 


“Tunggu! Aku berarti semacam orang tuamu?” tanya Odo bingung.


 


 


“Ya, itu juga bisa dikatakan tepat,” ucap Auto Senses.


 


 


“Terserahlah .... Tapi ... jujur kalau kau melakukan hal seperti ini lagi, aku pasti akan menghapusmu secara paksa”


 


 


Sihir pertahanan terakhir itu terdiam, ia dengan jelas menangkap maksud Odo dan merasakan kemarahannya secara langsung. Auto Senses ada di dalam anak itu, karena hal tersebut segala sesuatu yang dirasakan anak itu juga dirasakan olehnya. Mereka bisa dikatakan saling berbagi sampai secara penuh.


 


 


Mendengar suara, “Hmm,” dalam kepala, Odo paham kalau sihir pertahanan terakhir itu menangkap maksudnya. Sesaat terdiam, ia segera duduk di ujung ranjang dan dalam benak menganggap masalah itu selesai untuk sekarang


 


 


Bangun dari atas ranjang dan berjalan keluar dari kamar, Odo melewati ke lorong dengan pencahayaan lentera minyak redup. Memilih arah yang berbeda dengan apa yang terjadi dalam kalkulasinya untuk menghindari Nanra, anak itu berjalan menuju tempat Siska dan Fiola yang dirinya lihat dalam kalkulasinya. Sampai di ruang depan dekat pintu utama, anak itu melihat biarawati berambut pirang tersebut sedang berbicara dengan Fiola.


 


 


Berbeda dengan sebelumnya, Fiola telah kembali ke bentuk dewasa dan kesembilan ekor beserta telinga rubahnya terlihat jelas. Dari itu Odo tahu kalau mereka telah berbicara banyak hal sampai Fiola tidak perlu lagi menyembunyikan identitasnya.


 


 


“Kak Siska, Mbak Fiola ....”


 


 


Mereka lekas melihat ke arah Odo yang masih terlihat pucat. Sebelum mereka berkata sesuatu, anak itu kembali mengaktifkan Spekulasi Persepsi. Di dalam kornea matanya muncul lingkaran sihir penganalisa dan darah keluar dari hidung. Dalam kalkulasi itu, Odo melihat dua kejadian. Satu di mana kedua perempuan itu dengan cemas berjalan ke arahnya, kedua di mana mereka melihat cemas karena Odo berhenti melangkah.


 


 


“Yo ~aku masih mimisan ~,” ucap anak itu dengan nada bercanda.


 


 


Melihat itu Siska tertawa kecil, sedangkan Fiola terlihat lega saat tahu anak itu tidak lagi murung seperti sebelumnya. Berjalan ke arahnya, Fiola menepuk kepala Odo dan berkata, “Jangan bercanda terus, lihat hidungmu ....” Gadis rubah itu menyeka mimisan Odo dengan lengan kimononya.


 


 


“Nanti kotor, loh.”


 


 


“Jangan cemas, kimono ini khusus .... Tidak hanya bisa ikut berubah ukurannya, ini juga tak perlu dicuci karena ....” Fiola menunjukkan bekas noda darah yang perlahan menghilang, seakan meresap ke dalam kain dan benar-benar kembali bersih.


 


 


“Wow, praktis sekali.”


 


 


“Ha ha, terkejutnya karena itu?”


 


 


“Paling buatan ibu, ‘kan?”


 


 


“Ya ....” Fiola sedikit memalingkan wajahnya.


 


 


“Mbak Fiola, hari ini kita tidur di penginapan saja, ya?” pinta Odo dengan tiba-tiba.


 


 


“Eh? Kenapa? Padahal tadi ngotot ingin ke sini,  kenapa sekarang malah ....”


 


 


“Yah, habisnya .... Sepertinya aku sedikit alergi seperti Mbak Fiola. Bisa-bisa mimisan terus ... Itu, loh. Aura Suci di tempat ini ....”


 


 


“Ah, Tuan juga tidak terlalu suka aroma seperti itu, ya. Hmm, padahal saya sudah bicara dengan Nona Siska dan mulai akrab, tapi ya sudah. Kalau Tuan ingin, saya tidak keberatan.”


 


 


Mendengar pembicaraan mereka, Siska tahu apa yang dikatakan Odo itu adalah kebohongan. Biarawati itu bisa membedakan seseorang berkata bohong atau jujur, dirinya yang dulu hidup di lingkungan penuh kemunafikan sangat peka dengan hal seperti itu. Memang tidak ada niat jahat dalam perkataan bohong Odo, tetapi ia tetap merasa terganggu dengan itu.


 


 


“Tuan Odo, kenapa anda be—”


 


 


“Kak Siska, besok saya ke sini lagi, ya? Maaf mengganggu malam-malam ... dan terima kasih sudah meminjamkan kamar. Meski sebentar, aku sudah cukup istirahat, kok!”


 


 


Odo meloncat-loncat ringan dan memperlihatkan keceriaannya. Ia melakukan itu karena sebelumnya telah memprediksi pertanyaan Siska yang terlontar dapat membuat situasi yang ada memburuk seketika. Menatap datar anak lelaki itu, perempuan rambut pirang itu berkata, “Baiklah. Anda bisa datang kapan saja ....”


 


 


Odo segera berjalan ke arah pintu dan hendak keluar. Tetapi saat hendak membuka pintu, seseorang memanggilnya, “Odo!” suara itu tidak asing, begitu jelas dan membuat dadanya terasa sakit kembali. Tidak menoleh, anak berambut hitam itu berkata, “Nanra! Aku ... minta maaf tidak bisa menjadi orang seperti yang kau harapkan. Aku ... atau ayahku bukanlah pemimpin ideal, kami hanyalah manusia yang selalu membuat kesalahan.”


 


 


Tidak lebih lanjut menjelaskan perkataannya atau menunggu perkataan yang hendak keluar dari mulut Nanra, Odo lekas keluar dari panti asuhan. Fiola sesaat menunduk hormat pada Siska sebelum ikut keluar mengikuti anak itu. Berbeda dengan Siska yang kebingungan mendengar perkataan yang tiba-tiba terlontar dari Odo, Nanra menangkapnya dengan sangat jelas.


 


 


Wajahnya terbelalak, ia seakan dibaca pikirannya oleh anak lelaki itu. Alasan Nanra mendatangi Odo dan menghampirinya adalah untuk berbicara, mengutarakan rasa benci dan apa yang terpendam dalam benaknya. Itu pasti tidaklah berakhir dengan damai, hubungan akan hancur seperti apa yang memang sewajarnya mengingat apa yang telah terjadi.


 


 


Mendapat perkataan seperti itu sebelum anak rambut hitam itu pergi, hal tersebut membuat gadis kecil itu kembali merenung dengan apa yang hendak dilakukannya dengan menghancurkan hubungan yang ada. Sekilas dirinya kembali mengingat saat tadi mengintip Odo yang sedang meditasi di kamar dan tidak berani masuk atau memanggilnya, itu sedikit membuatnya merasa kesal melihat anak lelaki itu bisa dengan bebas mengusai teknik tingkat tinggi tersebut.


 


 


Ia ingin menghajar Odo pada saat itu juga, menatap tajam dari balik kusen pintu dan menggertakkan giginya. Tetapi menatap jelas wajah penuh beban pikiran dari anak tersebut, Nanra teringat dengan ayahnya dulu yang bekerja sebagai petani dan selalu memasang wajah seperti itu saat waktu pajak sudah dekat. Itu adalah wajah dari orang yang berada dalam tekanan dan sama sekali tidak mirip dengan bangsawan yang ada dalam pandangan Nanra.


 


 


Itulah yang membuatnya mengurungkan niat memukul Odo saat anak itu tidak ada pertahanan, memutuskan memilih waktu lain untuk menghancurkan hubungannya dengan anak itu. Meski sudah membulatkan hati untuk menghancurkan hubungan itu saat Odo bangun, meski begitu gadis kecil itu ....


 


 


“Kau bahkan tidak membiarkanku melakukannya,” gumam Nanra.


 


 


“Nanra ..., kenapa diam?” tanya Siska cemas melihat wajah murung salah satu anak asuhnya itu.


 


 


“Tak apa ..., Kak.”


 


 


Gadis itu berbalik dengan tanpa sedikit pun menatap Siska, lalu berjalan masuk ke dalam dan mengurungkan niat mengejar Odo. Siska yang melihat itu hanya bisa menghela napas melihat sifat anak itu yang sangat buruk. Berganti dengan senyuman, rasa lega mengisi Siska karena tidak ada hal buruk lagi di antara mereka berdua.


 


 


««»»


 


 


Sekitar pusat Kota Pesisir, Odo dan Fiola menyusuri jalan di tengah  malam, tepat di bawah salju yang turun semakin lebat. Mereka mencari penginapan yang dirasa sesuai dengan standar layak menurut Fiola. Menemukan sebuah bangunan penginapan yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari balai kota, kedua orang itu memutuskan menginap di tempat tersebut karena salju turun semakin lebat.


 


 


Sebelum masuk, gadis rubah itu mengubah bentuk tubuhnya menjadi anak-anak kembali menggunakan sihir transformasi dan sempat membuat Odo meloncat menjauh karena terkejut.


 


 


Melangkah masuk, melihat ke dalam. Pada penginapan tersebut tidak terlalu terdapat banyak orang-orang, yang menginap di tempat tersebut kebanyakan adalah pria-pria berjas yang terlihat seperti sekelompok pedagang. Mereka sedang duduk di lobi, membicarakan sesuatu seperti harga pasar dan semacamnya.


 


 


Fiola mengurus beberapa hal dengan resepsionis tempat itu dan terkejut mengetahui harga yang ada sangatlah mahal. Sempat menawar, itu tidak berhasil. Huli Jing itu sempat berpikir untuk mencari tempat lain, tetapi saat melihat wajah Odo yang sudah lemas ia mengurungkan niat.


 


 


Mendapat harga satu malam menginap sudah seperti biaya makan seminggu dalam standar normal, itu memang wajar. Apa yang didapat sesuai dengan harga yang dipatok. Selain tempat tersebut yang memang terlihat sedikit mewah dan bangunan serta ruangan yang ada sangat terawat, pelayanan yang diberikan juga sangatlah ramah. Odo dan Fiola seperti tidak sedang di penginapan, mereka serasa mendapat pelayanan seakan sedang di Mansion.


 


 


Setelah mengurus beberapa hal dan pembayaran langsung pada resepsionis tempat tersebut, Odo dan Fiola diantar ke kamar mereka oleh salah satu pelayan penginapan itu. Bangunan penginapan tersebut memiliki tiga lantai, terdapat Basement dan loteng. Pada lantai satu digunakan untuk penerimaan tamu dan lobi, aula serta tempat makan untuk para tamu, sedangkan untuk lantai dua dan tiga tempat tersebut digunakan untuk kamar penginapan.


 


 


Sembari di antar oleh pelayan penginapan, mereka berdua mendapat penjelasan-penjelasan tentang penginapan. Odo dan Fiola tahu kalau itu hanya formalitas dari pekerjaannya. Tetapi melihat pelayan penginapan itu menjelaskan dengan penuh semangat, Odo sekilas terkesima dengan profesionalitasnya.


 


 


Fiola tidak senang melihat Odo lebih tertarik pada gadis pelayan penginapan itu, ekspresi wajahnya mulai menunjukkan rasa iri dalam hati. “Saya juga kalau mau bisa melakukan hal seperti itu,” gumam Fiola.


 


 


 


 


Fiola menatap datar, dengan nada tak ramah ia berkata, “Apa kamu tahu kalau kami dari Mansion Keluarga Luke?”


 


 


“Iya .... Anda menulis itu sebelumnya di daftar.”


 


 


“Pefff!” Odo tidak bisa menahan tawanya. Fiola berasa seperti orang bodoh yang menanyakan sesuatu yang sudah jelas, meski bukan itu maksudnya bertanya. Tidak memedulikan wajah Fiola yang berubah semerah tanah liat yang dibakar, Odo menerima kunci dari pelayan penginapan itu dan membuka pintu kamar.


 


 


“Oh, iya. Untuk sarapannya ?” tanya Odo.


 


 


“Anda bisa makan di lantai satu, pukul tujuh sudah ada makanan yang masak dan pukul delapan pencuci mulut sudah siap hidang.”


 


 


Odo berhenti, ia tidak langsung masuk ke kamar dan berdiri menghadap pelayan tersebut dengan sedikit heran. “Meski musim dingin seperti ini tapi persediaan makanan tidak ada kendala, ya?” tanya anak itu.


 


 


“Penginapan kami mementingkan kualitas. Meski di musim dingin ini sulit mendapatkan bahan makanan segar, koki kami adalah yang terbaik dan kami yakin menu yang disajikan sesuai dengan selera Anda, Tuan Luke.”


 


 


“Hmm.”


 


 


Odo menatap lurus, tidak berkata apa-apa dan hanya melihat dalam-dalam. Hanya dengan itu, anak tersebut bisa mendapat informasi yang bahkan tidak diucapkan oleh pelayan itu. Tersenyum kecil, anak itu berkata, “Baiklah, kami akan menikmatinya .... Satu lagi, kalau perpanjangan bisa diurus pada resepsionis di depan, ‘kan?”


 


 


“Ya,” jawab pelayan itu dengan ramah.


 


 


Pembicaraan pun berakhir. Odo dan Fiola segera masuk ke dalam kamar yang mereka dapat itu setelah bertukar salam kecil dengan pelayan itu. Mengamatinya dan memberikan pendapat masing-masing dalam benak, mereka berdua menarik napas dalam-dalam secara bersamaan.


 


 


Odo terkagum akan kesan klasik yang ada. Lantai dan atap kayu, dinding kayu yang dicat mengkilat dengan pemoles serta tempat tidur yang kesannya sederhana tetapi terlihat sangat nyaman dan bersih. Berbeda dengan anak itu, Fiola merasa kamar yang didapat tidak sesuai dengan harga dan wajah tidak puas mulai nampak.


 


 


Duduk di atas ranjang, anak itu sadar kalau kasur yang digunakan adalah kasur wol dan itu merupakan bahan yang cukup mahal. Tersenyum tipis, ia bergumam, “Berarti ekonomi kota ini memang tidak benar-benar parah, hanya saja kurang maksimal.... Apa para pedagang tadi— ”


 


 


“Tuan Odo?” panggil Fiola.


 


 


Mengangkat wajah dan menatap gadis rubah yang berdiri di hadapan, anak itu sesaat terkejut mendapati wajahnya terlihat serius. “Kenapa Anda memutuskan pergi? Apa ... karena gadis rambut putih itu?” tanya Fiola dengan nada tak senang.


 


 


Fiola menyadarinya, dengan sangat jelas tahu maksud Odo pergi dari panti asuhan dan memutuskan untuk menginap di tempat lain. “Anak itu sangat tidak tahu diri, memangnya dia siapa? Masih kecil saja sudah begitu, kalau besar pasti dia akan berulah,” lanjut Fiola.


 


 


“Apa Nanra bicara sesuatu?”


 


 


“Tidak .... Hanya saja mendengar tentangnya dari Siska, saya tahu kalau anak itu sangat tidak tahu diri. Katanya ..., dia menyalahkan para bangsawan atas kematian kedua orang tuanya.”


 


 


Mendengar itu, Odo tersenyum tipis dan membaringkan tubuhnya ke atas rajang. Melepas alas kaki, ia masuk ke dalam selimut dan meringkuk. “Kita sudahi dulu pembicaraan ini, aku sudah mengantuk,” ucap anak itu dalam selimut.


 


 


Wajah Fiola mulai muram, sedikit sunyi suasana terasa di dalam kamar. Tiba-tiba keluar dari selimut, Odo menunjuk lentera minyak di sudut dan berkata, “Tolong matikan cahayanya.”


 


 


“Iya, baiklah.”


 


 


Lampu dimatikan Huli Jing tersebut, ruangan berubah gelap dan kesunyian mengisi dengan cepat. Menatap dengan jelas dalam ruang gelap, gadis rubah itu melepas alas kakinya. Perlahan bentuk tubuhnya kembali menjadi wujud dewasa. Dari kaki, pinggang, perut, dada, sampai kepala, semuanya kembali menjadi bentuk semula. Memasang senyum sedih, Fiola mulai naik ke atas ranjang dan ikut masuk ke dalam selimut.


 


 


“E-Eh?! Mbak Fiola?”


 


 


“Karena mahal saya memilih kamar satu tempat tidur, tolong maklumi.”


 


 


Huli Jing itu mendekap Odo dari belakang, dengan erat dan menempelkan bagian tubuhnya yang membuat anak itu tidak tenang. Benar-benar terasa dan membuat mata lelah anak itu terbuka lebar seketika.


 


 


“Harus peluk segala?”


 


 


“Hmm, ranjangnya sempit. Dan juga ...,  malam ini sedang dingin. Dingin sekali ....”


 


 


Tubuh Fiola gemetar, bukan karena dingin tetapi sesuatu yang jelas berbeda dari itu. Gemetarannya terasa oleh Odo, membuat pikiran anak itu terganggu dan tidak jadi memejamkan mata.


 


 


“Ada apa? Mbak Fiola rasanya sedikit aneh dari tadi, loh.”


 


 


“Maaf, Tuan .... Hanya saja, sepertinya sekarang saya tidak ingin sendirian. Kumohon biarkan saya seperti ini dulu ....”


 


 


Suaranya begitu sayu, lemah dan terdengar sangat rapuh. Odo tidak bisa memahami mengapa Fiola bersikap seperti itu. Tetapi saat anak itu mengingat Huli Jing tersebut berbicara dengan Siska di panti asuhan, belasan hasil kalkulasi terlintas dalam kepala anak itu.


 


 


“Kalau Bunda adalah cahaya, menurut Mbak Julia aku seperti apa?”


 


 


Tambah erat memeluk tubuh anak itu dalam selimut, Fiola menjawab dengan sendu, “Anda bagaikan api kecil dalam kegelapan. Meski membawa kehangatan, Anda ... sangat rapuh dan bisa padam kapan saja”


 


 


“Begitu, ya.”


 


 


««»»


 


 


 


 


Pada panti asuhan Inkara. Tempat tersebut menjadi sunyi setelah Odo dan Fiola pergi, anak-anak di tempat itu pun sudah masuk ke kamar mereka masing-masing untuk tidur. Pada kamar yang ditempatinya dengan Nesta dan si anak kembar, Nanra ikut berbaring di atas ranjang yang sama. Kamar dan ranjang yang dibaringi mereka adalah yang dipinjam Odo sebelumnya, mengingat itu wajah gadis rambut putih itu kembali muram.


 


 


Disikut wajahnya oleh salah satu anak kembar, Erial, gadis itu sekilas memasang wajah kesal. Mata violetnya terbuka lebar, menatap gelap langit-langit kamar. Bangun dan berdiri di atas ranjang, gadis itu berjalan melangkahi yang lain dan meloncat turun.


 


 


“Seperti bisanya Erial kalau tidur ....” Nanra menatap datar anak berumur enam tahun tersebut. Melirik ke anak satunya yang tidur lelap dalam dekapan Nesta, gadis itu bergumam, “Yang satunya malah sangat kalem.”


 


 


Menarik napas dalam-dalam, ia memakai sandalnya dan berjalan keluar dari kamar. Gadis tersebut memutuskan untuk tidur di tempat favoritnya, yaitu ruang dapur.  “Sebaiknya aku tidur di sana saja malam ini,” gumam anak gadis itu. Tetapi saat masuk ke ruang makan sebelum pergi ke dapur, dirinya melihat Siska masih duduk depan meja dengan beberapa lembar kertas perkamen.


 


 


Biarawati itu menoleh dengan tatapan mata mengantuk, lalu memuka mulutnya dengan lemas dan berkata, “Hmm, Nanra? Belum tidur?”


 


 


“Kak Siska, sih .... Kenapa belum tidur? Itu ....”


 


 


“Oh, ini pekerjaan dari Gereja Utama yang belum selesai. Paling tidak Kakak ingin mengurusnya sedikit supaya cepat kelar.”


 


 


Melihat senyum yang ada pada wajah perempuan tersebut yang sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tua, Nanra sedikit tidak suka dengan sifat Siska yang selalu tegar. Iri, perasaan seperti itu ada dalam benak. Benci, rasa seperti itu diarahkan pada dirinya sendiri.


 


 


“Apa ... itu dari Anak Marquess?”


 


 


“Hmm, begitulah. Katanya Tuan Odo ingin melakukan sesuatu pada kondisi kota ini, karena itu dia datang lagi.”


 


 


“Kenapa dia malah ke tempat ini?”


 


 


“Entahlah, jujur Kakak juga bingung soal itu. Menurut Nona Fiola, Tuan Odo sih katanya mau menginap niatnya. Yah, mungkin karena kurang nyaman jadinya dia pergi.”


 


 


“Bukan ....” Nanra menundukkan kepala, dengan senyap dan tidak seperti biasanya anak itu memasang wajah penuh rasa sesal seperti itu.


 


 


“Bukan kenapa?”


 


 


“Kurasa bukan karena itu dia pergi.”


 


 


Menghampiri perempuan rambut pirang tersebut, Nanra duduk di sebelahnya dan mengambil salah satu kertas perkamen. Meski bisa membacanya, itu berisi sesuatu yang tidak gadis itu pahami. Menundukkan kepala dengan muram, gadis itu merasa seperti orang naif yang memang tidak tahu apa-apa dan selalu bertindak bodoh.


 


 


“Boleh aku bantu, Kak Siska?”


 


 


Siska tersenyum, mengelus kepala gadis itu seraya berkata, “Kakak senang kamu mau membantu. Tapi ... pekerjaan ini terlalu sulit untuk anak-anak, kamu tidur saja di kamar.”


 


 


“Kalau begitu, aku akan menemani Kak Siska sampai selesai,” ucap gadis itu seraya menatap Siska. Mata berkaca-kaca, gadis itu merasa frustrasi dan merasa sangat menyedihkan yang besar omong saja.


 


 


“Baiklah,” jawab Siska setelah melihat wajah gadis kecil itu. Mereka pun duduk di ruang tersebut dalam suasana sunyi, kobaran api dari lentera di pojok ruang sesekali tertiup angin yang masuk dari sela dinding dan membuat bayangan mereka berdua seakan bergerak-gerak.


 


 


Waktu berlalu cukup lama, kertas-kertas yang ada jumlahnya seakan tidak berkurang. Saat lebih dari dua jam berlalu, gadis kecil itu pun tertidur meringkuk di atas dua kursi yang disusunnya. Melihat itu, Siska tersenyum kecil dan sejenak beranjak dari tempat duduk untuk mengambil selimut.


 


 


“Dasar anak ini ....”


 


 


“Papah ... Mamah ....”


 


 


Suara lirih dan rapuh gadis kecil itu menghentikan langkah kaki Siska. Membuat wajah biarawati itu terlihat murung, mengingat momen saat dirinya pertama kali bertemu dengan Nanra ketika gadis itu masih kecil, sekitar empat tahun lalu. Pada hari itu pun dirinya memutuskan untuk mengasuh mereka dan mencegah anak-anak tersebut menjadi bahan jual beli atau pelacuran.


 


 


Itu memang tidaklah hal yang terdengar heboh lagi, sebuah desa kecil yang dijarah oleh para bandit dan penduduknya dibantai. Pada saat keamanan wilayah Luke menurun drastis sebab Ekspedisi Dunia Astral Pertama yang dilakukan Tuan Tanah, para bandit yang kebanyakan dulunya adalah mantan prajurit mulai berulah karena urusan perut dan keserakahan.


 


 


Desa kecil di dekat hutan tempat Nanra tinggal kurang beruntung, mereka menyerang tempat tersebut dan membunuh hampir seluruh pria dewasa dan lansia. Anak-anak dibiarkan hidup untuk dijual, meski tidak sebagai budak mereka bisa dipakai sebagai buruh dengan upah minim. Untuk perempuan muda, mereka biasanya akan dikirim ke tempat prostitusi melalui bandar-bandar.


 


 


Memang Kerajaan Felixia melarang jual beli orang, tetapi selalu ada celah dalam peraturan yang ada. Menculik seseorang untuk dijual memang melanggar hukum, tetapi keluarga yang menjual anaknya karena masalah ekonomi tidak termasuk tindak kejahatan. Pada bandit memanfaatkan itu untuk menjual anak dan perempuan yang diculik melalui bandar-bandar.


 


 


Nanra dan anak-anak panti asuhan lain dulunya juga pernah diculik oleh para bandit setelah desa mereka dibantai. Untungnya mereka cukup beruntung, sang Tuan Tanah sepulang dari ekspedisi yang gagal segera mendengar kabar tentang meningkatnya aktivitas para bandit. Dengan membawa beberapa orang saja, Dart Luke melaksanakan kewajibannya dan membantai salah satu kelompok bandit yang kebetulan membawa Nanra beserta lainnya yang hendak dijual keluar kerajaan.


 


 


“Dunia memang keji .... Meski banyak orang baik dan ingin membuat dunia ini lebih ramah untuk anak-anak seperti mereka ..., itu tidak bisa berjalan sesuai harapan.”


 


 


Air mata mulai mengalir membasahi pipi Siska. Hal seperti itu memang wajar, dirinya berusaha memaksakan itu ke dalam pemikirannya dan mencoba tegar. Tetapi saat biarawati itu mengingat masa lalunya dulu bernasib serupa dengan gadis tersebut dan orang-orang yang dikenalnya mati dengan cara naas karena hal seperti itu, rasa sakit kembali terasa seakan luka lamanya mulai terkoyak kembali.


 


 


“Kapan hal seperti ini akan berakhir .... Padahal perang sudah berakhir, tetapi mengapa ... harus ada anak-anak bernasib seperti ini lagi.”


 


 


 


 


\===================================================


Catatan:


 


 


Menyerah untuk buat cerita santai:v


See You Next Time