Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 35: Reş û Rabe 2 of 5 (Part 02)



 


 


Di dekat gerbang kota Mylta, pemuda rambut hitam itu melihat ke arah matahari pagi yang terus meninggi dengan cepat. Orang-orang dari pihak pemerintah kota telah bersiap dengan enam kereta kayu yang masing-masing siap ditarik oleh dua kuda. Di antara lima alat transportasi itu, empat di antaranya memiliki penutup dari kerangka dan kulit bintang untuk dinaiki orang-orang, sedangkan dua lainnya berupa muatan kargo yang berisi peralatan tempur dan persediaan makanan.


 


 


Bersiap dengan regu masing-masing, 27 orang termasuk Odo dan Fiola menaiki kereta kuda dan beriap untuk melakukan perjalanan rencana pembasmian. Mereka dibagi menjadi lima regu yang masing-masing jumlahnya lima orang jika Odo dan Fiola tidak dihitung. Satu dari regu menaiki kendaraan dan kuda tersendiri, bertugas untuk menjaga perlengkapan dan seluruh anggota regu itu terdiri dari prajurit yang dipilih berdasarkan stamina mereka yang tinggi.


 


 


Gerbang utama kota dibuka lebar-lebar oleh penjaga, suara lonceng berdentang terdengar dan cukup banyak penduduk kota datang untuk mengantar keberangkatan mereka. Sesegera rombongan tersebut pun bersiap, menaiki alat transportasi mereka dengan membawa seluruh barang yang telah disiapkan. Setelah semuanya selesai, kereta kuda pun dipacu keluar dari kota dan perjalanan untuk rencana pembasmian dimulai.


 


 


Dalam perkiraan yang dibuat, rencana tersebut akan berlangsung selama dua minggu dengan hampir setengah waktu dihabiskan untuk perjalanan. Rencana yang dilakukan akan sesuai dengan rute jalur perdagangan, dengan secara bertahap membasmi markas-markas bandit dan bergerak dengan mobilitas tinggi.


 


 


Poin utama mereka adalah kecepatan, penghabisan total dan pembatasan informasi para bandit. Dengan kata lain, pihak pemerintah kota Mylta berencana menghabisi semua bandit dalam rute perdagangan dengan sekali perjalanan satu arah. Jika ditinjau ulang, hal tersebut memang terbilang sulit untuk benar-benar membasmi semua bandit dari satu markas ke markas lain dengan satu titik tempat transit. Tetapi dengan peninjauan ulang yang mereka lakukan tadi malam, kemungkinan gagal itu secara logika bisa diturunkan karena informasi perkiraan lokasi markas bandit telah dipersempit.


 


 


Berada pada salah satu kereta kuda dengan model seperti kargo dan sederhana, Odo duduk di ujung paling depan tepat di belakang kusir. Di sebelahnya ada Fiola dan di depannya ada Lisia. Melamun sebentar dan sekilas melirik keluar, pemuda itu mendapat firasat tidak enak dengan perjalanan yang baru saja berlangsung.


 


 


“Ada apa, Tuan Nigrum?” tanya Lisia.


 


 


Menatap perempuan yang rambut merahnya diikat cepol tersebut, Odo sekilas pindah mengamatinya. Lisia mengenakan blus dengan warna cokelat polos dan dirangkap dengan baju halkah, bawahannya mengenakan celana panjang hitam ketat dengan rangkap rok pendek. Melihat penampilan sederhana dari perempuan yang duduk melipat lututnya ke depan itu, sekias Odo menyipitkan mata dan memalingkan pandangan ke arah para prajurit yang berada dalam satu kereta dengannya.


 


 


Mereka mengenakan zirah ringan, meletakkan helm di atas pangkuan bersama dengan senjata mereka. Sedikit paham strategi tempur seperti apa yang akan mereka lakukan tanpa kavaleri nantinya, Odo menarik napas dengan berat karena merasa itu cukup memakan waktu nantinya pada setiap markas bandit yang akan diserang.


 


 


“Apa ... kalian ingin memakai cara Berseker Charge?” tanya Odo seraya menatap Lisia.


 


 


“Maksud Tuan strategi barbar sekali terjang yang biasa digunakan para angkatan laut saat menaklukkan kastel? Kenapa Anda berpikir seperti itu?”


 


 


“Kalian sepertinya tidak membawa perisai besar atau tombak, jadi mustahil pakai Testudo atau Kotak Tombak ....”


 


 


Lisia tersenyum kecil mendapat jawaban seperti itu. Mengacungkan jari, perempuan rambut merah itu meletakkannya ke depan mulut lalu berbicara dengan nada pelan, “Salah ... Anda lupa? Kami memiliki senjata rahasia yang baru didapat dari orang-orang itu, loh.”


 


 


Odo langsung paham rencana apa yang sebenarnya akan mereka lakukan. Mengingat sesuatu tentang orang-orang Moloia yang pernah berlabuh, kemungkinan tentang hal tersebut memang tidaklah kecil. Memperhitungkan jumlah orang yang ikut ekspedisi tidaklah terlalu banyak, Odo merasa kalau jumlahnya juga akan pas untuk pertempuran.


 


 


“Kami juga mendapat beberapa lagi dari kejadian di dermaga, saya rasa kejadian itu juga ada untungnya,” ucap Lisia dengan nada sedikit bercanda.


 


 


Menyipitkan mata, Odo hanya tersenyum miris karena sekarang dirinya tidak bisa berkomentar tentang candaan seperti itu. Melirik ke arah Fiola, gadis rambut cokelat kehitaman itu tidak terpancing dan terlihat lebih tenang dari biasanya.


 


 


Mendengar itu, beberapa prajurit mulai ikut dalam pembicaraan dan mulai melontarkan komentar-komentar mereka tentang hal itu.


 


 


“Yah, itu benar. Andai Pembunuh Naga itu ada di sini bersama kita, mungkin dia akan lebih berguna lagi.


 


 


“Haha ha! Dia dari Keluarga Luke. Kalau dia bersama kita, bisa-bisa Lord Dart langsung mendatangi kita dan memberi kita pelatihan keras lagi!”


 


 


“Benar juga! Jadi ingat saat beliau pertama kali kembali ke wilayah ini, rasanya kangen!”


 


 


“Eeeh? Bukanya itu mengerikan? Kita dilatih fisik sampai napas hampir putus, loh!”


 


 


“Dasar lemah! Makannya kamu hanya ditepakan di regu pemanah.”


 


 


Mendengar senda-gurau mereka, Fiola tetap tidak bereaksi dan terdiam. Meski orang-orang tersebut tahu kalau gadis itu adalah Shieal, mereka seakan tidak terlalu mempermasalahkannya. Odo mulai paham posisi seperti apa Shieal dalam lingkup pemerintahan wilayah Luke, dirinya pun mengangguk kecil dan kembali menatap Lisia.


 


 


Sedikit menghela napas kembali, pemuda itu berpikir, “Begitu, ya .... Jadi benar Shieal pengaruhnya cenderung kuat pada non-militer saja. Untuk hal-hal seperti itu masih masuk pada kekuasaan Keluarga Luke. Lagi pula Ayah juga posisinya sekarang adalah Jenderal Tertinggi, dia memiliki kekuasaan militer tingkat atas setelah Keluarga Kerajaan.”


 


 


“Tuan Nigrum, boleh saya tanya sesuatu?” ucap Lisia dengan ekspresi sedikit serius.


 


 


“Hmm, apa itu?” Odo sejenak menyimpan pikiran tak perlu, menatap ke arah perempuan rambut merah tersebut dan mendengarkannya dengan seksama.


 


 


“Apa ... Anda pernah membunuh orang?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Odo sempat tersentak, ia yang selama ini berusaha untuk tidak memikirkan hal seperti itu diperingatkan oleh Lisia. Meski dirinya pernah membunuh orang saat ekspedisi ke Hutan Pando, tetapi itu hanya seperti melakukan serangan tidak langsung dan dirinya tidak pernah membantai orang. Apa yang Odo sering bantai adalah monster, bukan makhluk yang memiliki kecerdasan dan perasaan seperti manusia atau Demi-human.


 


 


Sedikit penasaran dengan jawaban pemuda di sebelahnya, sekilas Fiola melirik datar dan menunggu pemuda itu membuka mulutnya. Para prajurit bawahan Lisia juga mulai penasaran, begitu juga kusir yang duduk di depan. Odo hanya terdiam, tanpa memedulikan tatapan dari orang-orang di dalam kereta kayu yang mulai terarah kepadanya.


 


 


Suasana senyap terasa, jalan yang tidak rata membuat kereta sedikit berguncang dan membuat suara tersebutlah satu-satunya yang mengisi kereta kuda tersebut.


 


 


“Jangan cemas,” ucap anak itu seraya menatap Lisia. “Aku tidak akan merepotkan kalian. Fokus saja nanti dan tak usah memedulikanku. Meski diriku seorang anak bangsawan, paling tidak aku punya bekal untuk melindungi diri,” tegasnya seraya tersenyum kecil.


 


 


Lisia menarik napas lega sekaligus sedikit iri. Perempuan itu tidak pernah membunuh orang, dirinya bertanya seperti itu hanya untuk melegakan isi hatinya sendiri yang mulai ragu untuk menebaskan pedang kepada bandit yang akan dilawannya nanti. Meski Lisia memiliki ilmu pedang di atas rata-rata, tetapi apa yang dilawannya hanya prajurit lain yang merupakan bawahannya dan itu pun hanya berupa simulasi pertarungan.


 


 


Fiola membaca isi kepala Odo dan Lisia, paham apa yang mereka pikirkan dan rasa ragu yang jelas ada dalam benak mereka. Memejamkan mata sekilas, Huli Jing itu berkata, “Kalau ragu, jangan tatap mata mereka .... Saat bertarung kotak mata akan membuat keraguan, lihat saja gerak tubuh mereka ....”


 


 


Semua orang di dalam kereta kayu terkejut mendengar itu, para prajurit mulai sadar kalau Fiola memang bukan gadis biasa seperti penampilannya. Salah satu prajurit duduk merapat ke Huli Jing tersebut, lalu mulai bertanya, “Nona Fiola seorang veteran, ‘kan? Apa benar Anda juga sering berpetualang dan masuk dalam Pary Pembasmi Iblis yang pernah dipimpin Lord?”


 


 


“Itu bukan berpetualang, kami hanya melaksanakan tugas.”


 


 


“Ouh! Jadi itu benar-benar Anda! Saya kira Nona anak sosok yang disebut Hewan Suci itu!” ucap prajurit lain dalam kereta.


 


 


Mendengar itu, alis Fiola sedikit berkedut dan dirinya tersinggung karena kesalahpahaman tersebut. “Saya belum punya anak!” tegasnya dengan kesal. Setelah itu, para prajurit tersebut mulai melontarkan beberapa pertanyaan kepada Fiola dan sampai membuatnya kewalahan.


 


 


Tidak memedulikan mereka, Odo hanya menatap Lisia yang terlihat penuh keraguan. Anak itu paham perasaan seperti itu karena itu juga ada pada dirinya, dan itu pasti akan menghambat nantinya. Sejenak memejamkan mata, pemuda itu bergumam, “Delete ....”


 


 


Lisia samar-samar mendengar itu, mengangkat wajah dan menatap pemuda rambut hitam di hadapan. Sedikit memiringkan kepala, ia bertanya, “Apa tadi Anda mengatakan sesuatu?”


 


 


“Nona Lisia takut?” tanya Odo dengan volume rendah.


 


 


“Eh?”


 


 


“Wajah Anda ..., terlihat pucat ....”


 


 


“Ah ..., saya hanya sedikit cemas.”


 


 


“Soal apa?”


 


 


“Saya telah mengasah pedang selama belasan tahun demi bisa melindungi penduduk kota dan menjadi pemimpin yang baik. Namun saat tiba waktu untuk menggunakannya, rasanya malah ragu .... Meski mereka penjahat, mereka itu tetap orang yang tinggal di kerajaan ini.”


 


 


Cara pandang perempuan rambut merah itu membuat Odo sedikit terkejut, dirinya mulai paham orang seperti apa Lisia itu. Sedikit tersenyum kecil, pemuda itu berkata, “Begitu, ya .... Nona memang orang yang lembut.”


 


 


“Tidak juga, saya hanya pengecut ....”


 


 


Kembali tersenyum, pemuda itu berkata, “Menjadi pengecut itu penting, mereka yang tak tahu ketakutan akan kehilangan banyak hal.”


 


 


“Tapi, tetap saja ..... Apa Tuan tidak ragu? Bukannya Anda juga baru pertama kali akan melakukan hal seperti ini.”


 


 


“Anggap saja ini peraturan dunia, hukum tak tertulis dari dunia ini.”


 


 


“Peraturan?” Lisia sedikit bingung.


 


 


“Iya. Anggap saja ini seperti kita memakan makhluk hidup lain untuk bisa tetap hidup .... Kita membunuh binatang, mengolah mereka dan memanfaatkan mereka secara maksimal. Itu sudah menjadi siklus, kalau tidak melakukan itu kita akan mati. Orang-orang seperti kita tidak bisa seperti para puritan, tetapi paling tidak kita bisa sadar kalau apa yang kita lakukan memiliki arti dan alasan yang jelas.”


 


 


“Alasan ..., ya.” Lisia menundukkan wajahnya, sedikit merenung.


 


 


“Ayam yang dipotong saat pagi hari tidak mati percuma, mereka menjadi protein dan energi untuk keluarga kecil yang bekerja di ternak yang akan memberi makanan para ayam lain,” ucap Odo.


 


 


“Hmm, ternyata Anda pandai merangkai kata-kata, ya.”


 


 


“Tidak juga ....”


 


 


.


.


.


.


Hampir enam jam berlalu sejak keluar dari gerbang, tak terasa akhirnya mereka sampai di daerah yang diperkirakan menjadi salah satu markas bandit. Itu masih masuk dalam teritorial kota Mylta, pada daerah hutan sebelum memasuki perbukitan dan dataran tinggi. Sejauh sekitar satu setengah hari perjalanan menuju desa terluar dari kota Rockfield.


 


 


Memarkir kereta kuda di dalam hutan, para prajurit segera turun dan mengambil senjata mereka masing-masing. Setiap orang membawa pedang pendek di pinggang, sedangkan untuk senjata utama memiliki variasi yang berbeda berdasarkan jenis pekerjaan mereka. Para penyihir membawa tongkat, sedangkan pemburu membawa busur dan panah.


 


 


Dua pengintai yang beberapa menit lalu melaju terlebih dulu kembali dengan kuda mereka, kedua orang yang menunggang satu kuda tersebut berasal dari regu pengawas kereta kargo. Segera turun, salah satu dari mereka berkata, “Mereka ada, jarak sekitar 600 meter di depan .... Memang seperti perkiraan, para bandit itu tahu kalau kita akan datang. Mereka bersembunyi di atas pohon dan siap membegal kita.”


 


 


“Hmm, kalau begitu kita mulai rencananya,” ucap Kepala Prajurit.


 


 


Dengan segera mereka mulai merapat berdasarkan regu yang telah ditentukan sebelum berangkat. Jumlah prajurit hanya 15 orang termasuk Lisia, sedangkan pemburu hanya lima orang dan penyihir juga lima orang. Dalam pembagian tersebut, seluruh regu berjumlah lima dengan ketentuan masing-masing jumlah prajurit tiga dan pemburu serta penyihir satu.


 


 


Tiga regu berperan sebagai infanteri ringan untuk serangan frontal, sedangkan dua regu lainnya adalah penembak yang bertugas membantu regu utama dalam serangan. Para penyihir segera merapalkan mantra, memberikan sihir kamuflase menggunakan cahaya matahari untuk membuat para prajurit sukar dilihat dalam zona putih bersalju. Sihir tersebut hanya berlaku dalam jangkauan lima meter dari pengguna.


 


 


Lisia ikut masuk ke dalam tiga regu infanteri, lalu bergegas masuk ke hutan di kedua sisi jalan untuk menyerang dari arah yang berbeda. Untuk dua regu lainnya, mereka lebih masuk ke dalam hutan dan menetapkan diri lebih jauh dari markas para bandit untuk membidik dari balik pepohonan.


 


 


Bersama dengan dua regu penembak, Odo dan Fiola mengamati. Mereka tidak masuk dalam kategori pembagian tersebut, kedua orang itu termasuk faktor bias dalam rencana dan berfungsi sebagai serangan pembuka.


 


 


“Kami maju dulu,” ucap Fiola kepada salah satu penyihir dari regu penembak. Bersama pemuda rambut hitam, ia berlari ke arah markas bandit yang terlihat dari balik pepohonan hutan yang tertutup salju.


 


 


Markas itu berada di sisi kanan jalan yang biasa digunakan rute perdagangan, Odo dan Fiola yang telah memutar dan berada di belakang markas tersebut mengamati gelagat. Terlihat beberapa bandit yang berjaga pada menara pohon, meneropong ke arah jalan penuh waspada. Sejenak menunggu dan tetap mengamati, Odo dan Fiola segera mempersiapkan diri dan memberikan sinyal kepada regu penembak untuk bersiap.


 


 


“Feuer .... Anfangsstruktur. Gebildet .....”


 


 


Odo mengulurkan kedua tangan ke depan, lalu mulai mengaktifkan Inti Sihir dan lingkaran sihir mulai muncul di hadapannya. Mana diolah melalui perubahan sifat menjadi petir merah, lalu langsung ditembakkan ke arah markas bandit. Sambaran gelegar halilintar itu langsung mengenai salah satu bangunan kabin mereka, membakar dengan cepat dan menjalar sampai menara pohon. Itu tidak hanya satu atau dia sambaran petir merah, namun secara beruntun dan membuat pagar api dengan cepat di markas yang dibangun dalam pepohonan hutan tersebut.


 


 


Para bandit panik saat melihat kobaran api yang datang setelah suara gelegar ledakkan. Pada saat yang bersamaan, regu infanteri yang sudah siap sedari tadi segera keluar dari jangkauan sihir kamuflase dan menerjang ke arah para bandit yang panik.


 


 


Meski sudah tahu kalau lawan akan datang dan telah bersiap dengan senjata, mereka tetap tidak sebanding dengan para prajurit tersebut. Sebelum para bandit yang berjaga di garis depan bisa mengayunkan senjata, mereka ditebas dan dibinasakan dengan mudah. Para prajurit pun menerjang masuk ke dalam markas melalui jalur yang tidak terlahap api.


 


 


Mengikuti serangan tersebut, regu penembak mulai maju sampai pada titik Odo dan Fiola berada. Telah bersiap dengan sumbu yang telah dinyalakan dan memanfaatkan posisi yang cenderung lebih tinggi dari markas, mereka membidik dan menembak para bandit dengan senapan lontak. Suara tembakkan menciptakan kengerian di tengah kobaran api di markas mereka, membuat para bandit itu runtuh secara mental.


 


 


Meski senjata api yang digunakan tergolong tidak efektif karena prajurit yang menggunakannya kurang terlatih dan hanya mengenai beberapa orang saja, tetapi suara yang tercipta adalah efek utama dari penggunaan senjata tersebut. Nada kehancuran dari tembakkan membuat para bandit yang jumlahnya lebih banyak mengira sedang diserang oleh sebuah pasukan besar.


 


 


Odo dan Fiola tidak ikut menyerang, mereka bertugas mengawasi para bandit dan memastikan tidak ada yang kabur dalam serangan dengan tujuan pemusnahan tersebut. Melihat satu persatu orang tumbang terkena tebasan pedang dan timah panas, pemuda rambut hitam itu hanya menatap datar dengan sorot yang dingin.


 


 


Para pemburu yang naik ke atas pohon mulai takut melihat pemandangan tersebut, begitu juga para penyihir yang tidak biasa melihat pertumpahan darah sekeji itu. Suara jeritan, rintihan dan permintaan ampun terdengar dari markas yang terlahap kobaran api di tengah hutan bersalju. Karena sihir yang digunakan Odo, api yang ada tidak akan padam dan terus merambat kecuali pemuda itu melepaskan struktur sihirnya.


 


 


Naik ke atas salah satu pohon, Odo mengamati dengan seksama. Saat melihat ada beberapa bandit yang lolos dari kobaran api yang dibuat memagar dengan sihirnya, Odo langsung menunjuk ke arah para bandit itu. Paham dengan perintah tersebut, Fiola segera menggunakan teknik peningkatan fisik dan berlari cepat ke arah para bandit yang kabur tersebut.


 


 


Melihat ke sisi lain, ada juga beberapa bandit yang berusaha kabur dengan menerjang kobaran api. Melihat itu, Odo bergumam, “Yah, kalau aku perbesar apinya ..., bisa-bisa anak Lisia dan anak buahnya ikut terpanggang.”


 


 


Pemuda itu membuat lingkaran sihir sebesar telapak dengan tangan kanan, menyalurkan Mana dan mulai mengubahnya menjadi petir merah dan memusatkannya pada jari telunjuk. Petir merah tersebut membentuk beberapa bola kecil seperti peluru senapan lontak, mengorbit di sekitar lengannya dan bergerak ke ujung telunjukn. Memegang tangan kanan dan menyangganya supaya stabil, Odo segera membidik sasaran dengan jari telunjuk.


 


 


“Blitz Bullet ....”


 


 


Poutz!


 


 


Salah satu bola petir melesat dari ujung jarinya, dan dalam jarak lebih dari lima ratus meter tepat mengenai dada salah satu bandit yang kabur. Melihat rekannya tiba-tiba tumbang, beberapa bandit lainnya terhenti. Odo sekilas memejamkan mata, mengoreksi kalkulasi lajur tembakkan dan menyimpan data serangan tadi ke dalam Auto Senses.


 


 


“Blitz Bullet ..., Auto Mode.”


 


 


Dengan cara yang sama, pemuda itu menembakkan peluru petir merah dan menghabisi para bandit itu satu persatu dengan tanpa ragu sama sekali. Itu dirinya lakukan dengan menggunakan perhitungan sihir internal, bukan berarti ia selalu membidik satu persatu para bandit tersebut. Apa yang pemuda itu lakukan hanya seperti menarik pelatuknya saja, yang mengarahkan bidikan ujung telunjuknya adalah Auto Senses.


 


 


Saat tembakkan menembus jantung bandit terakhir yang kabur, pemuda itu melihat ke arah berbeda dari markas yang terbakar dan menemukan bandit lainnya yang kabur dari kobaran api. Dengan peluru petir merah dari ujung jari, ia membidik dan mengeksekusi mereka dengan sangat tenang. Selalu tepat sasaran pada dada entah seberapa jauh jarak yang ada selama itu masih terlihat olehnya. Odo mengincar jantung sebab ada alasan tertentu, itu merupakan pusat dari vitalitas makhluk hidup dan memudahkannya untuk mengunci sasaran.


 


 


Melihat pemuda di atas pohon itu menembakkan sihir terus menerus, pemburu dan penyihir yang menemani regu penembak sempat tercengang. Dua penyihir di bawah kagum melihatnya sama sekali tidak merapalkan mantra saat menggunakan sihir  tersebut, sedangkan dua pemburu yang naik di atas pohon dan melihat apa yang sebenarnya pemuda itu lakukan mulai gemetar. Setiap kali sihir ditembakkan, itu selalu tepat sasaran dan merengut nyawa seseorang. Para memburu bahkan sampai mengurungkan niat menarik busur, lalu menatap pemuda itu dengan keringat dingin bercucuran.


 


 


Sebelum hari benar-benar sore, pembasmian markas bandit pertama berjalan dengan sangat lancar tanpa korban jiwa. Luka yang diderita hanya berupa sayatan dan lecet regu infanteri yang menyerang secara langsung, selain itu hanya ada kerusakan zirah ringan dalam segi perlengkapan.


 


 


Api Odo padamkan dengan kemampuannya saat matahari mulai terbenam supaya tidak mencolok di tengah hutan, hanya meninggalkan bara merah yang cepat padam karena salju mulai turun. Setelah memastikan markas bandit tersebut rata dengan tanah dan tidak ada yang kabur, para prajurit menyeret mayat-mayat bandit ke satu tempat dan dibakar menggunakan api biru para penyihir yang tidak menimbulkan asap tebal. Itu butuh waktu cukup lama sampai mayat yang jumlahnya mencapai puluhan itu benar-benar dikremasi dan menjadi abu.


 


 


Setelah selesai dan beristirahat sampai stamina para penyihir kembali, mereka kembali ke kereta kuda untuk mempersiapkan tenda. Namun saat melihat tumpukan senjata bandit yang tergeletak tak terpakai, Odo memilih untuk menunggu di tempat saat orang-orang kembali ke kereta untuk membuat tenda untuk bermalam dan beristirahat di sana.


 


 


Alasannya sangat sederhana, pemuda itu ingin menjarah semua senjata itu dan memasukkannya ke dalam Gelang Dimensi. Sadar nanti kalau akan ada yang curiga dan protes dengan tindakkan tersebut mengingat para prajurit cenderung idealis dan penuh rasa keadilan yang tinggi, Odo ingin mengakalinya. Ia membuat menggambar sebuah lingkaran sihir di atas tanah dengan ranting, lalu menutupnya dengan kain dan menimbunnya dengan tumpukan senjata para bandit yang anak itu pilih dari tumpukkan.


 


 


Dengan wajah puas, dirinya kembali ke tenda yang sudah dibuat para prajurit. Mereka telah menyalakan api unggun, para pemburu memasak dengan panci besar dan menyiapkan makan malam. Meski baru saja bertarung, melihat mayat dan darah mengalir, para prajurit sama sekali tidak terlihat tertekan dan dengan santainya menyantap makanan.


 


 


Berbeda dengan mereka, wajah para penyihir dari Miquator terlihat pucat dan mereka terlihat sedikit enggan untuk memakan sup daging yang disajikan oleh pemburu.


 


 


Melihat tuannya baru kembali, Fiola yang duduk bersama mereka merasa curiga. Dirinya yang tadi mengejar bandit ke sana kemari tidak sempat mengawasi pemuda itu saat pembasmian. Bangun dan hendak bertanya kepada pemuda itu, namun saat melihat senyum lebarnya Fiola mengurungkan niat karena langsung paham kalau tuannya itu sedang merencanakan hal rumit lainnya.


 


 


Saat pagi harinya, matahari mulai naik tetapi masih terhalang awan mendung sehingga terlihat sedikit gelap. Mereka bersiap, merapikan tenda dan memasukkannya kembali ke dalam kargo. Sesudah sarapan dengan sisa masakan tadi malam, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


 


 


Odo berada di kereta kuda yang sama seperti saat berangkat, tetapi kali ini duduk di ujung belakang dan jauh dari Fiola dan Lisia yang duduk di dekat kusir. Beberapa dari prajurit ingin bertanya alasannya. Tetapi saat melihat senyum polos pemuda itu, mereka mengurungkan niat karena merasa ada sesuatu yang patut mereka tidak ketahui.


 


 


Saat sudah cukup jauh dari makas bandit yang telah rata dengan tanah, Odo mengulurkan tangannya ke luar kereta dan mulai mengaktifkan sihir yang dirinya pasang tadi malam.


 


 


“Load Circle, Take All!”


 


 


Lingkaran sihir yang Odo tinggalkan di markas bandit mulai bersinar, aktif dan meresap masuk ke kain. Struktur berupa sihir dimensi itu aktif, lalu menelan senjata-senjata yang tertumpuk di atasnya ke dalam dimensi penyimpanan pada kain. Melayang ke udara, kain tersebut terbang dengan cepat menuju sinyal kunci utama yang terpancar dari Gelang Dimensi Odo.


 


 


Kain tersebut melayang dengan sangat cepat, sampai membuat salju berhamburan terkena anginnya. Kurang dari setengah menit, kain tersebut sampai dan langsung masuk ke dalam gelang hitam di pergelengan pemuda itu. Para prajurit, Fiola, dan Lisia sekilas melihat kain yang datang tersebut, merasa bingung dan heran.


 


 


“Apa ... itu, Tuan Nigrum?” tanya Lisia.


 


 


“Oleh-oleh ....” Odo menatap ke arah perempuan itu, lalu tersenyum ringan dan berkata, “Jangan cemas, hanya keisenganku. Ini tidak merugikan, kok.”


 


 


Mendengar perkataan tersebut, para prajurit di kereta sedikit teringat dengan pembicaraan para pemburu tadi malam setelah pembasmian. Mereka membicarakan pemuda rambut hitam itu menggunakan sihir mematikan dan membantai para bandit yang kabur.


 


 


Salah satu dari prajurit merapatkan duduknya, lalu bertanya, “Anda ternyata penyihir, ya?


 


 


“Hmm, memang.”


 


 


“Apa Anda pernah belajar di Miquator?”


 


 


“Kurang lebih ....”


 


 


“Eeeh, sihir apa saja yang bisa Anda gunakan, Tuan Nigrum?”


 


 


“Hanya elemen petir dan api.”


 


 


Mereka benar-benar mulai menghujani Odo dengan pertanyaan. Tetapi, apa yang keluar sebagai jawaban pemuda itu hampir seluruhnya adalah kebohongan. Meski Lisia tidak bisa membaca pikiran seperti Fiola, tetapi dirinya sangat tahu hal tersebut. Perempuan rambut merah itu mulai merasa iri dengan Odo, lalu menatap tangannya sendiri yang gemetar.


 


 


Pada saat pembersihan markas pertama kemarin, dirinya menebas lebih dari lima bandit dengan tangannya sendiri. Sensasi pedangnya yang memotong daging dan tulang masih terasa jelas, darah yang mengalir seakan tidak bisa hilang dari bayangannya. Melihat ke arah Odo bicara akrab dengan para prajurit, tanda-tanda seperti itu tidak ada padanya.