Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 67 : Aswad 14 of 15 “Bangsawan, Kewajiban, dan Ambisi” (Part 01)



 


 


 


 


|Sekitar setengah jam yang lalu|


 


 


Berdiri pada sebuah hutan pepohonan oak, Odo menatap datar sarung tangannya sendiri dan memikirkan beberapa cara untuk mengatasi efek samping dari penggunaan Tubuh Cadangan yang diciptakan Mahia di Dunia Kabut. Dalam konsep penggunaannya, itu semacam proses Timpa Informasi ⸻ Menindih informasi lama dengan informasi baru yang hampir serupa. Dengan kata lain, setiap kali Odo mati semua apa yang dirinya kembangkan pada tubuh akan kembali ke kondisi awal saat informasi tubuhnya disimpan pada Dunia Kabut.


 


 


“Setiap kali mati, semua perkembangan yang aku dapat akan hilang. Konsepnya sama seperti sebuah file dalam komputer ditimpa oleh file lain yang memiliki bentuk data serupa namun komposisinya lebih rendah ….”


 


 


Dari kesimpulan yang telah didapat, Odo mulai merasa heran karena proses tersebut dikatakan Mahia salah satu basisnya menggunakan Aitisal Almaelumat. Dalam konsep dasar kekuatan manipulasi itu, seharusnya tidak ada penambahan atau pengurangan informasi saat penggunaannya. Hanya mengubah, itulah esensi kekuatan yang dirinya dapat dari Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion.


 


 


“Dari cara pembuatan Tubuh Cadangan untuk membuatku bisa bangkit kembali setelah mati, seharusnya itu menggunakan Aitisal Almaelumat, ‘kan? Kalau kondisi tubuhku kembali ke awal, lalu ke mana perginya semua perkembangan pasif struktur sihirku?”


 


 


Odo bersandar pada salah satu pohon oak, mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan menatap datar punggung sarung tangan. Mengamati Rune dan susunan sihir yang ada, ia merasa ada yang aneh. “Ada beberapa ruang yang hilang?” benak Odo sembari menurunkan tangannya.


 


 


Kembali mengingat-ingat kondisi tubuhnya yang sekarang bisa menyalin dan menggunakan kemampuan Native Overhoul, Odo dengan segera berhenti bersandar. Ia menyadari sesuatu, alasan mengapa tubuhnya selalu kembali ke kondisi awal setiap kali mati padahal proses timpa informasinya menggunakan Aitisal Almaelumat.


 


 


“Pada saat aku hidup kembali, tubuh akan dipaksa mengikuti informasi yang ditimpa dari Dunia Kabut …. Lalu perkembangan yang ada akan menjadi residu dan ….” Odo membuka telapak tangan kirinya, menggunakan Puddle dan mengeluarkan cairan biru bercahaya dari pori-pori tangan. Dari hal tersebut, ia kembali memikirkan kemungkinan yang ada dan menyadarinya, “Begitu rupanya, perkembangan yang hilang setiap kali aku mati benar-benar menjadi Residu dan digunakan untuk Mutasi Inti Sihir.”


 


 


Odo menyeringai kecil, kembali melihat sarung tangan kanannya dan paham mengapa ada beberapa ruang yang hilang. Kemungkinan besar dimensi penyimpanan tersebut berubah menjadi tempat untuk proses konversi, mengubah Residu yang tidak terpakai dan menyimpannya untuk memutasi tubuh setelah hidup kembali.


 


 


“Inti Sihir tidak termasuk kondisi tubuh yang informasinya bisa disimpan oleh Auto Regen ataupun susunan sihir lainnya, itu berbeda dengan sirkuit sihir atau struktur sihir pada tubuhku ….” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu dan menonaktifkan Puddle, lalu kembali bersandar pada batang pohon di belakangnya dan bergumam, “Waktu aku kehilangan semua sirkuit sihirku setelah melawa Raja Iblis Kuno, hanya Inti Sihirku yang tidak mengalami perubahan dan hanya aksesnya saja yang hilang.”


 


 


“Begitu, ya ….” Odo menarik napas lega dan telah memahami sepenuhnya konsep Tubuh Cadangan yang membuatnya menjadi seperti punya banyak Nyawa Cadangan. Berhenti bersandar dan melangkahkan kaki menyusuri rumput dan alang-alang tinggi, ia kembali bergumam, “Mutasi, perubahan bentuk, sifat, dan kualitas. Meski aku tidak bisa menggunakan sihir secara normal, tapi dengan tubuh yang bisa menyalin Kode Khusus para Nativ mungkin ini tak buruk.”


 


 


Odo berhenti melangkah. Mengulurkan tangan kanannya ke depan dan meletakkan telapak tangan kiri ke punggung sarung tangan kanan, ia mulai mengakses susunan sihir pada Dimensi Penyimpanan yang ada. Saat Odo mengangkat tangan kirinya, lingkaran sihir seketika terbuka selebar empat meter dan melayang ke udara.


 


 


Angin yang sebelumnya berhembus seketika terhalau distorsi spasial saat lingkaran sihir dimensi tersebut dikeluarkan. Hening, senyap, dan bahkan waktu terasa seakan bergerak lambat dalam jangkauan di bawah lingkaran sihir yang melayang di udara tersebut.


 


 


Mendongak dan melihat susunan yang ada, Odo mengulurkan kedua tangannya dan mulai melakukan perubahan untuk mengatasi Reset tak diinginkan setiap kali mati. Untuk hal tersebut, apa yang perlu ia lakukan dalam garis besar hanya dua.


 


 


Pertama adalah memindah semua sirkuit sihir dan perkembangan pasif ke susunan inti supaya menyatu dengan Inti Sihir, dengan begitu setiap kali dirinya bangkit kembali sirkuit sihir tidak ikut terhapus. Untuk yang kedua, adalah membuat rute aktivasi melalui dimensi penyimpanan supaya dirinya bisa mendapat akses dengan cepat ke Inti Sihir setelah hidup kembali.


 


 


Untuk melakukan hal tersebut, Odo menambahkan Unsur Aktivasi pada susunan sihir dimensi di sarung tangan dan supaya bisa mempercepat aktivasi. Meski setelah bangkit kembali tubuhnya kembali ke kondisi awal, dengan cara tersebut Odo bisa mengakses sirkuit sihir yang disimpan pada susunan inti yang tidak berubah meski informasi tubuhnya ditimpa.


 


 


Secara sederhananya, itu semacam memisah dua penyimpanan dalam sebuah komputer. Susunan eksternal adalah sesuatu yang bisa diubah-ubah dengan cepat dan mudah terhapus, sedangkan Inti adalah sesuatu yang paten dan tak terpengaruh oleh efek Reset. Saat sebuah Reset terjadi dan tubuh kembali bangkit dalam kondisi awal, Odo hanya harus menyalin informasi perkembangannya dari Inti ke susunan eksternal dan dengan begitu efek samping Nyawa Cadangan bisa diatasi.


 


 


 


 


Selesai melakukan perubahan, Odo segera menutup lingkaran sihir dimensi dan kembali memasukannya ke sarung tangan. Medan sihir yang terbentang seketika hilang dan distorsi spasial lenyap. Angin bertiup normal, suara dedaunan yang saling bergesekan kembali terdengar jelas. Mengaktifkan sihir penguatan pada sarung tangan, ia lekas mengunci perubahan struktur yang telah dibuat.


 


 


“Hmm, sekarang tinggal membuat akses ke Inti Sihir dan memindah beberapa sirkuit sihir ke dalam sana.”


 


 


Odo segera duduk bersila di antara rerumputan tinggi, menyatukan kedua telapak tangannya dan membuat Mudra bentuk Kekuatan dengan jemarinya. Dalam posisi meditasi tersebut, sirkulasi Mana dalam tubuhnya seketika berubah dari kondisi normal seperti mengalir pusat ke ujung menjadi sebaliknya. Energi yang seharusnya menyebar ke seluruh tubuh mulai kembali ke pusat dimana Inti Sihir berada, sembari membawa informasi berupa susunan sirkuit sihir.


 


 


Lima menit pertama, kulit Odo mulai memucat. Lima menit kedua, keringat dingin bercucuran dan darah mengalir keluar dari hidung. Pada lima menit selanjutnya, kulitnya mulai sedikit menguning dan mengeriput. Lalu di lima menit terakhir, detak jantungnya semakin cepat sampai napasnya terengah-engah. Kondisi seperti orang kekurangan oksigen dan anemia tampak jelas padanya, lalu pada klimaks detak jantungnya pun berhenti dan mati.


 


 


Tubuh Odo ambruk ke belakang, terkapar di antara rerumputan tinggi. Namun dalam hitungan detik, jantungnya kembali berdetak dan tanda-tanda kehidupan tampak darinya. Kedua mata pemuda itu terbuka, menatap datar dedaunan pohon yang lebat.


 


 


“Sepertinya berhasil,” ucapnya sembari kembali duduk bersila. Sembari menyeringai kecil, kornea matanya sekilas berubah hijau dan berkata, “Bahkan aku berhasil menyalinnya juga. Tak kusangka di Inti Sihir masih ada struktur Spekulasi Persepsi ….”


 


 


Kembali bangun, Odo meloncat-loncat ringan untuk memastikan kondisi tubuh. Ia meletakkan telapak tangan kanannya ke dada kiri dan berkata, “Meski hanya susunan purwarupa Spekulasi Persepsi dan hanya bisa melihat beberapa perkiraan, itu tidak masalah! Sekarang tinggal penyesuaiannya!”


 


 


Menggunakan akses yang dirinya buat, Odo menyalurkan sedikit Mana ke dalam jantung dan menstimulasi Inti Sihirnya untuk kembali menyalurkan informasi sirkuit sihir ke seluruh tubuh. Dalam proses sekitar 14 detik tersebut, tubuhnya kembali ke kondisi sebelum reset.


 


 


“Ini bukan berarti kekuatan sihirku bertambah kuat atau semacamnya, hanya efek Reset bisa ditangani …. Lagi pula, kondisi ini berarti aku harus terus menerus terhubung dengan Inti Sihir dan membuka rute alirannya secara rutin.”


 


 


Membuka koneksi dengan Inti Sihir berarti membiarkan aura para makhluk yang bersemayam di tubuhnya bocor keluar. Semakin kuat koneksi, semakin kuat juga aura para entitas tersebut. Melihat sekeliling dan sadar tidak ada satu pun binatang yang mendekat, Odo menghela napas ringan.


 


 


“Kira-kira apa yang orang lain pikirkan saat melihatku sekarang? Hah, menyusahkan. Sebaiknya aku berlatih mengendalikan koneksinya supaya aura tidak luber keluar ….”


 


 


Sejenak terdiam, pikiran Odo beralih dari ke hal lain yang harus diselesaikan di kota Mylta. Sembari mengulurkan tangan kirinya ke depan, ia mengaktifkan Puddle untuk kembali ke kota pesisir tersebut. Namun saat aktivasi, sekilas Odo berpikir, “Kalau tidak salah, seharusnya sekarang Ayah dan rombongan sudah sampai di rumah, ‘kan? Kira-kira si Tuan Putri bisa menjelaskannya atau ti⸻!? Eh?!”


 


 


Air biru bercahaya yang keluar dari telapak tangannya hilang kendali. Itu keluar dalam jumlah yang tidak wajar, menyebur kencang ke permukaan tanah dan bergerak seperti lendir hidup yang menelan tubuh Odo. Itu diluar perkiraannya, bahkan Spekulasi Persepsi yang baru saja dirinya dapat kembali tidak bisa memprediksi hal tersebut.


 


 


Odo tidak bisa bernapas, air masuk ke dalam mulut dan hidungnya. Ingin meraih sesuatu yang ada di sekitarnya, namun ia telah benar-benar berada di aliran perpindahan dan tidak ada benda yang bisa dirinya pegang.


 


 


Di tengah sensasi tenggelam karena kekuatannya sendiri, sesosok bayangan muncul dalam jarak pandangnya yang mulai memudar. Odo kenal siapa dia, begitu paham dengan kelakuannya tersebut. Dengan kesadaran yang perlahan menghilang, ia mengulurkan tangannya ke depan dan berusaha meraihnya.


 


 


“Sialan kau …. Mahia! Apa yang ingin kau lakukan ….?”