Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 35: Reş û Rabe 2 of 5 (Part 01)



 


 


Langit malam tanpa awan, gema suara langkah kaki dan tawa mengisi momen persiapan tersebut. Meski mereka akan melalukan perjalanan berbahaya saat matahari terbit nanti, para prajurit itu berkumpul di dekat api unggun dan saling bergurau dengan akrab, seakan tidak ada beban dalam raut wajah mereka.


 


 


Berdiri di dekat dinding kota, di luar kerumunan tersebut Odo menatap dengan sorot mata datar ke arah langit malam yang cerah. Bintang-bintang redup musim dingin nampak, sekilas aurora samar-samar terlihat dan menghiasi langit yang terasa anggun tersebut. Fiola yang berdiri di sebelah pemuda itu sedikit merasa heran, melirik datar dan mengamati ekspresinya yang terlihat tidak senang akan sesuatu.


 


 


Sebelum bertanya kepadanya, tiba-tiba pemuda itu berhenti bersandar pada tembok dan mengambil dua langkah ke depan. Perlahan merentangkan kedua tangannya ke samping sembari menatap ke arah langit malam tanpa awan itu, ia mulai membuka mulut rapatnya dan berbicara.


 


 


“Itu jatuh bersama mereka, butiran putih yang menyembunyikan kegelapan ungu. Dalam perjalanan yang menanti adalah kecurigaan karena ketidaktahuan, membawa ketakutan semu yang terlihat nyata. Ya! Empati hanya akan membawa malapetaka, itu perangkap bagi mereka yang memiliki hati .... Boneka tidak berbicara, mereka bahkan tidaklah hidup. Suara mereka seharusnya tidak didengarkan, karena mereka juga tidak akan melihat kita.”


 


 


Sentak kedua bola mata Fiola berseri mendengar susunan kata tersebut, tanpa tahu alasan di balik mengapa pemuda itu mengucapkannya. Mendekat dan berdiri di sampingnya, Huli Jing tersebut melihat dari samping dan sejenak tersenyum tipis. “Puitis juga Tuan ini,” ucapnya dengan aura bahagia.


 


 


Melirik datar, Odo merasa hanya mengucapkan apa yang seharusnya disampaikan. Sekilas kornea mata birunya berubah hijau, seakan memancarkan cahaya mistis yang sangat samar. Tersenyum ringan, pemuda itu membalas, “Tidak juga, aku hanya ingin mengatakan itu saja.” Kembali melangkahkan kaki dan pergi menuju gudang penyimpanan, pemuda itu pergi meninggalkan perempuan dengan rambut cokelat kehitaman tersebut.


 


 


Fiola sekilas sadar, apa yang pemuda itu tatap tadi itu terasa seperti tidak sedang menatapnya. Pemuda itu seakan sedang menatap ke tempat yang jauh, bukan di tempat ini atau momen sekarang, melainkan sesuatu yang berbeda. Berusaha untuk tidak lebih mengkhawatirkan itu, Fiola sedikit menyipitkan pandangan dengan ekspresi sendu.


 


 


“Anda .... Selalu berjalan lebih cepat dari yang lainnya .... Demi apa Tuan melakukannya sampai sejauh ini?”


 


 


Pertanyaan tersebut ingin disampaikan langsung kepada pemuda itu. Melihat jejak kaki yang ditinggalkannya di atas tumpukan salju pada tanah, Huli Jing tersebut tersenyum miris saat sadar kalau dirinya pasti akan mengikuti jejak tersebut meski tubuhnya tak ingin. Itu bukan insting, bukan hasrat atau karena kewajiban, hanya sebuah kata hati yang membuatnya melakukan hal tersebut dan ingin mengikutinya.


 


 


Pada malam persiapan tersebut tak ada hal yang menghebohkan, terasa ramai dan biasa dengan suara para prajurit yang bersiap dan mengurai ketegangan dengan canda tawa. Berhenti di dekat gudang, pemuda rambut hitam itu melihat ke arah api unggun di mana orang-orang berkumpul. Ada perempuan dengan warna rambut mencolok di antara mereka, rambutnya lebih merah dari api unggun yang berkobar.


 


 


Bersama para anak buahnya yang sudah dianggapnya rekan tersebut, sang pemimpin itu ikut bersenda-gurau tanpa memandang jenis kelamin atau status. Sekilas Odo menatap dengan rasa iri karena dirinya belum bisa mendapat hal yang seperti itu. Memalingkan pandangan, ia hanya tersenyum dan kembali menatap ke arah langit berbintang redup.


 


 


««»»


 


 


Matahari mulai terbit dengan ditandai dari sinarnya yang terlihat di ujung cakrawala, itu merupakan tanda untuk sebuah awal baru bagi kehidupan. Bukan untuk siapa, tetapi bagi mereka adalah sebuah ilusi sekilas dapat melihat para burung bisa terbang tinggi di pagi hari. Begitu gagah dan terasa aneh, untuk melihat hal seperti itu di musim dingin.


 


 


Pada salah satu ujung tebing dari bukit yang tertutup salju, berdiri seorang perempuan rambut ungu yang menatap ke arah hutan putih tertutup salju. Sorot kosongnya seakan menandakan sesuatu, sebuah kesedihan dan rasa rindu yang dalam. Memejamkan mata sekilas dan membukanya kembali, ia tersenyum kecil seakan melupakan rasa itu. Berubah dengan cepat bagai sebuah badai yang datang tiba-tiba, ekspresi euforia nampak pada wajah perempuan dengan jubah hitam panjang sampai mata kaki tersebut.


 


 


Ia memiliki telinga runcing yang panjang, kulit pucat dan rambut lepas berwarna ungu terang. Warnanya menyimbolkan kematangan, tetapi untuk sesuatu yang rusak dan mulai membusuk pada tangkainya layaknya buah yang terlalu matang.


 


 


“Ah~ Ah~! Ah~!! Momen kebangkitan telah dilakukan sejak hari itu, kali ini adalah peristiwa baru akan dimulai! Lepas dari siklus! Perputaran roda tua akan berakhir, berganti menjadi awal baru. Bukan untuk kami atau mereka! Tetapi untuk dirinya!”


 


 


Perempuan itu menoleh ke belakang, menatap ke arah orang-orang berjubah hitam seperti dirinya. Saat mereka membuka tudung jubah, semuanya sama. Wajah mereka, ekspresi bahkan sampai tinggi badan dan warna rambut, semuanya sama. Tersenyum secara bersamaan, mereka serentak berkata, “Pengakhir telah terjadi, sekarang awal akan dimulai! Sang Pembawa telah datang!”


 


 


Burung-burung di hutan yang seharusnya berhibernasi kembali mengepakkan sayap dan terbang dari sarang, melayang tinggi ke langit dingin seakan tahu pertanda buruk dari orang-orang berjubah hitam itu. Di tengah suasana sunyi dalam fajar, para perempuan berjubah itu mulai berbicara secara bergantian.


 


 


“Remunerasi telah dilakukan, sekarang saatnya melaksanakan perjanjian.”


 


 


“Dunia tertutup ini akan terbuka, mereka yang mencuri tahta akan digulingkan dari singgasana mulai dari sekarang.”


 


 


“Takkan kubiarkan kalian lari ....”


 


 


“Takkan!”


 


 


“Dewi kami adalah penguasa sejati dunia ini ....”


 


 


“Tetapi beliau menelantarkan dunia karena kehilangan dirinya.”


 


 


“Demi menunggunya, ia kembali menyentuh dunia ini.”


 


 


“Turun kalian dari singgasana, para babi serakah!”


 


 


“Ya, kalian hanya imitasi untuk menjaga sistem tetap ada.”


 


 


“Penguasa asli telah kembali ....”


 


 


“Layaknya Izanagi dan Izanami, mereka juga Alpa dan Omega. Pertemuan harus berlangsung. Bukan demi kebaikan atau karena hal jahat, hanya untuk mereka.”


 


 


“Dari seribu kami yang tercipta sejak hari itu, hanya delapan puluh tujuh yang tersisa.”


 


 


“Kami tak akan mendendam.”


 


 


“Kami tak akan membenci.”


 


 


“Kami hanya akan melakukannya dan mendapatkan pengistirahatan.”


 


 


“Karena itulah alasan kami ada.”


“Karena itulah alasan kami ada.”


 


 


“Demi dirinya. Demi kedua orang tua kami. Demi kami sendiri .... Ya! Kamilah anak Korwa.”


 


 


Perempuan yang berdiri di ujung tebing berbalik, lalu berkata, “Ayo, kita mulai tugas terakhir untuk membuka era ini .... Yang akan bertahan akan mendapatkan kursi tersebut, diriku hanya berdoa supaya tak ada lagi korban di antara kita.” Ia berjalan melewati para saudarinya itu, menuju ke jalan untuk menuruni bukit dan mulai diikuti mereka secara berbondong-bondong.


 


 


Bersama burung-burung yang beterbangan dari sarang, para perempuan berjubah hitam  mulai menuruni bukit salju tersebut. Dengan tujuan yang pasti, arah yang jelas dan ketetapan langkah tanpa rasa ragu. Itu bukan untuk kehancuran seperti apa yang selalu mereka lakukan selama ini, tetapi demi Remunerasi yang dijanjikan kepada mereka. Sebuah kursi terbatas yang hanya akan didapat oleh beberapa dari mereka.


 


 


««»»


 


 


Di dalam hutan wilayah Luke, tepatnya daerah pegunungan kota Rockfield di timur laut wilayah tersebut. Dalam hutan pepohonan cemara, terdapat sebuah jalan cukup besar yang biasa menjadi rute perdagangan untuk masuk ke dalam kota. Selain melewati hutan rimbun, jalan tersebut juga melewati dua bukit memanjang yang seakan menjadi benteng dari angin laut di sepanjang jalan.


 


 


Berbanding terbalik dengan fungsi tersebut, kedua bukit yang ada secara nyata adalah markas utama para bandit yang tersisa sejak Pembersihan oleh Tuan Tanah, Manquess Luke, beberapa tahun lalu. Belajar dari pendahulu mereka yang dibantai habis-habisan pada saat kejadian tersebut, para mantan prajurit bayaran dan sampah masyarakat itu memilih untuk bersifat pasif dengan tidak melakukan pergerakan yang merugikan wilayah Luke secara jelas.


 


 


Mereka bersiasat, mulai melakukan transaksi dan membangun sistem kelompok yang teratur. Berbeda dengan bentuk para kelompok bandit sebelum Pembersihan yang cenderung terpecah-pecah, mereka mulai membuat hierarki kekuasaan dan menjadi sebuah organisasi yang memiliki kepala tunggal di wilayah kekuasaan Marquess Luke.


 


 


Dengan pusat dari kepemimpinan di hutan kota Rockfield, mereka membuat pemukiman bangunan log kayu dan rumah kabin di balik pepohonan rimbun tepat pada perbukitan. Mereka yang dulu terpencar-pencar dalam beberapa kekuatan, sejak Pembersihan, orang-orang yang disebut sampah tersebut bersatu menjadi kelompok tunggal di bawah nama Tox Tenebris.


 


 


Itu adalah nama pemimpin mereka sekaligus nama dari kelompok bandit yang berkuasa pada sisi gelap Kerajaan Felixia. Seorang sampah buangan yang memimpin para sampah lain demi bertahan di era baru dimana peperangan dilarang oleh hukum. Kemakmuran yang dijanjikan setelah perang tidak mereka dapat, berakhir di sudut perdamaian dan mendapat peran penjahat yang tidak semua dari mereka ingin mendapatkan label tersebut.


 


 


Pada salah satu rumah kabin di markas mereka, keluar sang pemimpin bandit dari kelompok tersebut. Ia adalah pria berusia empat puluh tahunan yang memiliki warna rambut cokelat, mata keemasan, dan rambut berewok yang lebat. Badan kekarnya dilapisi jaket dari kulit beruang hitam, membawa pedang satu tangan beserta panah dan busur di punggungnya.


 


 


Menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya menjadi asap putih yang menghilang dengan cepat, pria berambut pendek itu menghampiri perempuan dengan wajah mengantuk dan ikut duduk bersamanya di atas anak tangga rumah mereka. Menatap ke arahnya, pria itu sejenak meluluhkan wajah sangarnya dan tersenyum senang melihat anak yang ditimang perempuan tersebut.


 


 


Perempuan Demi-human tipe kukang tersebut adalah Isla Tenebris, istri dari pria tersebut. Isla memiliki rambut panjang sampai punggung berwarna cokelat keemasan, terlihat masih muda dan memiliki ekspresi wajah yang selalu mengantuk sebagai ciri rasnya. Anak yang lahir di antara mereka tidak mewarisi ciri-ciri Demi-human, murni anak perempuan manusia yang memiliki warna rambut dan mata seperti ayahnya.


 


 


“Uh~ Suigin gak dingin? Apa sini sama papah~”


 


 


Pria itu mengangkat anak gadisnya itu, lalu menimang dan mulai menciumi pipinya dengan gemas. Anak yang bahkan usianya belum genap dua tahun itu hanya memasang ekspresi mengantuk seperti ibunya, mendorong wajah ayahnya dan tidak suka dengan jenggot yang menusuk-nusuk wajah dan membuatnya gatal.


 


 


“Sayang, nanti dia marah sama kamu lagi, loh .... Jangan iseng seperti itu pada Suigin.”


 


 


“Hmm, apa kamu marah sama papah?”


 


 


Tox mengangkat badan putrinya tinggi-tinggi, lalu berdiri dan menatap tajam ke arahnya. Seakan tidak peduli dengan itu, Suigin hanya memasang wajah mengantuk dan sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Meski begitu, sebagai seorang ayah, pria itu tahu kalau anaknya sedang tidak dalam suasana hati senang. Dirinya yang sudah lama bersama dengan Isla yang memiliki ekspresi datar dan selalu mengantuk sedikit demi sedikit paham, ia mulai bisa membaca raut wajah yang terlihat seakan datar tersebut.


 


 


“Hahah, jangan cemberut, dong.”


 


 


Kembali duduk, pria itu menurunkan putrinya itu ke atas pangkuan sang istri. Dengan segera Suigin memeluk ibunya dan langsung memasukkan wajah ke sela jaket kulit hangatnya. Melihat itu, sang pemimpin bandit yang dikenal dengan sifat kasar dan ganasnya tersenyum lembut.


 


 


 


 


Menatap kereta kargo dengan mayat kuda yang  keempat kakinya terpotong rapi dan tergelatak tidak jauh dari tempat, pria itu sedikit menyipitkan mata. Bekas darah kering yang bukan dari hewan terlihat jelas pada kereta kayu tersebut, membuatnya teringat salah satu dosa yang dirinya lakukan tadi malam dengan membegal pedagang yang tidak masuk dalam perjanjian dengan kelompok bandit di bawah kekuasaannya.


 


 


Melihat itu, Tox paham kalau apa yang mereka dapat bukanlah berasal dari hal baik dan kelak pasti akan mendapat konsekuensinya. Ia membentuk kelompok dan menyatukan para bandit setelah Pembersihan bukan karena dirinya ingin menjadi pemimpin dan mendapat kekuasaan, tetapi hanya untuk bertahan hidup. Dirinya yang seorang Native Overhoul memiliki kapabilitas untuk itu, kemampuan dan pengetahuannya juga cukup untuk menyatukan orang-orang dari lingkungan tanpa peraturan ke dalam lingkup yang lebih teratur.


 


 


Memasang wajah sedikit resah, pria itu sejak mengingat kejadian tiga tahun lalu saat pertama kali dirinya membentuk kelompok. Orang-orang yang masuk tidak selalu baik dan patuh, terkadang Tox harus bertindak tegas dengan melakukan seleksi kejam dan membunuh mereka yang menentang caranya memimpin. Bahkan sampai sekarang, masih ada beberapa orang yang tidak suka caranya memimpin yang cenderung dianggap pengecut oleh beberapa pihak di kelompoknya.


 


 


“Ada apa, sayang?” tanya sang istri saat melihat wajah muram suaminya.


 


 


Sedikit tersenyum tipis mendengar suara yang terasa sangat jarang keluar tersebut, pria itu menoleh dan segera menyingkirkan kegelisahan dalam hati. Pada fajar yang baru datang di bawah langit cerah, ia dengan lembut berkata, “Sebaiknya kalian masuk dulu, pasti Suigin juga kedinginan kalau di luar terus.”


 


 


Pria itu berdiri, menuruni anak tangga rumah kabin untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin para bandit. Melihat itu, Isla sebagai istri paham kalau suaminya itu tidak suka menjadi bandit dan ingin segera melepaskan posisi pemimpin untuk keluar dari kelompok.


 


 


Isla tidaklah naif untuk mendorong suaminya melakukan itu dengan tergesa-gesa, dirinya sangat tahu dunia yang dihuni oleh orang-orang sepertinya tidak ramah atau lembut untuk melepaskan mereka. Saat pria itu turun dari posisi pemimpin, bisa dipastikan keselamatan mereka tidak akan terjamin lagi.


 


 


“Apa ... kamu ingin memeras mereka lagi?” tanya Isla.


 


 


“Memeras ..., ya.” Saat kaki berselimut sepatu kain kulit tebal, pria itu melirik dingin ke arah istrinya. Wajah ramah dan lembut yang tadi terlihat hilang, berganti dengan sosok sangar dari pemimpin bandit yang kejam. Sejenak menghela napas dengan berat, ia pun berkata, “Itu memang kata yang tepat. Dari itu kita hidup ..., dari itu anak kita bisa makan dan kita sendiri bisa tidur di dalam kamar hangat. Tolong ingat itu baik-baik, Isla.”


 


 


“Sampai kapan ...? Sampai kapan kamu akan melakukan hal seperti ini?” Mendekap putrinya dalam pangkuan, perempuan dengan rambut keemasan itu memasang wajah cemas. Firasatnya mengatakan kalau akan ada sesuatu yang mengerikan terjadi.


 


 


“Entahlah, aku sendiri tidak tahu.”


 


 


“Apa tidak ada jalan lain? Bukannya sudah cukup ...? Kalau seperti ini, pasti kelak kejadian seperti pembantaian itu akan terjadi lagi.”


 


 


Tox tersenyum ringan mendengar itu, membuatnya sedikit senang dikhawatirkan seperti itu. Dirinya sangat tidak mengira bisa berkeluarga seperti sekarang, mendapatkan istri sepertinya dan dikhawatirkan layaknya kepala keluarga pada umumnya. Menoleh ke belakang, ia dengan lega berkata, “Seperti biasa kau baik sekali, Isla .... Meski diriku adalah bandit yang membantai orang-orang di desamu dan membawamu dari Kekaisaran ke sini, engkau masih saja ....”


 


 


“Aku adalah istrimu .... Meski awalnya bukan karena cinta, tapi sekarang ... berbeda. Anak ini adalah buktinya. Jadi tolong ..., jangan memaksakan diri. Jangan nekat lagi .... Tolong ingat kalau sekarang ada yang menunggumu di rumah.”


 


 


“Kau tahu, Aku Native Overhoul .... Diriku hanya berpikir untuk diriku sendiri, secara rasional dan dingin. Jangan terlalu memikirkanku, aku juga tidak akan terikat denganmu lebih jauh dari ini.”


 


 


“Bohong ....”


 


 


“ ....!” Pria itu tersentak, kehabisan kata-kata dan mulai tersenyum senang karena telah mendapat perempuan yang bisa sepenuhnya mengerti sifatnya.


 


 


“Dasar pembohong ....”


 


 


“Itu sudah menjadi sifat kami .... Kalau begitu, aku pergi.”


 


 


“Hati-hati, Tox ....”


 


 


Pria itu kembali melihat ke depan dan membuka telapak tangan kanannya. Cairan cahaya berwarna putih terang muncul dari atas telapaknya, mulai luber sampai menetas ke tanah dan membuat genangan. Cairan itu tidak benar-benar bercahaya, keluar dari pori-pori tangan pria itu dan mulai memenuhi tempatnya berdiri. Dalam hitungan detik, tubuh pria itu masuk ke dalam cairan seperti batu yang dilempar tenggelam dalam genangan air dalam dan menghilang dengan cepat bersama cairan di atas permukaan tanah itu.


.


.


.


.


Di tempat lain, cairan putih bercahaya keluar dari pori-pori tanah bersalju di tengah hutan. Itu mulai menggenang dengan cepat dan melelehkan salju di sekitarnya. Sebelum hitungan dua detik, Tox muncul di atas genangan carian tersebut. Di hadapannya terlihat beberapa menara pengawas yang dibangun menyatu dengan pohon besar, terdapat beberapa rekannya yang sedang berjaga sejak kemarin malam.


 


 


Segera berlari dan memanjat pohon, ia menghampiri salah satu rekanya di atas menara dan bertanya, “Apa ada gelagat yang aneh?”


 


 


“Ouh, Bos ....” Pria dengan jaket kulit rusa hutan tersebut menoleh, menurunkan teropong jarinya dan menjawab, “Tidak ada, para pedagang yang kemarin malam memang tidak dari kelompok besar. Sepertinya memang tidak ada yang mengirim permintaan orang hilang di kota. Tidak ada tanda-tanda pemburu atau prajurit yang datang ....”


 


 


Mendengar itu, rekan yang berada di pohon lain mengeluh, “Hah! Kalau saja ada, kita bisa untung lagi! Tch! Sayang sekali!”


 


 


“Kolt! Sudah Bos bilang kita tidak boleh berlebihan! Kalau para ksatria bangsat itu kemari kita bisa tamat!”


 


 


“Hah! Biara apa kau, Loin! Kita berbeda dengan dulu! Kelompok kita bisa menang melawan mereka!” ucap pria dengan jaket beruang cokelat di pohon lain tersebut.


 


 


“Kau tidak tahu kengerian Ahli Pedang itu! Kelompokmu dulu tidak pernah diserang, ‘kan?!”


 


 


“Tch! Menyusahkan ...! Terserah kau!”


 


 


Melihat perdebatan tersebut, Tox hanya diam dan tidak melerai. Secara ideologi pria itu, dirinya sangat menghargai perbedaan pendapat selama itu tidak sampai pada tingkat tindakkan fisik negatif. Tox bahkan melakukan seleksi kejam hanya karena adanya reaksi penolakan secara kekerasan dari bagian kelompok yang menenangnya. Karena itu, dirinya sering disebut pengecut untuk seorang bandit dan pada saat yang sama terkenal kejam tanpa perasaan.


 


 


“Loin, teropong ....”


 


 


Menerima teropong jari dari rekannya itu, Tox melihat ke jalan utama dari rute perdagangan. Jejak penjarahan yang mereka lakukan pada pedagang yang nekat melewati hutan meski tahu berbahaya sudah tidak tersisa, benar-benar bersih tanpa jejak sama sekali. Meneropong ke arah bukit di seberang jalan untuk memeriksa markas di sana, dirinya sekias merasa ada yang tidak wajar di sana.


 


 


Markas pada bukit sebelah terlihat lebih sunyi dari biasanya. Merasa cemas, pria itu mengambil kaca kecil dari saku dan mengirim sinyal ke markas mereka di sana dengan pantulan cahaya matahari yang sudah mulai meninggi. Tetapi, respons tidak didapat dan itu membuat Tox semakin curiga. Instingnya yang kuat membuat pria itu berkeringat dingin, berhenti meneropong dan menatap tajam ke arah bukit di sisi lain jalan rute perdagangan.


 


 


“Ada apa, Bos? Kenapa berkeringat seperti itu? Apa ada yang aneh di markas sebelah?” tanya Loin heran. Pria rambut merah yang usianya tidak terpaut jauh dari Tox itu merasa sedikit heran melihat ekspresi pemimpinya tersebut.


 


 


“Tidak ada respons .... Sedang apa mereka? Bukannya bukit sebelah juga ada yang berjaga?” ucap Tox seraya kembali meneropong.


 


 


“Hah? Tak ada?” Kolt di pohon yang berbeda ikut meneropong, mencari tahu apa yang dikatakan bosnya benar atau tidak.


 


 


Saat kedua orang tersebut melihat memindai dan mencari tahu kejanggalan tersebut, mereka menemukan sekelompok orang berkeliaran di antara pepohonan di bukit sebelah. Mereka bukan dari kelompok bandit, mengenakan jubah hitam dan bertudung. Mengamatinya dengan serius, Tox terkejut saat melihat salah satu rekan banditnya di markas sebelah dibakar dengan sihir orang salah satu sosok orang berjubah hitam tersebut.


 


 


“Bo-Bos! Oi! Mereka menyerang markas di sana!!” ucap Kolt yang panik dulu saat melihat kejadian tersebut dengan teropong jari.Saat pria itu menatap ke arah Tox, pimpinan mereka itu memasang wajah penuh ketakutan dan tetap meneropong ke arah bukit sebelah.


 


 


Seakan ada sinyal berbahaya terkirim langsung ke otak Tox, batin pemimpin bandit itu tahu kalau hukuman akan segera datang kepada mereka. Bagi pria tersebut, insting seperti itu selalu tepat dan dirinya sangat paham dengan itu karena telah merasakannya beberapa kali. Kepalanya seakan kesemutan, bergetar dan napasnya mulai sesak.


 


 


“Bos! Ada apa!? Apa yang terjadi di sana?!” tanya Loin panik. Menyerahkan teropong jari kepada pria itu, Tox segera mengaktifkan kemampuannya dan mengeluarkan cairan putih terang dari telapak tangan.


 


 


“A—! Mereka menyerang markas sebelah!”


 


 


“Kita kabur, Loin ....”


 


 


“Hah!?” Loin terkejut, merasa kesal mendengar perkataan seperti pengecut itu. “Kelompok kita diserang!! Kenapa malah kabur! Kau pemimpin jangan berkata seperti, sialan!” bentaknya seraya menarik kerah Tox.


 


 


Memalingkan pandangan dan memasang wajah penuh rasa takut, pemimpin bandit tersebut berkata, “Mereka .... gawat. Ini diluar kemampuan kita, mereka ... penghakim .... Kita harus kabur!”


 


 


“Hah! Dasar pengecut! Kenapa kita dulu mau disatukan oleh orang sepertimu!” ucap Kolt dari pohon di sebelah mereka. Rekan-rekan yang ada di menara pengawas di sekitar mereka juga merasakan hal yang sama, tidak suka dengan perkataan pengecut seperti itu.


 


 


“Kau kenapa, Tox? Bukan sepertimu saja berkata seperti itu?”


 


 


Melepaskan tangan rekannya dari kerah dan memegang pundaknya, Tox menatap gentar dan berkata, “Aku sarankan ini padamu karena kita teman, mereka ... bukan sesuatu yang bisa dilawan orang-orang seperti kita. Bukan ..., bukan itu! Ini hanya awal ..., kedatangan mereka hanya pertanda.”


 


 


“Apa ... yang kau katakan?”


 


 


“Aku juga tidak tahu .... Tapi, yang pasti kelompok ini sudah berakhir. Hukuman akan datang kepada kita ....”


 


 


Ekspresi pada pria dengan warna mata keemasan itu membuat Loin ikut takut. Dirinya tahu saat rekannya itu bersikap seperti itu pasti akan ada sesuatu yang mengerikan terjadi, faktanya dirinya bisa lolos dari Pembersihan juga karena insting rekannya tersebut. Menelan ludah dengan berat, ia mendekatkan wajah dan berbisik, “Jangan bersikap seperti itu di depan mereka, jelaskan padaku .... Kita akan bertindak nanti.”


 


 


“Ya ..., maaf ....”