Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 46 : Mutual-Evîn 6 of 10 “White filler flowers” (Part 03)



 


 


Penginapan Porzan terlihat lebih ramai dari biasanya, beberapa kereta kuda diparkir di sebelah tempat tersebut dan pelayan penginapan terlihat sibuk mempersiapkan pelayanan untuk para tamu eksekutif. Cerobong asap mengepul, para koki disibukkan dengan porsi-porsi makanan yang harus selesai sebelum tengah hari.


 


 


Masuk dan melewati lobi yang ramai lalu-lalang para pegawai penginapan yang sedang sibuk, Odo segera naik ke atas bersama Vil untuk melakukan tahap terakhir dari salah satu rencananya. Pada lorong lantai dua penginapan Prozan, seorang pelayan menyapa Odo yang hendak masuk ke salah satu kamar, “Apa Tuan tidak datang untuk melihat eksekusinya?”


 


 


Odo berhenti di depan pintu kamar. Menghadap pelayan penginapan tersebut dan menjawab, “Eng, sudah tadi.”


 


 


Pelayan rambut cokelat dengan gaun hijau berbalut celemek putih itu sedikit memasang ekspresi kecewa. Menghela napas dan tersenyum ringan, ia berkata, “Sekali saya tidak bisa datang, padahal itu mungkin saja akan menjadi momen bersejarah bagi kota ini.”


 


 


“Sibuk, ya?” Odo mendekat ke Vil di sebelahnya, lalu melirik kecil seakan was-was akan sesuatu.


 


 


Pelayan penginapan itu sedikit menyadari gelagat mata pemuda rambut hitam itu yang aneh. Ia mengerti kalau ruangan di belakang mereka berdua tidak boleh dimasuki oleh siapa pun selama dipinjam mereka. Memasang senyum ramah untuk formalitas pelayan penginapan itu menjawab, “Iya, banyak eksekutif yang menginap di sini, sih. Mereka yang menjadi saksi kebanyakan berasal dari luar. Hanya penginapan ini satu-satunya tempat yang sesuai dengan standar mereka.”


 


 


“Haha, kalau semangat, semangat!”


 


 


“Iya, tentu saja!” jawab pelayan itu dengan ceria. Berbalik dari Odo, ia berkata, “Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan. Masih banyak yang harus kami persiapkan.”


 


 


“Ya ....”


 


 


Setelah bertukar salam ringan seperti itu dan menunggu pelayan penginapan itu pergi menuruni anak tangga di ujung lorong, Odo menghela napas dan berbalik menghadap pintu kamar yang ia tuju. Itu bukan kamar tempatnya tidur, melainkan kamar yang dirinya pinjam untuk menyembunyikan Tox Tenebris yang asli dan keluarganya.


 


 


Mengetuk satu kali, Odo berkata, “Setiap orang membuat kesalahan, setiap orang memiliki dosa. Manusia datang ke dunia membawa dosa, menurunkan itu kepada anaknya dan berharap kelak itu akan bersih nantinya.”


 


 


“Kami bukanlah anak manusia, karena itu tidak ada dosa atau kesalahan pada kami,” jawab seorang pria dari dalam kamar.


 


 


Mendengar itu, Odo membuka pintu dan segera masuk. Vil yang mengikuti segera menutup pintu, menguncinya dan berjaga supaya tidak ada yang masuk. Di dalam kamar tersebut, Isla Tenebris duduk di ujung ranjang sembari memangku putri, Suigin. Ibu dan anak itu memasang ekspresi mengantuk. Bukan karena meremehkan atau semacamnya, namun karena itu ciri dari wanita bernama Isla itu yang merupakan Demi-human tipe kukang dan putrinya meniru hal tersebut.


 


 


Di dekat wanita dan anak perempuan dengan pakaian lusuh tersebut, berdiri pria muda rambut pirang yang usianya kisaran dua puluh tahun. Pria itu memiliki mata Heterochromia, sebelah kanan berwarna keemasan dan kiri biru cerah. Cukup tinggi dan memiliki badan yang tidak terlalu kekar.


 


 


Setelah mengambil tiga langkah ke depan dari pintu, Odo segera menatap pria itu dan dengan serius berkata, “Eksekusinya sudah selesai .... Dengan ini, kau sepenuhnya harus membuang identitasmu. Pria bernama Tox Tenebris sudah mati, kau paham?”


 


 


Pria itu menundukkan wajah dengan muram, terlihat cemas dan penuh rasa bersalah. Dengan keraguan, ia mengangkat wajah dan bertanya, “Baiklah .... Tuan sudah menyelamatkan keluargaku dan bahkan membebaskanku dari eksekusi .... Aku akan setuju dengan semua perkataan Tuan Odo. Tapi ....”


 


 


“Tapi?”


 


 


“Apa ini tidak masalah? Aku ... penjahat, Tuan Odo seharusnya sangat paham itu. Aku membunuh banyak orang, memimpin para kriminal da—!”


 


 


“Sepertinya kau salah paham,” potong Odo. Pemuda rambut hitam itu mendekat ke depan pria rambut pirang tersebut, menatap tajam tanpa memedulikan anak dan putrinya. Mengangkat kening dan menunjuk sampai ujung jarinya menyentuh kening pria itu, Odo menegaskan, “Aku menolongmu bukan karena iba atau semacamnya, aku melakukan ini karena butuh kekuatanmu itu. Kau seorang Native Overhoul, bukan? Aku membutuhkannya! Aku sudah bilang itu sebelum membawamu ke sini ....”


 


 


Odo menurunkan tangannya dari pria itu. Namun setelah mendapat perkataan seperti itu, pria rambut pirang yang mengenakan pakaian tunik sederhana itu tetap saja memasang wajah penuh rasa bersalah dan tak berani menatap mata Odo secara langsung.


 


 


“Tetap saja .... Rasanya tak pantas aku mendapatkan hal seperti ini.”


 


 


Odo mengambil satu langkah mundur mendengar itu, mengerti pola pikir mantan pemimpin bandit tersebut secara penuh melalui percakapan tersebut. Membuka mata lebar-lebar dan mengaktifkan Spekulasi Persepsi, Odo melakukan simulasi sampai 50 kali untuk mendapat kesimpulan yang memuskan.


 


 


Menghela napas ringan, Odo menatap risih dan berkata, “Padahal bandit tapi sikapmu aneh, ya? Kalau berperan sebagai penjahat, lakukan saja sampai akhir. Dasar tak punya pendirian.”


 


 


Pria itu terpancing. Menatap kesal bercampur cemas dan berkata, “A-Aku menjadi bandit bukan karena ingin! Tap—!”


 


 


“Sebuah keharusan?”


 


 


Perkataan itu membuat pria rambut pirang itu tersentak. Isla memasang wajah sedih dan memeluk anak gadis dalam pangkuannya. Ia sangat paham ada banyak hal yang menjerat suaminya dan hal tersebut mendorongnya melakukan kejahatan.


 


 


Sebelum pria itu berkata, Odo kembali bertanya, “Karena orang-orang di sekitarmu mendorongmu melakukan kejahatan? Jadi kau melakukan kejahatan?”


 


 


“Ya .... Mereka mendorongku melakukannya.”


 


 


Mantan pemimpin bandit itu menatap dengan ekspresi murka yang bercampur dengan penyesalan, mengingat dosa-dosanya dan seluruh penderitaan yang dialami sampai sekarang. Pria itu merasa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang dipaksakan dunia padanya, hampir tak ada satu pun kejahatan yang dilakukan karena dirinya menikmati itu. Namun dalam benak hatinya, fakta bahwa dirinya memang benar melakukan kejahatan membuatnya diterjang rasa bersalah dan merasa tak pantas mendapat pertolongan seperti sekarang.


 


 


Mengangkat wajah dan menatap seperti akan menangis, ia dengan sendu berkata, “Anda tahu, aku juga dulunya adalah anak dari desa yang dibantai oleh para bandit. Aku ditangkap dan dijadikan budak mereka .... Karena kekuatanku ini, mereka tidak menjualku dan memanfaatkan kekuatanku untuk menjarah .... Dengan kekuatanku, mencuri sangatlah mudah ....”


 


 


Odo tidak peduli dengan cerita seperti itu. Dengan dingin ia bertanya, “Lalu kenapa kau tidak berhenti saat kelompok bandit bubar? Seharusnya setelah pembasmian yang dilakukan Dart Luke beberapa tahun lalu itu sudah selesai. Tapi, kenapa kau malah mengumpulkan mereka lagi?”


 


 


Pria rambut pirang itu terdiam, menundukkan wajah dan terlihat kesal dengan air mata bercucuran. Isla tak tega melihat suaminya, ia yang paham dengan hal itu tak ingin putrinya mendengar dan segera menutup telinga Suigin.


 


 


Pria itu sama sekali tidak memedulikan martabatnya sebagai seorang pria, menatap penuh penyesalan dan dengan pasrah berkata, “Aku tak punya pilihan .... Marquess itu ..., dia sama sekali tidak mengerti perasaan orang-orang tertindas seperti kami. Tidak semua orang menjadi bandit karena ingin ...! Kebanyakan mereka terpaksa karena tak ingin selalu menjadi budak .... Meski perbudakkan dilarang, bukan berarti itu tidak ada di negeri ini! Aku ....”


 


 


Odo menyadari itu dengan jelas. Ia juga paham kelemahan-kelemahan dalam hukum kerajaan Felixia. Namun bukan berarti seseorang bisa menyalahkan hukum, hal seperti itu tidak bisa dilakukan dengan bebas dalam pemerintahan monarki.


 


 


“Ya, aku tahu itu.” Odo memalingkan pandangannya, mengingat kembali kalau tragedi yang ada memang kesalahan dari Ayahnya yang kurang baik menata wilayah. Namun saat berpikir kembali, bukan itu masalahnya. Moral dan Nilai pada daratan Michigan secara mendasar memang sudah seperti itu, unsur yang kuat menindas atau menguasai yang lemah telah tertanam baik secara sadar atau tidak sadar dalam masyarakat.


 


 


Menatap pria rambut pirang di hadapannya, Odo berkata, “Menculik seseorang untuk dijadikan budak memang kejahatan, tapi jika orang tua menjual salah satu anaknya karena masalah ekonomi itu bukanlah kejahatan. Hak dan hukum di negeri ini masih sangat lemah terkait anak-anak dan perempuan. Tapi, tetap saja tidak ada alasannya untukmu menjadi pemimpin para bandit itu.”


 


 


“Mereka semua .... Mereka memaksaku untuk melakukan itu!” Pria itu memulai emosional, berusaha membuat Odo mempercayainya dan kembali berkata, “Tentu saja aku ingin segera berhenti dan angkat kaki dari dunia busuk seperti itu! Aku juga sudah memiliki keluarga saat itu! Tapi ... para tengil itu ... mereka datang dan seenaknya menjadikanku pemimpin mereka! Kalau aku tidak memenuhi tuntutan mereka, para sialan itu pasti akan melakukan sesuatu pada keluargaku! Hanya itu ... satu-satunya cara bagiku untuk melindungi keluargaku.”


 


 


Suasana sekilas senyap setelah emosi pria itu meluap. Odo hanya memasang ekspresi datar, memahami perkataan tersebut dengan sesama dan berkata, “Aku mengerti apa yang dideritamu selama ini. Tapi ... kira-kira apa kau berani berkata seperti pada orang-orang yang keluarganya menjadi korban tindakanmu?”


 


 


“I-Itu ....?”


 


 


Pria itu dan Isla tersentak, mereka paham kalau hal seperti itu sangat tidak pantas bagi mereka. Mengorbankan yang lain demi untuk tetap selamat, hanya untuk mereka sendiri dan membiarkan yang lain sengsara adalah tindakkan yang sangat tidak bisa dimaafkan dalam benka mereka.


 


 


“Kau  takkan berani,” ucap Odo. Menatap datar, ia menegaskan, “Kalau pun berani, pasti mereka akan mengejarmu dan memotong-motong tubuhmu .... Apa kau tetap akan berkata seperti itu?”


 


 


“Aku paham itu ....” Pria rambut pirang tersebut menggertakkan giginya. Menatap gemetar dan menjawab, “Aku adalah pendosa besar .... Tapi! Mereka tidak bersalah! Tolong jangan sentuh mereka! Aku janji akan melakukan apa saja untukmu! Kumohon jangan sentuh istri dan putriku!”


 


 


Odo sedikit terkejut pria itu malah berkata seperti itu untuk melindungi keluarganya. Menghela napas dan memalingkan pandangan, ia bergumam, “Siapa juga yang doyan istri orang.”


 


 


““Eh?”” Vil dan pria itu terkejut saat mendengar sekilas gumam pemuda itu.


 


 


“Huh, kalau kau memang merasa bersalah, tebus hal itu dengan tindakkan,” ucap Odo.


 


 


“Ti-Tindakan?”


 


 


“Saat seorang pria membunuh seorang wanita, ia harus menyelamatkan dua orang anak. Saat prajurit membunuh di medan perang, dia harus bisa melindungi dua penduduk sipil. Karena itu, saat penjahat membunuh dan ingin menebus kesalahannya, maka penjahat itu harus bisa menyelamatkan paling tidak kali dua lipat dari jumlah yang dibunuhnya. Jadi, berapa yang telah kau bunuh selama ini?”


 


 


Pria rambut pirang itu gemetar, benar-benar tidak pernah memikirkan orang yang pernah dibunuhnya atau bahkan menghitungnya. Dengan penuh rasa cemas, ia berkata, “A-Aku ... tidak mengingatnya. Itu terlalu banyak .... Mungkin puluhan sampai ratusan. Kalau ditambah orang yang mati karena perintahku .., i-itu pasti lebih banyak lagi ....”


 


 


“Kalau begitu, hiduplah untuk menyelamatkan orang lebih banyak dari itu. Tak perlu dua kali lipat, hanya sampai kau merasa telah menyelamatkan orang-orang lebih satu saja dari jumlah yang kau bunuh. Paling tidak ... itu sudah cukup.”


 


 


Mendengar itu pria itu tertegun, sangat mengerti kalau pemuda di hadapannya berkata memancing emosi untuk memberikan jalan keluar atas rasa bersalah yang menyerangnya. Pria itu sadar kalau dirinya tidak boleh mati, ia paham hal tersebut karena sudah memiliki tanggungan sebuah keluarga. Namun rasa bersalah tetap menyerangnya. Karena itu, Odo ingin menggunakan itu untuk tetap memaksanya.


 


 


“Orang sepertiku ... mana bisa menyelamatkan. Aku ....” Pria itu mengusap air matanya, menatap dengan penuh rasa berharap kata-kata yang keluar dari pemuda rambut hitam memberinya petunjuk.


 


 


Layaknya apa yang diharapkan oleh mantan pemimpin bandit tersebut, Odo berkata, “Menyelamatkan bukan hanya soal nyawa. Memberikan bantuan finansial, memberikan harapan, memberikan masa depan, memberikan tujuan hidup, memberikan tempat, dan hal-hal lain juga merupakan bentuk keselamatan. Berusahalah untuk memenuhi itu, itulah tujuan barumu sebagai orang lain. Paham?”


 


 


“.....”


 


 


Pria itu hanya terpana karena mendapat kata-kata yang sesuai untuk menghapus rasa bersalahnya. Itu benar-benar menyelamatkan hati pria itu, membuatnya berlutut penuh hormat tanpa satu katamu keluar dari mulutnya. Hanya ada air mata mengalir, membasahi pipi dan menetas ke lantai. Istri dan putrinya yang melihat itu hanya bisa terpana, tanpa ada kata yang bisa keluar.


 


 


Menatap datar seakan semua itu tidak menyentuh hatinya, Odo tersenyum tipis dan dengan ringan berkata, “Mulai sekarang namamu akan diganti .... Mulai sekarang kau adalah Matius Mitus. Semoga nama itu bisa mengikatmu dalam penebusan .... Untuk urusan surat-surat tanda penduduk, aku akan mengurusnya. Nanti malam aku akan kembali lagi.”


 


 


Odo berbalik, Vil pun membukakan pintu. Sebelum keluar, pemuda rambut hitam itu sedikit melirik dan berkata, “Sebelum itu, pikirkan dengan baik apa yang seharusnya kau lakukan. Pikirkan itu matang-matang untuk keluargamu dan dirimu sendiri, penebus dosa.”


 


 


Kalimat tersebut menjadi penutup pembicaraan, membuat pria dengan nama baru Matius tersebut mengangkat wajahnya dengan penuh air mata berliang. Itu adalah kalimat yang sangat dirinya dambakan sebagai orang yang tertindas yang berpura-pura sebagai penindas.


 


 


««»»


 


 


 


 


Pada salah satu jalan utama menuju pelabuhan, seorang pemuda rambut hitam dan perempuan rambut biru berjalan di antara orang-orang. Meski tak menginginkannya, keberadaan mereka menjadi pusat perhatian karena paras indah perempuan rambut biru tersebut. Warna rambutnya bisa dikatakan sangat jarang dan membuat orang-orang dari luar kota penasaran.


 


 


Tidak memedulikan mereka, pemuda rambut hitam itu menggandeng pasangannya dan mempercepat langkah kaki menuju daerah pelabuhan. “Apa tatapan mereka mengganggu, Odo?” tanya perempuan rambut biru terembut.


 


 


“Ya, mengganggu. Aku lupa kalau warna rambutmu itu mencolok. Saat pertama datang penduduk kota juga melihatmu seperti ini ....”


 


 


Sesampainya di daerah pelabuhan, Odo segera berhenti menggandeng Vil dan bersandar pada pagar pembatas dermaga. Tempat tersebut lebih sepi dari biasanya, hanya ada beberapa nelayan yang baru selesai membersihkan gudang-gudang dan dek kapal. Karena hampir semua tempat yang tidak menyediakan pelayanan jasa libur, daerah pelabuhan menjadi sangat sepi karena para nelayan kebanyakan memilih datang melihat eksekusi dan sehabis itu langsung pulang untuk berlayar besok harinya.


 


 


Roh Agung sekilas melihat telapak tangannya sendiri, merasa aneh dalam benak setelah tangannya digenggam erat oleh pemuda rambut hitam tersebut. Namun saat melihat Odo yang sedikit menghela napas dan wajahnya memucat, rasa itu tertimbun oleh cemas.


 


 


“Apa kau baik-baik saja? Dari kemarin ... kamu belum tidur atau pingsan lagi, loh.”


 


 


“Kenapa kau bicara seakan pingsan itu wajar?” Odo mengatur pernapasannya dan menatap ringan.


 


 


“Habisnya ... itu masuk dalam proses pemulihan, bukan?  Apa tubuhmu tidak terbebani?”


 


 


“Kurasa tidak .... Karena sekarang aku belum mengaktifkan struktur sihirku lagi, seharusnya pemulihan sedang berjalan lebih lambat di ranah tertutup. Aku bisa bangun hampir 23 jam sehari.”


 


 


“Eh?” Mata Vil terbuka lebar, melangkah mendekat dan memastikan, “Berarti kamu hanya perlu tidur satu jam sehari?”


 


 


“Begitulah. Yah, meski secara mental aku sekarang sangat butuh istirahat.”


 


 


Vil paham maksudnya, memang percakapan yang Odo lakukan dengan mantan pemimpin bandit saat di penginapan sangat menguras mental. Berbicara kebohongan dan gertakkan, memanipulasi dan menekan orang lain seperti itu juga sangat menguras staminanya secara batin.


 


 


Roh Agung itu sekilas ingin sedikit menghibur Odo. Mendekat dan tersenyum, dengan riang Vil meledek, “Tidak doyan istri orang, ya?”


 


 


Odo memalingkan pandangannya, tak mau disinggung soal itu dan berkata, “Kau malah bahas itunya, ya.”


 


 


“Habisnya sangat jarang mendengar Odo bahas selera perempuan, sih.”


 


 


Vil melangkah mundur, berputar dan membiarkan rambutnya berkibar indah diterpa angin senja. Melihat senyuman yang nampak pada perempuan yang biasanya terlihat minim ekspresi itu, sekilas Odo mendapat rasa lega.


 


 


Balik tersenyum, pemuda itu berkata, “Selera, ya .... Kurasa seleraku soal itu sangat buruk.”


 


 


“Hmm, masa sih?” Vil mulai tertarik, berhenti berputar dan menatap penuh rasa penasaran. Dengan sorot mata penuh semangat, ia meminta, “Coba sebutkan, ayolah!”


 


 


“Aku pencinta kaki.”


 


 


“Eh?” Vil langsung bingung.


 


 


“Ah, lupakan. Tolong lupakan itu.”


 


 


“Apa tadi? Kaki? Seleramu kaki?”


 


 


Di tengah pembicaraan tersebut, orang yang mereka tunggu di pelabuhan akhirnya datang. Seorang gadis rambut keperakan berdiri dengan ekspresi heran karena sekilas mendengar pembicaraan mereka, ia adalah Nanra Tara.


 


 


“Kaki apanya?” tanya gadis itu.


 


 


“Oh, Odo katanya su—UhK!” Vil langsung dibungkam pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Menatap Nanra dan menarik mundur Vil. Odo melepas sebelah sarung tangannya dan berkata, “Nanra, apa kau selesai mempelajarinya?”


 


 


Nanra sekilas bingung dengan tingkah mereka berdua. Berusaha untuk tidak menanyakannya, gadis itu menatap Odo dan menjawab, “Kurang lebih sudah. Akuntansi Dasar kurang lebih aku sudah memahaminya, layanan perencanaan dan struktur organisasi juga sudah diriku pahami. Tapi soal agenda kegiatan dan perjalanan dinas masih belum kupahami secara penuh.”


 


 


“Hmm!” Odo mengangguk, tersenyum ringan dan berkata, “Itu tak masalah. Kau memang berkembang sangat cepat. Tapi ... soal itu ..., apa kau tak masalah?”


 


 


“Ah, bandit?”


 


 


“Ya ....”


 


 


Nanra memalingkan pandangan. Atas apa yang telah dilakukannya, gadis itu sekarang penuh menjadi satu komplotan pemalsuan eksekusi tersebut. Sedikit rasa cemas tersirat pada raut wajah Nanra, namun senyuman tegar ia berikan dan dengan penuh rasa yakin ia berkata, “Kurasa aku tidak memasalahkannya lagi. Lagi pula, salah satu dari mereka sudah mendapat hukumannya. Untuk satunya, aku yakin pasti keputusan Odo tepat. Kalau memang aku menolak rencanamu, Odo .... Aku pasti sudah melaporkan ini kemarin.”


 


 


Odo sekitar tertegun, menatap dengan rasa tidak percaya. Menggaruk bagian belakang kepalanya sendiri, pemuda itu memalingkan wajah dan berkata, “Kamu ... berubah, ya. Apa kamu membicarakan sesuatu dengan Canna saat berdua menjaga orang itu?”


 


 


“E-Eh? Tidak ada, kok.” Gadis rambut keperakan itu menunjukkan reaksi yang mencurigakan.


 


 


Odo sekilas melirik, menganalisis hal tersebut dan memahaminya. Kurang lebih memperkirakan apa yang Canna dan Nanra bicarakan, Odo dengan ringan berkata, “Hmm, ya sudah. Asal semuanya berjalan lancar, kurasa tidak masalah.”


 


 


“I-Iya,” ucap Nanra gugup.


 


 


Odo menatap datar melihat gadis itu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dengan baik. Menghela kecil, ia melanjutkan, “Kalau begitu, aku akan sampaikan ini untuk rencana selanjutnya.”


 


 


“Hmp! Aku siap!” Nanra berdiri tegak dan memasang ekspresi semangat.


 


 


“Apa kau mau menjadi sekretarisku nanti?”


 


 


“Eh?” Wajah bingung langsung nampak pada Nanra saat mendengar tawaran seperti itu. Dirinya tahu apa itu, namun tidak mengerti kenapa bisa hal seperti itu Odo tawarkan sekarang.


 


 


“Menjadi sekertas. Kau tahu artinya, ‘kan?”


 


 


“Te-Tentu saja! Setelah membaca buku-buku yang kamu sarankan dan mendapat pengetahuanmu, hal seperti itu tentu saja tahu .... Tapi ... bukannya itu ....” Nanra sedikit menatap enggan, penuh pikiran negatif dan melangkah mundur. Stigma jelek pada hal seperti sekretaris tertanam pada pola pikirnya.


 


 


“Aku ingin menjadikanmu tangan kanan dalam mengolah tokoku nanti,” ucap Odo.


 


 


“Bukannya Roh Agung di sebelahmu lebih cocok? Aku ....”


 


 


“Diriku tak cocok untuk posisi itu,” sambung Vil yang kembali berdiri di sebelah Odo. Tersenyum ringan, perempuan itu menjelaskan, “Karena aku Roh Agung yang dikontrak Penyihir Cahaya secara resmi, diriku juga terikat dengan perpustakaan secara hukum selain struktur. Karena itu sebenarnya diriku tak bisa terus berada di dekat Odo sebelum Mavis melepas kontraknya. Dan juga, ada beberapa yang perlu dilakukan. Karena itu yang paling cocok adalah kamu.”


 


 


“Kalau penyihir dari Miquator itu? Bukanya dia sangat cerdas?” elak Nanra.


 


 


“Cerdas dalam standar penyihir,” ucap Odo. “Soal seperti ini, dia lebih awam darimu.”


 


 


Nanra terdiam, memikirkan hal itu baik-baik. Namun, tetap saja itu membuatnya bingung. Selain karena umur, ada beberapa hal yang membuat Nanra enggan menerima tawaran tersebut.


 


 


Sebelum gadis itu memutuskan, Odo mengulurkan tangan kanan yang sarung tangannya dilepas dan kembali menawarkan, “Apa kau mau, Nanra? Jadi sekretaris itu enak, loh.”


 


 


Wajah enggan langsung nampak pada gadis itu. Dengan ekspresi sedikit jijik, ia dengan ragu berkata,“Ta-Tapi ... bukannya sekretaris itu ... pekerjaan yang ujungnya menjadi simpanan bos, ‘kan? Kata orang-orang di perpustakaan, kalau sekretaris kerja di perusahaan swasta pasti ujung-ujungnya akan ada skandal.”


 


 


Vil dan Odo terkejut mendengar itu, terheran anak gadis sepertinya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Odo menatap ringan, tersenyum tipis dan berkata, “Padahal masih kecil tapi kata-katamu dalam banget .... Yah, memang secara umum di masyarakat Felixia hal seperti itu banyak. Tapi ... apa kau pikir aku akan melakukan hal seperti itu?”


 


 


“Kemungkinannya tak hilang ....”


 


 


“Kejam. Aku tak akan memaksamu melakukan hal menjijikkan, loh. Aku paham kau membenci hal semacam itu.”


 


 


Nanra terdiam, gadis berguan putih gading itu sedikit berpaling dan berkata, “Akan aku pertimbangkan.”


 


 


Jawaban seperti itu membuat Odo kembali memakai sarung tangannya yang dilepas. Menarik napas dengan ekspresi sedikit kecewa, ia memalingkan pandangannya ke arah laut untuk melihat pemandangan senja kemerahan.


 


 


“Terima kasih,” ucap pemuda itu. Menoleh dan tersenyum, ia menambahkan, “Tolong pikirkan itu sampai minggu depan. Kira-kira bangunannya akan selesai sekitar dua minggu lagi, aku perlu menyiapkan beberapa hal sebelum itu.”


 


 


“Hmm ....” Nanra hanya menjawab dengan anggukkan kepala.