
Pepohonan Ek terbentang luas membentuk sebuah hutan rimbun, burung-burung bertengger pada ranting dan cabang. Suara mereka bagaikan melodi alam, penuh kehangatan meski tidak tahu apa yang sebenarnya para burung itu bicarakan satu sama lain. Rerumputan terasa lembab, akar-akar besar sampai keluar dari tanah dan jamur tumbuh di sekitarnya.
Di tengah semua itu, dua orang duduk bersebelahan dan bersandar pada sebuah pohon besar yang daunnya bagaikan payung raksasa yang meneduhi mereka. Satu adalah seorang perempuan rambut hitam dengan gaun cokelat polos, sedangkan satunya adalah seorang pria berambut hitam yang mengenakan toga dan celana hitam.
“Menurutmu kebahagiaan itu apa?” tanya sang perempuan.
Pria sejenak mendongak ke atas, membiarkan wajahnya terpapar sinar yang masuk melewati sela-sela dedaunan. Dengan lemas ia pun menjawab, “Kebahagiaan adalah sebuah kebebasan, tidak tergantung pada satu hal dan memiliki banyak pilihan. Tanpa kekangan, tanpa tekanan, dan tanpa didominasi, itulah kebahagiaanku. Kalau kau?”
“Diriku tak butuh kebebasan, diriku tidak butuh hal seperti itu .... Kebebasan terlalu menyedihkan, batinku sakit karena kesepian.”
“Kenapa?”
“Habisnya ..., saat harus mencapai kebebasan ... engkau harus pergi sendiri. Meninggalkan semuanya dan pergi menuju Tanah Kebebasan. Meninggalkanku untuk selamanya dan —”
Sebelum perkataan itu selesai, sang pria menghilang dari sisinya untuk selamanya. Perempuan itu hanya bisa termenung, menundukkan wajah dan isak tangisnya seketika pecah. Meringkuk sendirian di dalam hutan, sampai akhir yang bahkan dirinya sendiri tidak ketahui.
Itulah salah satu ingatan lama dari sang Dewi Helena, sosok yang sekarang masih berada di cela dunia. Membuka mata dan memasang wajah sendu, air mata mengalir membasahi pipi sang dewi. Sendirian di celah dimensi, ia dengan sendu berkata, “Mau berapa kali engkau akan meninggalkanku? Padahal apa yang kuharapkan hanyalah berada di sampingmu ....”
Di tengah keheningannya yang mengisi celah dimensi, aura putih yang keluar dari perempuan bergaun hitam itu mulai tersebar dan menarik keluar Realm miliknya untuk mewarnai tempat penuh kekacauan itu dengan putih terang. Membangun sebuah personal dimensi, mengubah susunan dan membuat hukumnya sendiri.
Pada momen itu, dalam jarak seluas cahayanya bisa memancar menjadi dunia miliknya sendiri. Dikuasai, diatur dan diberikan susunan pembentuk. Konsep jarak tercipta, konsep waktu terbentuk lebih lambat dari standar Dunia Nyata dan berbagai komponen untuk penciptaan seketika mengisi dunia baru yang diciptakan sang dewi.
Sebuah ruang tanpa pintu keluar tercipta dengan cepat, hanya seluas dua ratus meter dan sama sekali tidak ada properti di dalamnya, itulah dunia yang diciptakan sang dewi kurang dalam satu menit. Ia melangkah turun dari atas peti mati, berjalan di atas permukaan lantai dengan tanpa alas kaki. Tempat itu memiliki konsep cahaya, namun tidak ada pencahayaan dan kegelapan memenuhi.
“Lilin tersusun di lantai, kertas serta alat tulis di meja kerja, itulah apa yang diriku butuhkan.”
Apa yang dikatakan sang Dewi menjadi nyata, lilin-lilin tersusun rapi di atas lantai putih dan menerangi ruangan tersebut. Cahaya menampakkan wujud asli ruang putih tanpa properti tempat tersebut. Tepat di depannya, sebuah meja dengan beberapa lembar perkamen dan pena tersedia. Ia pun melangkah, mulai duduk di atas kursi dan membuat sesuatu di atas kertas tersebut.
Lingkaran sihir, komponen formula, struktur sirkuit, peta genetik, dan segala macam apa yang dirinya butuhkan ia buat konsepnya di atas kertas. Berlembar-lembar, beratus lembar, bahkan beribu lembar. Seakan tidak memedulikan waktu yang ada, ia terus membuat dan membuat konsep dengan kertas-kertas yang bisa dengan bebas dirinya munculkan.
Pelayan dirinya ciptakan, bentuk kehidupan mulai muncul di ruangan tersebut sebagai pelayannya. Golem yang terbuat dari keramik, homunculus yang mengenakan seragam pelayan, para ksatria dengan sayap di punggung dan memiliki halo di atas kepala mereka, serta berbagai objek tidak hidup tercipta memenuhi ruang yang sebelumnya kosong itu.
Setiap kali ia selesai mengisi kertas perkamen dengan pena bertinta hitam dan melemparnya ke lantai, itu seketika menjadi objek atau makhluk hidup yang sepenuhnya melayani sang Dewi. Ia memang bisa dengan mudah menciptakan sesuatu hanya dengan membayangkan, namun hal seperti bentuk kehidupan dan alat-alat rumit ia perlu membangun konsepnya dengan jelas dari kertas untuk menciptakannya.
“Ku tak butuh makhluk berkepribadian lagi untuk mengusir kesepianku, hanya alat yang diperlukan .... Alat untukku, alat untuknya ....”
««»»
Matahari perlahan naik, memperlihatkan sosoknya sebagai awal sebuah pagi. Kota yang terletak di daerah pesisir tersebut mulai disinari dan sebuah awal rutinitas dimulai. Sebelum angin laut mulai bertiup kencang ke arah kota tersebut, setiap penduduk keluar dari kediaman dan memulai kegiatan mereka.
Beraneka ragam kegiatan, beraneka ragam pekerjaan, beraneka ragam ras dan kepentingan membuat sebuah harmoni, entah itu komponennya berasal dari dalam atau luar kota. Ada yang bilang susunan seperti itu adalah masyarakat, ada juga yang bilang kalau hal tersebut adalah sebuah kerumunan. Dilihat dari beberapa aspek yang ada, entah itu baik atau buruk, memang kumpulan individu yang ada di dalam kota tersebut membentuk sebuah hukum mereka sendiri dan diatur dalam susunan moral secara nilai secara tidak tertulis.
Kereta kuda dan gerobak dagang lalu-lalang memenuhi jalan utama, dengan kepadatan terpusat dari gerbang utama sampai ke balai kota dan distrik perniagaan. Langkah kaki puluhan sampai ratusan orang langsung memadati setiap sudut jalan, suara ramai menghapus kesunyian yang ada di pagi hari dan dengan bertahap semakin ramai seiring dengan matahari yang terus naik.
Pada gerbang utama kota Mylta tersebut, kereta kayu yang ditarik oleh seekor Drake menjadi pusat perhatian orang-orang yang lalu-lalang di sekitarnya. Simbol kerajaan Felixia yang terukir pada kereta kayu menandakan alat transportasi itu adalah milik salah satu dari Tiga Keluarga Kerajaan, membuat semua orang yang memenuhi jalan mulai menyingkir dan membiarkan kereta itu lewat.
Para prajurit dan penjaga gebang memberikan hormat, tidak ada yang menghentikan kereta kayu itu dan memeriksanya karena standar yang diterapkan memang tidak memberikan mereka wewenang untuk memeriksa golongan atas tersebut. Seorang penjaga melihat ke arah jendela kereta kayu megah itu, pantulan cahaya sekilas membuatnya tidak bisa melihat siapa yang ada di dalamnya. Namun saat sudut kereta sesuai dengan penglihatan dan ia bisa dengan jelas melihat siapa yang sebenarnya naik di dalam kereta kayu mewah itu, seketika kedua mata penjaga tersebut terbuka lebar.
“Be-Beliau benar-benar Lady Mavis .... Master berkunjung ke kota kita!”
Rekan-rekannya lekas mendengar hal tersebut, memastikan rasa penasaran mereka karena yang duduk di kursi kusir adalah dua orang Shieal yang bisa dikatakan peringkatnya lebih tinggi dari mereka yang hanya seorang prajurit dan penjaga gerbang.
Salah seorang prajurit berkata pada rekannya, “Aku akan lapor ke Pak Iitla Lots! Kalian cepat tanyakan apa keperluan Master sampai-sampai datang ke kota ini!”
“Ya!”
Salah satu penjaga mendekat ke arah kereta kayu yang ditarik oleh seekor Drake tersebut, lalu sembari mengikutinya dari samping ia bertanya pada salah satu perempuan yang menjadi kusir, “Pe-Permisi, ada keperluan apa Lady pagi-pagi datang ke kota ini? Kalau bisa, boleh saya mematikannya untuk laporan kunjungan tamu penting?”
Minda yang bertugas sebagai kusir menarik kencang Reins (tali kemudi), menghentikan laju Drake dan melihat ke arah penjaga tersebut. Menatap rendah dari tempat duduk kusir yang tinggi, perempuan rambut hitam itu menjawab, “Kami datang untuk menjemput Tuan Muda Keluarga Luke, antar kami ke tempat barak kota ini. Seharusnya beliau ada di sana ....”
“Tuan Muda .... Maksud Nona Shieal ... Tuan Odo?”
“Si-Siap! Akan saya antar ..., silakan ke lewat kemari jalannya ....”
Penjaga gerbang tersebut akhirnya menunjukkan jalan menuju barak, dibantu rekan-rekannya ia membuat jalan dan memerintahkan orang-orang yang ramai menonton untuk menyingkir sejenak memberikan jalan untuk kereta Drake tersebut.
.
.
.
.
Orang-orang pada barak berkeluaran dari bangunan, penuh antusias seakan sosok yang datang tersebut adalah seorang Imam dan mereka agung-agungkan. Entah itu kadet, pejabat sipil, sampai perwira berpangkat tinggi, mereka semua melihat ke arah kereta kayu yang sampai pada jalan utama di depan barak.
Lambang kerajaan Felixia pada ukiran pintu, warna kain biru gelap yang khas sebagai dekorasi, dan bentuk klasik dari kereta kayu. Seorang perempuan berambut hitam yang mengenakan seragam pelayan turun dari tempat kusir, berjalan ke arah pintu kereta dan membukakannya. Dari dalam seorang wanita berambut pirang lurus terlihat, kulitnya putih cerah dan sorot matanya birunya seakan bersinar memantulkan cahaya. Ialah sosok yang orang-orang hormati, sosok pahlawan dan juga dikenal sebagai Penyihir Cahaya yang dikagumi banyak orang di kerajaan Felixia, terutama para kaum perempuan.
Imania yang sebelumnya juga duduk di kursi kusir segera turun untuk mengambil balok tangga dari bagasi kereta dan meletakkannya di depan pintu, untuk pijakan turun sang Penyihir Cahaya. Wanita dengan gaun hijau toska itu melangkah keluar dan menggunakan balok untuk turun, gaun panjangnya terjuntai sampai sepatu hak tinggi yang dipakainya dan pernik bros mawar merah yang ada pada dadanya sekilas mengkilat terkena paparan cahaya matahari.
Memijakkan kaki di atas permukaan tanah, Mavis Luke ditemani oleh kedua pelayan paling tepercayanya, Fiola dan Julia. Imania dan Minda berdiri di belakang kedua pelayan yang tingkatnya lebih tinggi tersebut, lalu mereka berjalan di lapangan latihan menuju bangunan utama di barak tersebut.
Orang-orang yang keluar dari bangunan tidak ada yang berani menyapa atau menyambut kedatangan mereka, semua orang di barak hanya bisa melihat dari kejauhan dan tidak ada yang mendekat. Rasa kagum membuat mereka takut, merasa tidak pantas pada diri mereka sendiri saat melihat keindahan dari sosok yang sangat dekat dengan kesempurnaan yang seakan diciptakan langsung oleh para Dewi tersebut.
Ada beberapa perwira berpangkat tinggi yang menghampiri mereka dan ingin menyambut. Namun saat Mavis menghentikan langkah kaki dan melirik, seketika mereka langsung berlutut di hadapan sosok wanita yang telah mencapai tingkat keilahiahan tersebut. Bukan hanya Mavis yang memancarkan aura agung dan membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa lebih rendah, kedua Demi-human yang berdiri di kedua sisi Mavis juga memiliki pesona serta aura yang begitu tinggi dan membuat setiap orang terpana.
“Apa ada yang ingin engkau katakan, rakyatku?” tanya Mavis.
Kalimat itu membuat para perwira itu tersentak. Salah satu dari mereka mengangkat wajahnya, berusaha menatap sosok anggun tersebut dan menjawab, “Hamba ingin tahu ada gerangan apa yang membuat Anda datang ke barak kami, My Marquise. Bisakah orang rendah ini tahu apa keperluan Anda?”
“Diriku hanya ingin menemui Putraku—”
Perkataan Mavis terhenti saat merasakan hawa keberadaan yang tidak asing baginya. Wanita itu lekas menoleh dengan cepat, melihat pemuda rambut hitam dengan kemeja putih keluar dari bangunan utama bersama beberapa orang. Tanpa memikirkan para perwira yang berlutut ke arahnya, wanita itu sedikit mengangkat gaunnya dan berjalan cepat ke arah putranya tersebut. Dengan sepatu hak tinggi ia tidak mengurangi kecepatan, berjalan di atas tanah dan menaiki anak tangga untuk segera melihat putranya dari dekat.
“Bunda .... Kalau Bunda ke sini berarti di—”
Mavis langsung memeluk putranya, tanpa mendengarkannya terlebih dulu dan langsung melepas rasa cemas yang membuat wanita itu rela datang pagi hari ke kota pesisir tersebut. Dengan erat, penuh kehangatan dan benar-benar mencerminkan sosok ibu yang mencemaskan anaknya setelah mendengar kabar buruk sedang menimpa pemuda rambut hitam tersebut.
“Kenapa engkau selalu membuat Bunda cemas, putraku ....”
Odo dengan jelas merasakannya, bahwa tubuh wanita yang memeluknya itu sepenuhnya gemetar. Pemuda itu tidak berkata apa-apa dan hanya terdiam membisu, memasang ekspresi datar dan sejenak memejamkan mata dalam pelukan ibunya tersebut. Kembali membuka mata, para Shieal yang datang mengikuti Mavis dilihat oleh Odo. Sorot mata pemuda itu langsung menatap tajam Minda dan Imania, membuat kedua Shieal yang melaporkan soal duel dan membuat Mavis datang itu tersentak dalam rasa takut.
Odo memalingkan pandangannya, sekilas melihat Fiola dan Julia yang juga ikut datang ke tempatnya. Menyipitkan mata dan menghela napas kecil, pemuda rambut hitam itu berkata, “Aku baik-baik saja, Bunda. Jangan cemas ....”
Mavis melepaskan pelukan, memegang kedua pundak Odo dan menatap lurus mata putranya tersebut. Wanita itu benar-benar diisi rasa cemas yang perlahan mulai meleleh menjadi lega, sedikit tersenyum tipis dengan wajah lemas dan berkata, “Bagaimana mungkin Bunda bisa tidak cemas. Kamu selalu membahayakan dirimu sendiri .... Putraku, Bunda percaya kamu sangat kuat dan bahkan melebihi Bunda dan Ayahmu. Namun ..., tetap saja sebagai orang tua diriku tak bisa merelakanmu terus menerus membahayakan diri seperti ini.”
“Aku tidak membahayakan—”
“Jangan terus bohong seperti itu!” bentak Mavis. Itu membuat orang-orang dari pihak pemerintah dan serikat tersentak, begitu pula Arca dan pelayannya. Wanita yang terkesan dengan sifat tenangnya itu benar-benar menatap penuh kecemasan, tubuhnya gemetar samar dan sorot matanya terlihat kacau.
Memegang kedua sisi pipi putranya, Mavis dengan sedu berkata, “Minda dan Imania sudah bilang semuanya, Odo. Soal apa yang ingin kamu lakukan, soal kejadian menyangkut suku Klista, dan duel yang kamu lakukan dengan anak dari keluarga Rein. Tentu ... taruhan yang kau buat juga, putraku.”
“Soal itu Bunda tak perlu cemas, aku menang dan—”
“Putraku, kau sama sekali tidak mengerti rasa cemas Bunda, ya?”
Seketika tubuh Odo gemetar mendegar ucapan itu keluar dari Mavis dengan ekspresi penuh kesedihan. Wanita yang terlihat sayu itu mulai menatap dengan sorot mata marah, begitu tajam dan berkaca-kaca. “Ehmm ....” Kembali meletakkan kedua tangan ke pundak Odo dan menggelengkan kepala, wanita rambut pirang itu berkata, “Bukan itu .... Putraku, seharusnya kau paham perasaan Bunda. Kau hanya berusaha untuk tak memedulikannya. Memangnya apa yang membuatmu mengesampingkan Bunda?”
“Aku ....” Odo ragu untuk berkata, ia sama sekali tidak memperkirakan kalau ibunya akan memasang ekspresi seperti itu. Menundukkan wajah dengan muram, pemuda itu dengan lirih menjawab, “ .... Sama sekali tidak mengesampingkan Bunda.”
“Lalu kenapa engkau terus melanggar larangan Bunda? Bukanya kau berjanji tak akan melakukan hal berbahaya lagi kalau datang ke kota ini, ‘kan?” ucap Mavis seraya mengguncang ringan tubuh putranya.
“Ya, aku memang berjanji .... Tapi maaf, Bunda. Aku sungguh minta maaf tak bisa memenuhinya.”
“Hanya maaf?” Rasa lega Mavis dengan cepat berubah menjadi emosi yang meluap, ia memegang erat kedua pundak putranya itu dan kembali mengguncangnya. Dengan nada membentak ia berkata, “Kau tidak berniat memperbaiki sikapmu itu, putraku?! Jawab Bunda! Kenapa kau selalu membuat Bunda cemas? Kena—”
“Itu mustahil.”