Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 58 : Aswad 5 of 15 “To Love” (Part 04)



“Apa yang kau bicarakan?” ucap Seliari bingung.


Kembali melangkahkan kaki, wanita itu menatap lemas dan berkata, “Mungkin engkau akan langsung paham jika kusebut Auto Senses ....”


“Sihir pertahanan terakhir itu? Kau?”


“Ya!” Wanita itu tersenyum lebar, lalu berhenti melangkah dan berdiri di depan badan gosong tanpa kaki, tangan, dan kepala.  Sembari memasang wajah sedih dan melihat potongan tubuh tersebut, ia berkata, “Nasib jiwa ini memang naas, dari awal ia dikumpulkan dan dibangkitkan kembali hanya untuk mengemban kewajiban yang amat berat. Padahal seharusnya ia sekarang beristirahat dengan tenang di dasar dunia.”


Wanita itu berlutut, lalu mengangkat potongan tubuh tersebut dan mendekapnya dengan penuh kelembutan. Partikel cahaya mulai berkumpul kembali di sekitar wanita itu, lalu menyatu dengan sayapnya dan membuat ukurannya semakin membesar. Pohon Besar di belakang wanita itu merespons, salah satu akarnya mulai bergerak mendekat dan berdiri tegak di dekatnya.


“Inikah rasa sedih seorang Ibu? Sekarang diriku tahu mengapa Adinda selalu ingin melindunginya dan mencemaskannya setiap waktu,” ucap wanita itu dengan sendu.


Buah merah seperti ubi-ubian mulai bermunculan dari akar besar menjulang tinggi di dekatnya, jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi Golem merah berukuran kecil. Bentuk kehidupan yang jumlahnya sampai puluhan itu dengan cepat tahu tugas mereka saat terlahir ke dunia, lekas bekerja dan mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang terpencar di atas rerumputan.


Dalam dekapan sang wanita, potongan tubuh tanpa tangan, kaki, dan kepala itu perlahan kembali ke bentuk aslinya. Aura hitam benar-benar lenyap, hawa kematian menghilang dan kembali menjadi bagian tubuh laki-laki.


Melihat apa yang dilakukan wanita rambut pirang tersebut, Seliari memberanikan diri melangkah ke depan dan kembali bertanya, “Apa ... maksudmu itu?”


Wanita itu mengangkat wajahnya, menatap sendu dengan kedua mata berkaca-kaca dan dengan lemas berkata, “Kau masih belum mengerti? Pemuda yang dilahirkan adikku dan lahir dari ragaku ini ..., ia dari awal hanya digunakan untuk memenuhi hasrat Deity itu.”


“Deity? Maksudmu sosok penuh aura kematian itu?”


Wanita itu mengangguk, tambang mendekap erat potongan jiwa Odo.  Ia meneteskan air mata, duduk bersimpuh dengan lemas dan menjawab, “Itu layaknya Ying dan Yang, setiap kegelapan pasti memiliki bayangan dan bayangan pasti memiliki cahaya.”


Ia menempelkan potongan tubuh tersebut ke pipi, dengan rindu mengusapnya dengan berlinang air mata. Kembali menurunkan potongan itu ke pangkuan, ia menatap Seliari dan berkata, “Itu merupakan bayangan dunia, kegelapan yang menyelimuti cahaya pemuda ini. Apa yang bisa diriku lakukan hanyalah menyegel ingatan dan sosok itu dalam-dalam di dasar kesadaran jiwanya, diriku tak bisa menghilangkan itu sepenuhnya, karena memang itulah bagian dari jiwa ini.”


“Apa ... maksudnya? Apa yang kau bicarakan?”


“Engkau masih belum paham?” Wanita itu mengusap air mata, memasang senyum tipis dan dengan lemas menjawab, “Sebelum Odo Luke lahir sebagai anak ke dunia, aku mengurung dalam-dalam ingatan dan unsur itu jauh di dalam jiwanya. Jika tidak, sosok pembawa malapetaka itu akan sepenuhnya menguasai jiwanya dan pada akhirnya ....”


Perkataan perempuan itu terhenti sesaat. Ia menundukkan wajah dengan murung, menggertakkan gigi dengan kesal dan berkata, “Dia hanya akan menjadi jiwa kosong tanpa kehendak .... Mungkin pemuda ini hanya menganggapku sekadar susunan sihir semata, tapi itu tak apa. Asal putraku ini bisa terus hidup, itu tak masalah ....”


“Apa yang dirimu bicarakan? Tolong jelaskan kepadaku ....”


“Maaf ....”


Para Golem merah yang jumlahnya sampai puluhan selesai mengumpulkan bagian tubuh Odo sampai yang terkecil, lalu semua itu diletakkan di hadapan wanita rambut pirang itu. Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah potongan-potongan tubuh tersebut, seketika cahaya terang terpancar kuat dan menghapus semua unsur kegelapan yang ada.


Dibantu para Golem kecil, wanita itu mulai menyatukan bagian-bagian tubuh tersebut satu persatu. Pertama ia mengambil tangan kanan yang terpotong sampai siku, lalu menempelkannya ke tubuh utama. Dengan cepat, regenerasi terjadi dan bagian tubuh tersebut menyatu sangat cepat. Pada bagian tubuh lain hal serupa terjadi, hanya dengan ditempelkan regenerasi akan aktif dan potongan tubuh menyatu bagian utama.


Saat semua bagian bentuk jiwa Odo telah disatukan kembali, wujud jiwa wanita rambut pirang itu mulai retak, seakan-akan rubuhnya memang serapuh hiasan keramik. Ia mendekap erat pemuda rambut hitam tersebut, lalu dengan suara sendu berkata, “Aku mohon, Putri Dewa Naga .... Jaga putraku, jadilah rekan yang takkan mengkhianatinya. Ia hanya korban dunia ini, tumbal dari dunia baru ini. Dia sama sekali tidak melakukan kesalahan .... Apa yang menimpamu dan keluargamu memang sangat disayangkan, namun ketahuilah! Tidak ada yang mengharapkan hidup hanya untuk dibenci! Lihat siapa musuhmu yang sesungguhnya ....”


Wujud jiwa wanita itu hancur, berubah menjadi partikel cahaya dan melayang pergi ke arah Pohon Besar.  Batang pohon tersebut kembali terbuka, lalu menyerap partikel tersebut dan kembali tertutup.


Awan yang mendung perlahan kembali cerah, tanah yang terbelah berlahan tertutup kembali dan rerumputan yang mengering menghijau lagi. Akar-akar raksasa yang mencuat keluar mulai kembali ke dalam tanah, meninggalkan para Golem yang masih berdiri di sekitar tubuh pemuda yang terbaring di atas rerumputan itu.


Terdiam dalam rasa kacau, Seliari menatap bingung ke arah pemuda tanpa busana yang terkapar di atas rumput. Melihat wajah Odo, seketika rasa lega mengisi benaknya dan air mata mulai mengalir keluar. Saat itulah ia sadar, bahwa apa yang sebenarnya mengharapkan kehidupan pemuda itu, dan bukan kematiannya.


Ia segera berlari ke arah Odo, langsung mendekap pemuda itu dengan erat dan mulai menangis. Seliari tak lagi memikirkan semua dendamnya atau apapun apa yang telah terjadi sebelumnya, sekarang hanya ada rasa lega yang mengisi benaknya dengan hangat.


.


.


.


.


Sensasi seperti tenggelam menyelimuti dirinya, membuat pemuda itu merasa bagaikan jatuh ke dalam palung yang amat dalam. Tubuhnya terasa berat, tak bisa digerakkan dan seakan ditenggelamkan dalam lumpur. Meski berusaha membuka mata dan mengulurkan tangan ke atas, seluruh yang menyelimuti tubuhnya seakan menghalangi


Meronta, memaksa berusaha mencari sesuatu untuk digapai dan terus melawan seluruh lumpur gelap yang menyelimutinya. Pemuda itu terus mengulurkan tangan ke atas, membuka matanya dengan paksa dan melihat secerah cahaya di atas sana.


Di sekitar pemuda itu penuh dengan puing-puing yang tenggelam bersamanya, dalam cairan hitam pekat yang menariknya ke dasar tak berujung. Dengan segenap kekuatannya, pemuda itu berusaha menggapai puing yang ada di dekatnya dan menjadikannya pijakan untuk menuju ke arah cahaya


Namun saat hampir sampai, ia kembali mengingat apa yang akan menunggunya di atas bukanlah sesuatu yang dirinya harapkan. Tangan dan kakinya seketika terhenti. Ia berhenti untuk melawan semua kegelapan yang ada, menjatuhkan tubuhnya dan kembali memejamkan mata.


Ia paham kelak semuanya akan percuma, waktu akan menghapus segalanya dan apa yang dibangun dengan kuat pasti kelak akan melapuk. Hancur layaknya istana pasir yang diterjang ombak. Tetapi ketika dirinya akan berhenti mengulurkan tangan ke atas dan benar-benar menyerah, seseorang dari arah cahaya langsung menariknya keluar dari lumpur.


Odo terbangun, benar-benar membuka matanya dan melihat langit-langit dedaunan Pohon Besar. Sekilas melihat ke samping dan paham sedang berbaring di atas pangkuan sang Putri Naga, seketika pemuda itu paham apa yang telah terjadi, mengerti secara penuh meski tanpa bertanya pada siapa pun.


Mulut pemuda itu sedikit menganga, ia lekas menutup wajahnya dengan lengan kanan dan bergumam, “Aku gagal lenyap lagi, ya?”


“Gagal ... lenyap?”


Seliari tertegun mendengar itu. Odo segera bangun dari pangkuan gadis naga tersebut, lalu berdiri dan segera menghentakkan tumitnya di atas rerumputan. Partikel cahaya mulai berkumpul di sekitar pemuda itu, lalu mencitakan kemeja dan celana hitam yang langsung terpakai pada tubuhnya.


Sekilas kesenyapan terasa di dalam Alam Jiwa yang telah kembali normal sepenuhnya itu. Angin yang bertiup terasa sejuk, suara dedaunan begitu rimbun dan benar-benar menggambarkan sebuah kedamaian. Namun, semua itu tidaklah mencerminkan suasana hati Odo sekarang.


“Memangnya apa lagi?” Odo menoleh ke arah gadis rambut perak di belakangnya, lalu dengan tegas berkata, “Seharusnya kau mendengar itu dari Mavis yang asli, ‘kan? Kutukan atau semacamnya .... Kalau aku mati, semuanya akan kembali ke dasar dunia dan akan butuh waktu ribuan tahun lagi untuk muncul ke permukaan. Kalau aku mati, kutukan akan diangkat dari dunia ini.”


Seliari segera bangun, menatap cemas dan berkata, “Ka-Kamu ingin menggunakanku untuk melenyapkan dirimu sendiri?! Kenapa? Itu sama saja menyerahkan tubuh ini kepadaku! Bagaimana dengan orang-orang di Dunia Nyata? Keluargamu!”


Berbalik menghadap gadis dengan mimik wajah yang terkesan datar tersebut, Odo hanya memberikan senyum ringan dan berkata, “Satu nyawa sangat murah untuk membuat dunia damai. Bukannya kau sendiri yang mengharapkanku menghilang?”


“I-Itu ....” Seliari terdiam membisu, tidak bisa membantah dan mulai menundukkan wajah penuh penyesalan.


Odo mengerti apa yang dirasakan gadis naga itu sekarang, dilema masih tertinggal dalam benak Seliari dan membuatnya tidak bisa mengambil keputusan yang jelas. Menghela napas panjang dan mendongak lurus ke atas, pemuda rambut hitam itu berkata, “Kalau dia sudah menggunakan kekuatannya dan muncul dalam bentuk jiwa di Alam ini, berarti waktuku tinggal sebentar lagi.”


Odo kembali menatap ke arah gadis rambut perak itu dan berjalan ke arahnya. Berdiri di hadapan Seliari, Odo memegang kedua sisi pundaknya dan berkata, “Mavis yang asli, sosok imitasi malaikat itulah yang menjadi fondasi dasar dari Auto Senses, pemegang ingatan intiku dan menjadikannya sebuah sangkar untuk mengurung sosok yang menyerangmu itu! Kalau sosok itu bangkit lagi, yang menghentikannya sudah tidak ada. Kumohon, Seliari .... Kalau itu terjadi, musnahkan aku sebelum terlambat.”


“A-Apa yang dirimu bicarakan?!” Gadis naga itu melangkah menjauh, dengan gemetar dan menatap tidak percaya. Ia menggertakkan giginya, lalu dengan ekspresi marah berkata, “Jangan pikir diriku akan membantumu! Kamu adalah inkarnasi Raja Iblis Kuno itu! Makhluk menjijikkan yang mengutukku dan membuat diriku membunuh keluargaku sendiri!”


“Aku ... bukan Odrania!”


“Jangan bohong!” Seliari menyingkirkan kedua tangan Odo dari pundak, melangkah mundur dan dengan suara lantang berkata, “Kalau kamu bukan Raja Iblis Kuno itu, kenapa ingatannya ada di dalam ingatanmu! Kenapa dia menyebutmu Ayahanda?! Kenapa para Iblis mendambakan kebangkitanmu?!”


Odo terdiam, mengerutkan keningnya dengan kesal. Perkataan Seliari benar-benar satu arah dan seakan sama sekali tidak ingin mendengar penjelasan. Kembali mendekat dan memegang erat kedua sisi pundak gadis itu, Odo dengan lantang berkata, “Dia hanya salinanku! Imitasi! Sebuah Copy tak sempurna dari jiwaku!”


“Salinan ...?” Seliari terdiam dalam kebingungan.


“Sama seperti sosok yang menyerangmu, Odraina adalah salah satu kepribadian yang diciptakan menggunakan basis jiwaku.”


Seliari mulai mengerti apa yang sedang Odo bicarakan, wajahnya perlahan memucat dan terlihat tak ingin percaya dengan hal tersebut. Dalam benak gadis naga itu, apa yang pemuda itu maksud terasa sama dengan apa yang Jiwa Mavis sebut sebelumnya.


“Sebenarnya ... kamu ini sebenarnya apa? Kenapa bisa makhluk-makhluk seperti itu sangat menginginkanmu? Siapa kau sebenarnya?”


Odo terdiam dalam ekspresi bingung. Meski ia punya kalimat yang sesuai untuk menjawab semua pertanyaan itu, suaranya tidak bisa keluar dari mulut. Mengangkat tangan dari tubuh gadis rambut perak tersebut, pemuda itu menundukkan wajahnya dan kembali mengelak, “Maaf .... Aku tidak mengingatnya dengan jelas .... Siapa diriku sebenarnya .... Tapi, sejauh yang aku tahu, diriku dulu pernah membunuh beberapa makhluk yang menyebut diri mereka dewa dan dewi.”


Seliari kembali mengingat perkataan Jiwa Mavis tentang menyegel ingatan dan sosok yang menyerangnya di dasar jiwa. Menggertakkan gigi dengan kesal dan muak dengan semua rahasia yang ada, gadis itu sejenak mendongak dan bergumam, “Dari awal engkau memang seperti itu ....”


Seliari tahu semua itu pasti telah terjadi di dunia sebelumnya, tempat di mana Jiwa pemuda di hadapannya itu berasal. Putri Naga itu tahu, Odo memang seharusnya telah beristirahat dengan tenang di dasar dunia dan menjadi fondasi dari semua dunia yang ada. Namun karena kehendak beberapa makhluk yang mendambakannya, jiwanya kembali dipencar ke dunia dan pada akhirnya terlahir ke dunia seperti sekarang.


Mendapat tatapan lurus dari gadis rambut perak itu, Odo memalingkan pandangan dan terdiam seribu kata. Rasa aneh muncul dalam benaknya. Sifat dingin dan acuh yang biasanya ia perlihatkan seakan menghilang, membuat pemuda itu terlihat begitu rapuh di hadapan Seliari.


Dalam benak gadis naga tersebut mulai tumbuh perasaan hangat. Saat mengingat kenangan yang dilalui bersama Odo, itu semua terasa seperti kemarin. Memang begitu singkat dan terasa tidak penting, namun itu merupakan hal yang berharga dan banyak mengubahnya. Begitu baru dan mengisi dirinya dengan cepat, membuat gadis itu tidak bisa menahan senyum bahagianya dan mulai meneteskan air mata.


“Seliari, jika kau ingin diriku menghilang, aku tidak keberatan! Namun tolong berjanjilah padaku. Jagalah dunia ini! Aku tak ingin semuanya menjadi percuma! Peradaban kalian! Usaha orang-orang! Aku tak ingin semua itu hilang begitu saja dan kembali ke awal karena alasan tak masuk akal seperti dunia tercipta tak sempurna!”


Perkataan itu menyentuh benak gadis naga tersebut, sekilas membuatnya terpana dan paham apa yang benar-benar pemuda itu harapkan. Dari awal Odo memang seperti itu, tak berubah sama sekali sejak pertama kali bertemu dengannya.


Menatap pemuda rambut hitam tersebut, Seliari melepas kristalisasi berbentuk Gauntlet pada kedua tangan. Saat kedua hancur menjadi kepingan kristal biru yang jatuh ke atas rerumputan, ia mengulurkan kedua tangannya ke depan dan menyentuh pipi pemuda itu dengan lembut. Sembari tersenyum lebar dengan air mata berlinang, gadis itu berkata, “Diriku tolak permintaan itu .... Siapa yang ingin mengemban kewajiban menyusahkan itu. Kita perbarui perjanjian, Odo. Diriku akan mengembalikan semua emosimu, namun sebagai gantinya ada satu hal yang ingin diriku tuntut darimu.”


“Tuntut ...?”


“Sungguh, engkau kembali mengutukku kali ini .... Sebagai gantinya, engkau harus bertanggung jawab mengurus kutukan ini. Selama kutukan ini ada, kamu tidak boleh menghilang dulu ..., ya?”


Seliari sedikit paham mengapa para iblis dan makhluk-makhluk abadi begitu mengharapkan pemuda di hadapannya. Dari dulu sampai sekarang, setiap orang selalu mengejar sosok yang mereka anggap ideal. Dalam contoh yang ada, seorang pahlawan akan selalu dikenang dan dijadikan panutan bayak orang selama sebuah peradaban suatu bangsa masih berdiri.


Dalam sebuah kepercayaan, hal serupa juga dengan kuat mengisi banyak orang. Meski sosok ideal yang menyebarkan kepercayaan telah tiada, banyak orang yang mengejar bayangannya dan meneruskan idealisme yang dibawa sosok tersebut.


Bayangan dari masa lalu, begitu kuat dan menjadi fondasi dari masa sekarang serta sebuah petunjuk untuk masa depan.