
Tiga jam tak terasa berlalu saat mendengarkan cerita tersebut dan waktu hampir menunjuk tengah malam. Meski telah mendengarkan kisah masa lalu sang Madam, Odo tetap memasang ekspresi tenang tanpa sedikit pun tersentuh atau memberikan pendapatnya soal cerita tersebut. Pemuda itu kembali mengambil perkamen di atas meja, lalu mengecek beberapa laporan keuangan dari dana yang diberikannya kepada rumah bordil Alms Lilac.
Theodora menatap heran pemuda itu, bertanya-tanya dalam benak sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh putra dari keluarga Luke tersebut. Madam sendiri telah mengenal berbagai macam laki-laki semasa hidupnya, lebih dari para pelacur lain kompleks penuh maksiat tempatnya tinggal. Namun dari semua jenis lelaki yang pernah dirinya kenal, Odo sama sekali tidak masuk dalam kategori manapun.
“Dari awal kita bertemu, Tuan memang aneh ....” Theodora meletakkan kedua sikunya ke atas meja, menyangga kepala dengan kedua dan kembali berkata, “Anda bukan lelaki yang tertarik dengan kekuasaan, harta, wanita, atau bahkan ketenaran. Anda juga bukan orang yang alim dan mendalami kepercayaan negeri ini, atau bahkan orang yang loyal serta memiliki rasa idealisme tinggi ....”
Mendengar ucapan tersebut, Odo hanya melirik kecil dan tetap lanjut memeriksa laporan-laporan yang ada di atas meja. “Tidak juga,” ucapnya sembari tetap melanjutkan pekerjaannya.
“Hmm?” Theodora sedikit terheran mendengar itu.
Selesai memeriksa lembar terakhir dari tumpukan dokumen, pemuda itu meletakkan perkamen ke atas meja dan kembali berkata, “Aku memiliki ketertarikan pada wanita dan kekuasaan, sebagai pria keduanya adalah hal yang ingin ku dapatkan. Aku juga merupakan orang dengan idealisme sendiri, lalu juga merupakan penganut yang mendalami sebuah kepercayaan.”
Theodora sedikit tertawa kecil mendengar itu, merasa tak percaya dan menganggapnya hanya semacam gurauan. Dari tingkah laku dan tindakan, pemuda di hadapannya tersebut sama tidak mencerminkan apa yang dikatakannya. Berhenti menyangga kepala dan duduk dengan tegak, Madam memasang senyum tipis dan bertanya, “Sebagai orang dengan idealisme tersendiri, apa Anda memiliki pendapat setelah mendengar masa lalu saya? Menurut Anda, siapa yang sebenarnya salah? Kenapa bisa kejadian seperti itu terjadi?”
“Kalian semua salah,” jawab Odo tanpa ragu. Madam Theodora sekilas terdiam heran mendengar jawaban tersebut. Sebelum dirinya bertanya, pemuda itu dengan tegas kembali berkata, “Sebagai seorang pria Wiskel Porka adalah bangsat, lalu Madam sendiri sebagai wanita adalah seorang sampah.”
“Tu-Tunggu sebentar!” Madam bangun dari tempat duduk, lalu dengan cemas membantah, “Di sini saya korban, kenapa saya juga salah?”
“Wiskel Porka memang seorang pria bangsat yang mengkhianati istrinya sendiri dan meniduri Madam karena nafsu.” Odo membuka telapak tangan kanannya sendiri, menatapnya dengan sorot mata sedih dan kembali berkata, “Tapi, Madam juga seorang sampah karena menggugurkan anak dalam kandungan.”
Pemuda itu lekas mengubah ekspresinya, ia menatap lurus ke arah Theodora. Mengangkat jari telunjuknya dan meletakkannya ke kening, pemuda dari keluarga Luke tersebut dengan kesal berkata, “Tidak ada dari kita semua yang berhak mencegah jiwa yang akan lahir ke dunia, apapun itu alasannya.”
Kembali duduk, Theodora tetap membantah, “Anda mendengar cerita tadi, ‘kan? Saya ditekan mereka .... Dia yang salah, mereka berdua yang memaksa saya menggugurkan kandungan.”
“Meski begitu, tetap saja itu bukanlah sebuah alasan yang membenarkan seseorang untuk membunuh anak yang akan lahir.” Odo menurunkan jarinya dari kening, mulai menundukkan wajah dan berkata, “Madam tahu kabar kalau ibuku sulit hamil, ‘kan? Saat mendengar seorang wanita menggugurkan kandungannya, jujur itu membuat telingaku panas. Bukannya aku ingin menyalahkan, hanya saja itu pandangan pribadiku.”
Theodora sedikit bingung mendengar perkataan tersebut. Sedikit memiringkan kepala, ia dengan heran bertanya, “Kalau Tuan tak suka dengan hal semacam itu, lalu kenapa Anda susah-susah ikut campur ke kompleks pelacuran ini? Menggugurkan kandungan tidak jarang terjadi di sini, bahkan setiap bulan mungkin terjadi. Saya memang sangat terbantu karena Anda mau peduli pada orang-orang pinggiran di sini, namun tetap saja itu terasa aneh.”
“Benar juga ....” Odo menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi dan sejenak memejamkan mata. Kembali membuka kedua kelopak mata dan menatap ke arah lampu gantung di tengah ruang, pemuda itu menjawab, “Mungkin karena idealisme yang aku percayai. Cara pandang yang aku yakini sampai saat ini membuatku mencampuri kondisi kalian ....”
“Cara pandang? Memangnya ... cara pandang seperti apa yang membuat Tuan sampai rela menceburkan diri ke tempat yang tidak Anda sukai?”
Odo sekilas terdiam, segera duduk tegak dan memasang ekspresi sedih. Dengan suara sedikit lemas ia menjawab, “Dunia memang tercipta sangat kejam, namun setiap orang yang tinggal di dalamnya selalu mengharapkan kebahagiaan. Karena itulah mereka percaya pada hari esok, berusaha dengan segenap jiwa raga mereka dan terus berusaha hidup.”
Theodora tidak bisa menertawakan cara pandangan tersebut. Itu bukanlah sekadar naif belaka, melainkan cara pandangan orang yang benar-benar melihat kenyataan namun tetap mempertahankan cara pandangannya yang polos. Memasang senyum sendu, sang Madam ingin membuat pemuda itu menyerah dan bertanya, “Kalau setiap orang mengharapkan sebuah kebahagiaan, lalu mengapa tidak semuanya bisa mendapatkannya?”
“Mereka terlalu fokus pada proses ....” Odo membuka tangannya dan menatap datar kedua telapak tangan kosongnya itu, lalu dengan sedikit lemas menjawab, “Mereka terlalu mengajar sesuatu yang bisa membuat mereka bahagia, namun pada akhirnya malah melupakan apa itu kebahagiaan untuk mereka. Orang-orang yang kehilangan arah seperti itu akan dengki pada mereka yang berhasil menemukan kebahagiaan, lalu mulai merebut apa yang membuat orang lain bahagia. Karena mengira itu bisa membuat mereka bahagia.”
Perkataan tersebut benar-benar mencerminkan seseorang dengan pengalaman begitu banyak tentang kehidupan, bahkan sampai Theodora tak percaya itu keluar dari mulut seorang anak yang bahkan usianya belum genap satu dekade. Cara pandangan pemuda itu tidaklah seperti orang-orang naif yang pernah sang Madam temui dan cepat runtuh setelah melihat kenyataan di masyarakat, apa yang dipegang pemuda itu sangatlah asli dan tak semua orang bisa mempertahankan itu meski telah melihat kenyataan-kenyataan kejam yang dipaparkan dunia.
Menarik napasnya dalam-dalam kembali mengambil cerutu dari atas meja, sang Madam berkata, “Anda memilih jalan yang terjal, ya ....”
“Aku tahu, karena aku sendiri yang berjalan di jalan ini ....” Mengepalkan kedua telapak tangan di atas meja, pemuda itu menatap tajam dengan tekad bulat dan berkata, “Tapi, bukan berarti aku akan melepaskannya dan menyerah. Pilihan seperti itu tidak tersedia untukku.”
“Kenapa?” Theodora tak mengerti itu, ia dengan heran bertanya, “Bukannya Tuan punya banyak pilihan? Anda seorang anak dari bangsawan besar, ‘kan?” Dalam benak terdalam sang Madam, ia mulai mengharapkan Odo menerima kenyataan dan menyerah pada cara pandang tersebut.
Odo memalingkan pandangan, lalu enggan memberitahukan yang sesungguhnya dan berdalih, “Banyak situasi yang membuatku tak boleh berhenti, salah satunya mungkin peperangan yang mungkin akan terjadi dalam waktu dekat.”
“Perang, ya ...?” Sekilas Theodora mengingat masa lalunya saat masih tinggal di keluarga Mascal. Menurunkan cerutu ke atas meja tanpa menghisapnya, wanita rambut hitam itu berkata, “Dibandingkan dengan masa saat saya masih remaja, bukannya sekarang lebih damai? Anda bisa saja memercayakan semuanya pada orang dewasa dan hidup sebagai anak pada umumnya. Banyak yang berubah sejak perdamaian datang ....”
“Madam ....” Odo menatap tajam saat mendengar itu, membuat Theodora sempat tersentak dan gemetar. Dengan amarah yang tercermin dalam sorot mata biru pemuda itu, ia dengan tegas berkata, “Yang mengobarkan perang adalah para pria tua, namun yang menjadi korban malah pemuda pemudi, wanita dan anak-anak! Aku tak sudi menyerahkannya pada mereka dan hanya diam! Para orang dewasa tak becus yang membuat kondisi seperti ini, mengatasnamakan kebenaran dan kehormatan .... Merekalah yang secara tak langsung memaksaku melakukan hal-hal seperti ini!”
Theodora memasang wajah cemas, lalu sekali lagi mengungkapkan kenyataan dengan mulutnya, “Kelak Tuan juga akan menjadi orang dewasa, apa tak masalah berkata seperti itu? Apa Anda yakin tidak akan menjadi seperti dengan mereka?” Wanita itu benar-benar menatap dan berharap Odo tidak memegang cara pandangan yang bisa membawa kehancuran pada dirinya sendiri, seperti layaknya seorang ibu yang cemas pada putranya.
“Aku takkan menjadi seperti mereka!” jawab Odo dengan teguh. Sekilas memalingkan pandangan ia, dengan pelan bergumam, “Lagi pula, aku juga takkan hidup sampai saat itu.”
“Hmm?” Theodora samar-samar mendengar kalimatnya dan merasa cemas.
Sebelum wanita itu bertanya, Odo mengangkat salah satu perkamen dan mengganti topik pembicaraan dengan pertanyaan, “Soal dana untuk renovasi ini, kenapa belum juga dimulai sampai sekarang? Madam sudah mengirim uangnya ke serikat tukang, ‘kan?”
“Terus kenapa belum dimulai?” Odo kembali memeriksa dokumen, lalu memikirkannya sekali lagi dan berkata, “Soal masalah buku-buku untuk para wanita di sini tidak ada masalah sama sekali, banyak buku tua yang tak terpakai dari para pedagang yang datang ke sini dan perpustakaan kota. Masalah ini hanya tinggal mencari tenaga ajar yang mau datang. Bila perlu aku juga ikut mengajar. Pakaian dan tunjangan juga berjalan lancar pengaturannya, semua itu pasti bisa sedikit membuka cara pandang mereka ....”
Odo menatap datar ke arah Madam, lalu kembali meminta penjelasan, “Lalu kenapa untuk renovasi malah ada kendala? Bukannya ini paling mudah daripada mendapat buku-buku dasar untuk para wanita atau memencar dana?”
“Soal itu ....” Theodora terlihat sedikit bingung untuk menjelaskan. Memalingkan pandangan dan menghela resah, ia kembali menatap Odo dan balik bertanya, “Anda tahu kalau tempat ini bukan rumah bordil satu-satunya di tempat ini, bukan?”
“Apa tempat lain yang menghalang-halangi?”
Theodora mengangguk. Ia mengacungkan jari telunjuk ke depan, lalu dengan ekspresi bingung berkata, “Di tempat ini memiliki tiga rumah bordil besar. Selain Alms Lilac milik saya ini, ada juga Jasmine dan Daisy. Dari keduanya, rumah Daisy memilih untuk bersikap netral dan berkata akan ikut keputusan akhir. Namun untuk rumah Jasmine ....”
“Jasmine?” Odo segera mengingat wanita yang menggodanya sebelum sampai ke tempat Madam Theodora. Merasa penasaran dengan hal tersebut, pemuda itu kembali menanyakan, “Memangnya kenapa rumah Jasmine menolak? Apa mereka diuntungkan kalau tempat ini tidak berubah?”
“Itu masalahnya ....” Theodora kembali menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu dengan suara lelah ia menjawab, “Berbeda dengan tempat saya dan rumah Daisy, Madam Irea yang menjadi mucikari tempat itu sudah terkena penyakit sejak tahun kemarin dan ucapannya tak sepenuhnya lagi didengarkan para pegawainya. Tempat itu sekarang dipegang bukan oleh satu orang, namun para pelacur kelas menengah yang membesarkan namanya setelah Madam mereka tak aktif lagi melayani pria.”
“Penyakit?” Odo terpaku pada kata tersebut. Kembali mengingat kalau salah satu pegawainya, Ritta, pernah bekerja di tempat pelacuran dan menunjukkan gejala penyakit kelamin menular. Penasaran dengan hal tersebut, pemuda rambut hitam tersebut kembali memastikan, “Apa itu penyakit kelamin?”
“Hmm, menurut para wanita di sini memang seperti itu.” Theodora terlihat sedikit cemas membahas hal tersebut. Menggulung kembali rambut yang terurai ke pangkuan dan menatanya, wanita berbalut gaun hitam itu kembali menyanggul rambutnya dengan tusuk konde. “Kata mereka itu penyakit kelamin menular, sejauh ini katanya sudah ada lima wanita di tempat itu yang terjangkit,” ucapnya dengan resah.
“Apa sumbernya dari pelanggan di sana?” tanya Odo.
Theodora mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu menjawab, “Saya tidak tahu. Salah satu prosedur tiga rumah bordil besar di tempat ini adalah merahasiakan privasi pelanggannya. Kalaupun itu bocor, mungkin hanya akan menjadi rumor yang cepat hilang ....”
Dari jawaban tersebut, Odo bisa tahu kalau sumber penyakit kelamin menular itu berasal dari orang kalangan atas yang menjadi pelanggan. Kebanyakan dari mereka datang dengan menyembunyikan identitas dan mendatangi tempat pelacuran dengan cara memesan sehingga tidak banyak orang yang tahu. Ingin mendapat informasi lebih akurat, Odo kembali bertanya, “Apa Madam tahu sejak kapan penyakit itu mulai menular?”
“Hmm, sepertinya sejak musim panas tahun kemarin. Pelacur yang pertama kali menunjukkan tanda-tanda adalah pelacur kelas menengah di sana, lalu sang Madam dan menyebar ke pelacur lain. Kata tabib yang memeriksa, penyakit itu belum ada obatnya dan tidak bisa disembuhkan. Ada juga yang bilang itu kutukan bagi para wanita kotor ....”
“Itu bukan kutukan,” ucap Odo dengan cepat. Sedikit memalingkan pandangannya, ia kembali berkata, “Itu penyakit dari virus, salah satu cara penularannya adalah dari hubungan badan.”
Theodora sedikit terkejut saat Odo mengatakan hal yang hampir serupa dengan tabib yang memeriksa penyakit tersebut. “Apa Anda bisa menyembuhkannya?” tanyanya dengan harapan tinggi.
Odo sekilas memasang ekspresi datar, lalu setelah menghela napas ia menjawab, “Bisa saja. Namun itu tergantung tingkat terjangkitnya .... Lalu, cara penyembuhannya juga bisa dikatakan tidak terlalu aku suka.”
Theodora bangun dari tempat duduk dan membungkukkan tubuhnya ke atas meja, sampai kedua buah dadanya tertekan badannya sendiri. “Memangnya bagaimana caranya?” tanya wanita rambut hitam itu dengan penasaran.
“Sekali seseorang terjangkit virus, itu akan sulit untuk disingkirkan dari tubuh.” Odo hanya memberikan tatapan datar. Ia mengangkat kedua jari telunjuknya, lalu sembari menempelkan kedua ujungnya ia menjelaskan, “Ada juga virus yang malah menggerogoti antibodi seseorang dan membuatnya tidak bisa pulih selamanya. Satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit kelamin itu ya dengan menghilangkan virus dari tubuh pengidapnya. Lalu caranya ....”
Odo memasang ekspresi jijik, membuka telapak tangan kanannya ke depan dengan semua jemari meregang dan berkata, “Aku harus merogoh alat kelamin mereka, lalu memanipulasi virus itu dan mengubahnya menjadi zat yang bisa diserap tubuh.”
“E—? Merogoh?” Madam Theodora langsung kembali duduk, menatap takut saat mendengar itu dan kembali memastikan, “Satu tangan masuk?”
“Ya, satu tangan masuk,” jawab Odo. Pemuda itu menurunkan kedua tangannya ke atas pangkuan, menarik napas dengan bingung dan berkata, “Aku harus melakukan kontak langsung ke dalam tubuh pengidap penyakit itu memalui pintu masuk virus tersebut datang.”
“Saya rasa ... itu terlalu ....” Theodora sedikit ngilu membayangkan hal tersebut, tubuhnya merinding dan sekilas mata berpaling dari Odo.
Sesaat suasana menjadi sedikit senyap karena pembicaraan tersebut. Paham tak punya banyak waktu untuk lama-lama berada di kompleks pelacuran, Odo segera melanjutkan pembicaraan, “Yah, kita sisihkan itu dulu ke pembicaraan nanti. Lagi pula, para wanita itu terjangkit virus juga karena salah mereka sendiri tak hati-hati.”
“Be-Benar juga ....” Theodora kembali menatap ke depan, lalu dengan wajah sedikit memucat ia berkata, “Berbada dengan tempat saya atau Daisy milik Madam Nisla, pemeriksaan kesehatan untuk tamu pelacur kelas menengah atas di tempat Madam Irea sangat longgar. Bahkan tidak aneh itu setara dengan pelacur menegah dan rendah ....”
“Kembali ke topi, Madam.” Odo mengambil kertas perkamen berisi laporan keuangan, lalu dengan bingung bertanya, “Menurut Madam Theodora sendiri, supaya mereka setuju kira-kira apa yang seharusnya dilakukan?”
“Menurut saya sendiri ....” Theodora kembali merinding saat membayangkan kepalan tangan masuk ke dalam alat kelaminnya. Dengan gemetar, ia memberikan saran, “Memang masalah penyakit menular itu. Kalau Madam Irea selaku pemilik rumah Jasmine bisa disembuhkan, saya yakin ia juga akan setuju dalam rencana pengembangan tempat ini ....”
“Akh, ujung-ujungnya itu ....” Odo bersandar pada kursi, menghela napas serah dan mengeluh, “Jujur aku tak terlalu suka, menyentuh hal-hal semacam itu.”
Setelah itu, pembicaraan mereka terus berlanjut sampai tengah malam. Selain membicarakan soal masalah penyakit menular tersebut, mereka juga membahas soal para pelanggan yang datang dari kekaisaran dan luar kota. Odo mendapat informasi secara khusus kalau mereka kebanyakan memang adalah seorang pedagang, tak menemukan satu pun orang dari kekaisaran yang menyandang gelar bangsawan atau perwira.