Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 26: Mereka yang disebut pemimpin 2 of 3 (Part 01)



 


 


Dari dalam Panti Asuhan Inkara, Julia keluar bersama Siska setelah mendengarkan penjelasan darinya tentang persoalan kabar pedagang dari Kerajaan Moloia yang datang menyebarkan paham yang menyimpang dengan sistem Kerajaan Felixia. Mereka melangkahkan kaki di halaman, lalu hendak pergi ke daerah pelabuhan yang menjadi tempat orang-orang Kerajaan Moloia tersebut berkumpul.


 


 


Julia terlihat membawa sebuah pedang di pinggangnya yang diikat pada sabuk, sedangkan Siska membawa sebuah tombak besi untuk jaga-jaga semata. Mereka tidak membawa perlengkapan lebih, hanya itu senjata yang kedua orang tersebut bawa. Saat Julia hendak membuka pagar, tiba-tiba terasa hawa mengerikan yang tidak asing baginya.


 


 


Bulu kuduk gadis kucing itu langsung berdiri, ekornya menegak dan sorot matanya berubah tajam. Siska yang berada di tempat itu juga merasakan hawa mengerikan tersebut, perempuan rambut pirang itu menggigil gemetar penuh rasa takut saat merasakan tekanan aura yang terasa kuat seperti monster.


 


 


“I ... ini ... apa aura ini milik Tuan Odo?” Julia melihat ke arah jalan menuju pelabuhan. Meski tidak bisa memastikan aura tersebut milik siapa, tetapi dirinya tidak salah mengingat milik siapa aura yang terasa seperti monster tersebut.


 


 


“Aku pergi dulu!”


 


 


“E-Eh?! Tunggu ...!”


 


 


Julia lekas berlari kencang dan meloncat tinggi ke atas genteng bangunan di pinggir jalan untuk mengambil pintas, ia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Siska yang berusaha menghentikannya. Gadis Nekomata itu berlari kencang di atas genteng, meloncat dari atap satu ke atap lain dengan sangat lincah.


 


 


Duaaark!!


 


 


Suara ledakkan melenting dari arah pelabuhan. Melihat asap hitam yang mengepul ke langit kelabu, insting Julia berkata buruk tentang itu. Gadis tersebut menggunakan teknik Battle Art untuk meningkatkan kekuatan kakinya, lalu langsung meloncat tinggi menuju ke arah pelabuhan. Tetapi sebelum sampai, kembali terdengar suara lentingan aneh yang terdebar nyaring. Ia mengingat suara itu seperti senjata yang sering digunakan oleh orang-orang di kekaisaran, secara refleks ia berhenti pada salah satu atap gudang penyimpanan dan melihat ke sekeliling untuk mencari sumber suara.


 


 


“Itu ..., suara senapan? Kenapa ada senapan di tempat ini?! Di sana!”


 


 


Julia menemukan sumber suara, kilauan laras senapan dan pergerakan aneh di atas atap gudang yang jaraknya beberapa ratus meter darinya tertangkap penglihatan gadis itu. Ia lekas meningkatkan tekanan sihirnya, membuat panah api yang melayang di atas telapak tangan kanan untuk dilesatkan ke arah mereka.


 


 


Tetapi sebelum melemparkan panah tersebut, Julia melihat kepulan uap asap di sekitar dermaga. Sekilas terlihat sosok Odo yang mulai bangun seraya membopong seorang gadis dengan kedua tangannya. Julia membatalkan sihirnya dan hendak lekas meloncat ke arah Odo yang berada di bawah. Tetapi saat melihat sebagian wajah anak itu hancur, tubuh Julia gemetar ketakutan. Langkah kakinya terhenti, sejenak ia merasa enggan dan takut kepada majikannya tersebut.


 


 


“Tuan Odo ..., Anda .....”


 


 


Julia menggelengkan kepalanya, berusaha berpikir hal lain dan memahami situasi yang ada. Ia kembali melihat ke arah penembak, lalu langsung paham apa yang terjadi. “Apa mereka yang melakukan itu pada Tuan Odo?!” ucap gadis itu penuh amarah.


 


 


Ia lekas meloncat turun, lalu berlari menuju ke arah Odo yang berdiri di antara kepulan asap yang mulai menghilang. Saat Julia sampai di dekat majikannya tersebut, luka pada wajah anak berambut hitam itu sudah sembuh sepenuhnya seakan apa yang Julia lihat sebelumnya hanya ilusi semata.


 


 


“Tuan Odo ..., apa anda baik-baik saja?” Julia menepuk pundak anak berambut hitam itu. Odo tidak merespons, ia hanya terdiam dan tidak menoleh. Menyentuh pipinya, Julia kaget karena kulit anak itu terasa dingin dan kaku.


 


 


“Tuan!? Anda ....!”


 


 


Tubuh Odo berlutut, tetap membawa gadis dengan kedua tangannya. Sorot mata anak itu terlihat kosong dan mata sebelah kirinya putih sepenuhnya karena kornea mata masuk ke dalam kantung mata. Lingkaran sihir tiba-tiba muncul tepat di atas kepala Odo, berbentuk seperti sebuah Halo dan mulai memancarkan cahaya. Partikel Ether mulai terkumpul, masuk ke dalam tubuh Odo melalui pori-pori dan meregenerasi beberapa bagian dalam tubuhnya.


 


 


Melihat apa yang terjadi, Julia hanya bisa menganga. Ia tahu apa yang sedang dilakukan tuannya tersebut, itu sangat mirip dengan Sihir Pemulihan Tingkat Tinggi, Regenerator. Dalam pengetahuan Julia, di Benua Michigan hanya ada satu orang yang bisa menggunakan sihir seperti itu dan dia adalah Penyihir Agung yang tinggal di Kota Miquator, itu pun dirinya tidak lihat secara langsung dan hanya dari cerita Mavis.


 


 


Saat tubuh Odo selesai beregenerasi, anak berambut hitam itu lekas menarik napas seperti baru saja keluar dari dalam air. Napasnya terengah-engah, keringat mulai keluar dari pori-pori dan suhu tubuhnya perlahan kembali.


 


 


“Sialan ..., fungsi paru-paruku kena juga .....”


 


 


Odo menoleh ke samping dan baru menyadari Julia berdiri di sana. Mata mereka saling bertatapan tetapi perkataan tidak keluar untuk sesaat. Menurunkan Nanra ke atas permukaan salju, Odo sedikit menghela napas dan terlihat malas untuk menjelaskan.


 


 


“Kenapa ... Anda di sini? Bukannya ... Tuan Odo katanya mau ke Kantor Pusat Pemerintahan ....?” Pertanyaan yang Julia lontarkan persis seperti apa yang Odo kira. Dengan sedikit memalingkan wajah, anak itu menjawab, “Aku kebetulan lewat di tempat ini dan tiba-tiba diserang mereka, sepertinya aku menjadi target pembunuhan orang-orang itu.”


 


 


Odo menunjuk orang-orang yang tergeletak bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan. Julia terbelalak, ia baru sadar ada mayat-mayat yang bergeletakan di tempat tersebut. Mereka ada beberapa yang terbakar, tercerai berai bagian tubuhnya, dan dengan jelas tentunya tidak ada yang terlihat masih hidup.


 


 


“Apa ... yang sebenarnya terjadi? Kenapa .... Siapa mereka?!”


 


 


Julia benar-benar kebingungan atas apa yang telah terjadi. Odo hanya melirik datar, ia malai duduk bersila dan menatap tajam ke arah atap bangunan yang tadinya ada dua orang yang menembakkan senapan ke arahnya. Anak itu ingin segera mengejar mereka, tetapi ia tidak bisa melakukannya langsung karena Julia datang dan dirinya tidak bisa meninggalkan Nanra begitu saja.


 


 


“Mereka orang-orang dari Kerajaan Moloia .... Sepertinya mereka menghasut para nelayan untuk memberontak dan melakukan rencana pembunuhan,” jelas Odo seraya menoleh melihat datar Julia.


 


 


“Memberontak? Jadi apa yang dikatakan Siska benar, orang-orang itu .... Eh? Tunggu ..., mereka benar-benar ingin melakukan pembunuhan anda? Kenapa ...? Untuk apa ... Kerajaan Moloia melakukan hal yang bertentangan dengan Perjanjian Konferensi?”


 


 


“Entahlah ..., tapi sepertinya mereka sepertinya ingin berperang, loh .... Yah, itu dari salah satu mayat di sana, sih.”


 


 


Perkataan anak itu sedikit membuat Julia gemetar. Ia menelan ludah dengan berat, lalu bertanya kembali, “Apa anda ... yang melakukan semua ini?” Gadis kucing itu melihat gentar hamparan tanah gersang hitam, hamparan kobaran api yang mulai padam itu membuatnya benar-benar tidak mengira kalau anak-anak yang membuat mereka semua binasa.


 


 


“Hmm, aku yang melakukannya. Mereka menyerangku dan hendak membunuh gadis ini, jadi aku membunuh mereka ....”


 


 


 


 


“Akh ..., sakit .... Sensitivitas berlebihan memang menyebalkan, semua indraku menajam dan rasa sakitnya menguat.”


 


 


Selesai menyesuaikan sensorik tubuh, Odo bangun dan mulai meregangkan leher. Ia memasang ekspresi wajah kesal dengan tatapan datar, lalu menghadap Julia dan bertanya, “Apa Mbak Julia tahu soal mereka? Kenapa bisa orang-orang militer negeri lain menyusup seperti itu? Apa keamanan wilayah Luke selemah ini?”


 


 


Mendapat tatapan tajam dari anak itu, Julia tidak bisa menjawab langsung. Ia memalingkan wajah, lalu berkata dengan pelan, “I-Itu mungkin karena personel militer wilayah Luke sekarang memang sangat minim jika dibandingkan wilayah lain.”


 


 


“Apa itu karena Ekspedisi Dunia Astral yang gagal dua kali itu?” tanya Odo dengan tegas.


 


 


“I ... ya ....”


 


 


Berbalik dari Julia, Odo berlutut di depan Nanra dan mengambil Potion dari penyimpanan di Gelang Dimensi. Meminumkan ramuan dalam botol kaca kepada gadis tersebut dan membuang wadahnya, dalam hitungan detik luka-luka pada tubuh gadis kecil itu menghilang. Meski luka tertutup, tetapi beberapa gigi gadis itu yang lepas tentu saja tidak tubuh kembali. Potion hanya mempercepat pemulihan tubuh, bukan menumbuhkan bagian tubuh yang hilang, meskipun itu Potion berkualitas tinggi dan sangat mujarab sekalipun.


 


 


“Mbak Julia ..., tolong bawa Nanra ke panti asuhan.”


 


 


Odo bangun, lalu mulai meningkatkan aura sihirnya dan petir biru hitam mulai menyelimutinya. “Aku akan mengejar mereka,” lanjutnya seraya menoleh dan menatap tajam gadis kucing tersebut.


 


 


“Me—!? Itu berbahaya! Lebih baik kita kembali dulu dan kabari Nyonya di Mansion! Kita harus melawan mereka dengan pasukan!”


 


 


“Hmm, kalau begitu tolong kabari mereka juga.”


 


 


Odo berjalan pergi, tetapi tangan kanannya langsung dipegang erat oleh Julia dan dihentikan. “Tunggu! Tuan Odo, itu bahaya! Orang-orang Kerajaan Moloia itu berbeda dengan negeri lain! Mereka jarang menggunakan sihir, jejak Mana atau pergerakan mereka sangat aneh! Mereka itu Kerajaan terkuat setelah Perang Besar berakhir, kalau me—“


 


 


“Tentang saja,” sela Odo. Ia melepaskan paksa genggaman Julia, lalu menatap dengan datar seraya berkata, “Apa yang mereka gunakan itu teknologi sains dan menaik. Memang karena mereka tidak menggunakan sihir, serangan mereka sukar dideteksi datang dari mana. Tapi, hampir semua yang mereka gunakan itu dekat dengan logam. Aku bisa mengakalinya.”


 


 


“Mengakali ...? Mungkin memang benar Anda mengakalinya, tapi tetap saja berbahaya! Kita kembali dulu! Bukannya tadi kepala anda sampai terlu—“


 


 


Perkataan Julia terhenti, ia langsung memalingkan pandangan dan enggan mengatakannya. Melihat ekspresi gadis berambut keperakan itu, Odo tahu kalau Julia melihat saat dirinya ditembak dan kepalanya hancur. Kalau Julia melihat itu, Odo juga bisa memperkirakan kalau gadis tersebut juga melihat bagaimana anak laki-laki tersebut menggunakan sihir regenerasi yang jauh dari kata manusiawi dan cenderung mengerikan.


 


 


“Mbak Julia melihatnya, ya .... Kalau begitu, bukannya Mbak Julia juga tahu kalau aku tidak akan mati semudah itu, bukan? Meski senjata mereka bisa melubangi kepala dengan mudah, itu tidak akan membunuhku langsung selama syaraf-syarafku tidak mati secara massal.”


 


 


Odo merentangkan tangan kanannya ke samping, lalu mengaktifkan Gelang Dimensi dan mengeluarkan sebuah kotak kayu yang langsung jatuh ke permukaan salju. Julia tersentak, melihat gentar kotak yang tiba-tiba dikeluarkan anak itu.


 


 


Melepas kemeja penuh bercak darah dan compang-camping, anak itu berjongkok di depan kotak dan membuka penutupnya. Di dalam sana terdapat Baju Halkah dan beberapa senjata seperti pedang pendek dan belati, serta beberapa set pakaian kemeja. Semua itu adalah peralahan yang anak itu ambil dari gudang penyimpanan di kediamannya. Odo lekas mengambil kemeja dan mengenakannya, lalu merangkapnya dengan baju halkah.


 


 


[Catatan: Baju Halkah; sebuah kemeja yang terbuat dari zirah cincin atau rantai, memiliki panjang paling tidak sampai paha dan memiliki lengan pendek.]


 


 


Berbalik seraya mengikat pakaiannya, Odo berkata, “Mbak Julai, tolong mundur sedikit.”


 


 


“Eh? Hmm ....”


 


 


Saat Julia mundur sampai di dekat tempat Nanra terbaring, Odo mulai memusatkan petir pada kedua telapak tangan dan menepuk permukaan zirah rantai yang dikenakan. Elektrik mengalir pada permukaan zirah sebagai konduktor, potensialnya listriknya setara dengan tubuh Odo dan memiliki sifat elektromagnetik yang bisa ditingkatkan dan diturunkan sesuai dengan keinginannya.


 


 


“Antisipasi Headshot paling tidak ini cukup ....” Odo merentangkan kedua tangannya, lalu menurunkan gelombang elektromagnetik pada zirahnya sampai batas minimum.


 


 


Melihat apa yang dilakukan Odo, Julia sama sekali tidak paham dan hanya bisa menatap bingung. Odo memasukkan kembali kotak kayu ke dalam Gelang Dimensi, lalu melakukan peregangan dengan meloncat kecil untuk mengecek kondisi tubuh.


 


 


“Apa yang Mbak lakukan? Cepat bawa Nanra ke panti asuhan dan lapor ke Bunda soal ini. Kalau mereka bergerak lagi, itu sudah terlambat ....”


 


 


Odo berhenti meloncat-loncat kecil. Mengulurkan tangannya ke arah Julia, gelombang elektromagnetik aktif pada telapak tangan meningkat dan menarik paksa pedang dari sarung yang ada di pinggang gadis tersebut. Pedang tersebut berputar di udara, lalu disesuaikan sudutnya dan ditangkap gagangnya oleh Odo.


 


 


Melihat kilatan petir yang keluar dari telapak tangan Odo dan zirah rantai, Julia baru paham apa yang dilakukan anak itu pada logam besi yang digunakannya. “Apa anda menggunakan petir untuk menarik pedangku tadi?” tanya Julia dengan tatapan terkejut.


 


 


“Hmm, kurang lebih begitu .... Kalau begitu ..., tolong ya ....!”


 


 


Tanpa menjelaskan lebih lanjut, anak itu menyelimuti tubuhnya dengan petir dan langsung meloncat tinggi menggunakan sihir pelontar. Ia kembali menciptakan sihir pelontar di udara dengan posisi menyamping, lalu langsung melesat cepat di udara tanpa membiarkan Julia menghentikannya.


 


 


Gadis kucing itu benar-benar terbelalak panik. Sihir yang digunakan Odo memang tidak terlihat terlalu kuat jika dibandingkan dengan sihir yang pernah Julia lihat, tetapi dalam hal kerumitan itu sangat di luar pemahamannya.


 


 


Sadar kalau tidak ada waktu baginya untuk bingung, Julia segera membopong Nanra dan membawanya kembali ke Panti Asuhan Inkara. Ia tidak memikirkan hal lainnya, hanya ada perintah Odo yang menjadi prioritasnya. Meski dirinya sendiri sadar sangatlah salah membiarkan anak itu pergi sendiri, tetapi dirinya sendiri juga sadar kalau mencegah atau mengikutinya bukanlah pilihan karena itu mungkin hanya akan menghambatnya.