
Di dalam kamar yang Odo dan Fiola sewa, suasana menjadi sedikit canggung saat mereka kembali ke ruangan tersebut. Anak rambut hitam itu duduk di bagian pinggir ranjang, menghadap Fiola yang berdiri menatapnya dengan ekspresi sedikit kesal atas apa yang anak itu lakukan tadi di lobi.
“Apa itu perlu, Tuan Odo? Kenapa juga Anda tadi sempat memprovokasi mereka sebelum melakukan pembicaraan?” tanya Fiola kesal. Ia melepas sihir transformasinya, lalu kembali dalam bentuk wanita dewasa dengan lekuk tubuh indah. Sekilas Odo memalingkan tatapan, bukan karena pertanyaan yang dilontarkan perempuan itu tetapi karena apa yang ada dalam jarak pandang.
“Tatap saya, Tuan Odo!”
“Ya ....”
Anak itu menatap, bukan wajah tetapi ke arah kaki Fiola yang mengenakan sandal Geta. Karena pembicaraan sebelumnya, secara perlahan persepsi Odo kepada Huli Jing tersebut berubah dan dirinya tidak bisa bersikap seperti biasanya. Menatap mata perempuan itu langsung bahkan cukup sulit untuk anak itu sekarang.
“Tuan ...!”
Fiola melipat tangannya ke depan dada, membuat kedua buah harta perempuan itu tertekan dan menambah rasa erotis. Odo Semakin enggan menatap, tambah membuang tatapan dengan cepat dan mulai berkeringat meski udara di kamar sedang dingin.
Mencari cara lain untuk menghindari kontak mata dengan hal semacam itu, Odo menundukkan kepala dan seakan tidak ada yang aneh ia bertanya, “Ya? Ada apa, Mbak Fiola?”
Fiola bertanya, “Kenapa menunduk? Apa ada yang salah dengan kaki saya?” Ia menatap ubun-ubun kelapa anak berambut hitam tersebut, sekilas ingin menjitaknya tetapi hasrat itu hanya keluar menjadi hela napas dan senyuman ringan.
“Tak ada ...,” ucap anak itu. Tetap sama sekali tidak mengangkat wajah, terus melihat ke bawah dan tidak berani menatap Fiola.
“Terus kenapa? Anda aneh, loh .... Nunduk-nunduk terus kayak gitu.”
Odo terdiam, ekspresi datar dengan cepat menghapus wajah canggung anak itu. Apa yang terjadi pada anak rambut hitam itu adalah hal yang wajar yang dapat terlihat setelah mendapat ungkapan rasa cinta dari perempuan. Meski Odo cenderung acuh tak acuh pada hal semacam itu, tetapi tetap saja itu mengganggu perasaan dan cara berpikir anak itu.
Menarik napas dalam-dalam, Odo menjernihkan pikiran dan segera paham kalau terus seperti itu pasti akan ada sesuatu yang lebih menyusahkan datang dari perempuan di hadapannya tersebut. Sejenak memejamkan mata, anak itu mengakses sihir internal, lalu terus masuk lebih dalam lagi sampai pada titik di mana dirinya bisa mengakses unsur perasaan dalam diri. Perlahan membuka mata dan mengangkat wajar, anak itu berkata —
“Delete ....”
“Hmm? Anda mengatakan sesuatu?” Fiola tidak jelas mendengarnya, itu terlalu tiba-tiba dan sedikit membuatnya terkejut.
“Tak apa ....” Anak itu ringan menatap Fiola, tersenyum ramah dan bertanya, “Tadi Mbak Fiola tanya soal kenapa aku memprovokasi mereka dulu, ‘kan?”
“Ya ....” Sekilas kedua alis Fiola bergerak, keningnya sedikit mengerut melihat perubahan sikap anak itu yang sangat cepat tetapi isi pikirannya tidak ada sesuatu yang janggal atau tanda-tanda sihir Spekulasi Persepsi aktif.
“Itu diperlukan,” ucap Odo. Mengacungkan telunjuk kanan setinggi dada ke depan, anak itu dengan ceria menjelaskan, “Kalau aku tidak melakukan itu, kedua pria tersebut pasti di tengah pembicaraan akan bertingkah sangat angkuh dan itu pasti akan membuat Mbak Fiola marah .... Mungkin, sampai Mbak Fiola menggunakan wewenang Shieal yang Mbak Fiola miliki.”
Fiola menghela napas ringan, tersenyum tipis dan ikut duduk di sebelah Odo di atas ranjang. Melihat anak itu dari samping, tatapan sedih sekias nampak pada wajah perempuan itu saat menatap Odo. Memegang pundak anak itu, ia bertanya, “Apa ... itu hasil sihir simulasi itu lagi? Berapa kali? Kali ini berapa kali?”
Menoleh ke arah perempuan itu, Odo menjawab, “Hanya seratus dua kali, tak terlalu banyak.”
Jumlah itu membuat Fiola tertegun. Seratus dua kali bukanlah jumlah yang sedikit. Selama pembicaraan di lobi tadi seharusnya memakan waktu sekitar 15 menit, berarti itu sama saja Odo telah menghabiskan waktu selama seharian lebih di lobi hanya demi pembicaraan yang dirasa orang lain sangat sebentar itu. Ekspresi sedih Huli Jing tersebut semakin terlihat, seakan tidak rela anak itu melakukan hal tersebut dan seperti menyiksa dirinya sendiri.
“Tuan .....”
“Ada apa? Kenapa memasang wajah seperti itu?”
“Tolong jangan memaksakan diri seperti itu .... Sihir itu memang luar biasa, hasil yang didapat memang menakjubkan. Tapi ... tubuh Anda bisa-bisa rusak .... Anda juga pasti menggunakan sihir itu untuk melawan Naga Hitam dan saat Ekspedisi, ‘kan? Tubuh Anda bisa-bisa ....”
“Tenang saja ....” Odo tersenyum, memasang wajah tanpa beban sama sekali. Anak itu sudah terlalu terbiasa, hal-hal yang berat bagi kebanyakan orang sudah tidak terasa seperti beban bagi anak itu.
“Bagaimana bisa saya tenang! Kalau Anda kenapa-napa, Nyonya ....” Fiola mengangkat tangannya dari pundak Odo, apa yang keluar dari mulutnya itu hanyalah alasan semata. Ia tahu itu, hanya hal tersebutlah yang bisa digunakannya untuk mengkhawatirkan Odo.
Melihat reaksi seperti itu, anak tersebut menganalisanya dengan tanpa perasaan. Murni mencari sesuatu yang bisa dilakukan untuk membuat Fiola berhenti memasang wajah sedih seperti itu. Tersenyum ringan, anak itu dengan santainya berkata, “Aku ... sebenarnya sudah masuk kategori Immortal, loh.”
Fiola terkejut, menatap dengan kedua mata perlahan terbuka lebar dan mulut sedikit menganga. Sebelum Huli Jing itu sempat mempertanyakan perkataan tersebut, Odo kembali berkata, “Ah, hanya Mbak Fiola yang aku beritahukan ini, jadi jangan bilang siapa-siapa, ya.”
“Immortal? Anda ... abadi?” Fiola bangun dari tempat duduk, berdiri di hadapan anak itu dengan rasa yang bercampur aduk. Kecemasannya tentang kondisi anak itu berkurang, tetapi rasa cemas lain mulai tumbuh dan pada akhirnya ia tidak bisa mempercayai perkataan tersebut.
“Ya, begitulah. Selama Mana dalam tubuhku masih ada, aku akan terus beregenerasi. Karena jumlah Mana dalam tubuhku setara atau bahkan lebih banyak dari Naga Hitam, jadi hampir mustahil aku mati. Yah, kecuali kalau aku dibakar sampai hangus ratusan kali .... Eng, itu pun kurasa mustahil, aku punya resistensi terhadap api, sih.”
Melihat senyuman yang ada pada anak itu saat mengatakan hal tersebut, rasa takut muncul dalam benak Fiola. Ia baru mengerti mengapa Mavis sebagai ibu anak itu sempat dilema dan merasa enggan pada anaknya sendiri. Anak bernama Odo Luke memang tidak wajar, persepsi itu mulai tertanam dalam benak Fiola. Tetapi, meski begitu perasaannya kepada anak itu tetap sama sekali tidak berubah.
“Jangan bohong .... Tadi saja sampai pendarahan seperti itu!” ucap Fiola untuk memastikan. Ia mulia gemetar, dalam perasaan yang bercampur aduk.
“Ah, tadi? Sihir regenerasinya sudah aktif, loh. Wajarnya tadi itu kepalaku—lebih tepatnya otakku sudah melelah karena sihir Spekulasi Persepsi yang aktif. Berkat sihir regenerasi yang ada, itu dapat dicegah dan hanya terjadi mimisan,” jelas anak itu.
“Anda ini ....” Fiola menatap dengan rasa kesal, bercampur dengan rasa cemas yang terasa aneh. Keningnya mengerut, menatap tajam dan berkata, “Tolong ... berjanjilah jangan lagi menggunakan sihir itu semacam itu ....”
“Kalau aku tidak menggunakannya, aku sama saja anak kecil yang cuma punya sihir kuat.” Anak itu menatap balik dengan sorot mata datar, tidak memedulikan rasa cemas perempuan di hadapannya dan hanya mengatakan apa yang ada dirasa benar.
Berdiri tepat di hadapan anak yang duduk di atas tempat tidur itu, Fiola memegang kedua sisi pipi anak itu dengan tangan lalu mulai membelainya. Sedikit membungkuk dan menatap mata anak itu, ia berkata, “Pokoknya jangan pakai lagi ... Kalau Anda memakainya lagi, saya akan meberitahu Nyonya tentang semua rahasia Anda.”
Dari pada ancaman, Odo lebih merasa itu seperti bentuk rasa khawatir perempuan itu, wajah yang ada padanya menjelaskan hal tersebut. Tersenyum ringan, Odo dengan kalem bertanya, “Kenapa tiba-tiba berubah pikiran? Bukannya tadi janjinya gak akan bilang?”
“Saya tambahkan syarat, itu syaratnya ....” Fiola menatap lurus, lalu menurunkan tangan dari pipi anak itu ke pundaknya dan memegang erat anak itu.
“....”
“Tuan Odo ....” Wajah perempuan itu semakin cemas, Odo sama sekali tidak menjawab dan hanya menatap diam. Mengangkat tangan dari pundaknya, Fiola melangkah ke belakang dan wajahnya bertambah cemas.
“Baiklah ..., aku tidak akan menggunakannya lagi,” ucap anak itu setelah melihat ekspresi Fiola.
“Yakin?”
“Baca saja pikiranku. Kalau aku merencanakan hal lain, Mbak Fiola tahu, bukan?”
Apa yang dikatakan Odo tersebut adalah jujur, anak itu sama sekali tidak berbohong atau merencanakan hal lain. Fiola tahu jelas hal tersebut setelah melongok apa yang dipikirkan anak itu. “Hmm, sepertinya memang Anda tidak bohong,” ucapnya dengan senyum tipis. Meski berkata begitu, dirinya tak bisa percaya sepenuhnya mengingat kepribadian Odo yang memang pada dasarnya aneh dan tidak bisa dimengerti oleh dirinya.
“Tapi, Mbak Fiola, boleh aku minta syarat juga? Anggap saja permintaan ....”
“Permintaan? Apa itu?” Wajah Fiola berubah lagi khawatir lagi mendengar itu, bibirnya sedikit melengkung seperti bulan sabit terbalik dan matanya menatap datar.
“Boleh saya menyalin struktur sihir Transformasi Mbak Fiola?” pinta Odo.
“Menya ... lin? Menyalin struktur sihir?”
“Hmm ...”
“Apa itu ... mungkin dilakukan?”
Fiola menatap bingung, setahunya struktur sihir bukanlah sesuatu yang bisa disalin dengan mudah. Struktur sihir pada dasarnya haruslah dipelajari dan dipahami dalam jangka waktu yang tidak sebentar, setiap sihir memiliki kerumitan yang berbeda-beda dan sihir Transformasi milik Fiola secara mendasar termasuk sihir yang sangat rumit, menyangkut perubahan bentuk fisik dan konstruksi tubuh.
“Ya, tidak terlalu sulit, kok. Aku hanya perlu menyalinnya,” ucap anak itu seraya mengulurkan tangannya ke depan. Menunjuk ke arah Fiola dengan tangan kanannya tersebut, Odo berkata, “Tolong gunakan itu beberapa kali di hadapanku, biar aku analisis dan menyalinnya.”
“Hanya dengan itu?”
“Hmm ....”
Setelah itu, Fiola harus melakukan sihir transformasi beberapa kali di hadapan Odo sampai anak itu selesai menyalin sihir tersebut dan memahami strukturnya. Saat ditanya untuk apa untuk apa menyalin sihir tersebut, anak itu hanya menjawab untuk rencana. Meski telah membaca pikiran Odo, Fiola sama sekali tidak tahu rencana apa tersebut.
Kegiatan di malam itu pun diakhiri dengan hal tersebut dan mereka baru tidur saat menjelang tengah malam. Tetapi saat lampu kamar dimatikan dan kedua orang tersebut sudah terbaring di atas ranjang, tiba-tiba Odo bangun dan turun dari atas tempat tidur.
Duduk di bersila di atas lantai, Anak itu bermeditasi dan berbicara sendiri. Meski tidak ada seorang selain dirinya dan Fiola di kamar tersebut, anak itu berbicara sendiri layaknya memang ada orang lain.
“Kau dengar, bukan? Jadi tolong hilangkan efek itu .... Turunkan sinkronisasinya agar aku tak perlu mendapat efek itu .... Ayolah, bujuk dia. Lagi pula, awalnya itu karena kau menghasut dia sampai-sampai ini terjadi padaku, bukan?”
Fiola mengintip anak itu dari balik selimut, mendengar apa yang digumamkannya dan tetap berpura-pura tidur. Melihat anak itu berbicara sendiri seperti itu, Huli Jing tersebut tidak bisa membaca pikirannya. Bukan karena isi kepala anak itu seperti badai dan rumit sampai tidak bisa dibaca, tetapi karena terhalang oleh sesuatu yang tak jelas.
“Begitu, ya .... Anda ini memang,” benak Fiola. Ia menutup wajah dengan selimut, berbalik dan paham kalau Odo memang sama sekali belum percaya padanya. Merasa sedikit sedih karena hal tersebut, tetapi dirinya tak bisa berhenti tersenyum karena merasakan perubahan dari dalam itu dengan sangat jelas.
Ia lega, memahami dirinya masih bisa berubah dari dalam dan tidak lagi merasa seperti ditinggalkan. Memahami kalau dirinya sendiri egois dan mencoba untuk menurunkan rasa itu demi orang lain adalah hal baru bagi Fiola, itu benar-benar pertama kalinya dirinya merasa ingin berubah demi orang lain, Berbeda saat dengan Mavis dirinya hanya menyesuaikan diri dan cenderung terpaksa membenahi sikap, kali ini ia lakukan dengan niatnya sendiri dan untuk Odo.
««»»
Hari sudah berganti. Meski pagi hari sudah datang, cahaya dari matahari yang terbit masih belum bisa menyentuh daratan sepenuhnya karena terhalang awan kelabu yang masih menghiasi langit. Di dalam kamar penginapan yang mereka sewa, Fiola berjalan ke arah jendela, lalu membukanya dan membiarkan udara yang lebih dingin dari luar masuk ke dalam.
Odo menggigil, anak yang terbaring di lantai itu segera membuka mata dan bangun. Duduk bingung sesaat, ia segera paham ulah siapa yang membuat suhu ruang tiba-tiba turun drastis. Menatap sipit dengan kantung mata sedikit hitam, anak itu bertanya, “Masih turun ... saljunya?” Fiola menoleh mendengar itu, perempuan dengan wujud gadis kecil itu tersenyum ringan seakan menikmati wajah kesal Odo.
“Hah, malah itu yang Anda tanya, ya?” ucap Fiola. Perempuan yang berdiri di dekat jendela itu melihat keluar, menarik udara segar yang dingin dan berkata, “Ya, masih turun. Semuanya masih terlihat sangat putih. Kalau matahari tidak terlihat, jadi sulit tahu sekarang jam berapa, ya ....”
“Sekarang masih pukul tujuh,” ucap anak itu. Ia berdiri, lalu sedikit meregangkan tubuh dan melakukan loncatan-loncatan kecil di tempat yang sudah menjadi semacam kebiasaan baginya. Sembari melakukan peregangan kedua tangan dan kaki, anak itu berkata, “Kita hari ini tak perlu sarapan di sini, ya. Langsung saja keluar, kita makan nanti di luar saja.”
“Hmm?” Fiola menoleh, menatap Odo dan berkata, “Nanti kepala koki itu ribut lagi, loh. Sepertinya dia memang seperti itu ..., tadi sebelum Tuan Odo bangun dia juga datang ke kamar ini dan bilang kalau kita harus sarapan untuk mencoba menu baru.”
Odo berhenti peregangan setelah mendengar itu. Berdiri tegak dan menatap datar, anak itu berkata, “Mbak Fiola, aku beri saran berharga untuk kasus semacam ini .... Jangan pernah mau menjadi pencicip saat seorang kaki mencoba menu baru, jangan pernah.”
“Hmm? Memangnya kenapa?”
“Itu pasti ujung-ujungnya tidak enak. Itu sama saja menjadi bahan percobaan, loh. Kalau mau masak, lebih baik jangan coba-coba. Gunakan saja pengetahuan yang dimiliki. Kalau Mbak Fiola berharap mencicipi makanan lezat saat koki uji coba makan, berarti Mbak Fiola harus makan makanan tidak enak belasan sampai puluhan kali dulu.”
“Semacam itu, ya ....” Fiola tidak benar-benar peduli apa yang dikatakan Odo, ia hanya peduli pada anak itu yang sedang berkata demikian.
Perempuan itu sedikit tersentak. Mengangkat telunjuk setinggi dada, ia bertanya, “Gak mandi—maksudku membersihkan tubuh dengan lap hangat dulu paling tidak, apa tak bau atau lengket ... tubuh Anda?”
“Ah, itu toh.” Odo berbalik, tersenyum ringan dan menjawab, “Tenang saja, keringatku tidak beraroma. Lebih tepatnya, tubuhku cenderung tidak memiliki aroma bau-bau semacam itu.”
“Eh?” Fiola terkejut mendengar fakta tersebut.
“Kalau pun ada aroma bau, mungkin itu dari pakaian yang kukenakan. Tubuhku sendiri tak mengeluarkan aroma,” lanjut Odo.
Sedikit memiringkan kepala, Huli Jing tersebut bertanya, “Kenapa ... begitu?”
“Yah, itu semacam konsumsi tubuh secara sempurna. Pada dasarnya tubuh tidak bisa menyerap seluruh makanan yang masuk ke dalam tubuh, karena itulah ada sekresi tubuh. Tetapi, tubuhku sudah tersusun sempurna untuk mengolah semua makanan. Karena itu, keringat atau hasil sekresi yang keluar itu sebenarnya bukanlah sekresi. Itu hanya penyesuaian tubuh ....”
Fiola terdiam sesaat. Meski dirinya mengangguk, wajahnya sama sekali tidak menujukan kalau dirinya paham perkataan Odo. Menelan ludah dengan berat, ia berkata, “Maaf ..., saya tak paham apa yang Anda katakan ....”
“Yah, intinya aku berkeringat bukan karena kelebihan air, tetapi karena untuk mengurangi suhu tubuh, kasusnya sama seperti kemarin. Kalaupun aku kencing atau buang air besar, itu hanya dilakukan untuk membuang racun dan berarti aku benar-benar perlu melakukannya. Yah, aku memang bisa melakukan itu sesukanya, tapi yang keluar bukan hasil sekresi. Yah, bahkan urinku bisa diminum langsung mungkin ....”
“Eeeeh? Apa-apaan itu?” Ekspresi sedikit jijik nampak pada raut wajah Fiola, merasa enggan ada tidak ingin membayangkan ada orang yang mau melakukan hal seperti apa yang dikatakan anak itu.
“Efek dari Inti Sihir Naga Hitam, Mbak Fiola tahu kalau ada itu di dalam diriku, bukan?”
Raut wajah Fiola berubah cepat saat mendengar itu, dirinya paham kalau Odo berkata seperti itu bukan karena ingin bercanda atau semacamnya. “Efeknya semacam itu juga?” tanya Fiola heran.
“Hmm. Pada dasarnya aku sudah menjadi keberadaan kuat, tetapi tak sempurna. Selama Mana dalam tubuh ada, aku bisa hidup. Menyerap Ether sudah menjadi konsumsi bagiku, dengan kata lain aku sebenarnya juga tidak perlu makan untuk hidup,” jelas anak itu.
“Anda ... sudah keluar dari ras manusia sepertinya .... Manusia tak bisa melakukan hal semacam itu, loh. Bahkan saya ....”
“Aku masih manusia, loh. Rasku belum berganti .... Sudahlah, ayo turun.”
“Ya, baiklah.”
Mereka pun berjalan keluar dari kamar, menguncinya dan pergi ke lantai bawah. Saat sampai di lantai satu, mereka segera menghampiri meja resepsionis, lalu meninggalkan kunci kamar dan pergi dari penginapan tersebut sebelum Owner tempat tersebut mengejar mereka. Pelayan yang bekerja di bagian tersebut sempat bertanya mengapa mereka sangat terburu-buru, tetapi Odo hanya memberikan alasan ada sesuatu yang harus dilakukan segera.
.
.
.
.
Setelah berjalan cukup jauh dari penginapan tempat mereka menginap dan mereka hampir sampai di balai kota, baru saat itulah Fiola bertanya, “Hari ini mau ke mana lagi? Rencana dengan Nona Walikota itu ..., bukannya masih beberapa hari lagi? Pedang pesanan Tuan juga baru selesai besok ....”
Odo melirik ringan perempuan yang berjalan di sampingnya itu. Sedikit memasang senyum simpul, ia pun menjawab, “Eng, kita mau pergi ke beberapa kantor di sekitar balai kota, lalu sorenya ke panti asuhan itu.”
“Ke tempat itu lagi?” Alis Fiola berkedut, sedikit merasa heran dan kembali bertanya, “Bukannya Anda enggan tidur di sana?”
“Yah, uang kita habis cuma buat bermalam dua hari, sih. Mau bagaimana lagi ..., cari yang gratis.”
Fiola terdiam, ia tidak bisa menyangkal itu karena sekarang memang mereka sama sekali tidak membawa uang tunai satu keping pun. Menghela napas ringan, Huli Jing itu berkata, “Mau pulang dulu buat ambil uang?”
“Oi, Mbak Fiola .... Kalau seperti itu, bisa-bisa ibu pasti pakai dana buat bayar utang itu untukku.”
“Ah, benar juga.” Perempuan rubah itu menghela napas resah, apa yang dikatakan Odo tentang Mavis tak bisa disangkalnya. Melirik anak itu, ia berkata, “Kalau Nyonya sepertinya bakal seperti itu .... Dia cenderung ingin memanjakan Anda, sih.”
“Eng, karena itu aku jarang minta-minta padanya soal seperti itu. Yah, meski saat ekspedisi aku sangat bersyukur ibu tidak melakukan hal-hal yang berlebihan ....”
Tidak lama berjalan, akhirnya mereka sampai di balai pusat dari Kota Mylta. Di sana sudah mulai ramai dengan lalu-lalang orang-orang yang melakukan kegiatan mereka, entah itu pedagang, buruh, petugas keamanan, atau pun orang puritan. Mengamati semua itu, ada beberapa hal disimpulkan dalam kepala Odo.
“Kita duduk dulu di sana,” ucap anak itu seraya berjalan ke arah salah satu bangku di dekat kolam pada tengah balai kota.
“Eh? Bukannya mau ke kantor instansi pemerintah di sekitar sini?”
“Tunggu sampai mereka beroperasi.”
“Mereka sudah buka, kok. Lihat ....” Fiola menunjuk ke arah salah satu kantor.
Menghentikan langkah kaki dan menoleh ke arah yang ditunjuk perempuan itu, Odo sedikit menghela napas dan berkata, “Meraka hanya buka, belum beroperasi dan membuka layanan umum. Tunggu saja sebentar lagi, cobalah patuhi prosedur yang ada ..., Mbak Fiola.”
“Hmm, padahal bisa saja Tuan menggunakan status yang ada untuk itu ....”
“Ya, nanti juga akan aku gunakan. Tapi untuk seperti ini, lebih baik ikuti saja alurnya.”
Pada akhirnya, mereka pun duduk di bangku dan menunggu sampai satu jam lebih sampai kantor-kantor instansi pemerintahan itu membuka layanan masyarakat. Selama menunggu, Odo hanya duduk tanpa berbicara dan hanya mengamati sekitar. Ia dalam hati menghitung orang-orang yang lewat, lalu menggolongkan mereka dalam beberapa kategori. Dari itu, anak tersebut mendapat kesimpulan lain dan membuatnya sedikit tersenyum tipis.
Setelah kantor-kantor membuka layanan dengan ditandai suara lonceng pada salah satu menara di sekitar balai, anak itu segera bangun dan ia pun berjalan ke arah satu kantor instansi bersama Fiola. Di balai kota secara menyeluruh memiliki lebih dari belasan kantor instansi yang bisa dikatakan mencangkup seluruh pengaturan dan koordinator unsur-unsur kota. Dari semua kantor yang ada, yang pertama kali Odo datangi adalah kantor instansi hukum.
Di dalam sana Odo dan Fiola mengikuti prosedur, lalu mencari tahu tentang daftar-daftar kasus dan peristiwa selama periode satu dekade terakhir. Dengan meminjam wewenang yang dimiliki Fiola dan surat khusus yang dimiliki Shieal tersebut, anak itu mengakses beberapa informasi rahasia yang ada di dalam instansi tersebut. Di tempat itu tidak ada informasi yang menarik bagi Odo, dan anak itu tidak menghabiskan waktu lama di dalam kantor tersebut.
Setelah selesai di kantor instansi hukum, anak itu pergi ke kantor instansi keuangan dan menghabiskan waktu lebih lama di sana. Tidak jauh berbeda saat di instansi hukum, anak itu memeriksa data keuangan kota dalam satu dekade terakhir dan menganalisanya.
Selesai dari tempat itu, anak itu pun mendatangi kantor-kantor instansi lain seperti kantor kelautan dan perikatan, keamanan, dan terakhir adalah tata ruang kota. Pada semua kantor instansi yang didatangi Odo, dirinya paling lama menghabiskan waktu di instansi tata ruang kota. Di sana anak itu menghabiskan waktu sampai berjam-jam, mengobrak-abrik arsip di tempat itu demi mendapat info yang diinginkan. Para pegawai di sana hanya bisa pasrah melihat anak itu menggeledah tempat kerja mereka, wewenang dari Shieal dan surat resmi yang dibawa gadis rubah tersebut benar-benar membuat mereka tidak bisa mencegah anak itu.
Odo bukanlah orang yang tak tahu diri, setelah selesai mendapatkan informasi yang diperlukan ia merapikan semua berkas yang ada dan berterima kasih pada orang-orang di tempat tersebut. Para pekerja di kantor instansi tata ruang hanya bisa bingung mendapat tamu yang datang bagai badai dan pergi bagai angin hangat itu, bahkan kepala kantor hanya bisa menggaruk bagian belakang kepala karena tidak paham apa yang baru saja terjadi.
Keluar dari bangunan tersebut, tak terasa hari sudah mulai sore dan sedikit gelap dengan awan kelabu masih menghiasi langit. Menuruni anak tangga pendek setelah keluar dari bangunan kantor, Odo dan Fiola berpapasan dengan sekelompok orang yang tidak mereka duga.
Tempat di balai kota, Siska dan anak-anak panti asuhan lewat dan mata mereka saling berpapasan. Biarawati tersebut mengenakan pakaian kerjanya, sebuah gaun berwarna biru keabu-abuan dan terlihat memakan tudung berwarna putih. Di tangan kanan ia membawa sebuah buku, dan tangan kirinya menggandeng salah satu anak kembar, Mila.
“Ah, Tuan Odo ..., Nona Fiola ...?”
Siska tersenyum ramah melihat kedua orang tersebut baru keluar dari gedung instansi tata ruang. Bersama dengan anak-anak panti asuhan, ia lalu menghampiri Odo dan Fiola yang baru saja menuruni anak tangga di depan gedung instansi tersebut.
Anak-anak panti asuhan berlari mendahului Siska dengan riang dan penuh kebahagiaan. Anak kembar, Mila dan Erial langsung berlari ke arah Odo, lalu memeluknya dengan erat.
“Kena kau Tuan Penyihir~!”
“Tertang ... kap~ Eih~!
Odo sempat terkejut mendapat itu, terlihat sedikit heran tetapi sama sekali tidak merasa terkejut saat melihat mereka. Mengelus kepala kedua anak gadis yang memeluknya, ia sedikit tersenyum simpul yang terasa kosong.
“Yo, Tuan Penyihir. Sudah baikkan kondisimu?” ucap Daniel dengan akrab. Ia melipat tangan ke depan dada, lalu menatap dengan wajah ceria dan penuh semangat.
“Dani ..., jangan sok akrab seperti itu pada Tuan Odo,” tegur Firkaf. Ia menutup bukunya, lalu menatap tajam ke arah Daniel.
“Lah, jangan dibawa tegang, santai saja. Lagi pula, Tuan Penyihir juga tidak keberatan, kok .... Iya, ‘kan?” ucap Daniel. Anak yang terlihat paling aktif dan terbilang selalu santai itu memasang senyum lebar, menatap ke arah Odo yang melamun.
“Lihat, Tuan Odo terdiam begitu, kamu mengganggunya, Dani!” ucap Nesta. Memegang kerah belakang pakaian Mila dan Erial yang memeluk Odo, gadis yang paling dewasa di antara semua anak panti asuhan itu berkata, “Kalian juga, jangan nempel seperti itu ke Tuan Odo ...!!”
“Gak! Akau akan menjaga Tuan Penyihir! Nanti dia dijahili Kak Daniel lagi!” ucap Mila.
“Hmm, Kak Dani nakal!” sambung Erial.
“Eeeh? Kok aku yang salah?”
Di tengah suasana ramai yang terasa lembut dan hangat itu, Odo hanya terdiam dan menatap pada satu titik di mana gadis berambut putih di luar lingkaran kehangatan itu berdiri. Di antara semua yang ada dan rasa hangat yang diberikan kepadanya, sorot mata Odo hanya terpaku pada gadis yang berdiri dengan wajah sendu itu.
Seakan saling tertarik satu sama lain, mereka saling menatap tanpa memedulikan semua suara yang ada. Seakan saling memanggil satu sama lain, kedua anak itu berjalan saling mendekat dan membuat Siska, Fiola, beserta anak-anak lain panti asuhan terlihat bingung.
Saling berhadapan. Odo mengamati gadis dengan gaun berwarna putih gading itu, ia hanya terdiam tanpa melontarkan satu kata pun. Begitu pula Nanra, gadis rambut putih yang mengenakan rangkap jaket hangat itu sama sekali tidak berbiara dan hanya menatap lurus sosok berambut hitam di hadapannya.
Angin dingin berhembus, menerpa tubuh mereka dan membuat rambut mereka berombak. Saat angin berhenti bertiup, salah satu di antara mereka berbicara.
“Odo ..., yang benar ... itu seperti apa?” tanya Nanra.
“Entahlah .... Di dunia ini tak ada yang sepenuhnya benar, tergantung bagaimana cara kita memandang. Orang-orang hanya bisa membenarkan tindakkan, bukan berarti apa yang dilakukan mereka itu nyata benar. Yang ada di dunia ini hanyalah kenyataan ....”
“Apa ... memang seperti itu .... Kalau iya, untuk apa ... semua itu ada? Untuk apa tragedi dan kebahagiaan itu ada?”
Odo terdiam mendapat pertanyaan itu, dirinya sedikit paham kalau gadis di hadapannya itu sudah memikirkan banyak hal sejak hari itu. Tersenyum ringan, ia berkata, “Aku sedikit terkesan ..., kau tidak mengelak dan benar-benar memikirkannya.”
“Hmm.” Nanra mengangguk ringan, menatap lurus dan berkata, “Perkataanmu itu sangat menggangguku dan sampai sekarang aku tidak bisa mendapat kesimpulannya .... Kamu ..., benar-benar pandai mempengaruhi orang lain, ya ....”
“Aku tidak mempengaruhi, hanya menyadarkan kalau ada sudut pandang lain yang lebih tepat dan pantas dicoba.”
“Itu ... namanya mempengaruhi ....”
Mendengar apa yang dikatakan kedua orang tersebut, mereka semua terlihat bingung. Entah itu Siska atau anak-anak panti asuhan, mereka tidak mengerti apa yang sedang Odo dan Nanra bicarakan. Sedikit berbeda dengan mereka, Fiola menangkap pembicaraan tersebut dan sedikit memahaminya.
Menyipitkan mata sembari melihat ke arah kedua anak itu, Huli Jing tersebut bergumam, “Anda ini selalu saja ... tidak pernah benar-benar memedulikan yang lain. Sungguh ... semua ini rasanya ....”
Terlalu menyedihkan, itu tidak terucap di ujung kalimat perempuan itu. Meski hanya sekilas, dirinya tahu apa yang anak itu rasakan kepada gadis bernama Nanra itu. Fiola hanyalah tahu, tetapi dirinya tidak paham mengapa bisa Odo merasa seperti itu kepada gadis tersebut. Tetapi meski hanya sebatas itu, dirinya bisa paham kalau hal itu sangatah mustahil untuk melihat kedua anak itu bersama kelak.
Sedikit memalingkan pandangan, Fiola kembali bergumam, “Apa Anda juga ingin membuatku berbohong seperti yang ibu Anda min—” Perkataannya terhenti, dengan jelas Odo telah menoleh ke arahnya dan menatap tajam. Dalam gerak bibirnya, anak itu menyampaikan sesuatu.
Fioal tahu jelas itu dan ia pun terkejut. Itu berbeda dengan saat itu, kali ini bukanlah kebohongan tetapi sebuah kejujuran yang mengejutkan. Tersenyum ringan seakan menerima yang apa yang disampaikan Odo, Fiola berkata, “Terserah Anda saja ... Huh, dasar.”