Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 71 : Regalia III (Part 01)



Seekor Kijang Merah terjauh ke dalam jurang, mengerek sendirian tanpa bisa naik kembali.


Suara bagaikan lenyap ditelan kegelapan, menahan sakitnya kaki yang terluka di tempat yang dingin tersebut.


Namun ….


Dirinya tidak benar-benar sendirian, jurang yang gelap dan dalam itu pun sejak dulu memiliki penghuninya sendiri.


Jamur dan serangga, cacing dan binatang melata. Mereka memilki sikap dan kepribadian masing-masing, menemaninya di dalam jurang gelap nan dalam.


Perlahan-lana, sedikit demi sedikit dengan pasti kakinya pun sembuh. Namun sebelum sang Kijang Merah pulih sepenuhnya, ia yang mendambakan dunia asalnya lekas kembali memanjat.


Jamur memperingatkan, cacing mengingatkan, dan binatang-binatang melata sempat mencegahnya.


Meski begitu, sang Kijang Merah tetap memaksa untuk naik. Dibutakan oleh rasa rindunya kepada dunia atas.


Pada akhirnya, ia pun jatuh kembali ke tempat yang lebih dalam. Dengan luka yang lebih parah, lebih menyakitkan, dan bahkan sinar mentari tidak bisa lagi menyentuh bulunya.


Kijang meringkuk, bulu-bulunya yang merah dan indah perlahan menghitam.


Musim silih berganti, namun di dalam jurang sama sekali tidak ada yang berubah. Baik dirinya ataupun semua yang menemaninya di tempat tersebut, semuanya tidak ada yang berganti meski waktu telah lama berlalu.


Entah sejak kapan, sang Kijang Merah menjadi kijang dari dunia bawah. Warna bulunya menjadi gelap pekat, tanduknya tumbuh panjang tidak beraturan, dan bola mata yang dulunya hijau indah berubah biru gelap.


Seakan-akan ialah sosok yang telah lama berkelana dalam kegelapan tersebut, terus menatap dari bawah dan seakan menunggu untuk menyeret seseorang dari dunia atas.


“Ya, kijang merah sangatlah malang. Namun, tenang saja … aku tidak meninggalkan engkau sendirian. Diriku pasti akan segera datang …. Engkau bukanlah Kijang Merah menyedihkan. Engkau adalah sosok yang pantas untuk berdiri di takhta dunia ini.”


.


.


.


.


“ …. Odo? Tuan Odo? Tuan … Odo?”


Pemuda rambut hitam yang terduduk di lantai tersebut sedikit tersentak dan keluar dari lamunan. Menoleh ke kanan, ia melihat sang Tuan Putri yang menatap dengan sedikit kesal karena diacuhkan untuk beberapa menit.


Segera memalingkan pandangan dan melihat sekeliling, Odo segera sadar bahwa dirinya sedang berada di perpustakaan Luke Scientia. Samar-samar dalam kepala, ia masih ingat pergi dari aula setelah acara hampir selesai.


“Ini … pukul berapa? Apa aku tertidur?” Odo sedikit mengerutkan kening, wajahnya sedikit pucat dan tampak takut akan sesuatu.


“Tuan matahari sudah lama sekali naik loh! Kata Tuan Arca dan Nona Fiola, Tuan Odo langsung ke perpustakaan setelah pesta selesai. Tadi malam bisa-bisanya Tuan Odo meninggalkan tunangan Anda dan malah ke sini …. Arteria sedikit sedih loh.”


Ingatan terakhir Odo yang masih jelas adalah percakapan dengan Arca tadi malam. Namun saat dirinya berjalan sampai perpustakaan dan duduk di lantai seperti sekarang, itu begitu buram.


Saat berusaha mengingat kembali, rasa sakit yang berdenyut-denyit menyerang kepalanya. Reaksi penolakan itu seakan terjadi secara mental, bukan karena fisiknya.


Sejenak menutup mata dan bernapas dengan berat, ia mengakses Sihir Roh untuk mengembalikan Vil ke dalam wujud fisik.


Partikel cahaya mulai berkumpul, membentuk tubuh dan pakaian Roh Agung tersebut secara utuh. Berdiri di sebelah Odo dan menepuk ringan pundaknya, perempuan rambut biru itu pun bertanya, “Kamu kenapa, Odo? Tadi malam tiba-tiba diam dan langsung berjalan ke sini …. Dipanggil-panggil diriku juga tidak merespons sama sekali ….”


Odo menoleh dan hanya menatap bingung, lalu dengan sorot mata seperti orang ling-ling ia malah balik bertanya, “Memangnya …, tadi malam setelah bicara dengan Arca … aku melakukan apa saja?”


“Odo tidak ingat? Dari tadi Odo cuma duduk di sini semalaman. Kamu tahu, diriku tidak bisa melakukan apa-apa dalam bentuk astral …. Hanya bisa melihat saja membuat dada ini tidak bisa tenang!


“Ah, benar juga ….” Respons Odo begitu tipis meski dibentak, ia masih tampak bingung dan berkata, “Aku mengunci mu dalam wujud astral selama acara, ya? Maaf, aku sempat lupa.”


Pemuda rambut hitam tersebut menundukkan wajahnya, perlahan mulai terlihat cemas terhadap hal yang tidak ada hubungannya dengan Vil. Seakan dirinya mulai mengingat sesuatu, tubuh seketika gemetar dan napasnya mulai terengah-engah.


“Odo ….?”


Vil memegang pundaknya dengan erat, Odo perlahan berhenti gemetar. Setelah ia mengedipkan mata sebanyak dua kali, sorot mata pemuda itu kembali seperti biasanya. Tampak tenang, tanpa rasa takut.


Setelah menggelengkan kepala beberapa kali, pemuda rambut hitam itu memasang senyum kaku kepada mereka berdua. “Maaf, aku sudah tidak apa-apa,” ucapnya dengan nada santai.


Arteria dan Vil saling menatap, merasa heran dengan apa yang telah terjadi pada Odo. Namun sebelum mereka bertanya, pemuda itu tiba-tiba bergumam, “Tadi … ingatan siapa lagi? Apa aku pernah membaca fabel seperti itu?”


Yang terucap dari mulutnya membuat kedua perempuan itu terdiam. Vil merasa kalau sesuatu yang ada dalam diri Odo mulai mempengaruhinya, sedangkan Arteria mulai sedikit paham dengan apa yang dikatakan Dewi Asmali soal pemuda tersebut yang merupakan seorang inkarnasi.


Melihat ekspresi mereka berdua, Odo hanya terdiam tanpa menjelaskan atau pun berusaha untuk menyembunyikan hal yang telah diucapkannya. Pemuda yang lekat dengan warna hitam tersebut sedikit memalingkan pandangan, melihat ke lantai dua perpustakaan seakan sedang mencari sesuatu.


Odo perlahan menoleh ke arahnya, lalu dengan tatapan santai menjawab, “Yang salah? Kurasa … tidak ada. Entah mengapa sekarang aku malah merasa sedikit ringan. Yah, mungkin karena beberapa hari ini aku tidak sempat istirahat.”


Ekspresi yang tampak pada Odo begitu biasa, seakan-akan dirinya telah memilih untuk melupakan hal yang membuatnya ketakutan tadi. Pemuda itu bangun, lalu sesaat meregangkan kedua tangannya ke atas.


Perilaku dan perubahan suasana hati yang begitu cepat tersebut tampak tak wajar di mata Vil dan Arteria, cukup untuk membuat mereka berdua menatap penuh kecemasan. Odo paham dengan rasa cemas mereka, namun tidak mengatakan apa-apa dan hanya melempar senyum ringan.


Apa yang dirasakan Vil dan Arteria memang bukan tanpa alasan, secara insting mungkin mereka berdua memang menyadarinya. Bahwa Odo telah sedikit berubah hanya dalam semalam.


Ingatan yang tersimpan rapi dalam jiwa pemuda itu memang mulai bercampur aduk, melebur dan menjadi satu dengan ingatannya sekarang.


Batasan ⸻ Sesuatu yang membuat Odo tetap menjadi dirinya sendiri mulai runtuh dalam proses tersebut. Pada sampai titik tertentu, bahkan ia tadi untuk sesaat sampai lupa bahwa dirinya adalah Odo Luke.


“Padahal aku sudah membagi ingatan yang diwariskan Raja Iblis Kuno itu dan memisahkannya, kenapa sekarang mulai bercampur? Apa ini efek karena aku terlalu sering mengakses Inti Sihir? Sehingga informasi yang tersimpan di sana ikut mengalir keluar saat aku menyimpan perkembangan sihir ….”


Melihat tunangannya kembali melamun, Arteria meraih tangan kanan kanannya dengan lembut dan berkata, “Tuan Odo, Anda yakin baik-baik saja? Kenapa wajah Tuan Odo pucat lagi seperti itu?”


“Ah, ini ….” Odo menoleh ke arahnya, lalu sembari tersenyum ringan mengelak, “Aku hanya kurang tidur. Aku tadi meditasi semalaman sih ….”


“Meditasi?”


Arteria tidak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda itu, begitu pula Vil yang sangat paham kalau Odo semalam tidak melakukan hal tersebut. Paham pemuda itu hanya tak ingin membicarakan hal itu, baik Vil ataupun Arteria memutuskan untuk berhenti mengusik hal tersebut dan terdiam dengan canggung.


Odo melirik gaun yang dikenakan Arteria, memperlihatkan ekspresi tertarik seakan dirinya peduli dengan alasan tunangannya mengenakan pakaian mewah seperti itu.


Warna kain biru yang cukup serasi dengan rambutnya yang terurai dan hiasan ornamen berbentuk bunga di kepala, renda pada bagian ujung gaun di bawah lutut, serta sabuk dari kulit yang tampak indah melingkar di pinggangnya yang kurus.


Meletakkan tangan ke dagunya sendiri, Odo memasang senyum kecil dan dengan maksud memulai topik pembicaraan baru ia pun bertanya, “Waktu acara pertunangan kau pakai pakaian formal kalangan militer, tapi pas seperti ini kenapa malah gaun mewah?”


“Apa … ini tidak cocok, ya?” Arteria sedikit tidak percaya diri, memalingkan pandangan dari tunangannya dan tampak semakin canggung.


“Cocok kok, hanya saja aku heran.”


Jawaban tersebut membuat Arteria terdiam sesaat, mengira Odo tidak memandangnya sebagai seorang perempuan karena reaksinya terkesan acuh tersebut. Menghela napas ringan, Putri Arteria sesaat memasang wajah sedikit lesu.


“Acara sudah selesai, sebagian para tamu juga sudah pulang. Rombongan dari Ibukota nanti sore harus memulai perjalanan pulang ….” Tuan Putri menatap lurus ke arah Odo, lalu sembari mengacungkan jari telunjuknya ke depan ia dengan tegas menjelaskan, “Karana itu, Ayahanda meminta Arteria untuk berganti pakaian lagi. Kata Kakanda juga tidak pantas seorang Putri terus mengenakan pakaian hitam …. Nanti saat kembali ke Ibukota bisa-bisa para Tetua banyak omong lagi kalau Arteria tetap mengenakan pakaian militer, itu kata mereka.”


“Hmm …. Berarti waktu itu pengecualian?” Odo memalingkan wajahnya. Sebenarnya ia sudah tahu hal tersebut, hanya mengajukan pertanyaan untuk mengganti topik pembicaraan.


“Hmm, waktu itu Arteria bilang mau berkabung sebentar soalnya. Jadi …, Ayahanda mengizinkannya.”


Topik pembicaraan mereka pun berganti secara alami seakan memang itu alur yang wajar. Mereka membahas hal yang sebenarnya tidak terlalu penting jika dibandingkan dengan perilaku aneh Odo sebelumnya.


Melihat dan mendengar apa yang mereka berdua bicarakan, Vil hanya memasang ekspresi muram yang samar-samar bercampur cemas. Sebagai Roh yang telah menjalin kontrak dengan Odo, beberapa emosi yang pemuda itu miliki sebagian tersampaikan kepadanya.


Takut, cemas dan gelisah, hal-hal seperti itu sekarang begitu kuat bersemayam dalam hati Odo. Namun melihatnya dengan santai berbincang dengan Arteria, Vil tidak berkata apa-apa dan hanya menatapnya sebagai orang ketiga yang kebetulan berada di tempat tersebut.


Saat topik pembicaraan hampir habis, Arteria baru mengingat tujuannya datang menemui Odo. Ia bertepuk tangan satu kali, lalu dengan wajar berseri berkata, “Benar juga! Arteria hampir melupakannya!”


Odo dan Vil sedikit heran melihat gadis itu tiba-tiba meninggikan volumenya. Mereka berdua saling melirik, sama-sama tidak tahu apa yang telah diingat sang Tuan Putri.


“Memangnya apa?” tanya Odo dengan nada datar.


“Tuan Odo yakin melupakannya? Masa tidak ingat sih! Ini hari ulang tahun Anda, bukan?”


Kedua mata Odo sempat terbuka lebar, ia juga baru mengingatnya dan benar-benar lupa kalau hari ini dirinya genap berusia 9 tahun. Saat dirinya menoleh ke arah Vil, Roh Agung tersebut juga terlihat baru mengingat hal itu.


“Yah, jujur aku tidak terlalu memikirkan hal semacam itu. Lagi pula, setiap tahun aku selalu menolak ⸻”


Arteria segera meraih tangan kanan tunangannya, menggenggam dengan kedua tangannya yang kecil dan lembut. Sembari menatap lurus Odo, Tuan Putri dengan tegas berkata, “Itu benar! Kata Tante Mavis ⸻ Uhm …. Maksud Arteria, Ibunda Mavis! Kata beliau, Anda selalu marah kalau diadakan pesta ulang tahun dan kabur ke hutan! Padahal itu harus diadakan loh! Anda harus bersyukur masih hidup sampai tahun ini!”


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.


Tapi!


Dilarang promo di cerita ini!



Just a Meme ....