Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 61 : Aswad 8 of 15 “To know who I am” (Part 05)



“Delapan, akhir bulan ini akan menjadi sembilan,” jelas Mavis.


 


 


Hal tersebut juga membuat orang-orang yang mendengarnya mulai penasaran. Untuk anak dari seorang Saint, seharusnya akan mendapat prioritas pembaptisan dan bisa dengan mudah melakukannya di mana saja. Di usia yang sudah hampir mencapai sembulan tahun, tidak melakukannya adalah hal yang aneh karena upacara keagamaan tersebut pasti akan dilalui oleh anak-anak, kecuali latar belakang mereka sangatlah buruk sampai-sampai tidak bisa memasuki kota atau tempat peribadatan.


 


 


“Kenapa bisa ...? Bukannya Nyonya bisa membawa Odo ke kota atau membaptisnya sendiri di kediaman?” tanya Arca kembali.


 


 


“Ya, itu benar.” Mavis mengangkat tangannya dari Odo dan meletakkannya ke pipi kanan, lalu dengan sedikit resah berkata, “Ini memang sedikit memalukan, namun saat usia tujuh tahun Odo kabur seharian sampai hari pembaptisan berakhir. Tahun kemarin juga dia kabur lagi tanpa jejak, padahal ulang tahunnya sama dengan hari pembaptisan. Anehnya meski dicari ke penjuru tempat di lingkungan Mansion sampai hutan di sekitar, dia tetap tidak ada dan baru pulang hari berikutnya.”


 


 


Arca langsung menatap tajam Odo setelah mendengar hal tersebut. Namun pemuda rambut hitam itu malah memalingkan pandangan, enggan meladeni atau menjawab pertanyaan yang akan dilontarkan Arca.


 


 


“Oi, lihat ke sini kau!” Arca memegang menarik kerah bagian belakang Odo, membuat pemuda itu menghadap ke arahnya dan dengan tegas bertanya, “Kenapa bisa begitu? Upacara pembaptisan itu penting, loh! Kau tak ingin mendapat berkah para Dewa pelindung kerajaan Felixia?”


 


 


“Ah, itu ....” Odo ingin menjelaskannya, namun sedikit cemas disebut sesat saat mengungkapkan cara pandangnya terhadap kepercayaan yang dianut kerajaan Felixia. Menatap bingung Arca, pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Ini memang aneh sebagai anak seorang Saint untuk berkata seperti ini, tapi bisa dikatakan kepercayaanku ini berbeda dengan kalian semua.”


 


 


“Eh”


 


 


Arca benar-benar terbelalak mendengar hal tersebut. Ia segera menatap ke arah Mavis seakan meminta penjelasan darinya, bertanya-tanya mengapa sebagai seorang Saint membiarkan putranya memiliki pemikiran berbeda seperti itu.


 


 


Mavis meletakkan tangannya ke depan dada, lalu dengan penuh keikhlasan berkata, “Dalam ajaran kita tidak ada paksaan, ilham pasti datang pada hati setiap orang. Jika memang Odo tidak berbuat buruk, diriku rasa tidak masalah ia memiliki pemikiran tersendiri terhadap kepercayaannya.”


 


 


Arca kembali menatap Odo, lalu dengan heran bertanya, “Memangnya kau punya kepercayaan yang lebih indah dari apa yang dianut kerajaan kita ini? Coba sebutkan itu!”


 


 


Odo hanya memasang senyum tipis, membuka telapak tangan kanannya ke depan dan berkata, “Sebelum itu, aku tanya terlebih dulu. Sejauh mana kau mempelajari keyakinan kerajaan ini? Sudah berapa kitab yang sudah kau pahami?”


 


 


Arca terdiam, mulai muncul rasa ragu dalam benak dan menjawab, “Sejauh ini dari 27 kitab wajib, aku baru mempelajari delapan kitab pembuka, Furfuran.”


 


 


“Aku sudah mempelajari semuanya, terdiri dari 17 kitab Furfuran dan 10 kitab Xiritaanka.” Pemuda itu memasang wajah penuh rasa peraya diri, memasang senyum bangga dan berkata, “Meski telah mempelajari semua itu, aku tetap memiliki pendirian sendiri dan tidak ada niatan mengubahnya.”


 


 


Arca melangkah mundur, sekilas menatap ke arah Mavis dan ingin Saint tersebut juga membujuk putranya. Namun, Mavis hanya menggelengkan kepala dan tidak mengatakan apa-apa.


 


 


“Me-Memangnya apa yang kau yakini?” tanya Arca gemetar.


 


 


Odo berhenti membuka telapak tangannya. Menarik napas dalam-dalam, dengan sedikit enggan ia menjawab, “Kalau itu, aku tidak bisa mengatakannya. Jika aku memberitahumu sekarang, kau pasti akan menyebutku sesat.”


 


 


Dengan bingung Arca bertanya, “Lalu kenapa kau bisa seyakin itu dengan kepercayaanmu?”


 


 


Sejenak Odo terdiam, menyusun kalian yang sesuai untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sebagai seorang Ibu, Mavis juga mulai penasaran tentang apa yang membuat putranya bisa memiliki cara pandang tersendiri pada sebuah kepercayaan.


 


 


Odo menarik napas dalam-dalam, lalu dengan penuh percaya diri berkata, “Karena ini milikku sendiri, apa yang hanya aku miliki. Kalau kau mencintai sesuatu, apa kau akan rela membaginya dengan orang lain? Tentu tidak! Aku juga tidak bisa memaksamu mencintai apa yang diriku cintai. Karena itu, pahamilah dulu secara penuh apa yang engkau percayai itu. Lalu jika kau meragukannya, tanyalah padaku. Selama kita masih hidup, jangan pernah berhenti berpikir, Arca. Meragukan dan mencemaskan itu merupakan ciri manusia, jika tidak melakukannya dan mencari tahu kebenaran, kita hanyalah seorang pemalas.”


 


 


Arca terdiam sampai pikirannya, jiwanya terasa sangat kosong mendengar hal tersebut sampai-sampai mematung di tempat. Di tengah lamunannya, Nanra berjalan mendekat dan bertanya, “Kamu lahir di hari yang sama dengan pembaptisan, Odo?”


 


 


“Hmm?” Odo menoleh ke arah gadis rambut putih keperakan tersebut, lalu sembari sedikit memalingkan pandangan menjawab, “Iya, akhir bulan ini adalah ulang tahunku.”


 


 


“Apa kau tidak merayakannya?” Nanra sedikit antusias pada hal tersebut, lalu dengan penasaran kembali bertanya, “Biasanya para bangsawan merayakan hari kelahiran mereka, ‘kan?”


 


 


“Aku tak terlalu suka.” Odo menatap datar gadis itu, mengacungkan jari ke depan dan menjelaskan, “Lagi pula, saat rakyat masih kekurangan, pemimpin tak bisa malah menghabiskan dana untuk pesta-pesta, ‘kan? Kalau Syukuran mungkin aku akan melakukannya kali ini.”


 


 


“Syukuran? Apa lagi itu?” tanya Mavis penasaran.


 


 


Odo menoleh ke arah ibunya, lalu sembari tersenyum lepas berkata, “Ungkapan rasa syukur dengan berbagi makanan atau bingkisan kepada orang-orang. Hampir sama dengan pesta ulang tahun, namun bukan terbatas untuk kalangan atas saja.”


 


 


“Apa kamu ingin mengadakan acara seperti itu, putraku?”


 


 


“Hmm ....” Odo sejenak terdiam, meletakkan tangan ke depan dagu dan memikirkannya sebagai agenda tambahan nanti. Memutuskan sesuatu, ia segera menjawab, “Mungkin setelah aku dapat uang banyak dan berhasil mengatasi masalah sosial ekonomi di kota ini sampai batas tertentu. Acara seperti itu tidak terbatas waktu, jadi kapan saja bisa dilakukan setelah pencapaian berhasil.”


 


 


Mavis menjalin jarinya, sedikit menunduk dan berkata, “Bunda berdoa semoga saja engkau cepat mencapainya.”


 


 


“Hmm, tentu!” ujar Odo seraya berbalik menghadap ibunya tersebut.


 


 


“Kalau begitu ....” Mavis berhenti menjalin jari, meletakkan tangan kanannya ke atas kepala Odo dan berkata, “Bunda pulang dulu, ya.”


 


 


“Eh? Kenapa?” Sekilas Odo bingung.


 


 


“Sebenarnya Bunda ingin mengawasimu di sini, namun di kediaman juga masih banyak yang perlu di urus. Akhir bulan ini juga ada kedatangan keluarga kerajaan, jadi Bunda harus menyiapkan beberapa hal. Fiola juga sudah pulang dulu tadi malam setelah menjelaskan kesalahpahaman pada semua orang, ‘kan?”


 


 


“Ah, benar juga ....” Odo kembali mengingatnya, sedikit memalingkan pandangan dan berkata, “Soal pertunangan itu, ya ....”


 


 


“Itu pertunangan kamu,” ujar Mavis seraya menepuk kepala putranya.


 


 


Kening Odo mengerut, lalu dengan nada datar berkata, “Bunda tak perlu memperjelasnya ....”


 


 


Nanra yang mendengar itu sesaat terdiam, seakan ada sesuatu yang lepas dari benaknya. Tidak bisa memahami apa itu dan mengapa ada hal tersebut dalam benaknya, gadis tersebut hanya bisa terdiam mendengar pembicaraan ibu dan anak tersebut.


 


 


“Baik-baik di sini, ya ....” Mavis segera memeluk Odo dengan erat, lalu dalam suara sendu berkata, “Bunda mohon, jangan lakukan hal berbahaya lagi seperti kemarin malam. Sungguh, Bunda sangat minta tolong, Odo.”


 


 


“Tenang saja, aku tahu batasku sendiri.” Odo tidak balik memeluk, hanya terdiam hanya menjawab perkataan ibunya tersebut. Setelah Mavis melepaskan pelukannya, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Ngomong-omong, mau aku antar pulang? Salah satu pekerjaku bisa mengantar Bunda langsung ke rumah.”


 


 


“Tidak perlu ....” Mavis menggelengkan kepala, lalu dengan senyuman sedih berkata, “Lagi pula Imania dan Minda akan menjemput atau bahkan sekarang sudah berada di gerbang utama. Bunda sudah menyuruh Fiola ....”


 


 


Odo tetap merasa sedikit cemas. Ia menoleh kara putra keluarga Rein dan meminta, “Arca, bisa kau temani Bunda sampai gerbang? Sekalian satu arah, kau ada keperluan di penginapan Porzan, ‘kan?”


 


 


“Tentu, tak masalah,” ucap Arca.


 


 


“Kamu ini ....” Senyum Mavis terlihat semakin sedih, ia kembali mengelus kepala putranya sembari berkata, “Padahal sudah tahu rasa cemas itu tidak menyenangkan, tapi tidak bisa berhenti membuat Bunda cemas.”


 


 


“Maaf .... Tapi kalau ini selesai, aku pasti akan—!”


 


 


 


 


Setelah itu, sang Penyihir Cahaya pergi keluar berasma Arca dan kedua Butler pribadinya. Tak sampai dua menit kemudian, para pegawai Odo yang berada di lantai atas baru berani keluar dan turun ke bawah. Karena beberapa alasan, mereka semua terlihat sedikit takut dengan sosok Mavis Luke.


 


 


Lalu, sekitar sepuluh menit setelah itu, barulah Lisia memutuskan untuk kembali ke kediamannya untuk membersihkan tubuh dan kembali bekerja di kantor utama pada pukul 08.30 nanti.


 


 


Bagi semua orang yang baru turun dari lantai atas, mereka mendapat tugas untuk segera mempersiapkan toko dan akan memulai bisnis pada pukul 08.00, dengan kata lain mereka masih punya waktu sekitar 2 jam sebelum membuka toko. Memiliki tugas yang berbeda, Nanra naik ke lantai dua untuk bekerja bersama berkas-berkasnya.


 


 


««»»


 


 


Semua pegawai Ordoxi Nigrum memulai pekerjaan mereka sebelum toko dibuka pukul 08.00 nanti. Setiap perempuan mengenakan seragam mereka berupa gaun sederhana berwarna biru tua yang memiliki lipatan-lipatan, lalu dirangkap dengan celemek putih polos. Untuk para laki-laki, mereka mengenakan pakaian tunik abad pertengahan yang sederhana berwarna biru tua dengan sabuk kain melingkar dan untuk bawahan berupa celana panjang berwarna cokelat.


 


 


Setiap pegawai memiliki tugas masing-masing. Urusan dapur dipegang oleh Elulu dan Isla sebagai juru masak, mereka berdua mengeluarkan bahan-bahan beku dari lemari pendingin yang telah diolah, memanaskan minyak, menyiapkan batu es, menyiapkan jus apel dalam barel dan buah prem, lalu mengeluarkan nampan untuk meletakkan makanan beku yang siap untuk langsung dimasak.


 


 


Untuk bagian penerimaan pelanggan dan pelayanan dipegang oleh Ritta dan si kecil Sittara. Mereka berdua memiliki tugas sederhana layaknya pelayan restoran pada umumnya, namun tidak menerima pesanan karena itu dialihkan menjadi tugas bagian kasir. Sebelum melaksanakan tugas mereka nanti, Ritta dan Sittara terlihat sedang mengelap meja-meja dan menyapu lantai toko sebelum kegiatan bisnis dimulai.


 


 


Untuk bagian kasir, Mattari memegang bagian tersebut dan terlihat berdiri di balik meja counter dan masih sedang berusaha menghafal harga-harga menu yang dijual serta masih berlatih perkalian cepat dengan harga-harga tersebut. Ia membawa perkamen berisi catatan harga, lalu ada juga beberapa saran kalimat menyambut pelanggan yang diberikan Odo tertulis di sana.


 


 


Totto dan Odo berdiri pada di depan salah satu meja dekat pintu, meletakkan kedua tangan mereka ke meja tersebut dan mulai menarik napas dalam.


 


 


“Satu, dua, tiga!” Dalam hitungan yang diberikan Odo, mereka mengangkat meja dan membawanya keluar untuk dijadikan meja kios kecil sebagai media promosi toko. Itu diletakkan di depan toko, lalu di atasnya ditutupi kain celemek polos untuk meletakkan makanan yang akan dijual.


 


 


Tepat selesai Odo dan Totto membuat kios sekadarnya tersebut, Matius yang sebelumnya disuruh untuk membeli dua papan tulis dari distrik pengrajin datang membawa apa yang dibutuhkan. Itu merupakan papan tulis hitam dengan ukuran kecil, biasa digunakan oleh anak-anak kalangan mengengah ketika belajar menulis dan membaca.


 


 


“Tuan Nigrum, yang paling besar adanya ini.” Pria rambut pirang itu menunjukkan papan tulis, lalu kembali menjelaskan, “Memang ada yang lebih besar lagi, tapi itu katanya yang biasa digunakan di tempat mengajar dan butuh waktu untuk mengurus persyaratannya.”


 


 


Menerima salah satu papan tulis berukuran 65 x 85 sentimeter tersebut, Odo sekilas sedikit terkejut karena memang itu lebih berat dari yang dirinya duga. Berbeda dengan apa yang ia tahu ketika blackboard sudah dibuat menggunakan kayu, apa yang dipegangnya sekarang masih menggunakan batu tulis tipis yang dipasang dalam bingkai kayu sebagai media tulisnya.


 


 


“Tak masalah,” ucap Odo seraya meletakkan papan tersebut ke atas meja. Kembali menatap ke arah Matius, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Kapurnya?”


 


 


“Silakan, Tuan.”


 


 


Setelah menerima batu kapur tersebut, Odo segera membuat sebuah daftar menu sekaligus harga pada papan tulis tersebut. Dengan tulisan latin yang menarik dan hiasan gambar batu bata serta akar berbunga pada pinggiran, ia membuat itu menjadi daya tarik tersendiri dengan keunikannya. Mengambil papan tulis satunya dari Matius, Odo kembali menulis hal serupa dengan sangat mirip seperti sebelumnya.


 


 


Pada kedua papan tulis tersebut, keduanya terdapat menu makanan dan minuman yang akan disajikan antara lain :


 


 



Nugget {Spesial!}



         -Ayam    : 40 Rupl / porsi


         -Ikan       : 30 Rupl / porsi


         -Sapi       : 50 Rupl / porsi


 


 




Rolade          : 50 Rupl / porsi




Ayam fillet   : 40 Rupl / porsi




 


 


Menu Minuman Toko :




Jus apel        : 20 Rupl




Kopi susu kocok : 20 Rupl




 


 


Melihat ada menu yang bertambah dari ketentuan awal, Totto dan Matius merasa sedikit heran. Menatap ke arah majikannya, sang mantan bandit bertanya, “Kok rasanya bertambah banyak? Bukannya kita hanya akan menjual Nugget dan jus apel saja?”


 


 


Odo memasukkan kapur ke saku, lalu menoleh ke arah Matius dan menjawab, “Untuk promosi sekalian. Tadi aku mendapat informasi menarik dari Lisia, katanya orang-orang dari barak suka jalan-jalan ke sini sebelum jam kerja mereka mulai. Mereka suka kopi katanya.”


 


 


“Hmm?” Totto yang mendengar itu tambah bingung, dengan penasaran ia berkata, “Kita tidak punya kopi, loh ....”


 


 


“Kopi susu kocok. Tinggal beli bubuk kopi dan susu saja. Kalau tidak ada yang jual bubuk, beli saja bijih kopi yang siap pakai. Di dapur sudah ada alat menghalus biji kopi, ‘kan? Nanti aku urus,” ujar Odo.


 


 


Pemuda rambut hitam tersebut memberikan kedua papan tulis berisi daftar menu kepada Totto, lalu dengan jelas memberi perintah, “Letakkan yang satu supaya bisa dilihat orang yang lewat di depan kios, lalu yang satunya lagi digantung dekat meja counter supaya yang mau pesan bisa tahu harganya.”


 


 


“Siap, Tuan!” ucap Totto.


 


 


“Kenapa harus dua tempat? Gak sekalian di dalam?” tanya Matius.


 


 


“Sudah kubilang untuk promosi, untuk yang di depan ini nanti aku yang mengurus pesanannya. Sekarang kamu pergi cari kopi bubuk atau bijih kopi yang siap diolah dan juga susu sapi,” ucap Odo seraya merogoh sesuatu dari saku celananya. Mengeluarkan dua buah koin perak besar, ia kembali berkata, “Cukup 200 Rupl saja. Untuk susunya cukup satu botol sedang saja, sisinya untuk kopi.”


 


 


“Siap! Tuan Nigrum!” Setelah menerima uang dari Odo, pria rambut pirang itu segera berbalik dan pergi lagi untuk membeli pesanan majikannya.


 


 


Odo sekilas merasa hal tersebut tidak efektif untuk Matius bolak-balik seperti itu. Namun mempertimbangkan kembali berat papan tulis, ia merasa kalau hal tersebut memang sudah tepat.


 


 


Odo Luke menatap ke arah Pria Demi-human tipe garbil di dekatnya, lalu dengan nada tegas berkata, “Apa yang kau tunggu? Cepat kerjakan, aku akan pergi dulu sebentar ke Lokakarya Hulla di distrik pengrajin. Ada sesuatu yang harus aku ambil. Tolong selesaikan sebelum aku kembali! Lalu, kalau Matius sudah datang, katakan padanya letakkan kopinya di meja dapur!”


 


 


Seraya menyelesaikan perkataannya tersebut, Odo sudah berjalan pergi meninggalkan Totto. Melihat betapa cekatan dan pandai orang itu memerintah orang lain serta mengurus banyak hal sekaligus, sekilas Demi-human tersebut lupa kalau majikannya tersebut masihlah anak-anak yang usianya belum sampai 10 tahun. Bahkan bisa dikatakan lebih muda dari adik terkecilnya, Sittara.


 


 


“Beliau memang orang yang unik,” gumam Totto seraya mulai bergerak melaksanakan tugas yang dipercayakan padanya.


.


.


.


.