
ↈↈↈ
Mentari telah melewati puncak tertingginya dan perlahan turun ke ufuk barat. Meski sinarnya masih terang, awan yang mulai berkumpul membuat sore menjadi kelabu. Angin laut yang tertiup mengikuti langit gelap bersama hawa dingin, seakan menjadi pertanda dari sesuatu.
Semua alat transportasi para tamu telah terparkir rapi di halaman depan untuk keberangkatan. Para kuda dan Drake yang akan menarik kereta dan gerobak terlihat begitu bersemangat dan segar, siap untuk melakukan perjalanan jauh mereka.
Namun berbanding terbalik dengan mereka, orang-orang yang menaiki kereta serta gerobak malah tampak lelah. Terutama para konglomerat dan bangsawan yang memang tidak memiliki banyak stamina dan semalam begadang, bahkan setelah acara selesai.
Para pengawal kalangan atas tersebut ada yang duduk di kuris kusir, pada gerobak dan kuda yang terpisah dengan gerobak serta kereta. Telah siap melaju kapan saja ketika mendapat perintah. Para pengawal tersebut kebanyakan mengenakan baju halkah, rompi kulit dan beberapa saja yang memakai zirah.
Tidak jauh dari mereka yang telah bersiap, Mavis Luke berjalan menuju kereta milik Keluarga Kerajaan yang ditarik oleh seekor Drake. Sebagai Nyonya Rumah, secara formalitas ia harus mengantar perjalanan pulang mereka dengan hormat. Bersama kedua Kepala Pelayan, Fiola dan Julia, sang Marchioness menghampiri suaminya yang juga akan ikut bersama rombongan sebagai pengawal khusus mereka.
“Sayang, apa semua persiapannya sudah selesai?”
Dart yang sedang sibuk mengarahkan beberapa hal kepada para Prajurit Elite segera menoleh, menatap sedikit heran ke arah istrinya karena mengenakan pakaian yang tampak tipis dan sedikit terbuka. Gaun halter neck panjang sampai mata kaki berwarna biru tua, serta sepatu hak tinggi pada kedua kaki, itulah yang wanita rambut pirang tersebut kenakan.
“Hmm …, kami sudah siap berangkat. Kira-kira sekitar sepuluh menit lagi, kami hanya tinggal menunggu Yang Mulia dan Tuan Midir. Katanya mereka sedang berbicara sesuatu dengan Putra kita.”
Dart untuk sesaat menatap diam Mavis, merasa tak tenang membiarkan istrinya yang rapuh tersebut keluar ruangan dengan pakaian tipis seperti itu. Berjalan ke hadapannya, ia melepas syal yang dirinya kenakan dan memakaikan itu kepada Mavis.
Mavis sedikit terkejut dengan sikap perhatian tersebut, sembari menatap sedikit heran ia pun bertanya, “Tapi, bukannya nanti kedinginan? Kamu akan melakukan perjalanan malam di malam hari, ‘kan? Sekarang juga sepertinya akan turun hujan ….”
“Tak masalah, aku tidak akan mati hanya karena kehujanan. Lagi pula ….”
Dart ingin mengatakan kalau kondisi Mavis lebih menjadi prioritasnya. Namun itu tidak terucap, pria tua itu memalingkan pandangan dan terdiam. Meskipun Dart telah menjalin bahtera rumah tangga cukup lama dengan Mavis, rasa canggung untuk mengatakan hal semacam itu masih sering muncul dalam benaknya.
Mavis tersenyum kecil melihat reaksi suaminya yang masih seperti remaja saat di hadapannya. Memutar bola matanya ke samping dan sedikit memberi lirikan menggoda, Penyihir Cahaya pun berkata, “Memang sih, kamu tidak akan mati hanya karena dingin. Namun, tetap saja diriku juga tak ingin terlalu merepotkan kamu ….”
Mavis melepaskan syal yang telah dipasangkan pada lehernya, mulai melingkarnya kembali kepada Dart dan menyampaikan, “Jangan khawatir, di sini ada Fiola, Julia dan yang lainnya. Bahkan Odo, putra kita pun tumbuh menjadi anak yang bisa diandalkan dan kuat. Engkau sudah melihat kemampuannya langsung, bukan? Saat kamu tidak ada di sini, kami akan baik-baik saja ….”
“Itu benar, tapi ….”
Dart ingin memberitahu Mavis, bahkan kemungkinan besar dirinya baru bisa kembali lagi tahun depan atau lebih lama lagi. Setelah sampai di Ibukota, sebagai Pedang Kerajaan dan Jenderal Kerajaan Felixia ia harus mempersiapkan banyak hal dalam ranah militer demi persiapan menghadapi peperangan.
Melihat paras istrinya yang tampak bahagia, Dart tidak bisa menyampaikan kalau kepergiannya kali ini adalah untuk menyambut medan perang. Suara seakan tidak bisa keluar dari pria itu, membuatnya hanya membuka mulutnya tanpa bisa menyampaikan isi benaknya.
Mavis langsung merangkul Dart dan memeluknya dengan erat, penuh kehangatan dan dengan lembut berbisik, “Tak apa, Sayang ku. Diriku paham …. Tak perlu memasang wajah seperti itu. Ini … memang berat, baik untukku ataupun dirimu. Namun inilah kenyataan dari kehidupan kita. Diriku tak akan memaksa kamu berjanji. Namun …, ini adalah permohonan dariku, istrimu.”
Mavis berhenti memeluk, memegang kedua sisi pipi Dart dan dengan penuh harapan berkata, “Suamiku, dirimu bisa kembali kapan pun …. Kapan pun dirimu mau. Kami di sini akan menjaga rumah kita, sampai kamu pulang nanti.”
Dart meraih tangan kanan Mavis dengan lembut. Wajah tegang penuh kecemasan yang melekat pada pria tua itu perlahan luntur, berganti dengan rasa lega. Sembari memejamkan mata dan merasakan kehangatan tangan istrinya, pria tua tersebut berkata, “Terima kasih, Mavis. Aku sangat senang kau selalu ada untukku. Aku … sangat bersyukur bisa mendapatkan mu di sisiku.”
Pada tempat yang tidak terlalu jauh dari mereka berdua, tepatnya sebelum menuruni anak tangga dari teras depan Mansion, langkah kaki Raja Gaiel terhenti. Di sisi kanannya berdiri sang Archduke, sedangkan di sebelah kanan adalah Odo Luke.
Melihat pemandangan suami istri yang masih begitu mesra meski umur tidak muda lagi, ketiga orang tersebut merasa tidak bisa langsung menghampiri dan merusak suasana yang ada di antara mereka berdua.
Raja Gaiel melirik ke arah Odo, lalu dengan sedikit senyum tipis berkata, “Rasanya menyenangkan melihat sahabatku bisa mendapatkan keluarga yang sangat bahagia. Diriku rasa mereka bisa terus mesra seperti itu berkat engkau, putra semata wayang mereka.”
Odo sama sekali tidak balik melirik Raja, hanya menatap ke arah kedua orang tuanya dengan sorot mata datar. Sejenak bernapas dengan berat, pemuda itu pun menjawab, “Mereka selalu melakukan itu setiap Ayah akan pergi loh …. Rasanya, ya …. Cukup melegakan hubungan mereka terus erat seperti itu.”
Ucapan tersebut disampaikan bukan dengan nada bahagia, terasa sebuah kegelisahan di dalamnya. Raja Gaiel sempat heran dan dalam benak bertanya-tanya mengapa Odo tidak tampak bahagia melihat kedekatan kedua orang tuanya. Ingin menanyakan hal tersebut, Raja paham ada beberapa hal yang tidak boleh dirinya campuri. Salah satunya adalah masalah keluarga Dart.
Raja Gaiel sedikit memasang wajah muram, merasa dirinya tidak pantas berkomentar. “Yah, pada dasarnya aku gagal membuatnya bahagia. Meski aku berhasil menepati janji, Dahlia sama sekali tidak pernah bisa bebas sampai akhir hayatnya,” gumam sang Penguasa tua tersebut.
Baik Odo maupun Archduke Midir, keduanya dengan jelas mendengar lanturan isi hati sang Raja. Midir tidak berani memberikan komentar atau saran kepada saudara jauhnya. Namun berbeda dengan Odo, pemuda itu menoleh ke arah Raja dan menatapnya dengan tajam.
“Kalau Yang Mulia menyesal, kenapa tidak sekali saja mencobanya kali ini …. Membebaskan putri yang lahir dari wanita yang Anda cintai dari takdirnya.”
Raja Gaiel tersenyum tipis mendengar hal tersebut, merasa sedikit terhibur mendapat perkataan itu dari pemuda di sebelahnya yang masih naif. Menoleh ke arah Odo, ia dengan sedikit senyum sedih berkata, “Berarti … apa diriku perlu mencoba untuk mengakhiri sejarah Kerajaan ini? Hal itu sama sekali tidak lucu, engkau seharusnya tahu.”
“Huh!” Odo memalingkan pandangan dan tampak kesal, lalu dengan nada kasar menyindir, “Cara pandang Yang Mulia juga terlalu sempit. Kenapa orang-orang seperti kalian selalu saja mempersulit diri sendiri ….”
“Engkau saja yang memiliki pandangan terlalu luas, Odo Luke.”
Raja Gaiel menatap ke arah awan mendung yang perlahan-lahan berkumpul di langit, lalu seakan baru saja mengingat sesuatu ia memasang mimik wajah begitu kehilangan. Odo tahu apa yang baru saja pria tua itu pikiran, merasa tanggung jawab tersebut mungkin akan jatuh kepada dirinya jika tidak mengambil langkah yang tepat di masa depan.
“Bicara soal cara pandang, tak aku sangka Yang Mulia memiliki cara pandang yang agak mirip denganku soal para bangsawan dari Wilayah Luke itu.”
Mendengar apa yang Odo katakan, Raja tidak bisa terlena dalam perasaannya dan mimik wajahnya lekas kembali terlihat serius. Begitu pula Midir Martanka, ia menoleh dengan sedikit cemas Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut telah menyadari sesuatu.
“Apa yang engkau maksud, Odo Luke?” tanya sang Raja.
Odo memalingkan pandangan, kembali melihat ke arah Dart dan Mavis yang didatangi Putri Arteria dan Pangeran Ryan. Mereka tampak membicarakan sesuatu, membuat pemuda rambut hitam tersebut tersenyum kecil.
Senyum yang ada pada wajah Odo perlahan berubah menjadi seringai tipis, lalu dengan tanpa ragu menyampaikan, “Lain kali, jika Anda ingin melakukan sandiwara sebaiknya pilih orang yang bisa melakukannya dengan baik. Jangan mengajak orang yang hanya bisa mengikuti naskah yang sudah tertulis.”
Odo mengambil satu langkah menuruni anak tangga teras. Lalu sembari menoleh ke arah sang Archduke, ia pun dengan nada menekan berkata, “Benar begitu, Tuan Midir?”
Midir langsung memucat, benar-benar menunjukkan kalau memang dirinya telah mengikuti sandiwara seperti yang dikatakan. Raja Gaiel paham kalau saudara jauhnya tersebut tidak pandai berbohong. Namun melihat Odo membongkar sandiwara dengan mudahnya, Raja merasa pemuda tersebut memang memiliki pola pikir yang sedikit menyimpang.
“Kapan engkau menyadarinya?”
“Dari awal ….” Odo turun dari teras, berbalik ke arah sang Raja dan berdiri menghadap ke arahnya. Sembari meletakkan telunjuknya ke tengah kening, pemuda rambut hitam itu menyampaikan, “Tetapi, aku bisa memastikannya saat Tuan Midir ikut maju dan menolak pemberian gelar. Jujur itu sangat tak wajar sekali untuknya melakukan hal tersebut.” Odo kembali menurunkan tangannya, sekilas melirik ke arah Midir untuk menekan pria tua tersebut.
“Diriku sependapat ….” Raja Gaiel tidak berdalih, merasa percuma melakukan hal tersebut ketika Odo sudah mengetahuinya sekarang.
Midir sedikit tersentak saat Raja mengakuinya dengan mudah. Menghela napas kecil dan kembali menatap ke arah Odo, pria tua tersebut beralasan, “Mau bagaimana lagi, diriku tak pandai melakukan hal semacam itu …. Lagi pula, tidak diriku sangka Yang Mulia bisa salah perhitungan dan ada bangsawan yang langsung protes.”
Odo menatap lurus ke arah Raja Gaiel, menunggu sang Penguasa tersebut menyampaikan sesuatu setelah sandiwara kecilnya terbongkar. Dalam rencana Raja Gaiel yang sebenarnya, pria tua tersebut ingin memicu penolakan oleh para bangsawan menggunakan pemberian gelar Viscount kepada Odo.
Sejak awal acara, Raja tidak memberitahukan dengan jelas kalau gelar tersebut arah kekuasaan bersumber dari Rein. Itu membuat para bangsawan Luke panik dan takut kekayaan mereka akan diambil untuk bangsawan baru.
Dengan adanya penolakan yang jelas, Raja Gaiel bisa dengan mudah menggeneralisasi para bangsawan yang ada di Kerajaan Felixia, antara yang masih benar-benar loyal dan hanya menggerogoti kekayaan negeri. Mirip dengan niat Odo untuk memisahkan bangsawan yang memusuhi dirinya dan yang tidak.
“Anda ingin menyiapkan Felixia untuk peperangan, bukan? Tidak lucu kalau kalian akan diserang dari belakang saat kondisi garis depan tidak menguntungkan,” ungkit Odo untuk mendorong Raja berbicara.
Raja Gaiel menyeringai tipis seraya berkata, “Diriku lega engkau cepat memahami maksudnya. Itu memang benar, tak lucu nanti saat kami berperang di garis depan tiba-tiba ada pemberontakan atau semacamnya.”
“Yah, itu memang menyeramkan. Seperti kondisi Kekaisaran sekarang ini. Sedang ada perang saudara, eh malah harus berseteru dengan Moloia. Dihimpit dari depan dan belakang.” Odo kembali tersenyum tipis, lalu menunjuk Raja dan berkata, “Kira-kira, kalau ditambah satu lagi bagaimana nasib mereka? Apa sejarah ribuan tahun Kekaisaran akan berakhir?”
Odo menanyakan hal tersebut dengan maksud mencari tahu sasaran Raja Gaiel nanti, apakah hanya meningkatkan pertahanan atau menggempur negeri lain untuk mendapat menjauhkan garis depan peperangan dari Ibukota.
Jawaban tersebut sudah cukup untuk Odo, membuatnya paham alur peperangan yang nanti akan diambil Felixia nantinya. Menurunkan tangannya dan berhenti menunjuk, sejenak Odo terdiam dan berpikir.
Dalam strategi umum, mengamankan zona dan medan adalah komponen penting setelah sumber daya. Daripada menggunakan daerah sendiri sebagai medang peperangan, lebih menguntungkan melakukannya di daerah musuh.
Dengan begitu, pasukan Felixia tidak perlu memikirkan untuk melindungi warga sipil ataupun kondisi lingkungan. Sihir perusak dalam jangkauan luas, mengeringkan sumber daya, atau bahkan membakar lumbung padi para petani musuh bisa mereka lakukan dengan leluasa.
Kerugian dari berperang di wilayah musuh hanyalah soal pemahaman geografis, iklim, serta kemungkinan perang berkembang ke arah gerilya. Namun karena wilayah Kekaisaran tidaklah asing seperti dulu dan sekarang banyak prajurit serta pedagang yang biasa keluar masuk dengan bebas, kemungkinan gerilya yang merugikan bisa dikurangi. Hal tersebut berkat adanya Perjanjian Keempat Negeri yang masih berlaku sampai saat ini.
“Jujur aku sedikit heran.” Odo sedikit memalingkan pandangannya, lalu dengan nada sedikit angkuh kembali bertanya, “Meski Yang Mulia seharusnya sudah membulatkan keputusan tersebut, namun mengapa Anda malah meletakkan ku jauh dari Luke? Bukannya Yang Mulia seharusnya tetap menaruh ku di Wilayah ini untuk menyelesaikan dan menghapus konflik internal sebelum muncul?”
Raja Gaiel tersenyum lebar mendengar itu. Sembari menuruni anak tangga, ia mulai tertawa kecil dan berkata, “Mana mungkin diriku menyerahkan hal vital seperti itu kepada engkau. Meski pun Tuan Thomas menyebut engkau genius dalam hal semacam itu, diriku lebih percaya kepadanya.”
Perkataan tersebut juga memberitahu Odo tentang siapa yang akan membereskan para bangsawan korup di Wilayah Luke. Saat Raja melangkahkan kaki di sebelah Odo dan memegang pundaknya, pemuda rambut hitam tersebut hanya bisa memasang senyum kecut.
Odo perlahan menoleh, lalu dengan tatapan kedua alis terangkat berkata, “Anda terlalu kasar mempekerjakan Paman Thomas, aku merasa kasihan pada keluarganya. Dia bahkan tidak sempat mendidik putra dan putrinya loh.”
“Diriku tidak bisa berkomentar kalau engkau membawa-bawa keluarga,” ucap Raja Gaiel sembari menurunkan tangan dari pundak kanan Odo. Menghadap ke arahnya, pria tua tersebut menyampaikan, “Engkau tahu, Odo …. Diriku juga merasa tak enak terlalu mengandalkan. Sayang sekali, hanya dialah orang yang benar-benar loyal dan mampu melakukan tugas tersebut di Kerajaan Felixia. Paling tidak, itulah yang diriku rasa saat ini.”
Odo sedikit paham apa yang Raja rasakan. Saat bersama dengan Arca, untuk beberapa waktu Odo juga merasa serupa. Orang-orang dari Keluarga Rein memang memiliki kecenderungan yang sama, loyal kepada pemimpin dan orang yang mereka hormati.
Meletakkan tangan ke dagu dan sedikit memalingkan wajahnya ke samping, pemuda rambut hitam tersebut bergumam, “Yah, bukan berarti jarak menjadi masalah bagiku saat berada di Kota Pien’ta nanti.”
“Jarak bukan masalah?” tanya Raja Gaiel setelah mendengar gumam tersebut.
Odo kembali menatap ke arah lawan bicaranya, memasang senyum tipis seakan memang sengaja bergumam seperti itu di hadapannya. Tanpa menjawab pertanyaan Raja Gaiel, Odo tersenyum kecil dan berkata, “Coba Yang Mulia tebak, kira-kira apa maksudnya. Tolong anggap saja teka-teki kecil ini sebagai hadiah untukku karena berhasil membongkar sandiwara Anda.”
“Hmm, apa ada kaitannya dengan sihir? Semacam sihir terbang atau semacamnya?”
“Entahlah …, Yang Mulia akan aku beritahu jawabannya kalau kita bertemu lagi nanti.”
Odo memalingkan pandangannya dengan puas, lalu berjalan menuju kedua orang tuanya yang sedang berbincang-bincang dengan Putri Arteria dan Pangeran Ryan. Raja hanya bisa menghela napas kecil, merasa sedikit dipermainkan. Namun, ia tidak merasa buruk atau direndahkan.
Menyusul Odo dan berjalan di sebelahnya, Raja Gaiel dengan penuh rasa lega menyampaikan, “Aku berterima kasih padamu. Tak diriku sangka ada orang yang bisa mengingatkan ku dengan gairah memimpin, rasanya seperti kembali ke masa-masa itu. Berjuang meraih kejayaan dan bisa bertarung dengan bangga.”
“Hmm, syukurlah kalau begitu.”
Meski Odo memahami apa yang dikatakan Rajanya, namun ia tidak bisa satu perasaan atau bahkan berbagi empati. Di mata pemuda rambut hitam tersebut, peperangan yang akan menghantam Daratan Michigan hanyalah sebuah lelucon yang merugikan. Begitu konyol dan tidak berguna sama sekali.
Sekilas memasang mimik wajah Odo berubah muram yang bercampur dengan amarah. Itu adalah kebencian, lalu dalam benak Odo berkata, “Ketidaktahuan memang hal mengerikan. Mereka berperang satu sama lain dan berbicara soal kehormatan serta kebanggaan karena tidak tahu arti dari teror yang sesungguhnya. Jika Dewi itu melihat hal seperti ini, pasti dia akan tertawa terbahak dan langsung meratakan segalanya.”
“Layaknya saat dia meratakan semua kerja keras dan dedikasi ku dulu,” gumam pemuda itu dengan suara sangat pelan. Namun beberapa detik kemudian, Odo sekilas tampak terdiam bengong dan merasa sedikit heran mengapa bisa sampai berpikir seperti itu.
Tidak terlalu memikirkannya lebih dalam, pemuda itu melanjutkan langkah kakinya dan menghampiri kedua orang tuanya. Ia masuk ke dalam percakapan, mulai berbincang-bincang mereka dan juga dengan Putri Arteria serta Pangeran Ryan.
Perpisahan memang terasa sedikit menyedihkan, beberapa orang yang telah bertemu dan bersama selama beberapa hari terakhir merasakan hal tersebut. Namun, mereka tetap tersenyum dan saling mengucapkan salam perpisahan dengan senyuman. Tak ingin menutup waktu kebersamaan dengan tangis.
Inilah awal dari sebuah tanggung jawab baru yang Odo emban, menjadi seorang bangsawan dan harus bersikap layaknya kalangan atas. Meski hal tersebut bukanlah sesuatu yang dirinya harapan, namun gelar kebangsawanan adalah hal yang dirinya perlukan.
Odo memang membenci hal semacam itu, sebuah hierarki yang begitu jelas dan membuat strata yang ketat. Tetapi dalam benak ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa memang hal tersebut tidak bisa lepas dari hidupnya sekarang.
Karena dirinya lahir di kalangan bangsawan.
Karena dirinya lahir di sebuah kerajaan.
Karena dirinya hidup di masyarakat tersebut.
Di mana bumi dipijak, di situ langit harus dijinjing.
Jika ingin mengubah sebuah tatanan yang ada, Odo rasa dirinya harus mengikuti hal tersebut terlebih dulu. Memahami, mendalami, lalu saat dirinya merasa tak cocok barulah harus diubah secara bertahap.
Ia ingin mencoba dengan pendekatan yang berbeda, bukan secara paksa seperti layaknya dulu ia menghancurkan apa yang dirinya tidak perlukan.
\====================
Catatan :
Akhirnya sampai juga pada CH terakhir dari Arc 02 ini!!
Next adalah Epilog, lalu tentunya akan dilanjutkan dengan Prolog!
Singkat kata, terima kasih telah membaca cerita ini sampai akhir chapter Arc 02!
Silahkan dukung terus dengan vote, share dan komentar kalian.
Btw, masih banyak kan misteri di cerita ini? Seperti masa lalu Odo dan semacamnya.
Aku kasih sedikit bocoran, masa lalu Odo itu sebenarnya dijelaskan pada bagian-bagian seperti mimpi di dalam cerita seri ini. Lalu, yang paling besar ada di setiap prolog dan epilog.
Sebenarnya aku ingin buat seri khusus bahas Dunia Sebelumnya dan alasan mengapa bisa terjadi Kiamat. Tapi, yah …. Rasanya kurang mengejutkan nantinya. Jadi dibahas saja pada cerita utama sedikit demi sedikit.
Biarkan para pembaca berimajinasi.
See You Next Time!!
Untuk Arc 03 atau Re/Start ; If Fase II nanti, kemungkinan besar Author akan ambil kontrak dan eksklusif hanya di Noveltoon. Jadi, tolong bantu dengan vote dan komentar kalian.
Supaya bisa diterima pengajuannya dan lancar mengudara!
\=================
Dukung terus cerita ini dengan vote, komen, dan share kalian.
Tapi!
Dilarang promo di cerita ini!