
Angin sepoi-sepoi menerpa, suara rerumputan dan ilalang yang saling bergesekan terdengar. Kedamaian yang mengisi benak, sejuk yang terasa membawa kehidupan. Perlahan membuka mata, pemuda rambut hitam itu melihat atap dedaunan rimbun dari sebuah pohon raksasa. Hijaunya begitu dalam, batang cokelatnya begitu kuat dan ranting-rantingnya seakan melambangkan berbagai macam jalan hidup.
Dengan cepat Odo sadar telah masuk ke dalam Alam Jiwanya sendiri, merasa aneh dalam benak dan segera duduk. Dari tempatnya berada sampai ujung cakrawala terlihat hamparan rerumputan, sebuah danau dan sungai, serta beberapa bebatuan besar berlumut yang tersebar tak merata. Pemandangan itu terasa sedikit berbeda dari yang dirinya tahu, terasa asing sampai membuatnya pangling untuk sesaat.
Meski di tempat itu tidak memiliki matahari, namun langit begitu terang dan awan putih bergerak dengan bebas. Mungkin satu-satunya yang tidak berubah sejak terakhir kali dirinya datang ke Alam Jiwanya sendiri hanyalah pohon besar di belakang, itu tidak bertambah besar atau tinggi lagi, namun akarnya semakin menjalar jauh dari tempatnya berdiri kokoh.
Melihat semua apa yang ada di tempat tersebut, pemuda itu berdiri dan merasa, “Ah, memang inilah diriku. Tak salah lagi ..., ini yang aku harapkan.”
Pemuda itu tersenyum kecil, mendongak lurus ke atas dan membiarkan wajahnya terpapar cahaya yang terpotong-potong dedaunan. Namun, ia datang ke tempat tersebut bukan untuk menikmati dunia yang terasa amat damai tersebut, melainkan menyelesaikan salah satu masalah yang ditundanya.
Sajak menerima ingatan serta kekuatan dari Raja Iblis Kuno, Odrania Dies Orion, pemuda itu telah paham bahwa hal tersebut akan menimbulkan konflik dengan Naga Agung yang bersemayam dalam tubuhnya. Odo sendiri menunda masalah ini selama yang ia bisa, namun aktifnya unsur lain dalam tubuh membuat hal itu tak terelakan lagi.
“Haah ....” Sembari menyipitkan sorot mata dan memasang wajah muram, pemuda itu bergumam, “Sepertinya dia memang telah menyadarinya. Apa karena aku menggunakan Manifestasi Malaikat dan pembatas ingatan itu menjadi lemah?”
Sejenak memejamkan mata, ia kembali merasakan hembusan angin yang perlahan-lahan terasa berbeda. Pemuda itu menatap ke depan. melihat sang Gadis Naga yang menunggunya di alam tersebut.
Di atas rerumputan berdiri seorang gadis berkulit pucat, rambut perak terangnya berkibar tertiup angin, sorot mata birunya menatap tajam dan ekspresinya terlihat datar penuh kekosongan. Namun, apa yang dipancarkan gadis itu dipenuhi kebencian yang begitu kuat. Ekor kurus dengan ujung berbentuk tombaknya berputar-putar spiral di belakang, sepasang tanduk pada kepalanya seakan bersinar biru terang terkena paparan sinar.
Ia tidak mengenakan gaun putih sederhana seperti saat terakhir kali bertemu dengan Odo, melainkan gaun tanpa pundak dengan lengan terpisah yang memimiki beberapa ornamen, pada bagian depan terbuka dan di belakang memanjang seperti jubah. Sepatu bot panjang sampai paha menghiasi kakinya, dengan ujung runcing dan terdapat susunan sihir di permukaannya.
Tak ada yang saling menyapa meski mereka saling menatap satu sama lain, hembusan angin yang terasa hangat entah mengapa mulai membawa kesedihan dalam benak Odo. Ia tahu harus melakukannya, segera mengangkat wajah dan berkata, “Lama tak bertemu, Seliari.”
“Hmm, jika dalam persepsi yang dirimu miliki, waktu dua bulan lebih memang waktu yang lama.” Putri Sulung Dewa Naga itu tidak mengubah ekspresinya, tetap menatap datar dan berdiri di tempat. Ia mulai melangkah ke arah Odo, lalu perlahan menampakkan ekspresi murka yang amat kelam dan berkata, “Wahai Inkarnasi Raja Iblis Kuno .... Wahai musuhku!!”
Struktur sihir pada sepatu Seliari langsung aktif, membuat tekanan udara pada bidang pijak dan membuatnya melesat kencang ke arah Odo. Udara mulai berkumpul di sekitar tangan kanannya yang mengepal, mulai menciptakan gesekan dan kobaran api biru seketika membara. Dengan segenap tenaganya, Putri Naga itu melayangkan tinju ke wajah Odo.
Pemuda rambut hitam itu memasang kuda-kuda dengan melebarkan kaki kanannya ke belakang, menahan serangan tersebut dan mengalirkan dampak kinetiknya ke tanah. Saat kobaran api yang menyelimuti tangan Seliari menghilang, sebuah proses kristalisasi terjadi dan Gauntlet kristal biru terang tercipta pada tangan kanannya.
“Dari awal dirimu hanya memanfaatkanku! Bodohnya aku sempat percaya pada orang sepertimu!!”
Seliari menyelimuti tangan kiri dengan api biru, lalu menciptakan Gauntlet lainnya dan langsung mendaratkan pukulan ke arah wajah Odo. Pemuda itu sedikit mengubah posisi kaki kanannya, melepaskan tangan kanan Putri Naga itu dan menghindari pukulan tangan kiri yang melayang kencang.
Meloncat ke samping dan melangkah mundur, Odo tidak menyerang balik dan hanya menjaga jarak. Sekilas ia memasang ekspresi sedih, tanpa berkata apa-apa atau memberikan penjelasan. Tangan kanan pemuda itu mendapat luka bakar saat menahan pukulan Seliari, tanda bahwa walau dalam wujud jiwa ia bisa binasa di tangan Putri Sulung Dewa Naga.
Seliari menatap murka, lalu dengan lantang berkata, “Dirimu tahu Kutukan Kegilaan diberikan oleh Raja Iblis Kuno itu pada kami, ‘kan? Karena kutukan sialan itu! Diriku dan kedua saudariku sampai membantai Ras Naga Agung! Bahkan Ayahanda dan Ibunda ....”
Api biru menyala terang di tempat Seliari berdiri, membakar rerumputan dan menguapkan kadar air semua tumbuhan dalam radius belasan meter. Angin dari perubahan suhu menerpa tubuh Odo, namun pemuda itu tetap sama sekali tidak gentar dan hanya menatap penuh rasa sedih.
“Apa tidak ada jalan damai, Seliari?” Odo memperlihatkan ekspresi tak rela. Meski dirinya paham perkataan tidak akan menurunkan amarah sang Putri Naga, ia tetap berkata, “Aku tak ingin bertarung melawanmu ....”
“Tak ingin?”
Api di sekitar gadis naga itu semakin membara, membentuk kepala naga besar dengan sepasang mata merah yang menyala. Seketika langit berubah redup, awan yang tadinya berwarna putih cerah seketika menjadi kelabu. Mengumpulkan semua api masuk ke dalam raganya, sang Naga Agung itu membentuk sebuah tombak Helberd sepanjang dua meter. Ujungnya diselimuti kobaran api biru, gagangnya terbuat dari kristal yang dengan mudah dialiri Mana sang pengguna.
Seliari memutar tombaknya dengan dua tangan, lalu langsung berlari ke depan sembari mengayunkannya ke arah Odo dan berteriak, “Kalau begitu, matilah di tanganku!! Dasar Iblis!!”
Pemuda rambut hitam itu menggunakan dinding udara tak kasatmata secara terpusat pada lengan kanannya, lalu menahan tombak tersebut. Hembusan angin kuat tercipta saat benturan terjadi, api yang menyelimuti tombak Helberd tersebar dan membakar rerumputan serta pohon besar di dekat mereka.
“Sangat konyol aku percaya pada iblis sepertimu! Matilah di sini!! Binasalah dan tebus semua dosamu dengan kematian!!”
Kobaran api yang tersebar berkerak mengikuti kehendak Seliari, mulai menyelimuti tubuh kecil gadis itu dan bersatu dengan api yang lebih besar dari raganya. Ia mengangkat tombaknya, lalu mengayunkannya secara vertikal ke arah pemuda di hadapannya.
Odo kembali menahan serangan itu dengan perisai tak kasatmata dari pemadatan udara, hembusan tercipta dan api kembali terpencar karena kadar oksigen yang disebarkan perisai. Setiap kali Seliari mengayunkan tombaknya dan menyerang, api yang menyelimuti senjatanya semakin mengecil karena oksigen di sekitarnya benar-benar dipencarkan perisai udara milik Odo.
Itu ditangkis dengan akurat dan api terpencar kuat ke penjuru arah. Namun daya hentak begitu kuat, membuat tubuh Odo terpental ke belakang dan perisai udara pada lengannya mulai terpencar dan menghilang. Tanpa membiarkan pemuda itu menciptakan kembali perisainya, Seliari kembali mengayunkan tombak dan menebas tubuhnya.
Odo mendapat luka Vertikal dari pundak kiri ke bawah, darah mengalir keluar dan menetes di atas rerumputan yang mengering. Melangkah ke belakang dengan gemetar, pada saat itulah ia sadar regenerasi tidak bisa digunakan dan bisa mati jika terus menerus menerima serangan seperti itu. Meski memahami hal tersebut sepenuhnya, pemuda rambut hitam itu sama sekali tidak menunjukkan niat bertarung.
Bagi Odo, sosok gadis di hadapannya adalah rekan yang sangat berharga. Meski bertemu dengan cara yang buruk dan sering kali bertingkah seenaknya, ia merasa ikatan kuat dengan gadis itu. Mengangkat wajah dan menahan rasa sakit dari luka yang terus mencucurkan darah, pemuda itu terdiam dan mulai tersenyum kecil. Odo mengerti hal seperti ini pasti akan terjadi sejak menerima ingatan dari Raja Iblis Kuno, sosok yang menjadi musuh terbesar dari Naga Agung di hadapannya.
Seliari menodongkan tombaknya ke depan, lalu dengan murka berkata, “Lawan aku! Engkau tahu diriku ini bisa membunuhmu di dalam Alam Jiwa ini, ‘kan?! Membunuhmu begitu saja tidak akan membuatku puas! Dendam ini! Amarah ini! Murka yang menggerogoti raga ini dari dalam!! Akan kubuat kau menderita sebelum binasa!!”
Struktur sihir pada tubuh Seliari berubah drastis, tekanan dan atmosfer yang memancar dari raganya mengalami perubahan yang sangat pesat. Rambut peraknya yang terurai mulai terikat kuncir dua dengan sendirinya, tiara mulai tercipta dari kristal di kepalanya. Cincin cahaya muncul pada kedua kuncir gadis itu, membuat kakinya mulai melayang di udara dan pancaran sihir semakin menguat.
Alam Jiwa yang seharusnya menjadi milik Odo mulai diambil alih, aura yang menyebar mulai menghapus bentuk yang ada. Tanah mulai terbelah, batang pohon raksasa mulai retak dan dedaunan hijau mulai berguguran. Awan mendung di langit mulai bergemuruh, petir menyambar-nyambar dan pada akhirnya —
Waktu menjadi seakan terhenti. Dipenuhi warna biru gelap untuk sesaat dan segalanya terdiam.
Dedaunan, rumput, awan, air, semuanya terhenti seakan memang konsep waktu telah hilang. Namun saat Seliari berpijak kembali pada permukaan dan melangkah ke arah Odo, seketika semuanya terhapus dan Alam Jiwa yang ada berubah menjadi tempat yang benar-benar berbeda.
Sebuah lantai kotak-kotak hitam putih seperti papan catur terlihat sepanjang mata memandang, belasan menara tinggi berdiri tegak mengisi tempat tersebut. Langit dipenuhi oleh puing-puing bangunan-bangunan, gunung, lembah dan sebuah istana yang porak-poranda. Semua apa yang nampak itu seakan mencerminkan sebuah negeri yang telah hancur, luluh lantak dan amat kacau.
Seliari menyiapkan tombak dengan tangan kanan, menyelimutinya dengan api membara dan terus melangkahkan kaki. Sebelum Odo sadar bahwa tempat telah berubah, tombak menghujam dalam dadanya sampai tembus ke punggung. Pemuda itu muntah darah, dengan ekspresi bingung menatap gadis di hadapannya.
Kornea matanya berubah menghijau, dengan cepat menganalisa situasi yang ada dan berkata, “Begitu, ya .... Kau menindih Alam Jiwaku dengan milikmu, jeda yang ada itu terjadi karena efek dari Shift yang tercipta ....” Odo tak bisa menyelesaikan ucapannya, ia berlutut lemas dengan tatapan kosong.
Darah yang mengalir darinya membasahi tombak kristal.
Meski sekarat seperti itu, pemuda rambut hitam tersebut sama sekali tidak menunjukkan niat ingin melawan. Rasa ragu mulai muncul dalam benak Seliari, ia mencabut tombak apinya dan membuat luka pada tubuh pemuda itu semakin lebar, lalu jatuh terkapar di atas lantai dengan darah terus mengalir. Warna hitam dan putih mulai terlumuri merah, mengenang dan menampakkan cerminan wajah murka Seliari.
Putri itu paham betul bahwa Odo Luke ada kaitannya dengan Raja Iblis Kuno yang mengutuknya ribuan tahun yang lalu, menjadikannya makhluk gila dipenuhi hasrat merusak. Namun pada saat yang sama, ia paham bahwa pemuda yang terbaring di hadapannya itu adalah manusia yang telah membebaskannya dari kutukan tersebut.
Apa yang menjadi ingatan Odo Luke juga bisa gadis naga itu ketahui, karena hal tersebutlah Seliari dengan jelas tahu bahwa semua kekacauan yang ada hanya untuk membuat jiwa pemuda itu terkumpul dan utuh seperti sekarang. Perang Kuno, Bencana Besar, Penghapusan Peradaban, dan bahkan Perang Besar, semua masa kehancuran terjadi hanya untuk membuat pecahan jiwa-jiwa pemuda itu terkumpul pada satu tempat di Neraka dan dipanggil ke Dunia Nyata dalam raga seorang anak.
Karena hal itulah Seliari merasa hidupnya seperti dipermaikan, merasa muak dan murka pada pemuda di hadapannya. Kematian keluarganya, hancurnya kejayaan ras Naga Agung, dan berakhirnya masa kekuasaan mutlak langit di permukaan, hal tersebut hanya demi mengumpulkan kepingan-kepingan jiwa seseorang dari masa lalu dan membuatnya terlahir kembali ke dunia.
“Apanya dunia sebelum kiamat! Apanya yang menyelamatkan dunia ini!! Yang menghancurkan dunia terdahulu itu pada dasarnya engkau sendiri!! Dunia ini kacau karena kehadiranmu!! Banyak orang menderita karena dirimu ada! Banyak yang mati karena kau datang ke dunia ini! Kekacauan! Perang! Kesengsaraan! Penderitaan! Semua yang kau bawa semuanya hal buruk!! Lebih baik kau tak terlahir ke dunia ini! Untuk apa makhluk sepertimu ada di dunia ini?! Hanya mendatangkan kekacauan dan penderitaan saja!!”
Seliari menatap penuh kebencian, terus menyerapah dan melepas seluruh amarah dalam benaknya. Ia kembali mengangkat tombaknya, lalu menginjak perut pemuda itu dengan keras. Meski tahu Odo tidak lagi bergerak dan cahaya tak terlihat dari sorot matanya, amarah Seliari tak kunjung padam. Memegang erat tombak dengan kedua tangan, ia kembali menusuk tubuh pemuda itu berkali-kali.
“Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! Mati! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATI!! MATII!!!!!”
Darah terciprat keluar setiap kali Seliari menusukkan tombak, mulai membasahi kaki, tubuh, tangan, dan tombaknya. Ia terus menghujamkan tombaknya berkali-kali, sampai tubuhnya lemas dan tombak yang digunakannya menjadi licin karena darah. Pada akhirnya, ia menjatuhkan senjatanya dan terduduk lemas di atas jasad yang sudah tak berbentuk itu.
Isi perut keluar semua, usus terpotong-potong, paru-paru hancur bersama tulang rusuk, jantung pecah dan tidak lagi berdetak. Tengkorak kepala hancur sebagian dan sebelah matanya yang masih utuh melotot keluar, mulutnya hancur bersama rahang. Jemarinya sebagian remuk, tangan kanan terpotong pada bagian siku dan tangan kiri pada bagian bahu. Dari semua bagian tubuhnya, hanya pinggang sampai ke bawah yang tidak menjadi bulan-bulanan kemarahan Seliari.
Melihat mayat pemuda di hadapannya, putri naga itu terdiam membisu. Raut wajahnya begitu kacau penuh bercak darah, mulutnya menganga seakan ingin menjerit keras. Amarah yang ada benar-benar lenyap, berganti menjadi penyesalan yang menghujam dalam ke dadanya.
Balas dendam tidak akan mendatangkan kebaikan, Seliari sangat memahami hal itu dan terus meyakinkan dirinya sendiri dengan hal tersebut. Namun, apa yang dirasa memang tidak bisa bendung. Gadis itu menutup wajahnya sendiri dengan tangan yang berlumur darah, mulai meneteskan air mata dan tersedu.
Perasaan yang mengisinya sejak bertemu dengan Odo mulai membanjiri hati gadis naga itu, membuatnya tak lagi bisa menahan gejolak dalam dada dan meneteskan air mata. Menjerit sekuat tenaga, menangis sekuat yang ia bisa. Penyesalan menyelimutinya, membuat kekuatannya lepas kendali dan mengacaukan Alam Jiwa yang ada.
“UAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKK!!!!!!!!!!!!”