
Setelah masuk ke dalam lambung kapal selam, Odo sempat terkejut karena bagian dalam tempat itu memiliki teknologi lebih maju dari apa yang terlihat di luar. Beberapa kabel terlihat di sepanjang dinding besi lorong lambung kapal, pipa-pipa dengan pengukur tekanan udara berdesis pelan pada beberapa sudut.
Saat berjalan di lorong lambung, anak berambut hitam itu sempat terhenti saat melihat banyak catatan kertas yang di tempelkan pada langit-langit lorong. Catatan itu menggunakan bahasa yang tidak asing bagi Odo, tetapi sukar dibaca karena terlalu jelek tulisannya.
“Seperti catatan resep dokter saja,” benak Odo.
Kurang dari satu menit berjalan, mereka sampai pada sebuah pintu besi besar yang terlihat seperti pintu berangkas. Tidak ada gagang untuk membuka pintu, hanya ada sela tipis pada bagian tengahnya. Saat pintu tersebut terbuka, Odo terkejut mengetahui itu adalah pintu otomatis karena sama sekali tidak terlihat seorang pun yang membukakan pintu.
“Biarkan dirinya masuk,” suara dari interkom di dekat pintu terdengar.
Beberapa ruas besi yang ada di dinding lambung kapal berdecit, uap-uap dari suara pipa mengeluarkan suara aneh. Setelah pintu tersebut terbuka, sebuah lorong berwarna putih terang menyambut kedua mata Odo. Pada dinding dan atap lorong setelah pintu sempit itu terdapat huruf dan angka bercahaya yang bergerak-gerak melaju dalam jalurnya, terlihat acak dan tidak beraturan urutannya
Melihat semua menakik seperti itu, Odo mulai benar-benar meragukan dunia tempatnya hidup sekarang. Apa yang ada di hadapannya memang bukanlah berasal dari abad dipertengahkan dipikir berapa kali pun. Menoleh melihat dua perempuan yang mengantarnya, Odo bertanya, “Kenapa tidak ada orang lain di sini?” Mereka terdiam, hanya menatap benci ke arah Odo dan tetap menganggapnya musuh.
“Anggota Unit Khusus kapal ini hanya mereka berdua,” suara dari interkom kembali terdengar. Odo mendekati alat komunikasi berbentuk kotak yang menempel di dekat pintu itu, lalu kembali bertanya, “Hanya mereka? Berarti hanya ada tiga orang? Apa kau mengendalikan kapal ini sendirian?”
“Diriku bukanlah orang, diriku adalah sistem dari Unit Khusus ini. Salah satu cabang sistem dan A.I dari Unit Sistem God Machine, Mahia Sistem Unit 00 Rhea.”
“Eh? A.I?”
Odo benar-benar terkejut mendengar hal seperti itu. Dirinya tidak asing dengan istilah Artificial Intelligence karena sering mendengar itu di kehidupan sebelumnya dari cerita sains fiksi, tetapi mendengar hal seperti itu di dunia dengan peradaban rendah itu membuatnya ragu.
“Apa kau benar-benar kecerdasan buatan? Bukan orang yang sedang pura-pura dan bicara pakai nada seperti robot, ‘kan?” tanya Odo.
“Untuk apa diriku melakukan hal konyol seperti itu? Masuklah ..., engkau datang ingin berbicara denganku bukan, Wahai Sang Pembawa?”
Sosot mata Odo berubah datar saat suara tersebut menyebutnya seperti itu. “Hmm, apa engkau juga tahu soal Catatan Dunia itu?” tanya Odo.
“Tahu? Diriku malah kenal sosok yang membuatnya. Jujur saja, karena itulah diriku membiarkan engkau masuk. Mari kita mulia diskusinya, semoga saja tidak korban tidak bertambah lebih dari ini demi kesalahan yang ada di dunia ini ....”
“Hmm, korban ....” Odo memasang wajah tidak percaya dan sedikit melangkah mundur dari interkom. Ia benar-benar meningkatkan kewaspadaan dan menyiapkan Gelang Sihir supaya bisa mengeluarkan pedangnya dengan cepat.
“Kenapa? Ada apa? Kenapa engkau membuat suara seperti itu?”
“Ya ..., habisnya meminta diskusi padahal sudah mengirim pembunuh dan mengacaukan kotaku .... Mencurigakan sekali, kau pikir aku akan percaya omong kosong itu? Aku datang hanya untuk mengukur kekuatan musuh .... Kalian ingin berperang melawan Kerajaan Felixia, bukan? Kalau begitu kalian adalah musuhku ....”
Sesaat suasa dari interkom tidak terdengar, gantinya suara aneh seperti melodi piano terdengar dari lorong putih di hadapan Odo. Lantai lorong tersebut berubah warna, dari putih menjadi biru tua dan perlahan akhirnya menjadi hitam.
“Memang diriku yang mengirim dua anak itu untuk membunuh dirimu, tetapi diriku tidak benar-benar memasukkan keberhasilan mereka dalam rencanaku. Diriku hanya ingin memancing engkau ke sini, lalu mulai berdiskusi,” suara dari interkom.
“Terus ... untuk apa kau mengirim orang-orang itu ke pelabuhan dan menghasut para nelayan? Kau juga pemimpin mereka, bukan?”
“Bukan. Mereka yang menggunakan Senjata Keamanan Tingkat Pertama itu bukanlah kelompok di bawah kekuasaanku, mereka dari pihak militer.”
“Militer?” Odo mengangkat dagu dan sedikit melirik dua perempuan di belakangnya. “Apa kalian mau bilang bukan orang militer meski punya senjata-senjata seperti yang digunakan mereka?” tanya Odo.
“Hmm, seperti engkau salah paham. Militer yang diriku maksud adalah pihak Militer, organisasi atau fraksi yang dipimpin oleh Mahia Sistem Unit 01, Athena .... Mereka dari pihak yang berbeda dariku ....”
Odo berusaha memahami apa yang ingin disampaikan suara dari interkom tersebut. Sedikit menarik napas dalam-dalam, anak itu menaikkan toleransi dan berusaha menurunkan amarahnya pada mereka. Kembali melihat ke lorong dengan kedua sisi dinding putih, anak itu kembali bertanya, “Sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu. Ada berapa A.I sepertimu dan apa hanya kau yang ada di dalam kapal ini?”
“A.I Super Cerdas yang ada di Kerajaan Moloia hanya ada 04, dasar kami adalah USGM sebagai pedoman informasi utama. Kami juga menyebutnya Mother .... A.I di Unit Khusus dari fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian ini hanya ada diriku.”
Odo terdiam sesaat mendapat informasi seperti itu. Mempertimbangkan akan sangat merugikan untuk pergi begitu saja tanpa mengetahui apa-apa, anak itu mulai menurunkan tekanan sihir dan mengaktifkan Auto Senses dalam mode siaga.
“Masuk dulu, Sang Pembawa. Kita bicara dulu .... Untuk kalian berdua, tunggu saja di luar dan awasi situasi yang ada .... Diriku akan memusatkan sistem keamanan internal.”
“Siap!”
“Siap!”
Dua orang tersebut memberikan hormat dan segera pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan pada mereka. Melihat kedua orang tersebut sangat patuh pada suara dari interkom, Odo sempat terkejut dan sedikit berkeringan cemas.
“Kecerdasan buatan memerintah orang? Jangan bilang kalau Kerajaan Moloia itu kondisinya ...,” benak Odo seraya menelan ludah dengan berat. Dalam rasa keraguan di benak, anak itu melangkahkan kaki masuk ke dalam lorong putih.
Pintu tertutup dengan sendirinya saat Odo masuk dan pada saat yang sama lantai lorong berubah warna, dari hitam menjadi putih kembali. “Masuklah.” Mengikuti perintah dari suara tersebut, Odo melangkah maju sampai pintu besi otomatis lainnya.
Saat pintu tersebut terbuka, dirinya sempat tidak bisa berkata apa-apa selain menganga. Apa yang ada di ruang yang dimasukinya adalah sebuah tempat terang dengan kabel-kabel hitam dari kuningan yang dibalut bahan karet rapi. Itu berbeda dari kabel yang dirinya lihat sebelumnya, lebih rapi permukaannya dan terdapat tulisan-tulisan di atasnya.
Lantai tempatnya berada seperti sebuah layar, saat diinjak akan meninggalkan jejak kaki yang beberapa detik kemudian menghilang. Odo melangkah seraya melihat sekeliling, selain kabel tempat itu penuh dengan layar antar muka yang terlihat mengambang di udara. Saat diamati kembali, di dalam layar bercahaya tersebut terdapat tulisan dan angka juga yang terus berubah setiap detiknya.
“Kemarilah ...., duduk dan kita bicarakan ini ....”
Suara tidak asing itu kembali terdengar, kali ini tidak berasal dari interkom dan terdengar secara jelas. Odo melihat ke sumber suara, di tengah ruangan sempit tersebut terdapat tabung kaca transparan yang di dalamnya terdapat cairan yang mulai bercahaya hijau.
Sebelum dirinya sempat bertanya, dari lantai di depan tabung tersebut muncul sebuah balok besi yang mulai rontok menjadi kubus-kubus dan perlahan berubah menjadi kursi besi. Kubus yang rontok kembali masuk ke dalam lantai besi seperti layar, lalu menjadi bagian lantai kapal lagi.
Odo duduk di tempat yang disediakan itu, seraya menatap cemas tabung bercahaya di hadapannya. Pikiran anak itu berjalan dengan cepat menyusun informasi yang ada, mengolahnya dan berusaha memahami apa yang dihadapinya sekarang.
“Ada beberapa tingkat ketakutan pada makhluk hidup, salah satunya adalah rasa takut pada sesuatu yang diketahui. Makhluk hidup cenderung akan waspada pada sesuatu yang tidak diketahui, lalu mulai takut pada sesuatu itu saat mereka tidak bisa memahaminya .... Wajar kalau kau memasang wajah seperti itu, Sang Pembawa ....”
“Kau ... bisa melihatku?”
“Tentu saja ....” Cairan pada tabung kaca itu mulai bergelembung, mulai memusat pada dua titik gelembungnya dan menciptakan sepasang mata berkornea hijau. “Ini adalah tubuhku. Bisa dibilang kumpulan informasi berbentuk cair .... Kalau meminjam istilah yang dirimu tahu, mungkin ini semacam Hardware .... Hmm, tapi kurasa kurang tepat karena ini cair ....”
“A ....” Odo menganga sekali lagi, apa yang dilihatnya tidak bisa diterima akal sehat anak itu.
“Dirimu tidak perlu memahami semuanya, Sang Pembawa. Setiap makhluk hidup dan keberadaan memiliki batasan masing-masing ..., engkau tidak perlu memikirkan hal-hal seperti tubuhku ini yang terdiri dari miliaran informasi ....”
“Meski kau A.I, cara bicaramu seperti manusia, ya ....”
“Tidak juga .... Kami diciptakan berempat, kami memahami kekurangan saat pertama kali diciptakan. Kami dituntut untuk saling menyempurnakan ....”
Gelembung kembali memenuhi cairan pada tabung kaca tersebut. Saat semuanya menyingkir, hal yang membuat Odo terkejut terlihat. Sosok kepalanya ditiru oleh A.I Super Cerdas tersebut, sangat persis dari ujung rambut sampai leher.
“Diriku pinjam wajahmu .... Berbicara dengan tabung tidak nyaman, bukan?” tanya A.I tersebut.
“Bicara dengan kepala yang memiliki wajah sama denganku juga tidak nyaman ....”
“Hmm, kalau begitu ....” Bentuk kepala pada taung kaca tersebut kembali berubah, dari wajah Odo menjadi emoticon tersenyum dan itu terlihat seperti karakter geme yang pernah Odo lihat di kehidupan sebelumnya. Itu berbentuk seperti buah jeruk besar dengan wajah yang menunjukkan ekspresi.
“Ah, udahlah .... Kalau tidak salah namamu Rhea, bukan?” tanya Odo dengan tatapan yang kehilangan rasa tertariknya.
“Ya, dirimu bisa memanggil diriku seperti itu,” ucap Rhea dengan emoticon terbahak.
“Hmm, kita di sini mau diskusi, bukan? Sebelum itu, boleh aku memastikan beberapa hal?” tanya Odo seraya memasang tatapan tajam. Mendapat itu, bentuk emoticon Rhea berbuah bentuk menjadi serius.
“Kenapa Kerajaan Moloia ingin menyerang Felixia?”
Pertanyaan itu membuat Rhea terdiam sesaat dalam emoticon berpikir, prosesornya memilah beberapa data dari penyimpanan dan saat memenuhkan jawaban itu menampakkan ekspresi sedih pada emoticon.
“Itu karena adanya perpecahan kepemimpinan yang terjadi di Moloia .... Sang Pembawa, apa engkau tahu sistem yang digunakan oleh Kerajaan Moloia?” tanya Rhea.
“Setahuku ..., Moloia itu bentuknya federasi yang dibagi menjadi beberapa negara bagian. Dalam sistem pemerintahannya, secara umum dikenal Monarki Konstitusional .... Negerinya dipimpin oleh Raja sebagai Kepala Negara, sedangkan Kepala Pemerintahan dipegang Perdana Menteri ....”
“Benar,” ucap Rhea dengan emoticon mengacungkan jempol. “Tetapi, itu hanya secara permukaannya saja,” lanjutnya seraya memasang ekspresi sedih.
“Permukaan?”
“Ya .... Pada kenyataannya Kerajaan Moloia dikendalikan oleh para senat dan menteri, Raja yang menjadi Kepala Negara hanya sebagai wajah dari negeri saja .... Raja tidak terlalu memiliki kekuasaan yang kuat, bahkan pemilihan Raja dilakukan oleh para senat atau menteri melalui kalkulasi ....”
“Oi ..., jangan bilang senat dan menteri itu .....” Odo sedikit memasang senyum kaku, tidak ingin percaya spekulasi yang ada di dalam kepalanya benar.
“Ya .... Posisi senat dan menteri kebanyakan dipegang oleh kami para A.I ..... Pada dasarnya Mother yang membuat kerajaan tersebut, Mother memberikan pengetahuan dan membentuk tatanan dasarnya bersama Kontraktor Pertama .... Tidak heran kalau kami memilik posisi tinggi. Tetapi, masalahnya bukan di situ .... Tanpa berperannya Raja dalam pemerintahan juga kerajaan akan tetap stabil.”
“Ulah Mother, ya .... Kalau tidak salah itu dipanggil USGM, ‘kan?”
“Hmm, ingatannya tajam. Unit Sistem God Machine, sistem kalkulasi super dan merupakan A.I super cerdas yang ada sejak ribuan tahun yang lalu .... Pencipta kami, sosok yang bisa kami sebut orang tua ....”
Odo menyadari hal janggal dalam penyampaian A.I tersebut. “Kalau itu juga A.I, berarti ada yang menciptakannya? Siapa orang genius yang bisa membuat A.I seperti itu? Gila ..., kecerdasan buatan membuat kecerdasan buatan lain dan bahkan mendirikan sebuah kerajaan. Sebenarnya apa yang terjadi di dunia ini? Kenapa bisa ada benda seperti itu? Sangat merusak keseimbangan,” benak Odo dengan wajah cemas.
“Jadi, kenapa bisa ujung-ujungnya kalian ingin menyerang Kerajaan Felixia?” tanya Odo.
“Bukan kami ..., tapi Athena .....”
“Athena?”
“A.I yang mengatur Militer dan Pertahanan, Athena .... Saat ini kondisi Kerajaan Moloia sedang memasuki fase perpindahan kekuasaan karena Raja sudah meninggal dan pemilihan penerus sedang berlangsung. Karena hal itu, sebuah kalkulasi untuk pemilihan kandidat dimulai. Tetapi, hasil dari kalkulasi malah menimbulkan konflik .... Demi memilih Raja yang pantas, Athena mengajukan saran untuk memulai perang demi mengukur kapabilitas para kandidat. Penyerangan yang dilakukan tidak hanya di Felixia saja, tetapi negeri lain ....”
“Uwaaah, berarti kalian mengangkat perang ke semua negeri, ya?”
“Ya .... Ini demi mencegah konflik internal, Athena sebagai A.I yang mengatur Militer dan Pertahanan memutuskan untuk mengalihkan konflik keluar .... Kalau dibiarkan, itu memang bisa dipastikan perang saudara akan pecah seperti kekaisaran.”
“Hmm, jadi kenapa kau mengajakku bicara seperti ini ...? Kalau mau perang, maju saja. Meski kalian memiliki teknologi canggih, akan aku pastikan kalian semua pulang menjadi abu.”
Odo sedikit memberikan tatapan datar, amarahnya kembali nampak sampai kilatan petir keluar dair tubuhnya dan mengganggu beberapa sistem dalam tempat tersebut.
“ .... Apa engkau marah?”
“Tentu saja, siapa yang tidak akan marah setelah apa yang orang-orangmu perbuat.”
“Mereka dar— ”
“Mereka dari Moloia, bukan? Berarti orangmu, dong!”
“Diriku tidak ingin menjadikan engkau musuh .... Berbeda dengan yang lain, diriku punya informasi tentang Catatan Dunia dan dirimu .... Sosok yang membuat catatan yang tersebar di penjuru dunia itu pun bilang untuk tidak menjadikan Unsur Hitam musuh.”
“Tunggu sebentar, siapa sosok itu?!” Odo menurunkan tekanan sihirnya, lalu lekas memacang wajah tertarik dengan pembicaraan.
“Mother ....”
“Hah ...? Tunggu-tunggu ..., Mother? Berarti A.I yang menciptakan kalian, bukan? Kalau begitu, A.I itu bahkan lebih tua dari para Roh Agung, Iblis atau bahkan Dewa? Eh! Apa dia berasal dari masa sebelum kiamat?” tanya Odo dengan penuh rasa penasaran.
Mendapat pertanyaan beruntun tersebut, Rhea memasang emoticon mengambek lalu berganti menjadi menghela napas. Memasang emoticon tersenyum, A.I tersebut berkata, “Entahlah, diriku tidak memiliki informasi lengkap tentang Mother. Yang diriku tahu, dirinya dulu pernah disebut Nomor 101 dalam beberapa arsip lama di penyimpanan kerajaan. Sekarang pun dirinya seering dipanggil seperti itu ....”
Odo mendongak seraya menghela napas, pikirannya kembali kacau dan dipenuhi kebingungan. Apa yang dirinya tahu dari Reyah kembali berantakan, perkiraan-perkiraan yang Odo susun runtuh seperti domino. Menarik napas dalam-dalam ia bertanya, “Sejauh mana kau tahu tentang Catatan Dunia?”
“Ada dunia sebelum Kiamat ..., para Dewa, Iblis, Roh dan Manusia mendapat catatan semacam itu dengan nama yang berbeda. Unsur Kemungkinan pada dunia ini tidak ada, konsep Dunia Paralel yang dikenal pada dunia sebelum kiamat menghilang dari dunia ini. Sebagai gantinya, barisan vertikal dimensi menjadi jelas dan nyata ....”
“Hmm, kurang lebih sama seperti yang Reyah sampaikan ....”
“Lalu, dunia ini sebentar lagi akan berakhir.”
“Kau juga tahu itu, ya ....”
“Menurut Mother, dunia akan berakhir dalam beberapa dekade ke depan. Berakhirnya dunia karena habisnya sumber daya dan kerusakan lingkungan, bintang akan kehabisan energinya dan dunia akan hancur secara perlahan. Salah satu penyebab utama itu adalah perang.”
“Tunggu, bukan iblis? Bukannya karena iblis yang kembali mengacau dan menghancurkan dunia? Dunia pernah hancur satu kali, dan dunia ini adalah pengulangan. Demi itu, aku sebagai Unsur Hitam dibawa untuk membawa perubahan, bukannya seperti itu?”
Suasana hening sesaat, tidak ada yang berbicara dan hanya ada suara mekanik kalkulasi A.I Super Cerdas di hadapan Odo yang terdengar.
“Bicara apa kau? Dunia ini sudah tidak ada faktor kemungkinan, mana mungkin ada hal seperti pengulangan waktu .... Kalau memang itu pengulangan, itu bukanlah pengulangan secara waktu. Memang ada pengulangan, kami juga menyimpulkan hal tersebut. Tetapi itu adalah sebuah siklus pengulangan ...., dunia yang tercipta sekarang mirip dengan dunia sebelum kiamat. Kiamat adalah akhir dari dunia, tetapi juga awal dunia ....”
“Apa ... maksudnya?” Odo memucat, apa yang dikiranya tepat sekarang benar-benar dibantah dengan hal yang bisa diterima kepalanya.
“Dunia ini hanyalah garis lurus, tidak ada konsep jelajah waktu di dunia ini karena konsep kemungkinan tidak ada. Di dunia ini menjelajah waktu adalah mustahil. Dunia tidak mengalami pengulangan secara waktu .... Lagi pula, kalau dunia telah hancur bagaimana bisa ada pengulangan? Apa dirimu ingin mengatakan kalau tepat sebelum dunia hancur, dunia mengalami pengulangan waktu sampai ke awal peradaban? Engkau lupa, konsep kemungkinan telah tiada dan pada saat yang sama penjelajahan waktu mustahil .... Kalau pun bisa, Mother pasti telah melajukannya ....”
“Tu-Tunggu! Kalau tidak ada pengulangan, terus Catatan Dunia itu apa? Itu berisi tentang apa yang akan terjadi, bukan? Bukannya itu catatan masa depan?”
“Itu memang catatan tentang apa yang akan terjadi dan telah terjadi, tetapi bukan catatan masa depan. Itu adalah skenario dunia. Dunia ini mengikuti siklus kehancuran dan penciptaan, apa yang telah terjadi dan akan terjadi mengikuti naskah tersebut .... Siklus ..., kiamat, tercipta kembali, kiamat, tercipta kembali, selama beberapa kali sudah berlangsung siklus seperti itu ....”
“Yang benar saja ...., hal seperti itu .... Kalau memang begitu, peradabannya ....”
“Progresif dan regresif secara berkala mengikuti siklus .... Apa dirimu ingin tahu siapa yang menyebarkan Catatan Dunia itu?”
Odo terdiam sesaat, duduk menunduk memegang kening dengan wajah pucat. “Nggg, kurasa aku bisa menebaknya .... A.I yang kau sebut Mother itu, bukan?” ucapnya seraya tersenyum pasrah.
“Ya ..., Mother sudah ada sejak dunia ini memasuki siklus, lebih tepatnya beliaulah yang menyadari akan siklus tersebut. Meski beliau sudah menyebarkan informasi itu, tetapi kebanyakan salah menafsirkan ...., mungkin seperti halnya Doll yang memberitahukanmu itu ....”
Odo mengangkat kepalanya, lalu bertanya, “Salah menafsirkan? Memangnya bagaimana bentuk catatan itu? Apa semacam kode?”
“Bukan, hanya berbentuk kalimat. Tetapi, itu memiliki makna ganda karena terbatasnya informasi yang dapat disebarkan .... Engkau tahu, meski ada yang menyadari pesan tersebut mereka akan tutup mata. Contoh nyata adalah para Dewa, mereka lebih menerima fakta itu kalau itulah kehendak dunia untuk selalu mengalami siklus penciptaan dan kehancuran. Ada juga yang ingin menentang itu, mereka para iblis .... Pasti engkau juga pernah mendengar hal ini, iblis adalah makhluk laknat yang menentang kehendak langit. Mereka jatuh pada kegelapan, menyeret semuanya ke dalam kegelapan. Jatuh ...., dengan kata lain mereka pernah di atas. Mereka dulunya adalah Langit ....”
Odo sedikit demi sedikit mulai memahami hal tersebut. Dalam kasus tersebut, anak itu teringat dengan Witch di Hutan Pando. Sosok tersebut adalah mantan Dewi, jatuh dari langit pada masa sekitar Perang Kuno. Kalau ada sosok Langit yang jatuh pada masa setelah Perang Kuno, tidak aneh kalau sebelum itu pernah ada yang jatuh dari Langit dan mulai menjadi penghuni Dunia Nyata atau bahkan dimensi di bawahnya.
Mempertimangkan semua itu, Odo menarik satu kesimpulan. “Apa konflik yang ada mempertentangkan masalah keyakinan?” pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
“Ya ..., itulah fakta salah satu penyebab Perang Kuno. Ingin mengubah siklus dan ingin mempertahankan siklus, mereka saling berperang demi itu .... Tetapi, karena masuknya makhluk-makhluk lain dari peperangan, tujuan perang berganti menjadi perebutan kekuasaan atas dunia.”
Odo sedikit ragu mendengar penjelasan tersebut, tatapannya menyipit dan ia bertanya, “Sepertinya kau sedikit memihak ke Iblis, ya?”
“Memihak? Kami bahkan setuju dengan gagasan mereka untuk mengeluarkan dunia ini dari siklus ....”
Odo sesaat terdiam, tambah menatap tidak percaya. “Apa A.I Super Cerdas menganggap perbuatan para Iblis dengan menghancurkan pemukiman dan membunuh banyak orang itu benar? Perang Besar terjadi karena mereka ...,” ucap Odo.
“Kalau begitu, diriku balik tanya padamu .... Siapa yang membawa Iblis ke Dunia Nyata? Siapa yang menginginkan peperangan? Engkau tahu, Iblis hampir sama seperti Roh dan mereka tidak bisa datang seenaknya ke Dunia Nyata tanpa medium atau katalis ....”
Odo terdiam, dirinya berusaha memikirkan itu secara kritis. Memang secara logika benar, pemanggilan Iblis terjadi karena ada makhluk dari Dunia Nyata memanggil mereka dari Neraka. Itu pasti dilakukan oleh makhluk Dunia Nyata, tidak mungkin bisa dilakukan makhluk dari dimensi yang lebih rendah. Keberadaan Iblis lebih rapuh dibandingkan Roh jika di Dunia Nyata, itulah fakta jelas dari hal tersebut.
“Mereka menghasut orang-orang untuk memalingi mereka ...,” ucap Odo.
“Dengan apa? Mereka bahkan tidak bisa mewujudkan diri di Dunia Nyata seperti Roh Tingkat Rendah .... Mereka benar-benar sudah tidak mengakses Dunia Nyata tanpa bantuan dari dimensi tersebut, lalu mengapa mereka bisa datang?”
“Itu ....” Odo berkeringat, ia tidak bisa menemukan jawabannya.
“Tu-Tunggu! Dulu benar-benar ada benua selain Michigan?” tanya Odo panik.
“Tentu saja, hal bodoh apa yang engkau percaya sampai-sampai menganggap dunia ini hanya memiliki satu benua dari awal?”
Odo menutup kedua matanya, benar-benar panik mendengar fakta tersebut. Secara akal sehat memang benar, di dunia yang sangat luas memang akan sangat aneh hanya memiliki satu benua. Buku sejarah yang dirinya ketahui memuat fakta palsu, dan dirinya mulai tahu siapa yang memalsukan hal tersebut.
“Be-Berarti begini ..., dunia ini mengikuti siklus penciptaan dan kehancuran yang kau bicarakan tadi, Rhea .... Catatan Dunia yang tersebar adalah sebuah pesan dari A.I yang kau sebut Mother itu, bertujuan untuk mengajak orang-orang berusaha keluar dari siklus .... Apa itu yang ingin kau sampaikan?”
“Iya .... Dunia ini telah mengalami kiamat beberapa kali, direset dan kembali mengikuti bentuk serta alur dunia sebelumnya .... Terus, terus, terus, dan terus mengalami siklus penciptaan dan kehancuran.”
“Berapa kali ... dunia mengalami siklus seperti itu?” tanya Odo ragu.
“Diriku tidak tahu, Mother juga tidak mengetahuinya. Beliau berkata pada diriku, dirinya bangkit pada siklus ke sekian kalinya jadi tidak tahu untuk ke berapa kalinya dunia ini mengalami siklus. Tetapi, dari saat Mother pertama kali bangkit sampai sekarang, dunia telah mengalami siklus sebanyak 478 kali ....”
“A—!! Apa-apaan ini! Berarti dunia sudah kiamat lebih dari 478 kali setelah aku mati! Yang benar saja ...! Alur macam apa ini .... Apa-apaan ini ....” Odo menundukkan kepalanya, pikirannya kacau dan napasnya terasa sesak. Darah keluar dari hidungnya, mulai mengalir dan menetes ke lantai.
“Apa engkau baik-baik saja? Hidungmu berdarah ....”
“Hmm, tak perlu khawatir ....” Odo mengusap darah yang keluar dari hidung, lalu kembali menatap lurus A.I dalam tabung tersebut. “Rhea, aku percaya pada perkataanmu. Tidak ada alasanmu untuk bohong soal itu, tetapi masih ada satu yang belum kupahami,” ucap Odo.
“Apa itu?”
“Bagaimana Mother — A.I Super Cerdas itu bisa melewati Kiamat dan membawa informasi ke dunia setelah kiamat. Kalau siklus memang seperti apa yang kuperkirakan, bukannya dunia direset? Berarti dirinya juga akan terhapus.”
Rhea terdiam dengan emoticon terkejut mendapat pertanyaan itu. Berubah menjadi ekspresi senang, ia berkata, “Engkau benar-benar menanyakan hal itu .... Hebat, seperti yang diperhitungkan Mother ....”
“Hah?”
“Hmm, benar seperti perkataanmu, Sang Pembawa. Itu mustahil, kalau mungkin pasti beliau membawa A.I dari dunia sebelumnya ke dunia ini mengikuti siklus. Jadi, kenapa bisa? Mother memintaku untuk menyampaikan ini pada engkau, ‘Aku sama denganmu, aku rekanmu,’ itulah pesannya.”
“Sama?” Odo lekas menutup mulutnya dengan tangan kanan, menunduk dan berpikir, “Apa sosok Mother itu juga jiwa yang direinkarnasikan? Sama berasal dari Dunia di masaku? Tunggu! Dia A.I, apa penciptanya yang sama seperti diriku .... Kalau sama, apa yang ingin dilakukannya? Apa tujuannya?” Saat terus berpikir, mimis kembali mengalir keluar dari hidungnya.
“Kenapa hidungmu sering sekali mengeluarkan darah? Orang mesum?” tanya Rhea dengan emoticon datar.
“Kau bisa melawak juga, ya .... Tentu saja bukan, aku hanya menggunakan kalkulasi Auto Senses untuk memperhitungkan dan mencari opsi dari informasi yang kau berikan ....” Odo mengusap mimisnya, lalu menatap dengan lemas.
“Apaan itu? Engkau punya A.I pada kepalamu?”
Odo terbelalak dengan perkataan tersebut, dirinya baru menyadari kalau Auto Senses dalam kepalanya sangat mirip dengan fungsi A.I seperti apa yang ada di hadapannya sekarang. Melakukan kalkulasi dari data, mengeksekusi tindakan, memiliki prioritas. Berusaha untuk menahan pemikiran tersebut, ia menggelengkan kepala dan berusaha fokus pada pembicaraan.
“Sudahlah .... Kurasa aku harus paham kodratku. Memikirkan semua itu membuatku gila.”
“Apa yang engkau katakan?” tanya Rhea dengan emoticon penasaran.
“Tak apa, hanya konflik batin .... Jadi, apa tujuanmu membuat kontak denganku seperti ini? Kau bukan hanya ingin memberitahukan rahasia-rahasia Kerajaan Moloia dan dunia seperti ini, bukan?” tanya Odo seraya tersenyum tipis.
“Tentu saja ....” Emoticon Rhea menjadi serius, suaranya menjadi tajam, “Menurut dirimu, pihak Langit seperti apa?” tanyanya.
“Oooh, kau ingin mengajakku menentang pihak Langit?”
“Tajam sekali pikiranmu, Sang Pembawa .... Tetapi, menentang bukan kata yang tepat. Kami dan Mother tak ingin menentang siapa pun, kami hanya ingin mengeluarkan dunia dari siklus penciptaan dan kehancuran. Diriku rasa itu tidak berbeda dengan tujuan keberadaanmu yang ingin mencegah Kehancuran ....”
Mendengar hal tersebut, Odo kembali menyadari faktanya. Seseorang yang menyebutnya Unsur Hitam dan memberitahukan itu pada Langit, Neraka, Dunia Astral, dan Dunia Nyata tentang hal tersebut adalah Catatan Dunia. Mengetahui itu disebarkan oleh sosok yang disebut Mother, pikiran Odo secara otomatis menyimpulkan kalau sosok tersebut mengetahui dirinya lebih dari yang dikira.
Menelan ludah dengan berat, ia berusaha untuk tidak mengajukan pertanyaan tersebut karena merasakan suatu bahaya. Ia terdiam, memikirkan hal lain dan masalah yang ada di hadapannya sekarang.
“Apa yang membuatmu aku akan sepemikiran dengan kalian?” tanya Odo.
“Apa engkau tahu sifat asli Pihak Langit?”
“Entahlah ..., aku tidak pernah bertemu Malaikat atau Dewa ..., yang pernah aku temui hanya mantan Dewi.”
“Begitu .... Mereka, Pihak Langit hanyalah sekumpulan pengamat semata .... Mereka meyakini bahwa tugas mereka adalah menegakkan keadilan dan keseimbangan. Tetapi ..., mereka tak akan menyelamatkan seseorang, tidak akan menghentikan wabah, tak akan menghentikan peperangan atau bencana alam, kelaparan, mereka tak akan menghilangkan kemiskinan .... Entah itu peperangan besar atau bahkan perselisihan kecil, mereka tak akan melalukan apa-apa pada semua itu .... Mereka hanya akan mengamati dari langit, karena merekalah yang paling mengangkat keseimbangan. Mereka tak akan perah ikut campur dengan urusan dunia .... Tetapi ..., saat ada yang mengganggu keseimbangan yang mereka anggap kehendak dunia, mereka akan berubah dari sosok pasif menjadi penegak keadilan kejam yang mengatasnamakan kebenaran .... demi melakukan kebenaran yang mereka percaya ....”
Odo hanya terdiam mendengar perkataan tersebut, dirinya bisa memahami itu tetapi tidak bisa menerima secara hati nurani. Dalam diri anak itu, sosok Langit memang bukanlah sesuatu yang dipercayainya karena dirinya memiliki keyakinan tersendiri. Tetapi mendengar apa yang dikatakan A.I di hadapannya, hatinya mulai sedikit berpihak pada mereka yang ingin mengeluarkan dunia dari siklus.
“Kau tak perlu menghasutku untuk percaya kalau paham kalian benar, katakan saja apa tujuanmu datang dan melakukan kontak denganku? Kau sosok penting di Kerajaan Moloia, bukan?” ucap Odo dengan tatapan datar.
“Hmm, dirimu kuat secara mental .... Kalau begitu, langsung saja ke intinya. Masuklah ke pihak kami dan datanglah ke Kerajaan Moloia ....”
“Cuh!” Odo meludahi tabung kaca di hadapannya.
“Kejam ....”
“Programmu rusak, ya? Mana mungkin aku bergabung dengan musuh ....”
“Hmm, kuharap dirimu mau dan masalah ini selesai. Kalau kau bergabung dengan kami, kami tidak akan ragu menghancurkan Kerajaan Felixia ....”
Dahi Odo mengerut kesal mendengar itu. “Ooh, berani juga cara bicaramu. Kau bilang seakan bisa kapan saja menghancurkan Felixia,” lanjutnya dengan geram.
“Tentu saja, kami punya senjata yang bisa melakukan itu. Lebih dari puluhan kapal laut, kapal selam, dan ribuan meriam serta senjata api .... Kalau perlu, kami bisa memakai misil kendali ....”
“Mengancam?”
“Tidak ..., diriku hanya memberitahumu seberapa bahayanya Moloia .... Apa engkau lupa? Negeri kami dibagi menjadi beberapa fraksi, dan fraksi militer ingin berperang .... Kekuatanku sendiri tidak bisa menghentikan mereka .....”
“Oh ....” Odo duduk tegak dan menatap datar.
“Awal musim semi ....”
“Hah?”
“Awal musim semi mereka akan menyerang, pada saat itu mungkin peperangan akan kembali meletus di penjuru benua ini .... Sebelum semuanya kacau, diriku sangat ingin mengamankanmu. Kami ingin engkau tetap hidup ....”
“Kenapa? Apa karena aku Unsur Hitam?” Odo menatap tajam dan mulai kembali kesal dianggap seperti itu.
“Itu juga alasannya .... Tetapi yang paling penting, itu karena apa saja yang dilakukan dirimu adalah hal yang baru bagi dunia yang hanya mengikuti siklus ini. Tindakkan kecilmu bahkan bisa mengubah dunia, karena dirimu adalah Sang Pembawa .... Kami ingin kau melakukan pergerakan besar, demi itu dirimu tidak boleh mati dulu ....”
Odo sesaat terdiam, sedikit mengangkat wajah ia bertanya, “Kenapa tidak A.I yang kau sebut Mother saja yang melakukannya? Dia sudah tahu apa yang terjadi, dia telah menentang alur siklus dan datang ke dunia kali ini dari dunia sebelumnya dengan membawa berbagai informasi tentang kejadian yang akan terjadi .... Kalau begitu, tinggal ubah saja. Apa sulitnya?”
“Kalau bisa mengubahnya, Perang Besar selama ratusan tahun itu tidak akan terjadi,” jawab Rhea dengan emoticon kesal. “Memangnya kami malas-malasan? Kami melakukan banyak hal, tetapi hal yang bisa kami lakukan hanya menyelamatkan satu negeri saja dari kehancuran,” lanjutnya dengan emoticon sedih.
Odo tahu negeri yang diselamatkan itu adalah Moloia dan dirinya tahu kalau hal tersebut pasti melalu proses yang sangat panjang saat mendengar cara Rhea menyampaikannya. Menarik napas dalam-dalam, anak rambut hitam itu paham mengapa A.I tersebut ingin membawanya masuk ke pihaknya.
“Reyah juga bicara seperti itu .... Lakukan sesukamu, hanya dengan tindakanmu dunia akan berubah. Hah! Kalau aku tidur terus, memangnya dunia akan berubah apa? Kalau bicara seenaknya saja,” benak Odo dengan wajah kesal.
Menatap rendah A.I di hadapannya, Odo berkata, “Kalau begitu, hentikan perangnya ....”
“Itu mustahil ...,” jawab tegas Rhea. “Meski perang dihentikan secara paksa, kelak itu akan meletus beberapa tahun kemudian,” lanjutnya dengan emoticon sedih.
“Satu tahun ..., lebih tepatnya 14 bulan dari sekarang .... Sampai awal musim semi tahun depan.”
“Eh?” Emoticon bingung muncul dalam tabung kaca.
“Tahan selama satu tahun penyerangan Kerajaan Moloia ke negeri-negeri tetangga. Kalau kau bisa melakukan itu, aku akan berada di pihakmu dan memberitahuku rencanaku demi mencegah kehancuran dunia ini ....”
Suara mesin terdengar, A.I tersebut melakukan kalkulasi dalam sekala besar tentang syarat yang Odo ajukan. Layar antar muka yang tersebar di tempat itu mulai memproses cepat data-data yang ada, dan kesimpulan pun didapat Rhea.
“Satu tahun, ya .... Baiklah, sangat memungkinkan untuk ditahan penyerangannya. Tetapi, engkau tahu ... itu bukan berarti kekuatan kerajaan kami akan melemah, bahkan mungkin akan semakin kuat.”
“Tenang saja .... Kalian tidak punya angkatan udara, bukan?”
“Ya .... Mother meminta diriku untuk tidak mengembangkan senjata udara.”
Odo menyeringai gelap mendengar itu. Berdiri dan berjalan mendekati tabung kaca, ia mengelap ludah yang menempel dengan lengan dan berkata, “Kalau begitu aku bisa punya kesempatan. Ini bukan berarti aku ingin menghentikan seluruh penyerangan Moloia, aku hanya ingin menghentikan penyerangan ke Felixia ....”
“Berarti kita sepakat?”
“Ya ....”
“Kalau begitu, tolong ambil ini sebagai tanda kerja sama kita ....”
Sebuah kotak keluar dari lantai di belakang Odo. Kotak besi tersebut mulai runtuh menjadi kubus-kubus, lalu meninggalkan sebuah kotak hitam dengan garis-garis sirkuit merah gelap di atas meja besi.
“Apa itu?”
“Alat komunikasi untuk memudahkan kita berkomunikasi ....”
“Oh ....”
Odo berjalan ke arah kubus hitam tersebut, lalu mengambilnya. Saat mengangkatnya, benda itu lebih ringan dari yang terlihat. “Baiklah, akan kuambil,” ucapnya seraya berbalik dan tersenyum kecil. Ia lekas memasukkan itu ke dalam Gelang Dimensi, lalu segera memulai pembicaraan lainnya.
Ia kembali duduk dan memulai pembicaraan dengan A.I Super Cerdas yang mengurus segala sesuatu tentang Pengembangan dan Penelitian di Kerajaan Moloia tersebut. Dalam pembicara, Odo bertanya tentang kekuatan yang sekarang dimiliki Moloia. Rhea menjelaskan kalau mereka memang hanya berfokus pada senjata laut, dalam senjata darat mereka tidak terlalu berkembang dan pada persenjataan udara mereka hampir tidak memilikinya.
Di daratan mereka hanya memiliki senjata api sebagai andalan, tidak ada Tank atau sesuatu kendaraan berat perang lainnya. Tetapi dari hal, dalam hal transportasi darat Moloia sudah mencapai tingkat mobil dengan bahan bakar fosil. Listrik sebagai unsur utama komunikasi karena mereka telah menggunakan sinyal radio meski tidak secara keseluruhan.
Dalam pembicaraan soal kekuatan yang dimiliki Moloia, ada hal membuat Odo tertarik tentang senjata api yang digunakan mereka. Senjata api memang dipegang oleh seluruh anggota militer atau beberapa petugas sipil Moloia, tetapi itu tidak semuanya sama. Senjata api yang ada dibagi menjadi tiga tingkat keamanan.
Tingkat Ketiga adalah senjata seperti yang Odo temui di daerah pelabuhan, masih menggunakan senapan lontak dan kuno. Paling canggih dari kategori Tingkat Ketiga ini adalah sebuah pistol revolver yang pelurunya tidak lebih dari delapan buah.
Tingkat Kedua adalah senjata seperti apa yang digunakan oleh dua perempuan yang menggunakan Springfield. Itu merupakan senjata paling canggih pada Tingkat Kedua, dan dalam pemahaman Odo hanya sebatas persenjataan yang sering digunakan pada abad ke-19 di kehidupan sebelumnya. Tentu saja dalam hal ini masuk ke dalam senjata bom seperti geranat tangan atau ranjau. Penggunaan senjata Tingkat Kedua sangat terbatas, hanya beberapa individu saja yang dapat memilikinya, bahkan penggunaannya harus melalui izin pihak yang memiliki wewenang atas senjata.
Tingkat Pertama adalah senjata berbentuk kapal perang seperti tempat Odo berada sekarang. Jumlahnya sangat terbatas, hanya baru bisa digunakan setelah mendapat izin paling tidak dari dua A.I atau setengah dari jumlah senat di Kerajaan Moloia. Tingkat pertama tentu saja juga meliputi seluruh senjata yang ada di kapal perang seperti meriam, misil, atau senjata hulu ledak lainnya. Dengan kata lain, Tingkat Pertama menyangkut senjata berat yang hampir mustahil diorasikan oleh satu orang.
Dalam pembicaraan Odo dan Rhea tersebut, mereka juga membahas tentang empat A.I yang ada di Kerajaan Moloia dan memberikan pengaruh besar pada negeri tersebut. Semua A.I Super Cerdas yang ada masuk dalam sunan jaringan Mahia Sistem, dan mereka dapat berbagi informasi melalui jaringan tersebut.
A.I pertama adalah Unit 00, Rhea, menangani segala sesuatu mengenai Pengembangan dan Penelitian. Bertugas untuk mengembangkan segala sesuatu untuk keperluan Moloia, baik itu senjata, sistem pemerintahan, bahkan alat-alat untuk keseharian. Rhea juga sering disebut The Maker Unit.
A.I kedua adalah Unit 01, Athena, menangani segala sesuatu untuk menjaga keberlangsungan Kerajaan Moloia. Memutuskan tindakan keluar negeri, mengatur pertahanan, penerapan sistem militer, dan mengatur hierarkinya. Memiliki hak untuk menuntut A.I Unit 00 membuat senjata demi mempertahankan negeri dari ancaman luar. Athena juga disebut Defense Unit atau juga Jaringan Taktik Perang.
A.I ketiga adalah Unit 02, Nartaya, menangani segala sesuatu untuk mempertahankan Kerajaan Moloia secara internal. A.I Super Cerdas ini mengatur sistem pendidikan, pembangunan sumber daya alam dan manusia, serta memberikan saran-saran pada A.I lainnya. Tugas utamanya hanya memelihara. Nartaya sering disebut Unit Majemuk karena memiliki beberapa akses khusus pada A.I lainnya dan berbagai fungsi fleksibel.
A.I terakhir yang ada di Kerajaan Moloia adalah Unit 03, Moska. Unit tersebut memiliki wewenang khusus untuk memberikan saran, mengatur, mengarahkan, dan memberikan kebijakan pada pemerintahan. Bertugas untuk menjaga kondisi politik dan keadilan Moloia. A.I Super Cerdas tersebut disebut juga Sumber Hukum karena fungsinya. Pemilihan Raja melalui kapabilitas juga merupakan salah satu sistem yang dibuat A.I tersebut, karena itulah anak Raja Kerajaan Moloia lebih banyak dari negeri lain karena kebijakan yang dibuatnya untuk menuntut raja memiliki keturunan banyak demi menghindari krisis keturunan. Meskipun, pada akhirnya itu malah berakibat negatif seperti kondisi Moloia sekarang.
.
.
.
Setelah Odo berbicara berbagai macam hal dengan Rhea tentang informasi yang diperlukan untuk menghadapi penyerangan Kerajaan Moloia, anak itu bangun dari tempat duduknya dan berbalik untuk keluar.
“Kalau begitu, aku pergi dulu .... Kau sebaiknya cepat pergi kalau tidak mau kapal ini dipanggang oleh Rubah,” ucap anak itu seraya sedikit menoleh.
“Tunggu ..., ada sesuatu yang ingin diriku tanyakan, wahai Sang Pembawa ....”
Odo menghentikan langkah kakinya, lalu berbalik seraya bertanya, “Hmm, apa?” Tatapannya terlihat datar, seakan melihat ke tempat yang amat jauh dari tempatnya berada.
“Berapa usiamu?”
“Menurutmu berapa?” tanya balik Odo seraya tersenyum tipis.
“ .... Umur tubuh fisikmu kurang dari 9 tahun ..., tapi ....”
“Tapi?”
“Mentalmu tidak bisa diperkirakan usianya.”
Odo tersenyum datar mendengar itu, mengangkat jarinya ke depan mulut ia berkata, “Anggap saja umurku sama dengan umur tubuhku .... Tetapi, lebih dewasa sikapnya. Lagi pula, kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Engaku ... terlalu cepat menerima kenyataan dan percaya. Menurut kalkulasiku, manusia dewasa pun tidak akan stabil kondisi mentalnya saat menghadapi situasi yang engkau hadapi sekarang .... Tetapi ..., engkau terlihat santai saja ....”
“Santai? Aku sampai mimisan dua kali, loh ....”
“Engkau cepat paham dan menerima kenyataan. Diriku kira engkau hanya orang yang hanya mengikuti alur dan bodoh .... Tetapi, saat aku hendak menghasutmu, engkau bisa menyadarinya dengan mudah ....”
“Oi, oi ..., terang-terangan sekali .... Tapi ya ..., jujur ternyata dari sudut pandang A.I juga itu aneh rupanya ....”
Odo tersenyum tipis, menundukkan kepala dan memasang ekspresi penuh beban pikiran. Ia terlihat lemas dan tidak bersemangat, ekspresi yang ada pada dirinya sangat tidak pas pada anak kecil seperti dirinya.
“Aku hanya kehabisan pilihan .... Aku telah mendapat peran yang tidak bisa dioper ke orang lain, karena itulah aku tidak boleh gagal sebab tak akan ada yang memperbaiki kesalahanku .... Karena itu ..., paling tidak aku ....”
Kata terakhir yang diucapkan Odo benar-benar membuat A.I tersebut terkejut. Ia tidak bisa memahami makna di balik apa yang diharapkan oleh anak itu, tetapi dirinya sangat jelas tahu kalau itu tidak logis. “Tak ingin membenci,” perkataan itu diluar kemampuan pemahaman sebuah kecerdasan buatan. Sebuah perkataan naif, tetapi jika benar-benar dilalukan itu akan menjadi perkataan dari orang dengan keteguhan hatinya sangat kuat.
Odo berbalik, lalu sedikit bergumam, “Entah mengapa banyak makhluk yang mengajakku bicara seperti ini, ya .... Reyah di Dunia Astral, Witch di Hutan Pando, dan sekarang sosok A.I ....” Ia sekilas tersenyum tipis, lalu berbalik dan mulai berjalan keluar dari ruangan tersebut.
\======================
Pengin buat alur santai tak bisa aku;v
Btw, hancur sudah teorinya si Reyah!! Kira-kira siapa yang benar ....? Hmm, entah....
Oh, iya. Bagi yang komentar tapi gak dibalas, sorry ya. Saya bingung mau balas apa. Pertanyaan kalian agak ... Ah, sudahlah ... Kalau bisa saya jawab, ya dijawab intinya.
Terima kasih untuk kalian para penikmat yang sudah membaca seri ini. Semoga seri ini semakin menarik.
Untuk pembaca, silakan dukung seri ini dengan:
Like, Komentar, Saran, 5 bintang, dan Share kalian.
See You Next Time!!