Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 27: Mereka yang disebut pemimpin 3 of 3 (Part 01)



 


 


Setelah menaiki tangga dari lautan es ke atas pelabuhan, sejenak Odo bersandar pada pembatas kayu seraya melihat bongkahan besi raksasa mulai menenggelamkan sosoknya ke dalam perairan. Menarik napas dengan berat, ia menoleh ke arah gudang-gudang penyimpanan di daerah pelabuhan yang hancur.


 


 


Beberapa orang terlihat berkumpul di sana dengan kebingungan atas apa yang telah terjadi, mereka bahan tidak menyadari keberadaan Odo di tempat itu karena sakit ributnya keadaan. Bertanya-tanya satu sama lain, saling mengira-ngira dan berbisik-bisik tak jelas. Beberapa di antara orang-orang yang berkumpul di sekitar gudang yang ambruk juga terlihat beberapa prajurit yang baru selesai memadamkan api.


 


 


Tidak memedulikan itu, Odo sejenak terdiam dan mendongak menatap langit yang sudah mulai gelap. Awan mendung masih memenuhi, salju mulai turun semakin lebat sampai batas penglihatannya mulai terganggu. Napas keluar dari mulut, menjadi embun putih yang menghilang di udara.


 


 


“Aaaah .... Aaaaaaaaaaaaaah .... Menyebalkan, menyusahkan, memuakkan. Kenapa juga ada beginian! Serius? Siklus dunia seperti itu benar-benar terjadi? Gila .... Sialan reinkarnasi ini. Kalau mau mereinkarnasi jiwa, paling tidak siapan Harem atau semacamnya. Beri kemampuan Over Power, kek! Kenapa malah dibebani tanggung jawab menyusahkan seperti ini .... Mau tambah kuat harus baca ratusan buku, meditasi, sama lawan monster .... Mati-matian mikir malah dikhianati seperti itu dan ditusuk dari belakang .... Ah, menyebalkan.”


 


 


Berjongkok seraya menatap orang-orang di sekitar gudang yang hancur, Odo benar-benar mengeluarkan unek-unek yang sudah lama dirinya terpendam. Sebelum anak rambut hitam itu kembali mengeluh, sebuah getaran langkah kaki mendekat terdeteksi oleh sihirnya.


 


 


Menoleh ke kanan, terlihat Fiola dengan tergesa-gesa menghampiri anak itu. Kesembilan ekornya terlihat jelas, gadis rubah itu bahkan tidak sempat menggunakan sihir transformasi untuk menyembunyikan identitasnya yang seorang Huli Jing. Mengamati kembali gadis rubah itu, Odo sadar kalau Fiola mungkin datang setelah Julia mengabari orang-orang di Mansion tentang apa yang terjadi sebelumnya.


 


 


“Tuan ..., apa Anda baik-baik saja?” tanya gadis berpakaian kimono hitam itu dengan ragu. Ia melangkah mendekat, lalu melihat kanan dan kiri Odo untuk mematikan anak itu baik-baik saja.


 


 


“Syukurlah ..., Anda baik-baik saja,” ucapnya lega.


 


 


“Siapa yang baik-baik saja, Mbak Fiola .... Lihat pakaianku rusak, bahkan ada bercak darahnya,” ucap Odo datar.


 


 


“Tapi tubuh Anda baik-baik saja, bukan? Kalau begitu, tidak masalah ....”


 


 


Odo menatap datar perempuan rubah itu. Memalingkan pandangannya, ia berkata, “Mbak Fiola sifatnya beda sekali, ya .... Biasanya Mbak Julia kalau lihat aku kenapa-napa pasti langsung ngomel.” Melirik datar ke arah Huli Jing tersebut, Odo menunggu reaksinya.


 


 


“Saya bukan gadis itu, jangan samakan saya dengannya,” ucap Fiola.


 


 


“Hmm, benar juga .... Jadi, kenapa Mbak Fiola datang ke sini? Bahkan ... sampai tidak menggunakan sihir transformasi .... Pakai kimono terbuka seperi itu lagi.”


 


 


“Tuan Odo tak perlu pura-pura tidak tahu, tentu saja karena Julia itu melapor ke Nyonya dengan sangat cemas. Haah, padahal dia sudah diberikan kewajiban, tetapi malah ditinggalkan.”


 


 


Odo dan Fiola terdiam, kedua orang itu tidak bisa menemukan bahan pembicaraan lain. Meski Fiola bisa saja menanyakan apa yang sudah terjadi pada anak itu, tetapi insting Huli Jing tersebut membuatnya terdiam. Ia merasa ada sesuatu yang tidak boleh diketahui dari anak majikannya itu, bahaya seakan terpancar darinya.


 


 


“Mbak Fiola ..., tidak tanya padaku, ya ....”


 


 


“Hmm, saya tidak akan bertanya. Kalau Tuan Odo tidak ingin menceritakannya, saya tak akan bertanya.”


 


 


“Terima kasih ....”


 


 


“Hmm ....”


 


 


Hubungan di antara Fiola dan Odo memang tidak sedekat seperti anak itu dengan Julia. Odo sendiri tidak terlalu membenci Huli Jing tersebut, tetapi dalam sudut pandang makhluk berumur panjang itu keberadaan anak rambut hitam tersebut adalah keberadaan yang sedikit mengganggu. Tidak ada alasan lebih di dalamnya, Fiola tak terlalu suka pada Odo karena Mavis terlalu sering memikirkan anaknya itu dan sering kali terlihat sedih.


 


 


««»»


 


 


Hari sudah benar-benar malam, tirai hitam tanpa bintang menghiasi langit. Sebagai ganti gugusan, bentangan aurora warna-warni mengisi langit kediaman Keluarga Luke. Odo kembali setelah dirinya berbincang beberapa hal dengan Siska dan Lisiathus Mylta selaku pengganti Walikota sementara di Panti Asuhan Inkara.


 


 


Dalam pembicaraan, anak itu menjelakan beberapa hal seperti para nelayan yang dihasut oleh para pedagang dari Kerajaan Moloia yang ternyata adalah antek-antek untuk menyulut peperangan. Ia juga memberitahukan bahwa mereka merencanakan pembunuhan dan Nanra ikut dalam rencana tersebut.


 


 


Mengetahui hal itu, Siska sangat terpukul salah satu anak asuhnya ikut dalam rencana itu. Secara hukum memang Nanra harus diberikan hukuman dan karena pada saat itu Lisia ada di Panti Asuhan, hukuman tidak bisa dihindari. Tetapi sebagai korban Odo meminta Lisia untuk tidak memberikan hukuman pada Nanra. Ia meminta Lisia untuk pura-pura tidak mendengar kalau gadis rambut putih itu ikut serta dalam fraksi revolusi kota yang terbentuk karena hasutan orang-orang Moloia.


 


 


Mendapat permintaan itu dari target pembunuhan dalam rencana mereka, Lisia tidak punya pilihan selain menurutinya. Itu keluar dari mulut seorang anak Marquess sekaligus rekan barunya, tentu saja perempuan rambut merah itu tidak bisa seenaknya menolak. Meski begitu, fakta kalau para nelayan dan penduduk yang membelot tidak ada yang selamat selain Nanra memang sangat berat untuk benar-benar menghapus nama Nanra dalam kasus. Pada akhirnya gadis itu pun posisinya berubah dari pelaku menjadi saksi untuk sementara.


 


 


Berdiri lemas dengan kemeja compang-camping penuh bercak darah, Odo menatap datar bangunan Mansion. Ia terdiam di tengah jalan antara taman dan kebun herbal, anak itu memasang wajah malas mengingat apa yang telah terjadi di Kota Pesisir.


 


 


Melihat langkah Odo terhenti, Fiola berbalik dan bertanya dengan nada heran, “Kenapa berhenti, Tuan Odo? Apa Anda takut dimarahi Nyonya Mavis? Kalau mau, apa saya saja yang memerikan alasan pada Nyonya?”


 


 


“Hmm, Mbak Fiola perhatian sekali. Tapi bukan soal itu .... Aku hanya memikirkan masalah penyerangan Kerajaan Moloia ....”


 


 


“Ahh ..., itu ya .... Tenang saja, saya akan memberitahukan itu pada Nyonya. Nanti itu akan disampaikan pada Tuan Dart, mereka pasti melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Lagi pula, Moloia pasti tidak akan langsung menyerang dalam waktu dekat. Ada hukum Perjanjian Keempat Negeri yang masih berlaku ..., selama ada itu mereka tidak akan terang-terangan menyerang.”


 


 


Odo sejenak menghela napas, memalingkan pandangan dengan resah. Huli Jing di hadapannya tidak paham apa yang sedang terjadi, dari sudut pandangannya peperangan memang tidaklah penting. Itu fakta, sosok berumur panjang seperti dirinya memang tidak peduli hal semacam itu. Apa yang ada dalam diri Fiola hanyalah keselamatan Mavis, dirinya sesungguhnya tak benar-benar peduli tentang masalah bangsawan, kewajiban, atau segala sesuatu yang membebani keluarga majikannya tersebut.


 


 


“Satu tahun ....”


 


 


“Hmm, satu tahun apa, Tuan Odo?”


 


 


“Mereka kurang lebih akan menyerang dalam satu tahun lagi. Kalau waktu sudah habis, peperangan akan benar-benar terjadi di penjuru negeri. Masa Perang Besar akan terulang kembali ....”


 


 


“Oh, begitu ....”


 


 


Fiola benar-benar tidak peduli hal tersebut. Meski dirinya tahu kekuatan Kerajaan Moloia adalah yang paling kuat dibanding negeri lain, tetapi dirinya tak merasa terbebani akan hal tersebut. “Itu bukan urusanku,” itulah yang ada dalam benaknya.


 


 


“Menyerang apa?” ucap seseorang dari arah Mansion. Saat Odo dan Fiola melihat ke sumber suara, terlihat Mavis keluar dari dalam bangunan dan berjalan di atas permukaan bersalju. Ia mengenakan jaket kulit tebal, gaun abu-abu panjang dan sepatu bot hangat.


 


 


Melihat Odo hanya mengenakan pakaian tipis dan compang-camping, segera Mavis memberikan jaket hangat yang dikenakan kepada anaknya. “Kenapa kamu selalu membuat Bunda cemas, memangnya apa yang kamu lakukan sampai Julia melapor seperti itu,  Odo?” tanya wanita rambut pirang tersebut.


 


 


Memalingkan pandangan dengan malas, Odo menatap Fiola seakan meminta Huli Jing tersebut untuk memberikan alasan yang tepat. Fiola memalingkan wajahnya, menelantarkan Odo yang meminta bantuan.


 


 


“Sialan nih Rubah. Besar mulut doang ternyata ...,”  benak Odo.


 


 


Menatap ibunya, Odo balik bertanya, “Apa Mbak Julia tidak menjelaskan sesuatu?”


 


 


“Dia hanya bilang kalau militer Kerajaan Moloia menyerang dan merencanakan pembunuhanmu, Nak. Tapi saat melihatmu baik-baik saja, mungkin memang benar kata Fiola kalau itu hanya Julia yang berlebihan. Mana mungkin Kerajaan itu melanggar Perjanjian Keempat Negeri dan menyera—”


 


 


Sebelum Mavis menyelesaikan perkataannya, Odo mengambil bola peluru dari saku celana dan menunjukkannya pada ibunya. Wanita itu terbelalak, ia paham benda seperti itu adalah salah satu komponen dari senjata yang digunakan oleh Kerajaan Moloia.


 


 


Selama masa perjanjian, sering ada pembagian informasi mengenai kemajuan tiap negeri setiap beberapa tahun sekali dan itu dibahas dalam rapat para petinggi Konferensi Keempat Negeri. Mavis sangat kenal senjata itu dan dirinya paham itu sangatlah mematikan.


 


 


“Itu ... peluru senapan?” ucap Mavis cemas.


 


 


“Hmm, ini peluru senapan lontak.”


 


 


“Jangan bilang bercak darah yang ada pada pakaianmu itu ....”


 


 


“Karena tembakkan.”


 


 


“A-A .... Odo! Apa kamu sungguh baik-baik saja?! Itu senapan, orang bisa langsung mati kalau dadanya tertembak!” ucap Mavis dengan panik. Ia segera melepas jaket Odo, lalu memeriksa tubuh anaknya dengan teliti.


 


 


“Tenang saja .... Satu atau dua tembakkan tidak akan membunuhku. Apa Bunda lupa? Aku pernah mengalahkan Naga, mana mungkin senapan bisa membunuhku.”


 


 


“Bukan itu ....” Mavis memegang kedua pundak Odo dengan erat, lalu berkata, “Senjata itu tidak bisa dideteksi dengan sihir .... Kalau hanya senjata normal seperti panah atau katapel besi itu tidak masalah, tapi ... kekuatan senjata itu berbahaya. Bahkan petani saja bisa membunuh prajurit terlatih dengan itu ....”


 


 


“Hmm, aku paham .... Aku melihatnya langsung, merasakannya langsung. Itu memang berbahaya, karena itu ... aku ingin Bunda segera membuat laporan soal ini ke Ayah di Ibukota. Mereka ... benar-benar berniat berperang.”


 


 


“Kalau laporan soal penyerangan Moloia, Bunda akan membuatnya nanti! Yang penting kami harus dirawat dulu, kamu terluka, ‘kan?” ucap Mavis panik.


 


 


“Aku sudah sembuh, sihir Instan Regen sudah memulihkan lukaku?”


 


 


“Instan Regen?”


 


 


Julia terkejut mendengar itu. “AH ....” Odo baru sadar kalau dirinya keceplosan hal yang tidak perlu. Sedikit memalingkan pandangan, anak itu berkata, “Y-Ya .... Sihir Pemulihan Otomatis dengan menyimpan informasi data tubuh, lalu menggunakan Mana untuk struktur sihir pemulihan dan memulihkan kondisi tubuh ke awal data informasi yang disimpan.”


 


 


“Kamu ... benar-benar bisa menggunakan itu, nak? Sihir yang Master Aster pakai .... Dari mana kamu belajar itu?” tanya Mavis keget.


 


 


“Buku ..., di perpustakaan ada bukunya.”


 


 


“Belajar autodidak?”


 


 


“Hmm, hampir semua sihir yang aku kuasai dengan autodidak. Hanya beberapa dasarnya saja aku tanya sama Vil, dan kalau ada yang ada yang gak tahu juga aku tanya sama dia. Bunda tak pernah mengajari sihir secara langsung, sih.”


 


 


Mavis benar-benar terkejut mendengar itu. Ia paham kalau potensi anaknya memang sangat tinggi, ditambah lagi kemauan dan tingkat perkembangannya. Tetapi selain rasa bangga dan senang dalam benaknya memiliki anak yang berbakat, pada saat yang sama rasa takut dalam benak yang sudah lama terlupakan mulai timbul kembali.


 


 


Mavis kembali bagaimana dirinya bisa mendapatkan seorang anak setelah rahimnya rusak. Memang cara yang digunakan tidaklah buruk dengan menggunakan tongkat khusus milik Vil yang didapat dari hasil kontrak Roh Agung, tetapi yang memberikannya saran dan informasi soal itu adalah sumber yang bermasalah.


 


 


“Hmm, kenapa, Bunda?”


 


 


“Eh ...? Ah, tak apa. Hanya saja, apa kamu benar-benar bisa menggunakan itu? Kalau tidak salah, efek sihir Instan Regen itu memengaruhi tubuh.”


 


 


“Hmm, tubuhku efeknya. Bunda lihat kalau aku bongsor, ‘kan?”


 


 


“Ah, jadi efeknya berbeda-beda. Setahuku, Master Aster menjadi tidak bisa tumbuh lagi tubuhnya setelah menanamkan sihir itu.”


 


 


Sekilas Odo sadar ekspresi yang nampak pada wajah ibunya itu adalah rasa takut. Tetapi, dirinya tak tahu itu takut kepada apa. Berusaha tidak terlalu memikirkannya, anak itu bertanya hal lain, “Bunda, kalau Mbak Julia sih di mana? Kok tidak terlihat ....”


 


 


“Ah ..., soal Julia ....” Mavis memalingkan wajahnya dan sedikit terlihat enggan menjawab langsung.


 


 


“Hmm?”


 


 


.


.


.


.


 


 


Di ruang dapur dalam Mansion, Julia meringkuk di pojok dengan tumpukan pakaian yang baru saja dikeringkan di dekat perapian. Melihatnya seperti itu Odo benar-benar merasa kalau Julia sangat mirip seperti anak kucing yang ditelantarkan.


 


 


“Yah, dia ras kucing sih, sikapnya seperti itu wajar?” benak Odo.


 


 


 


 


“Sifatnya sangat bertolak belakang dengan Fiola, ya. Dia terlalu memikirkan kewajiban. Meski memang benar wewenang yang didapat Shieal cukup besar, tapi tak perlu sampai tertekan seperti ini,” benak Odo seraya sedikit menghela napas.


 


 


Anak itu berjongkok di hadapan gadis kucing itu, lalu mengulurkan tangannya seraya berkata, “Kenapa meringkuk? Sebelumnya aku minta sama Mbak untuk menyampaikan soal itu pada Bunda, ‘kan? Mbak Julia tak perlu khawatir .... Mbak Julia memenuhi permintaanku dengan membawa Nanra ke panti asuhan dan melapor ke Mansion, jadi jangan meringkuk seperti itu.”


 


 


“Ta-Tapi ....! Sebagai seorang Shieal saya malah meninggalkan Anda .... Sejenak saya merasa takut di dekat Anda. Padahal saya ... sudah ada di sana, tapi tetap saja tidak bisa menolong Anda. Saya merasa seperti tidak ada gunanya ....”


 


 


“Aku tidak selemah itu untuk ditolong oleh Mbak Julia, membantu sedikit saja sudah cukup,” ucap Odo seraya tersenyum ringan.


 


 


Berhenti mengulurkan tangan dan bangun, anak itu sedikit menghela napas ringan. Mengambil kemeja yang berserakan di sekitar gadis kucing itu, Odo menatap datar Julia dan berkata, “Dari pada merasa bersalah terus, bisa Mbak Julia membantuku sebentar?”


 


 


“Membantu ...?”


 


 


“Hmm, aku sudah mendapat izin usaha dan membeli tanah di Kota Pesisir. Setelah urusan-urusan lain selesai, pembangunan akan dimulai musim semi ini. Sebelum itu, aku ingin mengumpulkan bahan bangunan, lalu mencari pandai besi dan pengrajin kayu.”


 


 


“Eh?”


 


 


Julia kebingungan mendengar itu, dirinya sama sekali tidak paham mengapa Odo bisa berkata seperti itu setelah apa yang terjadi. Bangun dan mengusap matanya yang berkaca-kaca, ia pun bertanya, “Memangnya apa yang ingin Anda lakukan? Padahal ... kejadian seperti itu baru saja terjadi ....”


 


 


“Jangan cemas, aku baik-baik saja seperti yang Mbak Julia lihat.”


 


 


“Ta-Tapi ....”


 


 


“Jangan tapi-tapian, ayo ikut .... Masih banyak yang harus dilakukan,” ucap Odo seraya berbalik dan berjalan keluar dari ruang.


 


 


Melihat anak itu bertingkah layaknya tidak ada hal heboh yang terjadi, Julia benar-benar kebingungan. Dirinya mempertanyakan kembali tingkat kewajaran anak itu. Segera mengusap air mata yang tipis mengali, ia pun berjalan mengikuti majikannya itu.


 


 


Imania yang berada di dekat peramian kebingungan melihat percakapan dua orang itu, keberadaan gadis rambut abu-abu itu benar-benar diacuhkan seperti udara. Meletakkan kain yang baru selesai dikeringkan, ia menghela napas kecil setelah lepas dari suasana yang mengisi ruangan.


 


 


««»»


 


 


Dua hari kemudian. Meski matahari sudah terbit dan waktu sudah mulai siang, di luar awan mendung masih belum hilang sepenuhnya dan membuat langit berwarna monokrom dengan butiran salju yang masih turun. Pada kamarnya sendiri, Odo duduk di depan meja seraya membuat beberapa catatan tentang daftar dana untuk pembangunan kantor usahanya.


 


 


Sudah hampir dua hari penuh dirinya berdiam di kamar tanpa keluar atau istirahat, ia terus mengurus kertas-kertas yang akan digunakan nantinya sebagai Record Retention Schedule yang akan digunakan sebagai kebijakan perusahaan yang akan dibuat. Dalam dua hari itu juga Odo telah membuat sebuah daftar tentang gambaran apa saja yang akan dilakukan untuk memulihkan kota dan mencegah ketidakpuasan penduduk yang menyebabkan kejadian pembelotan seperti sebelumnya.


 


 


“Akh, kapan selesai .... Membuat seperti ini secara manual memang menyusahkan,” keluh Odo seraya meletakkan pena bulu dan penggaris kayu ke atas meja. Meregangkan kedua tangan ke samping, ia duduk menyangga kepala sejenak dan memikirkan hal lain.


 


 


“Pasti Nanra sekarang tambah dikucilkan di panti asuhan. Dari awal anak itu memang bermasalah, kenapa juga harus ikut dengan pembelot. Aku tahu kalau dia membenci bangsawan, tapi kenapa tidak dipikir dulu sebelum bertindak ....”


 


 


“Sedang melamuni apa, Tuan Odo?” tanya Julia yang datang membawa secangkir teh herbal.


 


 


“Eh, Mbak Julia? Sejak kapan?” ucap anak rambut hitam itu dengan bingung. Menatap datar gadis berseragam pelayan itu, Odo benar-benar tidak menyadarinya sebelum Julia berbicara.


 


 


“Sejak tadi. Anda tidak mendengar saya membuka pintu. Lagi pula, posisi meja anda bisa dengan mudah lihat orang yang masuk,  ‘kan?” ucap Julia.


 


 


“Ah, aku benar-benar melamun, ya. Entah mengapa belakangan ini aku seperti itu .... Kenapa bisa begitu, ya?”


 


 


“Mungkin Anda kurang istirahat. Ini ..., paling tidak minum teh herbal untuk menyegarkan anda kembali,” ucap gadis Nekomata itu seraya menaruh cangkir teh ke atas meja.


 


 


“Terima kasih.”


 


 


Odo tidak langsung meminum teh itu, ia duduk menghadap Julia dan mengamatinya. Ekspresi bersalah yang belakangan nampak pada gadis kucing itu sudah tidak terlihat lagi, menyadari itu Odo tersenyum ringan.


 


 


“Ke-Kenapa Anda tersenyum?” Julia menatap sedikit takut.


 


 


“Tak apa. Hanya saja ..., aku lega Mbak Julia tidak cemberut lagi.”


 


 


Wajah Julia berubah memerah, ekornya bergerak meriah dan ia pun memalingkan wajah. “Ke-Kenapa sih Anda! Jangan gombal, iih!” ucapnya dengan malu-malu.


 


 


“Wow, Real malu-malu kucing,” benak Odo.


 


 


Mengambil salah satu kertas perkamen dari atas meja, sejenak Odo mengamatinya dan kembali menatap Julia. “Apa salah satu permintaanku sudah selesai, Mbak Julia?” tanyanya dengan serius.


 


 


“Eh ..., ah. Soal pandai besi yang anda minta kemarin? Saya sudah menyerahkan rancangan itu kepada pandai besi yang saya kenal di Kota Pesisir. Sepertinya ..., mungkin akan selesai seminggu lagi.”


 


 


“Hmm, terima kasih.”


 


 


Odo mencentang sesuatu dalam kertas perkamen, lalu menggulungnya dan memasukan itu ke dalam Gelang Dimensi. Bangun dari tempat duduk, anak itu meminum teh herbal dengan sekali tenggak dan mulai merapikan perkakasnya di atas meja. Saat Julia hendak membantunya, Odo memukul tangan gadis itu dan menghentikannya.


 


 


“Tuan Odo ....”


 


 


“Gak usah, biar aku saja.”


 


 


“Uuuhh~!” Julia sedikit terpukul karena tugasnya sebagai seorang pelayan dibantah oleh tuannya sendiri.


 


 


Sebagai ganti tidak membereskan meja Odo, gadis Nekomata itu membersihkan tempat tidur dan lantai kamar. Karena memang itu semua tidak terlalu kotor, Julia sama sekali tidak merasa berguna dan masih merasa tidak nyaman.


 


 


Keluar dari kamar, anak yang selalu terlihat mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam itu membawa kotak hitam di tangannya. Kotak besi sebesar kepalan tangan itu adalah alat yang diberikan oleh salah satu A.I dari Kerajaan Moloia kemarin lusa saat insiden di pelabuhan.


 


 


Meskipun Odo menyempatkan diri untuk memeriksa benda tersebut, dirinya sama sekali belum mengetahui cara gunanya. Dirinya hanya tahu kalau benda itu adalah alat komunikasi, tetapi tak paham konsep komunikasinya seperti apa.


 


 


Berjalan menyusuri lorong dan sampai ke teras, akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang kerja yang sekarang dipakai untuk menghitung pembayaran hutang wilayah oleh Mavis dan Fiola. Membuka pintu tanpa mengetuk, anak itu langsung melihat ibunya dan Fiola sedang bekerja dengan tumpukan dokumen yang ada.


 


 


“Hmm, Odo? Ada apa datang ke sini? Sudah kangen Bunda lagi?” ucap Mavis ceria.


 


 


Mendengar cara bicara ibunya yang tidak biasa, alis Odo berkedut. Wajahnya terlihat enggan dan sedikit heran mendengar orang yang sudah berumur berkata dengan nada seperti gadis remaja seperti itu. Memang benar kalau Mavis awet muda dan masih terlihat masih cantik, tetapi mendengar cara bicara itu dari ibunya sendiri membuat Odo merasa sedikit aneh.


 


 


“Eh? Kenapa ekspresi wajah kamu seperti itu? Bunda pikir itu menarik, anak-anak remaja kalau bicara seperti itu, ‘kan?”


 


 


“Siapa yang bilang seperti itu?”


 


 


“Fiola.”


 


 


“Hmm ....”


 


 


Odo menatap datar Huli Jing yang duduk di sofa itu dengan tajam. Fiola lekas memalingkan pandangan, bersiul kecil dan pura-pura tidak mendengar pembicaraan.


 


 


“Anak remaja tidak bicara seperti. Lagi pula, aku juga belum sepenuhnya remaja,” ucap Odo seraya berjalan masuk dan duduk di sofa berhadapan dengan Fiola. Julia mengikuti anak itu setelah menutup pintu, lalu berdiri di belakang sofa anak itu duduk.


 


 


“Begitu, ya .... Bunda pikir itu sedang populer ....”


 


 


“Ngomong-omong, apa Bunda sudah membuat surat laporan untuk Ayah soal masalah itu?” tanya Odo.


 


 


“Hmm, sudah. Surat tentang laporan penyerangan dan rencana pembunuhan sudah dikirim ke ibukota. Linkaron dan Xua Lin sudah bunda perintahkan untuk mengirim surat. Tapi, sepertinya mereka baru sampai di Ibukota besok nanti. Drake yang mereka naiki kondisinya tidak prima, kemungkinan besar akan sedikit lama.”


 


 


“Bunda, asal sudah dikirim itu tidak masalah,” ucap Odo seraya meletakkan kotak kubus hitam ke atas meja.


 


 


Melihat apa yang dibawa Odo itu, Fiola dan Mavis terlihat bingung. Julia yang dari tadi menyadari benda itu pun mulai penasaran kembali. Saat Fiola hendak mengambil benda itu, Odo memukul tangannya dengan keras.


 


 


“Jangan sentuh!”


 


 


“Eh ...?” Huli Jing itu gemetar mendapat bentakkan tanpa perasaan itu.


 


 


“Apa itu, anakku?” tanya Mavis.


 


 


“Aku juga tidak tahu, Bunda. Ini saya dapat dari salah satu orang Moloia. Aku ma—!”


 


 


Sebelum Odo  menyelesaikan perkataannya, Mavis langsung meloncat dari balik meja kerja dan langsung menarik tubuh anaknya itu dari tempat duduk. Fiola langsung mengambil kubus itu dan melemparkannya jauh-jauh ke sudut ruang, sedangkan Julia lekas membalik meja dan menjadikannya sebuah tameng untuk mereka berlindung.


 


 


“Eh?” Odo kebingungan melihat apa yang dilakukan mereka dengan sangat cepat. “Kenapa sembunyi?” tanya anak itu bingung.


 


 


“Apa kamu tidak tahu! Benda-benda Kerajaan Moloia itu kebanyakan meledak! Padahal baru saja ada kasus percobaan pembunuhan, kenapa kamu bikin cemas melulu!” ucap Fiola tegas.


 


 


“Sudah, Fiola ....” Mavis mengintip dari balik meja yang dijadikan tameng. Mengikutinya, dua orang lainnya juga mengintip dengan rasa takut.


 


 


“Kenapa kalian, mana mungkin benda itu meledak.”


 


 


Odo langsung bangun dan berhenti bersembunyi seperti orang bodoh. Mengambil kembali kotak hitam itu, ia menatap mereka yang masih bersembunyi di balik meja dan hanya terlihat bagian hidung ke atas.


 


 


“Kenapa Bunda takut sekali dengan benda-benda dari Moloia? Memangnya ada apa?” tanya Odo.


 


 


“Teknologi yang mereka gunakan menggunakan dasar sains dan mesin. Kamu tahu, putraku. Semua penyihir benci mesin, bahkan hampir seluruh penduduk Miquator tidak suka alat-alat dari kerajaan Moloia selain mesin ketik.”


 


 


“Ah, terserahlah. Kalau Bunda dan Fiola tidak tahu benda ini, aku pergi dulu.”


 


 


“Tunggu Odo! Nak ..., kalau mau pergi letakkan dulu itu. Kami akan membuangnya.”


 


 


Mendengar itu Odo hanya menatap datar mereka. Ia mulai paham kebencian ibunya itu kepada mesin buatan Kerajaan Moloia sangat jelas. Di dunia yang hampir semuanya memiliki unsur sihir memang alat-alat seperti itu sangat terasa janggal, terutama senjata jarak jauh yang tidak bisa dideteksi keberadaannya oleh Penyihir Cahaya seperi Mavis sekalipun. Odo memahami rasa takut itu, dirinya juga akan merasakan hal yang sama jika tidak tahu menahu soal senapan dan semacamnya.


 


 


“Rasa takut atas ketidaktahuan, ya. Ternyata ibu punya hal seperti itu juga,” benak Odo seraya tersenyum kecil. Sedikit memiringkan kepala, ia berkata, “Ogah.”


 


 


Anak itu pun kabur membawa alat kubus itu bersamanya. Fiola dan Julia sempat mengejarnya sampai mengitari Mansion beberapa kali. Tetapi karena ditakuti dan diancam akan melemparkan alat itu ke arah mereka, pada akhirnya kedua orang itu menyerah dan berhenti mengejar.