Re:START/If {Book 1.0}

Re:START/If {Book 1.0}
Chapter 24: Tahun baru bisa menjadi awal baru lainnya (Part 02)



|Author POV|


Hari telah berganti, begitu pula lembaran hari baru di awal tahun dimulai. Di dalam kamarnya, Odo Luke masih sibuk menulis surat resmi. Waktu yang dibutuhkan lebih banyak dari yang diperkirakannya, menulis sebuah surat dengan kata-kata yang bisa memikat masing-masing pihak instansi yang dituju tidak semudah yang dikira anak rambut hitam tersebut.


“Akh, pusing juga ternyata bikin surat kayak gini ....”


Selesai menulis surat terakhir yang dirinya butuhkan, Odo meletakkan pena dan menutup wadah mangsi. Memasukkan semua itu ke dalam laci, ia mengambil tumpukkan surat yang selesai ditulis dan memasukkannya ke dalam Gelang Dimensi. Melepas kemeja kotor penuh noda tinta yang dikenakan, Odo melemparnya ke atas ranjang.


Ia berjalan ke arah lemari, lalu mengambil pakaian lain. “Ah, gak perlu mandi,” benaknya seraya mengenakan kemeja putih yang dirinya ambil. Alasan Odo tidak mandi bukan hanya malas, tetapi juga karena hawa dingin dari musim dingin yang masih berlangsung sampai bulan tiga atau empat ke depan di awal tahun.


Melakukan peregangan kaki dan tangan, anak itu merapikan rambut hitamnya dengan tangan. Mengambil kristal sihir api dari Gelang Dimensi, ia menyerap kandungannya sampai kristal sihir itu hancur menjadi abu. Metode itu semacam mengonsumsi suplemen bagi Odo, melakukan penyerapan vitalitas untuk kultivasi Inti Sihir secara bertahap tanpa harus selalu melakukan meditasi.


Setelah mengambil kemeja kotor dari atas ranjang, anak itu berjalan keluar kamar dan berniat menuju ruang belakang untuk meletakkannya ke tumpukan cucian. Tetapi saat baru saja keluar dari kamar, di depan pintu berdiri Julia yang telah terlihat rapi dengan seragamnya. Gadis pelayan itu memasang senyum ramah, menatap Odo dengan niat jelas menghadang tersiat dari sorot matanya.


Gadis kucing rambut perak itu menggerakkan kedua telinga kucingnya saat Odo memasang tatapan enggan. “Selamat pagi, Tuan. Pagi-pagi mau pergi ke mana, ya?” ucapnya seraya sedikit membungkuk hormat. Senyum perempuan itu jelas-jelas tersiat maksud lain, Odo menyadari itu dan membuatnya memasang wajah malas.


“Eng ..., ke belakang. Mau menaruh ini,” ucap anak itu seraya menunjukkan pakaian kotor di tangannya. “Kalau Mbak Julia ..., mau apa pagi-pagi begini? Ini ... baru pukul empat ... masih fajar,” lanjutnya seraya menyerahkan pakaian kotor kepada Julia.


“Ya, sudah kuduga anda bangun waktu fajar seperti ini, Minda memberitahukannya pada saya,” ucap Julia seraya menerima pakaian kotor itu, lalu tersenyum simpul dan terlihat seakan menyembunyikan rasa marahnya.


Itu menakutkan bagi Odo, senyuman tersiat itu membuat insting anak itu sedikit menegang. Menghela napas ringan, anak rambut hitam itu mulai berjalan di lorong seraya berkata, “Kalau begitu, ayo! Kita ke ruang belakang dulu, habis itu jalan-jalan keluar ...”


“Jalan-jalan keluar?”


Julai terlihat bingung mendengar itu. Tetapi saat memikirkan kembali perkataan tersebut, gadis kucing itu paham apa yang anak itu maksud jalan-jalan. Dengan senyum ringan, Julia mengikuti Odo untuk pergi meletakkan pakaian kotor di tangannya.


Saat itu Julia lupa untuk melongok ke kamar majikannya dan memastikan apa lagi yang anak itu lakukan semalaman. Tepat di kamar Odo sebenarnya tidak ada yang aneh, kecuali beberapa lembaran kertas perkamen dengan lingkaran sihir dan struktur sihir yang bisa dikatakan sangat rumit. Itu adalah hasil dari penelitian yang Odo selingi selama membuat surat resmi semalaman.


.


.


.


Selesai meletakkan pakaian kotor di ruang belakang untuk dicuci oleh Imania yang bertugas hari itu, Julia dan Odo pergi ke halaman depan. Berjalan melewati teras samping, sesaat anak itu menghentikan langkah kaki dan berbalik ke belakang.


Julia yang mengikuti juga terhenti langkah kakinya, terkejut anak berbadan bongsor itu memberikan tatapan tajam yang tidak biasa. “A-Ada apa, Tuan Odo? Kenapa tiba-tiba anda menatap seperti itu,” ucapnya dengan sedikit panik. Tatapan Odo seperti seekor monster buas yang sedang mengintai mangsanya, terasa tajam dan dalam.


“Kenapa Mbak Julia mengikutiku terus? Kalau Mbak Julia ingin membatasiku, aku lama-lama bisa marah, loh .... Waktunya sudah tinggal ....” Odo memalingkan pandangan dan menghentikan perkataan, tatapannya seperti sedang kesulitan dan terburu-buru.


“Memangnya ada apa, Tuan Odo?”


“Waktunya sangat terbatas,” ucap anak itu seraya menatap sendu Julia. “Apa Mbak Julia dengar kabar kematian Ratu?” tanya anak itu seraya sedikit menghela napas.


“Ya ..., saya tahu itu dari Fiola.” Julia menunduk, sedikit memasang wajah murung dan berkata, “Sangat disayangkan beliau meninggal di usia yang masih muda .... Ratu Dalia adalah orang yang sangat baik, tidak saya sangka beliau pergi secepat ini.”


Odo sesaat terdiam saat mendengar Julia mengatakan itu dengan wajah sedih. Seseorang yang meninggal dalam usia kisaran lebih dari empat puluh tahunan memang bisa dikatakan mati muda, memahami itu ada sedikit yang membuat anak itu penasaran. “Apa Mbak Julia dekat dengan Ratu?” tanya Odo seraya membuang tatapan tajam.


“Tidak juga .... Saya hanya pernah berbicara dengannya beberapa kali saat Tuan Dart dan Nyonya Mavis masih berada di Istana Keluarga Kerajaan Felixia.”


“Ah, jadi itu alasan surat pensiun Ayah dan Ibu bersumber dari Ibukota, ya,” benak Odo saat mendengar hal tersebut.


Kembali berbalik ke depan, anak itu berkata, “Kematian Ratu bisa mengakibatkan keseimbangan politik Kerajaan Felixia goyah. Meski negeri ini sudah memiliki Pangeran dan Tuan Putri sebagai pewaris Tahta, tetapi konflik pasti terjadi karena Tuan Putri masih belum cukup umur ....” Odo kembali berjalan, begitu juga Julia yang mengikutinya.


“Maksud anda soal perselisihan politik yang mungkin akan terjadi seperti saat Raja Gaiel akan menjadi Raja beberapa puluh tahun lalu? Kalau tidak salah, karena calon yang paling kuat adalah Raja Gaiel jadinya tidak ada yang protes. Tapi ....”


“Di belakang memang ada perselisihan yang panas,” sambung Odo.


Julia mengangguk. Benar seperti perkataan anak rambut hitam tersebut, secara putih di atas hitam memang tidak ada informasi yang secara terang memperlihatkan perselisihan serta pertempuran. Tetapi dalam pergerakan ekonomi dan penyebaran relasi antara para bangsawan, dengan jelas adanya sebuah perselisihan.


Pembatasan penjualan bahan pokok, penaikan paksa harga untuk pihak yang tidak sesuai dengan koalisi, dan berbagai macam hal lainnya dilakukan untuk saling menjatuhkan di mata pihak pengawas pemerintah kerajaan yang dipegang oleh Uskup Agung yang sekarang berpusat pengawasannya di Kota Miquator.


“Terus anda mau apa? Bukannya kalau sesuai adat Kerajaan, Tuan Putri akan menjadi Ratu selanjutnya saat usianya sudah siap. Terlebih lagi, sekarang Raja Gaiel masih menduduki tahta,” ucap Julia seraya mempercepat langkah kakinya dan berjalan di samping Odo.


“Memangnya siapa saja yang setuju tentang itu? Bukannya negeri ini kekuasaan tertingginya ada di tangan Ratu? Saat Ratu telah tiada, otomatis wewenang Raja yang didapat dari Ratu akan runtuh. Itu bisa mengakibatkan para bangsawan mulai beringas untuk mendapatkan Tuan Putri ..., karena dengan itu pasti keluarga mereka pasti akan menjadi Raja selanjutnya kalau bisa menikahinya.”


Langkah kaki Julia terhenti saat mendengar itu, wajahnya terbelalak menatap Odo. Menyadari gadis itu terkejut, anak rambut hitam itu terhenti seraya bertanya, “Ada apa?”


“Jangan-jangan ... Anda ingin menikahi Tuan Putri?!”


Odo merasa menyesal serius menunggu jawaban Julia, tatapan anak itu berubah datar dan terlihat tidak peduli. “Malas amat melakukan hal menyebalkan seperti itu .... Aku masih anak-anak, Mbak Julia .... Lagi pula, kalau mau menikah aku ingin dengan orang yang aku cintai .... Bukan karena hal kotor seperti politik.”


Anak itu kembali melangkahkan kakinya ke depan. Julia yang sekilas melihat ekspresi Odo sempat terkejut, anak itu benar-benar memperlihatkan wajah tidak puas akan sesuatu dan juga rasa kesal.


Kembali berjalan mengikuti anak itu, Julia bertanya, “Sekarang anda mau ke mana memangnya? Jangan bilang kalau pergi ke Ibukota dan melakukan sesuatu untuk mencegah perselisihan yang mungkin terjadi dalam sekala nasional itu?”


“Tentu saja tidak, aku mau pergi ke kota pesisir. Ah, nama resminya Kota Mylta, ya ....”


Mulut Julia sesaat tertutup rapat sampai bibirnya masuk saat mendengar itu, perasaan tidak enak mulai terasa dalam benaknya. Saat sampai di halaman depan, langkah kaki Odo terhenti dan ia berbalik melihat gadis kucing tersebut. Menatap tajam di bawah butiran salju yang turun dengan pelan, anak itu bertanya, “Mau ikut?”


“Eh, boleh?” Wajah terangkat, mulut gadis kucing itu sedikit terbuka dengan ekspresi ceria yang jelas terlihat pada dirinya.


“Tentu saja .... Tapi, pertama-tama ganti baju dulu. Kalau aku datang ke kota membawa Mbak Julia dengan pakaian pelayan seperti itu, pasti itu akan menarik perhatian orang-orang di sana.”


Wajah Julia langsung berseri, dirinya benar-benar tidak menyangka anak rambut hitam itu akan menjadi lebih terbuka kepadanya seperti itu. Berputar sekali dengan kaki kanan sebagai tumpuan, gadis kucing rambut keperakan itu berkata, “Tunggu saya, ya! Tuan Odo, saya mau ke belakang dulu dan kembali dengan pakaian terbaik ....”


“Ah ..., apa Mbak Julia mendengarkanku? Nanti bisa menarik perhatian ..., pakai saja yang biasa. Kemeja atau apalah ..., tak usah yang megah-megah ....”


“Eeeh!?” Wajah Julia langsung terlihat kecewa, telinganya lemas dan ekornya bergerak gelisah. “Itu mah anda yang sering pakai kemeja terus, saya tidak punya kemeja. Pakaian selain seragam pelayan yang saya punya hanya jenis gaun atau blus,” lanjutnya seraya menatap memelas.


“Ah, terserah .... Cepatlah, sudah aku bilang kalau waktunya terbatas, Mbak Julia.”


“Ya, ya!” ucap gadis itu dengan ceria. Melihat tingkat laku Julia, Odo benar-benar tidak percaya kalau perempuan itu usianya sudah lebih dari setengah abad. “Padahal lebih tua dari Ayah dan Ibu, tapi sikap Mbak Julia masih ...,” benak Odo seraya sedikit menghela napas.


Saat Julia pergi ke dalam Mansion untuk mengganti pakaiannya, Odo berjalan ke arah bangku taman dan duduk dengan lemas. Tubuhnya sedikit menggigil saat merasakan dinginnya bangku tersebut. Sejenak memejamkan mata, anak itu sekilas memikirkan kembali rencananya. Dalam benak dirinya memang tidak ingin melakukan hal-hal menyusahkan seperti itu, tetapi dirinya sendiri sadar kalau semua itu harus dilakukan demi bisa bertahan dan melindungi apa yang dirinya miliki sekarang.


“Semuanya serasa menyusahkan, aku ingin tetap berada di perpustakaan dan membaca buku sepuasnya atau tiduran ....”


Meski mengeluh seperti itu dalam benak, Odo selalu melakukan hal yang berlainan dengan yang dirinya ingin. Entah itu melakukan ekspedisi atau apa yang akan dilakukannya sekarang, anak itu tidak benar-benar ingin dari lubuk hatinya untuk melakukan semua hal tersebut.


Tidak lama kemudian, suara riang Julia terdengar, “Maaf lama menunggu, Tuan Muda!” Odo membuka mata, melirik datar ke arah sumber suara tersebut.


Perempuan rambut perak itu mengenakan blus merah gelap yang memiliki renda pada bagian lengan yang mengembang, dan sekitar leher. Pada bawahan, Ia mengenakan celana ketak panjang sampai lutut yang dirangkap dengan rok pendek berwarna sama dengan atasan.


Sekilas Odo terpana saat melihat penampilan Julia yang berbeda, dirinya kembali sadar kalau perempuan rambut perak itu memang sangatlah cantik. Karena Odo telah lama bersama dengannya, ia sempat melupakan kalau Julia memang sangat memikat lebih dari yang dirinya pahami.


Sedikit menarik napas dan memejamkan mata, anak itu bergumam, “Delete.”


“Hmm, apa anda bilang sesuatu, Tuan Odo? Bagaimana? Apa ada komentar dengan penampilanku ini?” Julia berputar, memamerkan penampilan dari depan dan belakang. Ekornya melengkung, membentuk tanda tanya saat melihat yang Odo hanya memasang tatapan datar.


“Hmm, hmm, kurasa ... lumayan.”


Itu sama sekali tidak terdengar seperti pujian. Tanpa berkata apa-apa, anak itu bangun dari tempat duduk dan mengeringkan celananya yang basah karena lelehan salju dengan sihir pengatur suhu. Berbalik dengan tatapan datar, Odo mulai berjalan ke arah gerbang utama tanpa memberikan komentar lain pada penampilan Julia.


“Aku akan lari, jangan sampai ketinggalan, ya .... Mbak Julia juga bisa lari dengan pakaian seperti itu, ‘kan?”


“Eeh? Lari? Tidak pakai kereta?” tanya bingung perempuan itu sampai alisnya berkedut.


“Ah  .... Sudah kuduga bakal begini ....”


Odo berjalan mendekati Julia, lalu menatap perempuan itu dengan malas dari dekat. Memegang tangan kanan gadis kucing tersebut, Ia mulai meningkatkan tekanan sihirnya dan mengaktifkan sihir atribut petir.


“Halilintar ..., itu adalah bagian dari komponen dunia, cuaca yang diselimuti awan. Diriku dan tubuhnya adalah bagian dari dunia, tubuh kami serahkan pada petir yang menyatu dengan langit. Selimitlah kami dengan kehendaknya .....”


Dari Odo mengalir petir ke tubuh Julia. Petir biru menyelimuti mereka dengan cepat, bersinar terang dan melelehkan salju yang jatuh ke arah mereka. Merasakan hangatnya petir tersebut, sekilas wajah Julia merona saat tubuhnya terbalut sihir milik Odo.


“Ini sihir peningkatan kecepatan, seharusnya Mbak Julia bisa lari secepatku .... Yah, lebih mudah kalau pakai sihir pelontar, sih. Tapi ..., aku belum bisa membagi sihir itu secara terus menerus ....”


“Sihir pelontar? Membagi?” Julia benar-benar bingung, bidang sihir seperti itu benar bukan keahliannya.


“Sudahlah, ayo pergi .... Jangan sampai tertinggal, ya .... Jarak koneksi sihir ini bisa terbagi hanya sekitar 50 meter saja ....”


Odo berbalik, lalu pemanasan dengan sedikit meloncat-loncat kecil. “Ayo, Mbak Julia.” Tanpa berkata lagi, ia langsung berlari sangat cepat dengan tubuh berselimut petir biru. Dengan masih kebingungan, pada akhirnya Julia berlari mengikuti anak tersebut.


Pada saat itu, gadis kucing tersebut baru sadar betapa hebatnya sihir yang Odo bagi dengannya itu. Percepatan dari petir bukan hanya secara fisik, tetapi pikiran juga seakan dipercepat saat diselimuti sihir tersebut. Alasan hal itu bisa terjadi adalah karena elektron yang mengalir dalam tubuh merangsang sel-sel dan sensorik tubuh, itu juga yang membuat sihir tersebut bisa dibagikan ke orang lain.


“He-Hebat .... Sihir seperti ini sangat luar biasa. Kenapa Tuan Odo bisa menggunakan sihir serumit ini ....”


Saat berlari mengikuti Odo dari belakang dengan kecepatan tinggi dan melewati jalanan setapak yang ada, Julia benar-benar tidak merasa lelah atau semacamnya. Bahkan dirinya merasakan kedua kakinya sangat ringan dan pikirannya bekerja dengan sangat cepat mengikuti kinerja tubuh yang juga meningkat.


Setelah berlari selama beberapa menit melewati rute jalan setapak, mereka memutuskan untuk masuk ke daerah hutan dan perbukitan karena permintaan Odo yang ingin mempercepat perjalanan. Tidak butuh lebih dari satu jam dari Mansion, akhirnya mereka sampai di dekat Kota Pesisir yang seharusnya memerlukan waktu sampai dua jam lebih kalau perjalanan menggunakan Drake. Mereka berhenti beberapa meter dari gerbang masuk yang sepi dan petir yang menyelimuti tubuh menghilang.


Odo merogoh saku celana, lalu mengambil surat yang terbuat menggunakan kertas dengan stempel pemerintah kerajaan. Membukanya sekilas, anak itu memastikan tidak ada yang salah dengan apa yang tertera di dalam kertas tersebut.


“Tuan Muda ..., itu?” tanya Julia saat melihat Odo memeriksa surat tersebut.


“Oh, ini surat .... Memangnya apa lagi?”


“Kenapa .... bisa ada stempel resmi ... pemerintah? Jangan bilang ..., anda ....”


“Hmm, aku yang membuatnya.”


“Pe-Penipuan! Bisa-bisa anda kena hukuman kalau melakukan hal itu, tahu!”


Meletakkan jari telunjuk ke depan mulut, Odo berkata, “Kalau tidak ketahuan, itu bukan kejahatan. Itu logika umum, Mbak Julia.”


“Eeeeeh?!”


“Makannya kita komplotan, ya. Mbak Julia juga harus ikut campur, ya.”


“Eeeeeeeeeeeeh?!” Wajah gadis kucing itu benar-benar terbelalak.


Setelah itu, dengan menggunakan surat tersebut dan berpura-pura menjadi utusan dari pemerintah wilayah Luke, mereka masuk melalui gerbang utama Kota Mylta. Para penjaga yang melihat stempel resmi tidak bisa mencegah mereka, dan memang di antara penjaga ada yang telah mengenal Julia karena perempuan itu pada dasarnya memang terkenal di daerah sekitar Mansion.


Sebenarnya tidak ada alasan untuk Odo berpura-pura seperti itu untuk bisa masuk, pada dasarnya dirinya juga sudah terkenal karena kabar tentang Pembunuh Naga dan dirinya yang memang anak seorang Marquess yang menguasai wilayah itu sudah tersebar. Alasan Odo menggunakan surat tersebut untuk berpura-pura sebagai utusan pemerintahan Kerajaan Felixia hanya untuk memastikan apakah surat-surat lain berstempel itu berfungi wewenangnya atau tidak.


Masuk ke dalam kota pelabuhan tersebut, pemandangan putih dan danau buatan yang membeku di dekat balai menyambut mereka. Semua itu tidak jauh berbeda saat terakhir kali Odo datang ke tempat tersebut, hanya terlihat lebih tebal tumpulkan salju-salju di atas jalan dan atap bangunan karena tadi malam salju turun cukup lebat.


“Tuan sebenarnya mau ke mana? Kalau tidak salah, ada kabar juga kalau Tuan Odo sering mampir ke kota ini. Memangnya apa yang Tuan lakukan di sini?” tanya gadis kucing itu seraya menggerak-gerakkan ekornya. Ia terlihat gelisah, tangan kanannya menggenggam erat pergelengan tangan kirinya sendiri dan matanya melirik kanan-kiri.


Langkah kaki Odo terhenti, berbalik dan menatap datar Julia. “Kenapa Mbak Julia gelisah seperti itu? Memangnya mau disembelih atau apa?” tanya Odo datar.


“Eh? Sembe—! Bukan itu! .... Hanya saja saya kurang enak berjalan di kota seperti ini.”


“Bukannya Mbak Julia sering belanja mingguan untuk urusan dapur?”


“Itu ....” Julia memalingkan pandangan, lalu berkata, “Saya menyerahkannya pada Minda.”


Odo menatap datar mendengar itu. “Memang aneh, Mbak Julia ini .... Sekarang juga masih dingin, tapi Mbak malah pakaian baju minim seperti itu ....” Odo berbalik, lalu mulai kembali berjalan di atas jalan susunan batu yang tertutup salju. Kaki dengan alas sandal kulit saat berpijak menunggalkan jejak jelas karena salju meleleh, suhu yang terpancar dari anak itu seakan menyingkirkan hawa dingin yang menyerangnya.


“Kalau soal pakaian saya, kurasa tidak masalah. Saya sudah memasang sihir pemanas seperti yang dipasang pada mantel milik Tuan Muda.” Gadis itu ikut berjalan mengikuti. Odo hanya melirik datar mendengar itu, dirinya tidak heran karena memang Julia memiliki pengendalian atribut elemen api yang sangat tinggi.


“Kenapa waktu itu saat jatuh ke danau tidak gunakan saja sihir itu,” benak Odo seraya sekilas melirik ke belakang. Dirinya tidak mempermasalahkan hal semacam itu, pikirannya penuh dengan apa yang harus dilakukan sekarang.


Berjalan tidak lebih dari lima belas menit di dalam kota, akhirnya mereka sampai di depan Panti Asuhan Inkara. Berdiri di luar pagar bangunan berarsitektur Gothic itu, wajah Julia terlihat seperti kenal dengan tempat tersebut. Matanya sedikit terbuka lebar, seperti terbelalak dengan tempat yang ternyata dituju langkah kakinya itu.


“Apa Mbak Julia tahu tempat ini?”


“Hmm, kenal .... Ini .....”


“Kalau begitu, ayo masuk ....”


Odo membuka pintu pagar kayu, lalu melangkah masuk ke halaman tempat tersebut. Julia sempat ragu untuk ikut masuk, tetapi pada akhirnya ia tetap melangkah mengikuti anak laki-laki itu meski dalam benak dirinya merasa tidak tenang. Odo mengetuk pintu kayu panti asuhan, dan tidak lama seseorang dari dalam menjawab,  “Ya, sebentar ....!” Julia sedikit tersentak mendengar suara tersebut.


Pintu panti asuhan terbuka, sorot mata Julia langsung berpapasan dengan Siska yang membukakan pintu. Gadis kucing itu lekas memalingkan pandangan, seakan enggan menatap karena rasa bersalah dalam benaknya.


Odo menyadari gelagat Julia itu, tetapi dirinya tidak terlalu memedulikannya. Odo tahu apa yang terjadi di antara Siska dan Julia, itu adalah masalah perselisihan antara kedua orang tersebut saat mengikuti seleksi pengangkatan Keluarga Cabang Shieal yang diadakan Keluarga Luke.


“Yah, kalau saja Mbak Julia tidak direkomendasikan oleh Ayah, pasti Mbak Siska yang sekarang menjadi Shieal di Mansion .... Tingkat kompetensinya ..., lebih tinggi dari Mbak Julia, sih.”


Odo sedikit menghela napas seraya membayangkan yang mengasuh dirinya adalah Siska kalau hal yang dipikirkannya itu terjadi. Menatap biarawati berambut pirang tersebut, Odo bertanya, “Apa Mbak Siska sekarang senggang?” Perempuan berkulit pucat itu sedikit tersentak, lekas melihat ke arah Odo.


“Ya ..., senggang, kok. Tadi malam sudah upacara tahun baru di tempat peribadatan utama sudah selesai ....” Senyum yang nampak pada wajah Siska terlihat terpaksa, lirikan kesal benar-benar sekilas ia berikan pada Julia.


“Kalau yang lain, apa mereka ada di dalam?” tanya Odo tanpa memedulikan situasi tidak ramah di antara kedua orang tersebut.


“Eh ..., oh .... Kalau anak-anak ..., mereka masih tidur di kamar. Sekarang masih sangat pagi ..., Tuan Odo ....”


Mendengar itu, anak rambut itu baru sadar kalau Siska masih mengenakan piama putihnya dengan hiasan pita cokelat di sekitar leher. Menoleh ke belakang, anak itu baru benar-benar sadar kalau di luar masih terlihat cukup gelap. Persepsi secara visual anak itu sedikit berubah sejak dirinya menyerap Inti Sihir Naga Hitam, perbedaan antara gelap dan terang bagi Odo sedikit berbeda dengan kebanyakan orang.


Suasana menjadi hening saat Odo berhenti berbicara, tatapan Siska kembali menajam dan dengan jelas terarah pada Julia. Mendapat tatapan seperti itu, gadis kucing tersebut hanya bisa terdiam dan menundukkan pandangan dengan rasa bersalah.


Apa yang terjadi di antara mereka bukan sesuatu yang bisa Odo campuri atau lerai. Menarik pelan ujung pinggang rok Julia, Odo bertanya, “Mbak ..., tak usah merasa bersalah. Kesempatan yang didapat bukan sesuatu yang boleh disesali, meski itu dari menginjak harapan orang lain. Jika Mbak Julia merasa menyesal menjadi Shieal, maka itu sama saja Mbak Julia tidak menghargai keputusan Ayah merekomendasikan Mbak Julia ....”


Julia dan Siska terkejut mendengar perkataan tersebut. “A-Apa Tuan Odo tahu masalah yang ada di antara kami ...?” tanya Julia.


“Ya ..., aku tahu. Di arsip ada data hasil tes Mbak Julia dan Mbak Siska .... Lagi pula, Mbak Julia sudah pernah cerita kalau dia masih sedikit menyesal tidak bisa terpilih menjadi Shieal ....”


“Itu ... karena aku membutuhkan kalian berdua, tempat ini dan kota ini ....”


Tatapan yang ada pada anak itu sangat dalam, tajam dan begitu berat. Mata birunya seakan melihat jauh ke depan, memandang sebuah pemandangan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya seorang.


“Kalau begitu, ayo kita masuk dulu .... Bicara di depan pintu seperti ini tidak enak. Mbak Siska, boleh kami masuk, bukan?”


“Ya ..., tentu saja. Tuan Odo boleh masuk ke dalam, kok ....”


Perkataan itu seperti seakan tidak memperbolehkan Julia masuk. Tetapi tidak memedulikan hal tersebut, Odo menggandeng gadis kucing di sampingnya dan melangkah masuk ke dalam untuk melakukan pembicaraan.


.


.


.


Duduk di ruang makan yang juga digunakan untuk menerima tamu bangunan panti asuhan tersebut, atmosfer di antara mereka masih jelas terasa tajam dan tidak ramah. Sisika terus menatap tidak senang Julia yang duduk di seberang meja, sedangkan Odo yang duduk di sebelah gadis kucing itu tidak bisa melakukan sesuatu untuk melerai ketegangan yang ada di antara mereka.


Sedikit menghela napas, anak rambut hitam itu menekan gelang Dimensi Penyimpanan di pergelengan kanannya, lalu menggeser struktur ruang untuk mengakses ruang penyimpanan lainnya. Menekan Rune pada permukaan gelang, setumpuk kertas perkamen keluar dari dimensi penyimpanan dan Odo letakkan ke atas meja.


Melihat itu Julia benar-benar terbelalak, gadis kucing tersebut baru pertama kalinya melihat Odo menggunakan sihir dimensi tingkat tinggi seperti itu. “Tu-Tuan ..., itu ..., alat sihir itu artifak dimensi penyimpanan?” tanya Julia panik.


“Hmm, memang. Aku yang membuat dan mengembangkannya ....”


“AA! Ka-Kalau begitu ..., kenapa juga anda meminta gerobak untuk mengangkut barang-barang saat ekspedisi .... Kalau ada itu ....”


Odo berhenti menatap Julia, ia membuang pandangan ke sudut ruang dan sedikit menghela napas. “Aku belum percaya sepenuhnya pada kalian, makanya aku tidak menggunakan gelang ini,” ucap Odo. Sekilas mata anak itu melirik ke arah Siska di seberang meja kayu.


Suasana di dalam ruang dengan arsitektur Gothic klasik itu menjadi senyap, angin dingin yang masuk melalui sela-sela dinding bata hitam sampai terdengar. Odo menarik napas dalam-dalam dan kembali menghela, menatap datar Julia yang terlihat sedikit terpukul saat mendengar dirinya tidak dipercaya oleh tuannya sendiri.


“Yang tidak kupercaya itu para Shieal lain, aku percaya pada Mbak Julia, kok. Makanya aku ajak ke sini ....”


“Kenapa anda tidak percaya pada kami? Padahal ... kami ....”


“Aku tahu Mbak Julia dan yang lain sangat setia pada Ibu dan Ayah .... Tapi, kesetiaan itu hanya untuk mereka, tidak untukku ....” Odo mulai memilah tumpukan kertas perkamen di atas meja, lalu memisahnya menjadi tiga tumpukan berbeda. “Kalau aku menggunakan sihir dimensi seperti ini, Mbak Julia pasti akan memberitahukannya pada Ibu, bukan?” lanjut anak itu.


“Tentu saja ..., beliau pasti senang kalau Tuan Odo sudah bisa menggunakan sihir tingkat tinggi seperti itu!” ucap Julia dengan semangat.


Odo menghentikan tangannya, sekilas melirik datar saat mendengar perkataan gadis kucing tersebut. “Sudah kuduga ..., Mbak Julia tidak paham,” ucap Odo seraya kembali memilah kertas perkamen di atas meja.


“Ke ... napa memangnya ...?” Apa Tuan Odo tidak ingin Nyonya Mavis senang?”


“Mbak Julia tahu ..., Ibu sebenarnya takut padaku .... Dia takut pada anaknya sendiri yang sangat menyimpang dan tidak terlihat seperti anak-anak ini ....”


Julia dan Siska terkejut mendengar itu. Sedikit berbeda dengan yang dirasakan Siska yang benar-benar tidak menyangka perkataan Odo, Julia samar-samar sadar mengapa anak rambut hitam tersebut merasakan hal itu.


“Sejak kecil Tuan Odo tidak pernah dekat dengan Nyonya ..., bahkan dirinya hanya pernah menyusu sekali saja .... Apa karena itu ... Tuan ....”


Tatapan gadis kucing itu penuh rasa iba, berkaca-kaca, dan dirinya mulai paham mengapa Odo memiliki sifat sedikit berbeda dan menyimpang jika dibandingkan dengan anak seumurannya. Julia lekas bangun dari kursi kayu, lalu memeluk anak rambut hitam itu dari samping.


“Ada apa, Mbak Julia? Aku sedang menguru—“


“Maaf ..., saya tidak bisa memahami Tuan .... Padahal saya adalah orang yang paling dekat dengan anda, tapi ....”


Odo sedikit melirik ke Siska, tatapan biarawati itu terasa semakin tajam saat melihatnya dipeluk Julia. Saat gadis kucing tersebut melepaskan pelukan, segera Odo menekan Gelang Dimensi dan mengeluarkan kristal sihir atribut api yang memancarkan cahaya merah terang.


Gletak! Kristal itu Odo letakkan di atas meja. Melihat apa yang dikeluarkannya, Siska dan Julia sekali lagi terkejut. Mereka berdua tahu benda apa itu, cahaya terang dan pancaran sihir kuat memberitahu mereka dengan sangat jelas.


Siska berdiri dan membungkukkan tubuh ke atas meja, mengamati kristal sihir tersebut dari dekat tanpa berani menyentuhnya. “I-Itu ... Kristal Kualitas Terbaik!! Beratribut lagi .... Ke-Kenapa Tuan Odo mengeluarkan ini?” ucapnya dengan nada gemetar.


“Tuan Muda ..., sebenarnya apa yang ingin anda lakukan .... Kalau ada benda seperti ini, bukannya ekspedisi itu ....”


“Tidak perlu dilakukan?” sambung Odo. Anak itu menatap datar gadis kucing yang berdiri di sampingnya. “Apa Mbak Julia tahu apa yang paling mahal di dunia ini?” tanya Odo dengan tatapan datar.


“.... Nyawa, nyawa adalah yang paling berharga. Apa Tuan tidak menghargai nyawa ...., entah itu nyawa anda sendiri atau nyawa orang lain? Kenapa anda harus melakukan ekspedisi itu padahal sudah punya ini .... Kalau kristal ini dijual di Kota Miquator, bisa dipastikan semua utang wilayah ini ....”


Odo sekilas memejamkan mata, mencerna jawaban yang diberikan Julia. Kembali membuka mata dan menatap, anak yang duduk dengan lesu itu berkata, “Nyawa juga berharga, tapi itu bukan yang paling malah .... Yang paling mahal di dunia ini adalah kepercayaan, lebih dari apapun ....”


“Kepercayaan ...?”


“Ya, kepercayaan. Mbak Julia dan Mbak Siska juga sudah perah mengalami kejadian yang membuat kalian paham kalau kepercayaan itu sangat mahal, bukan? Masa lalu ..., dan harapan untuk ke depannya ... Relasi, hubungan ..., dan apa yang akan didapat dari itu ....”


Perkataan itu benar-benar membuat Julia bungkam dan membuat Siska sedikit tertunduk merenung. Apa yang dikatakan Odo memang benar, kepercayaan adalah hal yang memberikan arti dan nilai pada sesuatu. Julia mendapat kepercayaan dari Dart Luke, karena itulah dirinya bisa menjadi Shieal meski kalah dalam hal kompetensi dari Siska. Berbanding terbalik dengannya, Siska tidak bisa mendapatkan apa yang dirinya ingin karena kurangnya kepercayaan.


Bukan hanya itu contoh nyatanya, sistem perekonomian dan tatanan sosial juga bersumber dari kepercayaan. Mereka berdua sadar akal hal tersebut, raja tidak akan menjadi raja tanpa kepercayaan dari rakyat meski dirinya menjadi keturunan sah. Uang koin tidak akan menjadi alat tukar kalau masyarakat tidak menyetujui dan mempercayai uang koin tersebut sebagai alat tukar.


“Kepercayaan memberikan nilai pada sesuatu.”


Mendapat penegasan tersebut, Julia lekas duduk kembali untuk dan menundukkan kepala dengan rasa aneh dalam benak. Dirinya mulai memahami alasan sebenarnya ekspedisi tersebut dilakukan, Julia paham kalau itu hanya untuk mengecek tingkat loyalitas para Shieal.


“Tuan Odo, sebenarnya ada kepentingan apa Tuan datang kemari?” tanya Siska.


“Aku hanya ingin meminta Mbak Siska mengantarku menemui Walikota tempat ini. Aku ... ingin menemui Baron Argo Mylta dan mengajukan beberapa hal kepadanya ....”


Odo meletakkan telapak tangan kanannya ke atas meja, lalu tersenyum simpul ke arah Siska. Dalam sorot mata anak itu terasa api membara penuh semangat yang tidak dirinya perlihatkan dari tadi, penuh ambisi dan tujuan yang jelas.


“Memangnya ... anda ingin apa setelah bertemu Tuan Mylta?” tanya Siska.


“Aku ingin membuat sebuah usaha dagang swasta di kota ini ....”


Sisika dan Julia sekali lagi dibuat terkejut oleh perkataan anak rambut hitam tersebut. Semua yang dilakukan Odo menjadi semakin jelas, apa yang pernah dikatakannya soal investasi, kristal sihir dengan harga sangat mahal yang ada sekarang, dan beberapa persiapan lainnya anak itu lakukan demi apa yang diutarakannya tersebut.


“Tetapi sebelum itu ..., aku ingin Mbak Siska melakukan penilaian kristal sihir ini. Kira-kira ..., berapa harganya?” tanya anak berambut hitam itu seraya mengangkat kristal sihir merah yang besarnya lebih dari satu kepalan tangannya. Saat Odo menyerahkannya kepada perempuan rambut pirang di seberang meja, ia sempat ragu untuk mengambilnya.


“Tidak apa ..., ambil saja.”


“Hmmm, kenapa anda meminta saya melakukan penilaian kristal ini? Bukannya ....”


“Mbak Julia tidak bisa melakukan penilaian kristal sihir, dan aku tidak mau meminta Mbak Xua Lin. Sudah aku jelaskan tadi, bukan?” ucap Odo tegas.


Siska mengambil kristal itu. “Berat .... Mungkin sekitar tiga sampai empat kilogram ...,” benak perempuan rambut pirang itu. Mulai memejamkan mata, dirinya mengalirkan Mana ke dalam kristal untuk mengukur tingkat kepadatan sihir yang ada. Kristal merah itu sekias bersinar lebih terang, lalu redup kembali.


“Jadi, kira-kira nilainya berapa ....”


“Eng ..., Tuan Odo .... Sebenarnya anda mendapat kristal ini dari mana .... Kandungannya sangat ....”


“Jadi, berapa nilainya?” tanya Odo menegaskan.


“.... Itu ..., mungkin .... satu gramnya saja sudah sampai 500 Rupl lebih .... Dan juga, dengan berat seperti ini .....”


Wajah Siska sedikit memucat membayangkan betapa mahalnya kristal yang dirinya pegang itu. Mendengar penilaian perempuan rambut pirang tersebut, Julia yang duduk di sebelah Odo ikut memucat wajahnya. Berbeda dengan mereka, Odo hanya memasang wajah datar dan mengambil kristal lain dari Gelang Dimensi.


“Haaakh ....!!”


“AKh ....!”


Napas Siska dan Julia sempat sesak melihat kristal sihir lain yang dikeluarkan Odo. Ukurannya memang tidak lebih besar dari kristal sihir yang dipegang Siska sekarang, tetapi dengan jelas bisa diperkirakan kalau kristal itu juga merupakan Kualitas Terbaik.


“Tu-Tuan Odo! Ada berapa banyak yang anda miliki .... Terlebih lagi, dari mana anda bisa mendapat kristal-kristal langka seperti ini!?” tanya Julia panik.


“Dari pembebasan lahan di Dunia Astral ....”


“Pem—“


“Dunia Ast—“


Mereka benar-benar terbelalak mendengar itu. Meski tidak paham apa yang sebenarnya terjadi di sana, tetapi mereka tahu kalau Dunia Astral memang kaya akan kristal-kristal sihir Kualitas Terbaik karena dimensi tersebut penuh dengan kekuatan mistis. Pada dasarnya kristal sihir adalah bentuk pengkristalan Ether, memfosil bersama dengan proses alam dan membentuk sebuah kristal sihir alam. Cara tersebut berbeda pembentukannya dengan apa yang dimiliki para monster atau hewan sihir.


“Setelah melakukan penilaian ini, aku juga ingin meminta beberapa hal lain pada Mbak Siska,” ucap Odo santai.


“Eeeeeh?! Masih ada lagi?” Siska benar-benar terlihat cemas mendengar itu.


“Aku ingin Mbak Siska mengenalkanku pada pandai besi di kota ini .... Aku ingin melakukan beberapa percobaan, karena itu aku butuh seseorang untuk membuatkan mediumnya.”


“Ya ..., saya memang punya kenalan pandai besi .... Tapi, sekarang sedang musim dingin, loh. Kebanyakan pandai besi tutup karena suhu dingin yang ada pasti mempengaruhi kualitas hasil tempaan ....”


“Tenang saja, aku akan memesan nanti saat salju sudah berhenti turun di musim semi atau musim panas .... Sekarang yang penting aku kenal dulu ....”


“Ya ....”


“Dan satu lagi.”


“Masih ada?!” Siska benar-benar terlihat panik.


“Aku ingin kenal dengan tukang dan pedagang lokal di kota ini ....”


“Eh ..., kalau itu saya tidak punya kenalan. Saya orang puritan, pedagang dan tukang cenderung dekat dengan uang atau semacamnya, jadinya ....”


“Ya sudah, aku akan cari sendiri .... Untuk sekarang, tolong perkirakan nilai kristal itu dan bantu aku mengurus surat-surat ini ....”


“Hmm, memangnya surat apa itu, Tuan Odo?” tanya Julia.


“Surat pengajuan kerja sama dan lain-lain ....”


“Jangan bilang kalau itu untuk ....”


“Ya, untuk membuat relasi dan membuka rute penjualan .... Tentu saja dengan memanfaatkan wewenangku sebagai seorang yang memiliki koneksi kuat dengan pemerintah.”


“Li ... liciknya .....”


\==========================================


Tingkat Kemampuan dan talenta Shieal:



Kinkarta


Fiola


Minda


Imania


Xua Lin


Gariadin


Linkaron


Julia



Tingkat Kekuatan sihir dan pengendaliannya Shieal:



Fiola


Julia


Imania


Minda


Kinkarta


Gariadin


Linkaron


Xua Lin